Menelusuri Pemikiran Jamaah Tahdzir

Menelusuri Pemikiran Jamaah Tahdzir
Pentingnya Sikap Tawassuth dan Moderat serta Menghindari Sikap Ghuluw di dalam Menyikapi Ahlul Bid’ah
Oleh Dr. M Faiq Sulaifi
[5 Oktober 2017]

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 2

Asal Dakwah adalah Menjinakkan Hati 4

Tidak Mampu Menimbang Manfaat dan Kerusakan. 5

Yang Penting Adil 7

Antara Biji Tasbih dan Fasiq. 9

Tidak Mampu Membuat Kategori 12

Setiap Mukmin adalah Salafi 14

Bid’ah Kafir. 16

Bid’ah Fasiq. 18

Bid’ah Furu’iyah Ijtihadiyah. 20

Perkara Kontemporer. 23

Batilnya Anti Muwazanah. 25

Menentukan Sifat Adil dengan Muwazanah. 30

Sifat Dhabith Ditentukan dengan Muwazanah. 32

Cakupan Arti Boikot. 34

Mau Boikot, Ada Aturannya. 34

Bermakmum di Belakang Ahlul Bid’ah. 40

Fatwa Ahlul Bid’ah. 41

Persaksian Ahlul Bid’ah. 42

Setiap Pentolan Ahlul Bid’ah itu Pendusta, Kata Mereka. 44

Jika Tidak Seratus Persen, Maka Bukan Salafi, Kata Mereka. 48

Sikap Moderat terhadap Asy’ariyah. 58

Penutup. 63

 

Pendahuluan

الحمد الله الذي جعلنا من خير أمة أخرجت للناس، والصلاة والسلام على المبعوث إلى كافة الناس، محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليماً مزيداً. أما بعد:

Di antara penyebab porak porandanya dakwah Salafiyah adalah munculnya orang-orang atau kelompok yang mempunyai manhaj yang Ghuluw atau Ekstrem. Di antara bentuk sikap ekstrem mereka adalah menyikapi seorang muslim yang terjatuh kepada perkara bid’ah sebagai Ahlul Bid’ah yang tidak mempunyai kehormatan sama sekali. Mereka tidak mau mengambil ilmu kecuali kepada seorang ustadz yang 100 persen salafi. Mereka juga tidak mau memondokkan anak mereka kecuali di Ma’had yang 100 persen salafi. Adapun sekolah formal, maka mereka tidak mau, karena tidak 100 persen salafi. Mereka menamakan diri mereka dengan ‘Salafi Sejati’. Akan tetapi kita –kaum Salafiyin yang tidak menyetujui sikap Ghuluw mereka- lebih suka menjuluki mereka dengan ‘Jamaah Tahdzir’. Sedangkan para ulama dakwah menyebut mereka dengan ‘Ghulat at-Tajrih wat Tabdi’.

Dan di antara kaidah aneh mereka adalah ucapan mereka “Lebih baik seseorang dibiarkan bodoh agamanya daripada mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ah semacam ustadz MLM atau ustadz Roja’iyun dan sebagainya, karena orang yang bodoh masih di atas fitrah lebih baik daripada orang yang berada di atas kesesatan.”

Di antara sumber dari sikap ghuluw dan ekstrem mereka adalah ucapan-ucapan asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali hadahullah yang kemudian mereka taqlidi dan mereka gunakan untuk menghakimi ulama dan dai lain yang berseberangan dengan alasan menyelisihi ‘Manhaj Salaf’. Padahal yang benar adalah para da’i dan ulama tersebut menyelisihi ‘Manhaj asy-Syaikh Rabi’, dan belum tentu menyelisihi ‘Manhaj Salaf’. Mereka lupa bahwa siapa pun orangnya, baik asy-Syaikh Rabi’ ataupun bukan, mempunyai kemungkinan untuk menyelisihi ‘Manhaj Salaf’.

Al-Imam Mujahid (ulama tabi’in, wafat tahun 104 H) rahimahullah berkata:

ليس أحد من خلق الله إلا وهو يؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Tiada seorang makhluk Allah pun kecuali ucapannya bisa diambil dan juga bisa ditolak, kecuali Nabi shallallahu alaihi wasallam.” (Atsar riwayat al-Bukhari dalam Raf’ul Yadain fish Shalat: 103 (73) dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi: 1084 (3/150)).

Kemudian mereka menjadikan fatwa-fatwa asy-Syaikh Rabi’ hadahullah tersebut sebagai landasan untuk menegakkan ‘al-Wala’ wal Bara’. Barangsiapa menyelisihi fatwa beliau, maka mereka katakan sebagai dai hizbi atau ustadz hizbi. Padahal secara kenyataan, mereka sendiri telah terjatuh ke dalam sikap ‘Hizbiyah’, ‘Ashabiyah’ dan Fanatisme golongan. Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ « أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah fanatisme (hizbiyah) itu?” Beliau menjawab: “Kamu membantu kaummu di atas kezaliman.” (HR. Abu Dawud: 5121 dan al-Baihaqi dalam al-Kubra: 21606 (10/234). Di-hasankan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Sunan Abu Dawud: 5119 (7/44)).

Di dalam riwayat Ibnu Majah, Watsilah bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَوْمَهُ؟ قَالَ: “لَا، وَلَكِنْ مِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلَى الظُّلْمِ”

“Wahai Rasulullah! Apakah termasuk fanatisme (hizbiyah) jika seseorang mencintai kaumnya?” Beliau menjawab: “Tidak. Tetapi yang termasuk hizbiyah (fanatisme) adalah jika seseorang membantu kaumnya di atas kezaliman.” (HR. Ibnu Majah: 3949 dan Ahmad: 17472. Isnadnya di-hasan-kan oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Tahqiq Musnad: 17030).

Sehingga kita dilarang membela suatu pendapat yang jelas-jelas salah, hanya karena itu merupakan pendapat guru atau syaikh kita atau kelompok kita.

Kemudian di dalam risalah ini akan dijelaskan beberapa kaidah yang nyeleneh yang dipegang oleh ‘Jamaah Tahdzir’ yang bisa membawa kepada sikap Ghuluw dan Radikal dalam beragama.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma:

«بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ»

“Dengan (kerikil) yang seperti inilah (kalian melempar jumrah, pen) dan waspadalah kalian dari sikap ghuluw (berlebihan, pen) dalam beragama, karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam beragama.” (HR. Ahmad: 1851, an-Nasai: 3057 dan Ibnu Majah: 3029. Di-shahih-kan oleh Ahmad Syakir dalam Tahqiq Musnad dan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 1283 (3/278)).

Semoga tulisan ini bermanfaat dan ditulis kebaikan oleh Allah ta’ala. Amin.

Modo Lamongan, 16 Muharram 1439 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Iklan

Trilogi Tauhid dan Penerapannya

Maktabah Thibbul Qulub
Trilogi Tauhid dan Penerapannya
Pembagian Tauhid Menjadi Rububiyah, Uluhiyah dan al-Asma’ wash Shifat
dr. M Faiq Sulaifi
[12 September 2017]

 

 

Studi Literatur terhadap Penerapan Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan al-Asma’ wash Shifat di dalam Agama Islam

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 3

Batasan Ketiga Macam Tauhid. 8

Dasar Pembagian Tauhid. 8

Dalil Istiqra’ 10

Hubungan antara Rububiyah dan Uluhiyah. 11

Hubungan antara Sifat dan Nama Allah dengan Uluhiyah. 12

Tidak Cukup Rububiyah saja. 13

Kandungan Lafazh ‘Allah’ 17

Pantaskah Selain-Nya Dijadikan Ilah?. 18

Seseorang Bernama Tuhan. 19

Bersyukur kepada Allah, bukan kepada Berhala. 22

Maha Tinggi dari Berbuat Sia-sia. 24

Maha Suci dari Trinitas Kaum Nasrani 25

Menyikapi Takdir Allah ta’ala. 26

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Duduk di Arasy. 27

Doa Ketika Susah. 30

Berdoa dengan al-Ismul A’zham.. 31

Keutamaan Surat al-Ikhlas. 33

Keutamaan Surat al-Fatihah. 34

Dzikir Pagi dan Petang. 37

Raja Istighfar. 38

Doa Bangun Malam.. 39

Ujian Tauhid untuk Budak. 41

Nasehat al-Imam asy-Syafi’i kepada al-Muzani 43

Akidah al-Imam Abu Hanifah. 45

Keterangan al-Imam Abu Yusuf. 45

Mukadimah al-Imam ad-Darimi 46

Penafsiran al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari 46

Akidah al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi 48

Mukadimah al-Imam Ibnu Hibban. 48

Al-Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani 49

Penjelasan al-Imam Ibnu Baththah al-Ukbari 50

Mukaddimah al-Imam Abu Bakar ath-Thurthusyi 51

Tauhid menurut Kaum Sufi Mutaqaddimin. 51

Kata Penyair. 53

Kata Pakar Bahasa Arab. 53

Membantah Asy’ariyah. 54

Serupa Tapi Tidak Serupa. 58

Penutup. 63

 


Pendahuluan

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَنشْهَدُ أَنْ لا إله إلا الله وحده لا شريك له ونشهد أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

(أَمَّا بَعْدُ)

Kewajiban seorang hamba yang paling utama dan pertama adalah mentauhidkan dan mengesakan Allah ta’ala di dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya serta nama-nama dan sifat-Nya. Yang demikian karena Allah ta’ala telah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ () مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ () إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58).

Dalam ayat di atas Allah ta’ala memperkenalkan kepada kita tentang ketiga tauhid-Nya, yakni Rububiyah (penciptaan makhluk), Uluhiyah (hak untuk diibadahi) dan nama serta sifat-Nya.

Al-Imam Imaduddin Ibnu Katsir asy-Syafi’i (wafat tahun 774 H) rahimahullah berkata:

وَمَعْنَى الْآيَةِ أَنَّهُ تبارك وتعالى خَلَقَ الْعِبَادَ لِيَعْبُدُوهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَمَنْ أَطَاعَهُ جَازَاهُ أَتَمَّ الْجَزَاءِ، وَمِنْ عَصَاهُ عَذَّبَهُ أَشَدَّ الْعَذَابِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ غَيْرُ مُحْتَاجٍ إِلَيْهِمْ، بَلْ هُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَيْهِ فِي جَمِيعِ أحوالهم، فهو خالقهم ورازقهم

“Makna ayat di atas adalah bahwa Allah tabaraka wata’ala menciptakan hamba-hamba agar beribadah kepada-Nya saja tanpa sekutu bagi-Nya. Barangsiapa menaati-Nya, maka Dia akan membalasnya dengan balasan yang paling sempurna. Barangsiapa berbuat maksiat kepada-Nya, maka Dia akan menyiksanya dengan sekeras-keras siksa. Allah juga memberitahukan bahwa Dia tidak membutuhkan mereka, justru merekalah yang membutuhkan-Nya di dalam segala keadaan mereka. maka Dialah Yang menciptakan dan memberikan rejeki kepada mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir: 7/425).

Demikian pula penjelasan al-Quran dan as-Sunnah serta keterangan para ulama dari generasi as-Salaf hingga al-Khalaf ketika membahas permasalahan Tauhidullah. Maka pembahasan tersebut meliputi sisi Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya dan nama serta sifat-Nya. Yang demikian karena pembahasan Tauhidullah termasuk dalam rangka ‘Nasehat untuk Allah’ dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam:

” الدِّينُ النَّصِيحَةُ ” قُلْنا: لِمَنْ؟ قالَ: ” لِلهِ وَلِكِتابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِم “.

“Agama ini adalah nasehat.” Kami bertanya: “Nasehat untuk siapa?” beliau menjawab: “Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan orang awam mereka.” (HR. Muslim: 205 dari Tamim ad-Dari radhiyallahu anhu).

Al-Qadhi Iyadh al-Yahshubi al-Maliki (wafat tahun 544 H) rahimahullah menerangkan bahwa di antara makna ‘Nasehat untuk Allah’ adalah men-tauhidkan Allah dalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya dan nama serta sifat-Nya. Beliau berkata:

فالنصح لله – تعالى -: صحة الاعتقاد له بالوحدانية، ووصفه بصفات الإلهية، وتنزيهه عن النقائص والرغبة فى محابه والبعد من مساخطه، والإخلاص فى عبادته.

“Makna nasehat untuk Allah adalah keyakinan yang benar tentang keesaan-Nya, menyifati-Nya dengan sifat-sifat Uluhiyah, menyucikan-Nya dari segala kekurangan, bersemangat menggapai perkara yang dicintai oleh-Nya, menjauhi perkara yang dibenci oleh-Nya dan ikhlas di dalam beribadah kepada-Nya.” (Ikmalul Mu’lim bi Fawaidi Shahih Muslim: 1/307). Dan demikian pula pembahasan ulama lainnya yang tidak jauh dari keterangan al-Qadhi Iyadh, yakni pembahasan tauhid yang meliputi ketiga sisi; Rububiyah, Uluhiyah dan nama serta sifat-Nya.

Demikian pula dakwah tauhid yang dilakukan para nabi dan umat terdahulu. Di antara ikrar Shahibu Yasin tentang ‘ketiga macam tauhid’ adalah:

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ () أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًاوَلَا يُنْقِذُونِ () إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ () إِنِّي آَمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

“Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.” (QS. Yasin: 22-25). Maka perhatikanlah ucapan Shahibu Yasin yang hanya beribadah kepada Rabb yang menciptakannya, Yang Maha Pemurah. Ucapan tersebut mengandung Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan al-Asma’ wash Shifat.

Kemudian datanglah generasi belakangan yang mereduksi dan mengurangi ketiga tauhid tersebut dengan hanya mencukupkan pada Tauhid Rububiyah saja. Bahkan mereka menyatakan bid’ahnya pembagian tauhid menjadi tiga; Rububiyah, Uluhiyah dan nama serta sifat-Nya. Di antara generasi belakangan ini adalah Abu Hamid Marzuq dalam bukunya “At-Tawassul bin Nabi wa Jahalatul Wahhabiyyin” yang menyatakan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga kategori –yakni tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wash shifat- adalah bid’ah yang dicetuskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H) rahimahullah yang kemudian diikuti oleh kaum Wahabiyyin. (Lihat juga situs mereka: https://salafytobat.wordpress.com/category/membongkar-kesesatan-ajaran-wahabi-yang-membagi-tauhid-kepada-3-bagian-aqidah-mereka-ini-nyata-bidah-sesat/ ). Mereka juga menyatakan bahwa ‘pembagian tauhid menjadi tiga ala wahabi’ adalah mirip dengan trinitas yang diyakini kaum Nashrani. Wal iyadzu billah.

Jika kita perhatikan dengan seksama, maka tuduhan bid’ahnya pembagian Tauhid mempunyai latar belakang dan sebab:

Pertama: kebencian yang mendalam terhadap kaum Salafiyin yang mereka istilahkan dengan ‘Wahhabiyun’. Sehingga segala perkara yang berasal dari ‘Wahabi’ adalah tercela menurut mereka, walaupun itu merupakan kebenaran menurut al-Quran dan as-Sunnah, seperti pembagian tauhid menjadi Rububiyah, Uluhiyah dan al-Asma’ wash Shifat. Allah ta’ala berfirman:

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8).

Kedua: Kaum Salafiyin mengajak kepada akidah yang benar dengan ketiga macam tauhid, membantah kesyirikan dan kebid’ahan. Jika mereka bisa bertoleransi dengan kaum Syiah-Rafidhah, Mu’tazilah bahkan dengan orang-orang kafir dengan cara menjaga gereja dan kuil mereka, maka toleransi itu tidak berlaku bagi Wahabiyyin (baca: Salafiyyin). Ini karena semata-mata Salafiyun mengajak kepada akidah yang benar dan membantah keyakinan yang sudah mendarah daging di kalangan mereka dan para tokoh mereka. Allah ta’ala berfirman:

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلاَّ أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ () الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj: 8-9).

Ayat di atas menunjukkan bahwa penyebab kaum mukminin diperangi oleh kaum kafirin adalah karena kaum mukminin mentauhidkan Allah dengan ketiga macam tauhid, yaitu hanya beribadah kepada-Nya, Rabb langit dan bumi, Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Dan yang lebih ironis lagi adalah mereka sendiri jatuh ke dalam kebid’ahan besar yaitu membatasi sifat wajib Allah hanya 20 sifat. Mereka juga terjatuh kepada bid’ah pembagian tauhid menjadi tiga, yaitu Allah itu Tunggal secara Dzat, Sifat dan Perbuatan. Padahal belum pernah dinukilkan bahwa as-Salaf membagi menjadi demikian.

Dalam pepatah Arab dikatakan:

رمتنى بدائها وانسلت

“Ia menuduhku dengan penyakitnya sedangkan penyakit itu berasal darinya.” (Tajul Arus min Jawahiril Qamus: 7179).

Dan jika diteruskan lagi, maka mereka –yang menyatakan bid’ahnya pembagian Tauhid ala wahabi- juga terjatuh kepada bid’ahnya pembagian rukun shalat menjadi 13 atau 17, bid’ahnya pembagian sifat wajib rasul menjadi empat, dan sebagainya. Padahal itu semuanya tidak pernah diterangkan oleh as-Salaf. Akan tetapi Salafiyun tidak mempermasalahkan pembagian dan istilah-istilah yang mereka buat selagi tidak membawa kepada pemahaman yang batil. Al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat tahun 974 H) rahimahullah seringkali berkata dalam suatu perbedaan pendapat antar ulama:

وَأَنَّ التَّسْمِيَةَ بِذَلِكَ اصْطِلَاحٌ لَهُ وَلَا مُشَاحَّةَ فِي الِاصْطِلَاحِ

“Pendefinisian atau penamaan (terminologi) tersebut adalah istilah yang dibuat oleh ulama tersebut dan tidak boleh mencela terhadap istilah yang digunakan oleh seorang ulama.” (Tuhfatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj: 2/253).

Tulisan ini disusun dengan mengumpulkan berbagai sumber seperti kitab ‘al-Qaulus Sadid fir Radd ala Man Ankara Taqsimat Tauhid’ karya al-Allamah Prof. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah. Penulis juga mengambil sumber dari pembahasan beberapa asatidz Salafiyah Indonesia di dalam masalah ini kemudian mengembangkannya dengan penukilan dari para ulama dalam kitab-kitab tafsir mereka semisal ath-Thabari, al-Wahidi, al-Baghawi, al-Qurthubi, Ibnu Hajar, asy-Syarbini dan ulama lainnya yang tidak asing bagi mereka yang anti-wahabi. Asy-Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata:

وأيضا تكثير النقول عن الناس على اختلاف مذاهبهم هذا يفيد في أن الحق ليس غامضا؛ بل هو كثير، شائع، بيِّن.

“Dan juga, memperbanyak penukilan (tentang pembagian tauhid menjadi Rububiyah, Uluhiyah, dan al-Asma’ wash Shifat, pen) dari banyak ulama dari berbagai madzhab memberikan faedah bahwa kebenaran (yakni: tentang pembagian tauhid, pen) bukanlah perkara yang samar, tetapi suatu perkara yang tersebar dan jelas.” (Syarh al-Fatwa al-Hamawiyah al-Kubra li Shalih Alusy Syaikh: 263).

Akhirnya semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat kepada kaum muslimin dan ditulis oleh Allah ta’ala sebagai pemberat timbangan kebaikan Penulis. Amien.

Nguwok Lamongan, 21 Dzulhijjah 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Pelajaran dari Peristiwa Idul Adha

Pelajaran dari Peristiwa Idul Adha

(Disampaikan oleh dr. M Faiq Sulaifi dalam Khutbah Idul Adha 1438 H di Lapangan Desa Gendongkulon Babat)

الحمد لله المبدئ المعيد، الولي الحميد، ذي العرش المجيد، الفعال لما يريد، ونشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و لا ضد و لا نديد، شهادة مخلص في التوحيد، راج للحسنى و المزيد، و نشهد أن محمدا عبده  ورسوله لبنة التمام وبيت القصيد، صلى الله عليه و على آله وأصحابه وأزواجه  ذريته والتابعين، والناصرين لسنته بالقول و الفعل إلى يوم الدين.

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

الحمد لله الذي أمات وأحيا, ومنع وأعطى , وأرشد وهدى , وأضحك وأبكى وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَم يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلَّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا

Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah Baca lebih lanjut

Selamatan Kematian menurut Islam

[Maktabah Thibbul Qulub]
Selamatan Kematian menurut Islam
Kajian Literatur terhadap Selamatan Kematian
Oleh dr. M Faiq Sulaifi
4 Dzulqa’dah 1438 H

 

 

 


 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukaddimah. 3

Definisi Selamatan Kematian. 5

Hadits Larangan Selamatan Kematian. 7

Makna Hadits Larangan Selamatan Kematian. 9

Wasilah menuju Ma’tam.. 10

Pelarangan Secara Bertahap. 11

Atsar as-Salaf terhadap Selamatan Kematian. 13

Kesepakatan Para Ulama. 14

Tradisi Kaum Yahudi 16

Bid’ah Kaum Syiah Rafidhah. 17

Upaya Umar bin Abdul Aziz. 18

Penukilan dari Ulama Hanafiyah. 19

Penukilan dari Ulama Malikiyah. 21

Penukilan dari Ulama’ Syafi’iyah dan Biaya Selamatan. 23

Penukilan dari Ulama Hanabilah dan Rukhsah. 27

Dianjurkan Membuat ‘Atirah’ 29

Acara Aqr. 32

Open House untuk Takziyah. 33

Salah Tulis dan Salah Cetak. 37

Ratsa’ Mubah dan Ratsa’ Jahiliyah. 40

Membaca al-Quran pada Acara Ma’tam.. 43

Berhujah dengan Atsar al-Imam Thawus. 45

Berhujah dengan Atsar Ubaid bin Umair. 47

Sikap as-Suyuthi 50

Bersedekah untuk Mayit. 54

Wanita Bertakziyah. 59

Hindarilah Pendapat yang Menyendiri 61

Jawaban Mufti Makkah. 66

Terus-Menerus Terjadi 69

Khotimah. 70

 

 

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Amma ba’du:

Agama Islam tidak mengenal perpaduan budaya baik perpaduan Islam dengan ajaran Jahiliyah, perpaduan Islam dengan ajaran Yahudi atau Islam dengan ajaran kejawen. Allah ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Ayat di atas turun berkenaan dengan sebagian Ahlul Kitab yang masuk Islam kemudian meminta ijin agar tetap bisa mengagungkan hari Sabtu dan tetap bisa membaca Taurat ketika shalat malam. Kemudian turunlah ayat ini. (Fathul Qadir lisy Syaukani: 1/322, Tafsir al-Baghawi: 1/240 dan Tafsir Ibnu Katsir: 1/565).

Maka ketika seseorang telah masuk Islam, ia harus meninggalkan ajaran Yahudi, ajaran Jahiliyah dan lainnya yang ia anut sebelum masuk Islam.

Di antara ajaran Jahiliyah yang dihapus oleh Islam adalah tradisi selamatan kematian yang merupakan acara ikutan dari kegiatan meratapi mayit.

Anehnya di masa akhir-akhir ini muncul sebagian kaum muslimin yang membolehkan acara selamatan kematian untuk mayit selama tujuh hari dengan alasan riwayat dari Thawus bin Kaisan al-Yamani (ulama tabi’in wafat tahun 106 H) rahimahullah yang membolehkannya. Beliau berkata:

إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام

“Sesungguhnya orang-orang mati itu mendapatkan fitnah (pertanyaan Munkar dan Nakir) di kubur mereka selama 7 hari. Mereka senang memberikan makan atas nama mereka (orang-orang mati) pada hari-hari tersebut.”

Atsar seperti ini disebarkan oleh mereka yang mendukung acara ini di dalam kajian-kajian mereka dan di dalam ‘Bahtsul Masail’ mereka. Seolah-olah para ulama kita sejak berabad-abad yang lalu tidak mengetahui atsar ini kemudian mereka menemukannya untuk digunakan sebagai dalil tentang bolehnya selamatan kematian. Dan karena begitu banyaknya pendukung selamatan kematian maka terkesan seolah-olah selamatan kematian itu adalah sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan orang yang tidak mengadakannya apalagi mengingkarinya akan dianggap asing.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim: 389, at-Tirmidzi: 2629 dan Ibnu Majah: 3986).

Mereka juga mempersempit arti kata ‘Niyahah’ (meratap mayit) dalam bahasa Arab dengan arti menangis dan meraung-raung saja. Padahal arti ‘niyahah’ mencakup berkumpul di dalam suatu majelis untuk bersedih atas kematian. Al-Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi (pakar bahasa Arab, guru al-Imam Sibawaih, wafat tahun 173 H) rahimahullah berkata:

النَّوْحُ مصدر ناح يَنوحُ نَوْحاً ويقال نائحة ذات نياحة ونوّاحة ذات مناحة والمناحة أيضاً الاسم ويجمع على المناحات والمناوح والنَّوائح اسم يقع على النِّساء يَجْتمِعْنَ في مَناحة ويجمع على هذا المعنى على الأَنْواح

“An-Nauh (meratap), masdar dari Naaha-Yanuuhu-Nauhan. Disebut Na’ihah bagi wanita yang meratap dan Nawwahah bagi wanita yang mempunyai majelis meratap kesedihan. Manahah adalah majelis niyahah. Nawa’ih adalah wanita yang berkumpul di tempat meratap dan bentuk jamaknya adalah ‘Anwah’.” (Kitabul Ain: 3/304).

Pada tulisan ini, akan dibahas selamatan kematian dan seluk beluknya. Tidak lupa Penulis juga menukil pendapat ulama Syafi’iyah dan madzhab yang lainnya dalam permasalahan ini karena mayoritas kaum muslimin Indonesia mengamalkan fikih Syafi’iyah. Kemudian Penulis menjelaskan atsar al-Imam Thawus rahimahullah, atsar Ubaid bin Umair rahimahullah, sikap as-Suyuthi rahimahullah serta perbuatan penduduk Madinah yang dijadikan sandaran oleh mereka yang menasionalisasi kegiatan tahlilan atau selamatan kematian 7 hari.

Untuk membaca tulisan ini, dibutuhkan sikap terbuka dan membebaskan diri dari fanatisme atau ta’ashub madzhab atau hizbiyah serta memohon petunjuk kepada Allah Azza wa Jalla. Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ « أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah fanatisme (ta’ashub) itu?” Beliau menjawab: “Kamu membantu kaummu di atas kezaliman.” (HR. Abu Dawud: 5121 dan al-Baihaqi dalam al-Kubra: 21606 (10/234). Di-hasankan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Sunan Abu Dawud: 5119 (7/44)). Sehingga kita dilarang membela suatu pendapat yang jelas-jelas salah, hanya karena itu merupakan pendapat guru kita atau kelompok kita.

Akhirnya, tidak ada gading yang tak retak. Segala kebaikan adalah dari Allah ta’ala dan segala kekurangan adalah dari diri Penulis. Semoga tulisan ini bisa menambah ilmu dan ditulis sebagai amal shalih bagi Penulis. Amien.

Lamongan, 4 Dzulqa’dah 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Polemik Acara Halal Bihalal

Maktabah Thibbul Qulub
Polemik Acara Halal Bihalal
Menyikapi Tradisi Lebaran di Tanah Air
Dr. M Faiq Sulaifi
7/2/2017

 

 

Pembahasan Tradisi dalam Lebaran seperti Halal bi Halal, Sungkeman, Unjung-unjung, Rekreasi, Kirim Parcel dan sebagainya

 

 

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 2

Pengertian Halal bi Halal 3

Sisi Tauqifiyah Idul Fitri 3

Kelonggaran Idul Fitri dan Rekreasi 5

Tarian Zapin pada Hari Raya. 6

Berhias dan Memakai Baju Baru. 8

Saling Memberikan Hadiah dan Parcel 10

Mengunjungi Sanak Kerabat. 13

Keumuman Silaturahim.. 15

Berjabat Tangan dan Ucapan Selamat. 16

Tradisi Sungkeman. 19

Pengkhususan Ta’abbudi 22

Tradisi Ziarah Kubur. 24

Berlapang Dada dan Tidak Bersikap Keras. 26

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين وصلى الله على محمد خاتم النبيين وآله الطيبين الطاهرين أما بعد

Telah terjadi pembicaraan panjang lebar di kalangan Salafiyyin antara mereka yang memperbolehkan acara ‘Halal bi Halal’ yang sudah menjadi tradisi di Indonesia dengan mereka yang melarang acara ini. Mereka yang melarang kegiatan ini berpegang pada kaidah bahwa perkara ibadah yang bersifat umum seperti silaturahim, berjabat tangan dan bermaaf-maafan tidak boleh hanya dikhususkan pada hari raya Idul Fitri saja, karena termasuk ‘Bid’ah Idhafiyah’.

Di antara mereka yang mengkritisi ‘Halal bi Halal’ adalah sebuah artikel yang berjudul ‘Menyingkap Keabsahan Halal Bihalal’ dan berkata di dalam kesimpulannya:

“Dari paparan di atas, bisa kita simpulkan bahwa yang dipermasalahkan dalam halal bihalal adalah pengkhususan bermaaf-maafan di hari raya. Pengkhususan ini adalah penambahan syariah baru yang tidak memiliki landasan dalil. Jadi seandainya perkumpulan-perkumpulan yang banyak diadakan untuk menyambut Idul Fitri kosong dari agenda bermaaf-maafan, maka pertemuan itu adalah pertemuan yang diperbolehkan; karena merupakan ekspresi kegembiraan yang disyariatkan Islam di hari raya, dan batasannya merujuk ke adat dan tradisi masyarakat setempat. Tentunya jika terlepas dari pelanggaran-pelanggaran syariah, antara lain yang sudah kita sebutkan di atas.” (Lihat: https://muslim.or.id/6786-menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html).

Pada tulisan ini Penulis akan menjelaskan tentang kemudahan dan kelonggaran syariat Islam yang mulia ini di dalam perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, termasuk pengkhususan hari raya dengan adanya makanan, permainan, tarian, silaturahim, unjung-unjung, halal bi halal, berjabat tangan, saling berkirim parcel dan sebagainya.

Tujuan penulisan artikel ini bukanlah untuk mencari menang-menangan karena tidak sesuai dengan tujuan menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ

“Barangsiapa menuntut ilmu dengan maksud untuk membanggakan diri di depan ulama, atau membodohi  orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka ia di dalam neraka.” (HR. Ibnu Majah: 253 dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 26216 (5/285) dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 6382).

Dan juga bukan untuk menjatuhkan kehormatan seorang ustadz sebagaimana ciri khas Jamaah Tahdzir yang tidak bisa membedakan antara bantahan dan hujatan. Penulis meminjam ucapan Nabi Syuaib alaihissalam:

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88).

Nguwok Modo, 8 Syawal 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Pribadi Yang Bertakwa dan Berakhlak

Pribadi Yang Bertakwa dan Berakhlak

Disampaikan oleh dr. M Faiq Sulaifi dalam Khutbah Idul Fitri 1438 H di Lapangan Masjid Darussalam Baureno Bojonegoro

الحمد لله الذي لم يتخذ ولدا ولم يكن له شريك في الملك، وخلق كل شيء فقدره تقديرا، (تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا) [الفرقان:1].

الحمد لله الذي امتن علينا بنعمة الإسلام، وشرح صدورنا بنور الإيمان، وأفاض علينا بآلائه العظام حيث جعلنا من خير أمة أخرجت للناس، وأنزل علينا أعظم كتاب وأحكمه، ويسر لنا أمر طاعته، وبشر المتقين بجنته، وحذر المعرضين بأليم عقابه.

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة عبد يرجو برَّها وذخرها يوم العرض الأكبر، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله صاحب الحوض الأعظم، والمقام الأكرم، صلوات ربي وسلامه عليه وعلى آله وصحبه ومن اقتدى بسنته إلى يوم الفزع الأكبر.

الله أكبر. الله أكبر لا إله إلا الله. الله أكبر. الله أكبر. ولله الحمد. الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا.

الله أكبر بفضله، الله أكبر بحلمه وعفوه، الله أكبر بجوده وكرمه، الله أكبر رفع السماوات بغير عمد، وبسط الأرض بغير عنت، وسخر الليل والنهار للعمل والسكن، وأنزل الغيث على عباده برحمته، وسخر الأفلاك دائرة بحكمته وقدرته. (أما يعد)

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah Baca lebih lanjut

Kupas Tuntas tentang Takdir

[Pustaka Thibbul Qulub]
Kupas Tuntas tentang Takdir
Pemahaman Komprehensif tentang Qadha’ dan Qadar
 
Oleh Dr. M Faiq Sulaifi

 

 

 


 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 3

Pengertian Takdir. 5

Meliputi Empat Hal 6

Luasnya Ilmu Allah ta’ala. 8

Penulisan Takdir. 10

Kehendak-Nya Pasti Terlaksana. 11

Penciptaan Alam Semesta. 14

Catatan Induk di al-Lauh al-Mafuzh. 15

Menciptakan dalam Kegelapan. 18

Penentuan Nasib Manusia ketika Penciptaan Adam alaihissalam.. 18

Sejak Kapan Menjadi Nabi 20

Anak-anak Kaum Musyrikin. 20

Pemindahbukuan Tahunan. 23

Pemindahbukuan Individu. 24

Pelaksanaan Takdir Harian. 25

Evaluasi dan Pelaporan. 26

Apakah Takdir Bisa Berubah?. 28

Antara Berita Langit dan Dukun. 31

Untuk Apa Berusaha. 33

Larangan Membahas Takdir. 35

Adu Argumentasi antara Adam dan Musa alaihimassalam.. 36

Berhujah dengan Takdir atas Kemaksiatan. 38

Sekte Qadariyah dan Agama Majusi 41

Sekte Jabriyah atau Fatalisme. 43

Antara Ahlussunnah dan Asy’ariyah. 44

Kesimpulan. 47

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

الحمد لله الذي بعث النبيين مبشرين ومنذرين وأنزل معهم الكتاب بالحق ليحكم بين الناس فيما اختلفوا فيه وما اختلف فيه إلا الذين أوتوه من بعد ما جاءتهم البينات بغيا بينهم فهدى الله الذين آمنوا لما اختلفوا فيه من الحق بإذنه والله يهدي من يشاء إلى صراط مستقيم وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له كما شهد هو سبحانه وتعالى أنه لا إله إلا هو والملائكة وأولوا العلم قائما بالقسط لا إله إلا هو العزيز الحكيم

(أما بعد)

Beriman kepada Takdir atau Qadha’ dan Qadar merupakan kewajiban bagi orang yang beriman. Ibnu ad-Dailami –yaitu Abdullah bin Fairuz- rahimahullah berkata:

وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنْ الْقَدَرِ فَأَتَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ غَيْرَ ظَالِمٍ لَهُمْ وَلَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ لَهُمْ خَيْرًا مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَلَوْ كَانَ لَكَ جَبَلُ أُحُدٍ أَوْ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ ذَهَبًا أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا قَبِلَهُ اللَّهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَأَنَّكَ إِنْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ

“Terganjal dalam hatiku sesuatu yang menyangkut takdir. Maka aku datang kepada Zaid bin Tsabit radliyallahu anhu dan bertanya tentang hal tersebut. Beliau menjawab: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya Allah memberikan siksa kepada penduduk langit-Nya dan penduduk bumi-Nya, maka Allah tidaklah berbuat zhalim kepada mereka. Seandainya Allah memberikan rahmat kepada mereka, maka rahmat-Nya lebih baik daripada amal perbuatan mereka. Dan seandainya kamu mempunyai emas sebesar gunung Uhud yang kamu infakkan di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya kecuali kamu beriman kepada takdir-Nya dan kamu meyakini bahwa perkara yang menimpamu (dalam catatan takdir, pen) tidak akan terluput darimu dan perkara yang luput darimu (dalam catatan takdir, pen) tidak akan menimpamu. Dan jika kamu mati dalam keadaan tidak meyakini ini maka kamu masuk neraka.” (HR. Ahmad: 21611, Abu Dawud: 4701 dan Ibnu Majah: 77. Isnadnya di-shahih-kan oleh al-Bushiri dalam al-Ithaf: 187 (1/166). Al-Albani men-shahih-kannya dalam Takhrij al-Misykat: 115 (1/25)).

Kemudian di dalam menyikapi ayat al-Quran dan hadits-hadits tentang takdir dan juga berita gaib lainnya, seorang mukmin hendaknya beriman dan yakin dengan berita-berita tersebut meskipun tidak dapat dijangkau oleh nalar, logika ataupun sulit dibayangkan.

Allah ta’ala berfirman:

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

“Orang-orang yang berilmu secara mendalam akan berkata, “Kami beriman dengan berita tersebut. Segala sesuatu (dari berita tersebut, pen) berasal dari Rabb kami.” (QS. Ali Imran: 7).

Oleh karena itu kita dilarang menolak sebuah ayat atau hadits shahih tentang takdir atau berita lainnya hanya karena bertentangan dengan logika kita atau karena rasio kita tidak mampu menjangkaunya.

Al-Allamah Ibnul Wazir al-Yamani (wafat tahun 840 H) rahimahullah berkata:

ولا شكَّ أن تَطَلُّب علم ما لا يُعْلَمُ، والشَّرَهَ في ذلك وتحكيم بادىء الرأي فيه، وتقديمه على النصوص هو أساس كلِّ فسادٍ، ولذلك نسبه الله في القرآن إلى السُّفهاء..الخ

“Dan tidak diragukan lagi bahwa memaksa dan bersikeras untuk mengetahui sesuatu yang tidak diketahui, menjadikan nalar yang pendek ini untuk menghukuminya serta mendahulukan akal daripada teks (ayat atau hadits, pen), itu semua adalah dasar dari segala kerusakan. Oleh karena itu Allah ta’ala menyebut orang yang demikian di dalam al-Quran sebagai orang-orang yang dungu..dst.” (Al-Awashim wal Qawashim fidz Dzabbi an Sunnati Abil Qasim: 5/339).

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi al-Maliki (wafat 790 H) rahimahullah berkata:

أَحَدُهُمَا: أَنْ لَا يُجْعَلَ الْعَقْلُ حَاكِمًا بِإِطْلَاقٍ، وَقَدْ ثَبَتَ عَلَيْهِ حَاكِمٌ بِإِطْلَاقٍ وَهُوَ الشَّرْعُ، بَلِ الْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقَدَّمَ مَا حَقُّهُ التَّقْدِيمُ – وَهُوَ الشَّرْعُ – وَيُؤَخِّرُ مَا حَقُّهُ التَّأْخِيرُ – وَهُوَ نَظَرُ الْعَقْلِ – لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ تَقْدِيمُ النَّاقِصِ حَاكِمًا عَلَى الْكَامِلِ،

“Pertama: Akal tidak boleh dijadikan hakim secara mutlak. Dan telah tetap bahwa yang menghakimi akal secara mutlak adalah syariat. Bahkan yang wajib baginya adalah mendahulukan perkara yang wajib didahulukan, yaitu syariat, dan mengalahkan perkara yang wajib dikalahkan, yaitu pandangan akal. Ini karena tidaklah dibenarkan mendahulukan perkara yang kurang (yaitu akal, pen) sebagai hakim bagi perkara yang sempurna (yakni syariat, pen)..dst.” (Al-I’tisham lisy Syathibi, tahqiq al-Hilali: 2/480).

Akhirnya semoga tulisan ini memberikan tambahan pencerahan dan keimanan kepada Allah ta’ala serta Qadha’ dan Qadar-Nya. Amien.

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

Nguwok Modo, 18 Ramadhan 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi

Baca lebih lanjut