Berbagai Macam Walimah dan Pesta Makan

 
Berbagai Macam Walimah dan Pesta Makan
Dalam Pandangan al-Islam
 
dr. M Faiq Sulaifi
 

 

 

 

Daftar Isi

Daftar Isi 2

Pendahuluan. 3

Pengertian Walimah. 3

Keutamaan Acara Jamuan Makan. 5

Sikap as-Salaf terhadap Undangan Jamuan. 7

Hukum  Walimah untuk Pernikahan dan Selainnya. 10

Acara Naqi’ah ketika Pulang dari Safar. 14

Acara Khurs dan Aqiqah pada Kelahiran Anak. 15

Acara I’dzar atau Adzirah untuk Khitanan Anak. 17

Acara Hidzaq ketika Selesai Mempelajari Ilmu. 22

Acara Khataman al-Quran. 25

Acara Wakirah jika Selesai Membangun Rumah. 28

Acara Ma’dubah, Jamuan Umum.. 30

Acara Wadhimah atau Selamatan Kematian. 31

Hidangan Athirah. 34

Acara ini Boleh Dihadiri 35

Acara Jamuan untuk Jin. 38

Acara Jamuan dengan Kepercayaan Batil 40

Jamuan pada Tempat Keramat. 42

Undangan Jafla dan Naqra. 45

Si Thufaili, Tamu yang Tidak Diundang. 46

Tuhfah, Jamuan untuk Tamu. 47

Kesimpulan. 50

 

Pendahuluan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحمدُهُ ونَسْتَعِينُهُ ونَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا ومن سَيِّئاتِ أعمالنا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلاَ هَادِىَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

(Amma ba’du)

Dalam masyarakat, kita mengenal berbagai macam walimah atau pesta makan atau tasyakuran. Di antaranya, kita mengenal nama ‘walimah nikah’, ‘walimah aqiqah’, ‘khitan’ dan sebagainya.

Berikut ini sedikit penjelasan tentang macam-macam walimah atau acara jamuan makan dan beberapa keterangan dari para ulama tentang sikap mereka terhadap acara-acara semacam ini.

Dengan tulisan kita akan menyimpulkan bahwa agama Islam tidaklah anti selamatan atau anti walimah atau anti pesta makan, tetapi kebanyakannya dianjurkan sedikit pesta yang dilarang di dalamnya. Allah ta’ala berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرً () إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاء وَلا شُكُورًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 8-9).

Kemudian dengan kemudahan dari Allah, Penulis berusaha mengumpulkan keterangan-keterangan yang berserakan dari para ulama kita terdahulu. Rahimahumullahu ajma’in.

Akhirnya Allah jualah yang kita mohon agar membimbing kita kepada cahaya-Nya sehingga kita mampu beristiqamah di jalan orang-orang yang diridlai-Nya. Semoga tulisan ini bisa memberikan pencerahan dan tambahan ilmu kepada Pembaca yang budiman.

Diperbaiki oleh:

dr. M Faiq Sulaifi

11 Sya’ban 1439 H atau 27 April 2018 Baca lebih lanjut

Iklan

Di Atas Langit Ada Allah

Maktabah thibbul qulub

Di Atas Langit Ada Allah

Tanggapan atas Penjelasan KH. Luthfi Bashori

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

2 Maret 2018

 

 

Kajian Literatur terhadap Akidah as-Salaf ash-Shalih tentang keberadaan Allah  ta’ala di atas langit-Nya serta rusaknya pemahaman yang tidak mengakui bahwa Allah ta’ala berada di atas Arasy

 

 

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukadimah. 3

Pengertian Arasy. 5

Sembilan Ayat tentang Tingginya Allah ta’ala. 6

Enambelas Hadits Pilihan bahwa Allah ta’ala di Langit 9

Tigabelas Nukilan tentang Ijma’ dan Kesepakatan Salaf 16

Pidato Abu Bakar ash-Shiddiq. 21

Kata-kata Mutiara dari Umar. 22

Kisah Pembaiatan Utsman. 23

Kedustaan Atas Nama al-Imam Ali 24

Kebanggaan Zainab Ummul Mukminin. 28

Keyakinan Aisyah Ummul Mukminin. 28

Wejangan Ibnu Mas’ud. 29

Penafsiran Ibnu Abbas. 30

Syair Abdullah bin Rawahah. 31

Pujian Masruq kepada Aisyah. 32

Ka’ab al-Ahbar Mengutip Taurat 32

Malik bin Dinar Membaca al-Quran. 32

Adh-Dhahhak dan Perkumpulan Rahasia. 33

Al-Khalil, Guru Sibawaih, Naik ke Atap. 33

Ma’rifatullah menurut Ibnul Mubarak. 34

Jika Sulaiman at-Taimi Ditanya. 35

Definisi Jahmiyah menurut Yazid bin Harun. 35

Jahmiyah dan Atheisme. 36

Abdullah bin Abi Ja’far Memukuli Kerabatnya. 37

Akidah al-Imam Abu Hanifah Yang Sebenarnya. 37

Akidah al-Imam Malik. 40

Akidah al-Imam asy-Syafi’i Yang Sesungguhnya. 41

Akidah al-Imam Ahmad bin Hanbal 43

Al-Muzani, Murid asy-Syafi’i, Bicara Tauhid. 44

Abu Zur’ah ar-Razi juga Melaknat 45

Ibnu Qutaibah juga Merasa Heran. 46

Isyarat al-Bukhari dalam Shahihnya. 47

Penjelasan at-Tirmidzi dalam Sunannya. 47

Metode Ibnu Majah dalam Sunannya. 48

Teladan Mereka itu Fir’aun, Kata Abul Hasan al-Asy’ari 49

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan Ajaran Makrifat 49

Jawaban terhadap Abu Manshur al-Baghdadi 51

Imamul Haramain pun Kebingungan. 55

Al-Haitami Menggurui Ulama Hanabilah. 56

Logika Sesat untuk Menolak Akidah Salaf 59

Berasal dari Yahudi 63

Penutup. 65

 

 


Mukadimah

الحمد لله الذي على العرش استوى والذي خلق فسوى والذي قدر فهدى وأشهد أن لا اله الا الله رب الأرض والسماوات العلى وله الأسماء الحسنى وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المصطفى الذي لا ينطق عن الهوى ان هو الا وحي يوحى وصلى الله على نبيه صاحب الشفاعة العظمى و على آله ذوى القربى وأصحابه أولى النهى وسلم تسليما كثيرا (أما بعد)

Di antara keyakinan sesat yang disebarkan oleh orang-orang belakangan adalah bahwa ‘Allah tidak di atas langit’ atau ‘Allah tidak di atas Arasy’. Kemudian mereka mengatasnamakan keyakinan sesat ini dengan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah (ASWAJA). Padahal para ulama as-Salaf sebagai pendahulu dari Ahlussunnah wal Jama’ah telah mengingkari keyakinan sesat ini, sebagaimana akan diterangkan.

Di antara tokoh mereka adalah KH. Luthfi Bashori yang menyatakan:

“Allah adalah Dzat yang keberadaan-Nya tidak `harus` terikat berada di tempat mana, termasuk tidak berada di langit maupun di sorga. Karena Allah itu bukan makhluq yang membutuhkan tempat. Allah adalah Dzat yang berdiri sendiri, dan tempat itu adalah makhluq.”

(http://www.pejuangislam.com/main.php?prm=karya&var=detail&id=389).

Demikian pula ceramah beliau yang menyesatkan dalam Youtube. (Lihat:  https://www.youtube.com/watch?v=DKppgCslvV8).

Mereka juga berdalil dengan penukilan al-Allamah Abu Manshur al-Baghdadi (wafat tahun 429 H) rahimahullah. Beliau berkata:

وَقد قَالَ أمير الْمُؤمنِينَ على رَضِي الله عَنهُ أن الله تَعَالَى خلق الْعَرْش اظهارا لقدرته لَا مَكَانا لذاته وَقَالَ أيضا قد كَانَ وَلَا مَكَان وَهُوَ الْآن على مَا كَانَ

“Amirul Mukminin Ali radhiyallahu anhu berkata: “Sesungguhnya Allah ta’ala menciptakan Arasy dalam rangka menampakkan kekuasaan-Nya, bukan sebagai tempat bagi Dzat-Nya.” Ali juga berkata: “Allah telah ada sedangkan belum ada tempat. Dia sekarang di atas keberadaan-Nya.” (Al-Farqu bainal Firaq: 321).

Abu Manshur al-Baghdadi juga berkata:

وأجمعوا على أنه لَا يحويه مَكَان وَلَا يجرى عَلَيْهِ زمَان

“Mereka (para ulama) bersepakat bahwa Allah tidak diliputi oleh tempat dan tidak dilalui oleh waktu.” (Al-Farqu bainal Firaq: 321).

Mereka juga berdalil dengan ucapan al-Imam Abu Hanifah (wafat tahun 150 H) rahimahullah yang berkata:

كَانَ الله تَعَالَى وَلَا مَكَان قبل أن يخلق الْخلق وَكَانَ الله تَعَالَى وَلم يكن أَيْن

“Allah telah ada sedangkan masih belum ada tempat, sebelum Allah menciptakan makhluk. Dan Allah telah ada dan tidak terletak pada tempat.” (Al-Fiqhul Absath: 161).

Mereka juga berdalil dengan penukilan al-Allamah Murtadha az-Zabidi al-Hanafi (wafat tahun 1205 H) rahimhullah

قال الشافعى رحمه الله تعالى والدليل عليه هو انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الازلية كما كان قبل خلقه المكان لا يجوز عليه التغيير فى ذاته ولا التبديل فى صفاته

“Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Dalil atas demikian adalah bahwa Allah telah ada dalam keadaan belum ada tempat. Kemudian Allah menciptakan tempat dalam keadaan seperti sifat-Nya yang azali, sebagaimana sebelum menciptakan tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah dalam Dzat-Nya dan berubah dalam sifat-Nya.” (Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarh Ihya’ Ulumid Din: 2/23).

Mereka juga berdalil dengan ucapan al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami (wafat tahun 973 H) rahimahullah. Beliau berkata:

وما اشتهر به جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشيء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه ، فلعن الله من نسب ذلك إليه أو رماه بشيء من هذه المثالب التي برأه الله منها ،

“Perkara yang terkenal dari kalangan orang-orang bodoh yang menisbatkan diri kepada al-Imam yang agung ini (yakni: Ahmad bin Hanbal, pen) bahwa beliau berpendapat bahwa Allah mempunyai arah atau semisalnya (yakni: tempat, pen), maka itu suatu kedustaan dan mengada-ada atas nama beliau. Semoga Allah melaknat orang yang menisbatkan pendapat ini kepada beliau atau menuduh beliau dengan celaan-celaan yang mana Allah membebaskan beliau darinya..dst.” (Al-Fatawa al-Haditsiyah lil Haitami: 480).

Kemudian KH. Luthfi Bashori menyatakan tentang keyakinan bahwa Allah di atas langit atau di Arasy termasuk akidah yang melenceng dari al-Haqq. Wal Iyadzu billah. Dan banyak orang-orang awam kaum muslimin yang belum bisa baca kitab gundul tertipu dengannya.

Padahal keyakinan bahwa Allah ta’ala berada di atas Arasy-Nya merupakan kesepakatan as-Salaf dari kalangan para sahabat radhiyallahu anhum, para tabi’in dan generasi setelah mereka.

Al-Imam Abdurrahman bin Amr al-Auza’i (wafat tahun 157 H) rahimahullah berkata:

عَلَيكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوهَا بِالْقَوْلِ فَإِنَّ الْأَمْرَ يَنْجَلِي حِينَ يَنْجَلِي وَأَنْتَ مِنْهُ عَلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

“Berpeganglah kepada atsar kaum as-Salaf. Hindarilah pendapat para tokoh sekarang meskipun mereka memperindah ucapan mereka. Karena suatu perkara akan terlihat jelas ketika dalilnya jelas dan engkau di atas jalan yang lurus.” (Atsar riwayat Abu Ismail al-Harawi dalam Dzammul Kalam wa Ahlih: 324 (2/259), al-Ajurri dalam asy-Syariah: 127 (1/445), al-Baihaqi dalam al-Madkhal: 171 (1/173) dan al-Khathib dalam Syaraf Ash-habil Hadits: 6 (7)).

Di dalam tulisan ini akan dijelaskan dalil-dalil dari al-Quran dan as-Sunnah serta ucapan as-Salaf tentang tingginya Allah di atas langit, di atas Arasy-Nya. Semoga tulisan ini menjadikan Penulisnya dan para pembacanya kembali kepada akidah as-Salafush Shalih yang diridhai oleh Allah ta’ala. Aamiin.

Modo Lamongan, 14 Jumadal Akhirah 1439 (2 Maret 2018)

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Membaca al-Quran di Kuburan, Bolehkah?

 

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukadimah. 3

Hukum Asal Membaca al-Quran di Kuburan. 8

Bukan Amalan as-Salaf. 10

Status Wasiat Ibnu Umar 11

Membaca Surat Yasin di Kuburan. 14

Membaca Surat al-Ikhlas di Kuburan. 17

Membaca Surat at-Takatsur di Kuburan. 18

Membaca Surat Thaha di Kuburan. 19

Kaum Anshar Membaca al-Quran di Kuburan. 21

Sampaikah Bacaan al-Quran kepada Mayit?. 22

Perbedaan Yang Kuat antar Ulama. 27

Khilafiyah di Kalangan Malikiyah. 30

Khilafiyah dalam Hanabilah. 34

Benarkah Imam Ahmad Rujuk?. 36

Kontradiksi di Kalangan Syafi’iyah. 39

Antara Kuburan dan Toilet menurut Hanafiyah. 43

Bukan Tempat untuk Membaca al-Quran. 44

Qiyas antara Pelepah Kurma dan Membaca al-Quran. 46

Menyewa Orang untuk Mengirim Bacaan al-Quran. 52

Mengirim al-Fatihah kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.. 55

Ramai-ramai Kirim Bacaan al-Quran. 62

Lemahnya Hadits tentang Membaca al-Quran di Kuburan. 64

Termasuk Sunnah Tarkiyah dan Perkara Bid’ah. 66

Kembali kepada Hukum Asal 67

Berdalil dengan Alasan Khilafiyah. 69

Penutup. 70

 

 

Mukadimah

إن الحمد لله, نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا, وسيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضل له, ومن يضلل الله فلا هادي له, وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له؛ وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، أما بعد:

Di antara perkara yang memprihatinkan kita adalah banyaknya amalan bid’ah yang diramaikan dan dianggap sebagai amalan as-Sunnah.

Al-Imam Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ تَكُونُ السُّنَّةُ فِيهِ بِدْعَةً , وَالْبِدْعَةُ سُنَّةً , وَالْمَعْرُوفُ مُنْكَرًا , وَالْمُنْكَرُ مَعْرُوفًا ؛ وَذَلِكَ إِذَا اتَّبَعُوا وَاقْتَدَوْا بِالْمُلُوكِ وَالسَّلاطِينِ فِي دُنْيَاهُمْ

“Akan tiba atas manusia suatu jaman yang mana amalan as-Sunnah di jaman itu dianggap sebagai amalan bid’ah. Sedangkan amalan bid’ah dianggap sebagai amalan as-Sunnah. Perkara yang makruf (baik) dianggap sebagai perkara mungkar dan perkara mungkar dianggap sebagai perkara makruf. Itu terjadi ketika mereka mengikuti raja-raja dan para penguasa dalam urusan dunia mereka.” (Atsar riwayat Ibnu Wadhdhah dalam al-Bida’: 232 (248)).

Di antara amalan yang tidak pernah dikenal di jaman as-Salaf adalah ‘Membaca al-Quran di Kuburan untuk si Mayit’. Amalan tersebut di masa kini ternyata sudah memasyarakat dan menasional.

Di antara tokoh agama yang mendukung kegiatan ini adalah asy-Syaikh Ali Jum’ah, Mufti Besar Negeri Mesir. Beliau ditanya:

س 65: ما حكم قراءة القرأن للميت على القبر؟ وهل يصل ثوابها إليه؟

الجواب:
أجمع العلماء على ان القراءة على القبر لا تحرم ولا يأثم فاعلها وذهب جماهير العلماء من الحنفية والشافعية والحنابلة إلى إستحبابها لما روي أنس مرفوعا قال : من دخل المقابر فقرأ فيها – يسخفف عنهم يومئذ وكان له بعددهم حسنات” ولما صح عن ابن عمر رضي الله عنهما انه أوصى اذا دفن أن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها.

اما المالكية فقد ذهبوا ألى كراهة القراءة القراءة على القبر ولكن الشيخ الدردير رضي الله عنه قال: المتأخرون على أنه لا بأس بقراءة الفرآن  والذكر وجعل ثوابه للميت ويحصل له الاجر إن شاء الله”

والخلاف فى هذه المسألة ضعيف ومذهب من استحب قراءة القران وأجازها هو الاقوى حتى إن بعض العلماء رأى أن هذه المسألة مسألة إجماع وصرحوا بذالك وممن ذكر هذا الاجماع الامام إبن قدامة المقدسى الحنبلى حيث قال : وأي قربة فعلها وجعل ثوابها للميت المسلم نفعه ذالك إن شاء الله –إلى أن قال – قال بعضهم وإذا قرئ القرآن عند الميت أو أهدى إليه ثوابه كان الثواب لقارئه ويكون الميت كأنه حاضرها فترجى له الرحمة ولنا ما ذكرناه وأنه إجماع المسلمين فانهم فى كل عصر ومصر يجتمعون ويقرءون القرآن ويهدون ثوابه إلى موتاهم من غير نكير. إهــ

وقد نقل الاجماع ايضا الشيخ العثمانى وعبارته فى ذالك : واجمعوا على أن الاستغفار والدعاء والصدقة والحج والعتق تنفع للميت ويصل إليه ثوابه وقراءة القرآن عند الفبر مستحبة  إهــ

ونص العلماء على وصول ثواب القراءة للميت وأخذوا ذالك من جواز الجح عنه ووصول ثوابه إليه لأن الجح يشتمل على الصلاة والصلاة تقرأ فيها الفاتحة وغيرها وما وصل كله وصل بعضه فثواب القراءة يصل للميت بإذن الله تعالى خصوصا إذا دعا القارئ أن يهب الله تعالى مثل ثواب قراءته للميت

وعلى ما تقدم فان أغلب العلماء – بل نقل بعضهم الإجماع – على جواز القراءة على الميت كما بينا وأما إهداء الثواب للميت وهل يصل فالجمهور على انه يصل وذهب الشافعية إلى انه يصل كدعاء بأن يقول القارئ مثلا : اللهم اجعل مثل ثواب ما قرأت لفلان, لا إهداء نفس العمل والخلاف يسير ولا ينبغى الاختلاف فى هذه المسألة والله تعالى اعلم واعلم

Pertanyaan ke 65: apakah hukum membaca al-quran bagi mayit atas kubur? Apakah sampai pahalanya kepada mayit?

Jawab:
Para ulama telah ijmak bahwa membaca al-quran diatas kubur tidak haram dan pelakunya tidak berdosa.

Mayoritas ulama Mazhab Hanafi, Syafii, dan Hanbali berpendapat disunatkan hal demikian, berdasarkan hadits marfu` riwayat Anas:

“Barangsiapa masuk pemakaman kemudian membaca surat Yasin, niscaya Allah ringankan baginya pada hari itu. Dan baginya kebaikan dengan jumlah tersebut”. Dan berdasarkan hadits shahih dari Ibnu Umar ra bahwa berliau berwasiat apabila dikuburkan supaya dibacakan disampingnya permulaan surat al-Baqarah dan penutupnya.

Sedangkan ulama Mazhab Maliky mereka berpendapat makruh membaca diatas kubur, tetapi Syeikh ad-Dardir (salah satu ulama besar Mazhab Maliky) berkata: para ulama mutaakhirun berpendapat tidak mengapa dengan membaca al-quran dan zikir serta menjadikan pahalanya kepada mayit, pahala tersebut akan sampai. Insya Allah.

Khilaf pada masalah ini lemah. Pendapat golongan yang menyatakan sunat membaca al-quran dan membolehkannya adalah pendapat yang kuat, sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa masalah ini merupakan masalah yang telah disepakati ulama (ijmak) dan mereka menerangkannya secara jelas.

Sebagian ulama yang menyebutkan ijmak tersebut adalah Imam Ibnu Qudamah al-Muqaddisy al-Hanbali beliau berkata:

Qurbah apapun yang dilakasanakan dan dijadikan pahalanya untuk mayit yang muslim atau dihadiahkan pahalanya kepada mayit niscaya pahalanya bisa sampai bagi orang yang membacanya dan adalah mayit seolah ada dihadapan sehingga diharapkan untuk mendapatkan rahmat. Pendapat kami adalah yang telah kami sebutkan. Dan hal ini merupakan kesepakatan kaum muslimin (ijmak) karena umat muslim pada setiap masa dan daerah berhimpun dan membaca al-quran serta menghadiahkan pahalanya kepada mayit tanpa ada orang yang mengingkarinya.

Dan ijmak ini juga di kutip oleh syeikh Usmany. Beliau tentang hal ini: “para ulama telah sepakat bahwa istighfar, doa, shadaqah, haji, memerdekakan budak dapat bermanfaat bagi mayat dan sampai pahalanya kepada mayat dan membaca al-quran di samping kubur di sunatkan.

Para ulama menyebutkan secara terang bahwa sampai pahala bacaan (alquran) bagi mayat. Hal ini mereka pahami dari kebolehan haji untuk mayat dan sampai pahalanya kepada mayat karena dalam haji juga ada shalat dan dalam shalat ada pembacaan al-fatihah dan lainnya, sesuatu yang bisa sampai pahalanya secara keseluruhannya maka sebagiannya juga bisa sampai. Maka pahala bacaan al-quran bisa sampai kepada mayat dengan izin Allah ta`ala terlebih lagi bila pembacanya mendoakan supaya Allah memberikan seperti pahala bacaannya bagi mayat.

Dari penjelasan terdahulu, mayoritas para ulama –bahkan sebagian ulama mengatakan ijmak- berpendapat boleh membaca al-quran sebagaimana telah kami terangkan. Sedangkan masalah menghadiah pahala bagi mayat dan apakah sampai pahalanya maka mayoritas ulama berpendapat sampai pahalanya. Para ulama Mazhab Syafii berpendapat sampai pahalanya sama halnya dengan doa misalnya dengan mengucapkan: “Ya Allah, jadikanlah seperti pahala bacaanku kepada si fulan”, bukan maksudnya menghadiahkan diri amalan. Perbedaan pendapat pada masalah ini hanyalah hal kecil dan tidak sepatutnya diperselisihkan pada masalah ini. Wallahu A`lam.” (Al-Bayan li Ma Yasy`ulu al-Azhan pada soal ke 65 jilid 1 hal 194).

(Lihat: http://lbm.mudimesra.com/2013/04/pandangan-syeikh-ali-jumah-tentang.html)

Maka dengan fatwa beliau di atas, mereka yang mendukung acara ini bergembira dan seolah-olah mendapatkan dalil-dalil baru. Padahal sebagai seorang muslim yang baik, ketika menjumpai perselisihan pendapat ulama, maka kita harus mengembalikannya kepada teks ayat ataupun hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir rahimahullah mengingatkan:

وقوله: { فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ } قال مجاهد وغير واحد من السلف: أي: إلى كتاب الله وسنة رسوله.

“Firman Allah, “Jika kalian berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan ar-Rasul.” (QS. An-Nisa’: 59). Mujahid dan banyak ulama as-Salaf menyatakan: “Maksudnya adalah kembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya.” (Tafsir Ibni Katsir: 2/345).

Sungguh indah syair yang dilantunkan oleh al-Allamah Muhammad bin Sa’id Shafar al-Madani al-Hanafi al-Atsari (wafat tahun 1194 H) rahimahullah:

وَقَوْلُ أَعْلاَمِ الْهُدَى لاَ يُعْمَلُ   ☼   بِقَوْلِنَا بِدُونِ نَصٍّ يُقْبَلُ

فِيهِ دَلِيلُ الأَخْذِ بِالْحَدِيثِ ☼ وَذَاكَ فِي الْقَدِيمِ وَالْحَدِيثِ

قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ الإِمَامُ      ☼    لاَ يَنْبَغِي لِمَنْ لَهُ إِسْلاَمُ

أَخْذٌ بِأَقْوَالِيَ حَتَّى تُعْرَضَا ☼ عَلَى الْكِتَابِ وَالْحَدِيْثِ الْمُرْتَضَى

وَمَالِكٌ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ ☼ قَالَ وَقَدْ أَشَارَ نَحْوَ الْحُجْرَةِ

كُلُّ كَلاَمٍ مِنْهُ ذُو قَبُولِ ☼ وَمِنْهُ مَرْدُودٌ سِوَى الرَّسُولِ

وَالشَّافِعِيُّ قَالَ: إِنْ رَأَيْتُمُ ☼ قَوْلِي مُخَالِفًا لِمَا رَوَيْتُمُ

مِنَ الْحَدِيثِ فَاضْرِبُوا الجِدَارَا ☼ بِقَوْلِيَ الْمُخَالِفِ الأَخْبَارَا

وَأَحْمَدٌ قَالَ لَهُمْ لاَ تَكْتُبُوا ☼ مَا قُلْتُهُ، بَلْ أَصْلُ ذَلِكَ اطْلُبُوا

فَاسْمَعْ مَقَالاَتِ الْهُدَاةِ الأَرْبَعَهْ ☼ وَاعْمَلْ بِهَا فَإِنَّ فِيهَا مَنْفَعَهْ

لِقَمْعِهَا لِكُلِّ ذِي تَعَصُّبِ ☼ وَالْمُنْصِفُونَ يَكْتَفُونَ بِالنَّبِيْ

“Pendapat para ulama tidak bisa diamalkan….. Menurut kita, jika tidak disertai nash yang diterima…

Di dalamnya terdapat dalil untuk mengambil hadits…. Manhaj ini berlaku di jaman dulu dan sekarang..

Berkatalah Abu Hanifah, Sang Imam… Tidak seyogyanya bagi orang yang telah ber-Islam…

Untuk mengambil pendapat-pendapatku sampai dinilai… di depan al-Kitab dan al-Hadits yang diridhai..

Dan Malik, Imam Darul Hijrah… Berkata sambil berisyarat ke kamar Nabi..

Setiap pendapat boleh diterima… Juga boleh ditolak kecuali ar-Rasul…

Asy-Syafi’i juga berkata: “Jika kalian melihat… Pendapatku menyelisihi apa yang kalian riwayatkan..

Yaitu hadits Nabi, maka buanglah ke tembok… pendapatku yang menyelisihi hadits-hadits…

Ahmad berkata kepada mereka: “Janganlah kalian menulis…. Apa yang aku ucapkan, tetapi carilah dasar dari ucapanku..

Maka dengarkanlah ucapan para imam empat… Dan amalkanlah karena di dalamnya terdapat manfaat.. Untuk menolak kepada setiap orang yang fanatik.. sedangkan orang yang objektif mencukupkan dengan Nabi.. (Risalah al-Huda wal Ittiba’: 14).

Akhirnya semoga tulisan ini menjadikan pencerahan dan tambahan ilmu serta dicatat sebagai amal shalih di sisi Allah ta’ala. Aamiin.

Modo, 6 Jumadil Awwal 14 39 H

Dr. M Faiq Sulaifi

Baca lebih lanjut

Antara Komando, Hizbiyah dan Ilzam

[MAKTABAH THIBBUL QULUB]

Antara Komando, Hizbiyah dan Ilzam

(Sebuah Studi terhadap Hizbiyah Luqmaniyah)

 

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

[22 Desember 2017]

 

 

 

 

 

 

 

 

Bantahan terhadap artikel ‘Isu Intervensi dan Komando dalam Dakwah, Benarkah?’ dan Pemaparan Kajian Literatur tentang Hakekat Hizbiyah Ashabiyah

 Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukaddimah. 2

Pengertian Hizbiyah. 4

Haramnya Hizbiyah. 4

Mengaku Paling Benar. 6

Membatasi Kebenaran hanya pada Kelompoknya. 9

Sekte Luqmaniyah. 14

Adanya Ilzam.. 16

Komando dan Tatanama Iblis. 20

Mempunyai Ciri Khusus dan Syiar Tertentu. 24

Eksklusif dalam Penampilan. 27

Ekslusif dalam Tempat. 36

Merasa ‘Suci’ dan ‘Sejati’ 44

Mengajak kepada Allah, bukan kepada Luqmaniyun. 47

Istilah ‘Masyayikh Kibar’ dan ‘Ulama Kibar’ 50

Penafsiran Berbau Hizbiyah. 53

Memilih Pendapat yang Syadz (Menyendiri). 56

Kementerian Agama Saudi Arabia vs Syaikh Rabi’ 63

Penutup. 66

 

 

 

 

Mukaddimah

الحمد لله الذي ألفّ بين قلوبنا وجعلنا متحابين بعد البغضة، الذي لا تجحد نعماؤه، ولا يزول ملكه؛ له الحمد كما حمد نفسه، وكما هو أهله، انتخب محمدا صلّى الله عليه وسلم فاختاره بعلمه، وائتمنه على وحيه، واختار له من الناس أعوانا قذف في قلوبهم تصديقه ومحبّته، فآمنوا به وعزّزوه ووقّروه وجاهدوا في الله حق جهاده، فاستشهد في الله منهم من استشهد على المنهاج الواضح، والبيع الرابح، وبقي منهم من بقي، لا تأخذهم في الله لومة لائم. (خطبة عبد الله بن الزبير حين فتح أفريقية)

(أما بعد)

Beberapa hari yang lalu Penulis mendapat kiriman artikel yang berjudul ‘Isu Intervensi dan Komando dalam Dakwah, Benarkah?’ oleh Oman Abu Kahfi Majalengka. Jika dibaca sekilas, tulisan tersebut lebih mendekati ‘Promosi Obat Tradisional’ daripada sebuah ‘Artikel Ilmiyah’. Isinya bukanlah dalil, tetapi kumpulan pengakuan dan testimoni dari orang-orang yang seide atau sepemikiran untuk membela ‘al-Akh Luqman Ba’abduh’. (Lihat: https://drive.google.com/open?id=1MXuXwelhoni-iNLH0nFfgY1eYo0wnaoA).

Di dalam artikel tersebut terdapat dakwah yang mengajak kepada Ashabiyah-Hizbiyah untuk membela ‘Luqman Ba’abduh dan kelompok’nya serta menganggap sesat kelompok yang di luar mereka, dengan penamaan Hizbi, Ahlul Batil, MLM dan sebagainya.

Untuk menutupi bau busuk Hizbiyahnya, mereka (Luqmaniyun) kompak menyatakan bahwa mereka mengikuti dakwah Luqman Ba’abduh secara sukarela, tidak ada paksaan dan ilzam serta tidak dikomando. Tetapi sepandai-pandai mereka menutupi bangkai, akhirnya tercium juga bau busuknya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

“Tinggalkanlah Hizbiyah-Ashabiyah Jahiliyah, karena baunya busuk.” (HR. Al-Bukhari: 4905, Muslim: 6748 dan at-Tirmidzi: 3315 dari Jabir radhiyallahu anhu).

Tulisan ini –insya Allah- akan menyingkap bau busuk Hizbiyah yang disembunyikan oleh mereka dengan cara mengenali ciri dan tanda Hizbiyah yang terdapat pada mereka.

Dan kebanyakan mereka yang mengkritisi Dakwah Luqmaniyun ini adalah mereka yang sudah keluar dari jamaah ini. Ini menunjukkan bahwa ‘Ashabiyah-Hizbiyah’ pada Luqmaniyun itu sangat kuat dan kental. Dan al-Ustadz Askari pun demikian, beliau baru bisa mengkritik jamaah ini setelah keluar darinya. Dan telah benar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bersabda:

المؤمن مرآة أخيه إذا رأى فيها عيبا أصلحه

“Seorang mukmin menjadi cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat dalam cermin tersebut sebuah cacat, maka dia berusaha untuk memperbaikinya.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad: 238 (93) dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Ta’liqnya).

Kemudian tujuan dari penulisan ini adalah agar kita semua –terutama Penulis- terhindar dari penyakit ‘Hizbiyah’ dan ‘Ashabiyah’ yang sangat dibenci dalam al-Islam. Tanda seseorang yang sembuh dari penyakit ini adalah dia akan menyikapi sama terhadap semua saudaranya –yaitu kaum muslimin- tanpa membedakan suku, golongan, kelompok, partai ataupun madzhab. Dia akan memberikan loyalitasnya kepada kaum muslimin secara adil berdasarkan tingkat ketakwaan, tingkat kebid’ahan, tingkat penyimpangan dan tingkat kemaksiatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H) rahimahullah berkata:

وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ فِي كُلِّ طَائِفَةٍ بَارٌّ وَفَاجِرٌ وَصِدِّيقٌ وَزِنْدِيقٌ . وَالْوَاجِبُ مُوَالَاةُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ الْمُتَّقِينَ مِنْ جَمِيعِ الْأَصْنَافِ وَبُغْضُ الْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِينَ مِنْ جَمِيعِ الْأَصْنَافِ وَالْفَاسِقُ الْمَلِيُّ يُعْطَى مِنْ الْمُوَالَاةِ بِقَدْرِ إيمَانِهِ وَيُعْطَى مِنْ الْمُعَادَاةِ بِقَدْرِ فِسْقِهِ ؛ فَإِنَّ مَذْهَبَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ الْفَاسِقَ الْمَلِيَّ لَهُ الثَّوَابُ وَالْعِقَابُ إذَا لَمْ يَعْفُ اللَّهُ عَنْهُ .

“Dan sudah diketahui bahwa di dalam setiap kelompok (atau suku atau organisasi, pen) terdapat orang yang baik dan orang yang buruk, juga orang yang jujur dan orang yang zindik. Yang wajib adalah memberikan loyalitas kepada para wali Allah yang bertakwa dari semua golongan dan membenci orang-orang kafir dan munafik dari segala golongan. Orang fasik Milli (yakni: yang masih di dalam millah Islam, pen) diberikan loyalitas sesuai dengan keimanannya dan diberikan kebencian sesuai dengan tingkat kefasikannya, karena madzhab Ahlussunnah wal Jamaah adalah bahwa ketika dia belum diampuni oleh Allah, maka dia berhak mendapatkan pahala dan juga dosa.” (al-Fatawa al-Kubra: 4/226 dan Majmu’ al-Fatawa: 28/578).

Semoga tulisan ini menjadikan tambahan ilmu bagi kita dan dijadikan oleh Allah ta’ala sebagai pemberat timbangan kebaikan Penulis. Aamiin.

Modo Lamongan, 4 Rabi’ul Akhar 1439 H (22 Desember 2017)

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Menelusuri Pemikiran Jamaah Tahdzir

Menelusuri Pemikiran Jamaah Tahdzir
Pentingnya Sikap Tawassuth dan Moderat serta Menghindari Sikap Ghuluw di dalam Menyikapi Ahlul Bid’ah
Oleh Dr. M Faiq Sulaifi
[5 Oktober 2017]

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 2

Asal Dakwah adalah Menjinakkan Hati 4

Tidak Mampu Menimbang Manfaat dan Kerusakan. 5

Yang Penting Adil 7

Antara Biji Tasbih dan Fasiq. 9

Tidak Mampu Membuat Kategori 12

Setiap Mukmin adalah Salafi 14

Bid’ah Kafir. 16

Bid’ah Fasiq. 18

Bid’ah Furu’iyah Ijtihadiyah. 20

Perkara Kontemporer. 23

Batilnya Anti Muwazanah. 25

Menentukan Sifat Adil dengan Muwazanah. 30

Sifat Dhabith Ditentukan dengan Muwazanah. 32

Cakupan Arti Boikot. 34

Mau Boikot, Ada Aturannya. 34

Bermakmum di Belakang Ahlul Bid’ah. 40

Fatwa Ahlul Bid’ah. 41

Persaksian Ahlul Bid’ah. 42

Setiap Pentolan Ahlul Bid’ah itu Pendusta, Kata Mereka. 44

Jika Tidak Seratus Persen, Maka Bukan Salafi, Kata Mereka. 48

Sikap Moderat terhadap Asy’ariyah. 58

Penutup. 63

 

Pendahuluan

الحمد الله الذي جعلنا من خير أمة أخرجت للناس، والصلاة والسلام على المبعوث إلى كافة الناس، محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليماً مزيداً. أما بعد:

Di antara penyebab porak porandanya dakwah Salafiyah adalah munculnya orang-orang atau kelompok yang mempunyai manhaj yang Ghuluw atau Ekstrem. Di antara bentuk sikap ekstrem mereka adalah menyikapi seorang muslim yang terjatuh kepada perkara bid’ah sebagai Ahlul Bid’ah yang tidak mempunyai kehormatan sama sekali. Mereka tidak mau mengambil ilmu kecuali kepada seorang ustadz yang 100 persen salafi. Mereka juga tidak mau memondokkan anak mereka kecuali di Ma’had yang 100 persen salafi. Adapun sekolah formal, maka mereka tidak mau, karena tidak 100 persen salafi. Mereka menamakan diri mereka dengan ‘Salafi Sejati’. Akan tetapi kita –kaum Salafiyin yang tidak menyetujui sikap Ghuluw mereka- lebih suka menjuluki mereka dengan ‘Jamaah Tahdzir’. Sedangkan para ulama dakwah menyebut mereka dengan ‘Ghulat at-Tajrih wat Tabdi’.

Dan di antara kaidah aneh mereka adalah ucapan mereka “Lebih baik seseorang dibiarkan bodoh agamanya daripada mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ah semacam ustadz MLM atau ustadz Roja’iyun dan sebagainya, karena orang yang bodoh masih di atas fitrah lebih baik daripada orang yang berada di atas kesesatan.”

Di antara sumber dari sikap ghuluw dan ekstrem mereka adalah ucapan-ucapan asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali hadahullah yang kemudian mereka taqlidi dan mereka gunakan untuk menghakimi ulama dan dai lain yang berseberangan dengan alasan menyelisihi ‘Manhaj Salaf’. Padahal yang benar adalah para da’i dan ulama tersebut menyelisihi ‘Manhaj asy-Syaikh Rabi’, dan belum tentu menyelisihi ‘Manhaj Salaf’. Mereka lupa bahwa siapa pun orangnya, baik asy-Syaikh Rabi’ ataupun bukan, mempunyai kemungkinan untuk menyelisihi ‘Manhaj Salaf’.

Al-Imam Mujahid (ulama tabi’in, wafat tahun 104 H) rahimahullah berkata:

ليس أحد من خلق الله إلا وهو يؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Tiada seorang makhluk Allah pun kecuali ucapannya bisa diambil dan juga bisa ditolak, kecuali Nabi shallallahu alaihi wasallam.” (Atsar riwayat al-Bukhari dalam Raf’ul Yadain fish Shalat: 103 (73) dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi: 1084 (3/150)).

Kemudian mereka menjadikan fatwa-fatwa asy-Syaikh Rabi’ hadahullah tersebut sebagai landasan untuk menegakkan ‘al-Wala’ wal Bara’. Barangsiapa menyelisihi fatwa beliau, maka mereka katakan sebagai dai hizbi atau ustadz hizbi. Padahal secara kenyataan, mereka sendiri telah terjatuh ke dalam sikap ‘Hizbiyah’, ‘Ashabiyah’ dan Fanatisme golongan. Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ « أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah fanatisme (hizbiyah) itu?” Beliau menjawab: “Kamu membantu kaummu di atas kezaliman.” (HR. Abu Dawud: 5121 dan al-Baihaqi dalam al-Kubra: 21606 (10/234). Di-hasankan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Sunan Abu Dawud: 5119 (7/44)).

Di dalam riwayat Ibnu Majah, Watsilah bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَوْمَهُ؟ قَالَ: “لَا، وَلَكِنْ مِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلَى الظُّلْمِ”

“Wahai Rasulullah! Apakah termasuk fanatisme (hizbiyah) jika seseorang mencintai kaumnya?” Beliau menjawab: “Tidak. Tetapi yang termasuk hizbiyah (fanatisme) adalah jika seseorang membantu kaumnya di atas kezaliman.” (HR. Ibnu Majah: 3949 dan Ahmad: 17472. Isnadnya di-hasan-kan oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Tahqiq Musnad: 17030).

Sehingga kita dilarang membela suatu pendapat yang jelas-jelas salah, hanya karena itu merupakan pendapat guru atau syaikh kita atau kelompok kita.

Kemudian di dalam risalah ini akan dijelaskan beberapa kaidah yang nyeleneh yang dipegang oleh ‘Jamaah Tahdzir’ yang bisa membawa kepada sikap Ghuluw dan Radikal dalam beragama.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma:

«بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ»

“Dengan (kerikil) yang seperti inilah (kalian melempar jumrah, pen) dan waspadalah kalian dari sikap ghuluw (berlebihan, pen) dalam beragama, karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam beragama.” (HR. Ahmad: 1851, an-Nasai: 3057 dan Ibnu Majah: 3029. Di-shahih-kan oleh Ahmad Syakir dalam Tahqiq Musnad dan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 1283 (3/278)).

Semoga tulisan ini bermanfaat dan ditulis kebaikan oleh Allah ta’ala. Amin.

Modo Lamongan, 16 Muharram 1439 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Trilogi Tauhid dan Penerapannya

Maktabah Thibbul Qulub
Trilogi Tauhid dan Penerapannya
Pembagian Tauhid Menjadi Rububiyah, Uluhiyah dan al-Asma’ wash Shifat
dr. M Faiq Sulaifi
[12 September 2017]

 

 

Studi Literatur terhadap Penerapan Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan al-Asma’ wash Shifat di dalam Agama Islam

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 3

Batasan Ketiga Macam Tauhid. 8

Dasar Pembagian Tauhid. 8

Dalil Istiqra’ 10

Hubungan antara Rububiyah dan Uluhiyah. 11

Hubungan antara Sifat dan Nama Allah dengan Uluhiyah. 12

Tidak Cukup Rububiyah saja. 13

Kandungan Lafazh ‘Allah’ 17

Pantaskah Selain-Nya Dijadikan Ilah?. 18

Seseorang Bernama Tuhan. 19

Bersyukur kepada Allah, bukan kepada Berhala. 22

Maha Tinggi dari Berbuat Sia-sia. 24

Maha Suci dari Trinitas Kaum Nasrani 25

Menyikapi Takdir Allah ta’ala. 26

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Duduk di Arasy. 27

Doa Ketika Susah. 30

Berdoa dengan al-Ismul A’zham.. 31

Keutamaan Surat al-Ikhlas. 33

Keutamaan Surat al-Fatihah. 34

Dzikir Pagi dan Petang. 37

Raja Istighfar. 38

Doa Bangun Malam.. 39

Ujian Tauhid untuk Budak. 41

Nasehat al-Imam asy-Syafi’i kepada al-Muzani 43

Akidah al-Imam Abu Hanifah. 45

Keterangan al-Imam Abu Yusuf. 45

Mukadimah al-Imam ad-Darimi 46

Penafsiran al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari 46

Akidah al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi 48

Mukadimah al-Imam Ibnu Hibban. 48

Al-Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani 49

Penjelasan al-Imam Ibnu Baththah al-Ukbari 50

Mukaddimah al-Imam Abu Bakar ath-Thurthusyi 51

Tauhid menurut Kaum Sufi Mutaqaddimin. 51

Kata Penyair. 53

Kata Pakar Bahasa Arab. 53

Membantah Asy’ariyah. 54

Serupa Tapi Tidak Serupa. 58

Penutup. 63

 


Pendahuluan

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَنشْهَدُ أَنْ لا إله إلا الله وحده لا شريك له ونشهد أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

(أَمَّا بَعْدُ)

Kewajiban seorang hamba yang paling utama dan pertama adalah mentauhidkan dan mengesakan Allah ta’ala di dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya serta nama-nama dan sifat-Nya. Yang demikian karena Allah ta’ala telah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ () مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ () إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58).

Dalam ayat di atas Allah ta’ala memperkenalkan kepada kita tentang ketiga tauhid-Nya, yakni Rububiyah (penciptaan makhluk), Uluhiyah (hak untuk diibadahi) dan nama serta sifat-Nya.

Al-Imam Imaduddin Ibnu Katsir asy-Syafi’i (wafat tahun 774 H) rahimahullah berkata:

وَمَعْنَى الْآيَةِ أَنَّهُ تبارك وتعالى خَلَقَ الْعِبَادَ لِيَعْبُدُوهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَمَنْ أَطَاعَهُ جَازَاهُ أَتَمَّ الْجَزَاءِ، وَمِنْ عَصَاهُ عَذَّبَهُ أَشَدَّ الْعَذَابِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ غَيْرُ مُحْتَاجٍ إِلَيْهِمْ، بَلْ هُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَيْهِ فِي جَمِيعِ أحوالهم، فهو خالقهم ورازقهم

“Makna ayat di atas adalah bahwa Allah tabaraka wata’ala menciptakan hamba-hamba agar beribadah kepada-Nya saja tanpa sekutu bagi-Nya. Barangsiapa menaati-Nya, maka Dia akan membalasnya dengan balasan yang paling sempurna. Barangsiapa berbuat maksiat kepada-Nya, maka Dia akan menyiksanya dengan sekeras-keras siksa. Allah juga memberitahukan bahwa Dia tidak membutuhkan mereka, justru merekalah yang membutuhkan-Nya di dalam segala keadaan mereka. maka Dialah Yang menciptakan dan memberikan rejeki kepada mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir: 7/425).

Demikian pula penjelasan al-Quran dan as-Sunnah serta keterangan para ulama dari generasi as-Salaf hingga al-Khalaf ketika membahas permasalahan Tauhidullah. Maka pembahasan tersebut meliputi sisi Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya dan nama serta sifat-Nya. Yang demikian karena pembahasan Tauhidullah termasuk dalam rangka ‘Nasehat untuk Allah’ dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam:

” الدِّينُ النَّصِيحَةُ ” قُلْنا: لِمَنْ؟ قالَ: ” لِلهِ وَلِكِتابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِم “.

“Agama ini adalah nasehat.” Kami bertanya: “Nasehat untuk siapa?” beliau menjawab: “Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan orang awam mereka.” (HR. Muslim: 205 dari Tamim ad-Dari radhiyallahu anhu).

Al-Qadhi Iyadh al-Yahshubi al-Maliki (wafat tahun 544 H) rahimahullah menerangkan bahwa di antara makna ‘Nasehat untuk Allah’ adalah men-tauhidkan Allah dalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya dan nama serta sifat-Nya. Beliau berkata:

فالنصح لله – تعالى -: صحة الاعتقاد له بالوحدانية، ووصفه بصفات الإلهية، وتنزيهه عن النقائص والرغبة فى محابه والبعد من مساخطه، والإخلاص فى عبادته.

“Makna nasehat untuk Allah adalah keyakinan yang benar tentang keesaan-Nya, menyifati-Nya dengan sifat-sifat Uluhiyah, menyucikan-Nya dari segala kekurangan, bersemangat menggapai perkara yang dicintai oleh-Nya, menjauhi perkara yang dibenci oleh-Nya dan ikhlas di dalam beribadah kepada-Nya.” (Ikmalul Mu’lim bi Fawaidi Shahih Muslim: 1/307). Dan demikian pula pembahasan ulama lainnya yang tidak jauh dari keterangan al-Qadhi Iyadh, yakni pembahasan tauhid yang meliputi ketiga sisi; Rububiyah, Uluhiyah dan nama serta sifat-Nya.

Demikian pula dakwah tauhid yang dilakukan para nabi dan umat terdahulu. Di antara ikrar Shahibu Yasin tentang ‘ketiga macam tauhid’ adalah:

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ () أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًاوَلَا يُنْقِذُونِ () إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ () إِنِّي آَمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

“Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.” (QS. Yasin: 22-25). Maka perhatikanlah ucapan Shahibu Yasin yang hanya beribadah kepada Rabb yang menciptakannya, Yang Maha Pemurah. Ucapan tersebut mengandung Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan al-Asma’ wash Shifat.

Kemudian datanglah generasi belakangan yang mereduksi dan mengurangi ketiga tauhid tersebut dengan hanya mencukupkan pada Tauhid Rububiyah saja. Bahkan mereka menyatakan bid’ahnya pembagian tauhid menjadi tiga; Rububiyah, Uluhiyah dan nama serta sifat-Nya. Di antara generasi belakangan ini adalah Abu Hamid Marzuq dalam bukunya “At-Tawassul bin Nabi wa Jahalatul Wahhabiyyin” yang menyatakan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga kategori –yakni tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wash shifat- adalah bid’ah yang dicetuskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H) rahimahullah yang kemudian diikuti oleh kaum Wahabiyyin. (Lihat juga situs mereka: https://salafytobat.wordpress.com/category/membongkar-kesesatan-ajaran-wahabi-yang-membagi-tauhid-kepada-3-bagian-aqidah-mereka-ini-nyata-bidah-sesat/ ). Mereka juga menyatakan bahwa ‘pembagian tauhid menjadi tiga ala wahabi’ adalah mirip dengan trinitas yang diyakini kaum Nashrani. Wal iyadzu billah.

Jika kita perhatikan dengan seksama, maka tuduhan bid’ahnya pembagian Tauhid mempunyai latar belakang dan sebab:

Pertama: kebencian yang mendalam terhadap kaum Salafiyin yang mereka istilahkan dengan ‘Wahhabiyun’. Sehingga segala perkara yang berasal dari ‘Wahabi’ adalah tercela menurut mereka, walaupun itu merupakan kebenaran menurut al-Quran dan as-Sunnah, seperti pembagian tauhid menjadi Rububiyah, Uluhiyah dan al-Asma’ wash Shifat. Allah ta’ala berfirman:

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8).

Kedua: Kaum Salafiyin mengajak kepada akidah yang benar dengan ketiga macam tauhid, membantah kesyirikan dan kebid’ahan. Jika mereka bisa bertoleransi dengan kaum Syiah-Rafidhah, Mu’tazilah bahkan dengan orang-orang kafir dengan cara menjaga gereja dan kuil mereka, maka toleransi itu tidak berlaku bagi Wahabiyyin (baca: Salafiyyin). Ini karena semata-mata Salafiyun mengajak kepada akidah yang benar dan membantah keyakinan yang sudah mendarah daging di kalangan mereka dan para tokoh mereka. Allah ta’ala berfirman:

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلاَّ أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ () الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj: 8-9).

Ayat di atas menunjukkan bahwa penyebab kaum mukminin diperangi oleh kaum kafirin adalah karena kaum mukminin mentauhidkan Allah dengan ketiga macam tauhid, yaitu hanya beribadah kepada-Nya, Rabb langit dan bumi, Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Dan yang lebih ironis lagi adalah mereka sendiri jatuh ke dalam kebid’ahan besar yaitu membatasi sifat wajib Allah hanya 20 sifat. Mereka juga terjatuh kepada bid’ah pembagian tauhid menjadi tiga, yaitu Allah itu Tunggal secara Dzat, Sifat dan Perbuatan. Padahal belum pernah dinukilkan bahwa as-Salaf membagi menjadi demikian.

Dalam pepatah Arab dikatakan:

رمتنى بدائها وانسلت

“Ia menuduhku dengan penyakitnya sedangkan penyakit itu berasal darinya.” (Tajul Arus min Jawahiril Qamus: 7179).

Dan jika diteruskan lagi, maka mereka –yang menyatakan bid’ahnya pembagian Tauhid ala wahabi- juga terjatuh kepada bid’ahnya pembagian rukun shalat menjadi 13 atau 17, bid’ahnya pembagian sifat wajib rasul menjadi empat, dan sebagainya. Padahal itu semuanya tidak pernah diterangkan oleh as-Salaf. Akan tetapi Salafiyun tidak mempermasalahkan pembagian dan istilah-istilah yang mereka buat selagi tidak membawa kepada pemahaman yang batil. Al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat tahun 974 H) rahimahullah seringkali berkata dalam suatu perbedaan pendapat antar ulama:

وَأَنَّ التَّسْمِيَةَ بِذَلِكَ اصْطِلَاحٌ لَهُ وَلَا مُشَاحَّةَ فِي الِاصْطِلَاحِ

“Pendefinisian atau penamaan (terminologi) tersebut adalah istilah yang dibuat oleh ulama tersebut dan tidak boleh mencela terhadap istilah yang digunakan oleh seorang ulama.” (Tuhfatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj: 2/253).

Tulisan ini disusun dengan mengumpulkan berbagai sumber seperti kitab ‘al-Qaulus Sadid fir Radd ala Man Ankara Taqsimat Tauhid’ karya al-Allamah Prof. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah. Penulis juga mengambil sumber dari pembahasan beberapa asatidz Salafiyah Indonesia di dalam masalah ini kemudian mengembangkannya dengan penukilan dari para ulama dalam kitab-kitab tafsir mereka semisal ath-Thabari, al-Wahidi, al-Baghawi, al-Qurthubi, Ibnu Hajar, asy-Syarbini dan ulama lainnya yang tidak asing bagi mereka yang anti-wahabi. Asy-Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata:

وأيضا تكثير النقول عن الناس على اختلاف مذاهبهم هذا يفيد في أن الحق ليس غامضا؛ بل هو كثير، شائع، بيِّن.

“Dan juga, memperbanyak penukilan (tentang pembagian tauhid menjadi Rububiyah, Uluhiyah, dan al-Asma’ wash Shifat, pen) dari banyak ulama dari berbagai madzhab memberikan faedah bahwa kebenaran (yakni: tentang pembagian tauhid, pen) bukanlah perkara yang samar, tetapi suatu perkara yang tersebar dan jelas.” (Syarh al-Fatwa al-Hamawiyah al-Kubra li Shalih Alusy Syaikh: 263).

Akhirnya semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat kepada kaum muslimin dan ditulis oleh Allah ta’ala sebagai pemberat timbangan kebaikan Penulis. Amien.

Nguwok Lamongan, 21 Dzulhijjah 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Pelajaran dari Peristiwa Idul Adha

Pelajaran dari Peristiwa Idul Adha

(Disampaikan oleh dr. M Faiq Sulaifi dalam Khutbah Idul Adha 1438 H di Lapangan Desa Gendongkulon Babat)

الحمد لله المبدئ المعيد، الولي الحميد، ذي العرش المجيد، الفعال لما يريد، ونشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و لا ضد و لا نديد، شهادة مخلص في التوحيد، راج للحسنى و المزيد، و نشهد أن محمدا عبده  ورسوله لبنة التمام وبيت القصيد، صلى الله عليه و على آله وأصحابه وأزواجه  ذريته والتابعين، والناصرين لسنته بالقول و الفعل إلى يوم الدين.

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

الحمد لله الذي أمات وأحيا, ومنع وأعطى , وأرشد وهدى , وأضحك وأبكى وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَم يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلَّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا

Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah Baca lebih lanjut