Arsip Bulanan: Maret 2017

Penyalahgunaan al-Jarh wat Ta’dil

 Penyalahgunaan al-Jarh wat Ta’dil
[Refreshing ‘Ulumul Hadits’]
Sekilas tentang Ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil, Radd atau Bantahan kepada Ahlul Bid’ah, Manhaj Muwazanah, ‘al-Inshaf’, Menghukumi Manusia dan Khabar (Berita) Orang Tsiqat
Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukaddimah. 3

Batasan al-Jarh wat Ta’dil 7

Al-Jarh wat Ta’dil dalam Persaksian Pengadilan. 9

Apakah al-Jarh wat Ta’dil sudah Selesai Masanya. 10

Jawaban Shalih Fauzan dan Ibnu Utsaimin. 19

‘Nasehat’ menurut Ibnu Taimiyah. 21

Termasuk Bab Dharurat dan Hajat. 23

Sisi Lain al-Jarh wat Ta’dil 25

Membantah Ahlul Bid’ah. 27

Membantah Tanpa Menyebutkan Nama. 28

Membantah dengan Santun. 30

Muwazanah dalam Tahdziran dan Bantahan. 31

Pengertian ‘al-Inshaf’ 37

Keutamaan ‘al-Inshaf’ 38

Muwazanah dalam al-Jarh wat Ta’dil 39

Antara ‘Adil’ dan ‘Fasiq’ 47

Indahnya Ucapan asy-Syafi’i 50

Muwazanah adalah Ijma’ Ulama. 52

Perkara Bid’ah pada Perawi 53

Muwazanah untuk Sifat Dhabith. 58

Antara Persaksian dan Periwayatan. 60

‘Tsiqat’ melalui Mayoritas. 60

Antara Pengkritik yang Adil dan Pengkritik yang Mutasyaddid. 61

Muwazanah ala Murjiah. 62

Antara Khabar Tsiqat dan Masalah Ijtihadiyah. 69

Kaidah ‘al-Jarh al-Mufassar’ 78

Ulama Seusia dan Semasa. 85

Antara ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan Vonis Tabdi’ dan Tafsiq. 90

Sering Mencela Sehingga Dijauhi 94

Penutup. 96

 

 

 

 

 

Mukaddimah

الحمد لله الذي رفع بعض خلقه على بعض درجات، وميز بين الطيب والخبيث بالدلائل والسمات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ذو الاسماء الحسنى والصفات وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث بالايات البينات، والحجج النيرات، الآمر بتنزيل الناس ما يليق بهم من المنازل والمقامات صلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه الانجاب الكرماء الثقات

أما بعد:

Di masa sekarang ini terjadi sikap ghuluw di dalam penerapan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Mereka yang mengaku ‘Salafi’ gemar mentahdzir para ulama as-Sunnah, para da’i as-Sunnah hanya karena beberapa kesalahan yang mereka lakukan. Banyak ulama dan pakar yang dijatuhkan kehormatannya oleh kelompok ini dengan alasan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Benarkah demikian?

Di antara contohnya adalah tahdzir terhadap Dr Zakir Naik hanya karena beberapa kesalahan yang beliau lakukan. Yang melakukan tahdzir adalah Ustadz Luqman Ba’abduh. Ia berkata: “Hadza (Dr. Zakir Naik, pen) Jahil..Jahil! Ya. Barakallah fiikum… Maka wajib al-Jarh wat Ta’dil, jarh ala majruhin wa Ta’dil ash-Shalihin. Mengkritisi, mentahdzir ummat dari ahlul batil, ahlul jarh, dan merekomendasi, memuji, mengajak ummat kepada ahlu al-Adl, ash-Shalihin.” (Mengenal Akidah dan Manhaj Zakir Naik, menit: 8:10-8:18).

Padahal tidak ada seorang ulama dakwah pun yang menyatakan bahwa Dr. Zakir Naik adalah orang sesat. Bahkan beliau mendapatkan penghargaan bergengsi dari Raja Salman Saudi Arabia (king Faisal Award) atas jasanya terhadap Islam. Acara pemberian hadiah ini langsung dihadiri oleh Raja Salman, para menteri, anggota keluarga kerajaan, pejabat senior, akademisi dan sejumlah ulama terkemuka. (Lihat: http://www.muslimdaily.net/berita/zakir-naik-terima-penghargaan-dari-raja-saudi.html)

Mereka juga mudah sekali mengeluarkan seorang ulama as-Sunnah dari Manhaj as-Salaf dengan alasan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Ini bisa dilihat dari pertanyaan yang berjudul Apakah Syaikh Abdurrazzaq Al Badri masih berjalan diatas manhaj salaf?” yang kemudian dijawab secara panjang lebar oleh Ust Askari dari kalangan Jamaah Tahdzir. Lihat: https://www.thalabilmusyari.web.id/2016/08/syaikh-abdurrazzaq-dan-penjelasan.html).

Sehingga dengan beberapa kesalahan saja, seorang ulama dan pakar yang banyak berjasa dan ber-khidmat di dalam agama ini- mudah begitu saja dijatuhkan oleh mereka.

Al-Imam Amir bin Syurahil asy-Sya’bi (wafat tahun 103 H) rahimahullah berkata:

والله لو أصبت تسعاً وتسعين مرة، وأخطأت مرة، لأعدوا على تلك الواحدة

“Demi Allah, seandainya aku berbuat benar 99 kali dan berbuat salah sekali, maka mereka akan menganggapku tercela dengan satu kesalahan tersebut.” (Siyar A’lamin Nubala’: 4/308).

Mereka juga berdalil dengan jawaban asy-Syaikh Rabi’ ketika membantah sebagian ulama yang menyatakan bahwa ‘al-Jarh wat Ta’dil’ hanya khusus pada jaman perawi hadits, tidak berlaku untuk saat ini. Beliau menyatakan:

هذا من الضياع وعدم الفقه في دين الله عز وجل، فالسلف ألّفوا كتبا في العقائد ينتقدون فيها أهل البدع والضلال وسمّوا أفرادا وجماعات فهل هذا يعني انتهى أيضا؟! ونقول: إن المبتدعين الذين كانوا في عهد السلف يناقشون ويُبيّن ضلالهم والآن لا يجوز, حرام, الآن الكلام على أهل البدع حرام

“Ini (pernyataan bahwa al-Jarh wat Ta’dil tidak berlaku di jaman ini, pen) adalah termasuk menyia-siakan agama, dan menunjukkan tidak adanya pemahaman terhadap agama Allah azza wajalla. As-Salaf menulis kitab-kitab dalam bidang akidah yang mana mereka mengkritik ahlul bid’ah dan orang-orang sesat dalam kitab tersebut. Mereka juga menyebutkan orang per orang, kelompok per kelompok. Apakah ini sudah selesai (yakni: tidak berlaku, pen)?? Kami katakan: Ahlul bid’ah pada masa as-Salaf itu didebat, dibantah dan dijelaskan kesesatan mereka, kemudian pada masa sekarang dilarang (membantah, pen) dan haram. Sekarang membicarakan ahlul bid’ah haram..dst.” (Lihat: http://www.rabee.net/ar/save.php?typ=2&newsid=57).

Mereka juga menolak manhaj ‘Muwazanah’ (menimbang antara kebaikan dan keburukan perawi hadits, pen) dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dengan hanya bersandar pada pernyataan asy-Syaikh Rabi’:

وبهذه المناسبة أقول لكم: إن الحاكم -رحمه الله- في كتابه “معرفة علوم الحديث” قال -وكلامه حق- : الجرح والتعديل علمان: علم الجرح وهو علم مستقل، وهذا يرد منهج الموازنات الباطل, علم الجرح علم مستقل ولهذا ألّف كثيرٌ من الأئمة كتباً مستقلة في الجرح فقط, خصّصوها للجرح، مثل البخاري في الضعفاء والنسائي في المتروكين وابن حبان في المجروحين وابن عدي في الكامل وهكذا الذهبي وابن حجر وغيرهم، كثيرون ألفوا مؤلفات خاصة بالجرح فقط، لأنه علم مستقل, وهذا يقصم ظهر منهج الموازنات ويقصم ظهور أهله، وأئمة آخرون ألفوا كتباً في الثقات مثل الثقات للعجلي والثقات لابن حبان، عرفتم هذا ؟ إذا كان السلف يؤمنون بأن الجرح والتعديل علمان مستقلان فكيف تأتي الموازنات, واحد يؤلّف كتابا خاصا بالجرح ليس فيه أيّ ثغرة لمنهج الموازنات, فهمتم هذا، بارك الله فيكم.

“Pada kesempatan ini aku berkata kepada kalian: Sesungguhnya al-Imam al-Hakim rahimahullah berkata dalam kitabnya ‘Ma’rifah Ulumil Hadits’ –dan ucapannya adalah benar-: “Al-Jarh wat Ta’dil itu terdiri dari 2 ilmu; ilmu al-Jarh, yaitu ilmu yang berdiri sendiri. Ini membantah ‘Manhaj Muwazanah’ yang batil. Ilmu al-Jarh (yakni: mencela perawi, pen) itu ilmu yang berdiri sendiri. Oleh karena itu kebanyakan para imam menulis tersendiri kitab-kitab yang khusus membahas al-Jarh saja. Mereka hanya mengkhususkan dengan mencela para perawi saja, seperti al-Bukhari dalam adh-Dhu’afa’, an-Nasa’i dalam al-Matrukin, Ibnu Hibban dalam al-Majruhin, Ibnu Adi dalam al-Kamil. Demikian pula adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar dan selain mereka. Banyak sekali yang menulis kitab khusus tentang al-Jarh (mencela perawi, pen) saja, karena memang ilmu yang berdiri sendiri. Maka ini menghantam punggung ‘Manhaj Muwazanah’ dan juga menghantam punggung para pengikutnya. Sedangkan ulama yang lainnya menulis kitab tentang orang-orang tsiqat seperti ats-Tsiqat karya al-Ijli, ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban. Apa kalian mengetahui ini? Jika as-Salaf itu mengimani bahwa al-Jarh wat Ta’dil itu 2 ilmu yang berdiri sendiri, maka bagaimana bisa datang konsep ‘al-Muwazanah’? Seorang ulama menulis kitab khusus tentang al-Jarh yang mana tidak ada celah terhadap ‘Manhaj Muwazanah’. Kalian mengerti ini? Barakallah fiikum.” (Lihat: http://www.rabee.net/ar/save.php?typ=2&newsid=57).

Intinya kesalahan dan penyimpangan dari ‘Jamaah Tahdzir’ ini terkumpul pada tiga hal:

Pertama: membuka, menerapkan dan memberlakukan ‘al-Jarh wat Ta’dil’ secara serampangan kepada para ulama as-Sunnah dan dai-dai mereka di jaman ini.

Kedua: antipati dan memusuhi terhadap ‘Manhaj Muwazanah’ di dalam menilai para perawi hadits.

Ketiga: berlebih-lebihan dalam melakukan ‘al-Jarh’ atau mencela Ahlussunnah yang tergelincir.

Dalam tulisan ini Penulis –insya Allah- menjelaskan batilnya manhaj ‘Jamaah Tahdzir’ ini dan bid’ahnya manhaj ‘Anti Muwazanah’ yang lagi nge-trend di jaman ini. Di antara dampak bahaya dari pemikiran ini adalah mudahnya mereka menjatuhkan kehormatan kaum muslimin dan para da’i mereka hanya karena beberapa kesalahan saja, tanpa mempertimbangkan kebaikan-kebaikan mereka, atas nama ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang kita dari mencari-cari kesalahan para ulama, para da’i dan orang-orang shalih. Beliau bersabda:

أقِيلُوا ذَوِي الهيئاتِ عَثَراتِهم إلا الحُدُودَ

Maafkanlah orang-orang yang mulia ketika mereka terjatuh dalam kesalahan, kecuali hukum hadd.” (HR. Abu Dawud: 4377, Ahmad: 25474 dan al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad: 465 (165) dari Aisyah radliyallahu anha. Hadits ini di-hasan-kan oleh ash-Shan’ani dalam at-Tanwir: 3/22-3 dan di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 1185).

Al-Imam Syarafuddin ath-Thibi asy-Syafi’i (wafat tahun 743 H) rahimahullah berkata:

والمراد بـ ((ذوي الهيئات)) أصحاب المروءات والخصال الحميدة. وقيل: ذوو الوجوه بين الناس، (وبالعثرات) صغائر الذنوب، وما يندر عنهم من الخطايا..الخ

“Yang dimaksud dengan ‘Orang-orang yang mulia’ adalah orang-orang yang memegangi sikap ‘muru’ah’ dan mempunyai banyak sifat yang terpuji. Ada yang menyatakan bahwa mereka adalah yang terpandang di kalangan manusia. Yang dimaksud dengan ‘kesalahan di sini’ adalah dosa-dosa kecil dan kesalahan yang jarang terjadi pada mereka..dst.” (Al-Kasyif an Haqa’iqis Sunan Syarh Misykatil Mashabih: 8/2523).

Al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i (wafat tahun 1031 H) rahimahullah berkata:

وخرج بذوي الهيئات من عرف بالأذى والعناد بين العباد فلا يقال له عثار بل تضرم عليه النار..الخ

“Dan yang dikecualikan dari pengertian ‘Orang-orang yang mulia’ adalah orang yang dikenal senang menzhalimi dan dikenal dengan penyimpangannya di kalangan manusia. Maka tidak boleh dikatakan bahwa dia terjatuh dalam kesalahan, tetapi dia diancam dengan dinyalakannya api neraka untuknya..dst.” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 2/94).

Hadits di atas menunjukkan perlunya menimbang atau ‘Muwazanah’ sebelum menghukumi manusia.

Akhirnya Penulis mengutip ucapan al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) rahimahullah:

ونحب السنة وأهلها، ونحب العالم على ما فيه من الاتباع والصفات الحميدة، ولا نحب ما ابتدع فيه بتأويل سائغ، وإنما العبرة بكثرة المحاسن

“Kami mencintai as-Sunnah dan pengikutnya. Kami juga mencintai seorang alim dengan sifat mengikuti as-Sunnah dan sifat terpuji lainnya yang ada padanya. Dan kami membenci perbuatan bid’ahnya dengan penakwilan yang diperbolehkan. Yang dianggap adalah banyaknya kebaikan (pada orang alim tersebut, pen).” (Siyar A’lamin Nubala’: 20/46).

Babat, 8 Jumadal Akhirah 1437 H

dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut