Arsip Bulanan: Oktober 2017

Menelusuri Pemikiran Jamaah Tahdzir

Menelusuri Pemikiran Jamaah Tahdzir
Pentingnya Sikap Tawassuth dan Moderat serta Menghindari Sikap Ghuluw di dalam Menyikapi Ahlul Bid’ah
Oleh Dr. M Faiq Sulaifi
[5 Oktober 2017]

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 2

Asal Dakwah adalah Menjinakkan Hati 4

Tidak Mampu Menimbang Manfaat dan Kerusakan. 5

Yang Penting Adil 7

Antara Biji Tasbih dan Fasiq. 9

Tidak Mampu Membuat Kategori 12

Setiap Mukmin adalah Salafi 14

Bid’ah Kafir. 16

Bid’ah Fasiq. 18

Bid’ah Furu’iyah Ijtihadiyah. 20

Perkara Kontemporer. 23

Batilnya Anti Muwazanah. 25

Menentukan Sifat Adil dengan Muwazanah. 30

Sifat Dhabith Ditentukan dengan Muwazanah. 32

Cakupan Arti Boikot. 34

Mau Boikot, Ada Aturannya. 34

Bermakmum di Belakang Ahlul Bid’ah. 40

Fatwa Ahlul Bid’ah. 41

Persaksian Ahlul Bid’ah. 42

Setiap Pentolan Ahlul Bid’ah itu Pendusta, Kata Mereka. 44

Jika Tidak Seratus Persen, Maka Bukan Salafi, Kata Mereka. 48

Sikap Moderat terhadap Asy’ariyah. 58

Penutup. 63

 

Pendahuluan

الحمد الله الذي جعلنا من خير أمة أخرجت للناس، والصلاة والسلام على المبعوث إلى كافة الناس، محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليماً مزيداً. أما بعد:

Di antara penyebab porak porandanya dakwah Salafiyah adalah munculnya orang-orang atau kelompok yang mempunyai manhaj yang Ghuluw atau Ekstrem. Di antara bentuk sikap ekstrem mereka adalah menyikapi seorang muslim yang terjatuh kepada perkara bid’ah sebagai Ahlul Bid’ah yang tidak mempunyai kehormatan sama sekali. Mereka tidak mau mengambil ilmu kecuali kepada seorang ustadz yang 100 persen salafi. Mereka juga tidak mau memondokkan anak mereka kecuali di Ma’had yang 100 persen salafi. Adapun sekolah formal, maka mereka tidak mau, karena tidak 100 persen salafi. Mereka menamakan diri mereka dengan ‘Salafi Sejati’. Akan tetapi kita –kaum Salafiyin yang tidak menyetujui sikap Ghuluw mereka- lebih suka menjuluki mereka dengan ‘Jamaah Tahdzir’. Sedangkan para ulama dakwah menyebut mereka dengan ‘Ghulat at-Tajrih wat Tabdi’.

Dan di antara kaidah aneh mereka adalah ucapan mereka “Lebih baik seseorang dibiarkan bodoh agamanya daripada mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ah semacam ustadz MLM atau ustadz Roja’iyun dan sebagainya, karena orang yang bodoh masih di atas fitrah lebih baik daripada orang yang berada di atas kesesatan.”

Di antara sumber dari sikap ghuluw dan ekstrem mereka adalah ucapan-ucapan asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali hadahullah yang kemudian mereka taqlidi dan mereka gunakan untuk menghakimi ulama dan dai lain yang berseberangan dengan alasan menyelisihi ‘Manhaj Salaf’. Padahal yang benar adalah para da’i dan ulama tersebut menyelisihi ‘Manhaj asy-Syaikh Rabi’, dan belum tentu menyelisihi ‘Manhaj Salaf’. Mereka lupa bahwa siapa pun orangnya, baik asy-Syaikh Rabi’ ataupun bukan, mempunyai kemungkinan untuk menyelisihi ‘Manhaj Salaf’.

Al-Imam Mujahid (ulama tabi’in, wafat tahun 104 H) rahimahullah berkata:

ليس أحد من خلق الله إلا وهو يؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Tiada seorang makhluk Allah pun kecuali ucapannya bisa diambil dan juga bisa ditolak, kecuali Nabi shallallahu alaihi wasallam.” (Atsar riwayat al-Bukhari dalam Raf’ul Yadain fish Shalat: 103 (73) dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi: 1084 (3/150)).

Kemudian mereka menjadikan fatwa-fatwa asy-Syaikh Rabi’ hadahullah tersebut sebagai landasan untuk menegakkan ‘al-Wala’ wal Bara’. Barangsiapa menyelisihi fatwa beliau, maka mereka katakan sebagai dai hizbi atau ustadz hizbi. Padahal secara kenyataan, mereka sendiri telah terjatuh ke dalam sikap ‘Hizbiyah’, ‘Ashabiyah’ dan Fanatisme golongan. Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ « أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah fanatisme (hizbiyah) itu?” Beliau menjawab: “Kamu membantu kaummu di atas kezaliman.” (HR. Abu Dawud: 5121 dan al-Baihaqi dalam al-Kubra: 21606 (10/234). Di-hasankan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Sunan Abu Dawud: 5119 (7/44)).

Di dalam riwayat Ibnu Majah, Watsilah bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَوْمَهُ؟ قَالَ: “لَا، وَلَكِنْ مِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلَى الظُّلْمِ”

“Wahai Rasulullah! Apakah termasuk fanatisme (hizbiyah) jika seseorang mencintai kaumnya?” Beliau menjawab: “Tidak. Tetapi yang termasuk hizbiyah (fanatisme) adalah jika seseorang membantu kaumnya di atas kezaliman.” (HR. Ibnu Majah: 3949 dan Ahmad: 17472. Isnadnya di-hasan-kan oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Tahqiq Musnad: 17030).

Sehingga kita dilarang membela suatu pendapat yang jelas-jelas salah, hanya karena itu merupakan pendapat guru atau syaikh kita atau kelompok kita.

Kemudian di dalam risalah ini akan dijelaskan beberapa kaidah yang nyeleneh yang dipegang oleh ‘Jamaah Tahdzir’ yang bisa membawa kepada sikap Ghuluw dan Radikal dalam beragama.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma:

«بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ»

“Dengan (kerikil) yang seperti inilah (kalian melempar jumrah, pen) dan waspadalah kalian dari sikap ghuluw (berlebihan, pen) dalam beragama, karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam beragama.” (HR. Ahmad: 1851, an-Nasai: 3057 dan Ibnu Majah: 3029. Di-shahih-kan oleh Ahmad Syakir dalam Tahqiq Musnad dan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 1283 (3/278)).

Semoga tulisan ini bermanfaat dan ditulis kebaikan oleh Allah ta’ala. Amin.

Modo Lamongan, 16 Muharram 1439 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Iklan