Arsip Bulanan: September 2016

Sejarah Sekolah dalam Islam

 

Sejarah Sekolah dalam Islam

Kajian Literatur terhadap Perkembangan Sekolah

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

 


 

Daftar Isi

Mukaddimah. 4

Sekolah al-Quran di Awal Islam.. 8

Materi Yang Diajarkan dalam Kuttab. 9

Kuttab Kaum Yahudi 10

Kuttab Kaum Nasrani 11

Kuttab di Masa Jahiliyah. 11

Darul Qurra’ (Rumah Tahfizh). 14

Midras Kaum Yahudi 15

Midras di Masa Nabawi 16

Diundang ke Midras. 16

Yang Tercela bukan Sekolahnya. 17

Bermudzakarah dengan Pelajar Kuttab. 18

Alat Tulis dalam ‘Kuttab’ 19

Walimah Kelulusan. 21

Jenjang Halaqah Ilmu setelah Lulus Kuttab. 22

Halaqah Kaum Salaf. 24

Belajar di Rumah secara Mandiri 27

Asal Mula Kata Madrasah. 28

Penamaan dan Bidang Keilmuan Madrasah. 29

Taqlid dan Fanatisme Madzhab. 32

Madrasah Ilmu Hadits. 33

Sekolah Kedokteran. 36

Ilmu Pengetahuan Duniawi 40

Ijazah Sekolah. 43

Ijazah Kedokteran. 46

Wanita dan Madrasah. 50

Madrasah Sekuler. 52

Era Perlawanan Islam.. 55

Kebangkitan Madrasah di Aljazair. 57

Madrasah Diniyah di Indonesia. 60

Sekolah di Saudi Arabia. 61

Memilih dan Memilah. 63

Khotimah. 67

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونستهديه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم أما بعد:

Sebagian orang yang kurang berilmu dari kalangan ‘orang yang menisbatkan diri kepada salafy sejati’ mengharamkan sekolah dan madrasah formal –dengan tanpa ilmu- dengan alasan penyimpangan-penyimpangan –menurut persangkaan mereka- yang dijumpai dalamnya. Bahkan sikap mereka menjadi semakin ghuluw (melampaui batas) dengan menyikapi dan menganggap hizbi sesat kaum muslimin yang mendirikan sekolah formal. Wallahul musta’an.

Yang menjadi sikap ghuluw dan aneh dari mereka adalah tuduhan hizbi kepada para salafy yang mendirikan sekolah formal. Padahal dalam kenyataannya, mereka sendiri menjadi contoh pengaku ‘salafy’ yang jatuh ke dalam sikap hizbiyah dan ta’ashub golongan. Dalam pepatah arab disebutkan:

رَمَتْني بدائِها وانْسلَّتْ

“Ia menuduhku dengan penyakitnya, padahal ia sendiri yang mengidap penyakit itu.” (Lisanul Arab: 4/39).

Di antara bukti ke-hizbi-an mereka adalah bahwa mereka membuat grup-grup yang mereka namakan dengan forum salafy kota A, grup salafy kota B, salafi kota C dan sebagainya yang terkesan eksklusif. Ini menunjukkan bahwa virus Laskar Jihad ternyata masih menempel di dalam diri mereka. Laskar Jihad dulu juga membuat kelompok FKAWJ (Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah). Ada FKAWJ kota A, FKAWJ kota B dan sebagainya. Seolah-olah kaum muslimin yang berada di luar grup “salafy” bikinan mereka bukanlah salafy. Demikian pula yang di luar FKAWJ bukanlah ahlussunnah.

Al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah mengingatkan:

فـ”السلفية” بمعنى أن تكون حزباً خاصاً له مميزاته ويضلل أفراده من سواهم فهؤلاء ليسوا من السلفية في شيء.وأما السلفية اتباع منهج السلف عقيدة وقولاً وعملاً وائتلافاً واختلافاً واتفاقاً وتراحماً وتواداً، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ( مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر ) فهذه هي السلفية الحقة.

’Salafiyah’ dengan makna hizib atau kelompok tertentu yang mempunyai ciri khas tersendiri (seperti mengharuskan berjubah dan tidak bersekolah formal, pen) dan menganggap sesat orang-orang yang berada di luar mereka, maka mereka tidaklah termasuk ‘Salafiyah’ sedikit pun. Maka ‘salafiyah’ adalah mengikuti jalan as-Salaf, baik dalam akidah, ucapan, perbuatan, bersatu, berselisih ataupun dalam kasih sayang, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus terjaga tidak bisa tidur dan merasa panas.” Maka inilah ‘Salafiyah Sejati’.” (Liqa’ul Babil Maftuh: 57/15).

Beliau juga mengingatkan:

ولا شك أن الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السلف لا الانتماء إلى حزب معين يسمى السلفيين، والواجب أن تكون الأمة الاسلامية مذهبها مذهب السلف الصالح لا التحزب إلى من يسمى (السلفيون) فهناك طريق السلف وهناك حزب يسمى (السلفيون) والمطلوب اتباع السلف

“Tidak diragukan lagi bahwa yang wajib atas semua kaum muslimin adalah agar madzhab mereka adalah madzhab as-Salaf, bukan berloyal kepada kelompok tertentu yang bernama ‘Salafiyin’ (seperti forum salafy kota A, grup salafy kota B dan sebagainya, pen). Yang wajib adalah agar madzhab kaum muslimin adalah madzhab as-Salaf ash-Shalih, bukan bergabung atau membuat grup atau kelompok yang bernama ‘Salafiyun’. Maka di sana ada jalan as-Salaf dan di sana juga ada grup yang bernama ‘Salafiyin’. Yang dituntut adalah mengikuti as-Salaf.” (Syarh al-Arbain an-Nawawiyah hadits: 28). Demikianlah kenyataan di yang terjadi di kalangan mereka.

Kemudian di dalam tulisan singkat ini akan dijelaskan sejarah dan asal usul sekolah, mulai dari masa kenabian, khulafa’ur rasyidin, generasi awal Islam hingga masa kontemporer. Pelaku sejarah tersebut –insya Allah- akan disebutkan dalam tulisan ini, dimulai dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, tabi’in dan para ulama besar setelah mereka.

Penting diketahui oleh Pembaca sekalian bahwa mempelajari sejarah Islam –termasuk sejarah sekolah- itu berkaitan erat dengan mempelajari ‘Fiqih al-Quran dan as-Sunnah’. Yang demikian karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan atas dirinya, niscaya Allah akan menjadikannya faqih (atau faham) dalam urusan ad-Dien.” (HR. Al-Bukhari: 69, Muslim: 1719, at-Tirmidzi: 2569, Ibnu Majah: 216 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu).

Oleh karena itu, dalam rangka mengaitkan ilmu sejarah dengan ilmu fikih, al-Quran dan as-Sunnah banyak menceritakan kisah-kisah kaum terdahulu, dari para nabi alaihimussalam, orang-orang shaleh terdahulu, hingga orang-orang menyimpang yang dibinasakan. Kisah mereka dicantumkan dalam al-Quran dan as-Sunnah agar kita –sebagai generasi belakangan- bisa menjadikannya sebagai pelajaran dan fikih di dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma berkata:

كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُنَا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ حَتَّى يُصْبِحَ مَا يَقُومُ إِلَّا إِلَى عُظْمِ صَلَاةٍ

“Adalah Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami sejarah Bani Israil (yakni setelah shalat malam) hingga masuk waktu shubuh. Beliau tidak berhenti kecuali untuk melakukan shalat (shubuh).” (HR. Ahmad: 19077, Abu Dawud: 3178 dan isnadnya di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud: 3663).

Al-Imam Abu Syamah (wafat tahun 665 H) rahimahullah berkata:

ولم يزل الصحابة والتابعون فمن بعدهم يتفاوضون في حديث من مضى، ويتذاكرون ما سبقهم من الأخبار وانقضى، ويستنشدون الأشعار، و يتطلبون الآثار والأخبار؛ وذلك بين من أفعالهم لمن اطلع على أحوالهم، وهم السادة القدوة، فلنا بهم أسوة

“Para sahabat, tabiin dan generasi setelah mereka saling bersekutu dalam menceritakan sejarah kaum terdahulu, saling berdiskusi terhadap berita umat terdahulu, melantunkan syair, mencari berita dan atsar. Dan ini sangat jelas dari perbuatan mereka bagi orang yang mempelajari keadaan mereka. Mereka adalah pembesar dan panutan. Dan kita mendapatkan teladan dari mereka.” (Ar-Raudlatain fi Akhbarid Daulatain: 2)

Kita dapati bahwa al-Imam asy-Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah menjadi orang yang paling menguasai ilmu fikih di masa beliau. Beliau juga menjadi orang yang paling menguasai ilmu sejarah manusia. Mush’ab bin Abdullah az-Zubairi rahimahullah berkata:

ما رأيت أحداً أعلم بأيام الناس من الشافعي

“Aku tidak mengetahui seseorang yang lebih mengetahui sejarah manusia daripada asy-Syafii.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/74).

Al-Imam adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) rahimahullah berkata:

وقال أحمد بن محمد ابن بنت الشافعي: ثنا أبي قال: أقام الشافعي علي العربية وأيام الناس عشرين سنة وقال: ما أردت بهذا إلا الاستعانة على الفقه

“Ahmad bin Muhammad bin Bintusy Syafii berkata: “Ayahku bercerita: “Asy-Syafii menetap untuk mempelajari bahasa Arab dan sejarah manusia selama 20 tahun.” Beliau (asy-Syafii, pen) berkata: “Tidaklah aku menghendaki demikian kecuali agar aku lebih mudah menguasai ilmu fikih.” (Tarikhul Islam: 14/340).

Setelah membaca buku ‘Sejarah Sekolah dalam Islam’ ini Pembaca diharapkan dapat mengambil sikap yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya sesuai dengan kemampuan masing-masing, keadaan daerah serta masyarakatnya.

Akhirnya Penulis memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan tulisan ini sebagai bentuk amal saleh yang diterima oleh-Nya.

 

Babat, 7 Jumadats Tsaniyah 1435 H (6 April 2014 M)

Diperbaharui 11 Dzulhijjah 1437 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut