Arsip Bulanan: Agustus 2016

Tauhid dan Syirik dalam Kacamata Ulama Syafi’iyah

Corp
Tauhid dan Syirik dalam Kacamata Ulama Syafi’iyah
dr. M Faiq Sulaifi
[Pick the date]

 

 

 


Daftar Isi

Mukaddimah. 3

Batasan Syafi’iyah Mutaqaddimin dan Muta’akhirin. 7

Makna ‘Laa Ilaaha illallaah’ 10

Pengertian Syirik. 11

Persyaratan Laa Ilaaha Illallah. 12

Pentingnya Dakwah Tauhid. 13

Larangan Berbuat Syirik. 15

Syirik dalam Niat. 16

Berdoa (Meminta) kepada Orang Mati 17

Berlindung dengan Makhluk. 20

Perantara dalam Ibadah. 21

Sikap Ghuluw (Melampaui Batas) terhadap Orang Shalih. 23

Berdoa di Kuburan. 26

Menyamakan Allah dengan Raja di Dunia. 27

Meminta Syafaat Rasulullah. 30

Berdoa dengan Jah (Pangkat) Wali Fulan. 42

Antara ar-Ramli dan al-Haitami 48

Hadits tentang Tawassul 51

Syafi’iyah vs Hanafiyah. 53

Kehidupan Dunia dan Barzakh. 54

Kata Mereka ‘Larangan telah Dihapus’ 55

Antara Masjid dan Kuburan. 56

Asal Mula Kuburan Menjadi Masjid. 60

Thawaf di Kuburan. 65

Mengagungkan Tempat Bersejarah. 66

Bertabarruk dengan Tubuh Orang Shalih. 68

Safar (Perjalanan Jauh) menuju Kuburan Para Wali 71

Bernadzar untuk Kuburan Wali 78

Bersumpah dengan Selain Allah. 79

Menyembelih untuk Selain Allah ta’ala. 81

Sihir dan Perdukunan. 85

Hari Raya Orang Kafir. 89

Penutup. 90

 


Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمد عبده ورسوله.

(Amma ba’du)

Pembahasan tauhid dan syirik merupakan pembahasan paling utama dalam agama Islam. Di semua madzhab fikih pembahasan tauhid dan syirik merupakan pembahasan utama sebelum pembahasan perkara ibadah dan mu’amalah. Di kalangan madzhab Syafi’i sendiri, kesyirikan menjadi hal yang diperangi.

Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah berkata:

سُئِلَ مَالِكٌ عَنِ الكَلاَمِ وَالتَّوْحِيْدِ، فَقَالَ: مُحَالٌ أَنْ نَظُنَّ بِالنَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنَّهُ عَلَّمَ أُمَّتَهُ الاسْتِنْجَاءَ، وَلَمْ يُعَلِّمْهُمُ التَّوْحِيْدَ، وَالتَّوْحِيْدُ مَا قَالَهُ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: (أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوا: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ) فَمَا عُصِمَ بِهِ الدَّمُ وَالمَالُ، حَقِيْقَةُ التَّوْحِيْدِ

“Al-Imam Malik pernah ditanya tentang ilmu kalam dan tauhid. Maka beliau menjawab: “Mustahil kita mengira terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau mengajari umat beliau tata cara istinja’, namun tidak mengajari mereka tauhid. Tauhid adalah apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘Laa ilaaha illallaah’. Maka segala perkara yang menyebabkan darah dan harta seseorang terjaga adalah hakekat Tauhid.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/26, Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra: 9/40).

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata:

لأَنْ يَلْقَى اللَّهَ الْعَبْدُ بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلاَ الشِّرْكَ بِاللَّهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَلْقَاهُ بِشَىْءٍ مِنْ هَذِهِ الأَهْوَاءِ

“Sungguh, jika seorang hamba bertemu dengan Allah ta’ala dengan semua dosa selain syirik, maka itu lebih baik baginya daripada jika ia bertemu dengan-Nya dengan sesuatu dari hawa nafsu (perkara bid’ah).” (Atsar riwayat al-Baihaqi dalam Kubra: 21422 (10/206) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq: 51/309).

Pada risalah ini akan dipaparkan keterangan dari ulama Syafi’iyah tentang perkara yang berkaitan dengan tauhid dan kesyirikan. Penulis banyak merujuk pada risalah doktoral di Universitas Ummul Qura dengan judul “Juhud A’immatisy Syafi’iyah fi Taqrir Tauhid al-Ibadah” karya asy-Syaikh DR. Abdullah bin Abdul Aziz al-Anqari hafizhahullah, juga risalah ‘Al-Masail al-Aqdiyyah allati Khaalafa fiha Ba’dhu Fuqahaa’ asy-Syafi’iyah A’immatal Madzhab’ karya al-Ustadzah Azizah bintu Mubarak, seorang dosen wanita di Universitas Malik Su’ud hafizhahallah, kemudian Penulis mencocokkannya dengan kitab-kitab yang ada.

Mengapa harus ulama Syafi’iyah, dan bukan Hanabilah atau Malikiyah atau Hanafiyah?

Pertama: karena kita hidup di Indonesia dan mayoritas kaum musliminnya mengamalkan fikih madzhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Dan sebagai bentuk hikmah dalam berdakwah, kita mengenalkan ‘Tauhid’ dan memperingatkan kesyirikan dengan kitab-kitab karya ulama Syafi’iyah –yang menjadi idola kaum muslimin Indonesia-.

Al-Imam Ismail bin Bintis Suddi al-Kufi (wafat tahun 245 H) rahimahullah berkata:

كنت في مجلس مالك، فسئل عن فريضة، فأجاب بقول زيد، فقلت ما قال فيها علي وابن مسعود، رضي الله عنهما، فأومأ إلى الحجبة، فلما هموا بي عدوت وأعجزتهم، فقالوا: ما نصنع بكتبه ومحبرته ؟ فقال: اطلبوه برفق، فجاؤوا إلي فجئت معهم. فقال مالك: من أين أنت ؟ قلت: من الكوفة قال: فأين خلفت الادب ؟ فقلت: إنما ذاكرتك لاستفيد.فقال: إن عليا وعبد الله لا ينكر فضلهما، وأهل بلدنا على قول زيد بن ثابت، وإذا كنت بين قوم، فلا تبدأهم بما لا يعرفون، فيبدأك منهم ما تكره

“Aku sedang dalam majelis al-Imam Malik. Kemudian beliau ditanya soal faraidh (ilmu waris), maka beliau menjawab dengan pendapat Zaid bin Tsabit, sedangkan aku menjawab dengan pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud radliyallahu anhuma. Beliau mengisyaratkan bahwa jawabannya adalah ‘mahjub’ (terhalang dari harta waris, pen). Ketika mereka mendebatku dan aku mengalahkan mereka, maka mereka berkata: “Apa yang akan kita perbuat terhadap kitab-kitab dan tempat tinta orang ini?” Malik menjawab: “Tuntutlah ia dengan lemah lembut!” Maka mereka mendatangiku dan membawaku menghadap beliau. Maka al-Imam Malik bertanya: “Kamu berasal darimana?” Aku menjawab: “Dari Kufah.” Beliau bertanya: “Bagaimana bisa kamu meninggalkan adab?” Aku menjawab: “Aku berdiskusi denganmu hanyalah agar aku mendapatkan faedah darimu.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya keutamaan Ali dan Ibnu Mas’ud tidaklah diingkari. Akan tetapi penduduk negeri kami memegang pendapat Zaid bin Tsabit. Jika kamu berada di antara suatu kaum, maka janganlah memulai dengan pendapat yang tidak mereka kenal, sehingga mereka akan menyikapimu dengan sesuatu yang kamu benci.” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/177).

Al-Imam Humaid ath-Thawil (ulama tabi’in wafat tahun 142 H)  berkata:

قيل لعمر بن عبد العزيز: لو جمعت الناس على شيء؟ فقال: ما يسرني أنهم لم يختلفوا، قال: ثم كتب إلى الآفاق وإلى الأمصار: ليقضي كل قوم بما اجتمع عليه فقهاؤهم

“Dikatakan kepada Umar bin Abdul Aziz: “Hendaknya engkau mengumpulkan manusia dengan satu pendapat saja?” Beliau menjawab: “Aku tidak suka jika mereka hanya memegang satu pendapat saja.” Kemudian beliau menulis surat kepada seluruh kota dan negeri: “Hendaknya masing-masing kaum (negeri) memutuskan perkara dengan pendapat yang disepakati oleh ahli fikih negeri itu.” (Atsar riwayat ad-Darimi dalam Sunannya: 628 (1/159) dan di-shahih-kan oleh Abu Ashim dalam Fathul Mannan Syarh Sunan ad-Darimi Abdullah bin Abdirrahman: 3/430)

Demikian pula al-Imam Abu Umar Ahmad bin Abdul Malik al-Maliki -guru al-Imam Ibnu Abdil Barr- rahimahullah. Beliau menyatakan:

لا أخالف رواية ابن القاسم لأن الجماعة لدينا اليوم عليها ومخالفة الجماعة فيما قد أبيح لنا ليس من شيم الأئمة

“Aku tidak akan menyelisihi riwayat Ibnul Qasim karena masyarakat disini pada hari ini memakai riwayatnya. Dan menyelisihi masyarakat di dalam perkara yang diperbolehkan bukanlah akhlak para ulama.” (At-Tamhid li Ma fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid: 9/223).

Kedua: agar tidak timbul persangkaan bahwa pembahasan ‘tauhid dan syirik’ itu hanya dibahas oleh Hanabilah saja, bahkan yang lebih khusus adalah monopoli kaum Wahabi saja.

Persangkaan di atas adalah salah, karena ulama Syafi’iyah mempunyai andil besar di dalam menegakkan ‘Tauhid dan Sunnah’. Banyak ulama ahlul hadits yang berasal dari keluarga Syafi’iyah.

Kenyataan ini diakui sendiri oleh al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata:

وما أقل الحديث في الحنابلة، يعني المحدثين، وهذا من أغرب ما يكون، يعني أصحاب الإمام أحمد أقل الناس تحديثاً بالنسبة للشافعية

“Alangkah sedikit jumlah ahlul hadits di kalangan ulama Hanabilah. Dan ini adalah perkara yang paling aneh, yaitu para pengikut al-Imam Ahmad ternyata perhatian mereka terhadap hadits lebih sedikit jika dibandingkan dengan ulama Syafi’iyah.” (Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid: 1/451).

Beliau juga menyatakan:

والشافعية أكثر الناس عناية بالحديث والتفسير، والمالكية كذلك، ثم الحنابلة وسط، وأقلهم في ذلك الأحناف مع أن لهم كتبا في الحديث.

“Ulama Syafi’iyah adalah ulama yang paling banyak perhatiannya terhadap hadits dan tafsir. Demikian pula ulama Malikiyah. Kemudian ulama Hanabilah tengah-tengah. Dan yang paling sedikit perhatiannya adalah ulama Hanafiyah dan mereka pun mempunyai kitab-kitab hadits.” (Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid: 1/451).

Para pembaca akan mendapati kenyataan ucapan beliau di atas – bahwa para ulama besar ahlul hadits, ahlut tafsir dan ahli fikih kebanyakannya adalah Syafi’iyah- ketika menyelami isi tulisan ini.

Tulisan ini disusun dalam rangka upaya memenuhi nadzar kepada Allah ta’ala. Penulis pernah bernadzar jika sudah lepas dari kelompok ‘mereka yang mengaku paling salafi’, maka Penulis akan mengumpulkan keterangan dari Ulama Syafi’iyah tentang kesyirikan.

Penulis berlepas diri dari ‘manhaj kelompok ini’ yang penuh dengan kekerasan tetapi dangkal keilmuan. Mereka pandai menghujat, mencaci dan mencela saudara sendiri karena hanya berbeda pendapat. Ironisnya tingkat keilmuan mereka sangatlah dangkal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فَإِنَّ الرَّدَّ بِمُجَرَّدِ الشَّتْمِ وَالتَّهْوِيلِ لَا يَعْجِزُ عَنْهُ أَحَدٌ . وَالْإِنْسَانُ لَوْ أَنَّهُ يُنَاظِرُ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلَ الْكِتَابِ : لَكَانَ عَلَيْهِ أَنْ يَذْكُرَ مِنْ الْحُجَّةِ مَا يُبَيِّنُ بِهِ الْحَقَّ الَّذِي مَعَهُ وَالْبَاطِلَ الَّذِي مَعَهُمْ . فَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { ادْعُ إلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ } وَقَالَ تَعَالَى : { وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ }

“Karena membantah dengan semata cacian dan celaan, semua orang bisa melakukannya. Dan ketika seseorang membantah kaum musyrikin dan ahlul kitab, maka diharuskan baginya untuk menyebutkan hujah (argumentasi, pen) yang dapat menjelaskan kebenaran si pembantah dan kebatilan yang dibantah (yakni orang kafir, pen). Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam: “Berdakwahlah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan sesuatu yang lebih baik.” Allah juga berfirman: ‘Janganlah kalian mendebat Ahlul Kitab kecuali dengan yang lebih baik.” (Majmu’ al-Fatawa: 4/186-7).

Akhirnya Penulis berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنَّك أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

‘Ya Allah, terimalah iman dan amal kami, karena Engkau Maha Pendengar dan Maha Mengetahui. Dan ampunilah kami, karena Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang.’

Babat, 8 Dzulqa’dah 1437 H

dr. M Faiq Sulaifi

Baca lebih lanjut

Iklan