Arsip Bulanan: Oktober 2016

Sunnah Tarkiyah dan Bid’ah Idhafiyah menurut Ulama Syafi’iyah

 

 

 

Sunnah Tarkiyah dan Bid’ah Idhafiyah menurut Ulama Syafi’iyah
Dialog di Kalangan Syafi’iyah tentang Bid’ah Idhafiyah dan Sunnah Tarkiyah
dr. M Faiq Sulaifi
 
 

 

 

Daftar Isi

Mukaddimah. 3

Pengertian Bid’ah. 9

Pengertian Sunnah Tarkiyah. 10

Sunnah Tarkiyah menurut Ulama Syafi’iyah. 14

Cara Menukilkan Sunnah Tarkiyah. 17

Antara ‘Tidak Ada Penukilan’ dan ‘Dinukilkan Tidak Ada’ 18

Memungut Zakat Sayuran dan Logam.. 21

I’tikaf di Selain Masjid. 22

Merutinkan Bacaan Ayat Fadhilah. 23

Melafalkan Niat. 23

Mendirikan Shalat Jumat bagi Kafilah. 24

Membantah Kebid’ahan dan Pelakunya. 25

Melanggar Sunnah Tarkiyah Berarti Melakukan Bid’ah. 25

Wudhu dengan Urutan Terbalik. 26

Hanya dalam Ranah Ta’abbudi 27

Qiyas dalam Ranah Ta’abbudi 29

Mengangkat Tangan ketika Berdoa. 31

Maslahat Mursalah. 33

Antara Maslahat Mursalah dan Bid’ah Hasanah. 35

Bid’ah Hasanah menurut al-Imam asy-Syafi’i 39

Makna Hadits tentang Bid’ah. 42

Perkara yang Dapat Dipahami Maksudnya. 44

Bid’ah Idhafiyah. 47

Shalat Dhuha Berjamaah. 48

Dzikir Berjamaah. 49

Pengkhususan Waktu Ibadah. 51

Pengkhususan Tempat Tertentu dengan Ibadah. 53

Mengkhususkan Ibadah di Kuburan Wali 54

Mengkhususkan Jabal Ramah sebagai Tempat Wukuf. 55

Pengkhususan Keadaan dan Tatacara Tertentu dengan Ibadah. 56

Mengubah Lafazh Dzikir. 59

Bacaan Ayat Kursi untuk Acara Tahlilan. 61

Berjabat Tangan setelah Shalat. 62

Anjuran Shalat Raghaib. 63

Pengkhususan Ziarah Kubur. 64

Antara Sunnah Taqririyah dan Mengadakan Bid’ah. 68

Tergelincir dalam Sikap Istihsan. 71

Dialog antara Syafi’i dan Hanafi 72

Luasnya Dzikir dalam Shalat. 76

Tingkatan Bid’ah. 80

Sikap terhadap Ahlul Bid’ah. 81

Boikot terhadap  Ahli Bid’ah. 82

Agama Sudah Sempurna. 85

Penutup. 86

 

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمد عبده ورسوله.

(Amma ba’du)

Sebagian kaum muslimin -yang menyukai kegiatan istighatsah secara berjamaah dan ziarah makam para wali- membolehkan kegiatan pengkhususan ibadah pada waktu-waktu tertentu dengan dalil-dalil keumuman ibadah. Menurut mereka terdapat dalil shahih yang membolehkan peng-khususan ibadah yang bersifat umum tersebut.

Di antara dalil tersebut –menurut mereka- adalah hadits Ibnu Umar radliyallahu anhuma. Beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُه

“Nabi SAW selalu mendatangi masjid Quba setiap hari sabtu baik dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai kendaraan, sedangkan Abdullah selalu melakukannya.” (HR. Al-Bukhari: 1118, Muslim: 2483).

Kemudian mereka membawakan komentar al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah:

وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم

“Di dalam hadits ini dengan sekian jalur yang berbeda terdapat dalil diperbolehkannya menjadikan hari-hari tertentu untuk sebuah ritual yang baik dan istiqamah. Hadits ini juga menerangkan bahwa larangan bepergian ke selain tiga masjid (Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsa, dan Masjid Nabawi) tidaklah haram (tetapi hanya makruh, pen).” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 3/69).

Dan masih banyak alasan-alasan mereka untuk membolehkan peng-khusus-an ibadah yang bersifat umum. Mereka juga menyatakan bahwa larangan tersebut hanyalah pendapat kaum Wahabi (Salafy) yang suka mengada-ada. Begitulah anggapan mereka. Ini bisa dilihat dalam situs mereka https://salafytobat.wordpress.com/category/dalil-shahih-bolehnya-mengkhususkan-amal-ibadah-pada-hari-hari-tertentu/.

Mereka juga menolak Manhaj Sunnah Tarkiyah dengan alasan bahwa penetapan ‘sunnah tarkiyah’ adalah monopoli kaum Wahabi saja. Banyak di antara mereka yang merujuk pada buku yang berjudul “Husnut Tafahhum wad Darki fi Mas’alatit Tarki” tulisan Abdullah bin Shiddiq al-Ghummari di dalam menolak sunnah tarkiyah. Sehingga mereka tetap saja melaksanakan amalan-amalan yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam –dan dikategorikan sebagai sunnah tarkiyah- seperti dzikir berjamaah, tahlilan,  istighatsahan dan sebagainya.

Pada tulisan ini akan dipaparkan pendapat-pendapat ulama Syafi’iyah di dalam larangan peng-khusus-an ibadah yang bersifat umum atau bid’ah idhafiyah dan pendapat-pendapat mereka tentang ‘Sunnah Tarkiyah’.

Mengapa hanya dikhususkan dengan pembahasan ulama ‘Syafi’iyah’ saja, bukan ‘Hanafiyah’ atau ‘Malikiyah’ atau ‘Hanabilah’ dan sebagainya?

Alasan pertama: karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mempelajari dan mengamalkan fikih ulama ‘Syafi’iyah’. Tetangga kita, teman sekantor dan orang-orang yang bermuamalah dengan kita di masjid, di pasar dan sebagainya kebanyakannya ‘mengaku’ mengikuti “Syafi’iyah”. Para tokoh dan kyai yang sedang kita bantah juga Syafi’iyah. Maka sebagai bentuk hikmah dalam dakwah dan ta’liful qulub (menjinakkan hati) hendaknya kita memperkenalkan Manhaj Salaf kepada mereka melalui ulama Syafi’iyah.

Dan demikianlah adab dalam berdakwah. Maka ketika kita berada di tengah-tengah kaum muslimin yang menggunakan fikih Hanabilah, maka kita pun mengajarkan Manhaj Salaf kepada mereka melalui ulama Hanabilah.

Al-Imam Malik bin Anas (wafat tahun 179 H) rahimahullah berpesan kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur al-Abbasi:

فان ذهبت تحولهم مما يعرفون إلى ما لا يعرفون رأوا ذلك كفرا ولكن أقر أهل كل بلدة على ما فيها من العلم وخذ هذا العلم لنفسك

“Jika Anda berusaha mengubah mereka (kaum muslimin, pen) dari ilmu yang mereka kenal menuju ilmu yang belum mereka kenal, maka mereka akan menilai pendapat Anda sebagai kekufuran. Akan tetapi biarkanlah masing-masing negeri memegang ilmu (madzhab) yang dipakai di negeri tersebut. Dan ambillah pendapat Anda untuk diri Anda sendiri!” (Al-Jarh wat Ta’dil li Ibni Abi Hatim: 1/29).

Demikian pula nasehat al-Imam al-Qadhi Abu Ya’la Ibnul Farra’ al-Hanbali (wafat tahun 458 H) rahimahullah kepada seseorang yang ingin berpindah dari Madzhab Syafi’i ke Madzhab Hanbali:

فإنك إذا كنت في بلدك على مذهب أحمد وباقي أهل البلد على مذهب الشافعي لم تجد أحدا يعبد معك ولا يدارسك، وكنت خليقا أن تثير خصومة وتوقع نزاعا، بل كونك على مذهب الشافعي حيث أهل بلدك على مذهبه أولى

“Jika kamu di negerimu bermadzhab Hanbali, sedangkan semua penduduknya bermadzhab Syafi’i, maka kamu tidak akan menemukan orang yang beribadah bersamamu dan orang yang menjadi teman diskusimu. Dan kamu akan menjadi orang yang memicu perselisihan dan perdebatan di antara mereka.” (Al-Muswaddah fi Ushulil Fiqh: 483).

Cara berdakwah seperti inilah yang sesuai dengan hikmah dakwah. Ketika Addas datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bertanya:

وَمِنْ أَهْلِ أَيّ الْبِلَادِ أَنْتَ يَا عَدّاسُ ، وَمَا دِينُك ؟ قَالَ نَصْرَانِيّ ، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ نِينَوَى . فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مِنْ قَرْيَةِ الرّجُلِ الصّالِحِ يُونُسَ بْنِ مَتّى ؟ فَقَالَ لَهُ عَدّاسٌ : وَمَا يُدْرِيك مَا يُونُسُ بْنُ مَتّى ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ذَاكَ أَخِي ، كَانَ نَبِيّا وَأَنَا نَبِيّ ، فَأَكَبّ عَدّاسٌ عَلَى رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُقَبّلُ رَأْسَهُ وَيَدَيْهِ وَقَدَمَيْهِ

“Wahai Addas! Kamu berasal dari penduduk negeri mana? Dan apa agamamu?” Addas menjawab: “Aku seorang nasrani. Aku berasal dari negeri Nineveh.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Dari desa seorang shalih yang bernama Yunus bin Matta?” Addas balik bertanya: “Apakah yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Beliau adalah saudaraku. Beliau itu seorang nabi dan aku pun seorang nabi.” Maka Addas tertunduk mencium kepala, kedua tangan dan kedua telapak kaki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah: 2/416 dan Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shahabah: 5615 (4/2262) secara mursal dari az-Zuhri, ath-Thabari dalam Tarikhnya: 1/554 secara mursal dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dan Ibnu Mandah dalam al-Mustakhraj: 1/73 dari Sulaiman at-Taimi secara mursal. Kisah ini di-dhaif-kan oleh al-Albani dalam Takhrij Kitab Fiqhus Sirah: 135. Adapun menurut Dr. Muhammad Thayyib an-Najjar ketiga riwayat ini saling menguatkan. Lihat al-Qaulul Mubin fi Sirah Sayyidil Mursalin: 151).

Bandingkan cara dakwah kaum Salaf di atas dengan cara dakwah orang-orang yang mengaku sebagai ‘Salafy Sejati’ ini. Mereka hanya mau mengajarkan kitab-kitab fikih Hanabilah di masjid-masjid kaum muslimin yang secara mayoritas mengikuti fikih Syafi’iyah, kemudian mencela sebagian amal ibadah dan pendapat kaum muslimin di sekitar mereka.

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi al-Maliki (wafat tahun 790 H) rahimahullah mengutip ucapan Abu Hamid al-Ghazali asy-Syafi’i (wafat tahun 505 H) rahimahullah:

أَكْثَرُ الْجَهَالَاتِ إِنَّمَا رَسَخَتْ فِي قُلُوبِ الْعَوَامِّ بِتَعَصُّبِ جَمَاعَةٍ مِنْ جُهَّالِ أَهْلِ الْحَقِّ، أَظْهَرُوا الْحَقَّ فِي مَعْرِضِ التَّحَدِّي وَالْإِدْلَالِ وَنَظَرُوا إِلَى ضُعَفَاءِ الْخُصُومِ بِعَيْنِ التَّحْقِيرِ وَالِازْدِرَاءِ، فَثَارَتْ مِنْ بَوَاطِنِهِمْ دَوَاعِي الْمُعَانَدَةِ وَالْمُخَالَفَةِ، وَرَسَخَتْ فِي قُلُوبِهِمُ الِاعْتِقَادَاتُ الْبَاطِلَةُ، وَتَعَذَّرَ عَلَى الْعُلَمَاءِ الْمُتَلَطِّفِينَ مَحْوُهَا مَعَ ظُهُورِ فَسَادِهَا

“Kebanyakan kebodohan yang tertancap dalam hati orang-orang awam hanyalah disebabkan oleh sikap ta’ashub (fanatik) dari orang-orang bodoh dari kalangan ahlussunnah (seperti kelompok yang mengaku salafi sejati ini, pen). Mereka menampakkan kebenaran dengan nada tantangan dan membanggakan diri. Mereka juga memandang kepada orang-orang awam yang mereka bantah dengan pandangan yang meremehkan dan melecehkan. Akhirnya muncul dari diri mereka (orang-orang awam, pen) sikap penolakan dan penyelisihan (terhadap dakwah Salaf, pen) dan tertancap dalam diri mereka keyakinan yang batil (terhadap dakwah, pen). Para ulama pun kesulitan untuk memadamkan kerusakan yang tampak ini..dst.” (Kitab al-I’tisham tahqiq al-Hilali: 2/732).

Kemudian asy-Syathibi membenarkan uacapan al-Ghazali:

هَذَا مَا قَالَ. وَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي تَشْهَدُ لَهُ الْعَوَائِدُ الْجَارِيَةُ..الخ

“Demikian ucapan al-Ghazali. Itulah yang benar yang disaksikan oleh kebiasaan yang berlaku..dst.” (Kitab al-I’tisham tahqiq al-Hilali: 2/732).

Di lain pihak Penulis juga mengapresiasi, memuji dan mendukung ikhwan salafiyin –yang banyak dizalimi dan diboikot oleh kelompok yang mengaku sebagai salafi sejati- yang berdakwah dengan cara mengambil hati kaum muslimin. Mereka mendirikan ma’had dan sekolah-sekolah salafi sesuai anjuran pemerintah kemudian mengajarkan kurikulum lokal di dalamnya. Sebagai contoh, dalam mata pelajaran fikih mereka mengajarkan kitab ‘Matan al-Ghayah wat Taqrib’ karya al-Qadhi Abu Syuja’ al-Ashfahani asy-Syafi’i (wafat tahun 593 H) rahimahullah, sebuah kitab ringkasan fikih madzhab Syafi’i yang banyak dipelajari oleh anak-anak kaum muslimin Indonesia. Dan Alhamdulillah telah banyak ulama dakwah salafiyah di masa kini yang memberikan syarah untuk kitab ini. Di antara mereka adalah asy-Syaikh Muhammad Hasan Abdul Ghaffar hafizhahullah. Syarh tersebut ada yang berupa rekaman audio dan juga versi e-book.

Alasan kedua: Di dalam setiap madzhab dari keempat madzhab yang diikuti, terdapat banyak ulama besar yang mendakwahkan tauhid dan as-Sunnah serta memerangi syirik dan bid’ah, tidak terkecuali ulama Syafi’iyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

كَلُّ أُمَّةٍ قَبْلَ مَبْعَثِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعُلَمَاؤُهَا شِرَارُهَا إلَّا الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ عُلَمَاءَهُمْ خِيَارُهُمْ ؛ فَإِنَّهُمْ خُلَفَاءُ الرَّسُولِ فِي أُمَّتِهِ والمحيون لِمَا مَاتَ مِنْ سُنَّتِهِ بِهِمْ قَامَ الْكِتَابُ وَبِهِ قَامُوا وَبِهِمْ نَطَقَ الْكِتَابُ وَبِهِ نَطَقُوا

“Setiap umat sebelum diutusnya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka ulama’nya menjadi orang yang paling jelek di kalangan umat itu, kecuali kaum muslimin karena ulama’ mereka adalah sebaik-baik umat. Mereka menjadi penerus ar-Rasul di kalangan umat beliau. Mereka juga menjadi orang yang menghidupkan sunnah beliau yang telah mati. Dengan perjuangan mereka, al-Kitab bisa tegak dan dengan al-Kitab mereka berdakwah. Atas jasa mereka al-Kitab bisa berbicara dan dengan dasar al-Kitab mereka berbicara.” (Majmu’ul Fatawa: 20/232).

Perhatikanlah ucapan Syaikhul Islam di atas! Beliau tidak membatasi ulama dari golongan manapun. Sehingga siapa pun orangnya jika sudah memenuhi ‘kriteria syar’i’ sebagai ulama, baik dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah ataupun Hanabilah, maka ia adalah orang terbaik di kalangan kaum muslimin.

Khusus untuk Madzhab Syafi’i, terdapat banyak kesesuaian antara usul (pokok pendalilan) ulama Syafi’iyah dengan manhaj Salaf di dalam permasalahan ‘sunnah tarkiyah’ dan ‘bid’ah idhafiyah’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

لِأَنَّ مَذْهَبَ الشَّافِعِيِّ مُؤَسَّسٌ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Yang demikian oleh karena Madzhab Syafi’i itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (Al-Fatawa al-Kubra: 6/616).

Yang demikian karena imam mereka yaitu al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah terkenal kegigihannya dalam membela as-Sunnah dan membantah kebid’ahan. Beliau pernah menyatakan:

إذا وجدتم لرسول الله صلى الله عليه و سلم سنة فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد

“Jika kalian menemukan sebuah sunnah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (dalam suatu permasalahan, pen), maka ikutilah sunnah itu dan janganlah menoleh kepada ucapan seorang pun.” (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’: 9/107 dan Tarikh Damsyiq: 51/386).

Beliau juga berkata:

الأَصْلُ قُرْآنٌ أَوْ سُنَّةٌ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ، فَقِيَاسٌ عَلَيْهِمَا، وَإِذَا صَحَّ الحَدِيْثُ فَهُوَ سُنَّةٌ، وَالإِجْمَاعُ أَكْبَرُ مِنَ الحَدِيْثِ المُنْفَرِدِ، وَالحَدِيْثُ عَلَى ظَاهِرِهِ، وَإِذَا احتَمَلَ الحَدِيْثُ مَعَانِي، فَمَا أَشْبَهَ ظَاهِرَهُ، وَلَيْسَ المُنْقَطِعُ بِشَيْءٍ، مَا عَدَا مُنْقَطِعِ ابْنِ المُسَيِّبِ، وَكُلاًّ رَأَيْتُهُ اسْتَعْمَلَ الحَدِيْثَ المُنْفَرِدَ

“Pokok pendalilan adalah al-Quran atau as-Sunnah. Jika tidak didapatkan keduanya, maka analogi (qiyas) atas keduanya. Jika hadits itu shahih, maka itu adalah suatu sunnah. Ijma’ (konsensus ulama’) itu lebih diutamakan daripada hadits sendirian. Jika sebuah hadits mempunyai banyak kemungkinan makna, maka dibawa kepada makna yang paling jelas. Hadits munqathi (tidak bersambung atau mursal) bukanlah dalil, kecuali mursalnya Sa’id bin al-Musayyib. Aku melihat semua ulama berhujah dengan hadits yang sendirian.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/21 dan al-Kamil li Ibni Adi: 1/116).

Dan ini diakui sendiri oleh al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani asy-Syafi’i (wafat tahun 489 H) rahimahullah. Beliau sendiri pada awalnya bermadzhab Hanafi, kemudian berpindah menjadi bermadzhab Syafi’i. Beliau menyatakan:

إذا نظر العالم إلى المسائل وأصولها وفروعها وجد أصول الشافعى رضى الله عنه موافقة للكتاب والسنة مؤيدة بهما مستمرة على الإخبار إذا وجدها استمرارا صحيحا مستقيما ويتبع الصحيح منها ويدع الرأى حين يجده فلا يأمر بعرض حديث على قياس ولكن يأمر بعرض القياس على الأحاديث…الخ

“Jika seorang alim melihat kepada berbagai permasalahan, baik usul (pokok) ataupun furu’ (cabang) dari permasalahan tersebut, maka ia akan mendapatkan usul-usul al-Imam asy-Syafi’i sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, dikuatkan dengan keduanya, berjalan di atas khabar yang shahih. Beliau juga memilih hadits yang shahih dan meninggalkan ra’yu (pemikiran tokoh, pen) ketika mendapatkan hadits tersebut. Maka beliau tidak menyuruh menentang sebuah hadits dengan qiyas (analogi), akan tetapi beliau justru memerintahkan untuk menimbang qiyas dengan hadits-hadits..dst.” (Qawathi’ul Adillah fil Ushul: 2/369).

Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat dalam menambah ilmu ad-Dien dan ditulis oleh Allah ta’ala sebagai amal shalih bagi Penulis.

اللهم ارزقنا الاخلاص وكمال المتابعة لرسولك محمد صلى الله عليه وسلم وألحقنا بمن معه ومن تبعهم باحسان… آمين

Ya Allah, berikanlah kepada kami keikhlasan dan kesempurnaan di dalam meneladani Rasul-Mu Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Gabungkanlah kami dengan orang-orang yang bersama Rasul-Mu dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik..  Amien.

Babat, 27 Muharram 1438 H

dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut