Selamatan Kematian menurut Islam

[Maktabah Thibbul Qulub]
Selamatan Kematian menurut Islam
Kajian Literatur terhadap Selamatan Kematian
Oleh dr. M Faiq Sulaifi
4 Dzulqa’dah 1438 H

 

 

 


 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukaddimah. 3

Definisi Selamatan Kematian. 5

Hadits Larangan Selamatan Kematian. 7

Makna Hadits Larangan Selamatan Kematian. 9

Wasilah menuju Ma’tam.. 10

Pelarangan Secara Bertahap. 11

Atsar as-Salaf terhadap Selamatan Kematian. 13

Kesepakatan Para Ulama. 14

Tradisi Kaum Yahudi 16

Bid’ah Kaum Syiah Rafidhah. 17

Upaya Umar bin Abdul Aziz. 18

Penukilan dari Ulama Hanafiyah. 19

Penukilan dari Ulama Malikiyah. 21

Penukilan dari Ulama’ Syafi’iyah dan Biaya Selamatan. 23

Penukilan dari Ulama Hanabilah dan Rukhsah. 27

Dianjurkan Membuat ‘Atirah’ 29

Acara Aqr. 32

Open House untuk Takziyah. 33

Salah Tulis dan Salah Cetak. 37

Ratsa’ Mubah dan Ratsa’ Jahiliyah. 40

Membaca al-Quran pada Acara Ma’tam.. 43

Berhujah dengan Atsar al-Imam Thawus. 45

Berhujah dengan Atsar Ubaid bin Umair. 47

Sikap as-Suyuthi 50

Bersedekah untuk Mayit. 54

Wanita Bertakziyah. 59

Hindarilah Pendapat yang Menyendiri 61

Jawaban Mufti Makkah. 66

Terus-Menerus Terjadi 69

Khotimah. 70

 

 

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Amma ba’du:

Agama Islam tidak mengenal perpaduan budaya baik perpaduan Islam dengan ajaran Jahiliyah, perpaduan Islam dengan ajaran Yahudi atau Islam dengan ajaran kejawen. Allah ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Ayat di atas turun berkenaan dengan sebagian Ahlul Kitab yang masuk Islam kemudian meminta ijin agar tetap bisa mengagungkan hari Sabtu dan tetap bisa membaca Taurat ketika shalat malam. Kemudian turunlah ayat ini. (Fathul Qadir lisy Syaukani: 1/322, Tafsir al-Baghawi: 1/240 dan Tafsir Ibnu Katsir: 1/565).

Maka ketika seseorang telah masuk Islam, ia harus meninggalkan ajaran Yahudi, ajaran Jahiliyah dan lainnya yang ia anut sebelum masuk Islam.

Di antara ajaran Jahiliyah yang dihapus oleh Islam adalah tradisi selamatan kematian yang merupakan acara ikutan dari kegiatan meratapi mayit.

Anehnya di masa akhir-akhir ini muncul sebagian kaum muslimin yang membolehkan acara selamatan kematian untuk mayit selama tujuh hari dengan alasan riwayat dari Thawus bin Kaisan al-Yamani (ulama tabi’in wafat tahun 106 H) rahimahullah yang membolehkannya. Beliau berkata:

إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام

“Sesungguhnya orang-orang mati itu mendapatkan fitnah (pertanyaan Munkar dan Nakir) di kubur mereka selama 7 hari. Mereka senang memberikan makan atas nama mereka (orang-orang mati) pada hari-hari tersebut.”

Atsar seperti ini disebarkan oleh mereka yang mendukung acara ini di dalam kajian-kajian mereka dan di dalam ‘Bahtsul Masail’ mereka. Seolah-olah para ulama kita sejak berabad-abad yang lalu tidak mengetahui atsar ini kemudian mereka menemukannya untuk digunakan sebagai dalil tentang bolehnya selamatan kematian. Dan karena begitu banyaknya pendukung selamatan kematian maka terkesan seolah-olah selamatan kematian itu adalah sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan orang yang tidak mengadakannya apalagi mengingkarinya akan dianggap asing.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim: 389, at-Tirmidzi: 2629 dan Ibnu Majah: 3986).

Mereka juga mempersempit arti kata ‘Niyahah’ (meratap mayit) dalam bahasa Arab dengan arti menangis dan meraung-raung saja. Padahal arti ‘niyahah’ mencakup berkumpul di dalam suatu majelis untuk bersedih atas kematian. Al-Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi (pakar bahasa Arab, guru al-Imam Sibawaih, wafat tahun 173 H) rahimahullah berkata:

النَّوْحُ مصدر ناح يَنوحُ نَوْحاً ويقال نائحة ذات نياحة ونوّاحة ذات مناحة والمناحة أيضاً الاسم ويجمع على المناحات والمناوح والنَّوائح اسم يقع على النِّساء يَجْتمِعْنَ في مَناحة ويجمع على هذا المعنى على الأَنْواح

“An-Nauh (meratap), masdar dari Naaha-Yanuuhu-Nauhan. Disebut Na’ihah bagi wanita yang meratap dan Nawwahah bagi wanita yang mempunyai majelis meratap kesedihan. Manahah adalah majelis niyahah. Nawa’ih adalah wanita yang berkumpul di tempat meratap dan bentuk jamaknya adalah ‘Anwah’.” (Kitabul Ain: 3/304).

Pada tulisan ini, akan dibahas selamatan kematian dan seluk beluknya. Tidak lupa Penulis juga menukil pendapat ulama Syafi’iyah dan madzhab yang lainnya dalam permasalahan ini karena mayoritas kaum muslimin Indonesia mengamalkan fikih Syafi’iyah. Kemudian Penulis menjelaskan atsar al-Imam Thawus rahimahullah, atsar Ubaid bin Umair rahimahullah, sikap as-Suyuthi rahimahullah serta perbuatan penduduk Madinah yang dijadikan sandaran oleh mereka yang menasionalisasi kegiatan tahlilan atau selamatan kematian 7 hari.

Untuk membaca tulisan ini, dibutuhkan sikap terbuka dan membebaskan diri dari fanatisme atau ta’ashub madzhab atau hizbiyah serta memohon petunjuk kepada Allah Azza wa Jalla. Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ « أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah fanatisme (ta’ashub) itu?” Beliau menjawab: “Kamu membantu kaummu di atas kezaliman.” (HR. Abu Dawud: 5121 dan al-Baihaqi dalam al-Kubra: 21606 (10/234). Di-hasankan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Sunan Abu Dawud: 5119 (7/44)). Sehingga kita dilarang membela suatu pendapat yang jelas-jelas salah, hanya karena itu merupakan pendapat guru kita atau kelompok kita.

Akhirnya, tidak ada gading yang tak retak. Segala kebaikan adalah dari Allah ta’ala dan segala kekurangan adalah dari diri Penulis. Semoga tulisan ini bisa menambah ilmu dan ditulis sebagai amal shalih bagi Penulis. Amien.

Lamongan, 4 Dzulqa’dah 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Polemik Acara Halal Bihalal

Maktabah Thibbul Qulub
Polemik Acara Halal Bihalal
Menyikapi Tradisi Lebaran di Tanah Air
Dr. M Faiq Sulaifi
7/2/2017

 

 

Pembahasan Tradisi dalam Lebaran seperti Halal bi Halal, Sungkeman, Unjung-unjung, Rekreasi, Kirim Parcel dan sebagainya

 

 

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 2

Pengertian Halal bi Halal 3

Sisi Tauqifiyah Idul Fitri 3

Kelonggaran Idul Fitri dan Rekreasi 5

Tarian Zapin pada Hari Raya. 6

Berhias dan Memakai Baju Baru. 8

Saling Memberikan Hadiah dan Parcel 10

Mengunjungi Sanak Kerabat. 13

Keumuman Silaturahim.. 15

Berjabat Tangan dan Ucapan Selamat. 16

Tradisi Sungkeman. 19

Pengkhususan Ta’abbudi 22

Tradisi Ziarah Kubur. 24

Berlapang Dada dan Tidak Bersikap Keras. 26

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين وصلى الله على محمد خاتم النبيين وآله الطيبين الطاهرين أما بعد

Telah terjadi pembicaraan panjang lebar di kalangan Salafiyyin antara mereka yang memperbolehkan acara ‘Halal bi Halal’ yang sudah menjadi tradisi di Indonesia dengan mereka yang melarang acara ini. Mereka yang melarang kegiatan ini berpegang pada kaidah bahwa perkara ibadah yang bersifat umum seperti silaturahim, berjabat tangan dan bermaaf-maafan tidak boleh hanya dikhususkan pada hari raya Idul Fitri saja, karena termasuk ‘Bid’ah Idhafiyah’.

Di antara mereka yang mengkritisi ‘Halal bi Halal’ adalah al-Ustadz Anas Burhanuddin, Lc. MA, hafizhahullah. Beliau menulis sebuah artikel yang berjudul ‘Menyingkap Keabsahan Halal Bihalal’ dan berkata di dalam kesimpulannya:

“Dari paparan di atas, bisa kita simpulkan bahwa yang dipermasalahkan dalam halal bihalal adalah pengkhususan bermaaf-maafan di hari raya. Pengkhususan ini adalah penambahan syariah baru yang tidak memiliki landasan dalil. Jadi seandainya perkumpulan-perkumpulan yang banyak diadakan untuk menyambut Idul Fitri kosong dari agenda bermaaf-maafan, maka pertemuan itu adalah pertemuan yang diperbolehkan; karena merupakan ekspresi kegembiraan yang disyariatkan Islam di hari raya, dan batasannya merujuk ke adat dan tradisi masyarakat setempat. Tentunya jika terlepas dari pelanggaran-pelanggaran syariah, antara lain yang sudah kita sebutkan di atas.” (Lihat: https://muslim.or.id/6786-menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html).

Pada tulisan ini Penulis akan menjelaskan tentang kemudahan dan kelonggaran syariat Islam yang mulia ini di dalam perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, termasuk pengkhususan hari raya dengan adanya makanan, permainan, tarian, silaturahim, unjung-unjung, halal bi halal, berjabat tangan, saling berkirim parcel dan sebagainya.

Tujuan penulisan artikel ini bukanlah untuk mencari menang-menangan karena tidak sesuai dengan tujuan menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ

“Barangsiapa menuntut ilmu dengan maksud untuk membanggakan diri di depan ulama, atau membodohi  orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka ia di dalam neraka.” (HR. Ibnu Majah: 253 dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 26216 (5/285) dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 6382).

Dan juga bukan untuk menjatuhkan kehormatan seorang ustadz sebagaimana ciri khas Jamaah Tahdzir yang tidak bisa membedakan antara bantahan dan hujatan. Penulis meminjam ucapan Nabi Syuaib alaihissalam:

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88).

Nguwok Modo, 8 Syawal 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Pribadi Yang Bertakwa dan Berakhlak

Pribadi Yang Bertakwa dan Berakhlak

Disampaikan oleh dr. M Faiq Sulaifi dalam Khutbah Idul Fitri 1438 H di Lapangan Masjid Darussalam Baureno Bojonegoro

الحمد لله الذي لم يتخذ ولدا ولم يكن له شريك في الملك، وخلق كل شيء فقدره تقديرا، (تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا) [الفرقان:1].

الحمد لله الذي امتن علينا بنعمة الإسلام، وشرح صدورنا بنور الإيمان، وأفاض علينا بآلائه العظام حيث جعلنا من خير أمة أخرجت للناس، وأنزل علينا أعظم كتاب وأحكمه، ويسر لنا أمر طاعته، وبشر المتقين بجنته، وحذر المعرضين بأليم عقابه.

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة عبد يرجو برَّها وذخرها يوم العرض الأكبر، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله صاحب الحوض الأعظم، والمقام الأكرم، صلوات ربي وسلامه عليه وعلى آله وصحبه ومن اقتدى بسنته إلى يوم الفزع الأكبر.

الله أكبر. الله أكبر لا إله إلا الله. الله أكبر. الله أكبر. ولله الحمد. الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا.

الله أكبر بفضله، الله أكبر بحلمه وعفوه، الله أكبر بجوده وكرمه، الله أكبر رفع السماوات بغير عمد، وبسط الأرض بغير عنت، وسخر الليل والنهار للعمل والسكن، وأنزل الغيث على عباده برحمته، وسخر الأفلاك دائرة بحكمته وقدرته. (أما يعد)

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah Baca lebih lanjut

Kupas Tuntas tentang Takdir

[Pustaka Thibbul Qulub]
Kupas Tuntas tentang Takdir
Pemahaman Komprehensif tentang Qadha’ dan Qadar
 
Oleh Dr. M Faiq Sulaifi

 

 

 


 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 3

Pengertian Takdir. 5

Meliputi Empat Hal 6

Luasnya Ilmu Allah ta’ala. 8

Penulisan Takdir. 10

Kehendak-Nya Pasti Terlaksana. 11

Penciptaan Alam Semesta. 14

Catatan Induk di al-Lauh al-Mafuzh. 15

Menciptakan dalam Kegelapan. 18

Penentuan Nasib Manusia ketika Penciptaan Adam alaihissalam.. 18

Sejak Kapan Menjadi Nabi 20

Anak-anak Kaum Musyrikin. 20

Pemindahbukuan Tahunan. 23

Pemindahbukuan Individu. 24

Pelaksanaan Takdir Harian. 25

Evaluasi dan Pelaporan. 26

Apakah Takdir Bisa Berubah?. 28

Antara Berita Langit dan Dukun. 31

Untuk Apa Berusaha. 33

Larangan Membahas Takdir. 35

Adu Argumentasi antara Adam dan Musa alaihimassalam.. 36

Berhujah dengan Takdir atas Kemaksiatan. 38

Sekte Qadariyah dan Agama Majusi 41

Sekte Jabriyah atau Fatalisme. 43

Antara Ahlussunnah dan Asy’ariyah. 44

Kesimpulan. 47

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

الحمد لله الذي بعث النبيين مبشرين ومنذرين وأنزل معهم الكتاب بالحق ليحكم بين الناس فيما اختلفوا فيه وما اختلف فيه إلا الذين أوتوه من بعد ما جاءتهم البينات بغيا بينهم فهدى الله الذين آمنوا لما اختلفوا فيه من الحق بإذنه والله يهدي من يشاء إلى صراط مستقيم وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له كما شهد هو سبحانه وتعالى أنه لا إله إلا هو والملائكة وأولوا العلم قائما بالقسط لا إله إلا هو العزيز الحكيم

(أما بعد)

Beriman kepada Takdir atau Qadha’ dan Qadar merupakan kewajiban bagi orang yang beriman. Ibnu ad-Dailami –yaitu Abdullah bin Fairuz- rahimahullah berkata:

وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنْ الْقَدَرِ فَأَتَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ غَيْرَ ظَالِمٍ لَهُمْ وَلَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ لَهُمْ خَيْرًا مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَلَوْ كَانَ لَكَ جَبَلُ أُحُدٍ أَوْ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ ذَهَبًا أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا قَبِلَهُ اللَّهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَأَنَّكَ إِنْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ

“Terganjal dalam hatiku sesuatu yang menyangkut takdir. Maka aku datang kepada Zaid bin Tsabit radliyallahu anhu dan bertanya tentang hal tersebut. Beliau menjawab: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya Allah memberikan siksa kepada penduduk langit-Nya dan penduduk bumi-Nya, maka Allah tidaklah berbuat zhalim kepada mereka. Seandainya Allah memberikan rahmat kepada mereka, maka rahmat-Nya lebih baik daripada amal perbuatan mereka. Dan seandainya kamu mempunyai emas sebesar gunung Uhud yang kamu infakkan di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya kecuali kamu beriman kepada takdir-Nya dan kamu meyakini bahwa perkara yang menimpamu (dalam catatan takdir, pen) tidak akan terluput darimu dan perkara yang luput darimu (dalam catatan takdir, pen) tidak akan menimpamu. Dan jika kamu mati dalam keadaan tidak meyakini ini maka kamu masuk neraka.” (HR. Ahmad: 21611, Abu Dawud: 4701 dan Ibnu Majah: 77. Isnadnya di-shahih-kan oleh al-Bushiri dalam al-Ithaf: 187 (1/166). Al-Albani men-shahih-kannya dalam Takhrij al-Misykat: 115 (1/25)).

Kemudian di dalam menyikapi ayat al-Quran dan hadits-hadits tentang takdir dan juga berita gaib lainnya, seorang mukmin hendaknya beriman dan yakin dengan berita-berita tersebut meskipun tidak dapat dijangkau oleh nalar, logika ataupun sulit dibayangkan.

Allah ta’ala berfirman:

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

“Orang-orang yang berilmu secara mendalam akan berkata, “Kami beriman dengan berita tersebut. Segala sesuatu (dari berita tersebut, pen) berasal dari Rabb kami.” (QS. Ali Imran: 7).

Oleh karena itu kita dilarang menolak sebuah ayat atau hadits shahih tentang takdir atau berita lainnya hanya karena bertentangan dengan logika kita atau karena rasio kita tidak mampu menjangkaunya.

Al-Allamah Ibnul Wazir al-Yamani (wafat tahun 840 H) rahimahullah berkata:

ولا شكَّ أن تَطَلُّب علم ما لا يُعْلَمُ، والشَّرَهَ في ذلك وتحكيم بادىء الرأي فيه، وتقديمه على النصوص هو أساس كلِّ فسادٍ، ولذلك نسبه الله في القرآن إلى السُّفهاء..الخ

“Dan tidak diragukan lagi bahwa memaksa dan bersikeras untuk mengetahui sesuatu yang tidak diketahui, menjadikan nalar yang pendek ini untuk menghukuminya serta mendahulukan akal daripada teks (ayat atau hadits, pen), itu semua adalah dasar dari segala kerusakan. Oleh karena itu Allah ta’ala menyebut orang yang demikian di dalam al-Quran sebagai orang-orang yang dungu..dst.” (Al-Awashim wal Qawashim fidz Dzabbi an Sunnati Abil Qasim: 5/339).

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi al-Maliki (wafat 790 H) rahimahullah berkata:

أَحَدُهُمَا: أَنْ لَا يُجْعَلَ الْعَقْلُ حَاكِمًا بِإِطْلَاقٍ، وَقَدْ ثَبَتَ عَلَيْهِ حَاكِمٌ بِإِطْلَاقٍ وَهُوَ الشَّرْعُ، بَلِ الْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقَدَّمَ مَا حَقُّهُ التَّقْدِيمُ – وَهُوَ الشَّرْعُ – وَيُؤَخِّرُ مَا حَقُّهُ التَّأْخِيرُ – وَهُوَ نَظَرُ الْعَقْلِ – لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ تَقْدِيمُ النَّاقِصِ حَاكِمًا عَلَى الْكَامِلِ،

“Pertama: Akal tidak boleh dijadikan hakim secara mutlak. Dan telah tetap bahwa yang menghakimi akal secara mutlak adalah syariat. Bahkan yang wajib baginya adalah mendahulukan perkara yang wajib didahulukan, yaitu syariat, dan mengalahkan perkara yang wajib dikalahkan, yaitu pandangan akal. Ini karena tidaklah dibenarkan mendahulukan perkara yang kurang (yaitu akal, pen) sebagai hakim bagi perkara yang sempurna (yakni syariat, pen)..dst.” (Al-I’tisham lisy Syathibi, tahqiq al-Hilali: 2/480).

Akhirnya semoga tulisan ini memberikan tambahan pencerahan dan keimanan kepada Allah ta’ala serta Qadha’ dan Qadar-Nya. Amien.

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

Nguwok Modo, 18 Ramadhan 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi

Baca lebih lanjut

Penyalahgunaan al-Jarh wat Ta’dil

 Penyalahgunaan al-Jarh wat Ta’dil
[Refreshing ‘Ulumul Hadits’]
Sekilas tentang Ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil, Radd atau Bantahan kepada Ahlul Bid’ah, Manhaj Muwazanah, ‘al-Inshaf’, Menghukumi Manusia dan Khabar (Berita) Orang Tsiqat
Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukaddimah. 3

Batasan al-Jarh wat Ta’dil 7

Al-Jarh wat Ta’dil dalam Persaksian Pengadilan. 9

Apakah al-Jarh wat Ta’dil sudah Selesai Masanya. 10

Jawaban Shalih Fauzan dan Ibnu Utsaimin. 19

‘Nasehat’ menurut Ibnu Taimiyah. 21

Termasuk Bab Dharurat dan Hajat. 23

Sisi Lain al-Jarh wat Ta’dil 25

Membantah Ahlul Bid’ah. 27

Membantah Tanpa Menyebutkan Nama. 28

Membantah dengan Santun. 30

Muwazanah dalam Tahdziran dan Bantahan. 31

Pengertian ‘al-Inshaf’ 37

Keutamaan ‘al-Inshaf’ 38

Muwazanah dalam al-Jarh wat Ta’dil 39

Antara ‘Adil’ dan ‘Fasiq’ 47

Indahnya Ucapan asy-Syafi’i 50

Muwazanah adalah Ijma’ Ulama. 52

Perkara Bid’ah pada Perawi 53

Muwazanah untuk Sifat Dhabith. 58

Antara Persaksian dan Periwayatan. 60

‘Tsiqat’ melalui Mayoritas. 60

Antara Pengkritik yang Adil dan Pengkritik yang Mutasyaddid. 61

Muwazanah ala Murjiah. 62

Antara Khabar Tsiqat dan Masalah Ijtihadiyah. 69

Kaidah ‘al-Jarh al-Mufassar’ 78

Ulama Seusia dan Semasa. 85

Antara ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan Vonis Tabdi’ dan Tafsiq. 90

Sering Mencela Sehingga Dijauhi 94

Penutup. 96

 

 

 

 

 

Mukaddimah

الحمد لله الذي رفع بعض خلقه على بعض درجات، وميز بين الطيب والخبيث بالدلائل والسمات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ذو الاسماء الحسنى والصفات وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث بالايات البينات، والحجج النيرات، الآمر بتنزيل الناس ما يليق بهم من المنازل والمقامات صلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه الانجاب الكرماء الثقات

أما بعد:

Di masa sekarang ini terjadi sikap ghuluw di dalam penerapan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Mereka yang mengaku ‘Salafi’ gemar mentahdzir para ulama as-Sunnah, para da’i as-Sunnah hanya karena beberapa kesalahan yang mereka lakukan. Banyak ulama dan pakar yang dijatuhkan kehormatannya oleh kelompok ini dengan alasan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Benarkah demikian?

Di antara contohnya adalah tahdzir terhadap Dr Zakir Naik hanya karena beberapa kesalahan yang beliau lakukan. Yang melakukan tahdzir adalah Ustadz Luqman Ba’abduh. Ia berkata: “Hadza (Dr. Zakir Naik, pen) Jahil..Jahil! Ya. Barakallah fiikum… Maka wajib al-Jarh wat Ta’dil, jarh ala majruhin wa Ta’dil ash-Shalihin. Mengkritisi, mentahdzir ummat dari ahlul batil, ahlul jarh, dan merekomendasi, memuji, mengajak ummat kepada ahlu al-Adl, ash-Shalihin.” (Mengenal Akidah dan Manhaj Zakir Naik, menit: 8:10-8:18).

Padahal tidak ada seorang ulama dakwah pun yang menyatakan bahwa Dr. Zakir Naik adalah orang sesat. Bahkan beliau mendapatkan penghargaan bergengsi dari Raja Salman Saudi Arabia (king Faisal Award) atas jasanya terhadap Islam. Acara pemberian hadiah ini langsung dihadiri oleh Raja Salman, para menteri, anggota keluarga kerajaan, pejabat senior, akademisi dan sejumlah ulama terkemuka. (Lihat: http://www.muslimdaily.net/berita/zakir-naik-terima-penghargaan-dari-raja-saudi.html)

Mereka juga mudah sekali mengeluarkan seorang ulama as-Sunnah dari Manhaj as-Salaf dengan alasan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Ini bisa dilihat dari pertanyaan yang berjudul Apakah Syaikh Abdurrazzaq Al Badri masih berjalan diatas manhaj salaf?” yang kemudian dijawab secara panjang lebar oleh Ust Askari dari kalangan Jamaah Tahdzir. Lihat: https://www.thalabilmusyari.web.id/2016/08/syaikh-abdurrazzaq-dan-penjelasan.html).

Sehingga dengan beberapa kesalahan saja, seorang ulama dan pakar yang banyak berjasa dan ber-khidmat di dalam agama ini- mudah begitu saja dijatuhkan oleh mereka.

Al-Imam Amir bin Syurahil asy-Sya’bi (wafat tahun 103 H) rahimahullah berkata:

والله لو أصبت تسعاً وتسعين مرة، وأخطأت مرة، لأعدوا على تلك الواحدة

“Demi Allah, seandainya aku berbuat benar 99 kali dan berbuat salah sekali, maka mereka akan menganggapku tercela dengan satu kesalahan tersebut.” (Siyar A’lamin Nubala’: 4/308).

Mereka juga berdalil dengan jawaban asy-Syaikh Rabi’ ketika membantah sebagian ulama yang menyatakan bahwa ‘al-Jarh wat Ta’dil’ hanya khusus pada jaman perawi hadits, tidak berlaku untuk saat ini. Beliau menyatakan:

هذا من الضياع وعدم الفقه في دين الله عز وجل، فالسلف ألّفوا كتبا في العقائد ينتقدون فيها أهل البدع والضلال وسمّوا أفرادا وجماعات فهل هذا يعني انتهى أيضا؟! ونقول: إن المبتدعين الذين كانوا في عهد السلف يناقشون ويُبيّن ضلالهم والآن لا يجوز, حرام, الآن الكلام على أهل البدع حرام

“Ini (pernyataan bahwa al-Jarh wat Ta’dil tidak berlaku di jaman ini, pen) adalah termasuk menyia-siakan agama, dan menunjukkan tidak adanya pemahaman terhadap agama Allah azza wajalla. As-Salaf menulis kitab-kitab dalam bidang akidah yang mana mereka mengkritik ahlul bid’ah dan orang-orang sesat dalam kitab tersebut. Mereka juga menyebutkan orang per orang, kelompok per kelompok. Apakah ini sudah selesai (yakni: tidak berlaku, pen)?? Kami katakan: Ahlul bid’ah pada masa as-Salaf itu didebat, dibantah dan dijelaskan kesesatan mereka, kemudian pada masa sekarang dilarang (membantah, pen) dan haram. Sekarang membicarakan ahlul bid’ah haram..dst.” (Lihat: http://www.rabee.net/ar/save.php?typ=2&newsid=57).

Mereka juga menolak manhaj ‘Muwazanah’ (menimbang antara kebaikan dan keburukan perawi hadits, pen) dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dengan hanya bersandar pada pernyataan asy-Syaikh Rabi’:

وبهذه المناسبة أقول لكم: إن الحاكم -رحمه الله- في كتابه “معرفة علوم الحديث” قال -وكلامه حق- : الجرح والتعديل علمان: علم الجرح وهو علم مستقل، وهذا يرد منهج الموازنات الباطل, علم الجرح علم مستقل ولهذا ألّف كثيرٌ من الأئمة كتباً مستقلة في الجرح فقط, خصّصوها للجرح، مثل البخاري في الضعفاء والنسائي في المتروكين وابن حبان في المجروحين وابن عدي في الكامل وهكذا الذهبي وابن حجر وغيرهم، كثيرون ألفوا مؤلفات خاصة بالجرح فقط، لأنه علم مستقل, وهذا يقصم ظهر منهج الموازنات ويقصم ظهور أهله، وأئمة آخرون ألفوا كتباً في الثقات مثل الثقات للعجلي والثقات لابن حبان، عرفتم هذا ؟ إذا كان السلف يؤمنون بأن الجرح والتعديل علمان مستقلان فكيف تأتي الموازنات, واحد يؤلّف كتابا خاصا بالجرح ليس فيه أيّ ثغرة لمنهج الموازنات, فهمتم هذا، بارك الله فيكم.

“Pada kesempatan ini aku berkata kepada kalian: Sesungguhnya al-Imam al-Hakim rahimahullah berkata dalam kitabnya ‘Ma’rifah Ulumil Hadits’ –dan ucapannya adalah benar-: “Al-Jarh wat Ta’dil itu terdiri dari 2 ilmu; ilmu al-Jarh, yaitu ilmu yang berdiri sendiri. Ini membantah ‘Manhaj Muwazanah’ yang batil. Ilmu al-Jarh (yakni: mencela perawi, pen) itu ilmu yang berdiri sendiri. Oleh karena itu kebanyakan para imam menulis tersendiri kitab-kitab yang khusus membahas al-Jarh saja. Mereka hanya mengkhususkan dengan mencela para perawi saja, seperti al-Bukhari dalam adh-Dhu’afa’, an-Nasa’i dalam al-Matrukin, Ibnu Hibban dalam al-Majruhin, Ibnu Adi dalam al-Kamil. Demikian pula adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar dan selain mereka. Banyak sekali yang menulis kitab khusus tentang al-Jarh (mencela perawi, pen) saja, karena memang ilmu yang berdiri sendiri. Maka ini menghantam punggung ‘Manhaj Muwazanah’ dan juga menghantam punggung para pengikutnya. Sedangkan ulama yang lainnya menulis kitab tentang orang-orang tsiqat seperti ats-Tsiqat karya al-Ijli, ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban. Apa kalian mengetahui ini? Jika as-Salaf itu mengimani bahwa al-Jarh wat Ta’dil itu 2 ilmu yang berdiri sendiri, maka bagaimana bisa datang konsep ‘al-Muwazanah’? Seorang ulama menulis kitab khusus tentang al-Jarh yang mana tidak ada celah terhadap ‘Manhaj Muwazanah’. Kalian mengerti ini? Barakallah fiikum.” (Lihat: http://www.rabee.net/ar/save.php?typ=2&newsid=57).

Intinya kesalahan dan penyimpangan dari ‘Jamaah Tahdzir’ ini terkumpul pada tiga hal:

Pertama: membuka, menerapkan dan memberlakukan ‘al-Jarh wat Ta’dil’ secara serampangan kepada para ulama as-Sunnah dan dai-dai mereka di jaman ini.

Kedua: antipati dan memusuhi terhadap ‘Manhaj Muwazanah’ di dalam menilai para perawi hadits.

Ketiga: berlebih-lebihan dalam melakukan ‘al-Jarh’ atau mencela Ahlussunnah yang tergelincir.

Dalam tulisan ini Penulis –insya Allah- menjelaskan batilnya manhaj ‘Jamaah Tahdzir’ ini dan bid’ahnya manhaj ‘Anti Muwazanah’ yang lagi nge-trend di jaman ini. Di antara dampak bahaya dari pemikiran ini adalah mudahnya mereka menjatuhkan kehormatan kaum muslimin dan para da’i mereka hanya karena beberapa kesalahan saja, tanpa mempertimbangkan kebaikan-kebaikan mereka, atas nama ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang kita dari mencari-cari kesalahan para ulama, para da’i dan orang-orang shalih. Beliau bersabda:

أقِيلُوا ذَوِي الهيئاتِ عَثَراتِهم إلا الحُدُودَ

Maafkanlah orang-orang yang mulia ketika mereka terjatuh dalam kesalahan, kecuali hukum hadd.” (HR. Abu Dawud: 4377, Ahmad: 25474 dan al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad: 465 (165) dari Aisyah radliyallahu anha. Hadits ini di-hasan-kan oleh ash-Shan’ani dalam at-Tanwir: 3/22-3 dan di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 1185).

Al-Imam Syarafuddin ath-Thibi asy-Syafi’i (wafat tahun 743 H) rahimahullah berkata:

والمراد بـ ((ذوي الهيئات)) أصحاب المروءات والخصال الحميدة. وقيل: ذوو الوجوه بين الناس، (وبالعثرات) صغائر الذنوب، وما يندر عنهم من الخطايا..الخ

“Yang dimaksud dengan ‘Orang-orang yang mulia’ adalah orang-orang yang memegangi sikap ‘muru’ah’ dan mempunyai banyak sifat yang terpuji. Ada yang menyatakan bahwa mereka adalah yang terpandang di kalangan manusia. Yang dimaksud dengan ‘kesalahan di sini’ adalah dosa-dosa kecil dan kesalahan yang jarang terjadi pada mereka..dst.” (Al-Kasyif an Haqa’iqis Sunan Syarh Misykatil Mashabih: 8/2523).

Al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i (wafat tahun 1031 H) rahimahullah berkata:

وخرج بذوي الهيئات من عرف بالأذى والعناد بين العباد فلا يقال له عثار بل تضرم عليه النار..الخ

“Dan yang dikecualikan dari pengertian ‘Orang-orang yang mulia’ adalah orang yang dikenal senang menzhalimi dan dikenal dengan penyimpangannya di kalangan manusia. Maka tidak boleh dikatakan bahwa dia terjatuh dalam kesalahan, tetapi dia diancam dengan dinyalakannya api neraka untuknya..dst.” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 2/94).

Hadits di atas menunjukkan perlunya menimbang atau ‘Muwazanah’ sebelum menghukumi manusia.

Akhirnya Penulis mengutip ucapan al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) rahimahullah:

ونحب السنة وأهلها، ونحب العالم على ما فيه من الاتباع والصفات الحميدة، ولا نحب ما ابتدع فيه بتأويل سائغ، وإنما العبرة بكثرة المحاسن

“Kami mencintai as-Sunnah dan pengikutnya. Kami juga mencintai seorang alim dengan sifat mengikuti as-Sunnah dan sifat terpuji lainnya yang ada padanya. Dan kami membenci perbuatan bid’ahnya dengan penakwilan yang diperbolehkan. Yang dianggap adalah banyaknya kebaikan (pada orang alim tersebut, pen).” (Siyar A’lamin Nubala’: 20/46).

Babat, 8 Jumadal Akhirah 1437 H

dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Penjelasan Hadits Perpecahan Umat

[ Kajian Manhaj]
Penjelasan Hadits Perpecahan Umat
(Membantah Ust Afifuddin as-Sidawi yang ‘Gagal Faham’)
Oleh dr.  M Faiq Sulaifi
[]

 

 

 


 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 2

Takhrij Hadits Iftiraqil Ummah. 4

Ibnu Taimiyah Menganggap Global 6

Ibnu Utsaimin Menganggap Global 7

Hadits-Hadits Global 9

Penentuan Kelompok Sempalan. 11

Kelompok Jamaah Kontemporer. 13

Masalah Lazimul Madzhab. 19

Melakukan Ta’yin terhadap Ahlul Kiblat. 22

Adakah Firqah Salafiyah?. 26

Al-Firqatun Najiyah. 31

Kata Ba’abduh, Muwazanah itu Sururi 33

Antara ar-Ruhaili dan as-Suyuthi 40

Penutup. 43

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

الحمد لله حمد الشاكرين والصلاه والسلام على خير خلق رب العالمين محمد صلى الله عليه وسلم وعلى اصحابه وال بيته ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين

‘Amma ba’du’

Beberapa minggu yang lalu Penulis mendapatkan kiriman rekaman tentang sebuah dauroh yang diadakan oleh Ma’had al-Faruq di Banyumas pada tanggal 1 Maret 2015 dengan tema ‘Mewaspadai Amalan Penghuni Neraka’. Di dalam rekaman tersebut seorang ustadz yang bernama Afifuddin as-Sidawi menerangkan hadits ‘Perpecahan Umat’ sesuai dangan selera dan hawa nafsunya. Dalam rekaman kajian itu ia menyatakan: “DALAM HADITS YANG MASYHUR YANG MA’RUF, HADITS ‘IFTIRAQIL UMMAH’, RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM BERSABDA:

وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ

“UMAT INI AKAN TERPECAH MENJADI 73 MILLAH; 73 AJARAN, SEKTE ATAU PEMAHAMAN. 72 DALAM NERAKA DAN  SATU YANG DIKECUALIKAN DI SURGA.”

“YANG SATU ITU ADALAH YANG SESUAI DENGAN SUNNAH AR-RASUL SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM DAN SESUAI DENGAN PEMAHAMAN ASH-SHAHABATUL KIRAM RADLIYALLAHU TA’ALA ANHUM AJMA’IN. BERARTI SEMUA BENTUK KESESATAN, SEMUA BENTUK PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN, SEMUA ORANG-ORANG YANG SESAT YANG MENYIMPANG, SEMUA PERGERAKAN-PERGERAKAN YANG MENYIMPANG, SEMUA JAMA’AH-JAMA’AH YANG MENYIMPANG, SEKTE-SEKTE YANG MENYIMPANG; NERAKA TEMPATNYA. ‘FINNAAR’ DIANCAM DENGAN NERAKA. BARAKALLAH FIIKUM. ANTUM BISA MENGHUKUMI SECARA UMUM DENGAN MENYEBUTKAN LANGSUNG SEKTE-SEKTENYA. ANTUM MENGATAKAN KHAWARIJ FINNAAR (DI NERAKA, PEN), RAFIDHAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), MU’TAZILAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAHMIYAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), ASY’ARIYAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN). BISA, ITU SECARA UMUM, DIKATAKAN MEREKA TERMASUK FIRQAH-FIRQAH YANG SESAT. ANTUM BISA MENGATAKAN IKHWANUL MUSLIMIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HIZBUT TAHRIR FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAMAAH TABLIGH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), SURURIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HADDADIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HALABIYUN, RUHAILIYUN FINNAAR (DI NERAKA, PEN). BISA, SECARA UMUM, DIKARENAKAN MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SESAT, TERMASUK DI DALAM FIRQAH-FIRQAH, SEKTE-SEKTE YANG SESAT. MAKA WASPADAI MEREKA SEMUA. BARAKALLAH FIIKUM. WASPADAI MEREKA SEMUA, BARAKALLAH FIIKUM. BAHKAN DI ANTARA SEKTE-SEKTE TADI, BARAKALLAH FIIKUM. SEKTE YANG DINYATAKAN KAFIR OLEH PARA ULAMA, SEHINGGA BUKAN TERMASUK SEKTE ISLAM YANG DIANCAM NERAKA. TAPI SUDAH MASUK DALAM KATEGORI KAFIR. DIHUKUMI SAMA DENGAN ORANG-ORANG KAFIR, SEMACAM RAFIDHAH ISMAILIYAH, QARAMITHAH, RAFIDHAH NUSHAIRIYAH, DAN SEMISAL MEREKA, YANG DINYATAKAN KAFIR OLEH PARA ULAMA, ITU KUFFAR, TERMASUK ORANG-ORANG KAFIR. JELAS ANCAMANNYA. YANG DIMAUKAN DALAM RIWAYAT NABI ADALAH ORANG-ORANG YANG MASIH BERBAJU ISLAM, MENGAKU SEBAGAI MUSLIM, BAHKAN MENGAKU SEBAGAI SUNNI, BAHKAN MENGAKU SEBAGAI SALAFI, TERNYATA DIA TERMASUK AL-FIRAQUDH DHALLAH, FIRQAH YANG SESAT. MAKA SEMUA DIKATAKAN FINNAAR, TERMASUK PENGHUNI NERAKA. MAKA KITA HARUS MEWASPADAI SEMUA DAN SEGALA BENTUK ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG, SEGALA BENTUK PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN, SEGALA MACAM BENTUK PEMAHAMAN-PEMAHAMAN YANG SESAT. KALAU TIDAK, DIANCAM DENGAN ANCAMAN YANG SAMA, ANCAMAN NERAKA, BARAKALLAH FIIKUM. SEHINGGA AHLUNNAAR LEBIH BANYAK DARIPADA AHLUL… AHLUL JANNAH, DIKATAKAN FIRQAH-FIRQAH YANG SESAT LEBIH BANYAK DARIPADA..DST.” (Demikian kurang lebih isi sebagian ceramahnya)

Penulis berkata:

Lihatlah betapa ngerinya penjelasan ustadz ini!! Langsung melakukan ta’yin (vonis) terhadap jamaah atau orang-orang jaman sekarang sebagai penghuni neraka.. ngeri sekali dan membikin bulu kuduk berdiri.

Padahal tidak dijumpai ulama pendahulu kita yang melakukan ta’yin ketika menjelaskan hadits ‘Iftiraqul Ummah’. Tidak ada seorang pun sebelum kita ulama yang menyatakan kelompok Fulan di neraka, jamaah Allan di neraka dan seterusnya.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengingatkan kita agar tidak lancang membahas sesuatu. Beliau menyatakan:

إِيَّاكَ أَنْ تَتَكلّمَ فِي مَسْأَلَةٍ لَيْسَ لَكَ فِيْهَا إِمَامٌ

“Berhati-hatilah dari berbicara dalam suatu masalah yang mana tidak ada seorang imam pun yang mendahuluimu dalam masalah tersebut!” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/296 dan Manaqib al-Imam Ahmad: 245).

Dan tidak takutkah dia akan ancaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat, yang mana dengannya ia turun ke neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Muslim: 7672 dan al-Bukhari: 6477 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu).

Pada tulisan ini akan dijelaskan beberapa kaedah tentang pembid’ahan yang dianut oleh Ust Afifuddin dan kelompoknya yang merupakan hasil dari ‘gagal faham’ terhadap Manhaj Salaf. Semoga tulisan ini bisa memberikan tambahan ilmu dan pencerahan bagi Pembaca. Amien.

اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِي رُشْدِي وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي

Babat, 13 Rabi’ul Akhar 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Sunnah Tarkiyah dan Bid’ah Idhafiyah menurut Ulama Syafi’iyah

 

 

 

Sunnah Tarkiyah dan Bid’ah Idhafiyah menurut Ulama Syafi’iyah
Dialog di Kalangan Syafi’iyah tentang Bid’ah Idhafiyah dan Sunnah Tarkiyah
dr. M Faiq Sulaifi
 
 

 

 

Daftar Isi

Mukaddimah. 3

Pengertian Bid’ah. 9

Pengertian Sunnah Tarkiyah. 10

Sunnah Tarkiyah menurut Ulama Syafi’iyah. 14

Cara Menukilkan Sunnah Tarkiyah. 17

Antara ‘Tidak Ada Penukilan’ dan ‘Dinukilkan Tidak Ada’ 18

Memungut Zakat Sayuran dan Logam.. 21

I’tikaf di Selain Masjid. 22

Merutinkan Bacaan Ayat Fadhilah. 23

Melafalkan Niat. 23

Mendirikan Shalat Jumat bagi Kafilah. 24

Membantah Kebid’ahan dan Pelakunya. 25

Melanggar Sunnah Tarkiyah Berarti Melakukan Bid’ah. 25

Wudhu dengan Urutan Terbalik. 26

Hanya dalam Ranah Ta’abbudi 27

Qiyas dalam Ranah Ta’abbudi 29

Mengangkat Tangan ketika Berdoa. 31

Maslahat Mursalah. 33

Antara Maslahat Mursalah dan Bid’ah Hasanah. 35

Bid’ah Hasanah menurut al-Imam asy-Syafi’i 39

Makna Hadits tentang Bid’ah. 42

Perkara yang Dapat Dipahami Maksudnya. 44

Bid’ah Idhafiyah. 47

Shalat Dhuha Berjamaah. 48

Dzikir Berjamaah. 49

Pengkhususan Waktu Ibadah. 51

Pengkhususan Tempat Tertentu dengan Ibadah. 53

Mengkhususkan Ibadah di Kuburan Wali 54

Mengkhususkan Jabal Ramah sebagai Tempat Wukuf. 55

Pengkhususan Keadaan dan Tatacara Tertentu dengan Ibadah. 56

Mengubah Lafazh Dzikir. 59

Bacaan Ayat Kursi untuk Acara Tahlilan. 61

Berjabat Tangan setelah Shalat. 62

Anjuran Shalat Raghaib. 63

Pengkhususan Ziarah Kubur. 64

Antara Sunnah Taqririyah dan Mengadakan Bid’ah. 68

Tergelincir dalam Sikap Istihsan. 71

Dialog antara Syafi’i dan Hanafi 72

Luasnya Dzikir dalam Shalat. 76

Tingkatan Bid’ah. 80

Sikap terhadap Ahlul Bid’ah. 81

Boikot terhadap  Ahli Bid’ah. 82

Agama Sudah Sempurna. 85

Penutup. 86

 

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمد عبده ورسوله.

(Amma ba’du)

Sebagian kaum muslimin -yang menyukai kegiatan istighatsah secara berjamaah dan ziarah makam para wali- membolehkan kegiatan pengkhususan ibadah pada waktu-waktu tertentu dengan dalil-dalil keumuman ibadah. Menurut mereka terdapat dalil shahih yang membolehkan peng-khususan ibadah yang bersifat umum tersebut.

Di antara dalil tersebut –menurut mereka- adalah hadits Ibnu Umar radliyallahu anhuma. Beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُه

“Nabi SAW selalu mendatangi masjid Quba setiap hari sabtu baik dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai kendaraan, sedangkan Abdullah selalu melakukannya.” (HR. Al-Bukhari: 1118, Muslim: 2483).

Kemudian mereka membawakan komentar al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah:

وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم

“Di dalam hadits ini dengan sekian jalur yang berbeda terdapat dalil diperbolehkannya menjadikan hari-hari tertentu untuk sebuah ritual yang baik dan istiqamah. Hadits ini juga menerangkan bahwa larangan bepergian ke selain tiga masjid (Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsa, dan Masjid Nabawi) tidaklah haram (tetapi hanya makruh, pen).” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 3/69).

Dan masih banyak alasan-alasan mereka untuk membolehkan peng-khusus-an ibadah yang bersifat umum. Mereka juga menyatakan bahwa larangan tersebut hanyalah pendapat kaum Wahabi (Salafy) yang suka mengada-ada. Begitulah anggapan mereka. Ini bisa dilihat dalam situs mereka https://salafytobat.wordpress.com/category/dalil-shahih-bolehnya-mengkhususkan-amal-ibadah-pada-hari-hari-tertentu/.

Mereka juga menolak Manhaj Sunnah Tarkiyah dengan alasan bahwa penetapan ‘sunnah tarkiyah’ adalah monopoli kaum Wahabi saja. Banyak di antara mereka yang merujuk pada buku yang berjudul “Husnut Tafahhum wad Darki fi Mas’alatit Tarki” tulisan Abdullah bin Shiddiq al-Ghummari di dalam menolak sunnah tarkiyah. Sehingga mereka tetap saja melaksanakan amalan-amalan yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam –dan dikategorikan sebagai sunnah tarkiyah- seperti dzikir berjamaah, tahlilan,  istighatsahan dan sebagainya.

Pada tulisan ini akan dipaparkan pendapat-pendapat ulama Syafi’iyah di dalam larangan peng-khusus-an ibadah yang bersifat umum atau bid’ah idhafiyah dan pendapat-pendapat mereka tentang ‘Sunnah Tarkiyah’.

Mengapa hanya dikhususkan dengan pembahasan ulama ‘Syafi’iyah’ saja, bukan ‘Hanafiyah’ atau ‘Malikiyah’ atau ‘Hanabilah’ dan sebagainya?

Alasan pertama: karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mempelajari dan mengamalkan fikih ulama ‘Syafi’iyah’. Tetangga kita, teman sekantor dan orang-orang yang bermuamalah dengan kita di masjid, di pasar dan sebagainya kebanyakannya ‘mengaku’ mengikuti “Syafi’iyah”. Para tokoh dan kyai yang sedang kita bantah juga Syafi’iyah. Maka sebagai bentuk hikmah dalam dakwah dan ta’liful qulub (menjinakkan hati) hendaknya kita memperkenalkan Manhaj Salaf kepada mereka melalui ulama Syafi’iyah.

Dan demikianlah adab dalam berdakwah. Maka ketika kita berada di tengah-tengah kaum muslimin yang menggunakan fikih Hanabilah, maka kita pun mengajarkan Manhaj Salaf kepada mereka melalui ulama Hanabilah.

Al-Imam Malik bin Anas (wafat tahun 179 H) rahimahullah berpesan kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur al-Abbasi:

فان ذهبت تحولهم مما يعرفون إلى ما لا يعرفون رأوا ذلك كفرا ولكن أقر أهل كل بلدة على ما فيها من العلم وخذ هذا العلم لنفسك

“Jika Anda berusaha mengubah mereka (kaum muslimin, pen) dari ilmu yang mereka kenal menuju ilmu yang belum mereka kenal, maka mereka akan menilai pendapat Anda sebagai kekufuran. Akan tetapi biarkanlah masing-masing negeri memegang ilmu (madzhab) yang dipakai di negeri tersebut. Dan ambillah pendapat Anda untuk diri Anda sendiri!” (Al-Jarh wat Ta’dil li Ibni Abi Hatim: 1/29).

Demikian pula nasehat al-Imam al-Qadhi Abu Ya’la Ibnul Farra’ al-Hanbali (wafat tahun 458 H) rahimahullah kepada seseorang yang ingin berpindah dari Madzhab Syafi’i ke Madzhab Hanbali:

فإنك إذا كنت في بلدك على مذهب أحمد وباقي أهل البلد على مذهب الشافعي لم تجد أحدا يعبد معك ولا يدارسك، وكنت خليقا أن تثير خصومة وتوقع نزاعا، بل كونك على مذهب الشافعي حيث أهل بلدك على مذهبه أولى

“Jika kamu di negerimu bermadzhab Hanbali, sedangkan semua penduduknya bermadzhab Syafi’i, maka kamu tidak akan menemukan orang yang beribadah bersamamu dan orang yang menjadi teman diskusimu. Dan kamu akan menjadi orang yang memicu perselisihan dan perdebatan di antara mereka.” (Al-Muswaddah fi Ushulil Fiqh: 483).

Cara berdakwah seperti inilah yang sesuai dengan hikmah dakwah. Ketika Addas datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bertanya:

وَمِنْ أَهْلِ أَيّ الْبِلَادِ أَنْتَ يَا عَدّاسُ ، وَمَا دِينُك ؟ قَالَ نَصْرَانِيّ ، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ نِينَوَى . فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مِنْ قَرْيَةِ الرّجُلِ الصّالِحِ يُونُسَ بْنِ مَتّى ؟ فَقَالَ لَهُ عَدّاسٌ : وَمَا يُدْرِيك مَا يُونُسُ بْنُ مَتّى ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ذَاكَ أَخِي ، كَانَ نَبِيّا وَأَنَا نَبِيّ ، فَأَكَبّ عَدّاسٌ عَلَى رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُقَبّلُ رَأْسَهُ وَيَدَيْهِ وَقَدَمَيْهِ

“Wahai Addas! Kamu berasal dari penduduk negeri mana? Dan apa agamamu?” Addas menjawab: “Aku seorang nasrani. Aku berasal dari negeri Nineveh.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Dari desa seorang shalih yang bernama Yunus bin Matta?” Addas balik bertanya: “Apakah yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Beliau adalah saudaraku. Beliau itu seorang nabi dan aku pun seorang nabi.” Maka Addas tertunduk mencium kepala, kedua tangan dan kedua telapak kaki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah: 2/416 dan Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shahabah: 5615 (4/2262) secara mursal dari az-Zuhri, ath-Thabari dalam Tarikhnya: 1/554 secara mursal dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dan Ibnu Mandah dalam al-Mustakhraj: 1/73 dari Sulaiman at-Taimi secara mursal. Kisah ini di-dhaif-kan oleh al-Albani dalam Takhrij Kitab Fiqhus Sirah: 135. Adapun menurut Dr. Muhammad Thayyib an-Najjar ketiga riwayat ini saling menguatkan. Lihat al-Qaulul Mubin fi Sirah Sayyidil Mursalin: 151).

Bandingkan cara dakwah kaum Salaf di atas dengan cara dakwah orang-orang yang mengaku sebagai ‘Salafy Sejati’ ini. Mereka hanya mau mengajarkan kitab-kitab fikih Hanabilah di masjid-masjid kaum muslimin yang secara mayoritas mengikuti fikih Syafi’iyah, kemudian mencela sebagian amal ibadah dan pendapat kaum muslimin di sekitar mereka.

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi al-Maliki (wafat tahun 790 H) rahimahullah mengutip ucapan Abu Hamid al-Ghazali asy-Syafi’i (wafat tahun 505 H) rahimahullah:

أَكْثَرُ الْجَهَالَاتِ إِنَّمَا رَسَخَتْ فِي قُلُوبِ الْعَوَامِّ بِتَعَصُّبِ جَمَاعَةٍ مِنْ جُهَّالِ أَهْلِ الْحَقِّ، أَظْهَرُوا الْحَقَّ فِي مَعْرِضِ التَّحَدِّي وَالْإِدْلَالِ وَنَظَرُوا إِلَى ضُعَفَاءِ الْخُصُومِ بِعَيْنِ التَّحْقِيرِ وَالِازْدِرَاءِ، فَثَارَتْ مِنْ بَوَاطِنِهِمْ دَوَاعِي الْمُعَانَدَةِ وَالْمُخَالَفَةِ، وَرَسَخَتْ فِي قُلُوبِهِمُ الِاعْتِقَادَاتُ الْبَاطِلَةُ، وَتَعَذَّرَ عَلَى الْعُلَمَاءِ الْمُتَلَطِّفِينَ مَحْوُهَا مَعَ ظُهُورِ فَسَادِهَا

“Kebanyakan kebodohan yang tertancap dalam hati orang-orang awam hanyalah disebabkan oleh sikap ta’ashub (fanatik) dari orang-orang bodoh dari kalangan ahlussunnah (seperti kelompok yang mengaku salafi sejati ini, pen). Mereka menampakkan kebenaran dengan nada tantangan dan membanggakan diri. Mereka juga memandang kepada orang-orang awam yang mereka bantah dengan pandangan yang meremehkan dan melecehkan. Akhirnya muncul dari diri mereka (orang-orang awam, pen) sikap penolakan dan penyelisihan (terhadap dakwah Salaf, pen) dan tertancap dalam diri mereka keyakinan yang batil (terhadap dakwah, pen). Para ulama pun kesulitan untuk memadamkan kerusakan yang tampak ini..dst.” (Kitab al-I’tisham tahqiq al-Hilali: 2/732).

Kemudian asy-Syathibi membenarkan uacapan al-Ghazali:

هَذَا مَا قَالَ. وَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي تَشْهَدُ لَهُ الْعَوَائِدُ الْجَارِيَةُ..الخ

“Demikian ucapan al-Ghazali. Itulah yang benar yang disaksikan oleh kebiasaan yang berlaku..dst.” (Kitab al-I’tisham tahqiq al-Hilali: 2/732).

Di lain pihak Penulis juga mengapresiasi, memuji dan mendukung ikhwan salafiyin –yang banyak dizalimi dan diboikot oleh kelompok yang mengaku sebagai salafi sejati- yang berdakwah dengan cara mengambil hati kaum muslimin. Mereka mendirikan ma’had dan sekolah-sekolah salafi sesuai anjuran pemerintah kemudian mengajarkan kurikulum lokal di dalamnya. Sebagai contoh, dalam mata pelajaran fikih mereka mengajarkan kitab ‘Matan al-Ghayah wat Taqrib’ karya al-Qadhi Abu Syuja’ al-Ashfahani asy-Syafi’i (wafat tahun 593 H) rahimahullah, sebuah kitab ringkasan fikih madzhab Syafi’i yang banyak dipelajari oleh anak-anak kaum muslimin Indonesia. Dan Alhamdulillah telah banyak ulama dakwah salafiyah di masa kini yang memberikan syarah untuk kitab ini. Di antara mereka adalah asy-Syaikh Muhammad Hasan Abdul Ghaffar hafizhahullah. Syarh tersebut ada yang berupa rekaman audio dan juga versi e-book.

Alasan kedua: Di dalam setiap madzhab dari keempat madzhab yang diikuti, terdapat banyak ulama besar yang mendakwahkan tauhid dan as-Sunnah serta memerangi syirik dan bid’ah, tidak terkecuali ulama Syafi’iyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

كَلُّ أُمَّةٍ قَبْلَ مَبْعَثِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعُلَمَاؤُهَا شِرَارُهَا إلَّا الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ عُلَمَاءَهُمْ خِيَارُهُمْ ؛ فَإِنَّهُمْ خُلَفَاءُ الرَّسُولِ فِي أُمَّتِهِ والمحيون لِمَا مَاتَ مِنْ سُنَّتِهِ بِهِمْ قَامَ الْكِتَابُ وَبِهِ قَامُوا وَبِهِمْ نَطَقَ الْكِتَابُ وَبِهِ نَطَقُوا

“Setiap umat sebelum diutusnya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka ulama’nya menjadi orang yang paling jelek di kalangan umat itu, kecuali kaum muslimin karena ulama’ mereka adalah sebaik-baik umat. Mereka menjadi penerus ar-Rasul di kalangan umat beliau. Mereka juga menjadi orang yang menghidupkan sunnah beliau yang telah mati. Dengan perjuangan mereka, al-Kitab bisa tegak dan dengan al-Kitab mereka berdakwah. Atas jasa mereka al-Kitab bisa berbicara dan dengan dasar al-Kitab mereka berbicara.” (Majmu’ul Fatawa: 20/232).

Perhatikanlah ucapan Syaikhul Islam di atas! Beliau tidak membatasi ulama dari golongan manapun. Sehingga siapa pun orangnya jika sudah memenuhi ‘kriteria syar’i’ sebagai ulama, baik dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah ataupun Hanabilah, maka ia adalah orang terbaik di kalangan kaum muslimin.

Khusus untuk Madzhab Syafi’i, terdapat banyak kesesuaian antara usul (pokok pendalilan) ulama Syafi’iyah dengan manhaj Salaf di dalam permasalahan ‘sunnah tarkiyah’ dan ‘bid’ah idhafiyah’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

لِأَنَّ مَذْهَبَ الشَّافِعِيِّ مُؤَسَّسٌ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Yang demikian oleh karena Madzhab Syafi’i itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (Al-Fatawa al-Kubra: 6/616).

Yang demikian karena imam mereka yaitu al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah terkenal kegigihannya dalam membela as-Sunnah dan membantah kebid’ahan. Beliau pernah menyatakan:

إذا وجدتم لرسول الله صلى الله عليه و سلم سنة فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد

“Jika kalian menemukan sebuah sunnah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (dalam suatu permasalahan, pen), maka ikutilah sunnah itu dan janganlah menoleh kepada ucapan seorang pun.” (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’: 9/107 dan Tarikh Damsyiq: 51/386).

Beliau juga berkata:

الأَصْلُ قُرْآنٌ أَوْ سُنَّةٌ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ، فَقِيَاسٌ عَلَيْهِمَا، وَإِذَا صَحَّ الحَدِيْثُ فَهُوَ سُنَّةٌ، وَالإِجْمَاعُ أَكْبَرُ مِنَ الحَدِيْثِ المُنْفَرِدِ، وَالحَدِيْثُ عَلَى ظَاهِرِهِ، وَإِذَا احتَمَلَ الحَدِيْثُ مَعَانِي، فَمَا أَشْبَهَ ظَاهِرَهُ، وَلَيْسَ المُنْقَطِعُ بِشَيْءٍ، مَا عَدَا مُنْقَطِعِ ابْنِ المُسَيِّبِ، وَكُلاًّ رَأَيْتُهُ اسْتَعْمَلَ الحَدِيْثَ المُنْفَرِدَ

“Pokok pendalilan adalah al-Quran atau as-Sunnah. Jika tidak didapatkan keduanya, maka analogi (qiyas) atas keduanya. Jika hadits itu shahih, maka itu adalah suatu sunnah. Ijma’ (konsensus ulama’) itu lebih diutamakan daripada hadits sendirian. Jika sebuah hadits mempunyai banyak kemungkinan makna, maka dibawa kepada makna yang paling jelas. Hadits munqathi (tidak bersambung atau mursal) bukanlah dalil, kecuali mursalnya Sa’id bin al-Musayyib. Aku melihat semua ulama berhujah dengan hadits yang sendirian.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/21 dan al-Kamil li Ibni Adi: 1/116).

Dan ini diakui sendiri oleh al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani asy-Syafi’i (wafat tahun 489 H) rahimahullah. Beliau sendiri pada awalnya bermadzhab Hanafi, kemudian berpindah menjadi bermadzhab Syafi’i. Beliau menyatakan:

إذا نظر العالم إلى المسائل وأصولها وفروعها وجد أصول الشافعى رضى الله عنه موافقة للكتاب والسنة مؤيدة بهما مستمرة على الإخبار إذا وجدها استمرارا صحيحا مستقيما ويتبع الصحيح منها ويدع الرأى حين يجده فلا يأمر بعرض حديث على قياس ولكن يأمر بعرض القياس على الأحاديث…الخ

“Jika seorang alim melihat kepada berbagai permasalahan, baik usul (pokok) ataupun furu’ (cabang) dari permasalahan tersebut, maka ia akan mendapatkan usul-usul al-Imam asy-Syafi’i sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, dikuatkan dengan keduanya, berjalan di atas khabar yang shahih. Beliau juga memilih hadits yang shahih dan meninggalkan ra’yu (pemikiran tokoh, pen) ketika mendapatkan hadits tersebut. Maka beliau tidak menyuruh menentang sebuah hadits dengan qiyas (analogi), akan tetapi beliau justru memerintahkan untuk menimbang qiyas dengan hadits-hadits..dst.” (Qawathi’ul Adillah fil Ushul: 2/369).

Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat dalam menambah ilmu ad-Dien dan ditulis oleh Allah ta’ala sebagai amal shalih bagi Penulis.

اللهم ارزقنا الاخلاص وكمال المتابعة لرسولك محمد صلى الله عليه وسلم وألحقنا بمن معه ومن تبعهم باحسان… آمين

Ya Allah, berikanlah kepada kami keikhlasan dan kesempurnaan di dalam meneladani Rasul-Mu Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Gabungkanlah kami dengan orang-orang yang bersama Rasul-Mu dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik..  Amien.

Babat, 27 Muharram 1438 H

dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut