Sejarah Sekolah dalam Islam

 

Sejarah Sekolah dalam Islam

Kajian Literatur terhadap Perkembangan Sekolah

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

 


 

Daftar Isi

Mukaddimah. 4

Sekolah al-Quran di Awal Islam.. 8

Materi Yang Diajarkan dalam Kuttab. 9

Kuttab Kaum Yahudi 10

Kuttab Kaum Nasrani 11

Kuttab di Masa Jahiliyah. 11

Darul Qurra’ (Rumah Tahfizh). 14

Midras Kaum Yahudi 15

Midras di Masa Nabawi 16

Diundang ke Midras. 16

Yang Tercela bukan Sekolahnya. 17

Bermudzakarah dengan Pelajar Kuttab. 18

Alat Tulis dalam ‘Kuttab’ 19

Walimah Kelulusan. 21

Jenjang Halaqah Ilmu setelah Lulus Kuttab. 22

Halaqah Kaum Salaf. 24

Belajar di Rumah secara Mandiri 27

Asal Mula Kata Madrasah. 28

Penamaan dan Bidang Keilmuan Madrasah. 29

Taqlid dan Fanatisme Madzhab. 32

Madrasah Ilmu Hadits. 33

Sekolah Kedokteran. 36

Ilmu Pengetahuan Duniawi 40

Ijazah Sekolah. 43

Ijazah Kedokteran. 46

Wanita dan Madrasah. 50

Madrasah Sekuler. 52

Era Perlawanan Islam.. 55

Kebangkitan Madrasah di Aljazair. 57

Madrasah Diniyah di Indonesia. 60

Sekolah di Saudi Arabia. 61

Memilih dan Memilah. 63

Khotimah. 67

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونستهديه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم أما بعد:

Sebagian orang yang kurang berilmu dari kalangan ‘orang yang menisbatkan diri kepada salafy sejati’ mengharamkan sekolah dan madrasah formal –dengan tanpa ilmu- dengan alasan penyimpangan-penyimpangan –menurut persangkaan mereka- yang dijumpai dalamnya. Bahkan sikap mereka menjadi semakin ghuluw (melampaui batas) dengan menyikapi dan menganggap hizbi sesat kaum muslimin yang mendirikan sekolah formal. Wallahul musta’an.

Yang menjadi sikap ghuluw dan aneh dari mereka adalah tuduhan hizbi kepada para salafy yang mendirikan sekolah formal. Padahal dalam kenyataannya, mereka sendiri menjadi contoh pengaku ‘salafy’ yang jatuh ke dalam sikap hizbiyah dan ta’ashub golongan. Dalam pepatah arab disebutkan:

رَمَتْني بدائِها وانْسلَّتْ

“Ia menuduhku dengan penyakitnya, padahal ia sendiri yang mengidap penyakit itu.” (Lisanul Arab: 4/39).

Di antara bukti ke-hizbi-an mereka adalah bahwa mereka membuat grup-grup yang mereka namakan dengan forum salafy kota A, grup salafy kota B, salafi kota C dan sebagainya yang terkesan eksklusif. Ini menunjukkan bahwa virus Laskar Jihad ternyata masih menempel di dalam diri mereka. Laskar Jihad dulu juga membuat kelompok FKAWJ (Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah). Ada FKAWJ kota A, FKAWJ kota B dan sebagainya. Seolah-olah kaum muslimin yang berada di luar grup “salafy” bikinan mereka bukanlah salafy. Demikian pula yang di luar FKAWJ bukanlah ahlussunnah.

Al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah mengingatkan:

فـ”السلفية” بمعنى أن تكون حزباً خاصاً له مميزاته ويضلل أفراده من سواهم فهؤلاء ليسوا من السلفية في شيء.وأما السلفية اتباع منهج السلف عقيدة وقولاً وعملاً وائتلافاً واختلافاً واتفاقاً وتراحماً وتواداً، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ( مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر ) فهذه هي السلفية الحقة.

’Salafiyah’ dengan makna hizib atau kelompok tertentu yang mempunyai ciri khas tersendiri (seperti mengharuskan berjubah dan tidak bersekolah formal, pen) dan menganggap sesat orang-orang yang berada di luar mereka, maka mereka tidaklah termasuk ‘Salafiyah’ sedikit pun. Maka ‘salafiyah’ adalah mengikuti jalan as-Salaf, baik dalam akidah, ucapan, perbuatan, bersatu, berselisih ataupun dalam kasih sayang, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus terjaga tidak bisa tidur dan merasa panas.” Maka inilah ‘Salafiyah Sejati’.” (Liqa’ul Babil Maftuh: 57/15).

Beliau juga mengingatkan:

ولا شك أن الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السلف لا الانتماء إلى حزب معين يسمى السلفيين، والواجب أن تكون الأمة الاسلامية مذهبها مذهب السلف الصالح لا التحزب إلى من يسمى (السلفيون) فهناك طريق السلف وهناك حزب يسمى (السلفيون) والمطلوب اتباع السلف

“Tidak diragukan lagi bahwa yang wajib atas semua kaum muslimin adalah agar madzhab mereka adalah madzhab as-Salaf, bukan berloyal kepada kelompok tertentu yang bernama ‘Salafiyin’ (seperti forum salafy kota A, grup salafy kota B dan sebagainya, pen). Yang wajib adalah agar madzhab kaum muslimin adalah madzhab as-Salaf ash-Shalih, bukan bergabung atau membuat grup atau kelompok yang bernama ‘Salafiyun’. Maka di sana ada jalan as-Salaf dan di sana juga ada grup yang bernama ‘Salafiyin’. Yang dituntut adalah mengikuti as-Salaf.” (Syarh al-Arbain an-Nawawiyah hadits: 28). Demikianlah kenyataan di yang terjadi di kalangan mereka.

Kemudian di dalam tulisan singkat ini akan dijelaskan sejarah dan asal usul sekolah, mulai dari masa kenabian, khulafa’ur rasyidin, generasi awal Islam hingga masa kontemporer. Pelaku sejarah tersebut –insya Allah- akan disebutkan dalam tulisan ini, dimulai dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, tabi’in dan para ulama besar setelah mereka.

Penting diketahui oleh Pembaca sekalian bahwa mempelajari sejarah Islam –termasuk sejarah sekolah- itu berkaitan erat dengan mempelajari ‘Fiqih al-Quran dan as-Sunnah’. Yang demikian karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan atas dirinya, niscaya Allah akan menjadikannya faqih (atau faham) dalam urusan ad-Dien.” (HR. Al-Bukhari: 69, Muslim: 1719, at-Tirmidzi: 2569, Ibnu Majah: 216 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu).

Oleh karena itu, dalam rangka mengaitkan ilmu sejarah dengan ilmu fikih, al-Quran dan as-Sunnah banyak menceritakan kisah-kisah kaum terdahulu, dari para nabi alaihimussalam, orang-orang shaleh terdahulu, hingga orang-orang menyimpang yang dibinasakan. Kisah mereka dicantumkan dalam al-Quran dan as-Sunnah agar kita –sebagai generasi belakangan- bisa menjadikannya sebagai pelajaran dan fikih di dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma berkata:

كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُنَا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ حَتَّى يُصْبِحَ مَا يَقُومُ إِلَّا إِلَى عُظْمِ صَلَاةٍ

“Adalah Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami sejarah Bani Israil (yakni setelah shalat malam) hingga masuk waktu shubuh. Beliau tidak berhenti kecuali untuk melakukan shalat (shubuh).” (HR. Ahmad: 19077, Abu Dawud: 3178 dan isnadnya di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud: 3663).

Al-Imam Abu Syamah (wafat tahun 665 H) rahimahullah berkata:

ولم يزل الصحابة والتابعون فمن بعدهم يتفاوضون في حديث من مضى، ويتذاكرون ما سبقهم من الأخبار وانقضى، ويستنشدون الأشعار، و يتطلبون الآثار والأخبار؛ وذلك بين من أفعالهم لمن اطلع على أحوالهم، وهم السادة القدوة، فلنا بهم أسوة

“Para sahabat, tabiin dan generasi setelah mereka saling bersekutu dalam menceritakan sejarah kaum terdahulu, saling berdiskusi terhadap berita umat terdahulu, melantunkan syair, mencari berita dan atsar. Dan ini sangat jelas dari perbuatan mereka bagi orang yang mempelajari keadaan mereka. Mereka adalah pembesar dan panutan. Dan kita mendapatkan teladan dari mereka.” (Ar-Raudlatain fi Akhbarid Daulatain: 2)

Kita dapati bahwa al-Imam asy-Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah menjadi orang yang paling menguasai ilmu fikih di masa beliau. Beliau juga menjadi orang yang paling menguasai ilmu sejarah manusia. Mush’ab bin Abdullah az-Zubairi rahimahullah berkata:

ما رأيت أحداً أعلم بأيام الناس من الشافعي

“Aku tidak mengetahui seseorang yang lebih mengetahui sejarah manusia daripada asy-Syafii.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/74).

Al-Imam adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) rahimahullah berkata:

وقال أحمد بن محمد ابن بنت الشافعي: ثنا أبي قال: أقام الشافعي علي العربية وأيام الناس عشرين سنة وقال: ما أردت بهذا إلا الاستعانة على الفقه

“Ahmad bin Muhammad bin Bintusy Syafii berkata: “Ayahku bercerita: “Asy-Syafii menetap untuk mempelajari bahasa Arab dan sejarah manusia selama 20 tahun.” Beliau (asy-Syafii, pen) berkata: “Tidaklah aku menghendaki demikian kecuali agar aku lebih mudah menguasai ilmu fikih.” (Tarikhul Islam: 14/340).

Setelah membaca buku ‘Sejarah Sekolah dalam Islam’ ini Pembaca diharapkan dapat mengambil sikap yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya sesuai dengan kemampuan masing-masing, keadaan daerah serta masyarakatnya.

Akhirnya Penulis memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan tulisan ini sebagai bentuk amal saleh yang diterima oleh-Nya.

 

Babat, 7 Jumadats Tsaniyah 1435 H (6 April 2014 M)

Diperbaharui 11 Dzulhijjah 1437 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Tauhid dan Syirik dalam Kacamata Ulama Syafi’iyah

Corp
Tauhid dan Syirik dalam Kacamata Ulama Syafi’iyah
dr. M Faiq Sulaifi
[Pick the date]

 

 

 


Daftar Isi

Mukaddimah. 3

Batasan Syafi’iyah Mutaqaddimin dan Muta’akhirin. 7

Makna ‘Laa Ilaaha illallaah’ 10

Pengertian Syirik. 11

Persyaratan Laa Ilaaha Illallah. 12

Pentingnya Dakwah Tauhid. 13

Larangan Berbuat Syirik. 15

Syirik dalam Niat. 16

Berdoa (Meminta) kepada Orang Mati 17

Berlindung dengan Makhluk. 20

Perantara dalam Ibadah. 21

Sikap Ghuluw (Melampaui Batas) terhadap Orang Shalih. 23

Berdoa di Kuburan. 26

Menyamakan Allah dengan Raja di Dunia. 27

Meminta Syafaat Rasulullah. 30

Berdoa dengan Jah (Pangkat) Wali Fulan. 42

Antara ar-Ramli dan al-Haitami 48

Hadits tentang Tawassul 51

Syafi’iyah vs Hanafiyah. 53

Kehidupan Dunia dan Barzakh. 54

Kata Mereka ‘Larangan telah Dihapus’ 55

Antara Masjid dan Kuburan. 56

Asal Mula Kuburan Menjadi Masjid. 60

Thawaf di Kuburan. 65

Mengagungkan Tempat Bersejarah. 66

Bertabarruk dengan Tubuh Orang Shalih. 68

Safar (Perjalanan Jauh) menuju Kuburan Para Wali 71

Bernadzar untuk Kuburan Wali 78

Bersumpah dengan Selain Allah. 79

Menyembelih untuk Selain Allah ta’ala. 81

Sihir dan Perdukunan. 85

Hari Raya Orang Kafir. 89

Penutup. 90

 


Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمد عبده ورسوله.

(Amma ba’du)

Pembahasan tauhid dan syirik merupakan pembahasan paling utama dalam agama Islam. Di semua madzhab fikih pembahasan tauhid dan syirik merupakan pembahasan utama sebelum pembahasan perkara ibadah dan mu’amalah. Di kalangan madzhab Syafi’i sendiri, kesyirikan menjadi hal yang diperangi.

Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah berkata:

سُئِلَ مَالِكٌ عَنِ الكَلاَمِ وَالتَّوْحِيْدِ، فَقَالَ: مُحَالٌ أَنْ نَظُنَّ بِالنَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنَّهُ عَلَّمَ أُمَّتَهُ الاسْتِنْجَاءَ، وَلَمْ يُعَلِّمْهُمُ التَّوْحِيْدَ، وَالتَّوْحِيْدُ مَا قَالَهُ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: (أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوا: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ) فَمَا عُصِمَ بِهِ الدَّمُ وَالمَالُ، حَقِيْقَةُ التَّوْحِيْدِ

“Al-Imam Malik pernah ditanya tentang ilmu kalam dan tauhid. Maka beliau menjawab: “Mustahil kita mengira terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau mengajari umat beliau tata cara istinja’, namun tidak mengajari mereka tauhid. Tauhid adalah apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘Laa ilaaha illallaah’. Maka segala perkara yang menyebabkan darah dan harta seseorang terjaga adalah hakekat Tauhid.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/26, Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra: 9/40).

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata:

لأَنْ يَلْقَى اللَّهَ الْعَبْدُ بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلاَ الشِّرْكَ بِاللَّهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَلْقَاهُ بِشَىْءٍ مِنْ هَذِهِ الأَهْوَاءِ

“Sungguh, jika seorang hamba bertemu dengan Allah ta’ala dengan semua dosa selain syirik, maka itu lebih baik baginya daripada jika ia bertemu dengan-Nya dengan sesuatu dari hawa nafsu (perkara bid’ah).” (Atsar riwayat al-Baihaqi dalam Kubra: 21422 (10/206) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq: 51/309).

Pada risalah ini akan dipaparkan keterangan dari ulama Syafi’iyah tentang perkara yang berkaitan dengan tauhid dan kesyirikan. Penulis banyak merujuk pada risalah doktoral di Universitas Ummul Qura dengan judul “Juhud A’immatisy Syafi’iyah fi Taqrir Tauhid al-Ibadah” karya asy-Syaikh DR. Abdullah bin Abdul Aziz al-Anqari hafizhahullah, juga risalah ‘Al-Masail al-Aqdiyyah allati Khaalafa fiha Ba’dhu Fuqahaa’ asy-Syafi’iyah A’immatal Madzhab’ karya al-Ustadzah Azizah bintu Mubarak, seorang dosen wanita di Universitas Malik Su’ud hafizhahallah, kemudian Penulis mencocokkannya dengan kitab-kitab yang ada.

Mengapa harus ulama Syafi’iyah, dan bukan Hanabilah atau Malikiyah atau Hanafiyah?

Pertama: karena kita hidup di Indonesia dan mayoritas kaum musliminnya mengamalkan fikih madzhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Dan sebagai bentuk hikmah dalam berdakwah, kita mengenalkan ‘Tauhid’ dan memperingatkan kesyirikan dengan kitab-kitab karya ulama Syafi’iyah –yang menjadi idola kaum muslimin Indonesia-.

Al-Imam Ismail bin Bintis Suddi al-Kufi (wafat tahun 245 H) rahimahullah berkata:

كنت في مجلس مالك، فسئل عن فريضة، فأجاب بقول زيد، فقلت ما قال فيها علي وابن مسعود، رضي الله عنهما، فأومأ إلى الحجبة، فلما هموا بي عدوت وأعجزتهم، فقالوا: ما نصنع بكتبه ومحبرته ؟ فقال: اطلبوه برفق، فجاؤوا إلي فجئت معهم. فقال مالك: من أين أنت ؟ قلت: من الكوفة قال: فأين خلفت الادب ؟ فقلت: إنما ذاكرتك لاستفيد.فقال: إن عليا وعبد الله لا ينكر فضلهما، وأهل بلدنا على قول زيد بن ثابت، وإذا كنت بين قوم، فلا تبدأهم بما لا يعرفون، فيبدأك منهم ما تكره

“Aku sedang dalam majelis al-Imam Malik. Kemudian beliau ditanya soal faraidh (ilmu waris), maka beliau menjawab dengan pendapat Zaid bin Tsabit, sedangkan aku menjawab dengan pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud radliyallahu anhuma. Beliau mengisyaratkan bahwa jawabannya adalah ‘mahjub’ (terhalang dari harta waris, pen). Ketika mereka mendebatku dan aku mengalahkan mereka, maka mereka berkata: “Apa yang akan kita perbuat terhadap kitab-kitab dan tempat tinta orang ini?” Malik menjawab: “Tuntutlah ia dengan lemah lembut!” Maka mereka mendatangiku dan membawaku menghadap beliau. Maka al-Imam Malik bertanya: “Kamu berasal darimana?” Aku menjawab: “Dari Kufah.” Beliau bertanya: “Bagaimana bisa kamu meninggalkan adab?” Aku menjawab: “Aku berdiskusi denganmu hanyalah agar aku mendapatkan faedah darimu.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya keutamaan Ali dan Ibnu Mas’ud tidaklah diingkari. Akan tetapi penduduk negeri kami memegang pendapat Zaid bin Tsabit. Jika kamu berada di antara suatu kaum, maka janganlah memulai dengan pendapat yang tidak mereka kenal, sehingga mereka akan menyikapimu dengan sesuatu yang kamu benci.” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/177).

Al-Imam Humaid ath-Thawil (ulama tabi’in wafat tahun 142 H)  berkata:

قيل لعمر بن عبد العزيز: لو جمعت الناس على شيء؟ فقال: ما يسرني أنهم لم يختلفوا، قال: ثم كتب إلى الآفاق وإلى الأمصار: ليقضي كل قوم بما اجتمع عليه فقهاؤهم

“Dikatakan kepada Umar bin Abdul Aziz: “Hendaknya engkau mengumpulkan manusia dengan satu pendapat saja?” Beliau menjawab: “Aku tidak suka jika mereka hanya memegang satu pendapat saja.” Kemudian beliau menulis surat kepada seluruh kota dan negeri: “Hendaknya masing-masing kaum (negeri) memutuskan perkara dengan pendapat yang disepakati oleh ahli fikih negeri itu.” (Atsar riwayat ad-Darimi dalam Sunannya: 628 (1/159) dan di-shahih-kan oleh Abu Ashim dalam Fathul Mannan Syarh Sunan ad-Darimi Abdullah bin Abdirrahman: 3/430)

Demikian pula al-Imam Abu Umar Ahmad bin Abdul Malik al-Maliki -guru al-Imam Ibnu Abdil Barr- rahimahullah. Beliau menyatakan:

لا أخالف رواية ابن القاسم لأن الجماعة لدينا اليوم عليها ومخالفة الجماعة فيما قد أبيح لنا ليس من شيم الأئمة

“Aku tidak akan menyelisihi riwayat Ibnul Qasim karena masyarakat disini pada hari ini memakai riwayatnya. Dan menyelisihi masyarakat di dalam perkara yang diperbolehkan bukanlah akhlak para ulama.” (At-Tamhid li Ma fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid: 9/223).

Kedua: agar tidak timbul persangkaan bahwa pembahasan ‘tauhid dan syirik’ itu hanya dibahas oleh Hanabilah saja, bahkan yang lebih khusus adalah monopoli kaum Wahabi saja.

Persangkaan di atas adalah salah, karena ulama Syafi’iyah mempunyai andil besar di dalam menegakkan ‘Tauhid dan Sunnah’. Banyak ulama ahlul hadits yang berasal dari keluarga Syafi’iyah.

Kenyataan ini diakui sendiri oleh al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata:

وما أقل الحديث في الحنابلة، يعني المحدثين، وهذا من أغرب ما يكون، يعني أصحاب الإمام أحمد أقل الناس تحديثاً بالنسبة للشافعية

“Alangkah sedikit jumlah ahlul hadits di kalangan ulama Hanabilah. Dan ini adalah perkara yang paling aneh, yaitu para pengikut al-Imam Ahmad ternyata perhatian mereka terhadap hadits lebih sedikit jika dibandingkan dengan ulama Syafi’iyah.” (Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid: 1/451).

Beliau juga menyatakan:

والشافعية أكثر الناس عناية بالحديث والتفسير، والمالكية كذلك، ثم الحنابلة وسط، وأقلهم في ذلك الأحناف مع أن لهم كتبا في الحديث.

“Ulama Syafi’iyah adalah ulama yang paling banyak perhatiannya terhadap hadits dan tafsir. Demikian pula ulama Malikiyah. Kemudian ulama Hanabilah tengah-tengah. Dan yang paling sedikit perhatiannya adalah ulama Hanafiyah dan mereka pun mempunyai kitab-kitab hadits.” (Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid: 1/451).

Para pembaca akan mendapati kenyataan ucapan beliau di atas – bahwa para ulama besar ahlul hadits, ahlut tafsir dan ahli fikih kebanyakannya adalah Syafi’iyah- ketika menyelami isi tulisan ini.

Tulisan ini disusun dalam rangka upaya memenuhi nadzar kepada Allah ta’ala. Penulis pernah bernadzar jika sudah lepas dari kelompok ‘mereka yang mengaku paling salafi’, maka Penulis akan mengumpulkan keterangan dari Ulama Syafi’iyah tentang kesyirikan.

Penulis berlepas diri dari ‘manhaj kelompok ini’ yang penuh dengan kekerasan tetapi dangkal keilmuan. Mereka pandai menghujat, mencaci dan mencela saudara sendiri karena hanya berbeda pendapat. Ironisnya tingkat keilmuan mereka sangatlah dangkal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فَإِنَّ الرَّدَّ بِمُجَرَّدِ الشَّتْمِ وَالتَّهْوِيلِ لَا يَعْجِزُ عَنْهُ أَحَدٌ . وَالْإِنْسَانُ لَوْ أَنَّهُ يُنَاظِرُ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلَ الْكِتَابِ : لَكَانَ عَلَيْهِ أَنْ يَذْكُرَ مِنْ الْحُجَّةِ مَا يُبَيِّنُ بِهِ الْحَقَّ الَّذِي مَعَهُ وَالْبَاطِلَ الَّذِي مَعَهُمْ . فَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { ادْعُ إلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ } وَقَالَ تَعَالَى : { وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ }

“Karena membantah dengan semata cacian dan celaan, semua orang bisa melakukannya. Dan ketika seseorang membantah kaum musyrikin dan ahlul kitab, maka diharuskan baginya untuk menyebutkan hujah (argumentasi, pen) yang dapat menjelaskan kebenaran si pembantah dan kebatilan yang dibantah (yakni orang kafir, pen). Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam: “Berdakwahlah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan sesuatu yang lebih baik.” Allah juga berfirman: ‘Janganlah kalian mendebat Ahlul Kitab kecuali dengan yang lebih baik.” (Majmu’ al-Fatawa: 4/186-7).

Akhirnya Penulis berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنَّك أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

‘Ya Allah, terimalah iman dan amal kami, karena Engkau Maha Pendengar dan Maha Mengetahui. Dan ampunilah kami, karena Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang.’

Babat, 8 Dzulqa’dah 1437 H

dr. M Faiq Sulaifi

Baca lebih lanjut

Membumikan Pelajaran Ramadhan dalam Kehidupan

(Disampaikan oleh dr. M Faiq Sulaifi dalam Khutbah Idul Fitri 1437 H di Ds Telogorejo Kepohbaru Bojonegoro)

الحمد لله عدد قطرات البحار وورق الأشجار وقطر الأمطار. أشهد أن لا إله إلا الله الواحد القهار ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله النبي المختار ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه المهاجرين والأنصار.

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر. الله أكبر، ولله الحمد

 الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات ، وبفضله تحصل الدرجات ، وبكرمه تبدل الخطيئات ,

الله اكبر كبيرا الله اكبر كبيرا الله اكبر واجل الله اكبر ولله الحمد

الحمد لله الذي أكمل علينا عدة الشهر بالتمام, الذي أتم علينا نعمة الصيام والقيام, فله الحمد الى الدوام

الله اكبر الله اكبر الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا

Hadirin Jama’ah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Kesedihan menyelimuti kita ketika bulan Ramadhan meninggalkan kita semua. Kita telah berpisah dengan bulan yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan kebaikan. Baca lebih lanjut

Ulama Syafi’iyah antara Salafi dan Asy’ari

Corp
Ulama Syafi’iyah antara Salafi dan Asy’ari
 oleh: dr. M Faiq Sulaifi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

Mukaddimah. 3

Wajibnya Mengikuti Manhaj Salaf. 6

Akidah Salaf tentang Sifat-sifat Allah. 7

Al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari 10

Akhir Perjalanan Pendiri Ajaran Asy’ari 11

Penyebaran Ajaran Asy’ariyah. 14

Masa Tertekannya Ajaran Asy’ariyah. 16

Peran Madrasah Nizhamiyah. 17

Masa Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dan Setelahnya. 18

Dari ‘Salafi’ menjadi ‘Hanbali’ 19

Akidah al-Imam asy-Syafi’i, Sang Imam Madzhab. 20

Al-Imam Ismail bin Yahya al-Muzani, Murid asy-Syafi’i 22

Al-Imam Abu Ja’far at-Tirmidzi, Syafi’i Kubu Iraq. 22

Al-Qadhi Ibnu Suraij, Syafi’i Kedua. 23

Al-Imam Ibnu Khuzaimah. 25

Al-Imam Abu Bakar al-Ajurri, Penulis ‘asy-Syariah’ 26

Al-Imam al-Azhari, Ahli Bahasa Arab. 28

Al-Imam ad-Daraquthni 29

Al-Imam Abu Sulaiman al-Khaththabi, Pensyarah Hadits. 30

Al-Imam Abu Hamid al-Isfarayni, Syafi’i Ketiga. 32

Al-Imam Abul Qasim al-Lalikai 33

Al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbahani 34

Syaikhul Islam Abu Utsman ash-Shabuni 36

Al-Khathib Abu Bakar al-Baghdadi, Penulis Tarikh Baghdad. 37

Al-Imam Sa’ad bin Ali az-Zanjani, Pemilik Karamah. 38

Al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani, dari Hanafi menjadi Syafi’i 40

Al-Qadhi Abu Bakar al-Hamawi asy-Syafi’i 41

Al-Imam Nashr al-Maqdisi 42

Al-Imam al-Hafizh Muhyis Sunnah al-Baghawi 43

Al-Imam Abul Hasan al-Karaji, Syafi’i tanpa Qunut Subuh. 44

Al-Imam Abul Qasim al-Ashbahani, Penegak as-Sunnah. 45

Madrasah Syafi’iyah di Yaman. 46

Jaman Raja Baibars, Masa Ujian Bagi Salafiyah. 48

Kisah Taubatnya Fakhruddin ar-Razi 49

Asy-Syaikh az-Zahid Abul Bayan al-Haurani 50

Al-Imam Abu Thahir as-Silafi, si Cerdas Salafi 51

Al-Imam al-Arif billah Abu Hafsh as- Suhrawardi 52

Al-Imam Ibnush Shalah, Penulis ‘Ulumul Hadits’ 54

Al-Qadhi Syarafuddin an-Nablusi asy-Syafi’i, Khatib Syam.. 55

Al-Imam Ibnul Aththar, Ringkasan an-Nawawi 56

Al-Imam Ibnul Murrahal, Bendahara Damaskus. 58

Al-Imam Tajuddin at-Tibrizi, Juru Nasehat Tibriz. 58

Al-Imam Abul Hajjaj al-Mizzi, Sahabat Ibnu Taimiyah. 59

Al-Imam Ahli Tarikh adz-Dzahabi, Sahabat Ibnu Taimiyah. 60

Al-Imam al-Mufassir Ibnu Katsir, Murid Ibnu Taimiyah. 61

Al-Imam Ibnul Maushuli 62

Al-Allamah Ibnun Naqqasy asy-Syafi’i 63

Al-Allamah Yusuf bin Husain al-Kurdi 63

Al-Allamah Ibrahim bin Hasan  al-Kurdi 64

Al-Allamah Ali Afandi as-Suwaidi 65

Al-Allamah Ibnu Hajar al-Buthami, Qadhi Negeri Qatar. 66

Al-Allamah as-Sayyid Muhammad Amin al-Alawi al-Habsyi asy-Syafi’i 66

Al-Allamah Muhammad Hasan Abdul Ghaffar. 68

Al-Baihaqi vs Ibnush Shalah. 68

Ijma’ Buatan, Debat Syafi’i vs Syafi’i 69

Ibnu Asakir dan ‘at-Tabyin’ 70

Ibnus Subki dan Thabaqatnya. 73

Akibat Buruknya Lisan. 75

Pungkasan. 77

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

(أما بعد)

Di kalangan mayoritas kaum muslimin di Indonesia terkenal dengan istilah “Ahlus Sunnah wal Jamaah”. Mereka menyatakan bahwa ahlus sunnah itu harus memilih salah satu dari keempat madzhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) dan khusus Muslimin Indonesia memilih Madzhab Syafi’i. Dan dalam bidang akidah mereka harus mengikuti akidah Asy’ariyah atau Maturidiyah. Mereka juga mempunyai ulama pendahulu yang menyatakan demikian. Di antaranya adalah al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat 974 H) rahimahullah. Beliau menyatakan:

وَالْمُرَادُ بِالسُّنَّةِ مَا عَلَيْهِ إمَامَا أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ وَأَبُو مَنْصُورٍ الْمَاتُرِيدِيُّ ، وَالْبِدْعَةُ مَا عَلَيْهِ فِرْقَةٌ مِنْ فِرَقِ الْمُبْتَدِعَةِ الْمُخَالِفَةِ لِاعْتِقَادِ هَذَيْنِ الْإِمَامَيْنِ وَجَمِيعِ أَتْبَاعِهِمَا

“Yang dimaksud dengan ‘as-Sunnah’ adalah apa yang dianut oleh kedua imam Ahlus Sunnah wal Jamaah; Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari dan Syaikh Abu Manshur al-Maturidi. Bid’ah adalah apa yang dianut oleh kelompok-kelompok yang menyelisihi akidah kedua imam tersebut.” (Az-Zawajir an Iqtirafil Kabair: 1/254).

Pernyataan beliau dan ulama-ulama yang se-ide dengan beliau merupakan sebuah kerancuan, karena al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari lahir pada tahun 260 H dan wafat pada tahun 324 H, sedangkan Abu Manshur al-Maturidi wafat pada tahun 333 H. Pernyataan di atas memberikan konsekuensi bahwa keempat imam madzhab bukanlah Ahlus Sunnah, karena mereka hidup sebelum al-Asy’ari dan al-Maturidi.

Konsekuensi yang lebih parah –dari pernyataan diatas- adalah bahwa ulama Salaf dari kalangan sahabat, tabi’in dan pengikut mereka radliyallahu anhum bukanlah Ahlus Sunnah, karena mereka hidup jauh sebelum al-Asy’ari dan al-Maturidi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H)  rahimahullah menyatakan:

ومذهب أهل السنة والجماعة مذهب قديم، معروف، قبل أن يخلق الله أبا حنيفة ومالكا والشافعي وأحمد، فإنه مذهب الصحابة الذين تلقوه عن نبيهم، ومن خالف ذلك كان مبتدعا عند أهل السنة والجماعة فإنهم متفقون على أن إجماع الصحابة حجة، ومتنازعون في إجماع من بعدهم

“Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan madzhab yang sudah lama dan dikenal, jauh sebelum Allah menciptakan Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad. Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah madzhab para sahabat yang menerima madzhab tersebut dari nabi mereka shallallahu alaihi wasallam. Barangsiapa menyelisihinya, maka ia adalah ahlul bid’ah menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, karena mereka bersepakat bahwa ijma’ (konsensus) para sahabat adalah hujjah dan mereka berbeda pendapat tentang ijma generasi setelah mereka.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah: 2/363).

Dalam tulisan ini akan dipaparkan sejarah perkembangan ajaran Asy’ariyah, dan para ulama dari kalangan Syafi’iyah yang masih konsisten memegang akidah Salaf di dalam sifat-sifat Allah. Tujuan pemaparan ini adalah agar kita –generasi belakangan ini- bisa belajar dan beristiqamah di atas akidah Salafi dari mereka.

Dan memang demikian tujuan pemaparan fakta sejarah. Dengan sejarah kita bisa menganalogikan dan mengambil pelajaran dari kaum terdahulu.

Allah ta’ala menyatakan:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

Ide untuk menulis kisah-kisah ulama Syafi’iyah yang konsisten dengan akidah Salaf ini diawali ketika Penulis membuka-buka situs ‘Multaqa Ahlil Hadits’. Di dalam situs tersebut terdapat topik pembahasan ‘Irsyadul Khalaf bi Man Kaana minasy Syafi’iyah min Atba’is Salaf’ (Bimbingan bagi Generasi Khalaf tentang Ulama Syafi’iyah yang Menjadi Pengikut Salaf). Dari topik tersebut Penulis kemudian memperluas dan menambah dari kitab-kitab tarikh, sirah dan thabaqat karya ulama kita terdahulu rahimahumullah.

Mengapa hanya dikhususkan dengan pembahasan ulama ‘Syafi’iyah’ saja, bukan ‘Hanafiyah’ atau ‘Malikiyah’ atau ‘Hanabilah’ dan sebagainya?

Alasan pertama: karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mempelajari dan mengamalkan fikih ulama ‘Syafi’iyah’. Tetangga kita, teman sekantor dan orang-orang yang bermuamalah dengan kita di masjid, di pasar dan sebagainya kebanyakannya ‘mengaku’ mengikuti “Syafi’iyah”. Maka termasuk dari hikmah dalam berdakwah adalah memperkenalkan Manhaj dan Akidah Salaf kepada mereka melalui ulama Syafi’iyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فإنه حكى لي الشيخ محمد بن يحيى عن القاضي أبي يعلى أنه قصده فقيه ليقرأ عليه مذهب أحمد، فسأله عن بلده فأخبره، فقال له: إن أهل بلدك كلهم يقرءون مذهب الشافعي فلماذا عدلت أنت عنه إلى مذهبنا؟ فقال له: إنما عدلت عن المذهب رغبة فيك أنت، فقال له: إن هذا لا يصلح فإنك إذا كنت في بلدك على مذهب أحمد وباقي أهل البلد على مذهب الشافعي لم تجد أحدا يعبد معك ولا يدارسك، وكنت خليقا أن تثير خصومة وتوقع نزاعا، بل كونك على مذهب الشافعي حيث أهل بلدك على مذهبه أولى، ودله على الشيخ أبي إسحاق وذهب به إليه، فقال: سمعا وطاعة، أقدمه على الفقهاء

Ini karena Syaikh Muhammad bin Yahya telah men-hikayatkan kepadaku (Ibnu Taimiyah, pen) dari al-Qadli Abu Ya’la (al-Hanbali al-Farra’, pen) bahwa seorang ahli fikih datang kepadanya untuk belajar fikih Madzhab Imam Ahmad. Kemudian Abu Ya’la bertanya kepada ahli fikih tersebut tentang negeri asalnya. Kemudian ia menceritakan negeri asalnya. Kemudian Abu Ya’la berkata: “Sesungguhnya penduduk negerimu semuanya mempelajari fikih madzhab Syafi’i. Lantas mengapa kamu berpaling dari Madzhab Syafi’i ke madzhab kami (Hanbali, pen)?” Ia menjawab: “Aku berpaling dari madzhabku karena menyukai Anda.” Abu Ya’la menjawab: “Sesungguhnya ini tidak pantas, karena jika kamu di negerimu bermadzhab Hanbali, sedangkan semua penduduknya bermadzhab Syafi’i, maka kamu tidak akan menemukan orang yang beribadah bersamamu dan orang yang menjadi teman diskusimu. Dan kamu akan menjadi orang yang memicu perselisihan dan perdebatan di antara mereka.” Kemudian Abu Ya’la menunjukkan orang itu kepada asy-Syaikh Abu Ishaq (asy-Syairazi asy-Syafi’i, pen). Maka orang itu berkata: “Aku mendengar dan taat. Aku akan mendatanginya sebelum ahli fikih lainnya.” (Al-Mustadrak ala Majmu’ al-Fatawa: 2/274).

Alasan kedua: untuk menghindarkan kita dari ta’ashub atau fanatisme golongan atau hizbiyah. Penyakit hizbiyah ini sudah mulai menggerogoti orang-orang yang mengaku ‘Salafi’ di Indonesia. Mereka membatasi salafiyah hanya pada kelompok tertentu, atau ustadz tertentu dan jaringannya. Orang yang tidak beralifiasi kepada jaringan ustadz tersebut bukanlah salafi, meskipun manhaj dan akidahnya sesuai dengan kaum Salaf. Padahal di sana dijumpai salafi dari kalangan Syafi’iyah, salafi dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

فإن كل طائفة منها معها حق وباطل فالواجب موافقتهم فيما قالوه من الحق ورد ما قالوه من الباطل ومن فتح الله له بهذه الطريق فقد فتح له من العلم والدين كل باب ويسر عليه فيهما الأسباب

“Maka setiap kelompok (atau madzhab, pen) mempunyai pendapat yang benar dan juga pendapat yang batil. Maka yang wajib adalah mencocoki mereka di dalam pendapat mereka yang benar dan membantah pendapat mereka yang batil. Barangsiapa yang dibukakan oleh Allah untuk menempuh jalan ini, maka dibukakan baginya setiap pintu dari ilmu dan agama ini dan dimudahkan baginya untuk menempuh sebab-sebab menggapai ilmu dan agama ini.” (Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain: 570).

Semoga tulisan ini mendorong kita –kaum muslimin Indonesia- untuk beristiqamah meneladani ulama Syafi’iyah di dalam memegang akidah Salaf. Amien.

Babat, 17 Sya’ban 1437 H

dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Mewaspadai Gerakan Anti Sekolah Formal

(Fenomena Neo-Khawarij dan Haddadiyah)

Daftar Isi
Mukaddimah 2
Kemiripan antara Haddadiyah dan Khawarij 3
Terinspirasi oleh Abu Muhammad al-Maqdisi 3
Sikap asy-Syaikh Muqbil rahimahullah 4
Antara al-Maqdisi dan al-Pasimy 6
Tabdi’ yang Membabi Buta 7
Ilzam yang Batil 11
Antara Maslahat dan Mafsadat 13
Kebutuhan akan Ijazah Formal 17
Qiyas ma’al Fariq versi Khawarij 23
Bermuamalah dengan Pemerintah 26
Antara Sekolah dan Pasar 29
Menggugat Istilah Salafy Sejati 34
Hakekat Haddadiyah dan Khawarij 35
Bolehkah Ngaji kepada Mereka? 36

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمد عبده ورسوله.
(Amma ba’du)
Di waktu akhir-akhir ini kita (Salafiyin) dikejutkan dengan berbagai kegiatan pembubaran sekolah-sekolah formal yang didirikan oleh saudara kita salafiyin. Pembubaran tersebut disertai dengan paksaan dan ancaman boikot dan tahdzir bagi yang membangkang. Ini terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Mereka yang memaksakan pembubaran sekolah formal dan segala yang berkaitan dengannya ternyata sudah terkomando dari ustadz ‘kibar’ mereka yang berpusat di Jember Jawa Timur. Mereka mengaku-aku bahwa kegiatan ini sudah berkonsultasi dengan ‘ulama kibar’.
Kegiatan pembubaran secara paksa terhadap sekolah formal yang banyak dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai ‘salafy sejati’ ini ternyata meniru dan menyerupai gerakan-gerakan Khawarij. Yang demikian karena mereka menentang Pemerintah Indonesia dengan UU Sisdiknas 2003 yang memerintahkan gerakan wajib belajar dan juga UUD 1945 pasal 31 ayat 2 yang berbunyi: “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.” Gerakan mereka ini juga ‘seolah-olah’ menentang Gerakan Anti Putus Sekolah yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. (Tentang gerakan anti putus sekolah ini silakan dilihat: https://nasional.tempo.co/read/news/2013/02/11/079460436/gerakan-anti-putus-sekolah-dimulai-tahun-ini).
Mereka -di dalam situs-situs dan ceramah mereka- berusaha menjauhkan anak-anak salafiyyin dari sekolah formal dengan gambaran bahwa seakan-akan sekolah formal merupakan racun yang harus disingkirkan.
(Lihat situs: http://www.thalabilmusyari.web.id/2015/06/nasehat-untuk-mereka-yang-masih-memilih.html)
Tulisan ini dibuat agar kaum muslimin berhati-hati terhadap sikap ghuluw di dalam menyikapi sesuatu sehingga terjatuh pada bid’ah Haddadiyah dan Khawarij.
Babat, 25 Jumadil Awal 1437 H
dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Dosa Terhadap Ilmu dan Ulama

[menyikapi fenomena mencela ulama]

Daftar Isi

Mukaddimah 2
Ajaran Haddadiyah 4
Ajaran Khawarij 5
Kapan Seseorang Dikeluarkan dari Lingkup Ahlus Sunnah? 6
Menimbang Kesalahan Ulama 9
Kisah Nabi Musa dan Hathib bin Abi Balta’ah 10
Bedakan antara Ulama dan Ahlul Bid’ah 13
Perbedaan dalam Ijtihad 15
Ketergelinciran Seorang Ulama 18
Al-Imam Qatadah bin Di’amah as-Sadusi 20
Al-Imam Fudhail bin Iyadh 21
Al-Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi 23
Al-Imam Ibnu Khuzaimah 24
Al-Imam Abu Bakar al-Qaffal 26
Al-Imam Ibnu Hazm al-Andalusi 27
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 29
Al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi 30
Antara Mengkritik dan Melecehkan 31
Penerapan Kaedah di Jaman Ini 35
Al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani 37
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas al-Hindi al-Makki 39
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushabi 39
Su’ul Khatimah 40
Penutup 40

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمد عبده ورسوله.

(Amma ba’du)
Di antara manhaj Ahlussunnah Salafi adalah menghormati dan memuliakan kedudukan para ulama mereka. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

باب توقير العلماء والكبار وأهل الفضل وتقديمهم عَلَى غيرهم ورفع مجالسهم وإظهار مرتبتهم

“Bab: Memuliakan Para Ulama, Orang-orang Tua, Orang yang Mempunyai Keutamaan, Mendahulukan Mereka atas Selain Mereka, Meninggikan Majelis Mereka dan Menampakkan Kedudukan Mereka.” (Riyadlush Shalihin, Bab: 44, hal: 228).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah, yaitu memuliakan seorang Muslim yang sudah beruban, (memuliakan) penghafal al-Quran yang tidak berlebih-lebihan dan mengurang-kurangi (terhadap al-Quran, pen), dan (memuliakan) penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud: 4203, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 22353 (6/536) dan al-Baihaqi dalam al-Kubra: 17101 (8/163) dari Abu Musa al-Asy’ari radliyallahu anhu. Di-hasan-kan oleh al-Imam al-Albani dalam Shahihul Jami’: 2199).
Beliau juga bersabda:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukanlah termasuk umatku, orang yang tidak memuliakan generasi tua kami, tidak menyayangi generasi muda kami dan tidak mengenal hak ulama kami.” (HR. Ahmad: 21693, al-Hakim dalam Mustadraknya: 421 (1/211) dan al-Bazzar dalam Musnadnya: 2362 (7/189) dari Ubadah bin ash-Shamit radliyallahu anhu. Isnadnya di-hasan-kan oleh al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid: 532 (1/338) dan di-hasan-kan pula oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib hadits: 101).
Namun kenyataan yang terjadi di negeri kita yang tercinta ini adalah sebaliknya. Para ulama as-Sunnah sudah menjadi bahan gunjingan, bahan celaan dan kehormatan mereka dicabik-cabik oleh sebagian salafiyyin.
Di antara mereka ada yang mencela al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah dengan ucapan bahwa beliau tidak bisa dijadikan rujukan dalam perkara Manhaj. Di antara mereka ada yang mencela asy-Syaikh Abdur Razzaq al-Badr hafizhahullah dengan tuduhan syaikh yang mempunyai makar atau syaikh dengan nilai rapor merah. Di antara mereka ada yang mencela dan men-tahdzir dari kajian asy-Syaikh Washiyullah Abbas, Mufti kota Makkah hafizhahullah. Di antara mereka ada yang melarang untuk berdo’a ‘rahimahullah’ atas meninggalnya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushobi al-Yamani dengan alasan sikap beliau belum jelas. Kurang lebih demikian ucapan mereka sebagaimana dalam rekaman ceramah-ceramah mereka.
Padahal al-Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah mengingatkan:

من استخف بالعلماء ذهبت آخرته ومن استخف بالامراء ذهبت دنياه ومن استخف بالاخوان ذهبت مروءته

“Barangsiapa melecehkan ulama, maka hilanglah akhiratnya. Barangsiapa melecehkan penguasa, maka hilanglah dunianya. Barangsiapa melecehkan teman sejawatnya, maka hilanglah muru’ahnya.” (Atsar riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq: 32/444).
Al-Imam Ibnu Asakir rahimahullah juga mengingatkan:

وأعلم يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته ممن يخشاه ويتقيه حق تقاته أن لحوم العلماء رحمة الله عليهم مسمومة وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة

“Ketahuilah wahai Saudaraku! –semoga Allah memberikan taufiq kepada kami dan Anda kepada ridha-Nya agar termasuk dari orang yang takut dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenarnya- bahwa sesungguhnya daging para ulama –semoga Allah merahmati mereka- itu beracun. Dan kebiasaan Allah di dalam menghancurkan tabir orang-orang yang melecehkan mereka itu sudah diketahui.” (Tabyin Kadzibil Muftari fi Maa Nusiba ilal Imam Abil Hasan al-Asy’ari: 29)
Tulisan ini dibuat sebagai bentuk ibadah kepada Allah ta’ala dengan mencintai dan membela kedudukan para ulama. Penulis berdoa kepada-Nya agar mendapatkan kebersamaan dengan para ulama as-Sunnah, meskipun ilmu dan amal Penulis masih tidak ada apa-apanya dibanding mereka.
Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata:

فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ

“Kami belum pernah merasakan gembira di dalam al-Islam dengan perasaan gembira yang lebih besar daripada sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam “Kamu bersama orang yang kamu cintai.” Anas berkata: “Maka aku mencintai Allah, rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap agar aku bersama mereka walaupun aku tidak bisa beramal seperti amal mereka.” (HR. Muslim: 4777).
Akhirnya Penulis berdoa:

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.” (QS. Yusuf: 101).
Babat, 7 Rabi’ul Akhir 1437 H
Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Tampil Berbeda dalam Berpakaian

Bahasan

Daftar Isi
Mukaddimah 2
Larangan Baju Kemasyhuran 3
Pengertian Pakaian Kemasyhuran 4
Batasan Pakaian Kemasyhuran 5
Pakaian Kebiasaan Negeri 6
Sesuai Syariat 7
Baju Kemewahan dan Kerendahan 9
Baju Wol (Bulu) 11
Memakai Burnus 13
Tidak Jadi Memakai Sandal 16
Memakai Jubah 17
Baju Gamis 18
Memakai Sarung 20
Memakai Selendang 21
Antara Isbal dan Baju Gamis 23
Memakai Qalansuwah atau Kopyah 25
Kemasyhuran dalam Memakai Surban 27
Antara Niat dan Tidak Niat 29
Kebutuhan untuk Tampil Beda 30
Penutup 31

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , وسيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل فلا هادي له , وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له , وأشهد أن محمدا عبده ورسوله , صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ؛ والذين اتبعوهم بإحسان إلى يوم الدين , وسلم تسليما كثيرا .
(أما بعد)

Larangan menggunakan baju kemasyhuran atau baju yang tampil berbeda merupakan kriteria tambahan dalam menetapkan pakaian yang syar’i setelah kriteria menutup aurat dan tidak melakukan isbal (melebihi mata kaki).
Di antara kaum muslimin ada yang memakai baju gamis di tengah-tengah kaum muslimin yang memakai baju koko dan sarung. Di antara mereka ada yang memakai sirwal di tengah-tengah kaum muslimin yang memakai sarung. Di antara mereka ada yang memakai imamah (surban) di tengah-tengah kaum muslimin yang tidak memakainya.
Benarkah sikap yang demikian? Benarkah pakaian yang ditampilkan itu sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam? Apakah itu tidak termasuk ‘tampil beda’ atau baju kemasyhuran?
Tulisan ini akan membahas seluk beluk pakaian kemasyhuran dan penerapannya di kalangan kaum muslimin. Kemudian dinukilkan pula perbuatan para ulama Salaf yang menghindari ‘baju kemasyhuran’ karena takut akan terjadi kesombongan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

“Makanlah! Minumlah! Berpakaianlah! Dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. Al-Bukhari secara ta’liq dengan shighat jazm dalam Shahihnya, awal Kitabul Libas, Ahmad: 6408, an-Nasai: 2512 dan Ibnu Majah: 3595. Di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 4505).
Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi kaum muslimin dan dijadikan oleh Allah ta’ala sebagai amal shalih amien.
Babat, 21 Dzulhijjah 1435 H
Dr. M Faiq Sulafi

Larangan Baju Kemasyhuran

Banyak dalil baik dari al-Quran maupun dari al-Hadits yang menunjukkan tercelanya baju kemasyhuran sebagai bagian dari kesombongan. Di antaranya: Baca lebih lanjut