Polemik Acara Halal Bihalal

Maktabah Thibbul Qulub
Polemik Acara Halal Bihalal
Menyikapi Tradisi Lebaran di Tanah Air
Dr. M Faiq Sulaifi
7/2/2017

 

 

Pembahasan Tradisi dalam Lebaran seperti Halal bi Halal, Sungkeman, Unjung-unjung, Rekreasi, Kirim Parcel dan sebagainya

 

 

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 2

Pengertian Halal bi Halal 3

Sisi Tauqifiyah Idul Fitri 3

Kelonggaran Idul Fitri dan Rekreasi 5

Tarian Zapin pada Hari Raya. 6

Berhias dan Memakai Baju Baru. 8

Saling Memberikan Hadiah dan Parcel 10

Mengunjungi Sanak Kerabat. 13

Keumuman Silaturahim.. 15

Berjabat Tangan dan Ucapan Selamat. 16

Tradisi Sungkeman. 19

Pengkhususan Ta’abbudi 22

Tradisi Ziarah Kubur. 24

Berlapang Dada dan Tidak Bersikap Keras. 26

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين وصلى الله على محمد خاتم النبيين وآله الطيبين الطاهرين أما بعد

Telah terjadi pembicaraan panjang lebar di kalangan Salafiyyin antara mereka yang memperbolehkan acara ‘Halal bi Halal’ yang sudah menjadi tradisi di Indonesia dengan mereka yang melarang acara ini. Mereka yang melarang kegiatan ini berpegang pada kaidah bahwa perkara ibadah yang bersifat umum seperti silaturahim, berjabat tangan dan bermaaf-maafan tidak boleh hanya dikhususkan pada hari raya Idul Fitri saja, karena termasuk ‘Bid’ah Idhafiyah’.

Di antara mereka yang mengkritisi ‘Halal bi Halal’ adalah sebuah artikel yang berjudul ‘Menyingkap Keabsahan Halal Bihalal’ dan berkata di dalam kesimpulannya:

“Dari paparan di atas, bisa kita simpulkan bahwa yang dipermasalahkan dalam halal bihalal adalah pengkhususan bermaaf-maafan di hari raya. Pengkhususan ini adalah penambahan syariah baru yang tidak memiliki landasan dalil. Jadi seandainya perkumpulan-perkumpulan yang banyak diadakan untuk menyambut Idul Fitri kosong dari agenda bermaaf-maafan, maka pertemuan itu adalah pertemuan yang diperbolehkan; karena merupakan ekspresi kegembiraan yang disyariatkan Islam di hari raya, dan batasannya merujuk ke adat dan tradisi masyarakat setempat. Tentunya jika terlepas dari pelanggaran-pelanggaran syariah, antara lain yang sudah kita sebutkan di atas.” (Lihat: https://muslim.or.id/6786-menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html).

Pada tulisan ini Penulis akan menjelaskan tentang kemudahan dan kelonggaran syariat Islam yang mulia ini di dalam perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, termasuk pengkhususan hari raya dengan adanya makanan, permainan, tarian, silaturahim, unjung-unjung, halal bi halal, berjabat tangan, saling berkirim parcel dan sebagainya.

Tujuan penulisan artikel ini bukanlah untuk mencari menang-menangan karena tidak sesuai dengan tujuan menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ

“Barangsiapa menuntut ilmu dengan maksud untuk membanggakan diri di depan ulama, atau membodohi  orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka ia di dalam neraka.” (HR. Ibnu Majah: 253 dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 26216 (5/285) dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 6382).

Dan juga bukan untuk menjatuhkan kehormatan seorang ustadz sebagaimana ciri khas Jamaah Tahdzir yang tidak bisa membedakan antara bantahan dan hujatan. Penulis meminjam ucapan Nabi Syuaib alaihissalam:

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88).

Nguwok Modo, 8 Syawal 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi

Pengertian Halal bi Halal

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan: “halalbihalal/ha·lal·bi·ha·lal/ n hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang: — merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia. Sedangkan berhalalbihalal/ber·ha·lal·bi·ha·lal/ v bermaaf-maafan pada Lebaran: pada Lebaran kita ~ dengan segenap sanak keluarga dan handai tolan.” (Lihat: http://kbbi.web.id/halalbihalal).

Menurut Ensiklopedi Islam, 2000, hingga abad sekarang; baik di negara-negara Arab maupun di negara Islam lainnya (kecuali di Indonesia) tradisi ini tidak memasyarakat atau tidak ditemukan. Halal bihalal bukan bahasa Arab.  Ensiklopedi Indonesia, 1978, menyebutkan halal bi halal berasal dari bahasa (lafadz) Arab yang tidak berdasarkan tata bahasa Arab (ilmu nahwu), sebagai pengganti istilah silaturahmi. Sebuah tradisi yang telah melembaga di kalangan Muslim Indonesia. (Lihat: http://www.risalahislam.com/2014/07/asal-usul-dan-pengertian-halal-bihalal.html).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa acara halal bi halal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia.

Sisi Tauqifiyah Idul Fitri

Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha bersifat tauqifiyah, dalam arti harus mengikuti teks al-Quran dan as-Sunnah. Di antara sisi tauqifiyah dari hari raya adalah penentuan waktunya.

Seorang Yahudi berkata kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu:

يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا، لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ اليَهُودِ نَزَلَتْ، لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ اليَوْمَ عِيدًا. قَالَ: أَيُّ آيَةٍ؟ قَالَ: {اليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا} [المائدة: 3] قَالَ عُمَرُ: «قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ اليَوْمَ، وَالمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ»

“Wahai Amirul Mukminin! Ada sebuah ayat di dalam kitab yang kalian baca, yang seandainya diturunkan kepada kami, bangsa Yahudi, niscaya kami akan menjadikannya sebagai hari raya.” Umar bertanya: “Ayat yang mana?” Si Yahudi menjawab: “AyatPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3).” Umar berkata: “Aku tahu hari itu dan di mana turunnya ayat itu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau ketika itu sedang berdiri di Arafah pada hari Jumat.” (HR. Al-Bukhari: 45, Muslim: 7710, at-Tirmidzi: 3043 dan an-Nasai: 5012).

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) rahimahullah berkata:

فهذا قد يؤخذ من أن الأعياد لا تكون بالرأي والاختراع كما يفعله أهل الكتابين من قبلنا ؛ إنما تكون بالشرع والاتباع

“Atsar di atas memberikan pelajaran bahwa hari-hari raya itu tidaklah ditetapkan berdasarkan semata logika dan mengarang-karang, sebagaimana yang telah diperbuat oleh kaum Yahudi dan Nashrani. Hari raya hanyalah ditetapkan dengan syariat dan mengikuti dalil.” (Fathul Bari li Ibni Rajab: 1/88).

Sehingga Umar radhiyallahu anhu tidaklah menganggap hari Arafah sebagai hari raya karena mengikuti saran kaum Yahudi, tetapi karena memang sudah menjadi ketentuan syariat Islam. Oleh karena itu al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan:

وقد تقدم في كتاب الإيمان بيان مطابقة جواب عمر للسؤال لأنه سأله عن اتخاذه عيدا فأجاب بنزولها بعرفة يوم الجمعة ومحصله أن في بعض الروايات وكلاهما بحمد الله لنا عيد

“Telah terdahulu dalam Kitabul Iman, penjelasan tentang kesesuaian jawaban Umar terhadap permintaan si Yahudi untuk menjadikannya sebagai hari raya. Maka beliau menjawab bahwa turunnya ayat itu di Arafah dan pada hari Jumat. Dan intinya dalam sebagian riwayat Umar berucap: “Kedua-duanya (yakni: hari Arafah dan hari Jumat, pen) adalah hari raya kami. Alhamdulillah.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 8/270).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهُنَّ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arafah, hari Idul Adha dan hari Tasyriq adalah hari-hari raya kita, kaum muslimin. Hari-hari itu adalah hari makan dan minum.” (HR. Ahmad: 17379, an-Nasai: 3004 dan at-Tirmidzi: 773 dan di-shahih-kan olehnya, dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu. Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 8192).

Oleh karena itu kita dilarang menentukan suatu tanggal atau hari tertentu untuk hari raya selain yang ditentukan oleh syariat ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan:

وللنبي صلى الله عليه و سلم خطب وعهود ووقائع في أيام متعددة مثل يوم بدر وحنين والخندق وفتح مكة ووقت هجرته ودخوله المدينة وخطب له متعددة يذكر فيها قواعد الدين ثم لم يوجب ذلك أن يتخذ مثال تلك الأيام أعيادا وإنما يفعل مثل هذا النصارى الذين يتخذون أمثال أيام حوادث عيسى عليه السلام أعيادا أو اليهود وإنما العيد شريعة فما شرعه الله اتبع وإلا لم يحدث في الدين ما ليس منه..الخ

“Nabi shallallahu alaihi wasallam mempunyai khutbah-khutbah, perjanjian-perjanjian dan kejadian-kejadian penting di berbagai waktu beliau seperti hari Badar, hari Hunain, Khandaq, Fathu Makkah, waktu Hijrah beliau serta masuknya beliau ke Madinah. Beliau juga mempunyai berbagai khutbah, yang mana beliau mengingatkan kaidah-kaidah agama dalam khutbah tersebut. Kemudian perkara tersebut tidak lantas memberikan anjuran agar hari-hari tersebut dijadikan sebagai hari raya. Yang menjadikan seperti ini (hari-hari besar sebagai hari raya, pen) hanyalah kaum nashara yang menjadikan hari-hari kejadian Nabi Isa alaihissalam (seperti kelahiran, kenaikan dan turunnya beliau, pen) sebagai hari raya atau juga kaum yahudi. Hari raya adalah sebuah syariat. Maka apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah itulah yang diikuti. Sedangkan yang tidak, maka tidak boleh diada-adakan di dalam agama ini dengan sesuatu yang bukan berasal darinya.. dst.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim Mukhalafah Ahlil Jahim: 294).

Selain penentuan waktu, di antara perkara tauqifiyah hari raya adalah macam ibadah yang disyariatkan ketika hari raya dan juga tradisi yang disenangi oleh jiwa yang hanya dianjurkan untuk dilakukan di hari raya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H) rahimahullah berkata:

فالأعياد المشروعة يشرع فيها وجوبا أو استحبابا من العبادات مالا يشرع في غيرها ويباح فيها أو يستحب أو يجب من العادات التي للنفوس فيها حظ مالا يكون في غيرها كذلك

“Hari-hari raya yang syar’i (seperti Idul Fitri dan Idul Adha, pen) disyariatkan di dalamnya beberapa amal ibadah yang tidak disyariatkan di hari lainnya, baik ibadah wajib ataupun sunnah. Dan juga diperbolehkan atau dianjurkan atau diwajibkan untuk melakukan perkara kebiasaan atau tradisi yang disenangi oleh jiwa yang tidak boleh dilakukan di hari lainnya.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim Mukhalafah Ahlil Jahim: 179).

Beliau juga menyatakan:

فإن العيد مشروع يجمع عبادة وهو ما فيه من صلاة أو ذكر أو صدقة أو نسك ويجمع عادة وهو ما يفعل فيه من التوسع في الطعام واللباس وما يتبع ذلك من ترك الأعمال الواجبة واللعب المأذون فيه في الأعياد لمن ينتفع باللعب ونحو ذلك

“Sesungguhnya hari raya itu disyariatkan, meliputi perkara ibadah seperti shalat (hari raya), dzikir (seperti takbiran, pen), shadaqah (seperti zakat fitrah, pen) atau sembelihan kurban, dan juga meliputi perkara kebiasaan (tradisi) dan seluk beluknya seperti kelonggaran dalam makanan, pakaian dan perkara yang mengikutinya, yang berupa meninggalkan ibadah wajib dan permainan yang diijinkan bagi orang yang dapat mengambil manfaat darinya dan sebagainya..dst.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim Mukhalafah Ahlil Jahim: 179).

Sebagai contohnya adalah menari dan menyanyi diperbolehkan di hari raya meskipun dilarang untuk dilakukan di hari lainnya. Maka ‘Halal bi Halal’ dalam arti Silaturahim yang tidak termasuk larangan juga lebih utama untuk diperbolehkan dilakukan di hari raya.

Kelonggaran Idul Fitri dan Rekreasi

Selain mempunyai sisi ‘tauqifiyah’, Idul Fitri juga mempunyai sisi kelonggaran. Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu anha berkata:

دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتِ الأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ، قَالَتْ: وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ، إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا»

“Abu Bakar masuk menemui aku saat itu di sisiku ada dua orang gadis dari budak  Kaum Anshar yang sedang bernyanyi, yang mengingatkan kepada peristiwa pembantaian kaum Anshar pada perang Bu’ats.” ‘Aisyah menlanjutkan kisahnya, “Kedua sahaya tersebut bukanlah penyanyi. Maka Abu Bakar pun berkata, “Seruling-seruling setan (kalian perdengarkan) di kediaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!” Peristiwa itu terjadi pada Hari Raya ‘Ied. Maka bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sekarang ini adalah hari raya kita.” (HR. Al-Bukhari: 952, Muslim: 2098 dan Ibnu Majah: 1898).

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi (wafat tahun 911 H) rahimahullah berkata:

قال القاضي كان غناؤهما بما هو من أشعار الحرب والمفاخرة والشجاعة والظهور والغلبة وهذا لا يهيج الحواري على شر ولا إفساد

‘Qadhi Iyadh berkata: “Yang dinyayikan oleh kedua gadis di atas adalah syair tentang peperangan, kebanggaan, keberanian dan kemenangan. Ini tidak mendorong mereka kepada kejelekan dan kerusakan.” (Ad-Dibaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj: 2/463).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat tahun 852 H) rahimahullah berkata:

وفي هذا الحديث من الفوائد مشروعية التوسعة على العيال في أيام الاعياد بأنواع ما يحصل لهم بسط النفس وترويح البدن من كلف العبادة وأن الإعراض عن ذلك أولى وفيه أن إظهار السرور في الاعياد من شعار الدين..الخ

“Di dalam hadits ini terdapat faedah di antaranya adalah disyariatkan untuk memberikan kelonggaran bagi keluarga di dalam hari-hari raya dengan berbagai macam bentuk kelonggaran diri dan meng-istirahatkan badan (baca: refreshing atau rekreasi, pen) dari beban ibadah. Dan bahwa berpaling dari itu (bentuk kelonggaran, pen) itu lebih utama. Dan juga terdapat faedah bahwa menampakkan kegembiraan di hari raya itu termasuk dari syi’ar agama ini..dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 2/443).

Demikian juga penjelasan al-Allamah Badruddin al-Aini al-Hanafi (wafat tahun 855 H) rahimahullah. Beliau berkata:

قيل وفيه دليل على أن العيد موضوع للراحات وبسط النفوس والأكل والشرب والجماع ألا ترى أنه أباح الغناء من أجل عذر العيد

“Dan dikatakan bahwa di dalam hadits di atas terdapat dalil bahwa hari raya merupakan tempat untuk rekreasi (refreshing, pen), hiburan bagi diri, makan, minum dan jima’ (bersenang-senang, pen). Apakah kamu tidak melihat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperbolehkkan nyanyian karena alasan hari raya?” (Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari: 10/267).

Bahkan memberikan kelonggaran dan kesempatan kepada keluarga untuk bersenang-senang di hari raya adalah perkara yang disyariatkan. Al-Allamah Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani (wafat tahun 1182 H) rahimahullah berkata:

وأما التوسعة على العيال في الأعياد بما حصل لهم من ترويح البدن وبسط النفس من كلف العبادة فهو مشروع.

“Adapun memberikan kelonggaran untuk keluarga pada hari raya dengan perkara yang dapat memberikan refreshing bagi badan dan kelonggaran diri (seperti hiburan dan rekreasi, pen) dari beban ibadah, maka itu disyariatkan.” (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram: 2/70).

Sehingga meskipun kita lebih memilih beribadah, kita tetap disyariatkan untuk memberikan kelonggaran kepada keluarga kita yang ingin mencari refreshing, rekreasi atau hiburan pada hari raya.

Oleh karena itu al-Allamah Badruddin al-Aini al-Hanafi rahimahullah berkata:

الخامس عشر فيه بيان أخلاق النبي الحسنة ولطفه وحسن شمائله

“Faedah ke-15: di dalam hadits ini terdapat penjelasan akhlak Nabi yang indah, sikap beliau yang lembut dan bagusnya perikehidupan beliau.” (Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari: 10/262).

Tarian Zapin pada Hari Raya

Ketika melihat kaum Habasyah yang sedang melakukan tari zapin (tarian perang) ketika hari raya di dalam masjid, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

خُذُوا يَا بَنِي أَرْفِدَةَ حَتَّى يَعْلَمَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً قَالَ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ جَاءَ عُمَرُ فَلَمَّا رَأَوْهُ انْذَعَرُو

“Wahai Bani Arfidah! Ambillah! Agar kaum Yahudi dan Nashrani mengetahui bahwa di dalam agama kita terdapat kelonggaran.” Suatu waktu ketika mereka melakukan itu, tiba-tiba Umar datang. Ketika mereka melihatnya, maka mereka terdiam.” (HR. Ahmad: 24856 dan al-Harits dalam Musnadnya: 866 (2/826) dari Aisyah radhiyallahu anha. Isnad Ahmad di-hasan-kan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Taghliq at-Ta’liq: 1/36. Al-Albani men-shahih-kannya dalam Shahihul Jami’: 3219).

Di dalam riwayat Muslim, Aisyah radhiyallahu anha berkata:

جَاءَ حَبَشٌ يَزْفِنُونَ فِى يَوْمِ عِيدٍ فِى الْمَسْجِدِ فَدَعَانِى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَوَضَعْتُ رَأْسِى عَلَى مَنْكِبِهِ فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى لَعِبِهِمْ حَتَّى كُنْتُ أَنَا الَّتِى أَنْصَرِفُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهِمْ

“Kaum Habasyah datang melakukan tari zapin di hari raya di dalam masjid. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggilku kemudian beliau meletakkan kepalaku di atas pundak beliau. Maka melihat permainan mereka sampai aku berpaling dari melihatnya.” (HR. Muslim: 2103).

Al-Imam an-Nawawi (wafat tahun 676 H) rahimahullah menerangkan tarian perang atau zapin:

قولها (جاء حبش يزفنون في يوم عيد في المسجد) هو بفتح الياء واسكان الزاي وكسر الفاء ومعناه يرقصون وحمله العلماء على التوثب بسلاحهم ولعبهم بحرابهم على قريب من هيئة الراقص..الخ

“Sabda beliau “Kaum Habasyah datang melakukan tari zapin di hari raya di dalam masjid” arti ‘zafin’ adalah menari. Para ulama mengartikannya dengan gerak cepat dan bermain senjata yang mirip dengan keadaan seorang penari… dst.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim: 6/186).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قال المحب الطبري هذا السياق يشعر بأن عادتهم ذلك في كل عيد..اخ

“Muhibbuddin ath-Thabari berkata: “Susunan kalimat dalam hadits ini menunjukkan bahwa kebiasaan mereka (kaum Habasyah, pen) adalah melakukan tarian perang setiap hari raya..dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 2/443).

Diperbolehkannya mengadakan tarian dan nyanyian di hari raya merupakan kelonggaran dalam syariat Islam. Al-Allamah Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani rahimahullah berkata:

في بعض طرق هذا الحديث أن عمر أنكر عليهم لعبهم في المسجد فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: “دعهم” وفي ألفاظه أنه صلى الله عليه وسلم قال لعمر: “لتعلم اليهود أن في ديننا فسحة وأني بعثت بحنيفية سمحة” وكأن عمر بنى على الأصل في تنزيه المساجد فبين له صلى الله عليه وسلم أن التعمق والتشدد ينافي قاعدة شريعته صلى الله عليه وسلم من التسهيل والتيسير

“Di dalam sebagian jalan hadits ini terdapat keterangan bahwa Umar mengingkari permainan mereka di masjid. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Tinggalkan mereka!” Dan di dalam beberapa redaksi hadits beliau berkata kepada Umar: “Agar kaum Yahudi mengetahui bahwa di dalam agama kita terdapat kelonggaran. Sesungguhnya aku diutus dengan ajaran lurus (tauhid) dan kemudahan.” Dan seolah-olah Umar memegang kaidah asal bahwa masjid harus dibersihkan dari segala bentuk permainan. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa berdalam-dalam dan bersikap ketat dan kaku bertentangan dengan kaidah syariat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang berisi kemudahan dan kelonggaran.” (Subulus Salam Syarh Bulughil Maram: 1/156).

Berhias dan Memakai Baju Baru

Di antara bentuk kelonggaran hari raya adalah memakai baju baru dalam rangka merayakan hari raya.

Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata:

أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ

“Umar membawa baju jubah terbuat dari sutera yang dibelinya di pasar, jubah tersebut kemudian diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, belilah jubah ini sehingga tuan bisa memperbagus penampilan saat hari raya atau ketika menyambut para delegasi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata kepadanya: “Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian (di akhirat).” (HR. Al-Bukhari: 948, Muslim: 5525 dan an-Nasai: 1560).

Al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi (wafat tahun 682 H) rahimahullah berkata:

وهذا يدل على أن التجمل عندهم في هذه المواضع كان مشهورا

“Ini menunjukkan bahwa berhias di kalangan mereka (as-Salaf, pen) di tempat-tempat ini (yakni: hari raya dan menyambut delegasi, pen) merupakan perkara yang sudah dikenal.” (Al-Mughni fi Fiqhil Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani: 2/228).

Bahkan beliau berkata:

وقال مالك : سمعت أهل العلم يستحبون الطيب والزينة في كل عيد

“Al-Imam Malik berkata: “Aku telah mendengar bahwa para ulama menganjurkan untuk menggunakan wewangian dan perhiasan di setiap hari raya.” (Al-Mughni fi Fiqhil Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani: 2/228).

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah berkata:

وهذا التزين في العيد يستوي فيه الخارج إلى الصلاة والجالس في بيته ، حتى النساء والأطفال . وقد تقدم ذلك عن طاوس . وقال الشافعي : تزين الصبيان بالمصبغ والحلي ، ذكوراً كانوا أو إناثاً ؛ لأنه يوم زينة ، وليس على الصبيان تعبد ، فلا يمنعون لبس الذهب .قال بعض أصحابه : اتفق الأصحاب على إباحة زينة الصبيان يوم العيد بالمصبغ وحلي الذهب والفضة ، واختلفوا في غير يوم العيد على وجهين . وأما أصحابنا ، فلم يفرقوا بين عيد وغيره ، وحكوا في جواز إلباس الولي الصبي الحرير والذهب روايتين .

“Berhias untuk hari raya ini, adalah sama, bagi orang yang keluar untuk shalat ied dan orang yang duduk di rumahnya, bahkan meliputi wanita dan anak-anak. Dan telah terdahulu keterangan dari Thawus. Asy-Syafi’i berkata: “Anak-anak boleh dihiasi dengan pakaian yang dicelup dan juga dengan perhiasan, baik anak laki-laki maupun anak perempuan, karena hari raya merupakan hari perhiasan. Dan tidak ada beban ta’abbud bagi anak-anak, sehingga mereka tidak dilarang dari menggunakan perhiasan emas. Sebagian ulama Ash-habul Wujuh di kalangan Syafi’iyah berkata: “Ash-habul Wujuh (yakni: ulama Syafi’iyah yang hidup sebelum tahun 400 H atau disebut Syafi’iyah Mutaqaddimin, pen) bersepakat atas bolehnya menghiasi anak-anak pada hari raya dengan baju yang dicelup (dengan za’faran atau selainnya, pen) dan juga dengan perhiasan emas dan perak. Mereka berbeda pendapat jika dikenakan di luar hari raya, menjadi dua pendapat. Adapun para sahabat kami (yakni: Hanabilah, pen), maka mereka tidak membedakan antara hari raya dan selainnya. Mereka meriwayatkan dua riwayat (dari Ahmad, pen) tentang bolehnya seorang wali menghiasi anak kecil dengan sutera dan emas.” (Fathul Bari li Ibni Rajab: 7/31).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa perkara yang mubah atau yang lebih baik ditinggalkan, menjadi diperbolehkan dan bahkan dianjurkan ketika hari raya. Maka apalagi perkara yang secara asal dianjurkan seperti ‘Silaturahim’ atau ‘Halal bi Halal’, dan ‘saling mengunjungi sanak kerabat? Maka lebih utama untuk dianjurkan.

Saling Memberikan Hadiah dan Parcel

Termasuk kelonggaran hari raya adalah saling memberikan hadiah ketika hari raya. Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

ويفعل في هذا العيد أيضاً أن الناس يتبادلون الهدايا يعني يصنعون الطعام ويدعو بعضهم بعضاً، ويجتمعون ويفرحون، وهذه عادة لا بأس بها؛ لأنها أيام عيد، حتى إن أبا بكر ـ رضي الله عنه ـ لما دخل على بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعنده جاريتان تغنيان في أيام العيد انتهرهما، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «دعهما» ولم يقل: إنهما جاريتان قال: «دعهما فإنها أيام عيد».

وفي هذا دليل على أن الشرع ولله الحمد من تيسيره وتسهيله على العباد أن فتح لهم شيئاً من الفرح والسرور في أيام العيد.

“Dan juga bisa dilakukan di hari raya ini bahwa manusia saling berbagi hadiah, dengan arti bahwa mereka membuat makanan dan saling mengundang di antara mereka. Kemudian mereka berkumpul dan berbahagia. Maka ini adalah kebiasaan yang diperbolehkan, karena masih dalam hari raya. Bahkan, ketika Abu Bakar radhiyallahu anhu masuk ke rumah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, di sisi beliau terdapat dua gadis yang sedang bernyanyi, maka Abu Bakar menghardik keduanya. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Biarkan keduanya!” Beliau tidak menyatakan: “Karena keduanya adalah gadis.” Tetapi beliau bersabda: “Biarkan keduanya menyanyi karena ini adalah hari-hari raya.”

Maka di dalam hadits ini terdapat dalil –segala puji bagi Allah atas keringanan dan kemudahan-Nya kepada hamba-hamba-Nya- untuk membuka kegembiraan dan suka cita di hari-hari raya.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin: 16/168).

Dan perlu diketahui bahwa kegiatan saling berbagi hadiah merupakan tradisi yang biasa terjadi di hari raya, baik hari raya kaum muslimin ataupun hari raya orang-orang kafir.

Seorang wanita bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha:

إِنَّ لَنَا إِطَارًا مِنَ الْمَجُوسِ وَإِنَّهُمْ يَكُونُ لَهُمُ الْعِيدُ فَيُهْدُونَ لَنَا , فَقَالَتْ: أَمَّا مَا ذُبِحَ لِذَلِكَ الْيَوْمِ فَلَا تَأْكُلُوا , وَلَكِنْ كُلُوا مِنْ أَشْجَارِهِمْ.

“Sesungguhnya kami mempunyai kerabat sepersusuan dari kaum Majusi. Ketika mereka merayakan hari raya mereka, maka mereka memberikan hadiah kepada kami.” Aisyah menjawab: “Adapun hadiah yang berupa makanan sembelihan untuk hari raya mereka, maka janganlah kalian makan! Tetapi makanlah hadiah dari tumbuhan mereka (yakni buah dan sayur, pen).” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 32673 (6/432)).

Dan sebagian as-Salaf juga membagi-bagikan uang atau angpao ketika hari raya Idul Fitri. Al-Imam Ahmad bin Abdullah al-Ijli (wafat tahun 261 H) rahimahullah berkata:

وبلغنا أن حمادا كان ذا دنيا متسعة، وأنه  كان يفطر في شهر رمضان خمسمائة إنسان، وأنه كان يعطيهم بعد العيد لكل واحد مائة درهم.

“Telah sampai berita kepada kami bahwa al-Imam Hammad bin Abi Sulaiman (seorang ulama tabi’in) mempunyai kekayaan yang banyak. Beliau memberikan jamuan berbuka puasa untuk 500 orang pada bulan Ramadhan. Dan pada saat Idul Fitri beliau memberikan masing-masing dari mereka 100 Dirham.” (Siyar A’lamin Nubala’: 5/234).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa di antara kekhususan hari raya adalah saling berbagi hadiah dan pemberian sedekah. Al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

ومن المعلوم أنه ليس هناك عيد في الشريعة الإسلامية إلا ما ثبت في الشريعة، كعيد الفطر، وعيد الأضحى، وكذلك يوم الجمعة هو عيد للأسبوع، وأما النصف من شعبان فلم يثبت في الشريعة الإسلامية أنه عيد، فإذا اتخذ عيداً توزع فيه الصدقات أو تهدى فيه الهدايا على الجيران كان هذا من اتخاذه عيداً.

“Dan sudah diketahui bahwa di sana tidak ada lagi hari raya di dalam syariat Islam kecuali hari raya yang telah ditetapkan oleh syariat, seperti Idul Firi dan Idul Adha. Demikian pula hari Jumat, maka itu adalah hari raya mingguan. Adapun hari Nisfu Sya’ban, maka tidak ada ketetapan dalam syariat bahwa itu merupakan hari raya. Maka jika seseorang menjadikannya hari raya yang mana dibagikan sedekah di hari itu atau dibagikan hadiah atau parcel kepada tetangga pada hari itu, maka itu termasuk menjadikannya hari raya.” (Liqa’ul Babil Maftuh: 19/89).

Bahkan tradisi pembagian ‘idiyah’ atau semacam angpao di hari raya yang berlangsung di Saudi Arabiyah dianggap sebagai tradisi yang baik oleh ulama mereka.

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ Saudi Arabiyah pernah ditanya:

عندنا أطفال صغار، وتعودنا في بلادنا أن نعطيهم حسب يوم العيد سواء الفطر أو الأضحى ما يسمى ب (العيدية) وهي نقود بسيطة، من أجل إدخال الفرح في قلوبهم، فهل هذه العيدية بدعة أم ليس فيها شيء؟ أفيدونا أفادكم الله.

“Kami mempunyai anak-anak yang masih kecil. Kami membiasakan di negeri kami untuk memberikan kepada mereka ‘idiyah’, yaitu semacam uang lembaran (baca: angpao), ketika hari Idul Fitri atau Idul Adha, dalam rangka menyenangkan hati mereka. Apakah ‘idiyah’ ini perkara bid’ah ataukah tidak apa-apa?” Berilah kami faedah. Semoga Allah memberikan faedah kepada Anda.”

Jawaban:

لا حرج في ذلك، بل هو من محاسن العادات، وإدخال السرور على المسلم، كبيرا كان أو صغيرا، وأمر رغب فيه الشرع المطهر. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس

بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

.”Tidak ada dosa di dalam perkara tersebut, bahkan ‘idiyah’ termasuk tradisi yang baik. Memberikan kegembiraan atas seorang muslim, baik tua ataupun muda, adalah perkara yang dianjurkan oleh syariat yang suci ini. Allahlah pemilik taufiq. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabat beliau.”

(Lajnah Daimah: Ibnu Baaz (ketua), Abdul Aziz Alusy Syaikh (wakil ketua), Shalih Fauzan (anggota), Bakar Abu Zaid (anggota). (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, Majmu’ah al-Ula nomer: 20195 (26/347-8).

Jika tradisi pemberian hadiah atau uang di hari raya dianggap sebagai tradisi yang baik, maka tradisi silaturahim dan berkunjung kepada sanak kerabat yang disebut dengan ‘Halal bi Halal’ lebih layak untuk dianggap sebagai tradisi yang baik. Wallahu a’lam.

Mengunjungi Sanak Kerabat

Termasuk tradisi yang baik ketika hari raya adalah mengunjungi sanak kerabat atau tradisi ‘Unjung-unjung’. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri yang memberikan teladan untuk ‘Unjung-unjung’ ketika hari raya.

Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat ‘Ied, beliau mengambil jalan yang berbeda (antara berangkat dan kembali).” (HR. Al-Bukhari: 986).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan lebih dari dua puluh (20) hikmah dan tujuan beliau mengambil jalan yang berbeda antara berangkat dan pulang shalat Ied. Di antaranya adalah:

وقيل ليزور أقاربه الأحياء والأموات وقيل ليصل رحمه

“Dikatakan (bahwa beliau melakukan demikian) dengan tujuan mengunjungi kerabat beliau yang masih hidup dan yang sudah mati. Dan dikatakan (bahwa beliau melakukan demikian) dengan tujuan menyambung silaturahim dengan sanak kerabat beliau.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 2/473).

Demikian pula menurut al-Imam Badruddin al-Aini al-Hanafi rahimahullah. Beliau berkata:

الخامس عشر ليزور أقاربه الأحياء والأموات السادس عشر ليصل رحمه

“Hikmah ke-15 adalah dengan tujuan berkunjung kepada kerabat beliau yang masih hidup dan yang sudah mati. Hikmah ke-16 adalah dengan tujuan menyambung silaturahim dengan sanak kerabat beliau.” (Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari: 10/339).

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (wafat tahun 751 H) rahimahullah juga menjelaskan:

وكان صلى الله عليه و سلم يخالف الطريق يوم العيد فيذهب في طريق ويرجع في آخر فقيل : ليسلم على أهل الطريقين وقيل : لينال بركته الفريقان وقيل : ليقضي حاجة من له حاجة منهما… وقيل هو الأصح : إنه لذلك كله ولغيره من الحكم التي لا يخلو فعله عنها

“Nabi shallallahu alaihi wasallam mengambil jalan yang berbeda ketika hari raya. Maka beliau berangkat melalui suatu jalan dan pulang melalui jalan yang lain. Maka dikatakan (di antara hikmah dan tujuannya) adalah untuk mengucapkan salam kepada penduduk kedua jalan tersebut. Dan dikatakan (bahwa beliau melakukan demikian) dengan tujuan agar penduduk kedua jalan tersebut mendapatkan barakah dari kunjungan beliau. Dan dikatakan (bahwa beliau melakukan demikian) dengan tujuan memenuhi hajat orang-orang yang mempunyai hajat kepada beliau… Dan dikatakan –dan ini adalah pendapat yang paling benar- (bahwa beliau melakukan demikian) dengan semua hikmah dan tujuan tersebut dan tujuan lainnya yang mana perbuatan beliau tidak sunyi dari tujuan.” (Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad: 1/425).

Sehingga meskipun istilah ‘Halal bi Halal’ belum dikenal ketika itu, tetapi perbuatan yang semisal itu seperti bersilaturahim, berbagi hadiah, menebarkan salam dan mengunjungi sanak kerabat di hari raya sudah dicontohkan oleh as-Salaf.

Oleh karena itu tidak dibenarkan jika seseorang mengambil jalan yang berbeda setelah shalat Jumat atau setelah shalat maktubah, karena di-qiyas-kan (baca: dianalogikan) dengan shalat hari raya. Ini karena mengambil jalan yang berbeda hanyalah disyariatkan pada shalat hari raya.

Al-Imam Ibnu Muflih al-Hanbali (wafat tahun 803 H) rahimahullah berkata:

لكن الظاهر أن المخالفة فيه شرعت لمعنى خاص، فلا يلتحق به غيره، وظاهره لا فرق بينهما

“Tetapi yang jelas dari perbuatan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengambil jalan lain itu disyariatkan untuk tujuan khusus (yakni: kekhususan hari raya, pen). Maka tidak boleh di-qiyas-kan dengan shalat yang lainnya (seperti shalat Jumat dan shalat maktubah, pen). Dan secara jelas tidak ada perbedaan antara keduanya (yakni: Idul Fitri dan Idul Adha, pen).” (Al-Mubdi’ Syarhul Muqni’: 2/339).

Sehingga ‘Halal bi Halal’, saling bermaafan, saling mengunjungi dan sebagainya merupakaan kekhususan hari raya. Wallahu a’lam.

Keumuman Silaturahim

Silaturahim atau menyambung hubungan sanak kerabat merupakan ibadah yang bersifat umum dan tidak mempunyai batasan dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Maka sesuai dengan kaidah fikih bahwa jika terdapat amal ibadah yang tidak mempunyai batasan dalam teks al-Quran maupun as-Sunnah, maka batasannya dikembalikan kepada ‘Urf’ atau kebiasaan dan kewajaran masyarakat setempat.

Al-Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata:

والعرفُ معمولٌ به إذا وَرَدْ … حُكْمٌ من الشرعِ الشريفِ لم يُحَدّْ

“Urf’ atau ukuran kebiasaan bisa diamalkan jika terdapat suatu hukum syariat yang tidak mempunyai batasan.” (Syarh Manzhumah al-Qawaid al-Fiqhiyah: 92).

Termasuk dalam Bab ini adalah Bab Silaturahim dan Bab Berbakti kepada orang tua.

Al-Imam Sirajuddin al-Bulqini asy-Syafi’i (wafat tahun 805 H) rahimahullah berkata:

ما عُدّ في العرف عقوقًا لهما، فهو عقوق

“Perkara yang dianggap oleh al-Urf (kebiasaan masyarakat) sebagai ‘durhaka kepada kedua orang tua’, maka perkara tersebut termasuk perbuatan durhaka kepada orang tua.” (Al-Fawaidul Jisam ala Qawaid Ibni Abdis Salam: 147/14).

Demikian pula ‘Silaturahim’, ia tidak mempunyai batasan yang tegas baik secara syar’i ataupun secara bahasa. Maka batasannya dikembalikan kepada ‘Urf atau kebiasaan masyarakat setempat.

Al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

صلة الرحم -بارك الله فيك- ما فيها حد لا في المدة ولا في الكيفية ولا بالذي يوصل به مال أو كسوة أو غيره، فجاءت النصوص مطلقة، صلة رحم، فما عده الناس صلة فهو صلة، وما عدوه قطيعة فهو قطيعة..الخ

“Silaturrahim –semoga Allah memberkahimu- tidak mempunyai batasan, tidak di dalam masanya, tidak pula dalam caranya, dan tidak pula dalam perkara yang digunakan untuk menyambung, apakah berupa uang, ataukah pakaian, ataukah yang lainnya. Maka teks al-Quran dan as-Sunnah datang dengan perintah ‘Silaturrahim’ secara mutlak. Maka perkara yang dianggap oleh manusia sebagai bentuk silaturrahim, maka itu termasuk silaturrahim (secara syar’i, pen). Dan perkara yang dianggap oleh mereka sebagai bentuk memutus tali persaudaraan, maka itu termasuk memutus tali persaudaraan (secara syar’i, pen)..dst.” (Liqa’ul Babil Maftuh: 73/38).

Sehingga jika masyarakat menganggap ‘Halal bi Halal’ sebagai bentuk silaturrahim, maka ‘Halal bi Halal’ dinilai sebagai silaturrahim secara syar’i. wallahu a’lam.

Berjabat Tangan dan Ucapan Selamat

Berjabat tangan dan mengucapkan ‘Selamat Hari Raya’ termasuk tradisi yang diperbolehkan. Para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam juga saling mengucapkan selamat ketika selesai shalat Idul Fitri.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وروينا في المحامليات بإسناد حسن عن جبير بن نفير قال كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك

“Kami meriwayatkan dalam al-Muhamiliyat dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair rahimahullah, ia berkata: “Para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam jika saling bertemu di hari raya, maka mereka saling mengucapkan: “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kamu, pen).” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 2/446).

Dan sudah barang tentu bahwa ketika mereka saling bertemu dan mengucapkan ucapan selamat, maka mereka juga sambil berjabat tangan. Al-Imam asy-Sya’bi rahimahullah berkata:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا الْتَقَوْا صَافَحُوا فَإِذَا قَدِمُوا مِنْ سَفَرٍ عَانَقَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا.

“Para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika saling bertemu, maka mereka saling berjabat tangan. Dan ketika mereka pulang dari bepergian jauh, maka mereka saling memeluk.” (HR. Al-Baihaqi dalam al-Kubra: 13959 (7/100) dari asy-Sya’bi dan ath-Thabrani dalam al-Ausath: 97 (1/37) dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Isnad al-Baihaqi di-shahih-kan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq Sunan Ibni Majah: 4/654. Sedangkan isnad ath-Thabrani di-hasan-kan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’: 12765 (8/75)).

Adapun lafal ucapan selamat Idul Fitri, maka bisa bermacam-macam, seperti ‘Taqabbalallahu Minna wa Minkum’, ‘Ied Mubarak’, ‘Mohon Maaf Lahir dan Batin’ dan sebagainya. Maka bentuk ucapan tersebut sangat beragam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H) rahimahullah berkata:

أَمَّا التَّهْنِئَةُ يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ إذَا لَقِيَهُ بَعْدَ صَلاةِ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ , وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك , وَنَحْوُ ذَلِكَ , فَهَذَا قَدْ رُوِيَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَفْعَلُونَهُ وَرَخَّصَ فِيهِ , الأَئِمَّةُ , كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ . لَكِنْ قَالَ أَحْمَدُ : أَنَا لا أَبْتَدِئُ أَحَدًا , فَإِنْ ابْتَدَأَنِي أَحَدٌ أَجَبْته , وَذَلِكَ لأَنَّ جَوَابَ التَّحِيَّةِ وَاجِبٌ , وَأَمَّا الابْتِدَاءُ بِالتَّهْنِئَةِ فَلَيْسَ سُنَّةً مَأْمُورًا بِهَا , وَلا هُوَ أَيْضًا مَا نُهِيَ عَنْهُ , فَمَنْ فَعَلَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ , وَمَنْ تَرَكَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

“Adapun ucapan selamat pada hari raya, seperti ucapan sebagian orang kepada sebagian lainnya ketika bertemu setelah shalat hari raya; “Taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima amal kami dan kalian)” atau ahaalahullahu ‘alaika (Mudah-mudahan Allah menerima kebaikan kepadamu)” dan semisalnya, maka diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi bahwa mereka biasa melakukan hal tersebut. Imam Ahmad dan lainnya juga membolehkan hal ini. Imam Ahmad berkata: “Saya tak akan memulai seseorang dengan ucapan selamat ‘ied. Namun jika seseorang itu memulai, maka saya akan menjawabnya.” Yang demikian itu karena menjawab salam adalah sesuatu yang wajib dan memberikan ucapan bukan termasuk sunnah yang diperintahkan dan juga tak ada larangannya. Barangsiapa yang melakukannya, maka ada contohnya dan bagi yang tak mengerjakannya juga ada contohnya.” (Majmu’ al-Fatawa: 24/253).

Oleh karena itu ketika menjelaskan atsar Jubair bin Nufair, al-Allamah Muhammad bin Ahmad ar-Ramli asy-Syafi’i (wafat 1004 H) rahimahullah berkata:

قَوْلُهُ : (  تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك ) أَيْ نَحْوُ ذَلِكَ مِمَّا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِي التَّهْنِئَةِ وَمِنْهُ الْمُصَافَحَةُ ، وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ فِي يَوْمِ الْعِيدِ أَنَّهَا لَا تُطْلَبُ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ وَمَا بَعْدَ يَوْمِ عِيدِ الْفِطْرِ ، لَكِنْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّهْنِئَةِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ ، وَلَا مَانِعَ مِنْهُ ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهُ التَّوَدُّدُ وَإِظْهَارُ السُّرُورِ

“Ucapan Jubair “Taqabbalallahu Minna wa Minka”, maksudnya juga meliputi ucapan selain itu yang sudah menjadi tradisi di dalam ucapan selamat hari raya (seperti “Minal Aidin wal Faizin’ di Indonesia dan ‘Ied Mubarak’ di Timur Tengah, pen). Begitu pula berjabat tangan (yakni: termasuk tradisi di hari raya, pen). Dan ucapan Jubair “di hari raya” dapat memberikan faedah bahwa ucapan tersebut tidak dianjurkan pada hari Tasyriq dan hari setelah hari Idul Fitri. Akan tetapi telah terjadi kebiasaan untuk memberikan ucapan selamat di hari-hari setelah hari raya dan tidak ada larangan untuk mengucapkannya, karena yang dituju adalah menumbuhkan kasih sayang dan menampakkan kebahagiaan..dst.” (Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj: 7/411).

Demikian pula menurut al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata:

التهنئة بالعيد جائزة، وليس لها تهنئة مخصوصة، بل ما اعتاده الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً

“Mengucapkan selamat hari raya itu diperbolehkan. Dan tidak ada lafal khusus untuk ucapan selamat. Akan tetapi lafal ucapan yang sudah dijadikan tradisi oleh manusia, maka itu diperbolehkan selagi bukan perbuatan dosa.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin: 16/129).

Beliau juga menyatakan:

التهنئة بالعيد قد وقعت من بعض الصحابة رضي الله عنهم، وعلى فرض أنها لم تقع فإنها الآن من الأمور العادية التي اعتادها الناس، يهنىء بعضهم بعضاً ببلوغ العيد واستكمال الصوم والقيام

“Ucapan selamat hari raya sudah terjadi di kalangan sebagian sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Taruhlah seandainya tidak terjadi di masa mereka, maka ucapan tersebut termasuk perkara yang sudah dijadikan tradisi oleh manusia (di jaman ini, pen). maka mereka saling mengucapkan selamat dengan sampainya hari raya dan berhasil menyempurnakan ibadah puasa dan tarawih.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin: 16/128).

Beliau juga ditanya:

ما حكم المصافحة، والمعانقة والتهنئة بعد صلاة العيد؟

“Apakah hukum berjabat tangan, berpelukan dan mengucapkan selamat setelah melakukan shalat hari raya?”

Beliau menjawab:

هذه الأشياء لا بأس بها؛ لأن الناس لا يتخذونها على سبيل التعبد والتقرب إلى الله عز وجل، وإنما يتخذونها على سبيل العادة، والإكرام والاحترام، ومادامت عادة لم يرد الشرع بالنهي عنها فإن الأصل فيها الإباحة

“Perkara ini semua tidak apa-apa dikerjakan, karena manusia melakukannya bukan untuk ta’abbud dan juga tidak untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Mereka melakukannya menurut jalan tradisi, memuliakan dan menghormati. Selagi suatu tradisi atau kebiasaan tidak dilarang oleh syariat, maka hukum asalnya adalah mubah.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin: 16/128).

Tradisi Sungkeman

Arti sungkeman sendiri berasal dari kata sungkem yang bermakna bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan. Tradisi ini dapat kita jumpai di masyarakat Jawa pada momen tertentu misalnya pada hari raya lebaran atau dalam pesta pernikahan. (Lihat: http://www.konsultasislam.com/2013/05/sungkeman.html).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

وأما تقبيل اليد فإن كان لزهد صاحب اليد وصلاحه أو علمه أو شرفه وصيانته ونحوه من الأمور الدينية فمستحب وإن كان لدنياه وثروته وشوكته ووجاهته ونحو ذلك فمكروه شديد الكراهة وقال المتولي لا يجوز وظاهره التحريم

“Adapun mencium tangan seseorang, jika itu karena sifat zuhud si pemilik tangan, atau keshalihannya, atau ilmunya, atau kemuliaan dan penjagaannya dan sebagainya dalam perkara agamanya, maka itu diperbolehkan. Jika (mencium tangan) karena dunianya, kekuatannya, kedudukannya dan sebagainya, maka itu makruh (dibenci, pen) dengan sangat. Bahkan al-Mutawalli berkata tidak boleh dan secara zhahirnya adalah haram..dst.” (Raudhatuth Thalibin wa Umdatul Muftin: 4/10).

Abdurrahman bin Razin (seorang tabi’in) rahimahullah berkata:

مررنا بالربذة فقيل لنا ها هنا سلمة بن الأكوع فأتيته فسلمنا عليه فأخرج يديه فقال بايعت بهاتين نبي الله صلى الله عليه و سلم فأخرج كفا له ضخمة كأنها كف بعير فقمنا إليها فقبلناها

“Kami berjalan melewati Rabadzah. Kemudian dikatakan kepada kami: “Di sini ada Salmah bin al-Akwa’ radhiyallahu anhu. Maka kami mengucapkan salam kepadanya. Kemudian beliau mengeluarkan kedua tangannya dan berkata: “Aku berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan kedua tanganku ini.” Kemudian beliau mengeluarkan telapak tangannya yang gemuk seperti telapak tangan unta. Maka kami berdiri menuju beliau dan mencium telapak tangan beliau.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad: 973 (338) dan ath-Thabrani dalam al-Ausath: 657 (1/205). Perawi ath-Thabrani di-tsiqat-kan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’: 12799 (8/85). Isnadnya di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahih Adabil Mufrad: 751 (1/381)).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وقد جمع الحافظ أبو بكر بن المقرئ جزءا في تقبيل اليد سمعناه أورد فيه أحاديث كثيرة وآثارا فمن جيدها حديث الزارع العبدي وكان في وفد عبد القيس قال فجعلنا نتبادر من رواحلنا فنقبل يد النبي صلى الله عليه و سلم ورجله أخرجه أبو داود ومن حديث مزيدة العصري مثله ومن حديث أسامة بن شريك قال قمنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبلنا يده وسنده قوي..الخ

“Al-Hafizh Abu Bakar Ibnul Muqri’ telah mengumpulkan juz’ (risalah, pen) tentang mencium tangan. Kami telah mendengar beliau membawakan banyak hadits dan atsar. Termasuk hadits yang jayyid dalam permasalahan ini adalah hadits az-Zari’ al-Abdi. Ia termasuk bagian delegasi Abdul Qais. Ia berkata: “Maka kami bercepat-cepat turun dari kendaraan kami kemudian kami mencium tangan dan kaki Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Juga hadits Mazidah al-Ashri seperti itu. Dan juga hadits Usamah bin Syarik, ia berkata: “Maka kami berdiri menuju Nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian kami cium tangan beliau.” Isnadnya kuat..dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 11/57).

Adapun mencium tangan orang yang lebih tua, maka itu diperbolehkan. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

ولا يكره تقبيل اليد لزهد وعلم وكبر سن..الخ

“Tidak dibenci mencium tangan seseorang karena sifat zuhudnya, atau ilmunya atau karena tua usianya..dst.” (Raudhatuth Thalibin wa Umdatul Muftin: 4/9).

Al-Imam Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i (wafat tahun 804 H) rahimahullah berkata:

وقد قبَّل أبو عبيدة يد عمر بن الخطاب حين قدم من سفر ، وقبل زيد بن ثابت يد ابن عباس حين (أخذ) ابن عباس (بركابه). وقال ابن عباس: هكذا أمرنا أن نفعل بعلمائنا. وقال زيد: هكذا أمرنا أن نفعل بآل رسول الله عليه الصلاة والسلام.

“Abu Ubaidah bin al-Jarrah mencium tangan Umar bin al-Khaththab ketika datang dari bepergian. Zaid bin Tsabit juga mencium tangan Ibnu Abbas ketika Ibnu Abbas menuntun kendaraan Zaid bin Tsabit. Ibnu Abbas berkata: “Demikianlah kita diperintahkan untuk menghormati ulama kita.” Zaid juga berkata: “Demikian juga kita diperintahkan untuk menghormati keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (At-Taudhih Syarh al-Jami’ish Shahih: 29/108).

Hanya saja kegiatan mencium tangan itu relatif jarang dilakukan oleh as-Salaf jika dibanding dengan kegiatan berjabat tangan dan mu’anaqah (memeluk badan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فأما تقبيل اليد فلم يكونوا يعتادونه إلا قليلا….. وأما ابتداء مد اليد للناس ليقبلوها وقصده لذلك فينهى عن ذلك بلا نزاع كائنا من كان، بخلاف ما إذا كان المقبل المبتدئ بذلك وفي السنن: «قالوا: يا رسول الله يلقى أحدنا أخاه أفينحني له؟ قال: «لا» قالوا: فيلتزمه ويعانقه؟ قال: «لا» ، قالوا: فيصافحه؟ قال: «نعم».

“Adapun mencium tangan, maka para sahabat tidak membiasakannya kecuali pada sedikit waktu….. Adapun memulai mengulurkan tangan kepada manusia agar mereka menciumnya dan berniat agar tangannya dicium, maka itu perkara yang dilarang tanpa perselisihan di antara ulama, siapapun orangnya. Ini berbeda jika orang yang akan mencium tangan yang memulainya. Di dalam as-Sunan: “Mereka berkata: “Wahai Rasulullah! Jika seseorang di antara kita bertemu dengan saudaranya, maka apakah boleh membungkukkan badan?” Beliau menjawab: “Tidak boleh.” Mereka bertanya: “Apakah boleh memeluknya?” Beliau menjawab: “Tidak boleh.” Mereka bertanya: “Apakah boleh berjabat tangan dengannya?” Beliau menjawab: “Ya, boleh.” (HR. At-Tirmidzi: 2728 dan di-hasan-kan olehnya. Di-hasan-kan juga oleh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan at-Tirmidzi: 2728.” (Al-Mustadrak ala Majmu’ al-Fatawa: 1/29).

Meskipun jarang dilakukan oleh as-Salaf, hukum mencium tangan tetaplah mubah. Beberapa ulama kontemporer menganggapnya sebagai perbuatan yang mubah (diperbolehkan). Di antara mereka adalah al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata:

وأما تقبيل يد الأب أو الأم أو الأخ الكبير أو العالم أو الشيخ الكبير احتراماً، فهذا لا بأس به ولا إشكال فيه.

السائل: فيه انحناء.

الشيخ: لا يوجد انحناء أبداً, حتى لو فرضنا أن الرجل الذي تريد أن تقبل يده قصير ونزلت رأسك لتقبل يده فهذا ليس انحناء إكرام, هذا الانحناء للوصول للتقبيل, مع أنه يمكن أن يأخذ بيده ويرفعها ويقبلها وهو واقف تماماً.

“Adapun mencium tangan ayah, atau ibu, atau kakak, atau orang alim, atau syaikh yang tua dalam rangka menghormati, maka ini tidak apa-apa dan tidak ada keraguan lagi.”

Penanya bertanya: “Meskipun di dalamnya terdapat gerakan membungkukkan badan (seperti ruku’, pen)?”

Beliau menjawab: “Tidak ada gerakan membungkuk selamanya. Taruhlah orang yang akan kamu cium tangannya itu tubuhnya pendek. Dan kamu harus menurunkan kepalamu untuk mencium tangannya, maka ini bukanlah membungkuk untuk menghormat (seperti ruku’, pen), tetapi membungkuk agar bisa mencium tangannya, meskipun kamu masih mampu untuk mengambil tangannya dan mengangkatnya untuk kamu cium sedangkan ia berdiri secara sempurna.” (Liqa’ul Babil Maftuh: 104/17).

Penulis berkata: Jika sungkem atau mencium tangan –sebagaimana penjelasan para ulama di atas- hukumnya mubah, maka menjadikannya sebagai tradisi di hari raya Idul Fitri juga mubah (diperbolehkan) selagi tidak ada perkara yang mengotorinya seperti sungkem kepada seseorang yang kaya dan berpangkat, sungkem kepada wanita yang bukan mahram dan sebagainya.

Maka jika tradisi bernyanyi dan menari –yang hukum asalnya haram- itu diberikan kelonggaran di hari raya, maka tradisi sungkeman –yang hukum asalnya mubah- lebih utama untuk diperbolehkan. Wallahu a’lam.

Pengkhususan Ta’abbudi

Sebagian ikhwan Salafiyyin dan ustadz mereka menganggap bahwa pengkhususan kegiatan berkunjung dan bermaaf-maafan kepada sanak kerabat pada saat hari raya termasuk pengkhususan yang bersifat ‘ta’abbudiyah’ sehingga termasuk perkara bid’ah.

Di antara kaidah yang mereka pegang adalah ucapan al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi (wafat tahun 790 H) rahimahullah:

والتعبدات من حقيقتها أن لا يعقل معناها على التفصيل. وقد مر أن العادات إذا دخل فيها الابتداع فإنما يدخلها من جهة ما فيها من التعبد لا بإطلاق .

“Perkara-perkara ta’abbud dari hakikatnya adalah perkara yang tidak bisa dipahami maknanya secara terperinci. Dan telah terdahulu bahwa perkara adat (kebiasaan manusia) jika kemasukan perkara bid’ah maka masuknya adalah dari arah ta’abbudnya bukan secara mutlak.” (Kitabul I’tisham: 1/421).

Penjelasan:

Ucapan asy-Syathibi di atas diperjelas oleh penjelasan ulama yang lainnya. Di antaranya adalah al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami (wafat tahun 974 H) rahimahullah. Beliau berkata:

وَهُوَ اصْطِلَاحًا مَا لَا يُعْقَلُ مَعْنَاهُ عِبَادَةً كَانَ أَوْ غَيْرَهَا

Perkara ta’abbudi menurut istilah ahli fikih adalah sesuatu yang tidak dimengerti maksudnya, baik itu berupa ibadah (seperti bersuci, shalat dsb, pen) ataupun selainnya (seperti muamalat, adat dsb, pen).” (Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj: 34/458).

Al-Allamah Abu Bakar al-Bakri ad-Dimyathi asy-Syafi’i (wafat tahun 1302 H) rahimahullah menjelaskan maksud al-Haitami:

وقوله: ما لا يعقل معناه: أي أمر لا تدرك حكمته، بل الشارع تعبدنا به

“Maksud ucapan al-Haitami “sesuatu yang tidak dimengerti maksudnya” adalah perkara yang hikmah pensyariatannya tidak bisa dijangkau (oleh pemikiran manusia, pen), tetapi Pemilik syariat hanyalah memerintahkan kita untuk menjadikannya sebagai bentuk ibadah (ritual, pen).” (I’anatuth Thalibin: 4/38).

Yang demikian karena al-Imam Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i (wafat tahun 794 H) rahimahullah pernah menjelaskan:

الشَّرْعُ يَنْقَسِمُ إلَى مَا يُعْقَلُ مَعْنَاهُ وَإِلَى تَعَبُّدٍ

“Syariat itu terbagi dua (2); yaitu (pertama) perkara yang dapat dimengerti alasan dan hikmahnya, dan (kedua) perkara ta’abbudi.” (Al-Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh: 6/211).

Jadi batasan ibadah yang bersifat ta’abbudi adalah amal ibadah yang tidak diketahui maksud, kemaslahatan dan madharatnya secara terperinci.

Termasuk contoh pengkhususan yang bukan ‘ta’abbudi’ karena hikmahnya dapat dimengerti adalah pengkhususan shalat di Masjid Quba’ setiap hari Sabtu.

Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ، مَاشِيًا وَرَاكِبًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu, baik dengan berjalan kaki maupun berkendaraan.” (HR. Al-Bukhari: 1193 dan Muslim: 3462).

Al-Allamah Syihabuddin al-Qasthalani asy-Syafi’i (wafat tahun 923 H) rahimahullah menerangkan alasan pengkhususan hari Sabtu datang ke Masjid Quba:

وخص السبت لأجل مواصلته لأهل قباء وتفقد حال من تأخر منهم عن حضور الجمعة معه في مسجده بالمدينة

“Beliau mengkhususkan hari Sabtu (untuk ke Quba’) dalam rangka menyambung hubungan dengan penduduk Quba’ dan menanyakan keadaan mereka yang berhalangan hadir dalam shalat Jumat bersama beliau di masjid beliau di Madinah.” (Irsyadus Sari li Syarh Shahihil Bukhari: 2/346).

Demikian pula mengkhususkan kegiatan saling berkunjung, saling bermaafan, saling silaturahim, saling bertukar hadiah, sungkeman dan sebagainya pada hari raya. Maka itu semua bukanlah pengkhususan yang bersifat ta’abbudi, tetapi hanya bersifat ‘adat’, karena hikmah dan alasannya dapat dimengerti, yaitu dalam rangka menunjukkan kebahagiaan dan kegembiraan di hari raya. Wallahu a’lam.

Tradisi Ziarah Kubur

Seseorang yang membiasakan berziarah ke kuburan pada hari-hari tertentu seperti pada tiap hari Idul Fitri dan sebagainya, maka dikhawatirkan ia termasuk orang yang menjadikan kuburan sebagai ‘ied (perayaan, pen). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا وَلَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا

“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ied (perayaan). Dan janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan.” (HR. Ahmad: 8449, Abu Dawud: 1746 dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 4162 (3/491) dari Abu Hurairah radliyallahu anhu. Sanadnya di-shahih-kan oleh an-Nawawi dalam al-Adzkar: 333 (115)).

Lafazh ‘Menjadikan kuburan beliau sebagai ‘Ied’ dalam hadits di atas mempunyai dua (2) makna:

Pertama: berkumpul di dalam ziarah kubur seperti berkumpul untuk perayaan, seperti tahlilan dan istighatsahan di kuburan, festival di kuburan dan sebagainya.

Al-Allamah Syarafuddin ath-Thibi asy-Syafi’i (wafat tahun 743 H) rahimahullah menerangkan makna hadits di atas:

يحتمل أن يراد به واحد الأعياد، أي لا تجعلوا زيارة قبري عيداً، أو قبري مظهر عيد، والمعنى لا تجتمعوا للزيارة اجتماعكم للعيد، فإنه يوم لهو وسرور وزينة، وحال الزيارة مخالفة لتلك الحالة، وكان ذلك من دأب اليهود والنصارى، فأورثهم ذلك الغفلة، وقسوة القلب، ومن عادة عبدة الأصنام أنهم لم يزالوا يعظمون أمواتهم حتى اتخذوها أصناما

“Makna ‘Ied’ bisa dipahami sebagai bentuk tunggal dari kata “a’yaad” (perayaan, pen). Maksudnya: “Janganlah kalian menjadikan ziarah kuburanku sebagai perayaan atau tempat menampakkan perayaan.” Maknanya: “Janganlah kalian berkumpul untuk ziarah kubur seperti berkumpulnya kalian untuk hari raya, karena hari raya adalah hari bersenda gurau, berbahagia dan perhiasan.” Dan perkara tersebut (berkumpul di kuburan nabi-nabi, pen) termasuk tradisi kaum yahudi dan nasrani sehingga menyebabkan mereka lalai dan berhati keras. Dan termasuk kebiasan para penyembah berhala adalah bahwa mereka selalu mengagungkan orang-orang mati mereka sampai pada menjadikan mereka sebagai berhala-berhala…dst.” (Al-Kasyif an Haqa’iqis Sunan an-Nabawiyah Syarh Misykatil Mashabih: 2/414).

Kedua: membiasakan diri berziarah kubur pada hari-hari tertentu atau bulan-bulan tertentu seperti berziarah kubur setiap Idul Fitri atau setiap Idul Adha dan sebagainya. Ath-Thibi juga menerangkan:

ويحتمل أن يكون العيد اسما من الاعتياد، يقال: عادة، واعتاده، وتعوده، أي صار عادة له، يعني لا تجعلوا قبري محل اعتياد تعتادونه؛ لما يؤدي ذلك إلي سوء الأدب، وارتفاع الحشمة.

“Makna ‘Ied’ juga bisa dipahami bentuk isim (kata benda) dari kata ‘membiasakan’. Dikatakan: “Sebagai adat (kebiasaan), ia membiasakannya. Maksudnya adalah menjadikan kebiasaan baginya. Maknanya: “Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat kebiasaan berziarah (pada momen tertentu seperti Idul Fitri, pen) untuk kalian biasakan,” karena perbuatan tersebut bisa membawa pada sikap tidak sopan dan hilangnya rasa malu.” (Al-Kasyif an Haqa’iqis Sunan an-Nabawiyah Syarh Misykatil Mashabih: 2/414).

Maka jika kuburan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saja dilarang untuk dijadikan kebiasaan ziarah setiap momen tertentu seperti Idul Fitri atau Idul Adha, maka apalagi kuburan selain beliau, maka lebih utama untuk dilarang. Al-Imam Muhammad bin Isma’il ash-Shan’ani rahimahullah berkata:

فالحديث نهي عن اعتياد مجيء قبره – صلى الله عليه وسلم – وقبر غيره بالأولى

“Hadits di atas merupakan larangan untuk membiasakan diri datang ke kuburan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (seperti pada momen tertentu, pen). dan kuburan selain beliau lebih utama untuk dilarang.” (At-Tanwir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 6/592).

Maka pengkhususan ziarah kubur dengan hari tertentu atau bulan tertentu adalah perkara bid’ah. Begitu juga pengkhususan ziarah kubur pada setiap hari raya. Al-Allamah Ahmad bin Yahya al-Wansyarisi at-Tilmisani al-Maliki (wafat tahun 914 H) rahimahullah berkata:

وأما تخصيص زيارة قبور القرابات في الأعياد فبدعة عظيمة إن كان الاعتقاد أن في ذلك اليوم زيادة على غيره من الأيام, وإن كان لتفرغه ذلك اليوم من اشغاله فوجد فرغة فلا بأس بذلك .

Adapun pengkhususan ziarah kuburan kerabat pada hari-hari raya, maka itu adalah bid’ah yang besar, jika ada keyakinan bahwa ziarah pada hari itu mempunyai tambahan keutamaan atas hari-hari lainnya. Jika ia berziarah pada hari raya karena memang kesempatannya hanya pada hari itu, kemudian ia mendapatkan kesempatan, maka itu tidak apa-apa.” (Al-Mi’yar al-Mu’arrab wal Jami’ al-Mugharrab an Fatawa Ahli Ifriqiyah wal Andalus wal Maghrib: 1/418).

Berlapang Dada dan Tidak Bersikap Keras

Tradisi-tradisi yang selama ini berlangsung di hari raya di negeri ini, seperti ‘halal bi halal’, unjung-unjung, saling memberi hadiah, sungkeman dan sebagainya adalah perkara mubah, sampai ada dalil yang melarangnya.

Kita tidak diperkenankan bersikap keras kepada kaum muslimin yang mengadakan acara-acara tersebut. Rasulullah shallallahu juga pernah menegur Abu Bakar radhiyallahu anhu yang melarang orang yang bersenang-senang (mendendangkan nyanyian) di hari raya. Beliau bersabda:

دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ، إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا، وَإِنَّ عِيدَنَا هَذَا اليَوْمُ

“Biarkanlah keduanya wahai Abu Bakr. Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan hari raya kita adalah hari ini.” (HR. Al-Bukhari: 3931 dan Muslim: 2100 dari Aisyah radhiyallahu anha).

Al-Imam Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

فقال له: “دَعْهُمَا” وعلل الإباحة بأنه يوم عيد، يعني: يوم سرور وفرح شرعي، فلا ينكر فيه مثل هذا

“Sabda beliau kepada Abu Bakar “Biarkan keduanya!” kemudian beliau menjelaskan alasan diperbolehkannya keduanya berdendang bahwa hari itu adalah hari raya. Maksudnya hari itu adalah hari berbahagia dan bergembira secara syar’i, maka acara ini tidak pantas diingkari.” (At-Taudhih li Syarh al-Jami’ish Shahih: 8/60).

Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata:

قَدمَ رسولُ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم المدينة وَلهُم يَوْمان يَلْعبُون فيهما فقَالَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah sedangkan penduduk Madinah mempunyai dua hari raya yang mana mereka bermain-main di padanya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari raya Jahiliyah dengan hari raya yang lebih baik, yaitu hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fitri.” (HR. Abu Dawud: 1136, an-Nasai: 1556 dan di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 7831).

Hadits di atas menunjukkan bahwa tradisi-tradisi yang biasanya dilakukan ketika hari raya Jahiliyah atau hari raya orang kafir bisa dilakukan ketika hari raya kaum muslimin. Yang diganti hanyalah waktu hari rayanya saja.

Al-Allamah Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani rahimahullah berkata:

وفيه دليل على أن إظهار السرور في العيدين مندوب، وأن ذلك من الشريعة التي شرعها الله لعباده، إذ في إبدال عيد الجاهلية بالعيدين المذكورين دلالة على أنه يفعل في العيدين المشروعين ما تفعله الجاهلية في أعيادها، وإنما خالفهم في تعيين الوقتين “قلت”: هكذا في الشرح ومراده من أفعال الجاهلية ما ليس بمحظور ولا شاغل عن طاعة.

“Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa menampakkan kegembiraan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha adalah dianjurkan. Dan itu termasuk syariat yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala untuk hamba-hamba-Nya. Ini karena di dalam penggantian hari raya Jahiliyah dengan Idul Fitri dan Idul Adha terdapat dalil bahwa perkara atau tradisi yang biasa dilakukan pada hari raya Jahiliyah dapat dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Yang menyelisihinya adalah soal penentuan waktunya. Aku (ash-Shan’ani) berkata: “Demikianlah yang tertulis dalam Syarh Bulughul Maram. Yang dimaksud adalah perkara atau tradisi Jahiliyah yang bukan perkara yang terlarang secara syar’i dan juga tidak menyibukkan dari ketaatan.” (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram: 2/70).

Maka taruhlah bahwa tradisi sungkeman, acara ‘halal bi halal’, saling memberikan hadiah dan lain sebagainya merupakan tradisi hari raya Jahiliyah atau hari raya Kejawen. Maka tradisi tersebut dapat dilakukan ketika hari raya kaum muslimin dengan syarat tidak dilarang oleh syariat dan tidak menyibukkan dari ketaatan.

Contoh tradisi yang dilarang karena termasuk perbuatan maksiat seperti tayuban, nyadran dan sebagainya. Sedangkan contoh perbuatan maksiat di dalam Halal bi Halal seperti ikhtilath, berjabat tangan dengan lawan jenis dan sebagainya.

Contoh hari raya baru yang dianggap  sebagai penambahan syariat baru adalah hari raya Ketupat (seminggu setelah Idul Fitri) dan hari raya Nisfu Sya’ban. Ini karena penetapan hari raya membutuhkan dalil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَأَمَّا اتِّخَاذُ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَّةِ كَبَعْضِ لَيَالِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ الَّتِي يُقَالُ : إنَّهَا لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَوْ بَعْضِ لَيَالِيِ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنَ عَشَرَ ذِي الْحِجَّةِ أَوْ أَوَّلِ جُمْعَةٍ مِنْ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنِ شَوَّالٍ الَّذِي يُسَمِّيهِ الْجُهَّالُ عِيدَ الْأَبْرَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا السَّلَفُ وَلَمْ يَفْعَلُوهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ .

Adapun menjadikan perayaan yang bukan perayaan syar’i, seperti sebagian malam bulan Rabi’ul Awal yang dikatakan bahwa itu adalah Malam Maulid, atau sebagian malam bulan Rajab, atau perayaan 18 Dzulhijjah, atau perayaan awal Jumat bulan Rajab, atau perayaan 8 Syawal yang disebut oleh orang-orang bodoh dengan Idul Abrar (Lebaran Ketupat, pen), maka itu semuanya termasuk bid’ah yang tidak pernah dianjurkan dan tidak pernah dilakukan oleh as-Salaf. Allahu a’lam.” (Majmu’ al-Fatawa: 25/289 dan al-Fatawa al-Kubra: 4/414).

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah keilmuan dan keimanan. Amien. Wallahu a’lam.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Iklan

Ditandai:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: