Arsip Bulanan: Oktober 2014

Tampil Berbeda dalam Berpakaian

Bahasan

Daftar Isi
Mukaddimah 2
Larangan Baju Kemasyhuran 3
Pengertian Pakaian Kemasyhuran 4
Batasan Pakaian Kemasyhuran 5
Pakaian Kebiasaan Negeri 6
Sesuai Syariat 7
Baju Kemewahan dan Kerendahan 9
Baju Wol (Bulu) 11
Memakai Burnus 13
Tidak Jadi Memakai Sandal 16
Memakai Jubah 17
Baju Gamis 18
Memakai Sarung 20
Memakai Selendang 21
Antara Isbal dan Baju Gamis 23
Memakai Qalansuwah atau Kopyah 25
Kemasyhuran dalam Memakai Surban 27
Antara Niat dan Tidak Niat 29
Kebutuhan untuk Tampil Beda 30
Penutup 31

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , وسيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل فلا هادي له , وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له , وأشهد أن محمدا عبده ورسوله , صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ؛ والذين اتبعوهم بإحسان إلى يوم الدين , وسلم تسليما كثيرا .
(أما بعد)

Larangan menggunakan baju kemasyhuran atau baju yang tampil berbeda merupakan kriteria tambahan dalam menetapkan pakaian yang syar’i setelah kriteria menutup aurat dan tidak melakukan isbal (melebihi mata kaki).
Di antara kaum muslimin ada yang memakai baju gamis di tengah-tengah kaum muslimin yang memakai baju koko dan sarung. Di antara mereka ada yang memakai sirwal di tengah-tengah kaum muslimin yang memakai sarung. Di antara mereka ada yang memakai imamah (surban) di tengah-tengah kaum muslimin yang tidak memakainya.
Benarkah sikap yang demikian? Benarkah pakaian yang ditampilkan itu sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam? Apakah itu tidak termasuk ‘tampil beda’ atau baju kemasyhuran?
Tulisan ini akan membahas seluk beluk pakaian kemasyhuran dan penerapannya di kalangan kaum muslimin. Kemudian dinukilkan pula perbuatan para ulama Salaf yang menghindari ‘baju kemasyhuran’ karena takut akan terjadi kesombongan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

“Makanlah! Minumlah! Berpakaianlah! Dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. Al-Bukhari secara ta’liq dengan shighat jazm dalam Shahihnya, awal Kitabul Libas, Ahmad: 6408, an-Nasai: 2512 dan Ibnu Majah: 3595. Di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 4505).
Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi kaum muslimin dan dijadikan oleh Allah ta’ala sebagai amal shalih amien.
Babat, 21 Dzulhijjah 1435 H
Dr. M Faiq Sulafi

Larangan Baju Kemasyhuran

Banyak dalil baik dari al-Quran maupun dari al-Hadits yang menunjukkan tercelanya baju kemasyhuran sebagai bagian dari kesombongan. Di antaranya: Baca lebih lanjut

Puasa Hari Arafah, Ikut Mana?

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi
Pendahuluan

Bulan Dzulhijjah tahun 1435 H di Indonesia masih menyisakan masalah. Ini karena pemerintah Indonesia menetapkan awal bulan Dzulhijjah yang berbeda dengan penetapan pemerintah Arab Saudi.
Atas dasar itu sebagian kaum muslimin melakukan puasa hari Arafah mengikuti wukuf di Arafah sedangkan yang lainnya mengikuti penetapan pemerintah Indonesia. Ada lagi yang membedakan peristiwanya. Jika puasa Ramadhan, Idul Fitri serta Idul Adha, maka mereka mengikuti masyarakat negeri masing-masing. Dan jika puasa Arafah, maka mereka mengikuti pemerintah Arab Saudi.
Dalam pembahasan ini, Penulis merujuk pada sebuah risalah yang berjudul ‘An-Nurus Sathi’ min Ufuqith Thawali’ fi Tahdidi Yaumi Arafah idza Ikhtalafatil Mathali’, karya Abu Muhammad Ahmad bin Muhammad bin Khalil hafizhahullah. Penulis juga menambahi dari keterangan kitab-kitab lainnya semoga bisa lebih melengkapi. Baca lebih lanjut