Penyalahgunaan al-Jarh wat Ta’dil

 Penyalahgunaan al-Jarh wat Ta’dil
[Refreshing ‘Ulumul Hadits’]
Sekilas tentang Ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil, Radd atau Bantahan kepada Ahlul Bid’ah, Manhaj Muwazanah, ‘al-Inshaf’, Menghukumi Manusia dan Khabar (Berita) Orang Tsiqat
Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukaddimah. 3

Batasan al-Jarh wat Ta’dil 7

Al-Jarh wat Ta’dil dalam Persaksian Pengadilan. 9

Apakah al-Jarh wat Ta’dil sudah Selesai Masanya. 10

Jawaban Shalih Fauzan dan Ibnu Utsaimin. 19

‘Nasehat’ menurut Ibnu Taimiyah. 21

Termasuk Bab Dharurat dan Hajat. 23

Sisi Lain al-Jarh wat Ta’dil 25

Membantah Ahlul Bid’ah. 27

Membantah Tanpa Menyebutkan Nama. 28

Membantah dengan Santun. 30

Muwazanah dalam Tahdziran dan Bantahan. 31

Pengertian ‘al-Inshaf’ 37

Keutamaan ‘al-Inshaf’ 38

Muwazanah dalam al-Jarh wat Ta’dil 39

Antara ‘Adil’ dan ‘Fasiq’ 47

Indahnya Ucapan asy-Syafi’i 50

Muwazanah adalah Ijma’ Ulama. 52

Perkara Bid’ah pada Perawi 53

Muwazanah untuk Sifat Dhabith. 58

Antara Persaksian dan Periwayatan. 60

‘Tsiqat’ melalui Mayoritas. 60

Antara Pengkritik yang Adil dan Pengkritik yang Mutasyaddid. 61

Muwazanah ala Murjiah. 62

Antara Khabar Tsiqat dan Masalah Ijtihadiyah. 69

Kaidah ‘al-Jarh al-Mufassar’ 78

Ulama Seusia dan Semasa. 85

Antara ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan Vonis Tabdi’ dan Tafsiq. 90

Sering Mencela Sehingga Dijauhi 94

Penutup. 96

 

 

 

 

 

Mukaddimah

الحمد لله الذي رفع بعض خلقه على بعض درجات، وميز بين الطيب والخبيث بالدلائل والسمات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ذو الاسماء الحسنى والصفات وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث بالايات البينات، والحجج النيرات، الآمر بتنزيل الناس ما يليق بهم من المنازل والمقامات صلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه الانجاب الكرماء الثقات

أما بعد:

Di masa sekarang ini terjadi sikap ghuluw di dalam penerapan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Mereka yang mengaku ‘Salafi’ gemar mentahdzir para ulama as-Sunnah, para da’i as-Sunnah hanya karena beberapa kesalahan yang mereka lakukan. Banyak ulama dan pakar yang dijatuhkan kehormatannya oleh kelompok ini dengan alasan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Benarkah demikian?

Di antara contohnya adalah tahdzir terhadap Dr Zakir Naik hanya karena beberapa kesalahan yang beliau lakukan. Yang melakukan tahdzir adalah Ustadz Luqman Ba’abduh. Ia berkata: “Hadza (Dr. Zakir Naik, pen) Jahil..Jahil! Ya. Barakallah fiikum… Maka wajib al-Jarh wat Ta’dil, jarh ala majruhin wa Ta’dil ash-Shalihin. Mengkritisi, mentahdzir ummat dari ahlul batil, ahlul jarh, dan merekomendasi, memuji, mengajak ummat kepada ahlu al-Adl, ash-Shalihin.” (Mengenal Akidah dan Manhaj Zakir Naik, menit: 8:10-8:18).

Padahal tidak ada seorang ulama dakwah pun yang menyatakan bahwa Dr. Zakir Naik adalah orang sesat. Bahkan beliau mendapatkan penghargaan bergengsi dari Raja Salman Saudi Arabia (king Faisal Award) atas jasanya terhadap Islam. Acara pemberian hadiah ini langsung dihadiri oleh Raja Salman, para menteri, anggota keluarga kerajaan, pejabat senior, akademisi dan sejumlah ulama terkemuka. (Lihat: http://www.muslimdaily.net/berita/zakir-naik-terima-penghargaan-dari-raja-saudi.html)

Mereka juga mudah sekali mengeluarkan seorang ulama as-Sunnah dari Manhaj as-Salaf dengan alasan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Ini bisa dilihat dari pertanyaan yang berjudul Apakah Syaikh Abdurrazzaq Al Badri masih berjalan diatas manhaj salaf?” yang kemudian dijawab secara panjang lebar oleh Ust Askari dari kalangan Jamaah Tahdzir. Lihat: https://www.thalabilmusyari.web.id/2016/08/syaikh-abdurrazzaq-dan-penjelasan.html).

Sehingga dengan beberapa kesalahan saja, seorang ulama dan pakar yang banyak berjasa dan ber-khidmat di dalam agama ini- mudah begitu saja dijatuhkan oleh mereka.

Al-Imam Amir bin Syurahil asy-Sya’bi (wafat tahun 103 H) rahimahullah berkata:

والله لو أصبت تسعاً وتسعين مرة، وأخطأت مرة، لأعدوا على تلك الواحدة

“Demi Allah, seandainya aku berbuat benar 99 kali dan berbuat salah sekali, maka mereka akan menganggapku tercela dengan satu kesalahan tersebut.” (Siyar A’lamin Nubala’: 4/308).

Mereka juga berdalil dengan jawaban asy-Syaikh Rabi’ ketika membantah sebagian ulama yang menyatakan bahwa ‘al-Jarh wat Ta’dil’ hanya khusus pada jaman perawi hadits, tidak berlaku untuk saat ini. Beliau menyatakan:

هذا من الضياع وعدم الفقه في دين الله عز وجل، فالسلف ألّفوا كتبا في العقائد ينتقدون فيها أهل البدع والضلال وسمّوا أفرادا وجماعات فهل هذا يعني انتهى أيضا؟! ونقول: إن المبتدعين الذين كانوا في عهد السلف يناقشون ويُبيّن ضلالهم والآن لا يجوز, حرام, الآن الكلام على أهل البدع حرام

“Ini (pernyataan bahwa al-Jarh wat Ta’dil tidak berlaku di jaman ini, pen) adalah termasuk menyia-siakan agama, dan menunjukkan tidak adanya pemahaman terhadap agama Allah azza wajalla. As-Salaf menulis kitab-kitab dalam bidang akidah yang mana mereka mengkritik ahlul bid’ah dan orang-orang sesat dalam kitab tersebut. Mereka juga menyebutkan orang per orang, kelompok per kelompok. Apakah ini sudah selesai (yakni: tidak berlaku, pen)?? Kami katakan: Ahlul bid’ah pada masa as-Salaf itu didebat, dibantah dan dijelaskan kesesatan mereka, kemudian pada masa sekarang dilarang (membantah, pen) dan haram. Sekarang membicarakan ahlul bid’ah haram..dst.” (Lihat: http://www.rabee.net/ar/save.php?typ=2&newsid=57).

Mereka juga menolak manhaj ‘Muwazanah’ (menimbang antara kebaikan dan keburukan perawi hadits, pen) dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dengan hanya bersandar pada pernyataan asy-Syaikh Rabi’:

وبهذه المناسبة أقول لكم: إن الحاكم -رحمه الله- في كتابه “معرفة علوم الحديث” قال -وكلامه حق- : الجرح والتعديل علمان: علم الجرح وهو علم مستقل، وهذا يرد منهج الموازنات الباطل, علم الجرح علم مستقل ولهذا ألّف كثيرٌ من الأئمة كتباً مستقلة في الجرح فقط, خصّصوها للجرح، مثل البخاري في الضعفاء والنسائي في المتروكين وابن حبان في المجروحين وابن عدي في الكامل وهكذا الذهبي وابن حجر وغيرهم، كثيرون ألفوا مؤلفات خاصة بالجرح فقط، لأنه علم مستقل, وهذا يقصم ظهر منهج الموازنات ويقصم ظهور أهله، وأئمة آخرون ألفوا كتباً في الثقات مثل الثقات للعجلي والثقات لابن حبان، عرفتم هذا ؟ إذا كان السلف يؤمنون بأن الجرح والتعديل علمان مستقلان فكيف تأتي الموازنات, واحد يؤلّف كتابا خاصا بالجرح ليس فيه أيّ ثغرة لمنهج الموازنات, فهمتم هذا، بارك الله فيكم.

“Pada kesempatan ini aku berkata kepada kalian: Sesungguhnya al-Imam al-Hakim rahimahullah berkata dalam kitabnya ‘Ma’rifah Ulumil Hadits’ –dan ucapannya adalah benar-: “Al-Jarh wat Ta’dil itu terdiri dari 2 ilmu; ilmu al-Jarh, yaitu ilmu yang berdiri sendiri. Ini membantah ‘Manhaj Muwazanah’ yang batil. Ilmu al-Jarh (yakni: mencela perawi, pen) itu ilmu yang berdiri sendiri. Oleh karena itu kebanyakan para imam menulis tersendiri kitab-kitab yang khusus membahas al-Jarh saja. Mereka hanya mengkhususkan dengan mencela para perawi saja, seperti al-Bukhari dalam adh-Dhu’afa’, an-Nasa’i dalam al-Matrukin, Ibnu Hibban dalam al-Majruhin, Ibnu Adi dalam al-Kamil. Demikian pula adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar dan selain mereka. Banyak sekali yang menulis kitab khusus tentang al-Jarh (mencela perawi, pen) saja, karena memang ilmu yang berdiri sendiri. Maka ini menghantam punggung ‘Manhaj Muwazanah’ dan juga menghantam punggung para pengikutnya. Sedangkan ulama yang lainnya menulis kitab tentang orang-orang tsiqat seperti ats-Tsiqat karya al-Ijli, ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban. Apa kalian mengetahui ini? Jika as-Salaf itu mengimani bahwa al-Jarh wat Ta’dil itu 2 ilmu yang berdiri sendiri, maka bagaimana bisa datang konsep ‘al-Muwazanah’? Seorang ulama menulis kitab khusus tentang al-Jarh yang mana tidak ada celah terhadap ‘Manhaj Muwazanah’. Kalian mengerti ini? Barakallah fiikum.” (Lihat: http://www.rabee.net/ar/save.php?typ=2&newsid=57).

Intinya kesalahan dan penyimpangan dari ‘Jamaah Tahdzir’ ini terkumpul pada tiga hal:

Pertama: membuka, menerapkan dan memberlakukan ‘al-Jarh wat Ta’dil’ secara serampangan kepada para ulama as-Sunnah dan dai-dai mereka di jaman ini.

Kedua: antipati dan memusuhi terhadap ‘Manhaj Muwazanah’ di dalam menilai para perawi hadits.

Ketiga: berlebih-lebihan dalam melakukan ‘al-Jarh’ atau mencela Ahlussunnah yang tergelincir.

Dalam tulisan ini Penulis –insya Allah- menjelaskan batilnya manhaj ‘Jamaah Tahdzir’ ini dan bid’ahnya manhaj ‘Anti Muwazanah’ yang lagi nge-trend di jaman ini. Di antara dampak bahaya dari pemikiran ini adalah mudahnya mereka menjatuhkan kehormatan kaum muslimin dan para da’i mereka hanya karena beberapa kesalahan saja, tanpa mempertimbangkan kebaikan-kebaikan mereka, atas nama ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang kita dari mencari-cari kesalahan para ulama, para da’i dan orang-orang shalih. Beliau bersabda:

أقِيلُوا ذَوِي الهيئاتِ عَثَراتِهم إلا الحُدُودَ

Maafkanlah orang-orang yang mulia ketika mereka terjatuh dalam kesalahan, kecuali hukum hadd.” (HR. Abu Dawud: 4377, Ahmad: 25474 dan al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad: 465 (165) dari Aisyah radliyallahu anha. Hadits ini di-hasan-kan oleh ash-Shan’ani dalam at-Tanwir: 3/22-3 dan di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 1185).

Al-Imam Syarafuddin ath-Thibi asy-Syafi’i (wafat tahun 743 H) rahimahullah berkata:

والمراد بـ ((ذوي الهيئات)) أصحاب المروءات والخصال الحميدة. وقيل: ذوو الوجوه بين الناس، (وبالعثرات) صغائر الذنوب، وما يندر عنهم من الخطايا..الخ

“Yang dimaksud dengan ‘Orang-orang yang mulia’ adalah orang-orang yang memegangi sikap ‘muru’ah’ dan mempunyai banyak sifat yang terpuji. Ada yang menyatakan bahwa mereka adalah yang terpandang di kalangan manusia. Yang dimaksud dengan ‘kesalahan di sini’ adalah dosa-dosa kecil dan kesalahan yang jarang terjadi pada mereka..dst.” (Al-Kasyif an Haqa’iqis Sunan Syarh Misykatil Mashabih: 8/2523).

Al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i (wafat tahun 1031 H) rahimahullah berkata:

وخرج بذوي الهيئات من عرف بالأذى والعناد بين العباد فلا يقال له عثار بل تضرم عليه النار..الخ

“Dan yang dikecualikan dari pengertian ‘Orang-orang yang mulia’ adalah orang yang dikenal senang menzhalimi dan dikenal dengan penyimpangannya di kalangan manusia. Maka tidak boleh dikatakan bahwa dia terjatuh dalam kesalahan, tetapi dia diancam dengan dinyalakannya api neraka untuknya..dst.” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 2/94).

Hadits di atas menunjukkan perlunya menimbang atau ‘Muwazanah’ sebelum menghukumi manusia.

Akhirnya Penulis mengutip ucapan al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) rahimahullah:

ونحب السنة وأهلها، ونحب العالم على ما فيه من الاتباع والصفات الحميدة، ولا نحب ما ابتدع فيه بتأويل سائغ، وإنما العبرة بكثرة المحاسن

“Kami mencintai as-Sunnah dan pengikutnya. Kami juga mencintai seorang alim dengan sifat mengikuti as-Sunnah dan sifat terpuji lainnya yang ada padanya. Dan kami membenci perbuatan bid’ahnya dengan penakwilan yang diperbolehkan. Yang dianggap adalah banyaknya kebaikan (pada orang alim tersebut, pen).” (Siyar A’lamin Nubala’: 20/46).

Babat, 8 Jumadal Akhirah 1437 H

dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Iklan

Penjelasan Hadits Perpecahan Umat

[ Kajian Manhaj]
Penjelasan Hadits Perpecahan Umat
(Membantah Ust Afifuddin as-Sidawi yang ‘Gagal Faham’)
Oleh dr.  M Faiq Sulaifi
[]

 

 

 


 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 2

Takhrij Hadits Iftiraqil Ummah. 4

Ibnu Taimiyah Menganggap Global 6

Ibnu Utsaimin Menganggap Global 7

Hadits-Hadits Global 9

Penentuan Kelompok Sempalan. 11

Kelompok Jamaah Kontemporer. 13

Masalah Lazimul Madzhab. 19

Melakukan Ta’yin terhadap Ahlul Kiblat. 22

Adakah Firqah Salafiyah?. 26

Al-Firqatun Najiyah. 31

Kata Ba’abduh, Muwazanah itu Sururi 33

Antara ar-Ruhaili dan as-Suyuthi 40

Penutup. 43

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

الحمد لله حمد الشاكرين والصلاه والسلام على خير خلق رب العالمين محمد صلى الله عليه وسلم وعلى اصحابه وال بيته ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين

‘Amma ba’du’

Beberapa minggu yang lalu Penulis mendapatkan kiriman rekaman tentang sebuah dauroh yang diadakan oleh Ma’had al-Faruq di Banyumas pada tanggal 1 Maret 2015 dengan tema ‘Mewaspadai Amalan Penghuni Neraka’. Di dalam rekaman tersebut seorang ustadz yang bernama Afifuddin as-Sidawi menerangkan hadits ‘Perpecahan Umat’ sesuai dangan selera dan hawa nafsunya. Dalam rekaman kajian itu ia menyatakan: “DALAM HADITS YANG MASYHUR YANG MA’RUF, HADITS ‘IFTIRAQIL UMMAH’, RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM BERSABDA:

وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ

“UMAT INI AKAN TERPECAH MENJADI 73 MILLAH; 73 AJARAN, SEKTE ATAU PEMAHAMAN. 72 DALAM NERAKA DAN  SATU YANG DIKECUALIKAN DI SURGA.”

“YANG SATU ITU ADALAH YANG SESUAI DENGAN SUNNAH AR-RASUL SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM DAN SESUAI DENGAN PEMAHAMAN ASH-SHAHABATUL KIRAM RADLIYALLAHU TA’ALA ANHUM AJMA’IN. BERARTI SEMUA BENTUK KESESATAN, SEMUA BENTUK PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN, SEMUA ORANG-ORANG YANG SESAT YANG MENYIMPANG, SEMUA PERGERAKAN-PERGERAKAN YANG MENYIMPANG, SEMUA JAMA’AH-JAMA’AH YANG MENYIMPANG, SEKTE-SEKTE YANG MENYIMPANG; NERAKA TEMPATNYA. ‘FINNAAR’ DIANCAM DENGAN NERAKA. BARAKALLAH FIIKUM. ANTUM BISA MENGHUKUMI SECARA UMUM DENGAN MENYEBUTKAN LANGSUNG SEKTE-SEKTENYA. ANTUM MENGATAKAN KHAWARIJ FINNAAR (DI NERAKA, PEN), RAFIDHAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), MU’TAZILAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAHMIYAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), ASY’ARIYAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN). BISA, ITU SECARA UMUM, DIKATAKAN MEREKA TERMASUK FIRQAH-FIRQAH YANG SESAT. ANTUM BISA MENGATAKAN IKHWANUL MUSLIMIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HIZBUT TAHRIR FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAMAAH TABLIGH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), SURURIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HADDADIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HALABIYUN, RUHAILIYUN FINNAAR (DI NERAKA, PEN). BISA, SECARA UMUM, DIKARENAKAN MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SESAT, TERMASUK DI DALAM FIRQAH-FIRQAH, SEKTE-SEKTE YANG SESAT. MAKA WASPADAI MEREKA SEMUA. BARAKALLAH FIIKUM. WASPADAI MEREKA SEMUA, BARAKALLAH FIIKUM. BAHKAN DI ANTARA SEKTE-SEKTE TADI, BARAKALLAH FIIKUM. SEKTE YANG DINYATAKAN KAFIR OLEH PARA ULAMA, SEHINGGA BUKAN TERMASUK SEKTE ISLAM YANG DIANCAM NERAKA. TAPI SUDAH MASUK DALAM KATEGORI KAFIR. DIHUKUMI SAMA DENGAN ORANG-ORANG KAFIR, SEMACAM RAFIDHAH ISMAILIYAH, QARAMITHAH, RAFIDHAH NUSHAIRIYAH, DAN SEMISAL MEREKA, YANG DINYATAKAN KAFIR OLEH PARA ULAMA, ITU KUFFAR, TERMASUK ORANG-ORANG KAFIR. JELAS ANCAMANNYA. YANG DIMAUKAN DALAM RIWAYAT NABI ADALAH ORANG-ORANG YANG MASIH BERBAJU ISLAM, MENGAKU SEBAGAI MUSLIM, BAHKAN MENGAKU SEBAGAI SUNNI, BAHKAN MENGAKU SEBAGAI SALAFI, TERNYATA DIA TERMASUK AL-FIRAQUDH DHALLAH, FIRQAH YANG SESAT. MAKA SEMUA DIKATAKAN FINNAAR, TERMASUK PENGHUNI NERAKA. MAKA KITA HARUS MEWASPADAI SEMUA DAN SEGALA BENTUK ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG, SEGALA BENTUK PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN, SEGALA MACAM BENTUK PEMAHAMAN-PEMAHAMAN YANG SESAT. KALAU TIDAK, DIANCAM DENGAN ANCAMAN YANG SAMA, ANCAMAN NERAKA, BARAKALLAH FIIKUM. SEHINGGA AHLUNNAAR LEBIH BANYAK DARIPADA AHLUL… AHLUL JANNAH, DIKATAKAN FIRQAH-FIRQAH YANG SESAT LEBIH BANYAK DARIPADA..DST.” (Demikian kurang lebih isi sebagian ceramahnya)

Penulis berkata:

Lihatlah betapa ngerinya penjelasan ustadz ini!! Langsung melakukan ta’yin (vonis) terhadap jamaah atau orang-orang jaman sekarang sebagai penghuni neraka.. ngeri sekali dan membikin bulu kuduk berdiri.

Padahal tidak dijumpai ulama pendahulu kita yang melakukan ta’yin ketika menjelaskan hadits ‘Iftiraqul Ummah’. Tidak ada seorang pun sebelum kita ulama yang menyatakan kelompok Fulan di neraka, jamaah Allan di neraka dan seterusnya.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengingatkan kita agar tidak lancang membahas sesuatu. Beliau menyatakan:

إِيَّاكَ أَنْ تَتَكلّمَ فِي مَسْأَلَةٍ لَيْسَ لَكَ فِيْهَا إِمَامٌ

“Berhati-hatilah dari berbicara dalam suatu masalah yang mana tidak ada seorang imam pun yang mendahuluimu dalam masalah tersebut!” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/296 dan Manaqib al-Imam Ahmad: 245).

Dan tidak takutkah dia akan ancaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat, yang mana dengannya ia turun ke neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Muslim: 7672 dan al-Bukhari: 6477 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu).

Pada tulisan ini akan dijelaskan beberapa kaedah tentang pembid’ahan yang dianut oleh Ust Afifuddin dan kelompoknya yang merupakan hasil dari ‘gagal faham’ terhadap Manhaj Salaf. Semoga tulisan ini bisa memberikan tambahan ilmu dan pencerahan bagi Pembaca. Amien.

اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِي رُشْدِي وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي

Babat, 13 Rabi’ul Akhar 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Sunnah Tarkiyah dan Bid’ah Idhafiyah menurut Ulama Syafi’iyah

 

 

 

Sunnah Tarkiyah dan Bid’ah Idhafiyah menurut Ulama Syafi’iyah
Dialog di Kalangan Syafi’iyah tentang Bid’ah Idhafiyah dan Sunnah Tarkiyah
dr. M Faiq Sulaifi
 
 

 

 

Daftar Isi

Mukaddimah. 3

Pengertian Bid’ah. 9

Pengertian Sunnah Tarkiyah. 10

Sunnah Tarkiyah menurut Ulama Syafi’iyah. 14

Cara Menukilkan Sunnah Tarkiyah. 17

Antara ‘Tidak Ada Penukilan’ dan ‘Dinukilkan Tidak Ada’ 18

Memungut Zakat Sayuran dan Logam.. 21

I’tikaf di Selain Masjid. 22

Merutinkan Bacaan Ayat Fadhilah. 23

Melafalkan Niat. 23

Mendirikan Shalat Jumat bagi Kafilah. 24

Membantah Kebid’ahan dan Pelakunya. 25

Melanggar Sunnah Tarkiyah Berarti Melakukan Bid’ah. 25

Wudhu dengan Urutan Terbalik. 26

Hanya dalam Ranah Ta’abbudi 27

Qiyas dalam Ranah Ta’abbudi 29

Mengangkat Tangan ketika Berdoa. 31

Maslahat Mursalah. 33

Antara Maslahat Mursalah dan Bid’ah Hasanah. 35

Bid’ah Hasanah menurut al-Imam asy-Syafi’i 39

Makna Hadits tentang Bid’ah. 42

Perkara yang Dapat Dipahami Maksudnya. 44

Bid’ah Idhafiyah. 47

Shalat Dhuha Berjamaah. 48

Dzikir Berjamaah. 49

Pengkhususan Waktu Ibadah. 51

Pengkhususan Tempat Tertentu dengan Ibadah. 53

Mengkhususkan Ibadah di Kuburan Wali 54

Mengkhususkan Jabal Ramah sebagai Tempat Wukuf. 55

Pengkhususan Keadaan dan Tatacara Tertentu dengan Ibadah. 56

Mengubah Lafazh Dzikir. 59

Bacaan Ayat Kursi untuk Acara Tahlilan. 61

Berjabat Tangan setelah Shalat. 62

Anjuran Shalat Raghaib. 63

Pengkhususan Ziarah Kubur. 64

Antara Sunnah Taqririyah dan Mengadakan Bid’ah. 68

Tergelincir dalam Sikap Istihsan. 71

Dialog antara Syafi’i dan Hanafi 72

Luasnya Dzikir dalam Shalat. 76

Tingkatan Bid’ah. 80

Sikap terhadap Ahlul Bid’ah. 81

Boikot terhadap  Ahli Bid’ah. 82

Agama Sudah Sempurna. 85

Penutup. 86

 

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمد عبده ورسوله.

(Amma ba’du)

Sebagian kaum muslimin -yang menyukai kegiatan istighatsah secara berjamaah dan ziarah makam para wali- membolehkan kegiatan pengkhususan ibadah pada waktu-waktu tertentu dengan dalil-dalil keumuman ibadah. Menurut mereka terdapat dalil shahih yang membolehkan peng-khususan ibadah yang bersifat umum tersebut.

Di antara dalil tersebut –menurut mereka- adalah hadits Ibnu Umar radliyallahu anhuma. Beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُه

“Nabi SAW selalu mendatangi masjid Quba setiap hari sabtu baik dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai kendaraan, sedangkan Abdullah selalu melakukannya.” (HR. Al-Bukhari: 1118, Muslim: 2483).

Kemudian mereka membawakan komentar al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah:

وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم

“Di dalam hadits ini dengan sekian jalur yang berbeda terdapat dalil diperbolehkannya menjadikan hari-hari tertentu untuk sebuah ritual yang baik dan istiqamah. Hadits ini juga menerangkan bahwa larangan bepergian ke selain tiga masjid (Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsa, dan Masjid Nabawi) tidaklah haram (tetapi hanya makruh, pen).” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 3/69).

Dan masih banyak alasan-alasan mereka untuk membolehkan peng-khusus-an ibadah yang bersifat umum. Mereka juga menyatakan bahwa larangan tersebut hanyalah pendapat kaum Wahabi (Salafy) yang suka mengada-ada. Begitulah anggapan mereka. Ini bisa dilihat dalam situs mereka https://salafytobat.wordpress.com/category/dalil-shahih-bolehnya-mengkhususkan-amal-ibadah-pada-hari-hari-tertentu/.

Mereka juga menolak Manhaj Sunnah Tarkiyah dengan alasan bahwa penetapan ‘sunnah tarkiyah’ adalah monopoli kaum Wahabi saja. Banyak di antara mereka yang merujuk pada buku yang berjudul “Husnut Tafahhum wad Darki fi Mas’alatit Tarki” tulisan Abdullah bin Shiddiq al-Ghummari di dalam menolak sunnah tarkiyah. Sehingga mereka tetap saja melaksanakan amalan-amalan yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam –dan dikategorikan sebagai sunnah tarkiyah- seperti dzikir berjamaah, tahlilan,  istighatsahan dan sebagainya.

Pada tulisan ini akan dipaparkan pendapat-pendapat ulama Syafi’iyah di dalam larangan peng-khusus-an ibadah yang bersifat umum atau bid’ah idhafiyah dan pendapat-pendapat mereka tentang ‘Sunnah Tarkiyah’.

Mengapa hanya dikhususkan dengan pembahasan ulama ‘Syafi’iyah’ saja, bukan ‘Hanafiyah’ atau ‘Malikiyah’ atau ‘Hanabilah’ dan sebagainya?

Alasan pertama: karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mempelajari dan mengamalkan fikih ulama ‘Syafi’iyah’. Tetangga kita, teman sekantor dan orang-orang yang bermuamalah dengan kita di masjid, di pasar dan sebagainya kebanyakannya ‘mengaku’ mengikuti “Syafi’iyah”. Para tokoh dan kyai yang sedang kita bantah juga Syafi’iyah. Maka sebagai bentuk hikmah dalam dakwah dan ta’liful qulub (menjinakkan hati) hendaknya kita memperkenalkan Manhaj Salaf kepada mereka melalui ulama Syafi’iyah.

Dan demikianlah adab dalam berdakwah. Maka ketika kita berada di tengah-tengah kaum muslimin yang menggunakan fikih Hanabilah, maka kita pun mengajarkan Manhaj Salaf kepada mereka melalui ulama Hanabilah.

Al-Imam Malik bin Anas (wafat tahun 179 H) rahimahullah berpesan kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur al-Abbasi:

فان ذهبت تحولهم مما يعرفون إلى ما لا يعرفون رأوا ذلك كفرا ولكن أقر أهل كل بلدة على ما فيها من العلم وخذ هذا العلم لنفسك

“Jika Anda berusaha mengubah mereka (kaum muslimin, pen) dari ilmu yang mereka kenal menuju ilmu yang belum mereka kenal, maka mereka akan menilai pendapat Anda sebagai kekufuran. Akan tetapi biarkanlah masing-masing negeri memegang ilmu (madzhab) yang dipakai di negeri tersebut. Dan ambillah pendapat Anda untuk diri Anda sendiri!” (Al-Jarh wat Ta’dil li Ibni Abi Hatim: 1/29).

Demikian pula nasehat al-Imam al-Qadhi Abu Ya’la Ibnul Farra’ al-Hanbali (wafat tahun 458 H) rahimahullah kepada seseorang yang ingin berpindah dari Madzhab Syafi’i ke Madzhab Hanbali:

فإنك إذا كنت في بلدك على مذهب أحمد وباقي أهل البلد على مذهب الشافعي لم تجد أحدا يعبد معك ولا يدارسك، وكنت خليقا أن تثير خصومة وتوقع نزاعا، بل كونك على مذهب الشافعي حيث أهل بلدك على مذهبه أولى

“Jika kamu di negerimu bermadzhab Hanbali, sedangkan semua penduduknya bermadzhab Syafi’i, maka kamu tidak akan menemukan orang yang beribadah bersamamu dan orang yang menjadi teman diskusimu. Dan kamu akan menjadi orang yang memicu perselisihan dan perdebatan di antara mereka.” (Al-Muswaddah fi Ushulil Fiqh: 483).

Cara berdakwah seperti inilah yang sesuai dengan hikmah dakwah. Ketika Addas datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bertanya:

وَمِنْ أَهْلِ أَيّ الْبِلَادِ أَنْتَ يَا عَدّاسُ ، وَمَا دِينُك ؟ قَالَ نَصْرَانِيّ ، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ نِينَوَى . فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مِنْ قَرْيَةِ الرّجُلِ الصّالِحِ يُونُسَ بْنِ مَتّى ؟ فَقَالَ لَهُ عَدّاسٌ : وَمَا يُدْرِيك مَا يُونُسُ بْنُ مَتّى ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ذَاكَ أَخِي ، كَانَ نَبِيّا وَأَنَا نَبِيّ ، فَأَكَبّ عَدّاسٌ عَلَى رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُقَبّلُ رَأْسَهُ وَيَدَيْهِ وَقَدَمَيْهِ

“Wahai Addas! Kamu berasal dari penduduk negeri mana? Dan apa agamamu?” Addas menjawab: “Aku seorang nasrani. Aku berasal dari negeri Nineveh.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Dari desa seorang shalih yang bernama Yunus bin Matta?” Addas balik bertanya: “Apakah yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Beliau adalah saudaraku. Beliau itu seorang nabi dan aku pun seorang nabi.” Maka Addas tertunduk mencium kepala, kedua tangan dan kedua telapak kaki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah: 2/416 dan Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shahabah: 5615 (4/2262) secara mursal dari az-Zuhri, ath-Thabari dalam Tarikhnya: 1/554 secara mursal dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dan Ibnu Mandah dalam al-Mustakhraj: 1/73 dari Sulaiman at-Taimi secara mursal. Kisah ini di-dhaif-kan oleh al-Albani dalam Takhrij Kitab Fiqhus Sirah: 135. Adapun menurut Dr. Muhammad Thayyib an-Najjar ketiga riwayat ini saling menguatkan. Lihat al-Qaulul Mubin fi Sirah Sayyidil Mursalin: 151).

Bandingkan cara dakwah kaum Salaf di atas dengan cara dakwah orang-orang yang mengaku sebagai ‘Salafy Sejati’ ini. Mereka hanya mau mengajarkan kitab-kitab fikih Hanabilah di masjid-masjid kaum muslimin yang secara mayoritas mengikuti fikih Syafi’iyah, kemudian mencela sebagian amal ibadah dan pendapat kaum muslimin di sekitar mereka.

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi al-Maliki (wafat tahun 790 H) rahimahullah mengutip ucapan Abu Hamid al-Ghazali asy-Syafi’i (wafat tahun 505 H) rahimahullah:

أَكْثَرُ الْجَهَالَاتِ إِنَّمَا رَسَخَتْ فِي قُلُوبِ الْعَوَامِّ بِتَعَصُّبِ جَمَاعَةٍ مِنْ جُهَّالِ أَهْلِ الْحَقِّ، أَظْهَرُوا الْحَقَّ فِي مَعْرِضِ التَّحَدِّي وَالْإِدْلَالِ وَنَظَرُوا إِلَى ضُعَفَاءِ الْخُصُومِ بِعَيْنِ التَّحْقِيرِ وَالِازْدِرَاءِ، فَثَارَتْ مِنْ بَوَاطِنِهِمْ دَوَاعِي الْمُعَانَدَةِ وَالْمُخَالَفَةِ، وَرَسَخَتْ فِي قُلُوبِهِمُ الِاعْتِقَادَاتُ الْبَاطِلَةُ، وَتَعَذَّرَ عَلَى الْعُلَمَاءِ الْمُتَلَطِّفِينَ مَحْوُهَا مَعَ ظُهُورِ فَسَادِهَا

“Kebanyakan kebodohan yang tertancap dalam hati orang-orang awam hanyalah disebabkan oleh sikap ta’ashub (fanatik) dari orang-orang bodoh dari kalangan ahlussunnah (seperti kelompok yang mengaku salafi sejati ini, pen). Mereka menampakkan kebenaran dengan nada tantangan dan membanggakan diri. Mereka juga memandang kepada orang-orang awam yang mereka bantah dengan pandangan yang meremehkan dan melecehkan. Akhirnya muncul dari diri mereka (orang-orang awam, pen) sikap penolakan dan penyelisihan (terhadap dakwah Salaf, pen) dan tertancap dalam diri mereka keyakinan yang batil (terhadap dakwah, pen). Para ulama pun kesulitan untuk memadamkan kerusakan yang tampak ini..dst.” (Kitab al-I’tisham tahqiq al-Hilali: 2/732).

Kemudian asy-Syathibi membenarkan uacapan al-Ghazali:

هَذَا مَا قَالَ. وَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي تَشْهَدُ لَهُ الْعَوَائِدُ الْجَارِيَةُ..الخ

“Demikian ucapan al-Ghazali. Itulah yang benar yang disaksikan oleh kebiasaan yang berlaku..dst.” (Kitab al-I’tisham tahqiq al-Hilali: 2/732).

Di lain pihak Penulis juga mengapresiasi, memuji dan mendukung ikhwan salafiyin –yang banyak dizalimi dan diboikot oleh kelompok yang mengaku sebagai salafi sejati- yang berdakwah dengan cara mengambil hati kaum muslimin. Mereka mendirikan ma’had dan sekolah-sekolah salafi sesuai anjuran pemerintah kemudian mengajarkan kurikulum lokal di dalamnya. Sebagai contoh, dalam mata pelajaran fikih mereka mengajarkan kitab ‘Matan al-Ghayah wat Taqrib’ karya al-Qadhi Abu Syuja’ al-Ashfahani asy-Syafi’i (wafat tahun 593 H) rahimahullah, sebuah kitab ringkasan fikih madzhab Syafi’i yang banyak dipelajari oleh anak-anak kaum muslimin Indonesia. Dan Alhamdulillah telah banyak ulama dakwah salafiyah di masa kini yang memberikan syarah untuk kitab ini. Di antara mereka adalah asy-Syaikh Muhammad Hasan Abdul Ghaffar hafizhahullah. Syarh tersebut ada yang berupa rekaman audio dan juga versi e-book.

Alasan kedua: Di dalam setiap madzhab dari keempat madzhab yang diikuti, terdapat banyak ulama besar yang mendakwahkan tauhid dan as-Sunnah serta memerangi syirik dan bid’ah, tidak terkecuali ulama Syafi’iyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

كَلُّ أُمَّةٍ قَبْلَ مَبْعَثِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعُلَمَاؤُهَا شِرَارُهَا إلَّا الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ عُلَمَاءَهُمْ خِيَارُهُمْ ؛ فَإِنَّهُمْ خُلَفَاءُ الرَّسُولِ فِي أُمَّتِهِ والمحيون لِمَا مَاتَ مِنْ سُنَّتِهِ بِهِمْ قَامَ الْكِتَابُ وَبِهِ قَامُوا وَبِهِمْ نَطَقَ الْكِتَابُ وَبِهِ نَطَقُوا

“Setiap umat sebelum diutusnya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka ulama’nya menjadi orang yang paling jelek di kalangan umat itu, kecuali kaum muslimin karena ulama’ mereka adalah sebaik-baik umat. Mereka menjadi penerus ar-Rasul di kalangan umat beliau. Mereka juga menjadi orang yang menghidupkan sunnah beliau yang telah mati. Dengan perjuangan mereka, al-Kitab bisa tegak dan dengan al-Kitab mereka berdakwah. Atas jasa mereka al-Kitab bisa berbicara dan dengan dasar al-Kitab mereka berbicara.” (Majmu’ul Fatawa: 20/232).

Perhatikanlah ucapan Syaikhul Islam di atas! Beliau tidak membatasi ulama dari golongan manapun. Sehingga siapa pun orangnya jika sudah memenuhi ‘kriteria syar’i’ sebagai ulama, baik dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah ataupun Hanabilah, maka ia adalah orang terbaik di kalangan kaum muslimin.

Khusus untuk Madzhab Syafi’i, terdapat banyak kesesuaian antara usul (pokok pendalilan) ulama Syafi’iyah dengan manhaj Salaf di dalam permasalahan ‘sunnah tarkiyah’ dan ‘bid’ah idhafiyah’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

لِأَنَّ مَذْهَبَ الشَّافِعِيِّ مُؤَسَّسٌ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Yang demikian oleh karena Madzhab Syafi’i itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (Al-Fatawa al-Kubra: 6/616).

Yang demikian karena imam mereka yaitu al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah terkenal kegigihannya dalam membela as-Sunnah dan membantah kebid’ahan. Beliau pernah menyatakan:

إذا وجدتم لرسول الله صلى الله عليه و سلم سنة فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد

“Jika kalian menemukan sebuah sunnah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (dalam suatu permasalahan, pen), maka ikutilah sunnah itu dan janganlah menoleh kepada ucapan seorang pun.” (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’: 9/107 dan Tarikh Damsyiq: 51/386).

Beliau juga berkata:

الأَصْلُ قُرْآنٌ أَوْ سُنَّةٌ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ، فَقِيَاسٌ عَلَيْهِمَا، وَإِذَا صَحَّ الحَدِيْثُ فَهُوَ سُنَّةٌ، وَالإِجْمَاعُ أَكْبَرُ مِنَ الحَدِيْثِ المُنْفَرِدِ، وَالحَدِيْثُ عَلَى ظَاهِرِهِ، وَإِذَا احتَمَلَ الحَدِيْثُ مَعَانِي، فَمَا أَشْبَهَ ظَاهِرَهُ، وَلَيْسَ المُنْقَطِعُ بِشَيْءٍ، مَا عَدَا مُنْقَطِعِ ابْنِ المُسَيِّبِ، وَكُلاًّ رَأَيْتُهُ اسْتَعْمَلَ الحَدِيْثَ المُنْفَرِدَ

“Pokok pendalilan adalah al-Quran atau as-Sunnah. Jika tidak didapatkan keduanya, maka analogi (qiyas) atas keduanya. Jika hadits itu shahih, maka itu adalah suatu sunnah. Ijma’ (konsensus ulama’) itu lebih diutamakan daripada hadits sendirian. Jika sebuah hadits mempunyai banyak kemungkinan makna, maka dibawa kepada makna yang paling jelas. Hadits munqathi (tidak bersambung atau mursal) bukanlah dalil, kecuali mursalnya Sa’id bin al-Musayyib. Aku melihat semua ulama berhujah dengan hadits yang sendirian.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/21 dan al-Kamil li Ibni Adi: 1/116).

Dan ini diakui sendiri oleh al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani asy-Syafi’i (wafat tahun 489 H) rahimahullah. Beliau sendiri pada awalnya bermadzhab Hanafi, kemudian berpindah menjadi bermadzhab Syafi’i. Beliau menyatakan:

إذا نظر العالم إلى المسائل وأصولها وفروعها وجد أصول الشافعى رضى الله عنه موافقة للكتاب والسنة مؤيدة بهما مستمرة على الإخبار إذا وجدها استمرارا صحيحا مستقيما ويتبع الصحيح منها ويدع الرأى حين يجده فلا يأمر بعرض حديث على قياس ولكن يأمر بعرض القياس على الأحاديث…الخ

“Jika seorang alim melihat kepada berbagai permasalahan, baik usul (pokok) ataupun furu’ (cabang) dari permasalahan tersebut, maka ia akan mendapatkan usul-usul al-Imam asy-Syafi’i sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, dikuatkan dengan keduanya, berjalan di atas khabar yang shahih. Beliau juga memilih hadits yang shahih dan meninggalkan ra’yu (pemikiran tokoh, pen) ketika mendapatkan hadits tersebut. Maka beliau tidak menyuruh menentang sebuah hadits dengan qiyas (analogi), akan tetapi beliau justru memerintahkan untuk menimbang qiyas dengan hadits-hadits..dst.” (Qawathi’ul Adillah fil Ushul: 2/369).

Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat dalam menambah ilmu ad-Dien dan ditulis oleh Allah ta’ala sebagai amal shalih bagi Penulis.

اللهم ارزقنا الاخلاص وكمال المتابعة لرسولك محمد صلى الله عليه وسلم وألحقنا بمن معه ومن تبعهم باحسان… آمين

Ya Allah, berikanlah kepada kami keikhlasan dan kesempurnaan di dalam meneladani Rasul-Mu Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Gabungkanlah kami dengan orang-orang yang bersama Rasul-Mu dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik..  Amien.

Babat, 27 Muharram 1438 H

dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Sejarah Sekolah dalam Islam

 

Sejarah Sekolah dalam Islam

Kajian Literatur terhadap Perkembangan Sekolah

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

 


 

Daftar Isi

Mukaddimah. 4

Sekolah al-Quran di Awal Islam.. 8

Materi Yang Diajarkan dalam Kuttab. 9

Kuttab Kaum Yahudi 10

Kuttab Kaum Nasrani 11

Kuttab di Masa Jahiliyah. 11

Darul Qurra’ (Rumah Tahfizh). 14

Midras Kaum Yahudi 15

Midras di Masa Nabawi 16

Diundang ke Midras. 16

Yang Tercela bukan Sekolahnya. 17

Bermudzakarah dengan Pelajar Kuttab. 18

Alat Tulis dalam ‘Kuttab’ 19

Walimah Kelulusan. 21

Jenjang Halaqah Ilmu setelah Lulus Kuttab. 22

Halaqah Kaum Salaf. 24

Belajar di Rumah secara Mandiri 27

Asal Mula Kata Madrasah. 28

Penamaan dan Bidang Keilmuan Madrasah. 29

Taqlid dan Fanatisme Madzhab. 32

Madrasah Ilmu Hadits. 33

Sekolah Kedokteran. 36

Ilmu Pengetahuan Duniawi 40

Ijazah Sekolah. 43

Ijazah Kedokteran. 46

Wanita dan Madrasah. 50

Madrasah Sekuler. 52

Era Perlawanan Islam.. 55

Kebangkitan Madrasah di Aljazair. 57

Madrasah Diniyah di Indonesia. 60

Sekolah di Saudi Arabia. 61

Memilih dan Memilah. 63

Khotimah. 67

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونستهديه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم أما بعد:

Sebagian orang yang kurang berilmu dari kalangan ‘orang yang menisbatkan diri kepada salafy sejati’ mengharamkan sekolah dan madrasah formal –dengan tanpa ilmu- dengan alasan penyimpangan-penyimpangan –menurut persangkaan mereka- yang dijumpai dalamnya. Bahkan sikap mereka menjadi semakin ghuluw (melampaui batas) dengan menyikapi dan menganggap hizbi sesat kaum muslimin yang mendirikan sekolah formal. Wallahul musta’an.

Yang menjadi sikap ghuluw dan aneh dari mereka adalah tuduhan hizbi kepada para salafy yang mendirikan sekolah formal. Padahal dalam kenyataannya, mereka sendiri menjadi contoh pengaku ‘salafy’ yang jatuh ke dalam sikap hizbiyah dan ta’ashub golongan. Dalam pepatah arab disebutkan:

رَمَتْني بدائِها وانْسلَّتْ

“Ia menuduhku dengan penyakitnya, padahal ia sendiri yang mengidap penyakit itu.” (Lisanul Arab: 4/39).

Di antara bukti ke-hizbi-an mereka adalah bahwa mereka membuat grup-grup yang mereka namakan dengan forum salafy kota A, grup salafy kota B, salafi kota C dan sebagainya yang terkesan eksklusif. Ini menunjukkan bahwa virus Laskar Jihad ternyata masih menempel di dalam diri mereka. Laskar Jihad dulu juga membuat kelompok FKAWJ (Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah). Ada FKAWJ kota A, FKAWJ kota B dan sebagainya. Seolah-olah kaum muslimin yang berada di luar grup “salafy” bikinan mereka bukanlah salafy. Demikian pula yang di luar FKAWJ bukanlah ahlussunnah.

Al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah mengingatkan:

فـ”السلفية” بمعنى أن تكون حزباً خاصاً له مميزاته ويضلل أفراده من سواهم فهؤلاء ليسوا من السلفية في شيء.وأما السلفية اتباع منهج السلف عقيدة وقولاً وعملاً وائتلافاً واختلافاً واتفاقاً وتراحماً وتواداً، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ( مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر ) فهذه هي السلفية الحقة.

’Salafiyah’ dengan makna hizib atau kelompok tertentu yang mempunyai ciri khas tersendiri (seperti mengharuskan berjubah dan tidak bersekolah formal, pen) dan menganggap sesat orang-orang yang berada di luar mereka, maka mereka tidaklah termasuk ‘Salafiyah’ sedikit pun. Maka ‘salafiyah’ adalah mengikuti jalan as-Salaf, baik dalam akidah, ucapan, perbuatan, bersatu, berselisih ataupun dalam kasih sayang, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus terjaga tidak bisa tidur dan merasa panas.” Maka inilah ‘Salafiyah Sejati’.” (Liqa’ul Babil Maftuh: 57/15).

Beliau juga mengingatkan:

ولا شك أن الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السلف لا الانتماء إلى حزب معين يسمى السلفيين، والواجب أن تكون الأمة الاسلامية مذهبها مذهب السلف الصالح لا التحزب إلى من يسمى (السلفيون) فهناك طريق السلف وهناك حزب يسمى (السلفيون) والمطلوب اتباع السلف

“Tidak diragukan lagi bahwa yang wajib atas semua kaum muslimin adalah agar madzhab mereka adalah madzhab as-Salaf, bukan berloyal kepada kelompok tertentu yang bernama ‘Salafiyin’ (seperti forum salafy kota A, grup salafy kota B dan sebagainya, pen). Yang wajib adalah agar madzhab kaum muslimin adalah madzhab as-Salaf ash-Shalih, bukan bergabung atau membuat grup atau kelompok yang bernama ‘Salafiyun’. Maka di sana ada jalan as-Salaf dan di sana juga ada grup yang bernama ‘Salafiyin’. Yang dituntut adalah mengikuti as-Salaf.” (Syarh al-Arbain an-Nawawiyah hadits: 28). Demikianlah kenyataan di yang terjadi di kalangan mereka.

Kemudian di dalam tulisan singkat ini akan dijelaskan sejarah dan asal usul sekolah, mulai dari masa kenabian, khulafa’ur rasyidin, generasi awal Islam hingga masa kontemporer. Pelaku sejarah tersebut –insya Allah- akan disebutkan dalam tulisan ini, dimulai dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, tabi’in dan para ulama besar setelah mereka.

Penting diketahui oleh Pembaca sekalian bahwa mempelajari sejarah Islam –termasuk sejarah sekolah- itu berkaitan erat dengan mempelajari ‘Fiqih al-Quran dan as-Sunnah’. Yang demikian karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan atas dirinya, niscaya Allah akan menjadikannya faqih (atau faham) dalam urusan ad-Dien.” (HR. Al-Bukhari: 69, Muslim: 1719, at-Tirmidzi: 2569, Ibnu Majah: 216 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu).

Oleh karena itu, dalam rangka mengaitkan ilmu sejarah dengan ilmu fikih, al-Quran dan as-Sunnah banyak menceritakan kisah-kisah kaum terdahulu, dari para nabi alaihimussalam, orang-orang shaleh terdahulu, hingga orang-orang menyimpang yang dibinasakan. Kisah mereka dicantumkan dalam al-Quran dan as-Sunnah agar kita –sebagai generasi belakangan- bisa menjadikannya sebagai pelajaran dan fikih di dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma berkata:

كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُنَا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ حَتَّى يُصْبِحَ مَا يَقُومُ إِلَّا إِلَى عُظْمِ صَلَاةٍ

“Adalah Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami sejarah Bani Israil (yakni setelah shalat malam) hingga masuk waktu shubuh. Beliau tidak berhenti kecuali untuk melakukan shalat (shubuh).” (HR. Ahmad: 19077, Abu Dawud: 3178 dan isnadnya di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud: 3663).

Al-Imam Abu Syamah (wafat tahun 665 H) rahimahullah berkata:

ولم يزل الصحابة والتابعون فمن بعدهم يتفاوضون في حديث من مضى، ويتذاكرون ما سبقهم من الأخبار وانقضى، ويستنشدون الأشعار، و يتطلبون الآثار والأخبار؛ وذلك بين من أفعالهم لمن اطلع على أحوالهم، وهم السادة القدوة، فلنا بهم أسوة

“Para sahabat, tabiin dan generasi setelah mereka saling bersekutu dalam menceritakan sejarah kaum terdahulu, saling berdiskusi terhadap berita umat terdahulu, melantunkan syair, mencari berita dan atsar. Dan ini sangat jelas dari perbuatan mereka bagi orang yang mempelajari keadaan mereka. Mereka adalah pembesar dan panutan. Dan kita mendapatkan teladan dari mereka.” (Ar-Raudlatain fi Akhbarid Daulatain: 2)

Kita dapati bahwa al-Imam asy-Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah menjadi orang yang paling menguasai ilmu fikih di masa beliau. Beliau juga menjadi orang yang paling menguasai ilmu sejarah manusia. Mush’ab bin Abdullah az-Zubairi rahimahullah berkata:

ما رأيت أحداً أعلم بأيام الناس من الشافعي

“Aku tidak mengetahui seseorang yang lebih mengetahui sejarah manusia daripada asy-Syafii.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/74).

Al-Imam adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) rahimahullah berkata:

وقال أحمد بن محمد ابن بنت الشافعي: ثنا أبي قال: أقام الشافعي علي العربية وأيام الناس عشرين سنة وقال: ما أردت بهذا إلا الاستعانة على الفقه

“Ahmad bin Muhammad bin Bintusy Syafii berkata: “Ayahku bercerita: “Asy-Syafii menetap untuk mempelajari bahasa Arab dan sejarah manusia selama 20 tahun.” Beliau (asy-Syafii, pen) berkata: “Tidaklah aku menghendaki demikian kecuali agar aku lebih mudah menguasai ilmu fikih.” (Tarikhul Islam: 14/340).

Setelah membaca buku ‘Sejarah Sekolah dalam Islam’ ini Pembaca diharapkan dapat mengambil sikap yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya sesuai dengan kemampuan masing-masing, keadaan daerah serta masyarakatnya.

Akhirnya Penulis memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan tulisan ini sebagai bentuk amal saleh yang diterima oleh-Nya.

 

Babat, 7 Jumadats Tsaniyah 1435 H (6 April 2014 M)

Diperbaharui 11 Dzulhijjah 1437 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Tauhid dan Syirik dalam Kacamata Ulama Syafi’iyah

Corp
Tauhid dan Syirik dalam Kacamata Ulama Syafi’iyah
dr. M Faiq Sulaifi
[Pick the date]

 

 

 


Daftar Isi

Mukaddimah. 3

Batasan Syafi’iyah Mutaqaddimin dan Muta’akhirin. 7

Makna ‘Laa Ilaaha illallaah’ 10

Pengertian Syirik. 11

Persyaratan Laa Ilaaha Illallah. 12

Pentingnya Dakwah Tauhid. 13

Larangan Berbuat Syirik. 15

Syirik dalam Niat. 16

Berdoa (Meminta) kepada Orang Mati 17

Berlindung dengan Makhluk. 20

Perantara dalam Ibadah. 21

Sikap Ghuluw (Melampaui Batas) terhadap Orang Shalih. 23

Berdoa di Kuburan. 26

Menyamakan Allah dengan Raja di Dunia. 27

Meminta Syafaat Rasulullah. 30

Berdoa dengan Jah (Pangkat) Wali Fulan. 42

Antara ar-Ramli dan al-Haitami 48

Hadits tentang Tawassul 51

Syafi’iyah vs Hanafiyah. 53

Kehidupan Dunia dan Barzakh. 54

Kata Mereka ‘Larangan telah Dihapus’ 55

Antara Masjid dan Kuburan. 56

Asal Mula Kuburan Menjadi Masjid. 60

Thawaf di Kuburan. 65

Mengagungkan Tempat Bersejarah. 66

Bertabarruk dengan Tubuh Orang Shalih. 68

Safar (Perjalanan Jauh) menuju Kuburan Para Wali 71

Bernadzar untuk Kuburan Wali 78

Bersumpah dengan Selain Allah. 79

Menyembelih untuk Selain Allah ta’ala. 81

Sihir dan Perdukunan. 85

Hari Raya Orang Kafir. 89

Penutup. 90

 


Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمد عبده ورسوله.

(Amma ba’du)

Pembahasan tauhid dan syirik merupakan pembahasan paling utama dalam agama Islam. Di semua madzhab fikih pembahasan tauhid dan syirik merupakan pembahasan utama sebelum pembahasan perkara ibadah dan mu’amalah. Di kalangan madzhab Syafi’i sendiri, kesyirikan menjadi hal yang diperangi.

Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah berkata:

سُئِلَ مَالِكٌ عَنِ الكَلاَمِ وَالتَّوْحِيْدِ، فَقَالَ: مُحَالٌ أَنْ نَظُنَّ بِالنَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنَّهُ عَلَّمَ أُمَّتَهُ الاسْتِنْجَاءَ، وَلَمْ يُعَلِّمْهُمُ التَّوْحِيْدَ، وَالتَّوْحِيْدُ مَا قَالَهُ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: (أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوا: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ) فَمَا عُصِمَ بِهِ الدَّمُ وَالمَالُ، حَقِيْقَةُ التَّوْحِيْدِ

“Al-Imam Malik pernah ditanya tentang ilmu kalam dan tauhid. Maka beliau menjawab: “Mustahil kita mengira terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau mengajari umat beliau tata cara istinja’, namun tidak mengajari mereka tauhid. Tauhid adalah apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘Laa ilaaha illallaah’. Maka segala perkara yang menyebabkan darah dan harta seseorang terjaga adalah hakekat Tauhid.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/26, Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra: 9/40).

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata:

لأَنْ يَلْقَى اللَّهَ الْعَبْدُ بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلاَ الشِّرْكَ بِاللَّهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَلْقَاهُ بِشَىْءٍ مِنْ هَذِهِ الأَهْوَاءِ

“Sungguh, jika seorang hamba bertemu dengan Allah ta’ala dengan semua dosa selain syirik, maka itu lebih baik baginya daripada jika ia bertemu dengan-Nya dengan sesuatu dari hawa nafsu (perkara bid’ah).” (Atsar riwayat al-Baihaqi dalam Kubra: 21422 (10/206) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq: 51/309).

Pada risalah ini akan dipaparkan keterangan dari ulama Syafi’iyah tentang perkara yang berkaitan dengan tauhid dan kesyirikan. Penulis banyak merujuk pada risalah doktoral di Universitas Ummul Qura dengan judul “Juhud A’immatisy Syafi’iyah fi Taqrir Tauhid al-Ibadah” karya asy-Syaikh DR. Abdullah bin Abdul Aziz al-Anqari hafizhahullah, juga risalah ‘Al-Masail al-Aqdiyyah allati Khaalafa fiha Ba’dhu Fuqahaa’ asy-Syafi’iyah A’immatal Madzhab’ karya al-Ustadzah Azizah bintu Mubarak, seorang dosen wanita di Universitas Malik Su’ud hafizhahallah, kemudian Penulis mencocokkannya dengan kitab-kitab yang ada.

Mengapa harus ulama Syafi’iyah, dan bukan Hanabilah atau Malikiyah atau Hanafiyah?

Pertama: karena kita hidup di Indonesia dan mayoritas kaum musliminnya mengamalkan fikih madzhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Dan sebagai bentuk hikmah dalam berdakwah, kita mengenalkan ‘Tauhid’ dan memperingatkan kesyirikan dengan kitab-kitab karya ulama Syafi’iyah –yang menjadi idola kaum muslimin Indonesia-.

Al-Imam Ismail bin Bintis Suddi al-Kufi (wafat tahun 245 H) rahimahullah berkata:

كنت في مجلس مالك، فسئل عن فريضة، فأجاب بقول زيد، فقلت ما قال فيها علي وابن مسعود، رضي الله عنهما، فأومأ إلى الحجبة، فلما هموا بي عدوت وأعجزتهم، فقالوا: ما نصنع بكتبه ومحبرته ؟ فقال: اطلبوه برفق، فجاؤوا إلي فجئت معهم. فقال مالك: من أين أنت ؟ قلت: من الكوفة قال: فأين خلفت الادب ؟ فقلت: إنما ذاكرتك لاستفيد.فقال: إن عليا وعبد الله لا ينكر فضلهما، وأهل بلدنا على قول زيد بن ثابت، وإذا كنت بين قوم، فلا تبدأهم بما لا يعرفون، فيبدأك منهم ما تكره

“Aku sedang dalam majelis al-Imam Malik. Kemudian beliau ditanya soal faraidh (ilmu waris), maka beliau menjawab dengan pendapat Zaid bin Tsabit, sedangkan aku menjawab dengan pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud radliyallahu anhuma. Beliau mengisyaratkan bahwa jawabannya adalah ‘mahjub’ (terhalang dari harta waris, pen). Ketika mereka mendebatku dan aku mengalahkan mereka, maka mereka berkata: “Apa yang akan kita perbuat terhadap kitab-kitab dan tempat tinta orang ini?” Malik menjawab: “Tuntutlah ia dengan lemah lembut!” Maka mereka mendatangiku dan membawaku menghadap beliau. Maka al-Imam Malik bertanya: “Kamu berasal darimana?” Aku menjawab: “Dari Kufah.” Beliau bertanya: “Bagaimana bisa kamu meninggalkan adab?” Aku menjawab: “Aku berdiskusi denganmu hanyalah agar aku mendapatkan faedah darimu.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya keutamaan Ali dan Ibnu Mas’ud tidaklah diingkari. Akan tetapi penduduk negeri kami memegang pendapat Zaid bin Tsabit. Jika kamu berada di antara suatu kaum, maka janganlah memulai dengan pendapat yang tidak mereka kenal, sehingga mereka akan menyikapimu dengan sesuatu yang kamu benci.” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/177).

Al-Imam Humaid ath-Thawil (ulama tabi’in wafat tahun 142 H)  berkata:

قيل لعمر بن عبد العزيز: لو جمعت الناس على شيء؟ فقال: ما يسرني أنهم لم يختلفوا، قال: ثم كتب إلى الآفاق وإلى الأمصار: ليقضي كل قوم بما اجتمع عليه فقهاؤهم

“Dikatakan kepada Umar bin Abdul Aziz: “Hendaknya engkau mengumpulkan manusia dengan satu pendapat saja?” Beliau menjawab: “Aku tidak suka jika mereka hanya memegang satu pendapat saja.” Kemudian beliau menulis surat kepada seluruh kota dan negeri: “Hendaknya masing-masing kaum (negeri) memutuskan perkara dengan pendapat yang disepakati oleh ahli fikih negeri itu.” (Atsar riwayat ad-Darimi dalam Sunannya: 628 (1/159) dan di-shahih-kan oleh Abu Ashim dalam Fathul Mannan Syarh Sunan ad-Darimi Abdullah bin Abdirrahman: 3/430)

Demikian pula al-Imam Abu Umar Ahmad bin Abdul Malik al-Maliki -guru al-Imam Ibnu Abdil Barr- rahimahullah. Beliau menyatakan:

لا أخالف رواية ابن القاسم لأن الجماعة لدينا اليوم عليها ومخالفة الجماعة فيما قد أبيح لنا ليس من شيم الأئمة

“Aku tidak akan menyelisihi riwayat Ibnul Qasim karena masyarakat disini pada hari ini memakai riwayatnya. Dan menyelisihi masyarakat di dalam perkara yang diperbolehkan bukanlah akhlak para ulama.” (At-Tamhid li Ma fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid: 9/223).

Kedua: agar tidak timbul persangkaan bahwa pembahasan ‘tauhid dan syirik’ itu hanya dibahas oleh Hanabilah saja, bahkan yang lebih khusus adalah monopoli kaum Wahabi saja.

Persangkaan di atas adalah salah, karena ulama Syafi’iyah mempunyai andil besar di dalam menegakkan ‘Tauhid dan Sunnah’. Banyak ulama ahlul hadits yang berasal dari keluarga Syafi’iyah.

Kenyataan ini diakui sendiri oleh al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata:

وما أقل الحديث في الحنابلة، يعني المحدثين، وهذا من أغرب ما يكون، يعني أصحاب الإمام أحمد أقل الناس تحديثاً بالنسبة للشافعية

“Alangkah sedikit jumlah ahlul hadits di kalangan ulama Hanabilah. Dan ini adalah perkara yang paling aneh, yaitu para pengikut al-Imam Ahmad ternyata perhatian mereka terhadap hadits lebih sedikit jika dibandingkan dengan ulama Syafi’iyah.” (Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid: 1/451).

Beliau juga menyatakan:

والشافعية أكثر الناس عناية بالحديث والتفسير، والمالكية كذلك، ثم الحنابلة وسط، وأقلهم في ذلك الأحناف مع أن لهم كتبا في الحديث.

“Ulama Syafi’iyah adalah ulama yang paling banyak perhatiannya terhadap hadits dan tafsir. Demikian pula ulama Malikiyah. Kemudian ulama Hanabilah tengah-tengah. Dan yang paling sedikit perhatiannya adalah ulama Hanafiyah dan mereka pun mempunyai kitab-kitab hadits.” (Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid: 1/451).

Para pembaca akan mendapati kenyataan ucapan beliau di atas – bahwa para ulama besar ahlul hadits, ahlut tafsir dan ahli fikih kebanyakannya adalah Syafi’iyah- ketika menyelami isi tulisan ini.

Tulisan ini disusun dalam rangka upaya memenuhi nadzar kepada Allah ta’ala. Penulis pernah bernadzar jika sudah lepas dari kelompok ‘mereka yang mengaku paling salafi’, maka Penulis akan mengumpulkan keterangan dari Ulama Syafi’iyah tentang kesyirikan.

Penulis berlepas diri dari ‘manhaj kelompok ini’ yang penuh dengan kekerasan tetapi dangkal keilmuan. Mereka pandai menghujat, mencaci dan mencela saudara sendiri karena hanya berbeda pendapat. Ironisnya tingkat keilmuan mereka sangatlah dangkal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فَإِنَّ الرَّدَّ بِمُجَرَّدِ الشَّتْمِ وَالتَّهْوِيلِ لَا يَعْجِزُ عَنْهُ أَحَدٌ . وَالْإِنْسَانُ لَوْ أَنَّهُ يُنَاظِرُ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلَ الْكِتَابِ : لَكَانَ عَلَيْهِ أَنْ يَذْكُرَ مِنْ الْحُجَّةِ مَا يُبَيِّنُ بِهِ الْحَقَّ الَّذِي مَعَهُ وَالْبَاطِلَ الَّذِي مَعَهُمْ . فَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { ادْعُ إلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ } وَقَالَ تَعَالَى : { وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ }

“Karena membantah dengan semata cacian dan celaan, semua orang bisa melakukannya. Dan ketika seseorang membantah kaum musyrikin dan ahlul kitab, maka diharuskan baginya untuk menyebutkan hujah (argumentasi, pen) yang dapat menjelaskan kebenaran si pembantah dan kebatilan yang dibantah (yakni orang kafir, pen). Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam: “Berdakwahlah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan sesuatu yang lebih baik.” Allah juga berfirman: ‘Janganlah kalian mendebat Ahlul Kitab kecuali dengan yang lebih baik.” (Majmu’ al-Fatawa: 4/186-7).

Akhirnya Penulis berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنَّك أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

‘Ya Allah, terimalah iman dan amal kami, karena Engkau Maha Pendengar dan Maha Mengetahui. Dan ampunilah kami, karena Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang.’

Babat, 8 Dzulqa’dah 1437 H

dr. M Faiq Sulaifi

Baca lebih lanjut

Membumikan Pelajaran Ramadhan dalam Kehidupan

(Disampaikan oleh dr. M Faiq Sulaifi dalam Khutbah Idul Fitri 1437 H di Ds Telogorejo Kepohbaru Bojonegoro)

الحمد لله عدد قطرات البحار وورق الأشجار وقطر الأمطار. أشهد أن لا إله إلا الله الواحد القهار ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله النبي المختار ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه المهاجرين والأنصار.

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر. الله أكبر، ولله الحمد

 الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات ، وبفضله تحصل الدرجات ، وبكرمه تبدل الخطيئات ,

الله اكبر كبيرا الله اكبر كبيرا الله اكبر واجل الله اكبر ولله الحمد

الحمد لله الذي أكمل علينا عدة الشهر بالتمام, الذي أتم علينا نعمة الصيام والقيام, فله الحمد الى الدوام

الله اكبر الله اكبر الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا

Hadirin Jama’ah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Kesedihan menyelimuti kita ketika bulan Ramadhan meninggalkan kita semua. Kita telah berpisah dengan bulan yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan kebaikan. Baca lebih lanjut

Ulama Syafi’iyah antara Salafi dan Asy’ari

Corp
Ulama Syafi’iyah antara Salafi dan Asy’ari
 oleh: dr. M Faiq Sulaifi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

Mukaddimah. 3

Wajibnya Mengikuti Manhaj Salaf. 6

Akidah Salaf tentang Sifat-sifat Allah. 7

Al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari 10

Akhir Perjalanan Pendiri Ajaran Asy’ari 11

Penyebaran Ajaran Asy’ariyah. 14

Masa Tertekannya Ajaran Asy’ariyah. 16

Peran Madrasah Nizhamiyah. 17

Masa Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dan Setelahnya. 18

Dari ‘Salafi’ menjadi ‘Hanbali’ 19

Akidah al-Imam asy-Syafi’i, Sang Imam Madzhab. 20

Al-Imam Ismail bin Yahya al-Muzani, Murid asy-Syafi’i 22

Al-Imam Abu Ja’far at-Tirmidzi, Syafi’i Kubu Iraq. 22

Al-Qadhi Ibnu Suraij, Syafi’i Kedua. 23

Al-Imam Ibnu Khuzaimah. 25

Al-Imam Abu Bakar al-Ajurri, Penulis ‘asy-Syariah’ 26

Al-Imam al-Azhari, Ahli Bahasa Arab. 28

Al-Imam ad-Daraquthni 29

Al-Imam Abu Sulaiman al-Khaththabi, Pensyarah Hadits. 30

Al-Imam Abu Hamid al-Isfarayni, Syafi’i Ketiga. 32

Al-Imam Abul Qasim al-Lalikai 33

Al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbahani 34

Syaikhul Islam Abu Utsman ash-Shabuni 36

Al-Khathib Abu Bakar al-Baghdadi, Penulis Tarikh Baghdad. 37

Al-Imam Sa’ad bin Ali az-Zanjani, Pemilik Karamah. 38

Al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani, dari Hanafi menjadi Syafi’i 40

Al-Qadhi Abu Bakar al-Hamawi asy-Syafi’i 41

Al-Imam Nashr al-Maqdisi 42

Al-Imam al-Hafizh Muhyis Sunnah al-Baghawi 43

Al-Imam Abul Hasan al-Karaji, Syafi’i tanpa Qunut Subuh. 44

Al-Imam Abul Qasim al-Ashbahani, Penegak as-Sunnah. 45

Madrasah Syafi’iyah di Yaman. 46

Jaman Raja Baibars, Masa Ujian Bagi Salafiyah. 48

Kisah Taubatnya Fakhruddin ar-Razi 49

Asy-Syaikh az-Zahid Abul Bayan al-Haurani 50

Al-Imam Abu Thahir as-Silafi, si Cerdas Salafi 51

Al-Imam al-Arif billah Abu Hafsh as- Suhrawardi 52

Al-Imam Ibnush Shalah, Penulis ‘Ulumul Hadits’ 54

Al-Qadhi Syarafuddin an-Nablusi asy-Syafi’i, Khatib Syam.. 55

Al-Imam Ibnul Aththar, Ringkasan an-Nawawi 56

Al-Imam Ibnul Murrahal, Bendahara Damaskus. 58

Al-Imam Tajuddin at-Tibrizi, Juru Nasehat Tibriz. 58

Al-Imam Abul Hajjaj al-Mizzi, Sahabat Ibnu Taimiyah. 59

Al-Imam Ahli Tarikh adz-Dzahabi, Sahabat Ibnu Taimiyah. 60

Al-Imam al-Mufassir Ibnu Katsir, Murid Ibnu Taimiyah. 61

Al-Imam Ibnul Maushuli 62

Al-Allamah Ibnun Naqqasy asy-Syafi’i 63

Al-Allamah Yusuf bin Husain al-Kurdi 63

Al-Allamah Ibrahim bin Hasan  al-Kurdi 64

Al-Allamah Ali Afandi as-Suwaidi 65

Al-Allamah Ibnu Hajar al-Buthami, Qadhi Negeri Qatar. 66

Al-Allamah as-Sayyid Muhammad Amin al-Alawi al-Habsyi asy-Syafi’i 66

Al-Allamah Muhammad Hasan Abdul Ghaffar. 68

Al-Baihaqi vs Ibnush Shalah. 68

Ijma’ Buatan, Debat Syafi’i vs Syafi’i 69

Ibnu Asakir dan ‘at-Tabyin’ 70

Ibnus Subki dan Thabaqatnya. 73

Akibat Buruknya Lisan. 75

Pungkasan. 77

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

(أما بعد)

Di kalangan mayoritas kaum muslimin di Indonesia terkenal dengan istilah “Ahlus Sunnah wal Jamaah”. Mereka menyatakan bahwa ahlus sunnah itu harus memilih salah satu dari keempat madzhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) dan khusus Muslimin Indonesia memilih Madzhab Syafi’i. Dan dalam bidang akidah mereka harus mengikuti akidah Asy’ariyah atau Maturidiyah. Mereka juga mempunyai ulama pendahulu yang menyatakan demikian. Di antaranya adalah al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat 974 H) rahimahullah. Beliau menyatakan:

وَالْمُرَادُ بِالسُّنَّةِ مَا عَلَيْهِ إمَامَا أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ وَأَبُو مَنْصُورٍ الْمَاتُرِيدِيُّ ، وَالْبِدْعَةُ مَا عَلَيْهِ فِرْقَةٌ مِنْ فِرَقِ الْمُبْتَدِعَةِ الْمُخَالِفَةِ لِاعْتِقَادِ هَذَيْنِ الْإِمَامَيْنِ وَجَمِيعِ أَتْبَاعِهِمَا

“Yang dimaksud dengan ‘as-Sunnah’ adalah apa yang dianut oleh kedua imam Ahlus Sunnah wal Jamaah; Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari dan Syaikh Abu Manshur al-Maturidi. Bid’ah adalah apa yang dianut oleh kelompok-kelompok yang menyelisihi akidah kedua imam tersebut.” (Az-Zawajir an Iqtirafil Kabair: 1/254).

Pernyataan beliau dan ulama-ulama yang se-ide dengan beliau merupakan sebuah kerancuan, karena al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari lahir pada tahun 260 H dan wafat pada tahun 324 H, sedangkan Abu Manshur al-Maturidi wafat pada tahun 333 H. Pernyataan di atas memberikan konsekuensi bahwa keempat imam madzhab bukanlah Ahlus Sunnah, karena mereka hidup sebelum al-Asy’ari dan al-Maturidi.

Konsekuensi yang lebih parah –dari pernyataan diatas- adalah bahwa ulama Salaf dari kalangan sahabat, tabi’in dan pengikut mereka radliyallahu anhum bukanlah Ahlus Sunnah, karena mereka hidup jauh sebelum al-Asy’ari dan al-Maturidi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H)  rahimahullah menyatakan:

ومذهب أهل السنة والجماعة مذهب قديم، معروف، قبل أن يخلق الله أبا حنيفة ومالكا والشافعي وأحمد، فإنه مذهب الصحابة الذين تلقوه عن نبيهم، ومن خالف ذلك كان مبتدعا عند أهل السنة والجماعة فإنهم متفقون على أن إجماع الصحابة حجة، ومتنازعون في إجماع من بعدهم

“Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan madzhab yang sudah lama dan dikenal, jauh sebelum Allah menciptakan Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad. Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah madzhab para sahabat yang menerima madzhab tersebut dari nabi mereka shallallahu alaihi wasallam. Barangsiapa menyelisihinya, maka ia adalah ahlul bid’ah menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, karena mereka bersepakat bahwa ijma’ (konsensus) para sahabat adalah hujjah dan mereka berbeda pendapat tentang ijma generasi setelah mereka.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah: 2/363).

Dalam tulisan ini akan dipaparkan sejarah perkembangan ajaran Asy’ariyah, dan para ulama dari kalangan Syafi’iyah yang masih konsisten memegang akidah Salaf di dalam sifat-sifat Allah. Tujuan pemaparan ini adalah agar kita –generasi belakangan ini- bisa belajar dan beristiqamah di atas akidah Salafi dari mereka.

Dan memang demikian tujuan pemaparan fakta sejarah. Dengan sejarah kita bisa menganalogikan dan mengambil pelajaran dari kaum terdahulu.

Allah ta’ala menyatakan:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

Ide untuk menulis kisah-kisah ulama Syafi’iyah yang konsisten dengan akidah Salaf ini diawali ketika Penulis membuka-buka situs ‘Multaqa Ahlil Hadits’. Di dalam situs tersebut terdapat topik pembahasan ‘Irsyadul Khalaf bi Man Kaana minasy Syafi’iyah min Atba’is Salaf’ (Bimbingan bagi Generasi Khalaf tentang Ulama Syafi’iyah yang Menjadi Pengikut Salaf). Dari topik tersebut Penulis kemudian memperluas dan menambah dari kitab-kitab tarikh, sirah dan thabaqat karya ulama kita terdahulu rahimahumullah.

Mengapa hanya dikhususkan dengan pembahasan ulama ‘Syafi’iyah’ saja, bukan ‘Hanafiyah’ atau ‘Malikiyah’ atau ‘Hanabilah’ dan sebagainya?

Alasan pertama: karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mempelajari dan mengamalkan fikih ulama ‘Syafi’iyah’. Tetangga kita, teman sekantor dan orang-orang yang bermuamalah dengan kita di masjid, di pasar dan sebagainya kebanyakannya ‘mengaku’ mengikuti “Syafi’iyah”. Maka termasuk dari hikmah dalam berdakwah adalah memperkenalkan Manhaj dan Akidah Salaf kepada mereka melalui ulama Syafi’iyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فإنه حكى لي الشيخ محمد بن يحيى عن القاضي أبي يعلى أنه قصده فقيه ليقرأ عليه مذهب أحمد، فسأله عن بلده فأخبره، فقال له: إن أهل بلدك كلهم يقرءون مذهب الشافعي فلماذا عدلت أنت عنه إلى مذهبنا؟ فقال له: إنما عدلت عن المذهب رغبة فيك أنت، فقال له: إن هذا لا يصلح فإنك إذا كنت في بلدك على مذهب أحمد وباقي أهل البلد على مذهب الشافعي لم تجد أحدا يعبد معك ولا يدارسك، وكنت خليقا أن تثير خصومة وتوقع نزاعا، بل كونك على مذهب الشافعي حيث أهل بلدك على مذهبه أولى، ودله على الشيخ أبي إسحاق وذهب به إليه، فقال: سمعا وطاعة، أقدمه على الفقهاء

Ini karena Syaikh Muhammad bin Yahya telah men-hikayatkan kepadaku (Ibnu Taimiyah, pen) dari al-Qadli Abu Ya’la (al-Hanbali al-Farra’, pen) bahwa seorang ahli fikih datang kepadanya untuk belajar fikih Madzhab Imam Ahmad. Kemudian Abu Ya’la bertanya kepada ahli fikih tersebut tentang negeri asalnya. Kemudian ia menceritakan negeri asalnya. Kemudian Abu Ya’la berkata: “Sesungguhnya penduduk negerimu semuanya mempelajari fikih madzhab Syafi’i. Lantas mengapa kamu berpaling dari Madzhab Syafi’i ke madzhab kami (Hanbali, pen)?” Ia menjawab: “Aku berpaling dari madzhabku karena menyukai Anda.” Abu Ya’la menjawab: “Sesungguhnya ini tidak pantas, karena jika kamu di negerimu bermadzhab Hanbali, sedangkan semua penduduknya bermadzhab Syafi’i, maka kamu tidak akan menemukan orang yang beribadah bersamamu dan orang yang menjadi teman diskusimu. Dan kamu akan menjadi orang yang memicu perselisihan dan perdebatan di antara mereka.” Kemudian Abu Ya’la menunjukkan orang itu kepada asy-Syaikh Abu Ishaq (asy-Syairazi asy-Syafi’i, pen). Maka orang itu berkata: “Aku mendengar dan taat. Aku akan mendatanginya sebelum ahli fikih lainnya.” (Al-Mustadrak ala Majmu’ al-Fatawa: 2/274).

Alasan kedua: untuk menghindarkan kita dari ta’ashub atau fanatisme golongan atau hizbiyah. Penyakit hizbiyah ini sudah mulai menggerogoti orang-orang yang mengaku ‘Salafi’ di Indonesia. Mereka membatasi salafiyah hanya pada kelompok tertentu, atau ustadz tertentu dan jaringannya. Orang yang tidak beralifiasi kepada jaringan ustadz tersebut bukanlah salafi, meskipun manhaj dan akidahnya sesuai dengan kaum Salaf. Padahal di sana dijumpai salafi dari kalangan Syafi’iyah, salafi dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

فإن كل طائفة منها معها حق وباطل فالواجب موافقتهم فيما قالوه من الحق ورد ما قالوه من الباطل ومن فتح الله له بهذه الطريق فقد فتح له من العلم والدين كل باب ويسر عليه فيهما الأسباب

“Maka setiap kelompok (atau madzhab, pen) mempunyai pendapat yang benar dan juga pendapat yang batil. Maka yang wajib adalah mencocoki mereka di dalam pendapat mereka yang benar dan membantah pendapat mereka yang batil. Barangsiapa yang dibukakan oleh Allah untuk menempuh jalan ini, maka dibukakan baginya setiap pintu dari ilmu dan agama ini dan dimudahkan baginya untuk menempuh sebab-sebab menggapai ilmu dan agama ini.” (Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain: 570).

Semoga tulisan ini mendorong kita –kaum muslimin Indonesia- untuk beristiqamah meneladani ulama Syafi’iyah di dalam memegang akidah Salaf. Amien.

Babat, 17 Sya’ban 1437 H

dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut