Arsip Bulanan: Mei 2016

Ulama Syafi’iyah antara Salafi dan Asy’ari

Corp
Ulama Syafi’iyah antara Salafi dan Asy’ari
 oleh: dr. M Faiq Sulaifi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

Mukaddimah. 3

Wajibnya Mengikuti Manhaj Salaf. 6

Akidah Salaf tentang Sifat-sifat Allah. 7

Al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari 10

Akhir Perjalanan Pendiri Ajaran Asy’ari 11

Penyebaran Ajaran Asy’ariyah. 14

Masa Tertekannya Ajaran Asy’ariyah. 16

Peran Madrasah Nizhamiyah. 17

Masa Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dan Setelahnya. 18

Dari ‘Salafi’ menjadi ‘Hanbali’ 19

Akidah al-Imam asy-Syafi’i, Sang Imam Madzhab. 20

Al-Imam Ismail bin Yahya al-Muzani, Murid asy-Syafi’i 22

Al-Imam Abu Ja’far at-Tirmidzi, Syafi’i Kubu Iraq. 22

Al-Qadhi Ibnu Suraij, Syafi’i Kedua. 23

Al-Imam Ibnu Khuzaimah. 25

Al-Imam Abu Bakar al-Ajurri, Penulis ‘asy-Syariah’ 26

Al-Imam al-Azhari, Ahli Bahasa Arab. 28

Al-Imam ad-Daraquthni 29

Al-Imam Abu Sulaiman al-Khaththabi, Pensyarah Hadits. 30

Al-Imam Abu Hamid al-Isfarayni, Syafi’i Ketiga. 32

Al-Imam Abul Qasim al-Lalikai 33

Al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbahani 34

Syaikhul Islam Abu Utsman ash-Shabuni 36

Al-Khathib Abu Bakar al-Baghdadi, Penulis Tarikh Baghdad. 37

Al-Imam Sa’ad bin Ali az-Zanjani, Pemilik Karamah. 38

Al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani, dari Hanafi menjadi Syafi’i 40

Al-Qadhi Abu Bakar al-Hamawi asy-Syafi’i 41

Al-Imam Nashr al-Maqdisi 42

Al-Imam al-Hafizh Muhyis Sunnah al-Baghawi 43

Al-Imam Abul Hasan al-Karaji, Syafi’i tanpa Qunut Subuh. 44

Al-Imam Abul Qasim al-Ashbahani, Penegak as-Sunnah. 45

Madrasah Syafi’iyah di Yaman. 46

Jaman Raja Baibars, Masa Ujian Bagi Salafiyah. 48

Kisah Taubatnya Fakhruddin ar-Razi 49

Asy-Syaikh az-Zahid Abul Bayan al-Haurani 50

Al-Imam Abu Thahir as-Silafi, si Cerdas Salafi 51

Al-Imam al-Arif billah Abu Hafsh as- Suhrawardi 52

Al-Imam Ibnush Shalah, Penulis ‘Ulumul Hadits’ 54

Al-Qadhi Syarafuddin an-Nablusi asy-Syafi’i, Khatib Syam.. 55

Al-Imam Ibnul Aththar, Ringkasan an-Nawawi 56

Al-Imam Ibnul Murrahal, Bendahara Damaskus. 58

Al-Imam Tajuddin at-Tibrizi, Juru Nasehat Tibriz. 58

Al-Imam Abul Hajjaj al-Mizzi, Sahabat Ibnu Taimiyah. 59

Al-Imam Ahli Tarikh adz-Dzahabi, Sahabat Ibnu Taimiyah. 60

Al-Imam al-Mufassir Ibnu Katsir, Murid Ibnu Taimiyah. 61

Al-Imam Ibnul Maushuli 62

Al-Allamah Ibnun Naqqasy asy-Syafi’i 63

Al-Allamah Yusuf bin Husain al-Kurdi 63

Al-Allamah Ibrahim bin Hasan  al-Kurdi 64

Al-Allamah Ali Afandi as-Suwaidi 65

Al-Allamah Ibnu Hajar al-Buthami, Qadhi Negeri Qatar. 66

Al-Allamah as-Sayyid Muhammad Amin al-Alawi al-Habsyi asy-Syafi’i 66

Al-Allamah Muhammad Hasan Abdul Ghaffar. 68

Al-Baihaqi vs Ibnush Shalah. 68

Ijma’ Buatan, Debat Syafi’i vs Syafi’i 69

Ibnu Asakir dan ‘at-Tabyin’ 70

Ibnus Subki dan Thabaqatnya. 73

Akibat Buruknya Lisan. 75

Pungkasan. 77

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

(أما بعد)

Di kalangan mayoritas kaum muslimin di Indonesia terkenal dengan istilah “Ahlus Sunnah wal Jamaah”. Mereka menyatakan bahwa ahlus sunnah itu harus memilih salah satu dari keempat madzhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) dan khusus Muslimin Indonesia memilih Madzhab Syafi’i. Dan dalam bidang akidah mereka harus mengikuti akidah Asy’ariyah atau Maturidiyah. Mereka juga mempunyai ulama pendahulu yang menyatakan demikian. Di antaranya adalah al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat 974 H) rahimahullah. Beliau menyatakan:

وَالْمُرَادُ بِالسُّنَّةِ مَا عَلَيْهِ إمَامَا أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ وَأَبُو مَنْصُورٍ الْمَاتُرِيدِيُّ ، وَالْبِدْعَةُ مَا عَلَيْهِ فِرْقَةٌ مِنْ فِرَقِ الْمُبْتَدِعَةِ الْمُخَالِفَةِ لِاعْتِقَادِ هَذَيْنِ الْإِمَامَيْنِ وَجَمِيعِ أَتْبَاعِهِمَا

“Yang dimaksud dengan ‘as-Sunnah’ adalah apa yang dianut oleh kedua imam Ahlus Sunnah wal Jamaah; Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari dan Syaikh Abu Manshur al-Maturidi. Bid’ah adalah apa yang dianut oleh kelompok-kelompok yang menyelisihi akidah kedua imam tersebut.” (Az-Zawajir an Iqtirafil Kabair: 1/254).

Pernyataan beliau dan ulama-ulama yang se-ide dengan beliau merupakan sebuah kerancuan, karena al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari lahir pada tahun 260 H dan wafat pada tahun 324 H, sedangkan Abu Manshur al-Maturidi wafat pada tahun 333 H. Pernyataan di atas memberikan konsekuensi bahwa keempat imam madzhab bukanlah Ahlus Sunnah, karena mereka hidup sebelum al-Asy’ari dan al-Maturidi.

Konsekuensi yang lebih parah –dari pernyataan diatas- adalah bahwa ulama Salaf dari kalangan sahabat, tabi’in dan pengikut mereka radliyallahu anhum bukanlah Ahlus Sunnah, karena mereka hidup jauh sebelum al-Asy’ari dan al-Maturidi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H)  rahimahullah menyatakan:

ومذهب أهل السنة والجماعة مذهب قديم، معروف، قبل أن يخلق الله أبا حنيفة ومالكا والشافعي وأحمد، فإنه مذهب الصحابة الذين تلقوه عن نبيهم، ومن خالف ذلك كان مبتدعا عند أهل السنة والجماعة فإنهم متفقون على أن إجماع الصحابة حجة، ومتنازعون في إجماع من بعدهم

“Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan madzhab yang sudah lama dan dikenal, jauh sebelum Allah menciptakan Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad. Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah madzhab para sahabat yang menerima madzhab tersebut dari nabi mereka shallallahu alaihi wasallam. Barangsiapa menyelisihinya, maka ia adalah ahlul bid’ah menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, karena mereka bersepakat bahwa ijma’ (konsensus) para sahabat adalah hujjah dan mereka berbeda pendapat tentang ijma generasi setelah mereka.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah: 2/363).

Dalam tulisan ini akan dipaparkan sejarah perkembangan ajaran Asy’ariyah, dan para ulama dari kalangan Syafi’iyah yang masih konsisten memegang akidah Salaf di dalam sifat-sifat Allah. Tujuan pemaparan ini adalah agar kita –generasi belakangan ini- bisa belajar dan beristiqamah di atas akidah Salafi dari mereka.

Dan memang demikian tujuan pemaparan fakta sejarah. Dengan sejarah kita bisa menganalogikan dan mengambil pelajaran dari kaum terdahulu.

Allah ta’ala menyatakan:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

Ide untuk menulis kisah-kisah ulama Syafi’iyah yang konsisten dengan akidah Salaf ini diawali ketika Penulis membuka-buka situs ‘Multaqa Ahlil Hadits’. Di dalam situs tersebut terdapat topik pembahasan ‘Irsyadul Khalaf bi Man Kaana minasy Syafi’iyah min Atba’is Salaf’ (Bimbingan bagi Generasi Khalaf tentang Ulama Syafi’iyah yang Menjadi Pengikut Salaf). Dari topik tersebut Penulis kemudian memperluas dan menambah dari kitab-kitab tarikh, sirah dan thabaqat karya ulama kita terdahulu rahimahumullah.

Mengapa hanya dikhususkan dengan pembahasan ulama ‘Syafi’iyah’ saja, bukan ‘Hanafiyah’ atau ‘Malikiyah’ atau ‘Hanabilah’ dan sebagainya?

Alasan pertama: karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mempelajari dan mengamalkan fikih ulama ‘Syafi’iyah’. Tetangga kita, teman sekantor dan orang-orang yang bermuamalah dengan kita di masjid, di pasar dan sebagainya kebanyakannya ‘mengaku’ mengikuti “Syafi’iyah”. Maka termasuk dari hikmah dalam berdakwah adalah memperkenalkan Manhaj dan Akidah Salaf kepada mereka melalui ulama Syafi’iyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فإنه حكى لي الشيخ محمد بن يحيى عن القاضي أبي يعلى أنه قصده فقيه ليقرأ عليه مذهب أحمد، فسأله عن بلده فأخبره، فقال له: إن أهل بلدك كلهم يقرءون مذهب الشافعي فلماذا عدلت أنت عنه إلى مذهبنا؟ فقال له: إنما عدلت عن المذهب رغبة فيك أنت، فقال له: إن هذا لا يصلح فإنك إذا كنت في بلدك على مذهب أحمد وباقي أهل البلد على مذهب الشافعي لم تجد أحدا يعبد معك ولا يدارسك، وكنت خليقا أن تثير خصومة وتوقع نزاعا، بل كونك على مذهب الشافعي حيث أهل بلدك على مذهبه أولى، ودله على الشيخ أبي إسحاق وذهب به إليه، فقال: سمعا وطاعة، أقدمه على الفقهاء

Ini karena Syaikh Muhammad bin Yahya telah men-hikayatkan kepadaku (Ibnu Taimiyah, pen) dari al-Qadli Abu Ya’la (al-Hanbali al-Farra’, pen) bahwa seorang ahli fikih datang kepadanya untuk belajar fikih Madzhab Imam Ahmad. Kemudian Abu Ya’la bertanya kepada ahli fikih tersebut tentang negeri asalnya. Kemudian ia menceritakan negeri asalnya. Kemudian Abu Ya’la berkata: “Sesungguhnya penduduk negerimu semuanya mempelajari fikih madzhab Syafi’i. Lantas mengapa kamu berpaling dari Madzhab Syafi’i ke madzhab kami (Hanbali, pen)?” Ia menjawab: “Aku berpaling dari madzhabku karena menyukai Anda.” Abu Ya’la menjawab: “Sesungguhnya ini tidak pantas, karena jika kamu di negerimu bermadzhab Hanbali, sedangkan semua penduduknya bermadzhab Syafi’i, maka kamu tidak akan menemukan orang yang beribadah bersamamu dan orang yang menjadi teman diskusimu. Dan kamu akan menjadi orang yang memicu perselisihan dan perdebatan di antara mereka.” Kemudian Abu Ya’la menunjukkan orang itu kepada asy-Syaikh Abu Ishaq (asy-Syairazi asy-Syafi’i, pen). Maka orang itu berkata: “Aku mendengar dan taat. Aku akan mendatanginya sebelum ahli fikih lainnya.” (Al-Mustadrak ala Majmu’ al-Fatawa: 2/274).

Alasan kedua: untuk menghindarkan kita dari ta’ashub atau fanatisme golongan atau hizbiyah. Penyakit hizbiyah ini sudah mulai menggerogoti orang-orang yang mengaku ‘Salafi’ di Indonesia. Mereka membatasi salafiyah hanya pada kelompok tertentu, atau ustadz tertentu dan jaringannya. Orang yang tidak beralifiasi kepada jaringan ustadz tersebut bukanlah salafi, meskipun manhaj dan akidahnya sesuai dengan kaum Salaf. Padahal di sana dijumpai salafi dari kalangan Syafi’iyah, salafi dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

فإن كل طائفة منها معها حق وباطل فالواجب موافقتهم فيما قالوه من الحق ورد ما قالوه من الباطل ومن فتح الله له بهذه الطريق فقد فتح له من العلم والدين كل باب ويسر عليه فيهما الأسباب

“Maka setiap kelompok (atau madzhab, pen) mempunyai pendapat yang benar dan juga pendapat yang batil. Maka yang wajib adalah mencocoki mereka di dalam pendapat mereka yang benar dan membantah pendapat mereka yang batil. Barangsiapa yang dibukakan oleh Allah untuk menempuh jalan ini, maka dibukakan baginya setiap pintu dari ilmu dan agama ini dan dimudahkan baginya untuk menempuh sebab-sebab menggapai ilmu dan agama ini.” (Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain: 570).

Semoga tulisan ini mendorong kita –kaum muslimin Indonesia- untuk beristiqamah meneladani ulama Syafi’iyah di dalam memegang akidah Salaf. Amien.

Babat, 17 Sya’ban 1437 H

dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Iklan