Kupas Tuntas tentang Takdir

[Pustaka Thibbul Qulub]
Kupas Tuntas tentang Takdir
Pemahaman Komprehensif tentang Qadha’ dan Qadar
 
Oleh Dr. M Faiq Sulaifi

 

 

 


 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 3

Pengertian Takdir. 5

Meliputi Empat Hal 6

Luasnya Ilmu Allah ta’ala. 8

Penulisan Takdir. 10

Kehendak-Nya Pasti Terlaksana. 11

Penciptaan Alam Semesta. 14

Catatan Induk di al-Lauh al-Mafuzh. 15

Menciptakan dalam Kegelapan. 18

Penentuan Nasib Manusia ketika Penciptaan Adam alaihissalam.. 18

Sejak Kapan Menjadi Nabi 20

Anak-anak Kaum Musyrikin. 20

Pemindahbukuan Tahunan. 23

Pemindahbukuan Individu. 24

Pelaksanaan Takdir Harian. 25

Evaluasi dan Pelaporan. 26

Apakah Takdir Bisa Berubah?. 28

Antara Berita Langit dan Dukun. 31

Untuk Apa Berusaha. 33

Larangan Membahas Takdir. 35

Adu Argumentasi antara Adam dan Musa alaihimassalam.. 36

Berhujah dengan Takdir atas Kemaksiatan. 38

Sekte Qadariyah dan Agama Majusi 41

Sekte Jabriyah atau Fatalisme. 43

Antara Ahlussunnah dan Asy’ariyah. 44

Kesimpulan. 47

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

الحمد لله الذي بعث النبيين مبشرين ومنذرين وأنزل معهم الكتاب بالحق ليحكم بين الناس فيما اختلفوا فيه وما اختلف فيه إلا الذين أوتوه من بعد ما جاءتهم البينات بغيا بينهم فهدى الله الذين آمنوا لما اختلفوا فيه من الحق بإذنه والله يهدي من يشاء إلى صراط مستقيم وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له كما شهد هو سبحانه وتعالى أنه لا إله إلا هو والملائكة وأولوا العلم قائما بالقسط لا إله إلا هو العزيز الحكيم

(أما بعد)

Beriman kepada Takdir atau Qadha’ dan Qadar merupakan kewajiban bagi orang yang beriman. Ibnu ad-Dailami –yaitu Abdullah bin Fairuz- rahimahullah berkata:

وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنْ الْقَدَرِ فَأَتَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ غَيْرَ ظَالِمٍ لَهُمْ وَلَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ لَهُمْ خَيْرًا مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَلَوْ كَانَ لَكَ جَبَلُ أُحُدٍ أَوْ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ ذَهَبًا أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا قَبِلَهُ اللَّهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَأَنَّكَ إِنْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ

“Terganjal dalam hatiku sesuatu yang menyangkut takdir. Maka aku datang kepada Zaid bin Tsabit radliyallahu anhu dan bertanya tentang hal tersebut. Beliau menjawab: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya Allah memberikan siksa kepada penduduk langit-Nya dan penduduk bumi-Nya, maka Allah tidaklah berbuat zhalim kepada mereka. Seandainya Allah memberikan rahmat kepada mereka, maka rahmat-Nya lebih baik daripada amal perbuatan mereka. Dan seandainya kamu mempunyai emas sebesar gunung Uhud yang kamu infakkan di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya kecuali kamu beriman kepada takdir-Nya dan kamu meyakini bahwa perkara yang menimpamu (dalam catatan takdir, pen) tidak akan terluput darimu dan perkara yang luput darimu (dalam catatan takdir, pen) tidak akan menimpamu. Dan jika kamu mati dalam keadaan tidak meyakini ini maka kamu masuk neraka.” (HR. Ahmad: 21611, Abu Dawud: 4701 dan Ibnu Majah: 77. Isnadnya di-shahih-kan oleh al-Bushiri dalam al-Ithaf: 187 (1/166). Al-Albani men-shahih-kannya dalam Takhrij al-Misykat: 115 (1/25)).

Kemudian di dalam menyikapi ayat al-Quran dan hadits-hadits tentang takdir dan juga berita gaib lainnya, seorang mukmin hendaknya beriman dan yakin dengan berita-berita tersebut meskipun tidak dapat dijangkau oleh nalar, logika ataupun sulit dibayangkan.

Allah ta’ala berfirman:

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

“Orang-orang yang berilmu secara mendalam akan berkata, “Kami beriman dengan berita tersebut. Segala sesuatu (dari berita tersebut, pen) berasal dari Rabb kami.” (QS. Ali Imran: 7).

Oleh karena itu kita dilarang menolak sebuah ayat atau hadits shahih tentang takdir atau berita lainnya hanya karena bertentangan dengan logika kita atau karena rasio kita tidak mampu menjangkaunya.

Al-Allamah Ibnul Wazir al-Yamani (wafat tahun 840 H) rahimahullah berkata:

ولا شكَّ أن تَطَلُّب علم ما لا يُعْلَمُ، والشَّرَهَ في ذلك وتحكيم بادىء الرأي فيه، وتقديمه على النصوص هو أساس كلِّ فسادٍ، ولذلك نسبه الله في القرآن إلى السُّفهاء..الخ

“Dan tidak diragukan lagi bahwa memaksa dan bersikeras untuk mengetahui sesuatu yang tidak diketahui, menjadikan nalar yang pendek ini untuk menghukuminya serta mendahulukan akal daripada teks (ayat atau hadits, pen), itu semua adalah dasar dari segala kerusakan. Oleh karena itu Allah ta’ala menyebut orang yang demikian di dalam al-Quran sebagai orang-orang yang dungu..dst.” (Al-Awashim wal Qawashim fidz Dzabbi an Sunnati Abil Qasim: 5/339).

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi al-Maliki (wafat 790 H) rahimahullah berkata:

أَحَدُهُمَا: أَنْ لَا يُجْعَلَ الْعَقْلُ حَاكِمًا بِإِطْلَاقٍ، وَقَدْ ثَبَتَ عَلَيْهِ حَاكِمٌ بِإِطْلَاقٍ وَهُوَ الشَّرْعُ، بَلِ الْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقَدَّمَ مَا حَقُّهُ التَّقْدِيمُ – وَهُوَ الشَّرْعُ – وَيُؤَخِّرُ مَا حَقُّهُ التَّأْخِيرُ – وَهُوَ نَظَرُ الْعَقْلِ – لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ تَقْدِيمُ النَّاقِصِ حَاكِمًا عَلَى الْكَامِلِ،

“Pertama: Akal tidak boleh dijadikan hakim secara mutlak. Dan telah tetap bahwa yang menghakimi akal secara mutlak adalah syariat. Bahkan yang wajib baginya adalah mendahulukan perkara yang wajib didahulukan, yaitu syariat, dan mengalahkan perkara yang wajib dikalahkan, yaitu pandangan akal. Ini karena tidaklah dibenarkan mendahulukan perkara yang kurang (yaitu akal, pen) sebagai hakim bagi perkara yang sempurna (yakni syariat, pen)..dst.” (Al-I’tisham lisy Syathibi, tahqiq al-Hilali: 2/480).

Akhirnya semoga tulisan ini memberikan tambahan pencerahan dan keimanan kepada Allah ta’ala serta Qadha’ dan Qadar-Nya. Amien.

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

Nguwok Modo, 18 Ramadhan 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi

Pengertian Takdir

Tentang pengertian ‘Qadha dan Qadar’, al-Imam Abu Sulaiman al-Khththabi (wafat tahun 388 H) rahimahullah berkata:

قَدْ يَحْسِبُ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ أَنَّ مَعْنَى الْقَدَرِ مِنْ اللَّهِ، وَالْقَضَاءِ مِنْهُ مَعْنَى الْإِجْبَارِ، وَالْقَهْرِ لِلْعَبْدِ عَلَى مَا قَضَاهُ وَقَدَّرَهُ وَيُتَوَهَّمُ أَنَّ فَلْجَ آدَم فِي الْحُجَّةِ عَلَى مُوسَى إنَّمَا كَانَ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَلَيْسَ الْأَمْرُ فِي ذَلِكَ عَلَى مَا يَتَوَهَّمُونَهُ وَإِنَّمَا مَعْنَاهُ الْإِخْبَارُ عَنْ تَقَدُّمِ عِلْمِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ بِمَا يَكُونُ مِنْ أَفْعَالِ الْعِبَادِ وَأَكْسَابِهِمْ وَصُدُورِهَا عَنْ تَقْدِيرٍ مِنْهُ وَخَلَقَ لَهَا خَيْرَهَا وَشَرَّهَا..الخ

“Kebanyakan manusia menyangka bahwa ‘Qadha dan Qadar’ dari Allah itu bermakna memaksa dan mengikat hamba di atas ketetapan-Nya. Mereka menyangka bahwa Adam alaihissalam berhasil membantah Musa alaihissalam juga karena pengertian ini. Padahal tidaklah seperti persangkaan mereka. Makna ‘Qadha dan Qadar’ adalah pemberitaan tentang ilmu Allah ta’ala yang mendahului perbuatan hamba dan bahwa munculnya perbuatan tersebut berdasarkan ketetapan-Nya, dan bahwa Allah itu menciptakan perbuatan yang baik dan yang buruk..dst.” (Ma’alimus Sunan lil Khaththabi: 4/322).

Sebagian ulama menganggap sama antara pengertian ‘Qadha’ dan pengertian ‘Qadar’, sedangkan yang lainnya membedakan antara keduanya. Al-Allamah Ubaidullah al-Mubarakfuri (wafat tahun 1414 H) rahimahullah berkata:

وقال الجزري: القدر ما قضاه الله وحكم به من الأمور. وقال في القاموس: القدر محركة القضاء والحكم – انتهى. وهذا يدل على أن القدر والقضاء بمعنى واحد، وقد يفرق بينهما فقيل: القضاء الحكم بالكليات على سبيل الإجمال في الأزل، والقدر الحكم بوقوع الجزئيات التي لتلك الكليات على سبيل التفصيل فيما لا يزال. قال تعالى: {وإن من شيء إلا عندنا خزائنه، وما ننزل إلا بقدر معلوم} [15: 21]…الخ

“Al-Jazari berkata: “Qadar adalah perkara-perkara yang diputuskan oleh Allah (yakni: Qadha’, pen).” Penulis al-Kamus berkata: “Qadar adalah Qadha’ dan Keputusan.. Selesai.” Ini menunjukkan bahwa kata ‘Qadha’ dan kata ‘Qadar’ adalah satu makna. Dan terkadang maknanya dibedakan. Maka dikatakan bahwa ‘Qadha’ adalah keputusan untuk keseluruhan secara global di masa Azali, sedangkan ‘Qadar’ adalah keputusan untuk setiap bagian secara terperinci di dalam keputusan yang tidak berubah. Allah ta’ala berfirman: “Dan tidaklah ada sesuatu pun kecuali perbendaharaannya di sisi Kami dan tidaklah Kami menurunkannya kecuali dengan kadar yang sudah diketahui.” (QS. Al-Hijr: 21)..dst.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 1/158).

Meliputi Empat Hal

Seseorang dianggap telah mengimani takdir jika telah mengimani empat hal, yaitu ilmu Allah ta’ala, penulisan-Nya, kehendak-Nya dan penciptaan makhluk oleh-Nya.

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (wafat tahun 751 H) rahimahullah berkata:

الباب العاشر في مراتب القضاء والقدر التي من لم يؤمن بها لم يؤمن بالقضاء والقدر وهي أربع مراتب المرتبة الأولى علم الرب سبحانه بالأشياء قبل كونها المرتبة الثانية كتابته لها قبل كونها المرتبة الثالثة مشيئته لها الرابعة خلقه لها

“Bab Kesepuluh: Tingkatan Qadha’ dan Qadar yang mana orang yang tidak mengimaninya berarti tidak beriman terhadap Qadha’ dan Qadar. Maka di sini ada empat (4) tingkatan; Pertama: ilmu Allah ta’ala terhadap segala sesuatu sebelum terjadinya, kedua: penulisan Allah tentang mereka sebelum terjadinya, ketiga: kehendak-Nya atas mereka, dan keempat: penciptaan-Nya terhadap mereka.” (Syifa’ul Alil fi Masa’ilil Qadha’ wal Qadar wal Hikmah wat Ta’lil: 29).

Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H) rahimahullah meringkasnya menjadi dua tingkat. Beliau berkata:

وَتُؤْمِنُ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ – أَهْلُ السُّنَّة وَالْجَمَاعَةِ – بِالْقَدَرِ : خَيْرِهِ وَشَرِّهِ وَالْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ عَلَى دَرَجَتَيْنِ كُلُّ دَرَجَةٍ تَتَضَمَّنُ شَيْئَيْنِ :

فَالدَّرَجَةُ الْأُولَى : الْإِيمَانُ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَلِمَ مَا الْخَلْقُ عَامِلُونَ بِعِلْمِهِ الْقَدِيمِ الَّذِي هُوَ مَوْصُوفٌ بِهِ أَزَلًا وَعَلِمَ جَمِيعَ أَحْوَالِهِمْ مِنْ الطَّاعَاتِ وَالْمَعَاصِي وَالْأَرْزَاقِ وَالْآجَالِ ثُمَّ كَتَبَ اللَّهُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ مَقَادِيرَ الْخَلْقِ..الخ

وَأَمَّا الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ : فَهُوَ مَشِيئَةُ اللَّهِ النَّافِذَةُ وَقُدْرَتُهُ الشَّامِلَةُ وَهُوَ الْإِيمَانُ بِأَنَّ مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ وَأَنَّهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ مِنْ حَرَكَةٍ وَلَا سُكُونٍ إلَّا بِمَشِيئَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لَا يَكُونُ فِي مُلْكِهِ إلَّا مَا يُرِيدُ وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِنْ الْمَوْجُودَاتِ وَالْمَعْدُومَاتِ . فَمَا مِنْ مَخْلُوقٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ إلَّا اللَّهُ خَالِقُهُ سُبْحَانَهُ لَا خَالِقَ غَيْرُهُ وَلَا رَبَّ سِوَاهُ وَمَعَ ذَلِكَ فَقَدْ أَمَرَ الْعِبَادَ بِطَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رُسُلِهِ وَنَهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَتِهِ..الخ

“Al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat, pen) –yaitu Ahlussunnah wal Jamaah- beriman kepada takdir, yang baik dan yang buruk. Beriman kepada Qadar meliputi dua tingkatan dan setiap tingkatan mengandung dua perkara:

Tingkat pertama: beriman bahwa Allah ta’ala mengetahui segala perkara yang dilakukan oleh semua makhluk-Nya, dengan ilmu yang telah terdahulu di jaman Azali. Allah juga mengetahui semua keadaan mereka yang berupa ketaatan, kemaksiatan, rejeki dan ajal. Kemudian Allah mencatat takdir mereka semua di al-Lauh al-Mahfuzh..dst.”

Tingkat kedua: kehendak Allah yang terlaksana dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh, yaitu beriman bahwa segala perkara yang dikehendaki oleh Allah akan terjadi, dan yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi. Dan bahwa tidak ada gerakan atau sikap diam di langit ataupun di bumi kecuali atas kehendak Allah ta’ala. Tidak terjadi sesuatu pun di dalam kekuasaan-Nya kecuali atas kehendak-Nya, dan bahwa Allah ta’ala Maha Mampu atas segala sesuatu, baik perkara yang ada maupun perkara yang tidak ada. Maka tiada mukhluk pun di langit dan di bumi kecuali Allah ta’ala adalah penciptanya dan tiada Rabb selain-Nya. Meskipun demikian Allah memerintahkan hamba-hamba untuk menaati-Nya dan menaati rasul-Nya serta melarang mereka dari berbuat maksiat kepada-Nya..dst.” (Majmu’ al-Fatawa: 3/148-9).

Luasnya Ilmu Allah ta’ala

Tingkatan pertama dalam mengimani takdir adalah beriman bahwa Allah ta’ala mempunyai ilmu yang meliputi segala sesuatu. Allah ta’ala berfirman:

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Sesungguhnya ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12).

Allah juga berfirman:

وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً

“Allah itu ilmu-Nya mencakup segala sesuatu.” (QS. Thaha: 98).

Al-Imam Ibnu Katsir (wafat tahun 774 H) rahimahullah berkata:

أَيْ هُوَ عَالِمٌ بِكُلِّ شَيْءٍ، أَحَاطَ بِكُلِّ شيء علماً وأحصى كُلَّ شَيْءٍ عدداً، فلا يغرب عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ..الخ

“Maksud ayat di atas adalah bahwa Allah Maha mengetahui atas segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dia mengetahui jumlah hitungan segala sesuatu, maka tidak ada sesuatu pun sebutir dzarrah yang luput dari-Nya…dst.” (Tafsir Ibnu Katsir: 5/314).

Bahkan Allah ta’ala mengetahui bahwa Abu Bakar, Umar radhiyallahu anhum dan sebagainya pantas mendapatkan hidayah sehingga mereka menjadi orang-orang yang beriman. Dan Allah ta’ala juga telah mengetahui bahwa Fir’aun, Abu Lahab dan Abu Jahal tetap dijadikan kafir karena mereka memang tidak pantas mendapatkan nikmat hidayah. Ini adalah sifat al-Hakim (bijaksana) puncak dari al-Alim.

Allah ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” (QS. Al-An’am: 53).

Al-Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata:

{ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ } الذين يعرفون النعمة، ويقرون بها، ويقومون بما تقتضيه من العمل الصالح، فيضع فضله ومنته عليهم، دون من ليس بشاكر، فإن الله تعالى حكيم، لا يضع فضله عند من ليس له بأهل، وهؤلاء المعترضون بهذا الوصف، بخلاف من مَنَّ الله عليهم بالإيمان، من الفقراء وغيرهم فإنهم هم الشاكرون.

“Makna “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” yaitu orang-orang yang mengetahui dan mengakui nikmat (hidayah) sehingga mereka melakukan konsekuensi dari nikmat yang berupa amal shalih. Maka Allah ta’ala meletakkan keutamaan dan anugerah-Nya kepada mereka, bukan kepada orang yang tidak bersyukur. Ini karena Allah ta’ala Maha Bijaksana, tidak akan meletakkan keutamaan-Nya kepada orang yang tidak pantas mendapatkannya, yaitu orang-orang yang menentang sifat ini (semisal Fir’aun dan Abu Lahab, pen). Ini berbeda dengan orang-orang yang telah diberikan anugerah oleh Allah dengan nikmat al-Iman dari kalangan orang fakir miskin dan lainnya, maka mereka adalah orang-orang yang bersyukur.” (Taisir al-Kalimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan: 258).

Demikian pula tentang siapa yang berhak menjadi nabi dan rasul. Mengapa yang menjadi nabi itu Muhammad shallallahu alaihi wasallam bukan al-Walid bin al-Mughirah, sebagaimana pertanyaan orang-orang kafir Quraisy. Allah ta’ala menegaskan:

وَاللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَه

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. Al-An’am: 124).

Al-Imam Muhyis Sunnah Abu Muhammad al-Baghawi (wafat tahun 516 H) rahimahullah berkata:

يعني: الله أعلم بمن هو أحق بالرسالة

“Maksud ayat diatas adalah bahwa Allah lebih mengetahui terhadap siapa yang berhak menjadi rasul.” (Ma’alimut Tanzil: 3/186).

Inti dari pembahasan ini adalah bahwa ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu sebelum terjadinya. Dan ini merupakan kesepakatan Ahlussunnah wal Jamaah.

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:

فأما المرتبة الأولى وهي العلم السابق فقد اتفق عليه الرسل من أولهم إلى خاتمهم واتفق عليه جميع الصحابة ومن تبعهم من الأمة وخالفهم مجوس الأمة

“Adapun tingkat pertama (dari beriman kepada takdir, pen), yaitu beriman kepada ilmu Allah yang mendahului segala kejadian, maka ini disepakati oleh para rasul dari rasul yang pertama hingga rasul yang terakhir, dan disepakati pula oleh semua sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan umat ini. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah Majusi umat ini (yakni, sekte Qadariyah, pen).” (Syifa’ul Alil fi Masa’ilil Qadha’ wal Qadar wal Hikmah wat Ta’lil: 29).

Penulisan Takdir

Tingkat kedua dari beriman kepada takdir adalah mengimani bahwa semua ilmu Allah ta’ala yang luas itu telah ditulis dalam al-Lauh al-Mahfuzh. Allah ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70).

Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata:

خلق الله اللوح المحفوظ كمسيرة مِائَةِ عَامٍ، وَقَالَ لِلْقَلَمِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: اكْتُبْ فقال الْقَلَمُ: وَمَا أَكْتُبُ؟ قَالَ عِلْمِي فِي خَلْقِي إِلَى يَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ، فَجَرَى الْقَلَمُ بِمَا هو كائن فِي عِلْمِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَذَلِكَ قوله: {أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ}

“Allah menciptakan al-Lauh al-Mahfuzh seperti perjalanan seratus tahun. Allah berfirman kepada al-Qalam (yakni: pena, pen) sebelum menciptakan semua makhluk -dan Allah ta’ala berada di atas Arasy-Nya-: “Tulislah!” Pena berkata: “Apa yang aku tulis?” Allah menjawab: “(Tulislah) semua ilmu-Ku tentang makhluk-Ku sampai hari kiamat!” Maka pena (al-Qalam) berjalan (menulis) tentang semua yang terjadi dalam ilmu Allah sampai hari kiamat. Itulah maksud firman-Nya “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70).” (Atsar riwayat Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya: 3440 (2/470). Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir: 5/452. As-Suyuthi menilai isnadnya jayyid dalam ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur: 8/471).

Kemudian jika ditanyakan seberapa luas ilmu Allah ta’ala yang ditulis dalam al-Lauhul Mahfuzh? Maka Allah ta’ala menjawab:

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah.” (QS. Luqman: 27).

Al-Imam Abu Ja’far an-Nahhas an-Nahwi (wafat tahun 338 H) rahimahullah berkata:

فقد تبين أن الكلمات ههنا يراد بها العلم وحقائق الأشياء لأنه علم قبل أن يخلق الخلق ما هو خالق في السموات والأرض من شيء وعلم ما فيه من مثاقيل الذر وعلم الأجناس كلها وما فيها من شعرة وعضو وما في الشجرة من ورقة وما فيها من ضروب الخلق وما يتصرف فيه من ضروب الطعم واللون..الخ

“Telah jelas bahwa yang dimaksud dengan ‘Kalimat Allah’ dalam ayat ini adalah ilmu dan hakikat segala sesuatu, karena Allah mengetahui –sebelum menciptakan makhluk-Nya- apapun yang mana Dia adalah Penciptanya di langit dan bumi. Allah ta’ala juga mengetahui segala apa yang ada di dalamnya, yang berupa timbangan berat bijinya, mengetahui segala jenis makhluk, rambutnya dan anggota tubuhnya, mengetahui jumlah daun dalam setiap pohon, berbagai bentuk makhluk dan apa pun warna dan rasa yang terjadi..dst.” (Ma’anil Quran lin Nahhas: 5/291. Lihat pula Tafsir al-Qurthubi: 14/76-77, Fathul Qadir: 4/345 dan Fathul Bayan: 10/297).

Kehendak-Nya Pasti Terlaksana

Kehendak Allah ta’ala bisa berupa ‘Masyi’ah’ dan bisa pula ‘Iradah’. Kedua kata ini mempunyai kesamaan makna, yaitu kehendak. Kedua kata tersebut juga mempunyai perbedaan pemakaian.

Al-Allamah al-Muhaddits Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh (wafat tahun 1389 H) rahimahullah berkata:

ورد فى النصوص ارادة ومشيئة , وصرح من صرح بترادفهما , ولم يفطن للتفصيل , ولكن أولى ما يكون أن يكون الارادة ارادتان : كونية قدرية وشرعية دينية. وأما المشيئة فلم ترد فى النصوص الا كونية قدرية فلا تنقسم. والشرعية الدينية تستلزم محبته ورضاه سبحانه وتعالى بخلاف الكونية القدرية .فالارادة فى النصوص على قسمين : كونية قدرية وهذه موافقة للمشيئة , وارادة شرعية دينية , فأراد الله من العباد شرعا عبادته .

فالعباد انقسموا الى قسمين : قسم أطاعوا , فاجتمع فيهم الارادتان , فالكونية شرط وجود الفعل . وقسم عصوا , فانفردت الكونية فيهم , ولا حظ لهم فى الشرعية . وليست الكونية حجة لأحد.

“Telah datang dalam teks al-Quran dan hadits, kata ‘Iradah’ dan kata ‘Masyi’ah’. Sebagian orang menyatakan bahwa kedua kata tersebut adalah sinonim. Mereka tidak menyadari perinciannya. Tetapi pendapat yang lebih utama adalah bahwa ‘Iradah’ itu ada dua macam; iradah Kauniyah-Qadariyah dan iradah Syar’iyah-Diniyah. Adapun kata ‘Masyi’ah’, maka tidaklah datang dalam teks al-Quran dan hadits kecuali berupa kehendak Kauniyah-Qadariyah dan tidak terbagi lagi. Kehendak Syar’iyah-Diniyah itu memberikan konsekuensi cinta dan ridha-Nya subhanahu wata’ala, berbeda dengan kehendak Kauniyah-Qadariyah. Maka kehendak ‘iradah’ di dalam teks al-Quran dan hadits terbagi menjadi dua bagian; pertama: ‘iradah’ Kauniyah-Qadariyah, dan ini sesuai dengan ‘Masyi’ah’, dan kedua: ‘iradah’ Syar’iyah-Diniyah, maka Allah berkehendak secara syar’i dari para hamba agar beribadah kepada-Nya.

Maka para hamba terbagi menjadi dua kelompok: Pertama: kelompok yang menaati-Nya, maka terkumpul pada diri mereka dua iradah (yakni Kauniyah dan Syar’iyah, pen) dan iradah Kauniyah merupakan syarat terwujudnya perbuatan. Kelompok kedua berbuat maksiat, maka mereka hanya sesuai dengan kehendak-Nya yang Kauniyah saja dan tidak mempunyai bagian dari kehendak Syar’iyah. Dan kehendak Kauniyah bukanlah hujah (alasan pembenar, pen) bagi setiap orang (untuk berbuat maksiat, pen).” (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah: 49).

Maksud dari ‘Kehendak Kauniyah-Qadariyah’ adalah kehendak dalam hal penciptaan seperti menjadikan bencana, menjadikan laki dan perempuan, menjadikan kaya dan miskin dan sebagainya. Sedangkan ‘Kehendak Syar’iyah-Diniyah’ seperti kehendak agar manusia beribadah, bertauhid, melakukan shalat,  puasa dan sebagainya.

Contoh pemakaian kata ‘Masyi’ah’ yang hanya berlaku pada kehendak Kauniyah-Qadariyah adalah firman Allah ta’ala:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاء يَهَبُ لِمَنْ يَشَاء إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَاء الذُّكُورَ () أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَن يَشَاء عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy-Syura: 49-50).

Sedangkan contoh pemakaian kata ‘Iradah’ untuk kehendak Kauniyah-Qadariyah adalah firman-Nya:

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du: 11)

Sedangkan contoh pemakaian kata ‘Iradah’ untuk kehendak Syar’iyah-Diniyah adalah firman-Nya:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Kehendak Kauniyah bersifat absolut dan terlaksana dan tidak ada suatu makhluk pun yang lolos dari kehendak-Nya yang kauniyah. Sedangkan kehendak Syar’iyah tidak bersifat absolut, sehingga manusia bisa melanggarnya bahkan mayoritas mereka tidak sesuai dengan kehendak syar’iyah Allah ta’ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَمِنْ الْمَعْلُومِ أَنَّ هَذَا هُوَ الْكَوْنِيُّ الَّذِي لَا يَخْرُجُ مِنْهُ شَيْءٌ عَنْ مَشِيئَتِهِ وَتَكْوِينِهِ . وَأَمَّا الْكَلِمَاتُ الدِّينِيَّةُ فَقَدْ خَالَفَهَا الْفُجَّارُ بِمَعْصِيَتِهِ..الخ

“Dan sudah diketahui bahwa ini adalah kehendak Kauniyah yang mana tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kehendak dan kemauan-Nya. Adapun kehendak Syar’iyah, maka kadang-kadang orang-orang yang menyimpang menyelisihi kehendak ini.. dst.” (Majmu’ al-Fatawa: 10/26).

Penciptaan Alam Semesta

Tingkat keempat dari iman kepada takdir Allah ta’ala adalah mengimani bahwa Allah ta’ala menciptakan semua makhluk dan perbuatan-perbuatan mereka.

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:

وهذا أمر متفق عليه بين الرسل صلى الله تعالى عليهم وسلم وعليه اتفقت الكتب الإلهية والفطر والعقول والاعتبار وخالف في ذلك مجوس الأمة فأخرجت طاعات ملائكته وأنبيائه ورسله وعباده المؤمنين وهي أشرف ما في العالم عن ربوبيته وتكوينه ومشيئته بل جعلوهم هم الخالقون لها ولا تعلق لها بمشيئته ولا تدخل تحت قدرته..الخ

“Perkara ini (yaitu: penciptaan makhluk, pen) adalah perkara yang disepakati oleh para rasul alaihimussalam dan juga disepakati oleh kitab-kitab samawi, fitrah, akal dan qiyas. Yang menyelisihi pendapat ini adalah majusi umat ini (yakni: sekte Qadariyah, pen). Sekte Qadariyah mengeluarkan ketaatan para malaikat, para nabi dan hamba yang shaleh –padahal ketaatan mereka adalah perkara yang paling mulia di jagad raya ini- dari rububiyah, penciptaan dan kehendak-Nya. Bahkan Qadariyah menjadikan para malaikat, para nabi dan orang shaleh sebagai pencipta dari ketaatan mereka, dan tidak berhubungan dengan kehendak-Nya, serta tidak termasuk di bawah kekuasaan-Nya..dst.” (Syifa’ul Alil fi Masa’ilil Qadha’ wal Qadar wal Hikmah wat Ta’lil: 49).

Ini menunjukkan bahwa Ahlussunnah berkeyakinan bahwa semua perbuatan hamba –baik ketaatan ataupun kemaksiatan- merupakan makhluk Allah ta’ala, sedangkan sekte Qadariyah bependapat bahwa perbuatan hamba bukanlah makhluk-Nya. Allah ta’ala membantah mereka dalam firman-Nya:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

.”Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu.” (QS. Ash-Shaffat: 96).

Al-Allamah Ala’uddin Abul Hasan al-Khazin (wafat tahun 741 H) rahimahullah berkata:

وفي الآية دليل على أن أفعال العباد مخلوقة لله تعالى

“Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa semua perbuatan hamba merupakan makhluk Allah ta’ala.” (Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil: 4/21).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan: 2).

Al-Allamah Ibnu Ujaibah ash-Shufi (wafat tahun 1224 H) rahimahullah berkata:

أي : أحدث كل شيء وحده ، لا كما تقول المجوس والثنوية من النور والظلمة .

“Maksud ayat di atas adalah bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sendirian, tidak seperti ucapan kaum Majusi dan Tsanawiyah, yang meyakini ada dua pencipta, yaitu penguasa cahaya (yang menciptakan kebaikan, pen) dan penguasa kegelapan (yang menciptakan kejahatan, pen).” (Al-Bahrul Madid fi Tafsir al-Quranil Majid: 4/273).

Catatan Induk di al-Lauh al-Mafuzh

Al-Lauh al-Mahfuzh merupakan catatan ilmu Allah ta’ala yang sangat luas. Al-Lauh al-Mahfuzh disebut juga dengan ‘Ummul Kitab’ atau Mega Server.

Allah ta’ala berfirman:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab.” (QS. Ar-Ra’du: 39).

Al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani (wafat tahun 489 H) rahimahullah berkata:

وَقَوله: {وَعِنْده أم الْكتاب} مَعْنَاهُ: وَعِنْده أصل الْكتاب، وأصل الْكتاب: هُوَ اللَّوْح الْمَحْفُوظ.

“Firman-Nya ‘di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab”, artinya adalah bahwa di sisi-Nya Induk al-Kitab. Induk al-Kitab adalah al-Lauhul Mahfuzh.” (Tafsir al-Quran lis-Sam’ani: 3/100).

Al-Lauh al-Mahfuzh disebut juga ‘Imam Mubin’. Allah ta’ala berfirman:

وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam ‘Imam Mubin’.” (QS. Yasin: 12).

Al-Imam Ibnu Abi Zamanain al-Maliki (wafat tahun 399 H) rahimahullah berkata:

وكل شيء أحصيناه في إمام مبين بين يعني اللوح المحفوظ

“Ayat “Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam ‘Imam Mubin’, maksudnya adalah ‘al-Lauh al-Mahfuzh’.” (Tafsir Ibnu Abi Zamanain: 2/71).

Al-Lauh al-Mahfuzh disebut juga dengan ‘adz-Dikr’. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى المَاءِ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ، وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ

“Allah sudah ada, sedangkan sesuatu selain-Nya masih belum ada. Adalah Arasy-Nya di atas air. Allah menulis dalam ‘adz-Dzikr’ segala sesuatu dan kemudian Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Al-Bukhari: 3161, al-Baihaqi dalam al-Kubra: 18156 (9/2) dan ath-Thabrani dalam al-Kabir: 15207 (18/203) dari Imran bin Hushain radliyallahu anhuma).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata:

قوله (وكتب) أي قدر (في الذكر) أي في محل الذكر أي في اللوح المحفوظ )كل شيء( أي من الكائنات

“Sabda beliau “Allah menulis” maksudnya adalah mentakdirkan. Sabda beliau “dalam ‘adz-Dzikr’ maksudnya adalah dalam ‘al-Lauh al-Mahfuzh’. Kata ‘Segala sesuatu’ maksudnya perkara-perkara yang ada.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 6/290).

Pencatatan ilmu Allah ta’ala dan takdir semua makhluk-Nya dilakukan pada waktu 50.000 (lima puluh ribu) tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ – قَالَ – وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Allah menulis takdir makhluk-makhluk-Nya 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Dan adalah Arasy-Nya di atas air.” (HR. Muslim: 6919 dan at-Tirmidzi: 2156 dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhuma).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata:

وأما ما وقع في صحيح مسلم من حديث عبد الله بن عمرا مرفوعا كتب الله مقادير الخلائق ..الخ  فهو محمول على كتابة ذلك في اللوح المحفوظ على وفق ما في علم الله سبحانه وتعالى

“Adapun hadits dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Amr secara marfu’ bahwa Allah menulis takdir makhluk-makhluk-Nya..dst, maka ini dipahami dengan penulisan takdir di dalam al-Lauh al-Mahfuzh sesuai dengan ilmu Allah ta’ala.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 11/489).

Al-Qadhi Nashiruddin al-Baidhawi asy-Syafi’i (wafat tahun 685 H) rahimahullah berkata:

وقوله:” بخمسين ألف سنة ” معناه: طول الأمد وتمادي ما بين التقدير والخلق من المدد

“Sabda beliau ‘50 ribu tahun’ maksudnya adalah jarak waktu antara penulisan takdir dan penciptaan makhluk.” (Tuhfatul Abrar bi Syarh Mashabihis Sunnah: 1/89).

Yang diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk menulis takdir di ‘Kitab Induk’ adalah al-Qalam (pena). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَم فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ. قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Sesungguhnya makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah al-Qalam (pena). Allah berfirman kepada pena: “Tulislah!” Pena bertanya: “Wahai Rabb! Apa yang akan aku tulis?” Allah menjawab: “Tulislah takdir segala sesuatu sampai hari kiamat!” (HR. Abu Dawud: 4702 dan al-Baihaqi dalam al-Kubra: 21400 (10/204) dari Ubadah bin ash-Shamit radliyallahu anhu. Abdul Haqq al-Isybili meng-hasan-kan isnadnya dalam al-Ahkamul Wustha: 4/307. Al-Albani men-shahih-kan hadits ini dalam Shahihul Jami’: 2018).

Al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi (wafat tahun 911 H) rahimahullah berkata:

قال العلماء وكتاب الله ولوحه وقلمه والصحف المذكورة في الأحاديث كل ذلك مما يجب الإيمان به وأما كيفية ذلك وصفتها فعلمها إلى الله تعالى.

“Para ulama berkata: “Catatan induk milik Allah, Lauh-Nya, pena-Nya dan lembaran catatan takdir-Nya yang disebutkan dalam hadits-hadits, semuanya wajib diimani atasnya. Adapun kaifiyat dan sifatnya, maka ilmu berada di sisi Allah ta’ala.” (Ad-Dibaj ala Muslim bin al-Hajjaj: 6/12).

Menciptakan dalam Kegelapan

Orang yang mendapat petunjuk di dunia adalah mereka yang terkena cahaya Allah ketika penciptaannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ خَلْقَهُ فِي ظُلْمَةٍ ثُمَّ أَلْقَى عَلَيْهِمْ مِنْ نُورِهِ يَوْمَئِذٍ فَمَنْ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ يَوْمَئِذٍ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ فَلِذَلِكَ أَقُولُ جَفَّ الْقَلَمُ عَلَى عِلْمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Sesungguhnya Allah ta’ala menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan. Kemudian Allah menyinarkan sebagian cahaya-Nya atas mereka pada hari itu. Barangsiapa terkena cahaya-Nya pada hari itu, maka ia akan mendapatkan petunjuk. Barangsiapa luput darinya, maka ia akan tersesat. Oleh karena itu aku (Ibnu Amr) katakan bahwa telah kering Pena catatan takdir di atas ilmu Allah azza wajalla.” (HR. Ahmad: 6644, al-Baihaqi dalam al-Kubra: 18165 (9/4) dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma dan di-shahih-kan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya: 83 (1/84) dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

Maka manusia yang terkena cahaya Allah ta’ala bukanlah secara kebetulan tetapi sesuai dengan ilmu-Nya dan catatan al-Lauh al-Mahfuzh.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat tahun 852 H) rahimahullah berkata:

قوله (على علم الله) أي على حكمه لأن معلومه لا بد أن يقع فعلمه بمعلوم يستلزم الحكم بوقوعه..الخ

“Ucapan Ibnu Amr “Di atas ilmu Allah”, maksudnya adalah di atas ketetapan-Nya, karena apa yang diketahui oleh-Nya pastilah terjadi. Maka ilmu-Nya terhadap segala yang diketahui memberikan konsekuensi terjadinya perkara tersebut..dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 11/491).

Penentuan Nasib Manusia ketika Penciptaan Adam alaihissalam

Peristiwa ini terjadi ketika Allah ta’ala menciptakan Nabi Adam alaihissalam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ آدَمَ ثُمَّ أَخَذَ الْخَلْقَ مِنْ ظَهْرِهِ وَقَالَ هَؤُلَاءِ فِي الْجَنَّةِ وَلَا أُبَالِي وَهَؤُلَاءِ فِي النَّارِ وَلَا أُبَالِي قَالَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَعَلَى مَاذَا نَعْمَلُ قَالَ عَلَى مَوَاقِعِ الْقَدَرِ

 “Sesungguhnya Allah ta’ala menciptakan Adam alaihissalam. Kemudian Allah mengambil makhluk (yakni: keturunannya, pen) dari punggungnya dan berfirman: “Keturunan Adam yang ini di surga dan Aku tidak peduli. Sedangkan keturunan Adam yang ini di neraka dan Aku tidak peduli.” Maka seseorang bertanya: “Waha Rasulullah! Lalu atas apa kita beramal?” Beliau menjawab: “Di atas pijakan takdir.” (HR. Ahmad: 17660, al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah: 858 (3/132) dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 338 (2/50) dari Abdurrahman bin Qatadah as-Sulami radhiyallahu anhu. Al-Haitsami berkata bahwa perawinya orang-orang tsiqat dalam al-Majma’: 11779 (7/386). Al-Albani men-shahih-kannya dalam Shahihul Jami’: 1758).

Dalam redaksi lain beliau bersabda:

خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ حِينَ خَلَقَهُ فَضَرَبَ كَتِفَهُ الْيُمْنَى فَأَخْرَجَ ذُرِّيَّةً بَيْضَاءَ كَأَنَّهُمُ الدَّرُّ، وَضَرَبَ كَتِفَهُ الْيُسْرَى فَأَخْرَجَ ذُرِّيَّةً سَوْدَاءَ كَأَنَّهُمُ الْحُمَمُ، فَقَالَ لِلَّذِى فِى يَمِينِهِ: إِلَى الْجَنَّةِ وَلاَ أُبَالِى، وَقَالَ لِلَّذِى فِى كَفِّهِ الْيُسْرَى: إِلَى النَّارِ وَلاَ أُبَالِى.

“Allah menciptakan Adam ketika penciptaannya. Kemudian Allah menepuk lengan kanan Adam, lalu mengeluarkan keturunan yang putih seperti semut kecil. Allah juga menepuk lengan kirinya dan mengeluarkan keturunan yang hitam seperti arang. Kemudian Allah berfirman kepada keturunan di sebelah kanan Adam: “Ini ke surga dan Aku tidak peduli.” Ia berfirman kepada keturunan di sebelah kirinya: “Ini ke neraka dan Aku tidak peduli.” (HR. Ahmad: 27488 dan al-Bazzar dalam Musnadnya: 4113 (10/26) dari Abud Darda’ radhiyallahu anhu. Isnadnya di-hasan-kan oleh al-Bazzar dalam Musnadnya. Al-Haitsami berkata bahwa perawinya adalah perawi ash-Shahih dalam al-Majma’: 11777 (7/385). Al-Albani men-shahih-kannya dalam Shahihul Jami’: 3234).

Al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i (wafat tahun 1031 H) rahimahullah berkata:

فقال هؤلاء في الجنة ولا أبالي وهؤلاء في النار ولا أبالي أي لا أبالي بما يعملون من خير أو شر

Sabda beliau “Allah berfirman: “Keturunan Adam yang ini di surga dan Aku tidak peduli. Sedangkan keturunan Adam yang ini di neraka dan Aku tidak peduli.” Maksudnya adalah Aku tidak peduli terhadap apa yang telah mereka perbuat, apakah kebaikan ataukah kejelekan.” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 2/292).

Al-Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani (wafat tahun 1182 H) rahimahullah berkata:

والمراد أنه تعالى قد علم ما يأتيه كل من الفريقين باختياره فاختياره بأنهم من أهل الجنة ومن أهل النار إعلام بما يختاره كل فريق من غير جبر ولا قسر

“Yang dimaksud dengan hadits di atas adalah bahwa Allah ta’ala telah mengetahui apa-apa yang akan dilakukan oleh masing-masing dari kedua kelompok tersebut dengan pilihannya. Maka pilihan mereka bahwa mereka termasuk ahli surga daripada ahli neraka adalah pemberitahuan (kepada kita, pen) bahwa pilihan kedua kelompok tersebut (yakni apakah mereka memilih sesat ataukah petunjuk, pen) adalah bukan di atas paksaan dan kekangan.” (At-Tanwir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 5/502).

Sejak Kapan Menjadi Nabi

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya:

يَارَسُولَ اللَّهِ مَتَى كُتِبْتَ نَبِيًّا قَالَ وآدَمُ عَلَيْهِ السَّلَام بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ

“Wahai Rasulullah! Sejak kapan engkau ditulis sebagai nabi?” Beliau menjawab: “Ketika Adam alaihissalam di antara ruh dan jasad.” (HR. Ahmad: 20596 dan ath-Thabrani dalam al-Kabir: 17589 (20/353) dari Maisarah al-Fajri. Al-Haitsami berkata bahwa rijalnya adalah rijal ash-Shahih. Lihat al-Majma’: 13848 (8/409). Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 1856).

Dalam riwayat lain Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَتَى وَجَبَتْ لَكَ النُّبُوَّةُ؟ قَالَ: وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالجَسَدِ.

“Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah! Kapan engkau ditentukan sebagai nabi?” Rasulullah menjawab: “Ketika Adam di antara ruh dan jasad.” (HR. At-Tirmidzi: 3609 dan ia berkata hadits hasan gharib. Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Takhrij al-Misykat: 5758 (3/251)).

Al-Allamah Ali al-Qari al-Hanafi (wafat tahun 1014 H) rahimahullah berkata:

أي وجبت لي النبوة والحال أن آدم بين الروح والجسد يعني وأنه مطروح على الأرض صورة بلا روح والمعنى أنه قبل تعلق روحه بجسده

“Maksudnya adalah bahwa aku telah ditetapkan sebagai nabi dalam keadaan Adam masih di antara ruh dan jasad. Maksudnya adalah bahwa Adam masih berupa patung tanpa nyawa, yang dijadikan lemparan di atas tanah. Maksudnya adalah sebelum jasad Adam berhubungan dengan nyawanya.” (Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 16/428).

Anak-anak Kaum Musyrikin

Termasuk dalam luasnya ilmu Allah adalah ilmu-Nya terhadap anak-anak kaum musyrikin yang mati ketika masih berusia kanak-kanak. Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَوْلاَدِ المُشْرِكِينَ، فَقَالَ: «اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ»

“Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang anak-anak kaum musyrikin. Maka beliau menjawab: “Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka perbuat.” (HR. Al-Bukhari: 6597, Muslim: 6936, Abu Dawud: 4713 dan an-Nasai: 1951).

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:

فقوله (الله أعلم بما كانوا عاملين) دليل على أن الله يعلم ما يصيرون إليه بعد ولادتهم على الفطرة هل يبقون عليها فيكونون مؤمنين أو يغيرون فيصيرون كفارا فهو دليل على تقدم العلم الذي ينكره غلاة القدرية

“Sabda beliau “Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka perbuat.” Merupakan dalil bahwa Allah mengetahui akan menjadi apa mereka (anak-anak kaum musyrikin yang mati sebelum baligh, pen) setelah terlahir dalam keadaan fitrah. Apakah mereka tetap di atas fitrah sehingga menjadi kaum mukminin (seandainya hidup sampai dewasa, pen), ataukah berubah menjadi orang kafir. Maka ini adalah dalil atas mendahuluinya ilmu Allah (atas segala sesuatu, pen) yang diingkari oleh Sekte Qadariyah Ekstrem.” (Syifa’ul Alil fi Masa’ilil Qadha’ wal Qadar wal Hikmah wat Ta’lil: 287).

Hadits di atas tidak bertentangan dengan hadits tentang ujian di akhirat bagi anak-anak kaum musyrikin yang mati sebelum baligh. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبَّ- عَزَّ وَجَلَّ- لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: ابْرُزْ. فَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ بَعَثْتُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وإني رسول نفسي إليكم ادخلوا هذه. قالت: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ أَنَّى نَدْخُلَهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ. قَالَ: قَالَ: ومن كتب عليه السعادة يمضي يتقحم فيها مسرعًا. قال: فيقول- تَبَارَكَ وَتَعَالَى-: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدَّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيُدْخِلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةَ، وَهَؤُلَاءِ النَّارَ”.

“Akan didatangkan (di hadapan Allah) empat orang pada hari kiamat; (pertama) anak-anak (kaum musyrikin, pen) yang mati sebelum baligh, (kedua) orang gila, (ketiga) orang yang mati di masa Fatrah (tidak mengenal risalah, pen), dan (keempat) orang tua yang pikun. Mereka semua membawa hujah mereka. Maka Allah ta’ala berfirman kepada leher dari api neraka: “Tampakkan dirimu!” Kemudian Allah berfirman kepada keempat orang itu: “Sesungguhnya Aku telah mengutus kepada para hamba-Ku (di dunia, pen) para rasul dari kalangan mereka. Dan Aku sekarang menjadi rasul diri-Ku atas kalian. Maka masuklah kalian ke dalam ini (yakni: neraka, pen)!” Maka orang yang telah ditulis sebagai ahli neraka akan berkata: “Wahai Rabb! Bagaimana kami mau masuk ke dalam neraka padahal kami berlari darinya?” Dan orang yang telah ditulis sebagai ahli surga langsung cepat menceburkan diri ke dalam neraka (sehingga lulus ujian, pen). Maka Allah ta’ala berfirman kepada orang yang tidak mau mengikuti perintah masuk neraka: “Pastilah kalian (di dunia) akan menjadi orang yang sangat mendustakan dan sangat durhaka kepada rasul-rasul-Ku.” Maka Allah memasukkan orang –yang mau masuk neraka- ke dalam surga, dan memasukkan orang –yang tidak mau masuk neraka- ke dalam neraka.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnadnya: 4224 (7/225) dan al-Bazzar dalam Kasyful Astar: 2176 (3/34-5) dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Al-Albani men-shahih-kan hadits ini karena banyak jalannya dalam Silsilah ash-Shahihah: 2468).

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menerangkan:

وَفِي قَوْله ” اللَّه أَعْلَم بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ ” إِشَارَة إِلَى أَنَّهُ سُبْحَانه كَانَ يَعْلَم مِمَّا كَانُوا عَامِلِينَ لَوْ عَاشُوا , وَأَنَّ مَنْ يُطِيعهُ وَقْت الِامْتِحَان كَانَ مِمَّنْ يُطِيعهُ لَوْ عَاشَ فِي الدُّنْيَا , وَمَنْ يَعْصِيه حِينَئِذٍ كَانَ مِمَّنْ يَعْصِيه لَوْ عَاشَ فِي الدُّنْيَا , فَهُوَ دَلِيل عَلَى تَعَلُّق عِلْمه بِمَا لَمْ يَكُنْ لَوْ كَانَ كَيْف كَانَ يَكُون .

“Di dalam sabda beliau “Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka perbuat.” Terdapat isyarat bahwa Allah ta’ala mengetahui keadaan mereka (mukmin ataukah kafir, pen) seandainya mereka hidup sampai dewasa. Dan bahwa anak kaum musyrikin yang menaati-Nya ketika ujian di akhirat termasuk orang yang menaati-Nya seandainya hidup di dunia. Dan orang yang durhaka kepada-Nya saat ujian di akhirat termasuk orang yang durhaka kepada-Nya seandainya hidup di dunia. Maka ini menjadi dalil bahwa ilmu Allah itu berhubungan dengan perkara yang tidak ada, dan seandainya parkara itu ada, maka akan menjadi apa dan bagaimana.” (Tahdzib Sunan Abi Dawud: 2/368).

Ini berbeda dengan anak-anak kaum muslimin yang mati sebelum baligh. Para ulama bersepakat bahwa mereka berada di surga. Al-Imam an-Nawawi (wafat tahun 676 H) rahimahullah berkata:

أجمع من يعتد به من علماء المسلمين على أن من مات من اطفال المسلمين فهو من اهل الجنة لأنه ليس مكلفا..الخ

“Orang-orang yang dianggap dari kalangan ulama kaum muslimin bersepakat bahwa anak kaum muslimin yang mati sebelum akil balig, maka ia berada di surga karena ia bukanlah seorang mukallaf..dst.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim: 16/207).

Pemindahbukuan Tahunan

Catatan takdir dalam ‘Ummul Kitab’ atau ‘al-Lauh al-Mahfuzh’ akan dipindahbukukan ke dalam catatan malaikat setiap tahunnya. Kegiatan ini berlangsung pada malam Lailatul Qadar. Catatan takdir yang dipindahbukukan adalah tentang segala kejadian dari Lailatul Qadar saat itu sampai Lailatul Qadar tahun depan.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ () فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ()

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Quran) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) diputuskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan: 3-4).

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

وقوله: { فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ } أي: في ليلة القدر يفصل من اللوح المحفوظ إلى الكتبة أمر السنة، وما يكون فيها من الآجال والأرزاق، وما يكون فيها إلى آخرها. وهكذا روي عن ابن عمر، وأبي مالك، ومجاهد، والضحاك، وغير واحد من السلف.

“Firman-Nya Pada (malam itu) diputuskan segala urusan yang penuh hikmah”, maksudnya adalah di malam Lailatul Qadar Allah memutuskan (memindahbukukan, pen) dari al-Lauh al-Mahfuzh kepada para malaikat pencatat tentang segala perkara yang terjadi selama setahun, dan perkara yang berupa ajal, rejeki dan lainnya yang terjadi di tahun itu sampai akhir tahun. Demikianlah diriwayatkan keterangan ini dari Ibnu Umar, Abu Malik, Mujahid, adh-Dhahhak dan kebanyakan as-Salaf.” (Tafsir Ibni Katsir: 7/246).

Demikian pula keterangan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma. Beliau berkata:

إنك لترى الرجل يمشي في الأسواق وقد وقع إسمه في الموتى ثم قرأ { إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين * فيها يفرق كل أمر حكيم } يعني ليلة القدر ففي تلك الليلة يفرق أمر الدنيا إلى مثلها من قابل

“Sesungguhnya kamu melihat seseorang sedang berjalan di pasar-pasar, padahal namanya sudah ditulis di daftar orang-orang yang mati (tahun ini, pen). Kemudian Ibnu Abbas membaca ayat: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Quran) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) diputuskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan: 3-4), maksudnya adalah malam Lailatul Qadar. Maka di malam itu diputuskan perkara dunia sampai Lailatul Qadar tahun depan.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya: 12/214, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 3661 (3/321) dan di-shahih-kan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya: 3678 (2/487) dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

Pemindahbukuan Individu

Catatan takdir dalam ‘Ummul Kitab’ atau ‘al-Lauh al-Mahfuzh’ akan dipindahbukukan ke dalam catatan masing-masing individu ketika masih berupa janin di dalam Rahim.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ

“Sesungguhnya salah seorang kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya 40 hari berupa nutfah, kemudian 40 hari berupa gumpalan darah, kemudian 40 hari berupa gumpalan daging. Kemudian diutuslah malaikat kepada janin itu maka ditiuplah ruh atasnya, dan diperintahkan untuk menuliskan empat perkara; dengan menulis rejekinya, ajalnya, amal perbuatannya dan apakah ia termasuk orang yang celaka ataukah orang yang berbahagia..dst.” (HR. Al-Bukhari: 7454, Muslim: 6893 dan Abu Dawud: 4710).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا ، يَقُولُ: يَا رَبِّ نُطْفَةٌ، يَا رَبِّ عَلَقَةٌ، يَا رَبِّ مُضْغَةٌ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ قَالَ: أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى، شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ، فَمَا الرِّزْقُ وَالأَجَلُ، فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ

“Sesungguhnya Allah azza wajalla menyerahkan urusan Rahim kepada seorang malaikat. Malaikat itu berkata: “Wahai Rabb! (dalam Rahim ini terdapat) nutfah. Wahai Rabb! Ia sudah menjadi gumpalan darah. Wahai Rabb! Ia sudah menjadi gumpalan daging.” Maka jika Allah hendak memutuskan untuk ciptaan-Nya, maka malaikat tersebut bertanya: “Apakah ia laki-laki, ataukah perempuan? Apakah ia orang celaka ataukah orang yang berbahagia? Berapa rejekinya? Sampai kapan ajalnya?” Maka itu semua ditulis dalam perut ibunya.” (HR. Al-Bukhari: 318, Muslim: 6900).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata:

قال ابن العربي الحكمة في كون الملك يكتب ذلك كونه قابلا للنسخ والمحو والاثبات بخلاف ما كتبه الله تعالى فإنه لا يتغير

“Ibnul Arabi berkata: “Hikmah ditugaskannya penulisan takdir janin kepada malaikat adalah bahwa catatan malaikat bisa mengalami penghapusan, penggantian dan penetapan. Ini berbeda dengan takdir yang ditulis oleh Allah ta’ala sendiri (seperti catatan al-Lauhul Mahfuzh, pen), maka catatan tersebut tidak akan berubah.”  (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 11/485).

Pelaksanaan Takdir Harian

Berdasarkan catatan di al-Lauh al-Mahfuzh Allah ta’ala melaksanakan takdir harian, seperti menghidupkan, mematikan, memberikan rejeki, mengabulkan doa, memuliakaan, menghinakan dan sebagainya. Allah ta’ala berfirman:

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap hari Dia (Allah) dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahman: 29).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menafsirkan ayat di atas:

مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَغْفِرَ ذَنْبًا، وَيُفَرِّجَ كَرْبًا، وَيَرْفَعَ قَوْمًا، وَيَخْفِضَ آخَرِينَ

“Termasuk kesibukan-Nya adalah mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, mengangkat derajat suatu kaum dan menurunkan derajat kaum lainnya.” (HR. Ibnu Majah: 202, ath-Thabrani dalam al-Ausath: 3140 (3/278) dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 689 (2/464) dari Abud Darda’ radhiyallahu anhu. Isnadnya di-hasan-kan oleh al-Bushiri dalam Mishbahuz Zujajah: 1/28. Hadits ini di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah: 167).

Al-Imam Muhyis Sunnah Abu Muhammad al-Baghawi rahimahullah menjelaskan tafsir ayat di atas:

قال المفسرون: من شأنه أن يحيى ويميت، ويرزق، ويعز قومًا، ويذل قومًا، ويشفي مريضًا، ويفك عانيًا ويفرج مكروبًا، ويجيب داعيًا، ويعطي سائلا ويغفر ذنبًا إلى ما لا يحصى من أفعاله وإحداثه في خلقه ما يشاء .

“Para ahli tafsir berkata: “Termasuk kesibukan-Nya adalah menghidupkan, mematikan, memberikan rejeki, memuliakan suatu kaum, menghinakan kaum lainnya, menyembuhkan orang sakit, membebaskan tawanan, melonggarkan orang yang kesusahan, mengabulkan orang yang berdoa, memberikan kepada orang yang meminta, mengampuni dosa dan melakukan berbagai perbuatan-Nya yang tidak terhitung serta mengadakan pada makhluk-Nya apa yang Dia kehendaki.” (Ma’alimut Tanzil: 7/446).

Al-Imam al-Husain bin al-Fadhel al-Kufi (wafat tahun 290 H) rahimahullah berkata:

هو سوق المقادير إلى المواقيت

“Kesibukan-Nya adalah melaksanakan takdir-takdir sesuai waktunya.” (Zadul Masir fi Ilmit Tafsir: 8/114 dan Ma’alimut Tanzil: 7/447).

Al-Allamah Abul Hasan Ali bin Muhammad al-Khazin rahimahullah menjelaskan ucapan al-Husain bin al-Fadhel di atas:

ومعناه إن الله عز وجل كتب ما يكون في كل يوم وقدر ما هو كائن فإذا جاء ذلك الوقت تعلقت إرادته بالفعل فيوجده في ذلك الوقت

“Maknanya adalah bahwa Allah ta’ala menuliskan (di al-Lauh al-Mahfuzh, pen) apa yang akan terjadi tiap hari dan mentakdirkan apa yang ada. Jika telah tiba waktu pelaksanaanya (tahun-bulan-tanggal-jam-menit-detik, pen), maka kehendak-Nya akan berhubungan dengan perbuatan-Nya, kemudian Allah akan merealisasikan kehendak-Nya di waktu tersebut.” (Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil: 6/26).

Evaluasi dan Pelaporan

Perbuatan manusia dan semua makhluk Allah ta’ala yang berjalan sesuai dengan kehendak-Nya akan dilaporkan kembali oleh para malaikat kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

يُدَبِّرُ الأَمْرَ مِنَ السَّمَاء إِلَى الأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitungan kalian.” (QS. As-Sajdah: 5).

Al-Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi al-Hanbali (wafat tahun 597 H) rahimahullah menjelaskan tafsir ayat di atas:

قوله تعالى (يدبر الامر من السماء إلى الأرض) في معنى الآية قولان أحدهما يقضي القضاء من السماء فينزله مع الملائكة إلى الأرض ثم يعرج الملك إليه في يوم من أيام الدنيا فيكون الملك قد قطع في يوم واحد من أيام الدنيا في نزوله وصعوده مسافة ألف سنة من مسيرة الآدمي

“Firman-Nya “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi..dst.” Di sini terdapat dua makna; Pertama: “Allah memutuskan keputusan-Nya dari langit, kemudian menurunkan keputusan-Nya bersama malaikat ke bumi, kemudian malaikat naik lagi (untuk melaporkan pelaksanaan keputusan tersebut, pen) kepada-Nya di dalam satu hari dari hari-hari dunia. Maka malaikat tersebut telah menempuh di dalam satu hari, di dalam turun dan naiknya sejauh jarak seribu tahun perjalanan manusia..dst.” (Zadul Masir fi Ilmit Tafsir: 6/333).

Adapun untuk amal perbuatan manusia, maka terdapat pelaporan harian, pelaporan bulanan dan pelaporan tahunan. Adapun pelaporan harian, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِى لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّورُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى بَكْرٍ النَّارُ – لَوْ كَشَفَهُ لأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

“Sesungguhnya Allah azza wajalla tidak tidur dan tidak pantas tidur, menyempitkan dan meluaskan rejeki. Dilaporkan kepada-Nya amalan malam sebelum amalan siang dan amalan siang sebelum amalan malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Allah membuka hijab-Nya, maka keagungan wajah-Nya akan membakar semua makhluk yang dilihat-Nya.” (HR. Muslim: 463, Ibnu Majah: 193 dan Ahmad: 19530 dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallah anhu).

Al-Qadhi Nashiruddin al-Baidhawi rahimahullah berkata:

قوله ” قبل عمل النهار ” أي: قبل أن يؤتى بعمل النهار, وهو بيان لمسارعة الكرام الكتبة إلى رفع الأعمال, وسرعة عروجهم إلى ما فوق السماوات, وعرضهم على الله تعالى

“Sabda beliau “sebelum amalan siang”, maksudnya adalah sebelum amalan siang dikerjakan. Ini menunjukkan cepatnya perjalanan malaikat pencatat amalan yang mulia di dalam melaporkan amalan, dan cepatnya mereka naik ke atas langit, serta melaporkannya kepada Allah ta’ala.” (Tuhfatul Abrar Syarh Mashabih as-Sunnah: 1/102).

Sedangkan pelaporan mingguan terjadi setiap hari Senin dan Kamis. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang kedua hari tersebut:

ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Keduanya (yakni: hari Senin dan Kamis, pen) adalah kedua hari yang mana semua amal perbuatan dilaporkan kepada Rabbul alamin. Maka aku senang jika amal perbuatanku dilaporkan dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. Ahmad: 21753 dan an-Nasai: 2358 Usamah bin Zaid radhiyallahu anhuma dan at-Tirmidzi: 747, ia berkata hasan gharib, dari dan Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Di-shahih-kan oleh Ibnul Mulaqqin dalam al-Badrul Munir: 5/755 dan al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan an-Nasai: 2358).

Sedangkan pelaporan tahunan terjadi pada bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid radhiyallahu anhuma bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan tertentu seperti puasamu di bulan Sya’ban?” Beliau menjawab: “Bulan Sya’ban adalah bulan yang banyak dilupakan oleh manusia, di antara Rajab dan Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah bulan dimana amal perbuatan hamba dilaporkan kepada Rabbul alamin.” (HR. Ahmad: 21753, an-Nasai: 2357 dan ath-Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar: 3077 (2/82). Di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 1898).

Apakah Takdir Bisa Berubah?

Manusia berbeda pendapat tentang apakah takdir itu bisa berubah ataukah tidak. Di antara ayat yang menunjukkan bahwa  takdir itu bisa berubah adalah firman Allah ta’ala:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاء وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’d: 39).

Di antara ayat yang menunjukkan bahwa takdir itu sudah tetap dan tidak berubah adalah firman Allah ta’ala:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).

Di antara hadits yang menunjukkan bahwa takdir itu bisa berubah adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ، وَلاَ يَزِيدُ فِي العُمْرِ إِلاَّ البِرُّ

“Tidaklah menolak takdir Allah kecuali doa, dan tidaklah menambah umur kecuali perbuatan baik.” (HR. Ahmad: 22386, at-Tirmidzi: 2139 dan ia berkata hasan gharib dan Ibnu Majah: 90 dari Tsauban dan Salman radhiyallahu anhuma. Al-Bushiri meng-hasan-kan isnadnya dalam Mishbahuz Zujajah: 4/187. Al-Albani meng-hasan-kan hadits Salman dalam Shahihul Jami’: 7687).

Di antara hadits yang menunjukkan bahwa takdir itu sudah tetap dan tidak bisa berubah adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

“Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan memberikan manfaat kecuali apa yang telah ditulis Allah untukmu. Jika mereka berkumpul untuk memberikan bahaya kepadamu, maka mereka tidak akan membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang ditulis oleh Allah atasmu. Telah di angkat pena-pena (untuk mencatat takdir, pen) dan telah kering tinta pada catatan takdir.” (HR. Ahmad: 2669 dan at-Tirmidzi: 2516 dari Ibnu Abbas radlliyallahu anhuma dan ia berkata hasan shahih. Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 7657).

Maka cara kompromi di antara teks ayat atau hadits yang kelihatannya bertentangan adalah bahwa takdir yang tidak berubah adalah takdir yang berada dalam ilmu Allah ta’ala. Adapun takdir yang berada di dalam ilmu dan catatan malaikat, maka itu bisa berubah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَأَمَّا نَقْصُ الْعُمُرِ وَزِيَادَتُهُ فَمِنْ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ : إنَّهُ لَا يَجُوزُ بِحَالِ وَيُحْمَلُ مَا وَرَدَ عَلَى زِيَادَةِ الْبَرَكَةِ وَالصَّوَابُ أَنَّهُ يَحْصُلُ نَقْصٌ وَزِيَادَةٌ عَمَّا كُتِبَ فِي صُحُفِ الْمَلَائِكَةِ . وَأَمَّا عِلْمُ اللَّهِ الْقَدِيمُ فَلَا يَتَغَيَّرُ . وَأَمَّا اللَّوْحُ الْمَحْفُوظُ : فَهَلْ يُغَيَّرُ مَا فِيهِ ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ ، وَعَلَى هَذَا يَتَّفِقُ مَا وَرَدَ فِي هَذَا الْبَابِ مِنْ النُّصُوصِ

“Adapun berkurangnya umur dan bertambahnya, maka sebagian manusia berkata bahwa itu tidak boleh (bertambah dan berkurang, pen). Dan bertambahnya umur dalam hadits dipahami dengan bertambahnya barakah. Yang benar adalah bahwa umur yang ditulis dalam catatan malaikat bisa bertambah dan berkurang. Adapun takdir yang ada dalam ilmu Allah yang terdahulu, maka tidak berubah. Adapun al-Lauh al-Mahfuzh, apakah berubah? Maka terdapat dua pendapat. Maka dengan cara ini semua teks ayat dan hadits dalam bab ini bisa dikompromikan.” (Majmu’ al-Fatawa: 3/71).

Beliau juga berkata:

فَلِهَذَا قَالَ الْعُلَمَاءُ : إنَّ الْمَحْوَ وَالْإِثْبَاتَ فِي صُحُفِ الْمَلَائِكَةِ وَأَمَّا عِلْمُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ فَلَا يَخْتَلِفُ وَلَا يَبْدُو لَهُ مَا لَمْ يَكُنْ عَالِمًا بِهِ فَلَا مَحْوَ فِيهِ وَلَا إثْبَاتَ . وَأَمَّا اللَّوْحُ الْمَحْفُوظُ فَهَلْ فِيهِ مَحْوٌ وَإِثْبَاتٌ عَلَى قَوْلَيْنِ . وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ

“Oleh karena itu para ulama berkata: “Sesungguhnya menghapus dan menetapkan takdir itu terjadi dalam catatan malaikat. Adapun ilmu Allah subhanahu wata’ala, maka tidak mengalami perubahan, dan juga tidak menjadi tampak apa yang belum pernah diketahui oleh-Nya. Sehingga tidak ada penghapusan dan penetapan dalam ilmu-Nya. Adapun al-Lauh al-Mahfuzh, apakah terjadi penghapusan dan penetapan di dalamnya? Maka ada dua pendapat. Wallahu ta’ala a’lam.” (Majmu’ al-Fatawa: 14/492).

Demikian pula menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah. Beliau berkata:

والحق أن النزاع لفظيٌّ، وأن الذي سبق في علم الله لا يتغير ولا يتبدل، وأن الذي يجوز عليه التغيير والتبديل ما يبدو للناس من عمل العامل، ولا يبعد أن يتعلق ذلك بما في علم الحفظة، والموكلين بالآدمي، فيقع فيه المحو والإثبات، كالزيادة في العمر والنقص، وأما ما في علم الله، فلا محو فيه ولا إثبات، والعلم عند الله تعالى.

“Yang benar adalah bahwa perbedaan ini bersifat lafzhiyah dan bahwa yang terdahulu di dalam ilmu Allah tidak berubah dan tidak diganti, dan bahwa yang dapat berubah dan diganti adalah perkara yang tampak pada manusia, dan juga tidak jauh jika takdir yang bisa berubah itu berhubungan dengan ilmu malaikat penjaga dan malaikat yang ditugasi urusan manusia. Maka takdir yang dicatat malaikat itu bisa dihapus atau ditetapkan, seperti bertambah dan berkurangnya umur. Adapun takdir yang berada dalam ilmu Allah, maka tidak mengalami penghapusan dan penetapan. Dan ilmunya di sisi Allah ta’ala.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 11/488).

Adapun al-Lauh al-Mahfuzh, maka apakah mengalami perubahan?

Al-Allamah Mar’i bin Yusuf al-Karami al-Hanbali (wafat tahun 1033 H) rahimahullah berkata:

وَفِي «تَفْسِيرِ ابْنِ عَادِلٍ»: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي رِوَايَةِ عِكْرِمَةَ: هُمَا كِتَابَانِ؛ كِتَابٌ سِوَى أُمِّ الكِتَابِ، يَمْحُو مِنْهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ، وَأُمُّ الكِتَابِ لَا يُغَيَّرُ مِنْهُ شَيْءٌ

“Di dalam Tafsir Ibnu Adil, Ibnu Abbas dalam riwayat Ikrimah berkata: “Di sana ada dua kitab; satu kitab yang bukan ‘Ummul Kitab’ (yakni bukan al-Lauh al-Mahfuzh, pen), yang mana Allah menghapus dan menetapkan sebagiannya sesuai kehendak-Nya, dan kedua: ‘Ummul Kitab’ tidak berubah sedikit pun.” (Ithaf Dzawil Albab fi Qaulihi Ta’ala ‘Yamhullahu Ma Yasya’u wa Yutsbit wa Indahu Ummul Kitab’: 47. Atsar Ibnu Abbas di atas di-shahih-kan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya: 3332 (2/380) dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

Sehingga pendapat yang benar adalah bahwa catatan di  ‘al-Lauh al-Mahfuzh’ tidak berubah.

Antara Berita Langit dan Dukun

Ketika Allah ta’ala memutuskan takdir-Nya untuk kejadian-kejadian di bumi semisal gempa, kebakaran atau penyakit di suatu tempat pada tahun, bulan, tanggal, jam, menit dan detik sekian, maka Allah ta’ala berfirman kepada para malaikat-Nya di langit.

Allah ta’ala berfirman:

حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka (para malaikat), mereka berkata: “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “(Perkataan) yang benar”, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Saba’: 23).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قَضَى اللَّهُ الأَمْرَ فِي السَّمَاءِ، ضَرَبَتِ المَلاَئِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ، كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ، فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الحَقَّ، وَهُوَ العَلِيُّ الكَبِيرُ، فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ، وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ – وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَفَهَا، وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ – فَيَسْمَعُ الكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، ثُمَّ يُلْقِيهَا الآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الكَاهِنِ، فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا، وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ، فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ، فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا: كَذَا وَكَذَا، فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنَ السَّمَاءِ

“Jika Allah menetapkan perkara di langit, maka para malaikat merendahkan sayap mereka dalam rangka tunduk kepada firman-Nya yang keadaanya seperti suara rantai yang menggesek batu cadas. Apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka (para malaikat), maka mereka berkata: “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “(Perkataan) yang benar“, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Kemudian berita tersebut didengar oleh pencuri dengar (yaitu jin dan setan, pen). Para pencuri dengar bertumpuk dari atas ke bawah. Pencuri dengar bagian atas akan menyampaikan berita kepada pencuri dengar yang berada di bawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang berada di bawahnya dan seterusnya sampai pada akhirnya disampaikan kepada dukun atau tukang sihir. Terkadang bara api dilemparkan kepada tumpukan pencuri dengar sebelum berita sampai kepada dukun dan terkadang berita sudah sampai ke dukun sebelum terkena lemparan bara api. Kemudian pencuri dengar mencampur berita langit tersebut dengan 100 (seratus) kedustaan. Sehingga dikatakan (oleh pelanggan dukun, pen): “Bukankah Pak Dukun sudah berkata kepada kita pada hari demikian dan demikian tentang demikian dan demikian. Maka berita langit tersebut dibenarkan.” (HR. Al-Bukhari: 4800 dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Al-Imam Badruddin al-Aini al-Hanafi (wafat tahun 855 H) rahimahullah berkata:

والمعنى أنهم عبروا عن قول الله وما قضاه وقدره بلفظ( الحق)..الخ

“Makna hadits di atas adalah bahwa para malaikat mengungkapkan firman Allah, ketentuan-Nya dan takdir-Nya dengan lafazh ‘Perkataan yang benar’…dst.” (Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari: 27/406).

Beliau juga berkata:

والقول يجوز أن يراد به كلمة كن وأن يراد بالحق ما يقابل الباطل ويجوز أن يراد به القول المسطور في اللوح المحفوظ فالحق بمعنى الثابت في اللوح المحفوظ..الخ

“Firman-Nya boleh dimaksudkan dengan kalimat ‘Kun’ (jadilah!) dan yang dimaksudkan dengan ‘al-Haqq’ adalah lawan ‘al-Bathil’. Bisa juga yang dimaksud dengan firman-Nya yang telah tertulis di al-Lauh al-Mahfuzh. Maka ‘al-Haqq’ berarti perkara yang telah tetap dalam al-Lauh al-Mahfuzh..dst.” (Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari: 27/406).

Beliau juga menjelaskan:

قوله (كذا) كناية عن الخرافات التي يذكرها الساحر

“Sabda beliau “demikian dan demikian” adalah ungkapan sindiran tentang khurafat yang diceritakan oleh taking sihir atau dukun..dst.” (Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari: 27/407).

Untuk Apa Berusaha

Banyak orang bertanya bahwa jika garis hidup manusia -seperti bahagia atau celaka, masuk surga atau neraka- sudah ditentukan dan ditakdirkan oleh Allah ta’ala, maka apa gunanya kita melakukan usaha dan ikhtiyar?

Maka terdapat jawaban yang memuaskan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda:

« مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلاَّ وَقَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً ». فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ العَمَلَ؟ فَمَنْ كَانَ مِنَّا مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنَّا مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ، فَقَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ». ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى) الحديث

“Tidaklah seseorang di antara kalian, tidak pula setiap jiwa yang bernafas, kecuali telah ditulis oleh Allah tempatnya di surga atau di neraka, dan juga telah ditulis oleh-Nya apakah dia termasuk orang yang berbahagia atau orang yang celaka.” Maka seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah kita lantas menyerah dengan nasib takdir kita dan tidak melakukan amal shaleh?” Ia berkata: “Barangsiapa yang termasuk orang yang berbahagia, maka ia akan menuju kepada amal perbuatan orang-orang yang berbahagia dan barangsiapa yang termasuk orang yang celaka, maka ia akan menuju kepada perbuatan orang-orang yang celaka.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Tetaplah kalian beramal shaleh! Adapun orang yang berbahagia, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan amal pebuatan orang-orang yang berbahagia. Adapun orang yang celaka, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan amal perbuatan orang-orang yang celaka.” Kemudian beliau membaca ayat: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 5-10).” (HR. Al-Bukhari: 1362, Muslim: 6901, at-Tirmidzi: 3344 dan Abu Dawud: 146 dari Ali radhiyallahu anhu).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata:

قال الطيبي الجواب من الاسلوب الحكيم منعهم عن ترك العمل وأمرهم بالتزام ما يجب على العبد من العبودية وزجرهم عن التصرف في الأمور المغيبة فلا يجعلوا العبادة وتركها سببا مستقلا لدخول الجنة والنار بل هي علامات فقط..الخ

“Ath-Thibi berkata: “Jawaban Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (di atas) termasuk uslub yang bijaksana. Beliau melarang mereka meninggalkan amal shaleh, dan memerintahkan mereka untuk menetapi kewajiban mereka yang berupa ibadah, serta melarang keras mereka agar tidak sibuk berkutat terhadap perkara yang masih ghaib (baca: yang dirahasiakan, pen). Sehingga mereka tidak menjadikan pelaksanaan atau meninggalkan ibadah sebagai satu-satunya sebab untuk masuk surga dan neraka, tetapi hanya sebagai tanda-tanda saja..dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 11/497).

Larangan Membahas Takdir

Perintah untuk melakukan ikhtiyar atau amal shaleh serta larangan membahas takdir tentang nasib bahagia atau celaka merupakan sesuatu yang berkaitan. Yang demikian karena takdir atas nasib seseorang merupakan perkara gaib yang dirahasiakan oleh Allah ta’ala.

Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (wafat tahun 321 H) rahimahullah berkata:

وَأَصْلُ الْقَدَرِ سِرُّ اللَّهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ لَمْ يَطَّلِعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ وَلَا نَبِيٌّ مُرْسَلٌ وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيعَةُ الْخِذْلَانِ وَسُلَّمُ الْحِرْمَانِ وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ فَالْحَذَرَ كُلَّ الْحَذَرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةً  فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى طَوَى عِلْمَ الْقَدَرِ عَنْ أَنَامِهِ وَنَهَاهُمْ عَنْ مَرَامِهِ كَمَا قال الله تَعَالَى فِي كِتَابِهِ: (لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ) [الْأَنْبِيَاءِ: 23]. فَمَنْ سَأَلَ لِمَ فَعَلَ؟ فَقَدْ رَدَّ حُكْمَ الْكِتَابِ وَمَنْ رَدَّ حُكْمَ الكتاب كان من الكافرين

“Asal dari ‘Qadar’ adalah rahasia Allah ta’ala terhadap makhluk-Nya. Rahasia tersebut tidak diketahui oleh seorang malaikat pun, dan tidak pula seorang nabi pun. Berdalam-dalam di dalam membahasnya akan menjadi jalan menuju kebinasaan, tangga menuju kesia-siaan dan tahapan menuju penyimpangan. Maka hendaknya menjauhkan diri dari pembahasan ini baik secara pemikiran, pendangan ataupun bisikan, karena Allah ta’ala telah menutup ilmu tentang takdir dari para hamba-Nya dan melarang mereka dari menggapainya, sebagaimana firman-Nya: “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya’: 230). Barangsiapa bertanya mengapa Allah berbuat demikian, maka ia telah menolak hukum al-Kitab. Barangsiapa menolak hukum al-Kitab, maka ia termasuk orang-orang kafir.” (Al-Aqidah ath-Thahawiyah, ta’liq al-Albani: 49-50).

Ucapan ath-Thahawi di atas merupakan penjelasan dari hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam:

وَإِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا

“Jika disebutkan tentang takdir, maka tahanlah diri kalian (dari berdalam-dalam di dalam membahasnya, pen).” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabir: 10448 (10/198), al-Harits dalam Musnadnya: 742 (2/748) dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu dan di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 545).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

وقيل ان سر القدر ينكشف لهم اذا دخلوا الجنة ولا ينكشف قبل دخولها والله اعلم

“Dikatakan bahwa rahasia takdir akan tersingkap bagi kaum mukminin ketika mereka memasuki surga, dan belum tersingkap ketika mereka belum memasukinya. Wallahu a’lam.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim: 16/196).

Adu Argumentasi antara Adam dan Musa alaihimassalam

Telah terjadi adu argumentasi antara Nabi Adam alaihissalam dan Nabi Musa alaihissalam tentang turunnya manusia dari surga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullash shallallahu alaihi wasallam bersabda:

« احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ عِنْدَ رَبِّهِمَا فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى قَالَ مُوسَى أَنْتَ آدَمُ الَّذِى خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتَهُ وَأَسْكَنَكَ فِى جَنَّتِهِ ثُمَّ أَهْبَطْتَ النَّاسَ بِخَطِيئَتِكَ إِلَى الأَرْضِ فَقَالَ آدَمُ أَنْتَ مُوسَى الَّذِى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلاَمِهِ وَأَعْطَاكَ الأَلْوَاحَ فِيهَا تِبْيَانُ كُلِّ شَىْءٍ وَقَرَّبَكَ نَجِيًّا فَبِكَمْ وَجَدْتَ اللَّهَ كَتَبَ التَّوْرَاةَ قَبْلَ أَنْ أُخْلَقَ قَالَ مُوسَى بِأَرْبَعِينَ عَامًا. قَالَ آدَمُ فَهَلْ وَجَدْتَ فِيهَا (وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى) قَالَ نَعَمْ. قَالَ أَفَتَلُومُنِى عَلَى أَنْ عَمِلْتُ عَمَلاً كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَىَّ أَنْ أَعْمَلَهُ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِى بِأَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى ».

Nabi Adam dan Nabi Musa alaihimassalam berdebat di depan Rabb mereka. Akhirnya Adam mengalahkan argumentasi Musa. Musa berkata: “Engkau adalah Adam yang mana Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya. Allah juga meniupkan ruh-Nya ke dalam dirimu dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu serta menempatkanmu di dalam surga-Nya. Kemudian engkau mengeluarkan manusia dari surga ke bumi karena kesalahanmu.” Maka Adam menjawab: “Engkau Musa yang mana Allah memilihmu dengan risalah dan kalam-Nya. Allah juga memberimu lembaran-lembaran yang berisi penjelasan atas segala sesuatu (yakni Taurat, pen). Allah juga mendekatkanmu untuk membisikimu. Maka kapankah engkau dapatkan Allah menuliskan Taurat sebelum penciptaanku?” Musa menjawab: “Empat puluh tahun (sebelum penciptaanmu, pen).” Adam bertanya: “Apakah kamu sudah mendapatkan ayat “Maka Adam bermaksiat kepada Rabbnya dan tersesatlah ia.” (QS. Thaha: 121) di dalam Taurat?” Musa menjawab: “Ya.” Adam bertanya: “Apakah engkau mencelaku dengan perbuatan yang telah ditulis oleh Allah untuk aku lakukan sejak empat puluh tahun sebelum penciptaanku?” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka Adam mengalahkan argumentasi Musa.” (HR. Muslim: 6914).

Dalam redaksi lain, Adam berkata:

أَنْتَ مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلاَمِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ أَتَلُومُنِى عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَىَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِى بِأَرْبَعِينَ سَنَةً ». فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى ».

“Engkau adalah Musa. Allah memilihmu dengan kalam-Nya dan menuliskan Taurat untukmu dengan tangan-Nya. Apakah engkau mencelaku atas perkara yang telah Allah takdirkan sejak empat puluh tahun sebelum menciptakanku?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka Adam mengalahkan argumentasi Musa. Maka Adam mengalahkan argumentasi Musa.” (HR. Al-Bukhari: 6614, Muslim: 6912, at-Tirmidzi: 2134 dan Abu Dawud: 4703).

Pertanyan pertama: apakah yang dimaksud dengan empat puluh tahun sebelum penciptaan Adam alaihissalam? Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah memaparkan perbedaan penafsiran para ulama. Beliau berkata:

وقال ابن التين يحتمل أن يكون المراد بالأربعين سنة ما بين قوله تعالى اني جاعل في الأرض خليفة إلى نفخ الروح في آدم وأجاب غيره أن ابتداء المدة وقت الكتابة في الألواح وآخرها ابتداء خلق آدم وقال ابن الجوزي المعلومات كلها قد أحاط بها علم الله القديم قبل وجود المخلوقات كلها ولكن كتابتها وقعت في أوقات متفاوتة وقد ثبت في الصحيح يعني صحيح مسلم أن الله قدر المقادير قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة فيجوز أن تكون قصة آدم بخصوصها كتبت قبل خلقه بأربعين سنة ويجوز أن يكون ذلك القدر مدة لبثه طينا إلى أن نفخت فيه الروح فقد ثبت في صحيح مسلم أن بين تصويره طينا ونفخ الروح فيه كان مدة أربعين سنة..الخ

“Ibnut Tien berkata: “Kemungkian makna ‘empat puluh tahun’ adalah jarak waktu antara firman Allah ta’ala “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah: 30) dengan ditiupkannya ruh pada Adam. Ulama yang lainnya menjawab bahwa permulaan waktu ‘empat puluh tahun’ adalah permulaan penulisan lembaran Taurat dan berakhir pada permulaan penciptaan Adam. Ibnul Jauzi berkata: “Segala makhluk telah diketahui ilmunya oleh Allah secara menyeluruh dengan ilmu-Nya yang terdahulu sebelum adanya semua makhluk, tetapi penulisan ilmu tersebut terjadi dalam waktu yang berbeda-beda. Telah shahih dalam Shahih Muslim bahwa Allah menuliskan takdir segala makhluk dan segala kejadian lima ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Boleh jadi kisah tentang Adam alaihissalam disalin secara khusus empat puluh tahun sebelum penciptaannya. Atau bisa juga bermakna bahwa ‘empat puluh tahun’ itu adalah rentang waktu antara bentuk Adam yang masih berupa tanah liat dengan peniupan ruh padanya, karena telah shahih dalam Shahih Muslim bahwa rentang waktu antara melukis bentuk Adam alaihissalam pada tanah liat dengan peniupan ruh adalah ‘empat puluh tahun’..dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 11/508).

Pertanyaan kedua: mengapa Nabi Adam alaihissalam memenangkan hujah atas Nabi Musa alaihissalam? Al-Imam Ibnu Mulaqqin (wafat tahun 804 H) rahimahullah menjawab:

قال الليث بن سعد: وإنما صحت الحجة في هذِه القصة لآدم على موسى؛ من أجل أن الله قد غفر لآدم، وتاب عليه، فلم يكن لموسى أن يعيره بما قد غفرها الله له..الخ

“Al-Laits bin Sa’ad berkata: “Hujah Adam yang mengalahkan Musa pada kisah ini, karena Allah telah mengampuni dan menerima taubat Adam alaihissalam. Maka tidak diperkenankan bagi Musa alaihissalam untuk mencelanya dengan suatu kesalahan yang telah diampuni oleh Allah..dst.” (At-Taudhih li Syarh al-Jami’ish Shahih: 30/163).

Oleh karena itu kita dilarang mencela masa lalu yang kelam dari seorang muslim padahal ia sudah bertaubat darinya. Wallahu a’lam.

Berhujah dengan Takdir atas Kemaksiatan

Hadits tentang adu argumentasi antara Nabi Adam dan Nabi Musa alaihissalam bukanlah menjadi dalil pembenar untuk berhujah dengan takdir atas perbuatan kemaksiatan. Seseorang tidak boleh berkata: “Aku mencuri, berzina dan sebagainya karena takdir Allah.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَآدَمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمْ يَحْتَجَّ عَلَى مُوسَى بِالْقَدَرِ ظَنًّا أَنَّ الْمُذْنِبَ يَحْتَجُّ بِالْقَدَرِ، فَإِنَّ هَذَا لَا يَقُولُهُ مُسْلِمٌ وَلَا عَاقِلٌ، وَلَوْ كَانَ هَذَا عُذْرًا لَكَانَ عُذْرًا لَإِبْلِيسَ، وَقَوْمِ نُوحٍ، وَقَوْمِ هُودٍ، وَكُلِّ كَافِرٍ، وَلَا مُوسَى لَامَ آدَمَ أَيْضًا لِأَجْلِ الذَّنْبِ. فَإِنَّ آدَمَ قَدْ تَابَ إلَى رَبِّهِ فَاجْتَبَاهُ وَهَدَى، وَلَكِنْ لَامَهُ لِأَجْلِ الْمُصِيبَةِ الَّتِي لَحِقَتْهُمْ بِالْخَطِيئَةِ. وَلِهَذَا قَالَ: فَلِمَاذَا أَخْرَجْتنَا وَنَفْسَك مِنْ الْجَنَّةِ ؟ فَأَجَابَهُ آدَم أَنَّ هَذَا كَانَ مَكْتُوبًا قَبْلَ أَنْ أُخْلَقَ، فَكَانَ الْعَمَلُ وَالْمُصِيبَةُ الْمُتَرَتِّبَةُ عَلَيْهِ مُقَدَّرًا، وَمَا قُدِّرَ مِنْ الْمَصَائِبِ يَجِبُ الِاسْتِسْلَامُ لَهُ، فَإِنَّهُ مِنْ تَمَامِ الرِّضَا بِاَللَّهِ رَبًّا.

“Nabi Adam alaihissalam tidaklah membela diri (atas perbuatan maksiatnya, pen) terhadap Musa alaihissalam dengan alasan takdir, dengan menyangka bahwa seorang pendosa boleh membela perbuatan kemaksiatannya dengan alasan telah ditakdirkan. Ini karena tidak ada seorang muslim pun dan juga seorang yang berakal pun yang berpendapat demikian. Seandainya takdir boleh dijadikan alasan pembenar untuk perbuatan maksiat, maka takdir akan menjadi alasan pembenar bagi Iblis (atas penyimpangannya, pen), juga kaum Hud, kaum Nuh dan setiap orang kafir (akan berasalan dengan takdir untuk berbuat menyimpang, pen). Nabi Musa alaihissalam juga tidak mencela Nabi Adam alaihissalam karena dosanya, karena Nabi Adam telah bertaubat kepada Rabbnya, lalu Allah memilihnya dan memberinya petunjuk. Akan tetapi Nabi Musa alaihissalam mencela Nabi Adam alaihissalam karena musibah umat manusia sebab kesalahan. Oleh karena itu Musa berkata: “Mengapa engkau mengeluarkan kami dan dirimu dari surga?” Maka Adam menjawab: “Ini sudah ditulis oleh Allah sebelum aku diciptakan.” Maka perbuatan dan musibah yang dialami oleh Adam itu sudah ditakdirkan. Segala musibah yang telah ditakdirkan, maka wajib diterima, karena termasuk kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb.” (Majmu’ al-Fatawa: 10/160 dan al-Fatawa al-Kubra: 5/164).

Sehingga termasuk ciri khas orang-orang sesat adalah membela kemaksiatan dengan alasan sudah ditakdirkan.

Iblis la’natullah alaihi juga beralasan dengan takdir atas penyimpangannya. Allah ta’ala berfirman:

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan (baca: mentakdirkan, pen) bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS. Al-Hijr: 39).

Demikian pula orang-orang kafir berhujah dengan takdir atas penyimpangan mereka. Allah ta’ala berfirman:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ لَوْ شَاء اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلاَ آبَاؤُنَا وَلاَ حَرَّمْنَا مِن شَيْءٍ

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki (baca: mentakdirkan, pen), niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.” (QS. Al-An’am: 148).

Maka perkara yang disyariatkan bagi seorang muslim ketika terjatuh dalam kemaksiatan adalah bertaubat kepada Allah ta’ala, bukan membela diri dengan alasan takdir. Allah ta’ala berfirman:

قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Nabi Shaleh berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. An-Naml: 46).

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membantah argumentasi Ali radhiyallahu anhu yang malas bangun untuk shalat malam dengan alasan takdir Allah ta’ala. Ali radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ بِنْتَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ لَيْلَةً، فَقَالَ: «أَلاَ تُصَلِّيَانِ؟» فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللَّهِ، فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا، فَانْصَرَفَ حِينَ قُلْنَا ذَلِكَ وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا، ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهُوَ مُوَلٍّ يَضْرِبُ فَخِذَهُ، وَهُوَ يَقُولُ: {وَكَانَ الإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا} [الكهف: 54]

“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengetuk pintu rumah Ali –dan juga Fatimah putri beliau- pada suatu malam. Beliau bersabda: “Kalian berdua tidak shalat (tahajud)?” Maka aku (Ali) berkata: “Wahai Rasulullah! Jiwa kami berada di tangan Allah. Jika Allah berkehendak untuk membangunkan kami, maka kami akan bangun.” Maka beliau pulang ketika kami berkata demikian dan tidak menimpali sedikit pun. Kemudian aku mendengar beliau berpaling sambil memukul paha beliau dan bersabda: “Adalah manusia banyak mendebat.” (QS. Al-Kahfi: 54).” (HR. Al-Bukhari: 1127, Muslim: 1854 dan an-Nasai: 1611).

Sekte Qadariyah dan Agama Majusi

Sekte Qadariyah disebut juga dengan Majusi umat Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوا فَلاَ تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلاَ تَشْهَدُوهُمْ

“Sekte Qadariyah adalah Majusi umat ini. Jika mereka sakit, maka janganlah kalian menjenguk mereka. dan jika mereka mati, maka janganlah kalian menyaksikan jenazah mereka.” (HR. Ahmad: 5584, Abu Dawud: 4693 dan Ibnu Majah: 92 dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 4442).

Al-Imam Abu Sulaiman al-Khaththabi rahimahullah berkata:

إنما جعلهم مجوساً لمضاهاة مذهبهم مذهب المجوس في قولهم بالأصلين وهما النور والظلمة يزعمون إن الخير من فعل النور، والشر من فعل الظلمة فصاروا ثانوية، وكذلك القدرية يضيفون الخير إلى الله عز وجل والشر إلى غيره والله سبحانه خالق الخير والشر لا يكون شيء منهما إلاّ بمشيئته. وخلقه الشر شراً في الحكمة كخلقه الخير خيراً، فالأمران معاً مضافان إليه خلقاً وايجاداً وإلى الفاعلين لهما من عباده فعلاً واكتساباً.

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menganggap sekte Qadariyah sebagai majusi karena kemiripan madzhab mereka dengan madzhab Majusi yang meyakini adanya dua penguasa, yaitu Cahaya dan Kegelapan. Mereka menyangka bahwa kebaikan merupakan perbuatan Cahaya dan kejelekan merupakan perbuatan Kegelapan. Maka mereka menjadi kelompok Dwinitas (Cahaya-Kegelapan). Demikian pula sekte Qadariyah. Mereka menyandarkan kebaikan kepada Allah azza wajalla dan kejelekan kepada selain-Nya. Padahal Allah ta’ala adalah pencipta kebaikan dan kejelekan. Tidak akan muncul kebaikan dan kejelekan kecuali atas kehendak-Nya. Penciptaan-Nya terhadap kejelekan di dalam hikmah adalah seperti penciptaan-Nya terhadap kebaikan di dalam hikmah. Maka kedua perkara tersebut (yakni: kebaikan dan kejelekan, pen) disandarkan kepada-Nya di dalam hal penciptaan dan perwujudan, dan disandarkan kepada para pelaku dari hamba-Nya dalam hal perbuatan dan usaha.” (Ma’alimus Sunan lil Khaththabi: 4/317).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَزَعَمَتْ الْقَدَرِيَّةُ أَنَّ اللَّهَ يَخْلُقُ الْخَيْرَ وَأَنَّ الشَّيْطَانَ يَخْلُقُ الشَّرَّ، وَزَعَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَاءَ مَا لَا يَكُونُ خِلَافًا لِمَا أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ مِنْ أَنَّ مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَا يَشَاءُ لَا يَكُونُ، وَرَدًّا لِقَوْلِ اللَّهِ: {وَمَا تَشَاءُونَ إلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ}، فَأَخْبَرَ أَنَّا لَا نَشَاءُ شَيْئًا، إلَّا وَقَدْ شَاءَ أَنْ نَشَاءَهُ، وَلِقَوْلِهِ: {وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا}، وَلِقَوْلِهِ: {وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا}، وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ}، وَلِقَوْلِهِ مُخْبِرًا عَنْ شُعَيْبٍ أَنَّهُ قَالَ: {وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا} ( ). وَلِهَذَا سَمَّاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ مَجُوسَ هَذِهِ الْأُمَّةِ، لِأَنَّهُمْ دَانُوا بِدِيَانَةِ الْمَجُوسِ، وَضَاهَوْا قَوْلَهُمْ، وَزَعَمُوا أَنَّ لِلْخَيْرِ وَالشَّرِّ خَالِقَيْنِ كَمَا زَعَمَتْ الْمَجُوسُ، وَأَنَّهُ يَكُونُ مِنْ الشَّرِّ مَا لَا يَشَاؤُهُ اللَّهُ كَمَا قَالَتْ الْمَجُوسُ ذَلِكَ؛ وَزَعَمُوا أَنَّهُمْ يَمْلِكُونَ الضُّرَّ وَالنَّفْعَ لِأَنْفُسِهِمْ رَدًّا لِقَوْلِ اللَّهِ: {قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ}، وَانْحِرَافًا عَنْ الْقُرْآنِ وَعَمَّا أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَيْهِ. وَزَعَمُوا أَنَّهُمْ يَنْفَرِدُونَ بِالْقُدْرَةِ عَلَى أَعْمَالِهِمْ دُونَ رَبِّهِمْ، وَأَثْبَتُوا لِأَنْفُسِهِمْ غِنًى عَنْ اللَّهِ وَوَصَفُوا أَنْفُسَهُمْ بِالْقُدْرَةِ عَلَى مَا لَمْ يَصِفُوا اللَّهَ بِالْقُدْرَةِ عَلَيْهِ، كَمَا أَثْبَتَتْ الْمَجُوسُ لِلشَّيْطَانِ مِنْ الْقُدْرَةِ عَلَى الشَّرِّ مَا لَمْ يُثْبِتُوهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

“Sekte Qadariyah menyangka bahwa Allah menciptakan kebaikan dan setan menciptakan kejelekan. Mereka menyangka bahwa Allah menghendaki perkara yang tidak ada, dalam rangka menyelisihi ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin bahwa apa yang dikehendaki oleh Allah akan ada dan apa yang tidak dikehendaki oleh-Nya tidak akan ada. Dan mereka juga menolak firman Allah “Dan tidaklah kalian berkehendak kecuali atas apa yang dikehendaki oleh Allah.” (QS. At-Takwir: 29). Maka Allah menceritakan bahwa kita tidaklah berkehendak atas sesuatu kecuali Allah menghendaki kehendak kita. Dan juga menolak firman-Nya “Seandainya Allah berkehendak, niscaya mereka tidak akan saling membunuh.” (QS. Al-Baqarah: 253), juga firman-Nya “Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk.” (QS. As-Sajdah: 13), juga firman-Nya “Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj: 16) dan juga firman-Nya tentang Syuaib alaihissalam “Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya).” (QS. Al-A’raf: 89). Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut mereka sebagai majusi umat ini, karena mereka beragama dengan agama Majusi dan menyerupai madzhab mereka. mereka (Qadariyah) menyangka bahwa terdapat dua pencipta untuk kebaikan dan kejelekan sebagaimana pendapat Majusi. Mereka juga berpendapat bahwa terdapat kejelekan yang tidak dikehendaki oleh Allah sebagaimana pendapat Majusi. Mereka juga menyangka bahwa mereka mampu memberikan manfaat dan bahaya atas diri mereka sendiri, dalam rangka membantah firman-Nya “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah.” (QS. Al-A’raf: 188) dan sebagai bentuk penyimpangan terhadap al-Quran dan ijma’ kaum muslimin. Mereka (Qadariyah) menyangka bahwa mereka menyendiri dengan kekuasaan untuk melakukan perbuatan tanpa adanya pengaruh dari Rabb mereka. Mereka juga menetapkan tidak butuhnya mereka terhadap Allah dan menyifati diri mereka dengan sifat berkuasa dengan sifat yang tidak terdapat pada Allah, sebagaimana kaum Majusi menetapkan kekuasaan atas kejelekan kepada setan dengan kekuasaan yang tidak ditetapkan untuk Allah azza wajalla.” (Al-Fatawa al-Kubra: 6/654).

Sekte Jabriyah atau Fatalisme

Kebalikan dari sekte Qadariyah –yang meniadakan kehendak Allah pada perbuatan hamba- adalah Sekte Jabriyah yang meniadakan kehendak hamba.

Al-Allamah Abul Aun as-Safaraini al-Hanbali (wafat tahun 1188 H) rahimahullah berkata:

الْفِرْقَةُ الْخَامِسَةُ الْجَبْرِيَّةُ الَّذِينَ يَقُولُونَ: إِنَّا مُجْبَرُونَ عَلَى أَفْعَالِنَا، وَيُسْنِدُونَ الْأَفْعَالَ إِلَى اللَّهِ – تَعَالَى، فَمِنْهُمْ (مُتَوَسِّطَةٌ)، يُسْنِدُونَ الْفِعْلَ إِلَى اللَّهِ، وَيُثْبِتُونَ لِلْعَبْدِ كَسْبًا، (وَخَالِصَةٌ) ، لَا تُثْبِتُ لِلْعَبْدِ شَيْئًا كَالْجَهْمِيَّةِ أَصْحَابِ الْجَهْمِ بْنِ صَفْوَانَ، قَالُوا: لَا قُدْرَةَ لِلْعَبْدِ أَصْلًا،

“Sekte kelima adalah Sekte Jabriyah yang menyatakan bahwa kita dipaksa untuk melakukan perbuatan kita. Mereka menyandarkan segala perbuatan kepada Allah ta’ala. Di antara mereka terdapat Sekte Jabriyah Pertengahan. Mereka menyandarkan perbuatan hamba kepada Allah (secara hakiki, pen) dan menetapkan perbuatan pada hamba (secara majazi, pen). Di antara mereka terdapat Sekte Jabriyah Murni. Mereka tidak menetapkan suatu perbuatan pun untuk hamba, seperti Sekte Jahmiyah, pengikut Jahm bin Shafwan. Mereka menyatakan bahwa hamba tidak mempunyai kemampuan sama sekali..dst.” (Lawami’ul Anwaril Bahiyyah Syarh Durratil Mudhiyyah fi Aqdil Firqatil Mardhiyah: 1/90).

Maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membantah Sekte Jabriyah dan juga Sekte Qadariyah. Beliau menyatakan:

فَإِذَا كَانَ الضَّلَالُ فِي الْقَدَرِ حَصَلَ تَارَةً بِالتَّكْذِيبِ بِالْقَدَرِ وَالْخَلْقِ . وَتَارَةً بِالتَّكْذِيبِ بِالشَّرْعِ وَالْوَعِيدِ وَتَارَةً بِتَظْلِيمِ الرَّبِّ كَانَ فِي هَذِهِ السُّورَةِ رَدًّا عَلَى هَذِهِ الطَّوَائِفِ كُلِّهَا . فَقَوْلُهُ تَعَالَى { فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا } إثْبَاتٌ لِلْقَدَرِ بِقَوْلِهِ ” فَأَلْهَمَهَا ” ؛ وَإِثْبَاتٌ لِفِعْلِ الْعَبْدِ بِإِضَافَةِ الْفُجُورِ وَالتَّقْوَى إلَى نَفْسِهِ لِيَعْلَمَ أَنَّهَا هِيَ الْفَاجِرَةُ وَالْمُتَّقِيَةُ ؛ وَإِثْبَاتٌ لِلتَّفْرِيقِ بَيْنَ الْحَسَنِ وَالْقَبِيحِ وَالْأَمْرِ وَالنَّهْيِ بِقَوْلِهِ { فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا } . وَقَوْلِهِ بَعْدَ ذَلِكَ { قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا } { وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا } إثْبَاتٌ لِفِعْلِ الْعَبْدِ وَالْوَعْدِ وَالْوَعِيدِ بِفَلَاحِ مَنْ زَكَّى نَفْسَهُ وَخَيْبَةِ مَنْ دَسَّاهَا . وَهَذَا صَرِيحٌ فِي الرَّدِّ عَلَى الْقَدَرِيَّةِ الْمَجُوسِيَّةِ وَعَلَى الْجَبْرِيَّةِ لِلشَّرْعِ أَوْ لِفِعْلِ الْعَبْدِ وَهُمْ الْمُكَذِّبُونَ بِالْحَقِّ .

“Maka jika kesesatan di dalam ‘Bab Takdir’, terkadang bisa terjadi dengan sebab mendustakan takdir dan penciptaan, juga bisa terjadi dengan sebab mendustakan syariat dan ancaman siksa, dan juga bisa terjadi dengan sebab menganggap Allah berbuat zhalim, maka di dalam surat ini (yakni: Surat asy-Syams, pen) terdapat bantahan atas semua sekte ini (yakni: yang tersesat dalam Bab Takdir, pen). Maka firman-Nya “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya,” (QS. Asy-Syams: 8) merupakan penetapan terhadap ‘Takdir’ dengan firman-Nya “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu”, juga penetapan terhadap perbuatan hamba dengan menyandarkan ‘ketakwaan’ dan ‘kefasikan’ kepada diri jiwa agar ia mengetahui apakah ia termasuk jiwa yang bertakwa ataukah jiwa yang fasik, dan juga penetapan terhadap adanya pembedaan antara perkara baik dan perkara buruk, dan antara perintah dan larangan dalam firman-Nya “kefasikan dan ketakwaannya”. Di dalam firman-Nya “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10) terdapat penetapan terhadap perbuatan hamba, janji pahala dan ancaman siksa dengan berbahagianya orang yang mensucikan jiwanya dan meruginya orang mengotorinya. Ini secara jelas membantah Sekte Qadariyah-Majusiyah dan Sekte Jabriyah atas perbuatan hamba atau syariat. Mereka adalah orang-orang yang mendustakan al-Haqq.” (Majmu’ al-Fatawa: 16/243).

Antara Ahlussunnah dan Asy’ariyah

Di dalam keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah, para hamba melakukan perbuatan (seperti keimanan dan kekafiran) secara hakiki dan Allah ta’ala yang telah menciptakan perbuatan-perbuatan tersebut. Sehingga perbuatan manusia yang berupa keimanan, kekufuran, ketaatan dan kemaksiatan dianggap sebagai pekerjaan manusia secara hakiki (bukan pekerjaan Allah) dan juga merupakan makhluk Allah ta’ala.

Al-Imam Abu Hanifah (wafat tahun 150 H) rahimahullah berkata:

وَجَمِيع أَفعَال الْعباد من الْحَرَكَة والسكون كسبهم على الْحَقِيقَة وَالله تَعَالَى خَالِقهَا وَهِي كلهَا بمشيئته وَعلمه وقضائه وَقدره

Semua perbuatan para hamba yang berupa gerakan dan diam, merupakan pekerjaan mereka secara hakiki. Allah ta’ala yang telah menciptakan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Maka semua perbuatan tersebut berdasarkan kehendak-Nya, ilmu-Nya, qadha’ dan qadar-Nya.” (Al-Fiqhul Akbar: 33).

Al-Imam Ahmad bin Hanbal (wafat tahun 241 H) rahimahullah berkata:

وَرُوِيَ عَن عَليّ ابْن أبي طَالب رَضِي الله عَنهُ أَنه سُئِلَ عَن أَعمال الْخلق الَّتِي يستوجبون بهَا من الله السخط وَالرِّضَا فَقَالَ هِيَ من الْعباد فعلا وَمن الله تَعَالَى خلقا لَا تسْأَل عَن هَذَا أحدا بعدِي

“Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu tentang perbuatan makhluk yang menyebabkan murka dan ridha dari Allah. Beliau menjawab: “Perbuatan tersebut berasal dari hamba secara perbuatan, dan berasal dari Allah secara penciptaan. Jangan bertanya lagi setelahku tentang ini!” (Al-Aqidah riwayat Abu Bakar al-Khallal: 113-114).

Demikian pula penjelasan al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (wafat tahun 321 H) rahimahullah. Beliau berkata:

وَأَفْعَالُ الْعِبَادِ خَلْقُ اللَّهِ وَكَسْبٌ مِنَ الْعِبَادِ

“Perbuatan-perbuatan hamba adalah ciptaan Allah dan merupakan pekerjaan dari hamba itu.” (Al-Aqidah ath Thahawiyah, ta’liq al-Albani: 75 (86)).

Al-Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi (wafat tahun 792 H) rahimahullah menjelaskan ucapan ath-Thahawi:

وَإِلَى هَذَا الْمَعْنَى أَشَارَ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ بِقَوْلِهِ: وَأَفْعَالُ الْعِبَادِ خَلْقُ اللَّهِ وَكَسْبٌ مِنَ الْعِبَادِ, أَثْبَتَ لِلْعِبَادِ فِعْلًا وَكَسْبًا، وَأَضَافَ الْخَلْقَ لِلَّهِ تَعَالَى

“Atas demikian ath-Thahawi ber-isyarat atas makna ini dalam ucapan beliau “Perbuatan-perbuatan hamba adalah ciptaan Allah dan merupakan pekerjaan dari hamba itu.” Maka beliau menetapkan perbuatan dan pekerjaan atas hamba, serta menisbatkan penciptaannya kepada Allah ta’ala.” (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, takhrij al-Arna’uth: 2/652).

Di antara dalil yang dipegang oleh Ahlussunnah yang menunjukkan bahwa semua pekerjaan hamba merupakan ciptaan Allah ta’ala adalah firman-Nya:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Allah telah menciptakan kalian dan apa-apa yang kalian lakukan.” (QS. Ash-Shaffat: 96).

Di antara dalil yang dipegang oleh Ahlussunnah yang menunjukkan bahwa semua pekerjaan hamba adalah perbuatan mereka sendiri secara hakiki adalah firman-Nya:

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلاَ تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Mereka adalah umat yang telah berlalu. Mereka mendapatkan balasan atas apa yang mereka kerjakan dan kalian pun akan mendapatkan balasan atas apa yang kalian kerjakan. Kalian tidak akan ditanya tentang apa-apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 134).

Adapun sekte Asy’ariyah, maka mereka menyelisihi Ahlussunnah dalam perkara ini (yakni: perbuatan hamba). Mereka menyatakan bahwa perbuatan hamba itu dinisbatkan kepada hamba itu secara majaz, dan dinisbatkan kepada Allah secara hakiki.

Al-Allamah Ibrahim al-Baijuri (wafat tahun 1277 H) rahimahullah dari kalangan Asy’ariyah berkata:

وبالجملة فليس للعبد تأثير ما ، فهو مجبور باطناً مختار ظاهراً

“Intinya, seorang hamba tidak mempunyai pengaruh (dalam perbuatannya, pen). sehingga ia dalam keadaan terpaksa (untuk berbuat, pen) secara batin, dan dalam keadaan sukarela secara lahirnya.” (Tuhfatul Murid Syarh Jauharatut Tauhid: 176).

Demikian pula menurut al-Allamah Sa’duddin at-Taftazani (wafat tahun 891 H) rahimahullah dari kalangan Asy’ariyah. Beliau berkata:

فإن الإنسان مضطر في صورة مختار كالقلم في يد الكاتب..الخ

“Maka manusia adalah orang yang terpaksa (berbuat, pen) di dalam rupa orang yang sukarela, seperti pena di tangan penulis..dst.”” (Syarh al-Maqashid fi Ilmil Kalam: 2/142).

Maka pendapat Sekte Asy’ariyah di dalam ‘Bab Perbuatan Hamba’ menyerupai pendapat Sekte Jabriyah Pertengahan.

Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan:

وأما الجبرية كجهم وأصحابه فعندهم أنه ليس للعبد قدرة ألبتة والأشعري يوافقهم في المعنى فيقول ليس للعبد قدرة مؤثرة ويثبت شيئا يسميه قدرة يجعل وجوده كعدمه وكذلك الكسب الذي يثبته..الخ

“Adapun Sekte Jabriyah seperti Jahm bin Shafwan dan pengikutnya, maka menurut mereka, hamba ini tidak mempunyai kemampuan (untuk melakukan perbuatan, pen) sama sekali. (Abul Hasan) al-Asy’ari mencocoki pendapat Sekte Jabriyah secara makna. Maka al-Asy’ari menyatakan bahwa hamba tidak mempunyai kemampuan yang berpengaruh. Tetapi ia menetapkan sesuatu -pada hamba- yang juga ia namakan kemampuan, tetapi adanya sama dengan tidak adanya (yakni: secara majaz, pen). Demikian pula perbuatan hamba yang ia tetapkan (yakni adanya sama dengan tidak adanya, pen)..dst.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah fi Naqdhi Kalamisy Syi’ah wal Qadariyah: 1/290-1).

Kesimpulan

Dan masih banyak lagi teks ayat dan hadits yang menunjukkan luasnya ilmu Allah ta’ala, betapa besar dan agung kehendak dan kekuasaan-Nya.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

قال الامام أبو المظفر السمعاني سبيل معرفة هذا الباب التوقيف من الكتاب والسنة دون محض القياس ومجرد العقول فمن عدل عن التوقيف فيه ضل وتاه في بحار الحيرة ولم يبلغ شفاء النفس ولا يصل إلى ما يطمئن به القلب لأن القدر سر من أسرار الله تعالى التي ضربت من دونها الأستار اختص الله به وحجبه عن عقول الخلق ومعارفهم لما علمه من الحكمة وواجبنا أن نقف حيث حد لنا ولا نتجاوزه وقد طوى الله تعالى علم القدر على العالم فلم يعلمه نبي مرسل ولا ملك مقرب..الخ

“Al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani berkata: “Jalan untuk mengenal Bab Takdir ini adalah ‘at-Tauqif’ (yakni: tunduk dan menerima, pen) dari al-Quran dan as-Sunnah, bukan semata qiyas (analogi) dan murninya akal. Barangsiapa berpaling dari sikap ‘at-Tauqif’ dalam bab ini, maka ia akan tersesat dan linglung di dalam lautan kebingungan. Ia juga tidak akan mendapatkan penawar jiwa dan tidak akan sampai kepada ketenangan hati. Ini karena takdir merupakan suatu rahasia dari berbagai rahasia Allah ta’ala yang mana Allah telah memasang tabir pembatas di bawahnya yang hanya khusus diketahui oleh Allah saja. Allah juga menghalangi takdir-Nya dari akal para makhluk-Nya dan dari pengetahuan mereka tentang ilmu Allah atas hikmah-Nya. Kewajiban kita adalah tunduk dan berhenti pada batas yang telah ditetapkan oleh-Nya untuk kita, dan tidak melampauinya. Allah ta’ala telah menutup ilmu tentang takdir atas segala alam semesta. Maka tidak ada seorang nabi pun dan seorang malaikat pun yang mengetahuinya..dst.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim: 16/196).

Semoga tulisan ini membawa manfaat. Amien.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Iklan

Ditandai:, , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: