Arsip Kategori: fikih

Selamatan Kematian menurut Islam

[Maktabah Thibbul Qulub]
Selamatan Kematian menurut Islam
Kajian Literatur terhadap Selamatan Kematian
Oleh dr. M Faiq Sulaifi
4 Dzulqa’dah 1438 H

 

 

 


 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukaddimah. 3

Definisi Selamatan Kematian. 5

Hadits Larangan Selamatan Kematian. 7

Makna Hadits Larangan Selamatan Kematian. 9

Wasilah menuju Ma’tam.. 10

Pelarangan Secara Bertahap. 11

Atsar as-Salaf terhadap Selamatan Kematian. 13

Kesepakatan Para Ulama. 14

Tradisi Kaum Yahudi 16

Bid’ah Kaum Syiah Rafidhah. 17

Upaya Umar bin Abdul Aziz. 18

Penukilan dari Ulama Hanafiyah. 19

Penukilan dari Ulama Malikiyah. 21

Penukilan dari Ulama’ Syafi’iyah dan Biaya Selamatan. 23

Penukilan dari Ulama Hanabilah dan Rukhsah. 27

Dianjurkan Membuat ‘Atirah’ 29

Acara Aqr. 32

Open House untuk Takziyah. 33

Salah Tulis dan Salah Cetak. 37

Ratsa’ Mubah dan Ratsa’ Jahiliyah. 40

Membaca al-Quran pada Acara Ma’tam.. 43

Berhujah dengan Atsar al-Imam Thawus. 45

Berhujah dengan Atsar Ubaid bin Umair. 47

Sikap as-Suyuthi 50

Bersedekah untuk Mayit. 54

Wanita Bertakziyah. 59

Hindarilah Pendapat yang Menyendiri 61

Jawaban Mufti Makkah. 66

Terus-Menerus Terjadi 69

Khotimah. 70

 

 

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Amma ba’du:

Agama Islam tidak mengenal perpaduan budaya baik perpaduan Islam dengan ajaran Jahiliyah, perpaduan Islam dengan ajaran Yahudi atau Islam dengan ajaran kejawen. Allah ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Ayat di atas turun berkenaan dengan sebagian Ahlul Kitab yang masuk Islam kemudian meminta ijin agar tetap bisa mengagungkan hari Sabtu dan tetap bisa membaca Taurat ketika shalat malam. Kemudian turunlah ayat ini. (Fathul Qadir lisy Syaukani: 1/322, Tafsir al-Baghawi: 1/240 dan Tafsir Ibnu Katsir: 1/565).

Maka ketika seseorang telah masuk Islam, ia harus meninggalkan ajaran Yahudi, ajaran Jahiliyah dan lainnya yang ia anut sebelum masuk Islam.

Di antara ajaran Jahiliyah yang dihapus oleh Islam adalah tradisi selamatan kematian yang merupakan acara ikutan dari kegiatan meratapi mayit.

Anehnya di masa akhir-akhir ini muncul sebagian kaum muslimin yang membolehkan acara selamatan kematian untuk mayit selama tujuh hari dengan alasan riwayat dari Thawus bin Kaisan al-Yamani (ulama tabi’in wafat tahun 106 H) rahimahullah yang membolehkannya. Beliau berkata:

إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام

“Sesungguhnya orang-orang mati itu mendapatkan fitnah (pertanyaan Munkar dan Nakir) di kubur mereka selama 7 hari. Mereka senang memberikan makan atas nama mereka (orang-orang mati) pada hari-hari tersebut.”

Atsar seperti ini disebarkan oleh mereka yang mendukung acara ini di dalam kajian-kajian mereka dan di dalam ‘Bahtsul Masail’ mereka. Seolah-olah para ulama kita sejak berabad-abad yang lalu tidak mengetahui atsar ini kemudian mereka menemukannya untuk digunakan sebagai dalil tentang bolehnya selamatan kematian. Dan karena begitu banyaknya pendukung selamatan kematian maka terkesan seolah-olah selamatan kematian itu adalah sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan orang yang tidak mengadakannya apalagi mengingkarinya akan dianggap asing.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim: 389, at-Tirmidzi: 2629 dan Ibnu Majah: 3986).

Mereka juga mempersempit arti kata ‘Niyahah’ (meratap mayit) dalam bahasa Arab dengan arti menangis dan meraung-raung saja. Padahal arti ‘niyahah’ mencakup berkumpul di dalam suatu majelis untuk bersedih atas kematian. Al-Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi (pakar bahasa Arab, guru al-Imam Sibawaih, wafat tahun 173 H) rahimahullah berkata:

النَّوْحُ مصدر ناح يَنوحُ نَوْحاً ويقال نائحة ذات نياحة ونوّاحة ذات مناحة والمناحة أيضاً الاسم ويجمع على المناحات والمناوح والنَّوائح اسم يقع على النِّساء يَجْتمِعْنَ في مَناحة ويجمع على هذا المعنى على الأَنْواح

“An-Nauh (meratap), masdar dari Naaha-Yanuuhu-Nauhan. Disebut Na’ihah bagi wanita yang meratap dan Nawwahah bagi wanita yang mempunyai majelis meratap kesedihan. Manahah adalah majelis niyahah. Nawa’ih adalah wanita yang berkumpul di tempat meratap dan bentuk jamaknya adalah ‘Anwah’.” (Kitabul Ain: 3/304).

Pada tulisan ini, akan dibahas selamatan kematian dan seluk beluknya. Tidak lupa Penulis juga menukil pendapat ulama Syafi’iyah dan madzhab yang lainnya dalam permasalahan ini karena mayoritas kaum muslimin Indonesia mengamalkan fikih Syafi’iyah. Kemudian Penulis menjelaskan atsar al-Imam Thawus rahimahullah, atsar Ubaid bin Umair rahimahullah, sikap as-Suyuthi rahimahullah serta perbuatan penduduk Madinah yang dijadikan sandaran oleh mereka yang menasionalisasi kegiatan tahlilan atau selamatan kematian 7 hari.

Untuk membaca tulisan ini, dibutuhkan sikap terbuka dan membebaskan diri dari fanatisme atau ta’ashub madzhab atau hizbiyah serta memohon petunjuk kepada Allah Azza wa Jalla. Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ « أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah fanatisme (ta’ashub) itu?” Beliau menjawab: “Kamu membantu kaummu di atas kezaliman.” (HR. Abu Dawud: 5121 dan al-Baihaqi dalam al-Kubra: 21606 (10/234). Di-hasankan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Sunan Abu Dawud: 5119 (7/44)). Sehingga kita dilarang membela suatu pendapat yang jelas-jelas salah, hanya karena itu merupakan pendapat guru kita atau kelompok kita.

Akhirnya, tidak ada gading yang tak retak. Segala kebaikan adalah dari Allah ta’ala dan segala kekurangan adalah dari diri Penulis. Semoga tulisan ini bisa menambah ilmu dan ditulis sebagai amal shalih bagi Penulis. Amien.

Lamongan, 4 Dzulqa’dah 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Iklan

Tampil Berbeda dalam Berpakaian

Bahasan

Daftar Isi
Mukaddimah 2
Larangan Baju Kemasyhuran 3
Pengertian Pakaian Kemasyhuran 4
Batasan Pakaian Kemasyhuran 5
Pakaian Kebiasaan Negeri 6
Sesuai Syariat 7
Baju Kemewahan dan Kerendahan 9
Baju Wol (Bulu) 11
Memakai Burnus 13
Tidak Jadi Memakai Sandal 16
Memakai Jubah 17
Baju Gamis 18
Memakai Sarung 20
Memakai Selendang 21
Antara Isbal dan Baju Gamis 23
Memakai Qalansuwah atau Kopyah 25
Kemasyhuran dalam Memakai Surban 27
Antara Niat dan Tidak Niat 29
Kebutuhan untuk Tampil Beda 30
Penutup 31

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , وسيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل فلا هادي له , وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له , وأشهد أن محمدا عبده ورسوله , صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ؛ والذين اتبعوهم بإحسان إلى يوم الدين , وسلم تسليما كثيرا .
(أما بعد)

Larangan menggunakan baju kemasyhuran atau baju yang tampil berbeda merupakan kriteria tambahan dalam menetapkan pakaian yang syar’i setelah kriteria menutup aurat dan tidak melakukan isbal (melebihi mata kaki).
Di antara kaum muslimin ada yang memakai baju gamis di tengah-tengah kaum muslimin yang memakai baju koko dan sarung. Di antara mereka ada yang memakai sirwal di tengah-tengah kaum muslimin yang memakai sarung. Di antara mereka ada yang memakai imamah (surban) di tengah-tengah kaum muslimin yang tidak memakainya.
Benarkah sikap yang demikian? Benarkah pakaian yang ditampilkan itu sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam? Apakah itu tidak termasuk ‘tampil beda’ atau baju kemasyhuran?
Tulisan ini akan membahas seluk beluk pakaian kemasyhuran dan penerapannya di kalangan kaum muslimin. Kemudian dinukilkan pula perbuatan para ulama Salaf yang menghindari ‘baju kemasyhuran’ karena takut akan terjadi kesombongan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

“Makanlah! Minumlah! Berpakaianlah! Dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. Al-Bukhari secara ta’liq dengan shighat jazm dalam Shahihnya, awal Kitabul Libas, Ahmad: 6408, an-Nasai: 2512 dan Ibnu Majah: 3595. Di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 4505).
Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi kaum muslimin dan dijadikan oleh Allah ta’ala sebagai amal shalih amien.
Babat, 21 Dzulhijjah 1435 H
Dr. M Faiq Sulafi

Larangan Baju Kemasyhuran

Banyak dalil baik dari al-Quran maupun dari al-Hadits yang menunjukkan tercelanya baju kemasyhuran sebagai bagian dari kesombongan. Di antaranya: Baca lebih lanjut

Puasa Hari Arafah, Ikut Mana?

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi
Pendahuluan

Bulan Dzulhijjah tahun 1435 H di Indonesia masih menyisakan masalah. Ini karena pemerintah Indonesia menetapkan awal bulan Dzulhijjah yang berbeda dengan penetapan pemerintah Arab Saudi.
Atas dasar itu sebagian kaum muslimin melakukan puasa hari Arafah mengikuti wukuf di Arafah sedangkan yang lainnya mengikuti penetapan pemerintah Indonesia. Ada lagi yang membedakan peristiwanya. Jika puasa Ramadhan, Idul Fitri serta Idul Adha, maka mereka mengikuti masyarakat negeri masing-masing. Dan jika puasa Arafah, maka mereka mengikuti pemerintah Arab Saudi.
Dalam pembahasan ini, Penulis merujuk pada sebuah risalah yang berjudul ‘An-Nurus Sathi’ min Ufuqith Thawali’ fi Tahdidi Yaumi Arafah idza Ikhtalafatil Mathali’, karya Abu Muhammad Ahmad bin Muhammad bin Khalil hafizhahullah. Penulis juga menambahi dari keterangan kitab-kitab lainnya semoga bisa lebih melengkapi. Baca lebih lanjut

Memakai Cadar, Wajibkah?

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Pendahuluan

Keharusan seorang muslimah untuk mengenakan cadar atau niqab masih diperselisihkan oleh para ulama. Namun yang sangat disayangkan adalah sikap beberapa kaum muslimin dan ulamanya yang memilih bersikeras mewajibkan cadar (baca: niqab) dan terkadang menyikapi keras terhadap mereka yang tidak mewajibkannya.

Ketika Penulis membaca fatwa-fatwa yang dimuat dalam beberapa majalah, Penulis merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati karena ada dalil-dalil yang tidak pas dan terkesan dipaksakan di dalam mewajibkan cadar. Begitulah, sesuatu yang tidak pas dari kebenaran pastilah terasa mengganjal di hati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

استفت نفسك و إن أفتاك المفتون

“Mintalah fatwa pada hatimu, meskipun para ahli fatwa telah berfatwa!” (HR. Al-Bukhari di dalam Tarikhnya dari Wabishah radliyallahu anhu dan di-hasan-kan oleh al-Allamah al-Albani dalam Shahihul Jami’: 948).

Pada tulisan ini akan dipaparkan perbedaan pendapat ulama mengenai kewajiban bercadar bagi muslimah dan pendapat yang rajih.

Dan sebelum membaca tulisan ini, hendaknya kita mengilangkan dulu sikap fanatisme baik kepada syaikh atau kelompok tertentu. Sehingga tulisan ini memberikan manfaat dan pencerahan.

Babat, 21 Muharram 1434 H

dr. M Faiq Sulaifi Baca lebih lanjut

Posisi Kepala Mayit ketika Dishalati, di Selatan ataukah Utara?

(Sebuah Polemik Shalat Jenazah)

Dr. M Faiq Sulaifi

Sebagian kaum muslimin ketika menshalati jenazah, meletakkan kepala mayit di sebelah kanan imam (sebelah utara menurut orang Indonesia, pen). Sebagian lagi meletakkan kepala mayit di sebelah kiri imam (sebelah selatan menurut orang Indonesia, pen). Sebagian lagi bingung, mengikuti pendapat yang mana. Baca lebih lanjut

Karakteristik Emas dan Perak

oleh. dr M Faiq Sulaifi

Emas adalah logam mulia yang sangat dicintai oleh umat manusia. Mereka menjadikan emas sebagai kebanggaan dan berusaha untuk memilikinya. Bahkan mereka bisa tergoda oleh kemolekan emas sehingga mereka menjadikannya sebagai sesembahan yang dipuja. Baca lebih lanjut