Pribadi Yang Bertakwa dan Berakhlak

Pribadi Yang Bertakwa dan Berakhlak

Disampaikan oleh dr. M Faiq Sulaifi dalam Khutbah Idul Fitri 1438 H di Lapangan Masjid Darussalam Baureno Bojonegoro

الحمد لله الذي لم يتخذ ولدا ولم يكن له شريك في الملك، وخلق كل شيء فقدره تقديرا، (تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا) [الفرقان:1].

الحمد لله الذي امتن علينا بنعمة الإسلام، وشرح صدورنا بنور الإيمان، وأفاض علينا بآلائه العظام حيث جعلنا من خير أمة أخرجت للناس، وأنزل علينا أعظم كتاب وأحكمه، ويسر لنا أمر طاعته، وبشر المتقين بجنته، وحذر المعرضين بأليم عقابه.

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة عبد يرجو برَّها وذخرها يوم العرض الأكبر، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله صاحب الحوض الأعظم، والمقام الأكرم، صلوات ربي وسلامه عليه وعلى آله وصحبه ومن اقتدى بسنته إلى يوم الفزع الأكبر.

الله أكبر. الله أكبر لا إله إلا الله. الله أكبر. الله أكبر. ولله الحمد. الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا.

الله أكبر بفضله، الله أكبر بحلمه وعفوه، الله أكبر بجوده وكرمه، الله أكبر رفع السماوات بغير عمد، وبسط الأرض بغير عنت، وسخر الليل والنهار للعمل والسكن، وأنزل الغيث على عباده برحمته، وسخر الأفلاك دائرة بحكمته وقدرته. (أما يعد)

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Marilah kita bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas segala nikmat-Nya dan nikmat disempurnakannya bulan Ramadhan bagi kita. Rasa syukur itu diantaranya bisa kita wujudkan dengan mengeluarkan zakat fitrah di akhir Ramadhan dan menunaikan shalat Idul Fitri di hari ini

Allah ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى () وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’la: 14-15).

Sebagian as-Salaf di antaranya Atha’, Ibnu Sirin dan Abul Aliyah berkata: “Maknanya adalah membersihkan diri dengan mengeluarkan zakat fitrah, kemudian bertakbir dan melakukan shalat Idul Fitri.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim: 12/391).

الله أكبر. الله أكبر لا إله إلا الله. الله أكبر. الله أكبر. ولله الحمد.

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Di antara tujuan puasa Ramadhan yang baru selesai kita kerjakan kemarin menjadi pribadi yang bertakwa. Allah ta’ala menerangkan sebagian ciri-ciri orang yang bertakwa dalam firman-Nya:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) ءَاخِذِينَ مَآءَاتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ الَّيْلِ مَايَهْجَعُونَ (17) وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقُّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sungguh, sebelum itu, mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat ihsan; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta.” (QS. Adz-Dzariyat: 15-19).

Di dalam ayat terdapat empat (4) sifat orang yang bertakwa:

Pertama: berbuat ihsan

Kedua: gemar melakukan shalat malam

Ketiga: ber-istighfar dan bertaubat di waktu sahur

Keempat: gemar bersedekah dan ber-infak untuk orang miskin dan peminta-minta.

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله، والله أكبر والله أكبر ولله الحمد

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Sifat pertama adalah ihsan. Secara bahasa, ihsan berarti baik. Perbuatan ‘ihsan’ meliputi dua hal, yaitu: berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah ta’ala dan berbuat ihsan di dalam mu’amalah dan pergaulan.

Perbuatan ihsan dalam beribadah adalah merasa diawasi oleh Allah ta’ala atau disebut dengan ‘Muraqabah’. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang Ihsan dalam ibadah:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, jika tidak, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR. Al-Bukhari: 50, Muslim: 102).

Maka seorang hamba meyakini bahwa ia senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala dalam segala ibadah seperti shalat, zakat dan puasa. Allah ta’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيم ِ( ) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ () وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ () إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Asy-Syu’ara: 217-220).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah melihat kita ketika kita melaksanakan shalat sendirian dan juga melihat kita ketika melakukan shalat berjamaah.

Latihan untuk bersikap ihsan kita dapatkan dari ibadah puasa Ramadhan. Yang demikian karena hanya Allah dan kitalah yang mengetahui puasa kita. Mungkin seseorang makan dan minum secara sembunyi-sembunyi kemudian dia mengaku berpuasa dan ikut acara buka bersama. Hanya Allah ta’ala dan kita yang tahu. Oleh karena itu ibadah puasa mendapat kedudukan khusus di sisi Allah. Allah ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام ، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ

“Setiap amal ibadah manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Maka ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Al-Bukhari: 1904 dan Muslim: 2760).

Di antara buah dari sikap ihsan dalam ibadah atau ‘Muraqabah’ adalah kita tidak akan bermudah-mudahan meninggalkan kewajiban dan tidak meremehkan perbuatan dosa. Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا، هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ المُوبِقَاتِ

“Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dia adalah lebih tipis dibandingkan rambut dalam penglihatan kalian, sungguh kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menganggapnya termasuk dari dosa-dosa (besar) yang membinasakan.” (Atsar riwayat al-Bukhari: 6492 dan Ahmad: 12604).

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله، والله أكبر والله أكبر ولله الحمد

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Yang kedua: Ihsan juga berarti berbuat baik kepada semua makhluk Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat Ihsan terhadap segala sesuatu. Jika kamu membunuh, maka perbaikilah cara membunuh dan jika kamu menyembelih, maka perbaikilah cara menyembelih. Maka hendaknya salah seorang di antara kalian mengasah pisaunya dan meng-istirahatkan sembelihannya.” (HR. Muslim: 5167, Abu Dawud: 2815 dan Ibnu Majah: 3170 dari Syaddad bin Aus radhiyallahu anhu).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad: 21354 dan at-Tirmidzi: 1987 dari Abu Dzarr dan Muadz bin Jabal radhiyallahu anhuma dan ia berkata hasan shahih. Di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Takhrij al-Misykat: 5083 (3/102)).

Kemudian al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah menerangkan ciri-ciri orang yang mempunyai akhlak mulia. Beliau berkata:

هُوَ بَسْطُ الوَجْهِ، وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ، وَكَفُّ الأَذَى

“Wajah yang berseri-seri, memberikan kebaikan dan menahan diri dari menyakiti manusia.” (Atsar riwayat at-Tirmidzi: 2005).

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ

“Seseorang berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Fulanah banyak melakukan shalat, puasa dan sedekah, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Maka beliau menjawab: “Ia di neraka.” Ia berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Fulanah sedikit melakukan shalat, puasa dan sedekah. Ia hanya bersedekah beberapa potong keju, tetap ia tidak pernah menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Beliau menjawab: “Ia di surga.” (HR. Ahmad: 9675, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 9545 (7/78) dan di-shahih-kan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya: 7305 (4/184) serta disepakati oleh adz-Dzahabi).

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله، والله أكبر والله أكبر ولله الحمد

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Sifat kedua dari sifat orang-orang yang bertakwa adalah gemar melakukan shalat malam.

Allah ta’ala memuji mereka yang melakukan shalat malam:

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ () فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Lambung mereka menjauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni`mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 16-17).

Ayat di atas menunjukkan bahwa tujuan melakukan shalat malam adalah untuk menyeru dan berdoa kepada Allah ta’ala dengan mengharap surga dan takut dari adzab-Nya. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa perkara yang mendorong seseorang untuk bangun shalat malam adalah adanya keimanan tentang adanya surga dan berbagai nikmatnya yang mana Allah ta’ala telah janjikan dalam hadits qudsi:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ، مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih, kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengarkan oleh telinga dan belum pernah dibayangkan oleh hati.” (HR. Al-Bukhari: 4779, Muslim: 7310 dan at-Tirmidzi: 3197 dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Adapun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau melakukan shalat malam sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah ta’ala. Diceritakan oleh Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu’anha,

كَانَ النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – يَقومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا ، يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ ؟ قَالَ : (( أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً! ))

 “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah besabda: ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’” (HR. Bukhari no. 1130, Muslim no. 2820).

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله، والله أكبر والله أكبر ولله الحمد

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Sifat ketiga dari sifat orang yang bertakwa adalah suka bertaubat dan ber-istighfar. Tempat yang paling baik dari istighfar adalah di akhir kegiatan dan akhir waktu. Di antaranya adalah di akhir malam atau waktu sahur. Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ () الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأَسْحَارِ

“(Yaitu) orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka, yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 16-17).

Di antaranya adalah di akhir majelis atau pertemuan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan do’a kafaratul majlis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan aku meminta ampunan dan bertaubat pada-Mu.” (HR. Abu Dawud: 4861 dan at-Tirmidzi: 3433 dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu anhu. Ia berkata hadist hasan shahih).

Di antaranya adalah setelah selesai shalat. Tsauban radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اِنْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ اَللَّهَ ثَلَاثًا , وَقَالَ : ” اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَلسَّلَامُ وَمِنْكَ اَلسَّلَامُ . تَبَارَكْتَ يَا ذَا اَلْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau membaca istighfar tiga kali, lalu mengucapkan “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha sejahtera dan dari Engkaulah kesejahteraan, Mahasuci Engkau wahai, Rabb Yang Memiliki kebesaran dan kemuliaan.” Auza’i, salah seorang perawi hadits ini ditanya: “Bagaimana istighfar itu?” Jawabannya: “Astaghfirullaah – Astaghfirullaah, aku memohon ampunan kepada Allah, aku memohon ampunan kepada Allah.”” (HR Muslim: 1362, an-Nasai: 1337 dan at-Tirmidzi: 300).

Dan ketika manusia berbondong-bondong masuk Islam, maka tugas kerasulan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan berakhir dan beliau diperintahkan untuk banyak ber-istighfar. Allah ta’ala berfirman:

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ () وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا () فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3).

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله، والله أكبر والله أكبر ولله الحمد

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Sifat keempat dari sifat orang yang bertakwa adalah suka ber-infak dan bersedekah untuk kaum miskin dan peminta-minta. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah teladan kita di dalam sikap dermawan. Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا.

“Bahwa seorang laki-laki meminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kambing sebanyak lembah di antara dua gunung. Maka beliau pun memberikannya. Kemudian orang itu datang kepada kaumnya dan berkata: “Wahai Kaumku! Masuklah kalian kepada Islam. Maka demi Allah, Muhammad adalah orang yang suka memberikan pemberian yang mana ia tidak takut menjadi miskin.” Anas berkata: “Sesungguhnya orang itu tidak mau masuk Islam kecuali karena dunia, kemudian dia masuk Islam dalam keadaan al-Islam menjadi sesuatu yang ia cintai daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim: 6161 dan Ahmad: 12790).

Hadits di atas menunjukkan bahwa banyaknya harta disertai dengan sikap dermawan dapat dijadikan wasilah berdakwah mengajak kepada al-Islam. Kita ini membutuhkan da’i dan juru dakwah yang dermawan dalam rangka menjinakkan hati orang-orang yang sangat benci kepada Islam.

Ibnu Syihab berkata: “Setelah Rasulullah berhasil menaklukkan kota Mekkah, beliau pergi dgn pasukannya untuk berperang di Hunain. Dalam peperangan itu Allah memenangkan agama-Nya & kaum muslimin. Dan Rasulullah memberi Shafwan bin Umayyah seratus ekor ternak, kemudian ditambah dua ratus ekor lagi. Ibnu Syihab berkata; Telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Musayyib bahwa Shafwan berkata:

وَاللَّهِ لَقَدْ أَعْطَانِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا أَعْطَانِى وَإِنَّهُ لأَبْغَضُ النَّاسِ إِلَىَّ فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِى حَتَّى إِنَّهُ لأَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ.

“Demi Allah, Rasulullah telah memberiku hadiah yang banyak sekali. Sebenarnya dahulu beliau adalah orang yang paling saya benci, tetapi karena beliau selalu memberi hadiah kepadaku, sehingga beliau kini adalah orang yang paling saya cintai.” (HR. Muslim: 6162 dan Ahmad: 15304).

Di dunia seorang yang dermawan akan diberi ganti harta yang disedekahkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta sedikit pun.” (HR. Muslim: 6757 dan at-Tirmidzi: 2029 dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Dan di akhirat orang yang dermawan akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

حُوسِبَ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَلَمْ يُوجَدْ لَهُ مِنَ الْخَيْرِ شَىْءٌ إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَكَانَ مُوسِرًا فَكَانَ يَأْمُرُ غِلْمَانَهُ أَنْ يَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَحْنُ أَحَقُّ بِذَلِكَ مِنْهُ تَجَاوَزُوا عَنْهُ

“Ada seorang lelaki sebelum kalian dihisab ternyata tidak didapati baginya amalan kebajikan kecuali dia dulunya orang yang lapang (berkecukupan) dia biasa berhubungan dengan orang lain, dan dia menyuruh para pegawainya untuk mema’afkan (melewati) orang yang kesulitan. Maka Allah Azza wa Jalla memerintahkan para malaikat-Nya: ‘Kita lebih berhak untuk itu dari dia, ma’afkanlah (lewatilah) dia.” (HR. Muslim: 4080 dan at-Tirmidzi: 1307).

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله، والله أكبر والله أكبر ولله الحمد

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Mari kita akhiri khutbah ini dengan berdo’a kepada Allah ta’ala agar kita termasuk hamba-hamba yang diterima shalat, puasa dan amal kebaikan kita. Amien

الَّلهَمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَ وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ . اللَّهُمَّ إنَّا نَسْألُكَ مُوجِباتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزائِمَ مَغْفِرَتِكَ، والسَّلامَةَ مِنْ كُلِّ إثمٍ، والغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، والفَوْزَ بالجَنَّةِ، والنَّجاةَ مِنَ النَّارِ . اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنا ذَنْباً إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمّاً إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، وَلاَ كَرْباً إِلاَّ نَفَّسْتَهُ، وَلاَ مَيْتاً إِلاَّ رَحِمْتَهُ، وَلاَ مَرِيضاً إِلاَّ شَفَيْتَهُ، وَلاَ دَيْناً إِلاَّ قَضَيْتَهُ، وَلاَ غَائِباً إِلاَّ حَفِظْتَهُ وَرَدَدْتَّهُ، وَلاَ مُجَاهِداً فِي سَبِيلِكَ إِلاَّ نَصَرْتَهُ، وَلاَ عَدُوّاً إِلاَّ أَهْلَكْتَهُ، وَلاَ طَاغِيَةً إِلاَّ قَصَمْتَهُ، ولاَ ضَالاًّ إِلاَّ هَدَيْتَهُ، وَلاَ مَظْلُوماً إِلاَّ أَيَّدْتَهُ، وَلاَ ظَالِماً إِلاَّ خَذَلْتَهُ، وَلاَ عَسِيراً إِلاَّ يَسَّرْتَهُ، وَلاَ وَلَداً إِلاَّ أَصْلَحْتَهُ، وَلاَ عَيْباً إِلاَّ سَتَرْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيا وَالآخِرَةِ هِيَ لَكَ رِضاً وَلَنا فِيها صَلاَحٌ إِلاَّ أَعَنْتَنا عَلَى قَضَائِهَا وَيَسَّرْتَهَا لَنا، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اللَّهُمَّ وَاجْعَلنَا مِمَّنْ دَعَاكَ فَأَجَبْتَهُ، وَتَضَرَّعَ إِلَيْكَ فَرَحِمْتَهُ، وَسَأَلَكَ فَأَعْطَيْتَهُ، وَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَيْتَهُ، وَإِلى حُلُولِ دَارِكَ دَارِ السَّلاَمِ أَدْنَيْتَهُ. اللَّهُمَّ بَلِّغْنا رَمَضَانَ وَأَعِنّا عَلَى صِيامِهِ وَقِيامِهِ عَلَى الوَجْهِ الّذِي يُرضْيِكَ عَنّا  اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الأَعْمَالِ وَاجْعَلهَا خَالِصةً لِوَجْهِكَ الكَرِيمِ..

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر. الله أكبر، ولله الحمد

سبحان ربك رب العزة عما يصفون، وسلام على المرسلين، والحمد لله رب العالمين.

 

Iklan

Ditandai:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: