Arsip Bulanan: Juli 2017

Selamatan Kematian menurut Islam

[Maktabah Thibbul Qulub]
Selamatan Kematian menurut Islam
Kajian Literatur terhadap Selamatan Kematian
Oleh dr. M Faiq Sulaifi
4 Dzulqa’dah 1438 H

 

 

 


 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukaddimah. 3

Definisi Selamatan Kematian. 5

Hadits Larangan Selamatan Kematian. 7

Makna Hadits Larangan Selamatan Kematian. 9

Wasilah menuju Ma’tam.. 10

Pelarangan Secara Bertahap. 11

Atsar as-Salaf terhadap Selamatan Kematian. 13

Kesepakatan Para Ulama. 14

Tradisi Kaum Yahudi 16

Bid’ah Kaum Syiah Rafidhah. 17

Upaya Umar bin Abdul Aziz. 18

Penukilan dari Ulama Hanafiyah. 19

Penukilan dari Ulama Malikiyah. 21

Penukilan dari Ulama’ Syafi’iyah dan Biaya Selamatan. 23

Penukilan dari Ulama Hanabilah dan Rukhsah. 27

Dianjurkan Membuat ‘Atirah’ 29

Acara Aqr. 32

Open House untuk Takziyah. 33

Salah Tulis dan Salah Cetak. 37

Ratsa’ Mubah dan Ratsa’ Jahiliyah. 40

Membaca al-Quran pada Acara Ma’tam.. 43

Berhujah dengan Atsar al-Imam Thawus. 45

Berhujah dengan Atsar Ubaid bin Umair. 47

Sikap as-Suyuthi 50

Bersedekah untuk Mayit. 54

Wanita Bertakziyah. 59

Hindarilah Pendapat yang Menyendiri 61

Jawaban Mufti Makkah. 66

Terus-Menerus Terjadi 69

Khotimah. 70

 

 

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Amma ba’du:

Agama Islam tidak mengenal perpaduan budaya baik perpaduan Islam dengan ajaran Jahiliyah, perpaduan Islam dengan ajaran Yahudi atau Islam dengan ajaran kejawen. Allah ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Ayat di atas turun berkenaan dengan sebagian Ahlul Kitab yang masuk Islam kemudian meminta ijin agar tetap bisa mengagungkan hari Sabtu dan tetap bisa membaca Taurat ketika shalat malam. Kemudian turunlah ayat ini. (Fathul Qadir lisy Syaukani: 1/322, Tafsir al-Baghawi: 1/240 dan Tafsir Ibnu Katsir: 1/565).

Maka ketika seseorang telah masuk Islam, ia harus meninggalkan ajaran Yahudi, ajaran Jahiliyah dan lainnya yang ia anut sebelum masuk Islam.

Di antara ajaran Jahiliyah yang dihapus oleh Islam adalah tradisi selamatan kematian yang merupakan acara ikutan dari kegiatan meratapi mayit.

Anehnya di masa akhir-akhir ini muncul sebagian kaum muslimin yang membolehkan acara selamatan kematian untuk mayit selama tujuh hari dengan alasan riwayat dari Thawus bin Kaisan al-Yamani (ulama tabi’in wafat tahun 106 H) rahimahullah yang membolehkannya. Beliau berkata:

إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام

“Sesungguhnya orang-orang mati itu mendapatkan fitnah (pertanyaan Munkar dan Nakir) di kubur mereka selama 7 hari. Mereka senang memberikan makan atas nama mereka (orang-orang mati) pada hari-hari tersebut.”

Atsar seperti ini disebarkan oleh mereka yang mendukung acara ini di dalam kajian-kajian mereka dan di dalam ‘Bahtsul Masail’ mereka. Seolah-olah para ulama kita sejak berabad-abad yang lalu tidak mengetahui atsar ini kemudian mereka menemukannya untuk digunakan sebagai dalil tentang bolehnya selamatan kematian. Dan karena begitu banyaknya pendukung selamatan kematian maka terkesan seolah-olah selamatan kematian itu adalah sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan orang yang tidak mengadakannya apalagi mengingkarinya akan dianggap asing.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim: 389, at-Tirmidzi: 2629 dan Ibnu Majah: 3986).

Mereka juga mempersempit arti kata ‘Niyahah’ (meratap mayit) dalam bahasa Arab dengan arti menangis dan meraung-raung saja. Padahal arti ‘niyahah’ mencakup berkumpul di dalam suatu majelis untuk bersedih atas kematian. Al-Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi (pakar bahasa Arab, guru al-Imam Sibawaih, wafat tahun 173 H) rahimahullah berkata:

النَّوْحُ مصدر ناح يَنوحُ نَوْحاً ويقال نائحة ذات نياحة ونوّاحة ذات مناحة والمناحة أيضاً الاسم ويجمع على المناحات والمناوح والنَّوائح اسم يقع على النِّساء يَجْتمِعْنَ في مَناحة ويجمع على هذا المعنى على الأَنْواح

“An-Nauh (meratap), masdar dari Naaha-Yanuuhu-Nauhan. Disebut Na’ihah bagi wanita yang meratap dan Nawwahah bagi wanita yang mempunyai majelis meratap kesedihan. Manahah adalah majelis niyahah. Nawa’ih adalah wanita yang berkumpul di tempat meratap dan bentuk jamaknya adalah ‘Anwah’.” (Kitabul Ain: 3/304).

Pada tulisan ini, akan dibahas selamatan kematian dan seluk beluknya. Tidak lupa Penulis juga menukil pendapat ulama Syafi’iyah dan madzhab yang lainnya dalam permasalahan ini karena mayoritas kaum muslimin Indonesia mengamalkan fikih Syafi’iyah. Kemudian Penulis menjelaskan atsar al-Imam Thawus rahimahullah, atsar Ubaid bin Umair rahimahullah, sikap as-Suyuthi rahimahullah serta perbuatan penduduk Madinah yang dijadikan sandaran oleh mereka yang menasionalisasi kegiatan tahlilan atau selamatan kematian 7 hari.

Untuk membaca tulisan ini, dibutuhkan sikap terbuka dan membebaskan diri dari fanatisme atau ta’ashub madzhab atau hizbiyah serta memohon petunjuk kepada Allah Azza wa Jalla. Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ « أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah fanatisme (ta’ashub) itu?” Beliau menjawab: “Kamu membantu kaummu di atas kezaliman.” (HR. Abu Dawud: 5121 dan al-Baihaqi dalam al-Kubra: 21606 (10/234). Di-hasankan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Sunan Abu Dawud: 5119 (7/44)). Sehingga kita dilarang membela suatu pendapat yang jelas-jelas salah, hanya karena itu merupakan pendapat guru kita atau kelompok kita.

Akhirnya, tidak ada gading yang tak retak. Segala kebaikan adalah dari Allah ta’ala dan segala kekurangan adalah dari diri Penulis. Semoga tulisan ini bisa menambah ilmu dan ditulis sebagai amal shalih bagi Penulis. Amien.

Lamongan, 4 Dzulqa’dah 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Iklan

Polemik Acara Halal Bihalal

Maktabah Thibbul Qulub
Polemik Acara Halal Bihalal
Menyikapi Tradisi Lebaran di Tanah Air
Dr. M Faiq Sulaifi
7/2/2017

 

 

Pembahasan Tradisi dalam Lebaran seperti Halal bi Halal, Sungkeman, Unjung-unjung, Rekreasi, Kirim Parcel dan sebagainya

 

 

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 2

Pengertian Halal bi Halal 3

Sisi Tauqifiyah Idul Fitri 3

Kelonggaran Idul Fitri dan Rekreasi 5

Tarian Zapin pada Hari Raya. 6

Berhias dan Memakai Baju Baru. 8

Saling Memberikan Hadiah dan Parcel 10

Mengunjungi Sanak Kerabat. 13

Keumuman Silaturahim.. 15

Berjabat Tangan dan Ucapan Selamat. 16

Tradisi Sungkeman. 19

Pengkhususan Ta’abbudi 22

Tradisi Ziarah Kubur. 24

Berlapang Dada dan Tidak Bersikap Keras. 26

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين وصلى الله على محمد خاتم النبيين وآله الطيبين الطاهرين أما بعد

Telah terjadi pembicaraan panjang lebar di kalangan Salafiyyin antara mereka yang memperbolehkan acara ‘Halal bi Halal’ yang sudah menjadi tradisi di Indonesia dengan mereka yang melarang acara ini. Mereka yang melarang kegiatan ini berpegang pada kaidah bahwa perkara ibadah yang bersifat umum seperti silaturahim, berjabat tangan dan bermaaf-maafan tidak boleh hanya dikhususkan pada hari raya Idul Fitri saja, karena termasuk ‘Bid’ah Idhafiyah’.

Di antara mereka yang mengkritisi ‘Halal bi Halal’ adalah sebuah artikel yang berjudul ‘Menyingkap Keabsahan Halal Bihalal’ dan berkata di dalam kesimpulannya:

“Dari paparan di atas, bisa kita simpulkan bahwa yang dipermasalahkan dalam halal bihalal adalah pengkhususan bermaaf-maafan di hari raya. Pengkhususan ini adalah penambahan syariah baru yang tidak memiliki landasan dalil. Jadi seandainya perkumpulan-perkumpulan yang banyak diadakan untuk menyambut Idul Fitri kosong dari agenda bermaaf-maafan, maka pertemuan itu adalah pertemuan yang diperbolehkan; karena merupakan ekspresi kegembiraan yang disyariatkan Islam di hari raya, dan batasannya merujuk ke adat dan tradisi masyarakat setempat. Tentunya jika terlepas dari pelanggaran-pelanggaran syariah, antara lain yang sudah kita sebutkan di atas.” (Lihat: https://muslim.or.id/6786-menyingkap-keabsahan-halal-bihalal.html).

Pada tulisan ini Penulis akan menjelaskan tentang kemudahan dan kelonggaran syariat Islam yang mulia ini di dalam perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, termasuk pengkhususan hari raya dengan adanya makanan, permainan, tarian, silaturahim, unjung-unjung, halal bi halal, berjabat tangan, saling berkirim parcel dan sebagainya.

Tujuan penulisan artikel ini bukanlah untuk mencari menang-menangan karena tidak sesuai dengan tujuan menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ

“Barangsiapa menuntut ilmu dengan maksud untuk membanggakan diri di depan ulama, atau membodohi  orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka ia di dalam neraka.” (HR. Ibnu Majah: 253 dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 26216 (5/285) dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 6382).

Dan juga bukan untuk menjatuhkan kehormatan seorang ustadz sebagaimana ciri khas Jamaah Tahdzir yang tidak bisa membedakan antara bantahan dan hujatan. Penulis meminjam ucapan Nabi Syuaib alaihissalam:

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88).

Nguwok Modo, 8 Syawal 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut