Penyalahgunaan al-Jarh wat Ta’dil

 Penyalahgunaan al-Jarh wat Ta’dil
[Refreshing ‘Ulumul Hadits’]
Sekilas tentang Ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil, Radd atau Bantahan kepada Ahlul Bid’ah, Manhaj Muwazanah, ‘al-Inshaf’, Menghukumi Manusia dan Khabar (Berita) Orang Tsiqat
Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Mukaddimah. 3

Batasan al-Jarh wat Ta’dil 7

Al-Jarh wat Ta’dil dalam Persaksian Pengadilan. 9

Apakah al-Jarh wat Ta’dil sudah Selesai Masanya. 10

Jawaban Shalih Fauzan dan Ibnu Utsaimin. 19

‘Nasehat’ menurut Ibnu Taimiyah. 21

Termasuk Bab Dharurat dan Hajat. 23

Sisi Lain al-Jarh wat Ta’dil 25

Membantah Ahlul Bid’ah. 27

Membantah Tanpa Menyebutkan Nama. 28

Membantah dengan Santun. 30

Muwazanah dalam Tahdziran dan Bantahan. 31

Pengertian ‘al-Inshaf’ 37

Keutamaan ‘al-Inshaf’ 38

Muwazanah dalam al-Jarh wat Ta’dil 39

Antara ‘Adil’ dan ‘Fasiq’ 47

Indahnya Ucapan asy-Syafi’i 50

Muwazanah adalah Ijma’ Ulama. 52

Perkara Bid’ah pada Perawi 53

Muwazanah untuk Sifat Dhabith. 58

Antara Persaksian dan Periwayatan. 60

‘Tsiqat’ melalui Mayoritas. 60

Antara Pengkritik yang Adil dan Pengkritik yang Mutasyaddid. 61

Muwazanah ala Murjiah. 62

Antara Khabar Tsiqat dan Masalah Ijtihadiyah. 69

Kaidah ‘al-Jarh al-Mufassar’ 78

Ulama Seusia dan Semasa. 85

Antara ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan Vonis Tabdi’ dan Tafsiq. 90

Sering Mencela Sehingga Dijauhi 94

Penutup. 96

 

 

 

 

 

Mukaddimah

الحمد لله الذي رفع بعض خلقه على بعض درجات، وميز بين الطيب والخبيث بالدلائل والسمات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ذو الاسماء الحسنى والصفات وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث بالايات البينات، والحجج النيرات، الآمر بتنزيل الناس ما يليق بهم من المنازل والمقامات صلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه الانجاب الكرماء الثقات

أما بعد:

Di masa sekarang ini terjadi sikap ghuluw di dalam penerapan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Mereka yang mengaku ‘Salafi’ gemar mentahdzir para ulama as-Sunnah, para da’i as-Sunnah hanya karena beberapa kesalahan yang mereka lakukan. Banyak ulama dan pakar yang dijatuhkan kehormatannya oleh kelompok ini dengan alasan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Benarkah demikian?

Di antara contohnya adalah tahdzir terhadap Dr Zakir Naik hanya karena beberapa kesalahan yang beliau lakukan. Yang melakukan tahdzir adalah Ustadz Luqman Ba’abduh. Ia berkata: “Hadza (Dr. Zakir Naik, pen) Jahil..Jahil! Ya. Barakallah fiikum… Maka wajib al-Jarh wat Ta’dil, jarh ala majruhin wa Ta’dil ash-Shalihin. Mengkritisi, mentahdzir ummat dari ahlul batil, ahlul jarh, dan merekomendasi, memuji, mengajak ummat kepada ahlu al-Adl, ash-Shalihin.” (Mengenal Akidah dan Manhaj Zakir Naik, menit: 8:10-8:18).

Padahal tidak ada seorang ulama dakwah pun yang menyatakan bahwa Dr. Zakir Naik adalah orang sesat. Bahkan beliau mendapatkan penghargaan bergengsi dari Raja Salman Saudi Arabia (king Faisal Award) atas jasanya terhadap Islam. Acara pemberian hadiah ini langsung dihadiri oleh Raja Salman, para menteri, anggota keluarga kerajaan, pejabat senior, akademisi dan sejumlah ulama terkemuka. (Lihat: http://www.muslimdaily.net/berita/zakir-naik-terima-penghargaan-dari-raja-saudi.html)

Mereka juga mudah sekali mengeluarkan seorang ulama as-Sunnah dari Manhaj as-Salaf dengan alasan ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Ini bisa dilihat dari pertanyaan yang berjudul Apakah Syaikh Abdurrazzaq Al Badri masih berjalan diatas manhaj salaf?” yang kemudian dijawab secara panjang lebar oleh Ust Askari dari kalangan Jamaah Tahdzir. Lihat: https://www.thalabilmusyari.web.id/2016/08/syaikh-abdurrazzaq-dan-penjelasan.html).

Sehingga dengan beberapa kesalahan saja, seorang ulama dan pakar yang banyak berjasa dan ber-khidmat di dalam agama ini- mudah begitu saja dijatuhkan oleh mereka.

Al-Imam Amir bin Syurahil asy-Sya’bi (wafat tahun 103 H) rahimahullah berkata:

والله لو أصبت تسعاً وتسعين مرة، وأخطأت مرة، لأعدوا على تلك الواحدة

“Demi Allah, seandainya aku berbuat benar 99 kali dan berbuat salah sekali, maka mereka akan menganggapku tercela dengan satu kesalahan tersebut.” (Siyar A’lamin Nubala’: 4/308).

Mereka juga berdalil dengan jawaban asy-Syaikh Rabi’ ketika membantah sebagian ulama yang menyatakan bahwa ‘al-Jarh wat Ta’dil’ hanya khusus pada jaman perawi hadits, tidak berlaku untuk saat ini. Beliau menyatakan:

هذا من الضياع وعدم الفقه في دين الله عز وجل، فالسلف ألّفوا كتبا في العقائد ينتقدون فيها أهل البدع والضلال وسمّوا أفرادا وجماعات فهل هذا يعني انتهى أيضا؟! ونقول: إن المبتدعين الذين كانوا في عهد السلف يناقشون ويُبيّن ضلالهم والآن لا يجوز, حرام, الآن الكلام على أهل البدع حرام

“Ini (pernyataan bahwa al-Jarh wat Ta’dil tidak berlaku di jaman ini, pen) adalah termasuk menyia-siakan agama, dan menunjukkan tidak adanya pemahaman terhadap agama Allah azza wajalla. As-Salaf menulis kitab-kitab dalam bidang akidah yang mana mereka mengkritik ahlul bid’ah dan orang-orang sesat dalam kitab tersebut. Mereka juga menyebutkan orang per orang, kelompok per kelompok. Apakah ini sudah selesai (yakni: tidak berlaku, pen)?? Kami katakan: Ahlul bid’ah pada masa as-Salaf itu didebat, dibantah dan dijelaskan kesesatan mereka, kemudian pada masa sekarang dilarang (membantah, pen) dan haram. Sekarang membicarakan ahlul bid’ah haram..dst.” (Lihat: http://www.rabee.net/ar/save.php?typ=2&newsid=57).

Mereka juga menolak manhaj ‘Muwazanah’ (menimbang antara kebaikan dan keburukan perawi hadits, pen) dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dengan hanya bersandar pada pernyataan asy-Syaikh Rabi’:

وبهذه المناسبة أقول لكم: إن الحاكم -رحمه الله- في كتابه “معرفة علوم الحديث” قال -وكلامه حق- : الجرح والتعديل علمان: علم الجرح وهو علم مستقل، وهذا يرد منهج الموازنات الباطل, علم الجرح علم مستقل ولهذا ألّف كثيرٌ من الأئمة كتباً مستقلة في الجرح فقط, خصّصوها للجرح، مثل البخاري في الضعفاء والنسائي في المتروكين وابن حبان في المجروحين وابن عدي في الكامل وهكذا الذهبي وابن حجر وغيرهم، كثيرون ألفوا مؤلفات خاصة بالجرح فقط، لأنه علم مستقل, وهذا يقصم ظهر منهج الموازنات ويقصم ظهور أهله، وأئمة آخرون ألفوا كتباً في الثقات مثل الثقات للعجلي والثقات لابن حبان، عرفتم هذا ؟ إذا كان السلف يؤمنون بأن الجرح والتعديل علمان مستقلان فكيف تأتي الموازنات, واحد يؤلّف كتابا خاصا بالجرح ليس فيه أيّ ثغرة لمنهج الموازنات, فهمتم هذا، بارك الله فيكم.

“Pada kesempatan ini aku berkata kepada kalian: Sesungguhnya al-Imam al-Hakim rahimahullah berkata dalam kitabnya ‘Ma’rifah Ulumil Hadits’ –dan ucapannya adalah benar-: “Al-Jarh wat Ta’dil itu terdiri dari 2 ilmu; ilmu al-Jarh, yaitu ilmu yang berdiri sendiri. Ini membantah ‘Manhaj Muwazanah’ yang batil. Ilmu al-Jarh (yakni: mencela perawi, pen) itu ilmu yang berdiri sendiri. Oleh karena itu kebanyakan para imam menulis tersendiri kitab-kitab yang khusus membahas al-Jarh saja. Mereka hanya mengkhususkan dengan mencela para perawi saja, seperti al-Bukhari dalam adh-Dhu’afa’, an-Nasa’i dalam al-Matrukin, Ibnu Hibban dalam al-Majruhin, Ibnu Adi dalam al-Kamil. Demikian pula adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar dan selain mereka. Banyak sekali yang menulis kitab khusus tentang al-Jarh (mencela perawi, pen) saja, karena memang ilmu yang berdiri sendiri. Maka ini menghantam punggung ‘Manhaj Muwazanah’ dan juga menghantam punggung para pengikutnya. Sedangkan ulama yang lainnya menulis kitab tentang orang-orang tsiqat seperti ats-Tsiqat karya al-Ijli, ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban. Apa kalian mengetahui ini? Jika as-Salaf itu mengimani bahwa al-Jarh wat Ta’dil itu 2 ilmu yang berdiri sendiri, maka bagaimana bisa datang konsep ‘al-Muwazanah’? Seorang ulama menulis kitab khusus tentang al-Jarh yang mana tidak ada celah terhadap ‘Manhaj Muwazanah’. Kalian mengerti ini? Barakallah fiikum.” (Lihat: http://www.rabee.net/ar/save.php?typ=2&newsid=57).

Intinya kesalahan dan penyimpangan dari ‘Jamaah Tahdzir’ ini terkumpul pada tiga hal:

Pertama: membuka, menerapkan dan memberlakukan ‘al-Jarh wat Ta’dil’ secara serampangan kepada para ulama as-Sunnah dan dai-dai mereka di jaman ini.

Kedua: antipati dan memusuhi terhadap ‘Manhaj Muwazanah’ di dalam menilai para perawi hadits.

Ketiga: berlebih-lebihan dalam melakukan ‘al-Jarh’ atau mencela Ahlussunnah yang tergelincir.

Dalam tulisan ini Penulis –insya Allah- menjelaskan batilnya manhaj ‘Jamaah Tahdzir’ ini dan bid’ahnya manhaj ‘Anti Muwazanah’ yang lagi nge-trend di jaman ini. Di antara dampak bahaya dari pemikiran ini adalah mudahnya mereka menjatuhkan kehormatan kaum muslimin dan para da’i mereka hanya karena beberapa kesalahan saja, tanpa mempertimbangkan kebaikan-kebaikan mereka, atas nama ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang kita dari mencari-cari kesalahan para ulama, para da’i dan orang-orang shalih. Beliau bersabda:

أقِيلُوا ذَوِي الهيئاتِ عَثَراتِهم إلا الحُدُودَ

Maafkanlah orang-orang yang mulia ketika mereka terjatuh dalam kesalahan, kecuali hukum hadd.” (HR. Abu Dawud: 4377, Ahmad: 25474 dan al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad: 465 (165) dari Aisyah radliyallahu anha. Hadits ini di-hasan-kan oleh ash-Shan’ani dalam at-Tanwir: 3/22-3 dan di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 1185).

Al-Imam Syarafuddin ath-Thibi asy-Syafi’i (wafat tahun 743 H) rahimahullah berkata:

والمراد بـ ((ذوي الهيئات)) أصحاب المروءات والخصال الحميدة. وقيل: ذوو الوجوه بين الناس، (وبالعثرات) صغائر الذنوب، وما يندر عنهم من الخطايا..الخ

“Yang dimaksud dengan ‘Orang-orang yang mulia’ adalah orang-orang yang memegangi sikap ‘muru’ah’ dan mempunyai banyak sifat yang terpuji. Ada yang menyatakan bahwa mereka adalah yang terpandang di kalangan manusia. Yang dimaksud dengan ‘kesalahan di sini’ adalah dosa-dosa kecil dan kesalahan yang jarang terjadi pada mereka..dst.” (Al-Kasyif an Haqa’iqis Sunan Syarh Misykatil Mashabih: 8/2523).

Al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i (wafat tahun 1031 H) rahimahullah berkata:

وخرج بذوي الهيئات من عرف بالأذى والعناد بين العباد فلا يقال له عثار بل تضرم عليه النار..الخ

“Dan yang dikecualikan dari pengertian ‘Orang-orang yang mulia’ adalah orang yang dikenal senang menzhalimi dan dikenal dengan penyimpangannya di kalangan manusia. Maka tidak boleh dikatakan bahwa dia terjatuh dalam kesalahan, tetapi dia diancam dengan dinyalakannya api neraka untuknya..dst.” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 2/94).

Hadits di atas menunjukkan perlunya menimbang atau ‘Muwazanah’ sebelum menghukumi manusia.

Akhirnya Penulis mengutip ucapan al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) rahimahullah:

ونحب السنة وأهلها، ونحب العالم على ما فيه من الاتباع والصفات الحميدة، ولا نحب ما ابتدع فيه بتأويل سائغ، وإنما العبرة بكثرة المحاسن

“Kami mencintai as-Sunnah dan pengikutnya. Kami juga mencintai seorang alim dengan sifat mengikuti as-Sunnah dan sifat terpuji lainnya yang ada padanya. Dan kami membenci perbuatan bid’ahnya dengan penakwilan yang diperbolehkan. Yang dianggap adalah banyaknya kebaikan (pada orang alim tersebut, pen).” (Siyar A’lamin Nubala’: 20/46).

Babat, 8 Jumadal Akhirah 1437 H

dr. M Faiq Sulaifi

Batasan al-Jarh wat Ta’dil

Dari definisi yang ada, ‘al-Jarh wat Ta’dil’ itu hanya terbatas pada periwayatan hadits saja. Al-Allamah Musthafa Haji Khalifah rahimahullah (wafat tahun 1063 H) menyatakan dalam ‘Kasyfuzh Zhunun’ Bab huruf Jim:

علم الجرح والتعديل  هو: علم يبحث فيه عن جرح الرواة وتعديلهم بألفاظ مخصوصة وعن مراتب تلك الألفاظ

“Ilmu al-Jarh wat Ta’dil adalah ilmu yang membahas tentang ‘mencela’ para perawi hadits (sehingga haditsnya ditolak, pen) dan ‘menilai adil’ terhadap mereka (sehingga haditsnya diterima, pen) dengan lafazh-lafazh khusus dan tentang tingkatan dari lafazh-lafazh tersebut.” (Kasyfuzh Zhunun an Asamil Kutub wal Funun: 1/582).

Sebenarnya batasan ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’ sudah diterangkan oleh ulama terdahulu, yaitu al-Imam Ibnu Abi Hatim ar-Razi (wafat tahun 327 H) rahimahullah. Muhammad bin al-Fadhel al-Abbas rahimahullah berkata:

كنا عند عبد الرحمن بن أبي حاتم وهو يقرأ علينا كتاب الجرح والتعديل فدخل عليه يوسف بن الحسين الرازي فقال: يا أبا محمد ما هذا الذي تقرؤه على الناس؟ قال: كتاب صنفته في الجرح والتعديل ، قال :وما الجرح والتعديل ؟ قال : أظهر أحوال أهل العلم من كان منهم ثقة أو غير ثقة

“Kami berada di sisi al-Imam Abdurrahman bin Abi Hatim. Sedangkan beliau sedang membacakan kitab ‘al-Jarh wat Ta’dil’ (karya beliau, pen). Kemudian Yusuf bin al-Husain ar-Razi masuk dan bertanya: “Apa ini yang sedang Anda bacakan kepada manusia?” Beliau menjawab: “Sebuah kitab yang aku tulis tentang ‘al-Jarh wat Ta’dil’.” Yusuf bertanya: “Apakah ‘al-Jarh wat Ta’dil’ itu?” Beliau menjawab: “Aku menjelaskan keadaan para ulama siapa di antara mereka yang tsiqat dan yang tidak tsiqat.” (Atsar riwayat al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Kifayah fi Ilmir Riwayah: 38).

Ucapan Ibnu Abi Hatim “yang tsiqat dan yang tidak tsiqat” di atas menunjukkan bahwa ilmu al-Jarh wat Ta’dil itu hanya terbatas pada perawi hadits, karena kata ‘tsiqat’ itu khusus untuk para perawi hadits.

Al-Imam Syamsuddin adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) rahimahullah pernah menerangkan batasan perawi ‘tsiqat’. Beliau berkata:

فمن هذا الوقت بل وقبله صار الحفاظ يطلقون هذه اللفظة على الشيخ الذي سماعه صحيح بقراءة متقن، وإثبات عدل، وترخصوا في تسميته بالثقة، وإنما الثقة في عرف أئمة النقد كانت تقع على العدل في نفسه، المتقن لما حمله، الضابط لما نقل، وله فهم ومعرفة بالفن، فتوسع

“Dari waktu sekarang, bahkan sebelumnya, para penghafal hadits menyebut lafazh ini (yakni: kata ‘tsiqat’, pen) untuk seorang syaikh yang sah dalam hal mendengarkan hadits, dengan bacaan yang mutqin, serta menetapkan sifat ‘adil’ pada syaikh tersebut. Maka mereka bermudah-mudahan di dalam penamaan ‘tsiqat’. Adapun pengertian ‘tsiqat’ menurut para imam ahli al-Jarh wat Ta’dil, maka meliputi sifat ‘adil’ dalam dirinya, mutqin terhadap hadits yang diriwayatkannya, dhabith di dalam penukilannya dan mempunyai pemahaman dan pengetahuan dalam bidang periwayatan hadits. Maka definisi ini menjadi luas.” (Siyar A’lamin Nubala’: 16/70).

Adapun tentang ‘lafazh-lafazh khusus dan tentang tingkatan dari lafazh-lafazh tersebut’, maka al-Imam Ibnu Katsir (wafat tahun 774 H) rahimahullah berkata:

قال الخطيب البغدادي: أعلى العبارات في التعديل والتجريح أن يقال: حجة أو ثقة، وأدناها أن يقال : كذاب.

 قلت: وبين ذلك أمور كثيرة يعسر ضبطها ، وقد تكلم الشيخ أبو عمر على مراتب منها، وسمى اصطلاحات في أشخاص ينبغي التوقيف عليها ، من ذلك : أن البخاري أيضا قال في الرجل: سكتوا عنه أو فيه نظر : فإنه يكون في أدنى المنازل وأفضحها عنده ، ولكنه لطيف العبارة في التجريح ، فليعلم ذلك . وقال ابن معين: إذا قلت: ليس به بأس فهو ثقة. قال ابن أبي حاتم : إذا قيل : صدوق أو محله الصدق أو لا بأس به ، فهو من من يُكتب حديثه وينظر فيه .

“Al-Khathib al-Baghdadi berkata: “Ungkapan (baca: lafazh, pen) yang tertinggi dalam al- Jarh (celaan, pen) dan at-Ta’dil (pujian, pen) adalah ‘hujjah’ atau ‘tsiqat’. Dan ungkapan yang paling rendah adalah ‘kadzdzab’ (pendusta, pen).”

Aku (Ibnu Katsir) berkata: Di antara keduanya (tingkatan yang tertinggi dan yang terendah, pen) terdapat banyak perkara (yakni: lafazh dan tingkatan, pen) yang sulit untuk membatasinya. Asy-Syaikh Abu Amr (Ibnush Shalah, pen) membicarakan tingkatan-tingkatan tersebut dan menyebutkan istilah tingkatan yang digunakan oleh beberapa ulama yang harus diperhatikan. Di antaranya: al-Bukhari jika menyebutkan tentang seseorang dengan kalimat ‘mereka mendiamkannya’ atau ‘di dalamnya terdapat tinjauan’, maka menunjukkan tingkatan terendah menurut beliau, hanya saja beliau itu mempunyai ungkapan yang lembut ketika men-Jarh (mencela, pen), maka hendaknya diketahui. Ibnu Ma’in berkata: “Jika aku berkata ‘Laa ba’sa bih’ (tidak mengapa dengannya, pen), maka ia adalah ‘tsiqat’.” Ibnu Abi Hatim berkata: “Jika dikatakan: ‘Shaduq’ atau ‘Mahalluhu ash-shidq’, atau ‘Laa ba’sa bih’, maka termasuk orang yang ditulis haditsnya dan ditinjau.” (Al-Ba’itsul Hatsits fi Ikhtishar Ulumil Hadits: 13).

Al-Jarh wat Ta’dil dalam Persaksian Pengadilan

Selain dalam periwayatan hadits dan khabar, ‘al-Jarh wat Ta’dil’ juga dibutuhkan dalam persaksian di pengadilan. Al-Allamah Taqiyuddin Abu Bakar al-Hishni asy-Syafi’i ad-Dimasyqi (wafat tahun 928 H) rahimahullah berkata:

قوله (ولا تقبل الشهادة إلا ممن ثبتت عدالته) العدالة في الشهادة معتبرة بنص القرآن العظيم وصفتها تأتي إن شاء الله تعالى فإذا شهد عند القاضي شهود فإن عرف فسقهم رد شهادتهم ولم يحتج إلى بحث وإن عرف عدالتهم قبل شهادتهم ولا حاجة إلى التعديل وإن طلبه الخصم ولم يعرف حالهم لم يجز قبول شهادتهم والحكم بها إلا بعد الاستزكاء والتعديل

“Ucapan Matan Abu Syuja’ “Dan tidak diterima persaksian itu kecuali dari orang yang tetap sifat ‘adil’ padanya”, sifat ‘adil’ dalam persaksian itu dianggap dengan teks al-Quran. Dan perinciannya akan menyusul Insya Allah. Jika beberapa saksi bersaksi di depan qadhi (hakim), padahal telah diketahui kefasikan mereka, maka persaksian mereka ditolak. Hakim tidak perlu melakukan pembahasan. Jika mereka telah dikenal sifat ‘adil’ mereka, maka persaksian mereka diterima, dan tidak dibutuhkan ‘at-Ta’dil’ lagi. Apabila orang yang bersengketa di pengadilan itu meminta adanya saksi-saksi, sedangkan keadaan mereka belum diketahui, maka tidak boleh menerima persaksian mereka dan menghukumi perkara dengan persaksian tersebut, kecuali setelah meminta rekomendasi dan ‘at-Ta’dil’..dst.” (Kifayatul Akhyar fi Hilli Ghayatul Ikhtishar: 4/44-45).

Maksud ucapan al-Hishni “persaksian itu dianggap dengan teks al-Quran” adalah seperti dalam firman Allah ta’ala:

وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ

“Dan ambillah persaksian dengan dua saksi adil di antara kalian.” (QS. Ath-Thalaq: 2).

Hanya saja ‘at-Ta’dil untuk persaksian di pengadilan tidak seketat dan tidak serumit ‘at-Ta’dil’ terhadap para perawi hadits. Dan ‘at-Ta’dil’ untuk persaksian tidak mengenal tingkatan sebagaimana ‘Tingkatan al-Jarh wat Ta’dil’ dalam ilmu hadits.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 723 H) rahimahullah berkata:

قَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ: وَعَلَى هَذِهِ الطَّرِيقَةِ فَكُلُّ لَفْظٍ يَحْصُلُ بِهِ تَعْدِيلُ الشُّهُودِ مِثْلُ أَنْ يَقُولَ النَّاسُ فِيهِ لَا نَعْلَمُ إلَّا خَيْرًا، كَمَا نُقِلَ عَنْ شُرَيْحٍ وَسَوَّارٍ وَغَيْرِهِمَا ثُمَّ وَجَدْت الْقَاضِيَ قَدْ احْتَجَّ فِي الْمَسْأَلَةِ بِأَنَّ عُمَرَ سَأَلَ رَجُلًا عَنْ رَجُلٍ فَقَالَ لَا نَعْلَمُ إلَّا خَيْرًا

“Abul Abbas berkata: “Maka menurut jalan ini, setiap lafazh yang bisa menunjukkan ‘at-Ta’dil’ bagi para saksi, seperti ucapan manusia “Aku tidak mengetahuinya kecuali sebagai orang baik”, maka bisa dipakai sebagai ta’dil, sebagaimana dinukilkan dari Syuraih, Sawwar dan lainnya. Kemudian aku mendapatkan bahwa al-Qadhi (Abu Ya’la, pen) berdalil dalam masalah ini dengan atsar bahwa Umar pernah bertanya kepada seseorang tentang seseorang lain, maka orang itu menjawab: “Aku tidak mengenalnya kecuali sebagai orang yang baik..dst.” (Al-Fatawa al-Kubra: 5/561-2).

Apakah al-Jarh wat Ta’dil sudah Selesai Masanya

Kelompok yang menyalahgunakan ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’ hanya bersandar pada fatwa asy-Syaikh Rabi: “Ini (pernyataan bahwa al-Jarh wat Ta’dil tidak berlaku di jaman ini, pen) adalah termasuk menyia-siakan agama, dan menunjukkan tidak adanya pemahaman terhadap agama Allah azza wajalla. As-Salaf menulis kitab-kitab dalam bidang akidah yang mana mereka mengkritik ahlul bid’ah dan orang-orang sesat dalam kitab tersebut…dst.”

Tanggapan: Padahal terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terdahulu apakah al-Jarh wat Ta’dil itu hanya khusus untuk jaman periwayatan ataukah berlaku sampai sekarang.

Al-Hafizh Syamsuddin as-Sakhawi asy-Syafi’i (wafat tahun 902 H) rahimahullah berkata:

فإن قيل قد شغف جماعة من المتأخرين القائلين بالتاريخ وما أشبهه كالذهبي ثم شيخنا بذكر المعائب ولو لم يكن المعاب من أهل الرواية وذلك غيبة محضة ولذا تعقب ابن دقيق العيد ابن السمعاني في ذكره بعض الشعراء وقدح فيه بقوله إذا لم يضطر إلى القدح فيه للرواية لم يجز ونحوه قول ابن المرابط قد دونت الأخبار وما بقي للتجريح فائدة بل انقطعت من رأس الأربعمائة ودندن هو وغيره ممن لم يتدبر مقاله بعيب المحدثين بذلك ( قلت ) والملحوظ في تسويغ ذلك كونه نصيحة ولا انحصار لها في الرواية فقد ذكروا من الأماكن التي يجوز فيها ذكر المرء بما يكره ولا يعد ذلك غيبة بل هو نصيحة واجبة أن تكون للمذكور ولاية لا يقوم بها على وجهها إما بأن لا يكون صالحا لها وإما بأن يكون فاسقا أو مغفلا أو نحو ذلك فيذكر ليزال بغيره ممن يصلح أو يكون مبتدعا أو فاسقا ويرى من يتردد إليه للعلم ويخاف عليه عود الضرر من قبله فيعلمه ببيان حاله ويلتحق بذلك المتساهل في الفتوى أو التصنيف أو الأحكام أو الشهادات أو النقل أو المتساهل في ذكر العلماء أو في الرشاد والارتشاء إما بتعاطيه له أو بإقراره عليه مع قدرته على منعه أو أكل أموال الناس بالحيل والافتراء أو الغاصب لكتب العلم من أربابها أو المساجد بحيث تصير ملكا أو غير ذلك من المحرمات فكل ذلك جائز أو واجب ذكره ليحذر ضرره..الخ

 “Apabila dikatakan bahwa sebagian ulama muta’akhirin yang ahli dalam bidang tarikh semisal adz-Dzahabi kemudian syaikh kami (yakni Ibnu Hajar, pen) mempunyai minat di dalam membicarakan aib para tokoh, meskipun mereka bukan perawi hadits. Dan ini adalah murni perbuatan ghibah. Oleh karena itu Ibnu Daqiqil Ied -ketika membantah Ibnus Sam’ani yang mencela para penyair- berkata: “Jika tidak dibutuhkan untuk mencela seseorang  dalam rangka periwayatan hadits, maka tidak diperbolehkan.” Dan juga seperti pendapat Ibnul Murabith yang menyatakan bahwa as-Sunnah sudah dibukukan sehingga tidak ada faidah lagi di dalam mencela manusia, bahkan al-jarh wat ta’dil sudah selesai sejak awal tahun 400 H. Dan para ulama seperti mereka yang secara tidak sadar telah mencela Ahlul Hadits dengan pendapat itu.

Maka aku (as-Sakhawi, pen) katakan: “Perkara yang mendorong untuk diperbolehkannya ‘al-Jarh wat Ta’dil’ terhadap selain perawi hadits adalah bahwa ‘al-Jarh wat Ta’dil’ itu termasuk ‘Nasehat’, maka tidak terbatas pada para perawi hadits saja. Maka para ulama menyebutkan tempat-tempat diperbolehkannya menceritakan aib seseorang, dan tidak dianggap sebagai ghibah, tetapi merupakan nasehat yang wajib, seperti seseorang yang mempunyai kekuasaan tetapi ia tidak mempergunakan sebagaimana mestinya. Adakalanya ia bukan orang shalih, atau merupakan orang dungu atau lalai dan sebagainya, maka aibnya diceritakan (kepada penguasa, pen) agar ia diganti dengan yang lebih baik, atau seorang Ahlul Bid’ah atau fasiq padahal banyak orang mendatanginya untuk mengambil ilmu dan dikhawatirkan muncul bahaya darinya, maka diumumkan keadaannya agar diketahui. Begitu pula orang yang bermudah-mudahan di dalam berfatwa, menulis, menghukumi orang lain, memberikan persaksian, atau menukil berita, atau orang yang bermudah-mudahan di dalam membicarakan aib para ulama, atau orang yang bermudah-mudahan dalam perkara suap, baik memberikannya atau menyetujuinya padahal ia mampu mencegahnya, atau orang yang bermudah-mudahan memakan harta manusia dengan cara tipu daya dan berdusta, atau seorang yang mencuri kitab dari pemiliknya (plagiator, pen), seorang yang ghashab (mengambil tanpa ijin, pen) terhadap masjid yang kemudian menjadi miliknya, dan perkara haram lainnya. Maka itu semua boleh bahkan wajib diceritakan agar bahayanya bisa dijauhi…dst.” (Fathul Mughits fi Syarh Alfiyah Musthalahil Hadits: 3/358).

Akan tetapi pernyataan as-Sakhawi di atas dibantah oleh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi (wafat tahun 911 H) rahimahullah. Al-Allamah Abul Hasanat Muhammad Abdul Hayy al-Luknawi (wafat tahun 1304 H) rahimahullah menukilkan ucapan as-Suyuthi:

فان قال لا بد من جرح الرواة والنقلة وذكر الفاسق والمجروح من الحملة فالجواب أولا أن كثيرا ممن جرحهم لا رواية لهم فالواجب فيهم شرعا أن يسكت عن جرحهم ويهمله وثانيا أن الجرح انما جوز في الصدر حيث كان الحديث يؤخذ من صدور الأحبار لا من بطون الأسفار فاحتيج اليه ضرورة للذب عن الاثار ومعرفة المقبول والمردود من الأحاديث والأخبار وأما الان فالعمدة على الكتب المدونة غاية ما في الباب انهم شرطوا لمن يذكر الان في سلسلة الاسناد تصونه وثبوت سماعه بخط من يصلح عليه الاعتماد..الخ

“Jika ia (as-Sakhawi, pen) berkata: “Harus ada al-Jarh (celaan, pen) kepada para perawi dan penukil hadits dan menyebutkan orang-orang fasiq dan yang tercela di kalangan pembawa hadits.” Maka kami jawab: “Pertama: kebanyakan orang-orang yang di-jarh (dicela) oleh as-Sakhawi tidak ada hubungannya dengan periwayatan hadits. Maka perkara yang wajib secara syariat adalah bersikap diam dari mencela mereka dan melupakannya. Kedua: al-Jarh wat Ta’dil hanyalah diperbolehkan pada generasi di mana hadits-hadits diambil dari dalam dada (yakni hafalan, pen) para ulama, bukan dari perut kitab-kitab hadits. Oleh karena itu dibutuhkan secara darurat untuk membela hadits dan mengetahui hadits yang diterima dan hadits yang ditolak. Adapun masa sekarang (yakni: masa as-Suyuthi dan as-Sakhawi, pen), maka berpegang dengan kitab-kitab yang dibukukan sudah mencukupi dalam bab ini, hanya saja para ulama memberikan persyaratan bagi orang yang menyebutkan rantai sanad dengan syarat terjaga dan tetapnya sifat sima’ (mendengarkan hadits, pen) dengan dasar tulisan orang yang bisa dijadikan pegangan..dst.” (Ar-Raf’u wat Takmil fil Jarh wat Ta’dil: 65).

Penulis berkata:

Yang benar adalah bahwa ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’ hanya dikhususkan untuk para perawi hadits sebagaimana pendapat al-Imam Ibnu Daqiqil Ied dan as-Suyuthi rahimahumallah di atas, dengan alasan:

Pertama: Ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’ mempunyai lafazh-lafazh khusus sebagaimana dalam definisi ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Telah berlalu ucapan Musthafa Haji Khalifah bahwa “Ilmu al-Jarh wat Ta’dil adalah ilmu yang membahas tentang ‘mencela’ para perawi hadits (sehingga haditsnya ditolak, pen) dan ‘menilai adil’ terhadap mereka (sehingga haditsnya diterima, pen) dengan lafazh tertentu dan tentang tingkatan dari lafazh-lafazh tersebut.” (Kasyfuzh Zhunun an Asamil Kutub wal Funun: 1/582).

Kedua: terdapat perbedaan titik berat dan tujuan antara ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan antara ‘Radd (Bantahan) dan Tahdzir kepada ahlul bid’ah’. ‘Al-Jarh wat Ta’dil’ dititikberatkan pada pengungkapan cacat perawi dalam rangka melindungi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari pemalsuan. Sedangkan ‘Bantahan dan Tahdzir’ dititikberatkan pada pemaparan kesesatan seseorang kemudian dibantah dengan dalil-dalil dalam rangka melindungi kaum muslimin dari kesesatannya dan agar pelaku kesesatan kembali kepada al-Haqq.

Al-Imam Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi (wafat tahun 463 H) rahimahullah berkata:

لما كان أكثر الأحكام لا سبيل إلى معرفته إلا من جهة النقل لزم النظر في حال الناقلين، والبحث عن عدالة الراوين، فمن ثبتت عدالته جازت روايته، وإلا عدل عنه والتمس معرفة الحكم من جهة غيره لأن الأخبار حكمها حكم الشهادات في أنها لا تقبل إلا عن الثقات

“Oleh karena kebanyakan sumber hukum syariat itu tidak ada cara untuk mengetahuinya kecuali melalui arah penukilan hadits, maka diwajibkan untuk meneliti para penukil berita dan membahas sifat ‘adil’ dari perawi. Sehingga barangsiapa yang telah kokoh sifat adilnya, maka diperbolehkan periwayatannya. Jika tidak, maka hendaknya berpaling darinya dan mencari pengetahuan hukum syariat dari orang lain, karena hukum periwayatan sama dengan hukum persaksian dalam keharusan menerima hanya dari orang-orang tsiqat.” (Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’: 2/200).

Sedangkan Bab ‘Tahdzir dan Membantah Penyimpangan’ ditegakkan dengan memaparkan penyimpangan ahlul bid’ah, kemudian dibantah dengan al-Kitab, as-Sunnah dan al-Ijma’. Al-Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وهكذا الرد على أهل البدع من الرافضة وغيرهم إن لم يقصد فيه بيان الحق وهدى الخلق ورحمتهم والإحسان إليهم لم يكن عمله صالحا وإذا غلظ في ذم بدعة و معصية كان قصده بيان ما فيها من الفساد ليحذرها العباد كما في نصوص الوعيد وغيرها..الخ

“Demikian pula Radd (bantahan) kepada ahlul bid’ah dari kalangan Rafidhah dan lainnya, jika tidak diniatkan untuk menjelaskan al-Haq, serta untuk memberikan petunjuk, merahmati dan berbuat kebaikan kepada manusia, maka itu bukan termasuk amal shalih. Jika si pembantah mengeraskan celaan terhadap bid’ah dan maksiat, maka tujuannya adalah untuk menjelaskan kerusakan di dalam perkara yang diperingatkan tersebut, agar manusia menjauhinya sebagaimana dalam teks ayat dan hadits tentang ancaman siksa dan selainnya..dst.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah: 5/161).

Sehingga contoh yang dibawakan oleh as-Sakhawi di atas bukanlah Bab ‘al-Jarh wat Ta’dil’, tetapi termasuk dalam ‘Bab Tahdzir dan Membantah Ahlul Bid’ah’.

Ketiga: Terdapat perbedaan antara orang yang pertama kali melakukan ‘Tahdzir dan Bantahan kepada Orang yang Menyimpang’ dan orang yang pertama kali melakukan ‘al-Jarh wat Ta’dil’ atas perawi hadits. Adapun yang pertama kali melakukan ‘Tahdzir dan Bantahan kepada Orang yang Menyimpang’ secara umum, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu anhum adalah orangnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

حتى متى ترعون عن ذكر الفاجر اهتكوه حتى يحذره الناس

“Sampai kapan kalian merasa berat untuk menceritakan orang fasiq? Singkaplah ia sampai manusia berhati-hati darinya.” (HR. Ath-Thabrani dalam ash-Shaghir: 598 (1/357) dan al-Kabir: 16680 (19/418). Al-Haitsami meng-hasan-kan isnadnya dalam al-Majma’ az-Zawaid: 662 (1/375)).

Sedangkan orang yang pertama kali secara khusus membicarakan sifat ‘adil dan dhabith’ seseorang dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ adalah al-Imam Syu’bah (wafat tahun 160 H) rahimahullah.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

ويقال: إن أول من تصدى للكلام في الرواة شعبة بن الحجاج، وتبعه يحيى بن سعيد القطان، ثم تلامذته: أحمد بن حنبل، وعلي بن المديني، ويحيى بن معين، وعمرو بن الفلاَّس، وغيرهم

“Dan dikatakan: Orang yang pertama kali mengkhususkan pembicaraan cacat para perawi hadits adalah Syu’bah bin al-Hajjaj. Kemudian diikuti oleh Yahya bin Sa’id al-Qaththan, kemudian murid-muridnya, yaitu: Ahmad bin Hanbal, Ali bin al-Madini, Yahya bin Ma’in, Amr bin al-Fallas dan sebagainya.” (Al-Ba’itsul Hatsits fi Ikhtishar Ulumil Hadits: 36).

Keempat: ‘Al-Jarh wat Ta’dil’ hanya berlaku pada masa periwayatan hadits, yaitu sekitar tahun 300 H. Seandainya kaedah-kaedah ‘al-Jarh wat Ta’dil’ yang sesungguhnya diterapkan pada kaum muslimin sekarang, niscaya kebanyakan mereka –bahkan para masyayikh dan asatidz sekalipun- tidak akan memenuhi kriteria ‘Perawi Tsiqat’. Sehingga yang banyak dijumpai adalah Syaikh Fulan dhaif haditsnya, Ustadz Allan matrukul hadits dan sebagainya.

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

فالحد الفاصل بين المتقدم والمتأخر هو رأس سنة ثلثمائة، ولو فتحت على نفسي تليين هذا الباب لما سلم معي إلا القليل، إذ الأكثر لا يدرون ما يروون، ولا يعرفون هذا الشأن، إنما سمعوا في الصغر، واحتيج إلى علو سندهم في الكبر، فالعمدة على من قرأ لهم، وعلى من أثبت طباق السماع لهم، كما هو مبسوط في علوم الحديث، والله الموفق، وبه الاستعانة، ولا قوة إلا به

“Batas pemisah antara periode ulama Mutaqaddimin dan Muta’akhirin (dalam bidang Ulumul Hadits, pen) adalah awal tahun 300 H. Seandainya aku (adz-Dzahabi, pen) membuka atas diriku untuk melunakkan bab ini, niscaya tidak akan selamat seorang tokoh pun bersamaku (dari al-Jarh atau celaan, pen) kecuali sedikit orang saja. Ini karena kebanyakan orang tidak mengetahui apa yang mereka riwayatkan, tidak mengerti tentang bab ini (sehingga tidak pantas untuk dinilai sebagai orang tsiqat, pen). Mereka hanyalah mendengar hadits ketika masih kecil kemudian membutuhkan sanad yang tinggi ketika sudah besar. Maka yang dianggap adalah atas orang membacakan hadits atas mereka dan menetapkan sima’ (pernah mendengar hadits, pen) bagi mereka, sebagaimana telah diterangkan dalam Ulumul Hadits. Allah-lah yang memberi taufik. Dengan-Nya meminta pertolongan dan tiada kekuatan kecuali dengan-Nya.” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal: 1/4).

Yang demikian karena sulitnya ditemui seorang ulama pada masa sekarang ini yang mempunyai sifat ‘dhabith’ (menguasai periwayatan, pen) yang sesungguhnya. Sedangkan ‘tsiqat’ sendiri ditegakkan dengan sifat ‘adil’ dan ‘dhabith’.

Al-Imam Abus Sa’adat Ibnul Atsir al-Jazari (wafat tahun 606 H) rahimahullah berkata:

أن الضبط في زماننا هذا بل وقبله من الأزمان المتطاولة , قل وجوده في العالم, وعز وقوعه؛ فإن غاية درجات المحدث – في زماننا – المشهور بالرواية, الذي ينصب نفسه لإسماع الحديث في مجالس النقل: أن تكون عنده نسخة قد قرأها أو سمعها أو في بلدته نسخة عليها طبقة سماع , اسمه مذكور فيها , أوله مناولة, أو إجازة بذلك الكتاب , فإذا سمع عليه استمع إلى قارئه, وكتب له بخطه بقراءته وسماعه, ولعل قارئه قد صحف فيه أماكن لا يعرفها شيخه , ولا عثر عليها, وإن سأله عنها كان أحسن أجوبته أن يقول: كذا سمعتها؛ إن فطن لها , وإذا اعتبرت أحوال المشايخ من المحدثين في زماننا وجدتها كذلك , أو أكثرها , ليس عندهم من الرواية علم, ولا لهم بصواب الحديث وخطئه معرفة , غير ما ذكرنا من الرواية , على الوجه المشروح..الخ

“Sifat ‘dhabith’ di jaman kita ini bahkan di jaman yang jauh sebelum kita, sangat sedikit keberadaannya di alam ini dan sangat jarang terjadi. Ini karena derajat tertinggi dari para Ahlul Hadits di jaman kita (yakni jaman Ibnul Atsir, pen) yang terkenal periwayatannya dan menyediakan dirinya untuk memperdengarkan hadits di majelis-majelis hadits; hanyalah mempunyai naskah yang ia bacakan atau naskah yang ia dengarkan atau di negerinya terdapat naskah hadits yang didalamnya tertulis sanad sima’ (mendengar, pen) dengan disebutkan nama-namanya, atau ia hanya mempunyai ‘Munawalah’ (ijazah untuk meriwayatkan, pen) atau ‘Ijazah’ kitab hadits tersebut. Jika ia ingin mendengarkan hadits itu, maka ia mendengarkannya dari guru yang membacakannya, kemudian ia mencatatnya berdasarkan apa yang ia dengar dan ia baca. Bisa jadi si murid yang membaca hadits di depan syaikhnya melakukan tash-hif (salah baca atau salah huruf, pen) dalam keadaan syaikhnya tidak mengetahui dan tidak menyadarinya. Jika ia ditanya tentang tash-hifnya, maka jawaban terbaik darinya adalah: “Aku mendengarnya demikian.” Jika aku (Ibnul Atsir, pen) mengamati keadaan Ahlul Hadits di jaman kami, maka aku mendapati kebanyakannya mereka demikian, tidak mempunyai sedikit pun ilmu melalui periwayatan langsung. Mereka juga tidak mempunyai pengetahuan tentang hadits yang benar dan hadits yang keliru (baik secara sanad ataupun matan, pen) kecuali dari periwayatan yang telah dijelaskan..dst.” (Jami’ul Ushul fi Ahaditsir Rasul: 1/74).

Sehingga jika ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dipaksakan oleh asy-Syaikh Rabi’ dan pengikutnya untuk diterapkan di masa kini, maka banyak ulama (bahkan asy-Syaikh Rabi’ pun) tidak bisa dikategorikan sebagai ‘tsiqat’ karena tidak mempunyai sifat ‘dhabith’ yang sesungguhnya dalam periwayatan.

Kelima: Adanya sanad setelah jaman pembukuan hadits tidak ditujukan untuk men-shahih-kan hadits atau i’tibar (mencari jalan hadits yang lain) agar hadits yang dhaif minimal bisa menjadi hadits hasan lighairih, tetapi hanya semata-mata menjaga kekhususan umat Islam dengan adanya sanad. Oleh karena itu sanad yang ada di jaman ini adalah sanad ijazah kitab, bukan sanad sima’ dan musyafahah sebagaimana di jaman as-Salaf, sehingga tidak diperlukan lagi ‘al-Jarh wat Ta’dil’.

Al-Qadhi Badruddin Ibnu Jama’ah al-Kinani asy-Syafi’i (wafat tahun 733 H) rahimahullah berkata:

لَيْسَ المَقْصُوْدُ بالسَّنَدِ في عَصْرِنا إثْبَاتَ الحَدِيْثِ المَرْوِيِّ وتَصْحِيْحِه؛ إذْ لَيْسَ يَخْلُوا فِيْه سَنَدٌ عَمَّنَ لا يَضْبِط حِفْظَهُ أو كِتَابَه ضَبْطًا لا يُعْتَمَدُ عَلَيْه فِيْه؛ بَلْ المَقْصُوْدُ بَقَاءُ سِلْسِلَةِ الإسْنَادِ المَخْصُوْصِ بِهَذِه الأمَّةِ فِيْما نَعْلَمُ، وقَدْ كَفَانَا السَّلَفُ مَئُوْنَةَ ذَلِكَ، فاتِّصَالُ أصْلٍ صَحِيْحٍ بسَنَدٍ صَحِيْحٍ إلى مُصَنِّفِه كَافٍ، وإنْ فُقِدَ الإتْقَانُ في كُلِّهِم أو بَعْضِهِم

“Bukanlah tujuan dengan adanya sanad di masa kita untuk menetapkan dan menshahihkan hadits yang diriwayatkan, karena sanad di jaman ini tidaklah sunyi dari orang yang tidak mempunyai sifat ‘dhabith’, baik dhabit dari hafalannya maupun dhabit dari catatan haditsnya. Akan tetapi tujuan adanya sanad adalah untuk melestarikan mata rantai sanad yang merupakan kekhususan umat ini menurut apa yang saya ketahui. As-Salaf sudah mencukupkan kita dari itu. Maka bersambungnya asal yang shahih (dari kitab hadits semisal Kutubus Sittah, pen) dengan sanad yang shahih hingga ke penulisnya, itu sudah cukup, walaupun orang-orang yang menjadi sanad ijazah tersebut semuanya tidak dhabith atau sebagian saja yang dhabith.” (Al-Manhalur Rawi fi Mukhtashar Ulumil Hadits an-Nabawi: 34).

Maka dari sini banyak orang yang belajar Shahih Muslim kepada seorang syaikh dengan tujuan agar mendapatkan sanad ijazah kitab Shahih Muslim dari syaikh tersebut secara bersambung hingga al-Imam Muslim rahimahullah.

Keenam: Banyak ulama ‘al-Jarh wat Ta’dil’ muta’akhirin –semisal adz-Dzahabi, Ibnu Hajar, as-Sakhawi dan sebagainya yang menulis tarikh dan biografi para ulama- tidak melakukan ‘al-Jarh wat Ta’dil’ kepada selain ulama perawi hadits, karena memang tidak berhubungan dengan periwayatan hadits.

Sebagai contohnya adalah biografi al-Imam an-Nahwi Sibawaih (wafat tahun 180 H) rahimahullah. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

سِيبَوَيْهِ، إِمَامُ أَهْلِ النَّحْوِ أَبُو بشر عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ بْنِ قَنْبَرٍ الْبَصْرِيُّ،أَصْلُهُ فَارِسِيٌّ. طَلَبَ الْفِقْهَ وَالْحَدِيثَ، ثُمَّ طَلَبَ الْعَرَبِيَّةَ فَبَرَعَ فِيهَا وَسَادَ أَهْلَ زَمَانِهِ، وَصَنَّفَ فِيهَا كِتَابَهُ الْكَبِيرَ الَّذِي لَمْ يُصَنِّفْ أَحَدٌ بَعْدَهُ مِثْلَهُ.

“Sibawaih, imam ahli nahwu, Abu Basyar Amr bin Utsman bin Qanbar al-Bashri. Asalnya adalah orang Persia. Beliau mencari ilmu hadits dan fikih. Kemudian beliau mencari ilmu bahasa Arab, lalu menonjol dalam bidang itu dan mengalahkan ahli nahwu di masanya. Beliau menulis kitab yang besar dalam bidang nahwu, yang mana belum ada seorang pun yang menulis kitab yang serupa.” (Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam: 4/636).

Kemudian adz-Dzahabi menyatakan:

وَكِتَابُهُ مَرْوِيٌّ بِالسَّمَاعِ، رَوَاهُ الإِمَامُ أَبُو حَيَّانَ عن شيخنا بهاء الدين ابن النَّحَّاسِ النَّحْوِيِّ، عَنْ عَلَمِ الدِّينِ الْقَاسِمِ الأَنْدَلُسِيِّ، عَنِ الْكِنْدِيِّ.

“Kitab Sibawaih ini diriwayatkan secara sima’ (diperdengarkan, pen), diriwayatkan oleh Abu Hayyan an-Nahwi dari syaikh kami Baha’uddin Ibnun Nahhas an-Nahwi, dari Alamuddin al-Qasim al-Andalusi, dari al-Kindi.” (Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam: 4/636).

Maka perhatikanlah bahwa adz-Dzahabi tidak melakukan ‘al-Jarh wat Ta’dil’ terhadap Sibawaih karena ia tidak berhubungan dengan periwayatan hadits.

Contoh lainnya adalah biografi al-Qadhi Quthbuddin Muhammad bin Umar at-Tibrizi (wafat tahun 736 H). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat tahun 852 H) rahimahullah berkata:

واشتغل ببلاده وولي قضاء بغداد قال سراج الدين القزويني كان فقيهاً أصولياً مفسراً نحوياً كاتباً بارعاً وحيداً فريداً أتقن علمي اللسان وشارك في الفنون وكان يكتب خطاً حسناً وفيه بر للفقراء وشفقة على الضعفاء مع التودد والحلم والمروءة إلا أنه يقال لم يكن من قضاة العدل

“Beliau (Quthbuddin, pen) sibuk belajar dan mengajar di negerinya, kemudian menjabat sebagai qadhi di Baghdad. Sirajuddin al-Qazwaini berkata: “Beliau adalah seorang ahli fikih, ahli ushul, ahli tafsir, ahli nahwu, penulis, yang menonjol, tidak ada tandingannya, menguasai kedua ilmu lisan (yakni: nahwu dan sharaf, pen), menguasai berbagai bidang. Beliau menulis dengan tulisan yang bagus. Di dalam sebagian tulisannya terdapat kebaikan bagi orang-orang fakir dan sikap yang lemah lembut terhadap orang-orang yang lemah, dengan disertai sifat kasih sayang, santun dan muru’ah, hanya saja beliau bukan termasuk qadhi yang memutuskan dengan adil.” (Ad-Durarul Kaminah fi A’yanil Mi’atits Tsaminah: 2/54).

Maka perhatikan pula sikap al-Hafizh Ibnu Hajar yang tidak menerangkan status Quthbuddin at-Tibrizi di atas dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ karena memang ia tidak berkaitan dengan periwayatan hadits. Dan contoh-contoh lainnya masih banyak yang menunjukkan bahwa para ulama mengkhususkan ‘al-Jarh wat Ta’dil’ hanya dalam periwayatan hadits.

Jawaban Shalih Fauzan dan Ibnu Utsaimin

Akhirnya Penulis sendiri lebih cenderung kepada jawaban al-Allamah asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah ketika ditanya tentang ulama al-Jarh wat Ta’dil di masa kini. Beliau menjawab:

والله ما نعلم أحداً من علماء الجرح والتعديل في عصرنا الحاضر ، علماء الجرح والتعديل في المقابر الآن ، ولكن كلامهم موجود في كتبهم كتب الجرح والتعديل

والجرح والتعديل في علم الإسناد وفي رواية الحديث ، وما هو الجرح والتعديل في سبِّ الناس وتنقصهم ، وفلان فيه كذا وفلان فيه كذا ، ومدح بعض الناس وسب بعض الناس ، هذا من الغيبة ومن النميمة وليس هو الجرح والتعديل

“Demi Allah! Kami tidak mengetahui ada seorang ulama al-Jarh wat Ta’dil di masa kita ini. Ulama al-jarh wat Ta’dil itu berada di kuburan sekarang. Akan tetapi pendapat-pendapat mereka ditemukan dalam kitab-kitab mereka, yaitu kitab-kitab al-Jarh wat Ta’dil.

Al-Jarh wat Ta’dil itu di dalam ilmu sanad dan dalam riwayat hadits. Al-Jarh wat Ta’dil bukanlah di dalam mencela dan merendahkan manusia. Fulan di dalam dirinya ada demikian. Fulan di dalam dirinya ada demikian. Dan juga bukan memuji sebagian manusia dan mencela sebagian yang lain. Ini termasuk ghibah dan namimah (mengadu domba, pen) bukan al-Jarh wat Ta’dil.” (Disampaikan di Jami’ Amir Mut’ib bin Abdil Aziz di tengah Pelajaran Syarhus Sunnah lil Barbahari pada 14-1-1427 H. Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=TZbBnOfqr-k).

Demikian pula jawaban al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang al-Jarh wat Ta’dil, apakah masih berlaku di jaman ini. Beliau menjawab:

الْجَرح والتعديل لَم يَمُت ولَم يدفن ولَم يُمْرض ولله الحمد ، هو قائم .الْجرح والتعديل يكون في الشهود عند القاضي ،
يُمكن يجرحون الخصم ويطلب منهم البينة ، ويكون أيضا في الرواية ، وقد سمعنا قراءة إمامنا قول الله تعالى:
( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا) فالْجَرح والتعديل لا يزال باقيًا ما دَام نوع الإنسان باقيًا، ما دام النوع الإنسان باقيًا ؛ فالْجَرح والتعديل باق . لكن أنا أخشى أن يقول قائل : إن هذا الإنسان مجروح ، وليس بمجروح ، فيتخذ من هذه الفتوى وسيلة لنشر معايب الخلق . ولهذا أقول : إذا كان في شخص عيب ما ، فإنْ اقتضت الْمصلحة أو الْحاجة، أو الْضرورة إلى بَيانه . فلا بأس به ، لا بأس منْ بيانه ، ولكن الأحسن أن يقول : بعض الناس يفعل كذا ، بعض الناس يقول : كذا، لسببين:

السبب الأول : أن يسلم من قضية التعيين .

والسبب الثاني : أن يكون هذا الْحكم شاملا له ولغيره.

إلا إذا رأينا شخصًا مُعينًا قد فُتِنَ الناس به ، وهو يَدْعو إلى بدْعة أو إلى ضَلالة ، فَحِينئذ لا بدّ منْ التّعيين حَتى لا يَغترّ الناس به

“Al-Jarh wat Ta’dil’ belum mati, belum dikubur dan tidak sakit. Walhamdulillah. Ia tetap tegak berdiri. Al-Jarh wat Ta’dil itu di dalam persaksian di depan qadhi (hakim, pen). Orang yang bersengketa di-Jarh dan dimintai bukti. Al-Jarh wat ta’dil juga terdapat di dalam periwayatan hadits. Kita telah mendengar imam shalat kita membaca firman Allah ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman jika seorang yang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat: 6). Maka ‘al-Jarh wat Ta’dil’ itu tetap ada selagi manusia masih ada, selagi jenis manusia masih ada. Al-Jarh wat Ta’dil’ itu tetap ada.

Akan tetapi saya takut jika seseorang berkata bahwa orang ini di-Jarh, padahal dia tidaklah tercela. Sehingga fatwa ini dijadikan wasilah untuk menyebarkan aib manusia. Maka saya katakan: “Jika seseorang mempunyai aib dan di sana terdapat dharurat atau hajat (kebutuhan) untuk menjelaskan aibnya, maka tidak apa-apa menjelaskan aibnya. Akan tetapi yang paling baik adalah agar ia berkata: “Sebagian orang berbuat demikian. Sebagian orang berkata demikian.” Dengan dua alasan:

Pertama: agar orang tersebut selamat dari ta’yin (tunjuk hidung, pen).

Kedua: agar hukum itu menyeluruh, meliputi orang tersebut dan lainnya.

Kecuali jika kita melihat seseorang tertentu yang mana manusia terfitnah dengannya, sedangkan dia mengajak kepada kebid’ahan dan kesesatan. Maka ketika itu harus disebutkan namanya agar manusia tidak tertipu dengannya.” (Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=Kao72yzXXfQ).

‘Nasehat’ menurut Ibnu Taimiyah

Di antara ulama yang membedakan antara ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan ‘ar-Radd alal Mukhalif atau Tahdzir (Peringatan) dan Bantahan kepada Penyimpangan’ adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau membedakan di antara keduanya meskipun sama-sama membicarakan aib dan cacat seseorang. Beliau berkata:

وَإِذَا كَانَ النُّصْحُ وَاجِبًا فِي الْمَصَالِحِ الدِّينِيَّةِ الْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ :

مِثْلَ نَقَلَةِ الْحَدِيثِ الَّذِينَ يَغْلَطُونَ أَوْ يَكْذِبُونَ كَمَا قَالَ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ : سَأَلْت مَالِكًا وَالثَّوْرِيَّ وَاللَّيْثَ بْنَ سَعْدٍ – أَظُنُّهُ – وَالْأَوْزَاعِي عَنْ الرَّجُلِ يُتَّهَمُ فِي الْحَدِيثِ أَوْ لَا يَحْفَظُ ؟ فَقَالُوا : بَيِّنْ أَمْرَهُ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ لِأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ : أَنَّهُ يَثْقُلُ عَلَيَّ أَنْ أَقُولَ فُلَانٌ كَذَا وَفُلَانٌ كَذَا . فَقَالَ : إذَا سَكَتّ أَنْتَ وَسَكَتّ أَنَا فَمَتَى يُعْرَفُ الْجَاهِلُ الصَّحِيحُ مِنْ السَّقِيمِ .

وَمِثْلُ أَئِمَّةِ الْبِدَعِ مِنْ أَهْلِ الْمَقَالَاتِ الْمُخَالِفَةِ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ الْعِبَادَاتِ الْمُخَالِفَةِ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ ؛ فَإِنَّ بَيَانَ حَالِهِمْ وَتَحْذِيرَ الْأُمَّةِ مِنْهُمْ وَاجِبٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ حَتَّى قِيلَ لِأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ : الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَعْتَكِفُ أَحَبُّ إلَيْك أَوْ يَتَكَلَّمُ فِي أَهْلِ الْبِدَعِ ؟ فَقَالَ : إذَا قَامَ وَصَلَّى وَاعْتَكَفَ فَإِنَّمَا هُوَ لِنَفْسِهِ وَإِذَا تَكَلَّمَ فِي أَهْلِ الْبِدَعِ فَإِنَّمَا هُوَ لِلْمُسْلِمِينَ هَذَا أَفْضَلُ..الخ

“Jika ‘Nasehat’ itu merupakan suatu kewajiban di dalam kemaslahatan agama yang khusus dan yang umum:

(Pertama) seperti para perawi hadits yang keliru atau yang berdusta, sebagaimana ucapan Yahya bin Sa’id: “Aku bertanya kepada Malik, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad dan al-Auza’i tentang seseorang yang tertuduh (berdusta, pen) dalam hadits atau tidak hafal haditsnya?” Maka mereka menjawab: “Jelaskan urusannya!” Sebagian ulama berkata kepada Ahmad bin Hanbal: “Aku merasa berat untuk menyatakan Fulan demikian dan Fulan demikian.” Maka beliau menjawab: “Jika kamu diam dan aku diam, maka kapan seorang jahil akan mengetahui hadits shahih dari hadits dhaif?”

Dan (kedua) seperti para pemimpin kebid’ahan dari kalangan pengikut ajaran-ajaran yang menyimpang dari al-Kitab dan as-Sunnah, atau dari kalangan ahli ibadah yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah. Maka menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan umat dari mereka adalah wajib berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, sampai dikatakan kepada Ahmad bin Hanbal: “Mana yang lebih Anda sukai? Seseorang yang melakukan puasa, shalat dan i’tikaf ataukah seseorang yang membicarakan Ahlul Bid’ah?” Beliau menjawab: “Jika ia melakukan shalat, puasa dan i’tikaf, maka itu untuk dirinya sendiri. Jika ia membicarakan Ahlul Bid’ah, maka itu untuk kaum muslimin dan itu yang lebih utama…dst.” (Majmu’ al-Fatawa: 28/231).

Maka Ibnu Taimiyah membedakan antara ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan ‘Tahdzir dan Membantah Ahlul Bid’ah’.

Termasuk Bab Dharurat dan Hajat

Al-Jarh wat Ta’dil’ dan ‘Bantahan atas Penyimpangan’ termasuk ghibah yang dikecualikan dari hukum haram. Yang demikian karena ada dharurat dan hajat untuk melakukan nasehat.

Al-Imam al-Mufassir Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

والغيبة محرمة بالإجماع، ولا يستثنى من ذلك إلا ما رجحت مصلحته، كما في الجرح والتعديل والنصيحة، كقوله صلى الله عليه وسلم  ، لما استأذن عليه ذلك الرجل الفاجر: “ائذنوا له، بئس أخو العشيرة”..الخ

 وكذا ما جرى مجرى ذلك. ثم بقيتها على التحريم الشديد، وقد ورد فيها الزجر الأكيد..الخ

“Perbuatan ghibah (membicarakan keburukan muslim, pen) itu diharamkan berdasarkan ijma’. Tidaklah dikecualikan dari perbuatan tersebut kecuali perkara yang lebih dominan kemaslahatannya, seperti dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan ‘Nasehat’ (yakni: membantah penyimpangan, pen), seperti sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika seseorang yang fajir meminta ijin beliau, kemudian beliau menyatakan: “Ijinkan ia masuk, ia adalah sejelek-jelek saudara kabilah.” (HR. Al-Bukhari: 3132 dari Aisyah radhiyallahu anha),..dst.

Demikian juga perkara lain yang termasuk nasehat. Kemudian selain perkara yang disebutkan di atas hukum ghibah kembali kepada keharaman yang keras. Dan telah datang larangan yang keras atasnya..dst.” (Tafsir Ibnu Katsir: 7/380).

Maka ketika tidak ada hajat dan dharurat, maka kembali kepada hukum asal, yaitu haramnya ghibah dan menjatuhkan kehormatan seorang muslim.

Sehingga al-Jarh wat Ta’dil, Tahdzir dan Bantahan tidak boleh dilakukan secara berlebih-lebihan (ghuluw).

Dalam bidang ‘al-Jarh wat Ta’dil’, al-Hafizh Syamsuddin as-Sakhawi rahimahullah mengingatkan:

نعم لا يجوز التجريح بشيئين إذا حصل بواحد فقد قال العز بن عبد السلام في قواعده إنه لا يجوز للشاهد أن يجرح بذنبين مهما أمكن الاكتفاء بأحدهما فإن القدح إنما يجوز للضرورة فليقدر بقدرها ووافقه عليه القرافي وهو ظاهر

“Benar. Tidak diperbolehkan melakukan al-Jarh (celaan, pen) kepada perawi dengan dua celaan, jika satu celaan saja sudah menunjukkan kelemahan perawi tersebut. Maka al-Izz bin Abdus Salam berkata dalam ‘Qawaid’nya: “Tidak diperbolehkan bagi saksi untuk melakukan ‘al-Jarh’ dengan dua dosa ketika celaan dengan salah satu dosa sudah mencukupkan. Karena mencela seseorang itu diperbolehkan untuk dharurat. Maka hendaknya dilakukan sekedarnya. Dan pendapat al-Izz ini disepakati oleh al-Qarafi. Inilah yang jelas.” (Fathul Mughits Syarh Alfiyatil Hadits: 3/358).

Di dalam Bab ‘Menerangkan Penyimpangan’ juga tidak boleh berlebih-lebihan. Al-Imam Abul Walid Sulaiman bin Khalaf al-Baji al-Maliki (wafat tahun 474 H) rahimahullah berkata:

وكذلك ذو البدعة يذكر ببدعته لئلاّ تغتَّر به الناس حفظاً للشريعة وذبّا عنها ولا يذكر غير ذلك من عيوبه لأنه من باب الغيبة قال سفيان الثوري في صاحب البدعة: يذكر ببدعته ولا يغتاب بغير ذلك..الخ

“Demikian pula pelaku kebid’ahan (ahlul bid’ah, pen), maka diceritakan tentang kebid’ahannya agar manusia tidak tertipu dengannya, dalam rangka menjaga dan membela syariat ini. Dan aib (kesalahan) yang lainnya tidak boleh diceritakan karena termasuk ‘Bab Ghibah’. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri berkata: “Ahlul bid’ah hanya boleh disebutkan kebid’ahannya saja, dan tidak boleh di-ghibah dengan kesalahan lainnya..dst.” (At-Ta’dil wat Tajrih fi Rijal al-Jami’ ash-Shahih: 1/256).

Demikian pula keterangan al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat tahun 974 H) rahimahullah. Beliau berkata:

قَالَ الْأَذْرَعِيُّ : وَفِي أَذْكَارِ النَّوَوِيِّ مِمَّا يُبَاحُ مِنْ الْغِيبَةِ أَنْ يَكُونَ مُجَاهِرًا بِفِسْقِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ كَالْمُجَاهَرَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَمُصَادَرَةِ النَّاسِ وَأَخْذِ الْمَكْسِ وَجِبَايَةِ الْأَمْوَالِ ظُلْمًا ، فَيَجُوزُ ذِكْرُهُ بِمَا تَجَاهَرَ بِهِ وَيَحْرُمُ ذِكْرُهُ بِغَيْرِهِ مِنْ الْعُيُوبِ .

“Al-Adzra’i berkata: “Di dalam kitab ‘al-Adzkar’ karya an-Nawawi terdapat keterangan bahwa di antara perkara yang boleh di-ghibahi adalah jika seseorang itu menampakkan secara terang-terangan kefasikan dan kebid’ahannya, seperti meminum khamer di muka umum, berbuat zalim kepada manusia, memungut pajak dan merampas harta secara zalim. Maka diperbolehkan menyebutkan kesalahan yang ditampakkan dan haram menyebutkan aib-aib yang lainnya (yang tidak berhubungan dengan perkara yang ditahdzir, pen).” (Az-Zawajir an Iqtirafil Kabair: 2/249).

Keterangan para ulama di atas berbeda dengan perbuatan ghuluw dari Jamaah Tahdzir ini. Sebagai contoh, ketika membantah al-Allamah Muhammad al-Imam hafizhahullah mereka tidak cukup hanya membantah satu kesalahan saja, tetapi semua aib beliau mereka ungkapkan, bahkan masa lalu beliau pun diungkit-ungkit.

Adapun kita –selain Jamaah Tahdzir-, maka memiliki teladan pada al-Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam sikap wara’ dan ‘inshaf’ di dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata:

قلت البخاري في كلامه على الرجال في غاية التحري والتوقي ومن تأمل كلامه في الجرح والتعديل علم ورعه وإنصافه فإن أكثر ما يقول منكر الحديث سكتوا عنه فيه نظر تركوه ونحو هذا وقل أن يقول فلان كذاب أو يضع الحديث بل إذا قال ذلك عزاه إلى غيره بقوله كذبه فلان رماه فلان بالكذب حتى أنه قال من قلت فيه في حديثه نظر فهو متهم ومن قلت فيه منكر الحديث فلا تحل الرواية عنه..الخ

“Aku katakan: Al-Bukhari di dalam ucapan beliau terhadap para perawi hadits adalah dalam puncak ketelitian dan kehati-hatian. Barangsiapa yang meneliti ucapan beliau di dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’, maka ia akan mengetahui sikap wara’ dan ‘inshaf’ beliau. Karena kebanyakan ucapan beliau adalah: ‘Munkarul hadits’, ‘Mereka mendiamkannya’, ‘Di dalam dirinya perlu peninjauan’, ‘Mereka meninggalkannya’ dan sebagainya. Sedikit sekali al-Bukhari menyatakan: ‘Fulan pendusta’, atau ‘Fulan memalsu hadits’. Bahkan jika beliau berpendapat demikian, maka beliau menyandarkan kepada ulama lain dengan ucapan beliau: ‘Ia didustakan oleh Fulan’, ‘Ia dituduh berdusta oleh Fulan’, sehingga beliau berkata: “Barangsiapa yang aku katakan: ‘Di dalam haditsnya perlu peninjauan, maka ia adalah perawi yang tertuduh. Barangsiapa yang aku katakan ‘Mungkarul hadits’, maka tidak halal meriwayatkan darinya..dst.” (Taghliq at- Ta’liq: 4/40). Wallahul musta’an.

Sisi Lain al-Jarh wat Ta’dil

Ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’ berbeda dengan Bab ‘Tahdzir dan Membantah Penyimpangan’. Dalam ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’ yang dibela hanyalah sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat radliyallahu anhum. Sedangkan Bab ‘Tahdzir dan Membantah Penyimpangan’ ditujukan untuk kaum muslimin agar terhindar dari penyimpangan dan agar pelaku penyimpangan meninggalkan penyimpangannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang tujuan ‘al-jarh wat Ta’dil’:

فأقام الله طائفة كثيرة من هذه الأمة للذب عن سنة نبيه صلى الله عليه وسلم فتكلموا في الرواة على قصد النصيحة ولم يعد ذلك من الغيبة المذمومة بل كان ذلك واجبا عليهم وجوب كفاية

“Maka Allah menegakkan banyak kelompok ulama dari umat ini untuk membela sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam. Sehingga mereka membicarakan aib para perawi hadits dalam rangka nasehat, dan itu tidak dianggap sebagai ghibah yang tercela, bahkan merupakan kewajiban atas mereka dengan wajib kifayah..dst.” (Lisanul Mizan: 1/3).

Bahkan terkadang mereka yang di-jarh (dicela, pen) dalam periwayatan hadits merupakan wali-wali Allah ta’ala. Ini karena semata-mata membela sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Al-Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata:

إنا لنطعن على أقوام ، لعلهم قد حطوا رحالهم في الجنة ، من أكثر من مائتي سنة

“Sesungguhnya kita mencela banyak kaum (dalam al-Jarh wat Ta’dil, pen), padahal mereka telah menapakkan kendaraan mereka di surga, lebih dari 200 tahun yang lalu.” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/95, Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal: 31/564).

Bahkan banyak orang shalih dan ahlul ibadah yang di-Jarh (dicela) oleh al-Imam Malik rahimahullah. Ini karena semata-mata membela sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al-Imam Malik bin Anas (wafat tahun 179 H) rahimahullah berkata:

أدركت هذا المسجد وفيه سبعون شيخا ممن أدرك أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم وروى عن التابعين ولم نحمل الحديث إلا عن أهله

“Aku mendapatkan dalam masjid ini (yakni: Masjid Nabawi, pen) 70 orang syaikh yang pernah bertemu dengan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mereka juga meriwayatkan hadits dari para tabi’in. Dan kami tidaklah meriwayatkan hadits (dari mereka, pen) kecuali dari orang yang pantas.” (Tahdzibul Asma’ wal Lughat: 601 dan Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal: 27/112).

Beliau juga berkata:

أدركت بهذا البلد مشيخة لهم فضل وعبادة يحدثون، ما سمعت من واحد منهم حديثا قط، قيل له: ولم يا أبا عبد الله ؟ قال: لم يكونوا يعرفون ما يحدثون

“Aku mendapatkan di negeri ini (yakni: Madinah, pen) para syaikh yang mempunyai keutamaan dan ibadah yang meriwayatkan hadits. Aku tidak mau mendengarkan (yakni: meriwayatkan, pen) hadits dari mereka sedikit pun.” Beliau ditanya: “Mengapa, wahai Abu Abdillah?” Beliau menjawab: “Karena mereka tidak mengetahui apa yang mereka riwayatkan.” (Al-Kamil fidh Dhu’afa’ li Ibni Adi: 1/92).

Demikianlah ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Karena begitu kuatnya sisi pembelaan kepada sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, terkesan seolah-olah ‘menzhalimi’ orang-orang shalih.

Membantah Ahlul Bid’ah

Dan ini berbeda dengan Bab ‘Tahdzir (Peringatan) dan Bantahan bagi orang yang Menyimpang’. Tujuan utama ‘Tahdzir dan Bantahan terhadap Penyimpangan’ adalah untuk melindungi kaum muslimin dari bahaya penyimpangan dan juga agar orang yang menyimpang kembali ke jalan yang benar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan kaedah ‘Tahdzir dan Bantahan bagi orang yang Menyimpang’. Beliau berkata:

إذَا كَانَ مُبْتَدِعًا يَدْعُو إلَى عَقَائِدَ تُخَالِفُ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ يَسْلُكُ طَرِيقًا يُخَالِفُ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَيَخَافُ أَنْ يُضِلَّ الرَّجُلُ النَّاسَ بِذَلِكَ بَيَّنَ أَمْرَهُ لِلنَّاسِ لِيَتَّقُوا ضَلَالَهُ وَيَعْلَمُوا، وَهَذَا كُلُّهُ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ عَلَى وَجْهِ النُّصْحِ وَابْتِغَاءِ وَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى لَا لِهَوَى الشَّخْصِ مَعَ الْإِنْسَانِ مِثْلَ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمْ عَدَاوَةٌ دُنْيَوِيَّةٌ أَوْ تَحَاسُدٌ أَوْ تَبَاغُضٌ أَوْ تَنَازُعٌ عَلَى الرِّئَاسَةِ فَيَتَكَلَّمَ بِمَسَاوِئِهِ مُظْهِرًا لِلنُّصْحِ وَقَصْدُهُ فِي الْبَاطِنِ الْبُغْضُ فِي الشَّخْصِ وَاسْتِيفَاؤُهُ مِنْهُ فَهَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، بَلْ يَكُونُ النَّاصِحُ قَصْدُهُ أَنَّ اللَّهَ يُصْلِحُ ذَلِكَ الشَّخْصَ وَأَنْ يَكْفِيَ الْمُسْلِمِينَ ضَرَرَهُ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ، وَيَسْلُكُ فِي هَذَا الْمَقْصُودِ أَيْسَرَ الطُّرُقِ الَّتِي تُمَكِّنُهُ..الخ

“Jika seseorang merupakan Ahlul Bid’ah yang mengajak kepada keyakinan yang bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah, atau menempuh jalan yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah dan dikhawatirkan orang tersebut menyesatkan manusia dengan penyimpangan tersebut, maka hendaknya dijelaskan kesesatannya kepada manusia agar mereka mengetahui dan berhati-hati dari kesesatannya. Ini semua (yakni: tahdzir dan bantahan, pen) wajib dilakukan di atas nasehat (yakni: mengharapkan kebaikan bagi semua pihak, pen) dan mencari wajah Allah ta’ala, bukan karena hawa nafsu antara seseorang dengan orang lain, seperti permusuhan duniawi di antara mereka, atau saling dengki, atau saling membenci, atau saling berebut kepemimpinan, sehingga ia membicarakan kejeleken-kejelekannya dengan menampakkan sikap nasehat, padahal batinnya memusuhi orang tersebut dan ingin membalasnya. Maka ini termasuk perbuatan syetan. Maka amal perbuatan itu hanya berdasarkan niatnya dan bagi seseorang apa yang ia niatkan. Bahkan orang yang menasehati hendaknya mempunyai niat agar Allah memperbaiki orang yang menyimpang tersebut dan melindungi kaum muslimin dari bahayanya di dalam urusan agama dan dunia mereka. dan hendaknya ia menempuh jalan yang paling mudah yang memungkinkan..dst.” (Al-Fatawa al-Kubra: 4/477 dan Majmu’ al-Fatawa: 28/221).

Kesimpulan dari penjelasan Syaikhul Islam di atas:

Pertama: wajib melakukan tahdzir (peringatan) dan bantahan kepada Ahlul Bid’ah yang mengajak kepada keyakinannya.

Kedua: tahdzir dan bantahan dilakukan dengan ikhlas mengharap wajah Allah dan mengharap kebaikan bagi semua pihak

Ketiga: tujuan tahdzir dan bantahan adalah agar kaum muslimin terlindungi dari kesesatan dan Ahlul Bid’ah kembali kepada kebenaran.

Keempat: peringatan dan bantahan dilakukan dengan cara yang paling mudah dari kemungkinan yang ada.

Membantah Tanpa Menyebutkan Nama

Di antara cara yang paling mudah dalam memberikan peringatan dan bantahan adalah membantah dengan tidak menyebut langsung nama orang yang dibantah. Cara ini banyak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Aisyah radliyallahu anha pernah berkata:

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا بَلَغَهُ عَنِ الرَّجُلِ الشَّىْءُ لَمْ يَقُلْ مَا بَالُ فُلاَنٍ يَقُولُ وَلَكِنْ يَقُولُ « مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَقُولُونَ كَذَا وَكَذَا »

“Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam jika telah sampai kepada beliau tentang seseorang yang melakukan kesalahan, maka beliau tidak menyatakan: “Mengapa Fulan berkata demikian,” tetapi beliau berkata: “Mengapa ada kaum yang berkata demikian dan demikian.” (HR. Abu Dawud: 4790 dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 8099 (6/265). Isnadnya di-shahih-kan oleh al-Munawi dalam at-Taisir bi Syarh al-Jami’ish Shaghir: 2/474. Di-shahih-kan pula oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 4692).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

وفيه حسن المعاشرة بإرسال التعزير والانكار في الجمع ولا يعين فاعله فيقال ما بال أقوام ونحوه

“Dalam hadits ini terdapat keterangan tentang bagusnya pergaulan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan menjelaskan hukuman dan pengingkaran di depan kalayak secara umum, tanpa menyebut nama pelaku penyimpangan. Maka beliau berkata: “Mengapa ada kaum yang melakukan demikian,” dan sebagainya.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim: 15/107).

Al-Allamah asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah menjelaskan alasannya:

لأنّ التّصريح بالأسماء يفسد أكثر ممّا يصلح، بل ربّما لا يكون فيه صلاحٌ، بل فيه مضاعفة سيّئةٍ على الفرد وعلى الجماعة

“Karena menyebut nama pelaku secara terang-terangan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Bahkan terkadang tidak ada kebaikannya sama sekali, bahkan dapat melipatgandakan kejelekan atas individu dan masyarakat.” (Al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan: 27/2).

Al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

المنكر إذا أعلن فيجب إنكاره علناً، لكن هل يجب تعيين الشخص القائم به؟ هذا ينظر فيه إلى المصلحة، إن اقتضت المصلحة أن نعين الشخص من أجل أن يرتدع عما هو عليه من المنكر فليذكر بعينه، وإذا كانت المصلحة تقتضي أن يعمم القول وأن يقال: يوجد من الناس من يفعل كذا، أو ما بال أقوام يفعلون كذا، أو ما شابه ذلك فهو أحسن، فالمهم أن المنكر إذا أعلن يجب إنكاره علناً، لكن تعيين الفاعل ينظر فيه إلى المصلحة، أما التحذير من هذا الفاعل سراً خوفاً من أن يفتتن به الناس فهذا واجب

“Kemungkaran jika ditampakkan secara terang-terangan, maka wajib diingkari secara terang-terangan. Akan tetapi apakah wajib menyebutkan nama orang yang menampakkan kemungkaran tersebut? Maka ini dilihat menurut kemaslahatannya. Jika maslahat mengharuskan menyebutkan nama orang tersebut agar ia berhenti dari perbuatannya, maka silahkan disebutkan namanya. Dan jika maslahat mengharuskan untuk menjadikan umum bantahan dan peringatan, dan dikatakan: “Terdapat beberapa manusia yang melakukan demikian, atau mengapa ada kaum yang berbuat demikian,” atau semisalnya, maka ini lebih baik lagi. Yang penting jika kemungkaran ditampakkan terang-terangan wajib diingkari secara terang-terangan pula. Akan tetapi menyebutkan nama pelakunya itu melihat kepada kemaslahatan. Adapun memperingatkan dari orang ini secara rahasia karena khawatir manusia akan terfitnah dengannya, maka ini wajib.” (Liqa’ul Babil Maftuh: 54/12).

Hadits Aisyah radliyallahu anha di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sering melakukan peringatan dan bantahan tanpa menyebutkan nama pelaku penyimpangan, meskipun beliau pernah menyebutkan nama, seperti dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma. Beliau berkata:

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا عَبْدَ اللَّهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ»

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti Fulan! Adalah ia melakukan shalat tahajud sepanjang malam, kemudian ia sama sekali meninggalkan shalat tahajud.” (HR. Al-Bukhari: 1152, Muslim: 2790, an-Nasai: 1763 dan Ibnu Majah: 1331).

Ini berbeda dengan akhlak ‘Jamaah Tahdzir’ yang sering membantah dengan tunjuk hidung, bahkan disertai dengan julukan-julukan kasar.

Membantah dengan Santun

‘Tahdzir dan Bantahan atas Penyimpangan’ yang baik adalah tahdzir dan bantahan yang disampaikan dengan bahasa yang santun dan disertai dalil-dalil. Ini berbeda dengan ‘tahdzir dan bantahan’ yang dilakukan oleh Jamaah Tahdzir yang sarat dengan kata-kata kasar seperti kata ‘begundal’, ‘penjilat’, ‘dajjal’ dan sebagainya, tetapi minim dalil bahkan tidak ada dalilnya sama sekali.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فَإِنَّ الرَّدَّ بِمُجَرَّدِ الشَّتْمِ وَالتَّهْوِيلِ لَا يَعْجِزُ عَنْهُ أَحَدٌ . وَالْإِنْسَانُ لَوْ أَنَّهُ يُنَاظِرُ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلَ الْكِتَابِ : لَكَانَ عَلَيْهِ أَنْ يَذْكُرَ مِنْ الْحُجَّةِ مَا يُبَيِّنُ بِهِ الْحَقَّ الَّذِي مَعَهُ وَالْبَاطِلَ الَّذِي مَعَهُمْ . فَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { ادْعُ إلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ } وَقَالَ تَعَالَى : { وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ }

“Karena membantah dengan semata cacian dan celaan, semua orang bisa melakukannya. Dan ketika seseorang membantah kaum musyrikin dan ahlul kitab, maka diharuskan baginya untuk menyebutkan hujah (argumentasi, pen) yang dapat menjelaskan kebenaran si pembantah dan kebatilan yang dibantah (yakni orang kafir, pen). Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam: “Berdakwahlah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan sesuatu yang lebih baik.” Allah juga berfirman: ‘Janganlah kalian mendebat Ahlul Kitab kecuali dengan yang lebih baik.” (Majmu’ al-Fatawa: 4/186-7).

Al-Allamah asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata:

وقد ذكر رحمه الله قاعدة عظيمة في الرد على المخالف, وأن الراد يتجنب السب والشتم لأن هذا ليس برد, ولا من المجادلة بالتي هي أحسن, وأنه أسلوب مستهجن لا يعجز عنه أحد, وأن الرد يجب أن يكون بالدليل المقنع مهما كان الخصم المردود عليه..الخ

“Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan kaidah yang agung di dalam ‘Membantah Penyimpangan’, bahwa ‘Bantahan’ harus menjauhi perbuatan ‘mencela’ dan ‘mencaci-maki’, karena ini bukanlah bantahan, dan tidak termasuk ‘mendebat dengan cara lebih baik’, karena mencaci-maki merupakan uslub (cara) yang tercela dan setiap orang bisa melakukannya. Dan bahwa ‘Bantahan’ harus disertai dalil yang mencukupkan siapapun orang yang dibantah..dst.” (Adlwa’ min Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah fil Aqidah: 475).

Muwazanah dalam Tahdziran dan Bantahan

Tahdzir adalah memperingatkan kaum muslimin dari kesesatan dan kebid’ahan pada seseorang yang dianggap menyimpang. Sedangkan bantahan adalah menerangkan kesesatan mereka. Dalam Bab ‘Tahdzir dan Bantahan’ tidak perlu menyebutkan kebaikan orang yang ditahdzir, kecuali jika ada hajat atau kebutuhan.

Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

أما إذا كنتَ في معرِض الرد عليه فلا تذكر مَحاسنه؛ لِمَا ذكرنا -فيما سَمعتم في السؤال- أنك إذا ذكرت المَحاسن ضعُف جانب الرد عليه، وربما يُعجب الإنسان بما عنده من المحاسن ويترك الأخطاء جانباً، هذا هو الطريق في ذكر محاسن الناس ومساوئهم. ولكن إذا تحدثتَ عنه في أي مجلس من المجالس فإن رأيتَ في ذكر محاسنه فائدة فلا بأس أن تذكرها، وإن خفتَ من مضرة فلا تذكرها؛ لأنه ليس بواجب علينا أن نعرف أن هذا الشخص معه حق أو باطل.

“Adapun jika kamu sedang membantahnya (ahlul bid’ah, pen), maka janganlah kamu menyebutkan kebaikan-kebaikannya, karena sebagaimana telah kami sebutkan –dalam pertanyaan yang kalian dengarkan- jika kamu menyebutkan kebaikan-kebaikannya, maka akan melemahkan sisi bantahannya. Bisa jadi manusia mengagumi kebaikan-kebaikannya dan melupakan kesalahan-kesalahannya dari sisi lain. Ini adalah jalan di dalam menyebutkan kebaikan dan keburukan manusia. Akan tetapi jika kamu membicarakan tentangnya di majelis manapun, kemudian kamu melihat faedah di dalam menyebutkan kebaikannya, maka tidak apa-apa kamu menyebutkannya. Jika kamu takut bahaya, maka jangan kamu sebutkan, karena bukan kewajiban kita untuk mengetahui bahwa orang tersebut mempunyai kebenaran atau kebatilan.” (Liqa’ul Babil Maftuh: 127/23).

Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkata:

المعروف في كلام أهل العلم نقد المساوئ للتحذير وبيان الأخطاء التي أخطؤوا فيها للتحذير منها، أما الطيب معروف, مقبول الطيب.. لكن المقصود التحذير من أخطائهم، الجهمية.. المعتزلة.. الرافضة.. وما أشبه ذلك، فإذا دعت الحاجة إلى بيان ما عندهم من حق يبين

“Yang ma’ruf menurut pendapat para ulama adalah menyebutkan kejelekan Ahlul Bid’ah untuk mentahdzir (memperingatkan, pen) dan menjelaskan kesalahan yang mana mereka terjatuh padanya agar berhati-hati darinya. Adapun orang yang baik, maka diterima kebaikannya.. tetapi yang dimaksud dalam hal ini adalah mentahdzir umat dari kesalahan-kesalahan mereka, seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah dan lain sebagainya. Maka jika ada kebutuhan untuk menjelaskan kebenaran yang ada pada diri mereka, maka silakan diterangkan kebenaran tersebut.” (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif: 6-7).

Beliau juga berkata:

الواجب على أهل العلم إنكار البدع والمعاصي الظاهرة بالأدلة الشرعية , وبالترغيب والترهيب والأسلوب الحسن , ولا يلزم عند ذلك ذكر حسنات المبتدع , ولكن متى ذكرها الآمر بالمعروف والناهي عن المنكر لمن وقعت البدعة أو المنكر منه , تذكيرا له بأعماله الطيبة , وترغيبا له في التوبة فذلك حسن , ومن أسباب قبول الدعوة والرجوع إلى التوبة . وفق الله الجميع .

“Yang wajib atas ulama adalah mengingkari kebid’ahan dan kemaksiatan yang zhahir dengan dalil-dalil syar’i, motivasi dan dorongan, dan cara-cara yang baik. Dan ketika itu tidak harus menyebutkan kebaikan-kebaikan Ahlul Bid’ah. Akan tetapi ketika seseorang -yang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar kepada seseorang yang terjatuh pada kebid’ahan atau kemungkaran- menyebutkan kebaikan-kebaikannya agar dia segera ingat akan kebaikannya dan kembali bertaubat, maka itu juga baik dan termasuk sebab-sebab diterimanya dakwah dan kembali bertaubat. Semoga Allah memberi taufik kepada semuanya.” (Majmu’ Fatawa Ibni Baaz: 9/352).

Di antara dalil tentang tidak perlunya menyebutkan kebaikan orang yang dibantah adalah hadits Aisyah radliyallahu anha bahwa ada seseorang meminta ijin untuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau bersabda:

ائْذَنُوا لَهُ، بِئْسَ أَخُو العَشِيرَةِ، أَوِ ابْنُ العَشِيرَةِ

“Ijinkan dia masuk. Ia adalah sejelek-jelek saudara kabilah atau anak kabilah.” (HR. Al-Bukhari: 6054, Muslim: 6761, Abu Dawud: 4793 dan at-Tirmidzi: 1996).

Al-Imam Abul Walid Sulaiman bin Khalaf al-Baji al-Maliki rahimahullah berkata:

وَصَفَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم بِذَلِكَ لِيَعْلَمَ بِحَالِهِ ، وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ الْغَيْبَةِ ؛ لِأَنَّهُ مَأْمُورٌ بِأَنْ يَعْلَمَ بِحَالِهِ لِيَحْذَرَ أَمْرَهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ وَأَحْكَمُ

“Nabi shallallahu alaihi wasallam menyifati orang itu demikian agar diketahui keadaannya, dan ini tidak termasuk Bab Ghibah, karena beliau diperintahkan agar mengetahui keadaannya sehingga bisa berhati-hati darinya. Wallahu a’lam wa ahkam.” (Al-Muntaqa Syarhul Muwaththa: 4/288).

Adapun jika diperlukan untuk menyebutkan kebaikannya seperti seorang ulama atau ustadz yang dibantah dan dikhawatirkan jatuh kehormatannya di depan orang-orang awam, maka diperbolehkan untuk menyebutkan kebaikannya.

Di antara dalilnya adalah sabda Rasulullash shallallahu alaihi wasallam:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ

“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Di dalam masing-masing keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim: 6945 dan Ibnu Majah: 79 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu).

Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

وفي كل خير يعني المؤمن القوي، والمؤمن الضعيف كل منهما فيه خير، وإنما قال وفي كل خير لئلا يتوهم أحد من الناس أن المؤمن الضعيف لا خير فيه، بل المؤمن الضعيف فيه خير، فهو خير من الكافر لاشك

“Hadits “Di dalam masing-masing keduanya terdapat kebaikan”, maksudnya bahwa di dalam masing-masing mukmin yang kuat dan mukmin yang lemah terdapat kebaikan. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda “Di dalam masing-masing keduanya terdapat kebaikan” agar manusia tidak salah sangka bahwa mukmin yang lemah itu tidak ada kebaikannya sama sekali. Bahkan mukmin yang lemah itu lebih baik daripada orang kafir, secara pasti.” (Syarh Riyadhush Shalihin li Ibni Utsaimin: 119).

Di antara contoh penerapan kritikan terhadap seorang tokoh besar dengan menyebutkan kebaikannya adalah kritikan Allah ta’ala kepada Nabi Yunus alaihissalam:

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ () إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ

“Sesungguhnya Yunus itu termasuk para rasul. Ketika ia kabur menuju kapal yang penuh muatan.” (QS. Shad: 139-140).

Al-Allamah al-Mufassir Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata:

وإنما فائدتنا بما ذُكِّرنا عنه أنه أذنب، وعاقبه اللّه مع كونه من الرسل الكرام، وأنه نجاه بعد ذلك..الخ

“Faedah bagi kita tentang kisah Nabi Yunus alaihissalam adalah bahwa beliau berbuat dosa dan dihukum oleh Allah padahal beliau termasuk para rasul yang mulia, dan bahwa Allah menyelamatkannya setelah itu..dst.” (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan: 707).

Di antara contoh ‘membantah dengan menyebutkan kebaikan yang dibantah adalah bantahan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Ziyad bin Labid al-Anshari radliyallahu anhu. Ia berkata:

ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا فَقَالَ وَذَاكَ عِنْدَ أَوَانِ ذَهَابِ الْعِلْمِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ وَنَحْنُ نَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَنُقْرِئُهُ أَبْنَاءَنَا وَيُقْرِئُهُ أَبْنَاؤُنَا أَبْنَاءَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا ابْنَ أُمِّ لَبِيدٍ إِنْ كُنْتُ لَأَرَاكَ مِنْ أَفْقَهِ رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ أَوَلَيْسَ هَذِهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ لَا يَنْتَفِعُونَ مِمَّا فِيهِمَا بِشَيْءٍ

“Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah menyebutkan sesuatu. Beliau bersabda: “Itu terjadi ketika hilangnya ‘Ilmu’ (yakni ilmu agama, pen).” Ziyad berkata: “Kami bertanya: “Wahai Rasulullah! Bagaimana ilmu ini bisa hilang, padahal kami masih mempelajari al-Quran, kami juga mengajari anak-anak kami al-Quran dan anak-anak kami kelak juga akan mengajari anak-anak mereka al-Quran sampai hari kiamat?” Beliau menjawab: “Celaka kamu, wahai Anak Ummu Labid! Sesungguhnya aku menganggapmu termasuk orang yang paling faqih di Madinah. Bukankah kaum yahudi dan nasrani sekarang juga sedang mempelajari Taurat dan Injil? Akan tetapi mereka tidak mampu mendapatkan manfaat apa pun dari kedua kitab tersebut.” (HR. Ahmad: 16828, at-Tirmidzi: 2577, ia berkata hasan gharib, Ibnu Majah: 4038. Isnadnya di-hasan-kan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’: 979 (1/471) dan di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 6990).

Di antara contoh kritikan dengan menyebutkan kebaikan orang yang dikritik adalah ucapan Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma terhadap Abdullah bin az-Zubair radliyallahu anhuma ketika mati disalib oleh al-Hajjaj bin Yusuf. Ibnu Umar berkata:

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَبَا خُبَيْبٍ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَبَا خُبَيْبٍ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَبَا خُبَيْبٍ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ كُنْتُ أَنْهَاكَ عَنْ هَذَا أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ كُنْتُ أَنْهَاكَ عَنْ هَذَا أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ كُنْتُ أَنْهَاكَ عَنْ هَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنْ كُنْتَ مَا عَلِمْتُ صَوَّامًا قَوَّامًا وَصُولاً لِلرَّحِمِ أَمَا وَاللَّهِ لأُمَّةٌ أَنْتَ أَشَرُّهَا لأُمَّةٌ خَيْرٌ

“As-Salamu alaika, wahai Abu Khubaib (yakni: Abdullah bin az-Zubair)! As-Salamu alaika, wahai Abu Khubaib! As-Salamu alaika, wahai Abu Khubaib! Demi Allah, aku telah melarangmu dari perbuatan ini (yakni: melawan al-Hajjaj, pen). Demi Allah, aku telah melarangmu dari perbuatan ini. Demi Allah, aku telah melarangmu dari perbuatan ini. Sesungguhnya aku melihatmu sebagai orang yang banyak berpuasa, banyak melakukan shalat malam dan banyak menyambung silaturrahim. Demi Allah, kamu (menurut al-Hajjaj, pen) adalah sejelek-jelek umat bagi sebaik-baik mereka.” (HR. Muslim: 6660).

Di antara contoh penerapan ‘tahdzir terhadap penyimpangan tokoh besar dengan menyebutkan kebaikannya’ adalah kritikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah terhadap Abul Qasim al-Qusyairi, penulis ar-Risalah al-Qusyairiyah (wafat tahun 465 H) rahimahullah. Beliau berkata:

وهذا أبو القاسم مع علمه وروايته بالإسناد ومع هذا ففي هذه الرسالة قطعة كبيرة من المكذوبات التي لا ينازع فيها من له أدنى معرفة بحقيقة حال المنقول عنهم..الخ

“Dan inilah Abul Qasim al-Qusyairi, dengan keilmuannya dan periwayatannya terhadap sanad hadits, dalam keadaan demikian pun masih ditemukan di dalam kitab ‘Risalahnya’ banyak berita dan hadits dusta yang mana orang yang masih pemula dalam ilmu hadits pun mengetahuinya..dst.” (Al-Istiqamah: 1/383-4).

Di antara contoh penerapan ‘tahdzir terhadap penyimpangan tokoh besar dengan menyebutkan kebaikannya’ adalah kritikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah terhadap Abu Hamid al-Ghazali (wafat tahun 520 H) rahimahullah. Beliau berkata:

وَتَجِدُ أَبَا حَامِدٍ الْغَزَالِيَّ – مَعَ أَنَّ لَهُ مِنْ الْعِلْمِ بِالْفِقْهِ وَالتَّصَوُّفِ وَالْكَلَامِ وَالْأُصُولِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مَعَ الزُّهْدِ وَالْعِبَادَةِ وَحُسْنِ الْقَصْدِ وَتَبَحُّرِهِ فِي الْعُلُومِ الْإِسْلَامِيَّةِ أَكْثَرَ مِنْ أُولَئِكَ – يَذْكُرُ فِي كِتَابِ ” الْأَرْبَعِينَ ” وَنَحْوِهِ كِتَابَهُ : ” الْمَضْنُونُ بِهِ عَلَى غَيْرِ أَهْلِهِ ” ؛ فَإِذَا طَلَبْت ذَلِكَ الْكِتَابَ وَاعْتَقَدْت فِيهِ أَسْرَارَ الْحَقَائِقِ وَغَايَةَ الْمَطَالِبِ وَجَدْته قَوْلَ الصَّابِئَةِ الْمُتَفَلْسِفَةِ بِعَيْنِهِ قَدْ غُيِّرَتْ عِبَارَاتُهُمْ وَتَرْتِيبَاتُهُمْ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ حَقَائِقَ مَقَالَاتِ الْعِبَادِ وَمَقَالَاتِ أَهْلِ الْمِلَلِ يَعْتَقِدُ أَنَّ ذَاكَ هُوَ السِّرُّ الَّذِي كَانَ بَيْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَطَّلِعُ عَلَيْهِ الْمُكَاشِفُونَ الَّذِينَ أَدْرَكُوا الْحَقَائِقَ بِنُورِ إلَهِيٍّ

“Dan kamu akan mendapatkan Abu Hamid al-Ghazali –padahal beliau mempunyai ilmu tentang fikih, tasawuf, kalam, usul dan lainnya beserta sifat zuhud, ibadah, niat yang baik dan luasnya ilmu keislaman yang lebih banyak daripada mereka (ahli filsafat, pen)- menyebutkan dalam kitab ‘al-Arba’in’ dan semisalnya, sebuah kitab yang berjudul ‘al-Madhmun bihi ala Ghairi Ahlih’. Maka jika kamu menuntut kitab itu dan meyakini ‘rahasia-rahasia hakekat dan puncak tujuan’ di dalam kitab tersebut, maka kamu akan mendapatkannya sebagai ucapan Kaum Shabi’ah (penyembah bintang, pen) yang berfilsafat secara kenyataannya. Hanya saja ungkapan dan urutannya telah diubah. Dan orang yang tidak mengenal hakekat berbagai macam aliran sekte, akan menyangka bahwa itulah rahasia antara Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar dan juga itulah perkara yang bisa dilihat oleh Ahlul Mukasyafah (pengikut tasawuf yang sudah sampai tingkat makrifat dan hakikat, pen) yang telah mencapai hakikat dengan cahaya ketuhanan..dst.” (Majmu’ al-Fatawa: 4/63).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa ‘Muwazanah’ dalam Bab Tahdzir itu bukan larangan mutlak dan juga bukan keharusan mutlak, tetapi melihat sisi maslahat dan madharat.

Pengertian ‘al-Inshaf’

Sikap ‘Muwazanah’ di dalam menilai dan menghukumi seorang tokoh dan juga dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ disebut juga dengan sikap ‘al-Inshaf’.

Al-Imam Abu Hilal al-Askari (wafat tahun 382 H) rahimahullah berkata:

فقيل في نقيض الظلم الانصاف وهو إعطاء الحق على التمام..الخ

“Maka dikatakan untuk lawan kata ‘zhalim’ adalah ‘al-Inshaf’, yaitu memberikan hak secara sempurna..dst.” (Al-Furuq al-Lughawiyah: 172). Sehingga kebaikan dan keburukan perawi atau saksi ditimbang secara sempurna tanpa dikurangi dan ditambah, kemudian disimpulkan.

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat tahun 795 H) rahimahullah juga menerangkan pengertian seorang yang ‘inshaf’:

وَالْمُنْصِفُ مَنْ اغْتَفَرَ قَلِيلَ خَطَأِ الْمَرْءِ فِي كَثِيرِ صَوَابِهِ

“Seorang yang ‘inshaf’ adalah orang yang menutupi sedikit kesalahan seseorang karena banyaknya kebenarannya.” (Al-Qawaid al-Fiqhiyyah li Ibni Rajab: 1/2).

Al-Allamah Abul Aun Syamsuddin as-Safaraini al-Hanbali (wafat tahun 1188 H) rahimahullah juga berkata:

وَالسَّعِيدُ مَنْ عُدَّتْ هَفَوَاتُهُ فِي جَنْبِ صَوَابِهِ ، وَالْمُنْصِفُ الْكَرِيمُ يُعَادِلُ بِالسَّيِّئَاتِ الْحَسَنَاتِ ، وَيَقْضِي عَلَى كُلٍّ بِحَسْبِهِ مِنْ الْأَحْوَالِ وَالْمَقَامَاتِ

“Orang yang berbahagia adalah orang yang kekeliruannya dianggap di sisi kebenarannya. Seorang yang ‘inshaf’ yang mulia akan menimbang kejelekan-kejelekan seseorang dengan kebaikan-kebaikannya, dan menetapkan kedudukan dan keadaannya berdasarkan timbangan tersebut.” (Ghidza’ul Albab fi Syarh Manzhumatil Adab: 4263).

Keutamaan ‘al-Inshaf’

Perilaku ‘al-Inshaf’ dan ‘al-Muwazanah’ mempunyai banyak keutamaan. Berikut ini beberapa keutamaannya:

Pertama: kesesuaian sikap ‘al-Inshaf’ dengan sifat al-Quran. Allah ta’ala berfirman:

وَبِالْحَقِّ أَنزلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نزلَ

Dengan al-Haqq Kami menurunkannya (yakni: al-Quran, pen) dan dengan al-Haqq pula al-Quran itu turun.” (QS. Al-Isra’: 105).

Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari (wafat tahun 319 H) rahimahullah berkata:

يقول تعالى ذكره: وبالحق أنزلنا هذا القرآن: يقول: أنزلناه نأمر فيه بالعدل والإنصاف والأخلاق الجميلة، والأمور المستحسنة الحميدة، وننهى فيه عن الظلم والأمور القبيحة، والأخلاق الردية، والأفعال الذّميمة

“Allah ta’ala berfirman: “Dan dengan al-Haqq Kami menurunkan al-Quran.” Allah berfirman: “Kami menurunkannya dengan memerintahkan di dalamnya dengan keadilan, ‘al-Inshaf’, akhlak yang indah dan perkara-perkara yang dianggap baik dan terpuji. Kami juga melarang di dalamnya dari perbuatan zhalim, perkara yang jelek, akhlak yang buruk dari perbuatan yang tercela.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wil al-Quran: 17/573).

Kedua: Nabi Dawud alaihissalam juga diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk bersikap ‘al-Inshaf’. Allah ta’ala berfirman:

يَادَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Wahai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikanmu seorang khalifah di bumi, maka hukumilah di antara manusia dengan al-Haqq dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga itu menjadi sebab kamu tersesat dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26).

Al-Imam as-Suddi rahimahullah berkata:

قوله فاحكم بين الناس بالحق يعني بالعدل والإنصاف

“Firman-Nya “Maka hukumilah di antara manusia dengan al-Haqq” maksudnya adalah dengan keadilan dan sikap ‘al-Inshaf’.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran: 21/189).

Ketiga: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga memerintahkan kita untuk berbuat ‘al-Inshaf’ dan ‘Muwazanah’, yaitu dengan tidak melupakan jasa baik kaum mukminin ketika mereka berbuat salah sebagaimana yang terjadi pada kaum Anshar. Beliau bersabda:

الأَنْصَارُ كَرِشِي، وَعَيْبَتِي وَالنَّاسُ سَيَكْثُرُونَ، وَيَقِلُّونَ فَاقْبَلُوا مِنْ مُحْسِنِهِمْ، وَتَجَاوَزُوا عَنْ مُسِيئِهِمْ

“Kaum Anshar adalah teman dekat dan kelompokku. Dan manusia akan semakin banyak dan kaum Anshar semakin sedikit. Maka terimalah orang yang berbuat baik dari kalangan mereka dan maafkanlah orang yang berbuat buruk dari kalangan mereka.” (HR. Al-Bukhari: 3801, Muslim: 6576 dan at-Tirmidzi: 3907 dari Anas radliyallahu anhu).

Al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i (wafat tahun 1031 H) rahimahullah berkata:

قوله (واعفوا عن مسيئهم) ما فرط منه من زلة وحذف المفعول للتعميم وذلك لما لهم من المآثر الحميدة من نصرة الدين وإيواء المصطفى صلى الله عليه وسلم وصحبه وبإيثارهم من الأموال والأنفس

“Sabda beliau “maafkanlah orang yang berbuat buruk dari kalangan mereka” adalah ketergelinciran yang muncul akibat kecerobohan. Maf’ul (objek, pen) dibuang untuk memberikan pengertian keumuman. Yang demikian karena mereka (kaum Anshar, pen) mempunyai jasa yang terpuji, berupa pertolongan mereka terhadap agama, perlindungan mereka kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau dan juga mereka telah mencurahkan harta dan jiwa dalam keadaan sangat membutuhkan..dst.” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 1/250).

Muwazanah dalam al-Jarh wat Ta’dil

Di antara perkara yang perlu kami bahas di sini adalah ucapan asy-Syaikh Rabi’: “Banyak sekali yang menulis kitab khusus tentang al-Jarh (mencela perawi, pen) saja, karena memang ilmu yang berdiri sendiri. Maka ini menghantam punggung ‘Manhaj Muwazanah’ dan juga menghantam punggung para pengikutnya.”

Asy-Syaikh Rabi’ juga berkata: “Ini membantah ‘Manhaj Muwazanah’ yang batil. Ilmu al-Jarh (yakni: mencela perawi, pen) itu ilmu yang berdiri sendiri. Oleh karena itu kebanyakan para imam menulis tersendiri kitab-kitab yang khusus membahas al-Jarh saja. Mereka hanya mengkhususkan dengan mencela para perawi saja, seperti al-Bukhari dalam adh-Dhu’afa’, an-Nasa’i dalam al-Matrukin, Ibnu Hibban dalam al-Majruhin, Ibnu Adi dalam al-Kamil. Demikian pula adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar dan selain mereka.”

Tanggapan:

Pertama: Manhaj ‘Muwazanah’ dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ –yang diingkari oleh asy-Syaikh Rabi’- justru merupakan manhaj Ahlul Hadits.

Al-Imam Ibnu Hibban (wafat tahun 354 H) rahimahullah menerangkan pentingnya ‘Muwazanah’ dan ‘al-Inshaf’ dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Beliau berkata:

ولسنا ممن يطلق الكلام على أحد بالجزاف بل نعطى كل شيخ قسطه وكل راو حظه

“Dan kami bukanlah termasuk orang yang menghukumi seseorang dengan cara ‘al-Jazaf’ (tanpa menimbang dan menakar, pen), tetapi kami memberikan kepada setiap syaikh sifat ‘adil’nya dan memberikan kepada setiap perawi apa yang menjadi bagiannya.” (Ats-Tsiqat li Ibni Hibban: 6/218).

Kata ‘al-Jazaf’ dalam ucapan Ibnu Hibban di atas disebutkan dalam al-Mu’jamul Wasith:

( الجزاف ) الشيء لا يعلم كيله أو وزنه

“Al-Jazaf’ adalah sesuatu yang tidak diketahui takaran atau timbangannya.” (Al-Mu’jamul Wasith: 1/252). Maksudnya adalah bahwa Ibnu Hibban sebelum menghukumi para perawi hadits, melakukan penimbangan terhadap kebaikan dan keburukan, serta kelebihan dan kekurangan yang dimiliki perawi tersebut.

Demikian pula menurut al-Imam Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah. Beliau berkata:

وإذا اجتمع في أخبار رجل واحد معان مختلفة من المحاسن والمناقب والمطاعن والمثالب وجب كتب الجميع ونقله وذكر الكل ونشره

“Jika berkumpul berbagai makna tentang berita seseorang, yang meliputi kebaikan, keutamaan, celaan dan kejelekan, maka harus ditulis seluruhnya, dinukilkan, disebutkan semuanya dan disebarkan.” (Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’: 2/202).

Kemudian al-Khathib membawakan ucapan al-Imam Ibnu Sirin rahimahullah:

ظلمت أخاك إذا ذكرت مساوئه ولم تذكر محاسنه

“Kamu men-zhalimi saudaramu, jika hanya menyebutkan kesalahan-kesalahanya tanpa menyebutkan kebaikannya.” (Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’: 1617 (2/202)).

Ucapan al-Khathib dan Ibnu Sirin di atas menunjukkan bahwa jika pada diri perawi hadits terdapat celaan dan pujian, maka membatasi celaan saja pada perawi tersebut merupakan kezhaliman.

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah juga mengkritik manhaj al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah ketika mencela Aban bin Yazid al-Aththar dan tidak memberikan at-Ta’dil (pujian) kepadanya padahal beliau adalah seorang hafizh (penghapal hadits, pen), jujur dan juga seorang imam. Adz-Dzahabi berkata:

وقد أورده أيضاً العلامة أبو الفرج ابن الجوزي في الضعفاء، ولم يذكر فيه أقوال من وثقه.وهذا من عيوب كتابه يسرد الجرح، ويسكت عن التوثيق

“Aban ini juga disebutkan oleh al-Allamah Abul Faraj Ibnul Jauzi dalam kitab ‘adh-Dhu’afa’. Beliau tidak menyebutkan pendapat ulama yang men-ta’dilnya (memujinya, pen). Ini termasuk aib atau cacat kitab beliau. Yaitu menyebutkan al-Jarh (mencela, pen) dan berdiam diri dari at-Ta’dil (memuji, pen).” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal: 1/16).

Oleh karena itu al-Allamah Abdurrahman al-Mu’allimi al-Yamani (ulama masa Daulah Utsmaniyah wafat tahun 1386 H) rahimahullah melakukan ‘al-Jarh’ atau ‘at-Ta’dil’ berdasarkan perkara yang dominan dari para perawi. Jika kebaikannya lebih dominan, maka ia di-Ta’dil dan sebaliknya. Beliau berkata:

ومع هذا كله فالصواب في الجرح والتعديل هو الغالب، وإنما يحتاج إلى التثبت والتأمل فيمن جاء فيه تعديل وجرح..الخ

“Maka ini semuanya, yang benar dalam al-Jarh wat Ta’dil adalah perkara yang dominan (dari keadaan perawi hadits, pen). Penelitian yang mendalam hanya dibutuhkan pada seseorang yang mana dalam dirinya terdapat celaan dan pujian…dst.” (At-Tankil bi Ma min Ta’nibil Kautsari minal Abathil: 1/245).

Kedua: menyendirikan para perawi tsiqat dalam kitab tersendiri dan juga para perawi yang di-Jarh dalam kitab tersendiri, tidak menunjukkan ‘anti-Muwazanah’ dan ‘anti al-inshaf’ –sebagaimana persangkaan asy-Syaikh Rabi’-, tetapi dalam rangka memudahkan para penuntut ilmu untuk mencari status para perawi hadits.

Ketika menulis kitab ‘ats-Tsiqat’, al-Imam Ibnu Hibban (wafat tahun 354 H) rahimahullah berkata dalam Mukaddimahnya:

فلما رأيت معرفة السنن من أعظم أركان الدين وأن حفظها يجب على أكثر المسلمين وأنه لا سبيل إلى معرفة السقيم من الصحيح ولا صحة إخراج الدليل من الصريح إلا بمعرفة ضعفاء المحدثين كيفية ما كانوا عليه من الحالات أردت أن أملي أسامي أكثر المحدثين ومن الفقهاء من أهل الفضل والصالحين ومن سلك سبيله من الماضين بحذف الأسانيد والإكثار ولزم سلوك الاختصار ليسهل على الفقهاء حفظها ولا يصعب على الحافظ وعيها

“Ketika aku (Ibnu Hibban, pen) melihat bahwa mengetahui sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam merupakan pilar agama yang paling besar, dan bahwa menjaganya adalah wajib atas kebanyakan kaum muslimin, dan bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui hadits yang dhaif daripada yang shahih, serta tidak ada jalan utuk mengeluarkan dalil dari hadits yang jelas, kecuali dengan mengetahui orang-orang lemah di kalangan ahlul hadits bagaimanapun keadaannya, maka aku (Ibnu Hibban, pen) ingin meng-imlak (mendiktekan, pen) nama-nama kebanyakan ahlul hadits dan ahlul fikih dari kalangan orang-orang yang mempunyai keutamaan, orang-orang shalih dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka, dengan membuang sanad-sanad dan tidak berpanjang lebar, serta dengan metode ringkasan (biografi, pen) agar para fuqaha mudah menghapalkannya dan para penghafal hadits tidak kesulitan mengingatnya..dst.” (Ats-Tsiqat li Ibni Hibban: 1/3).

Begitu pula ketika menulis kitab ‘al-Majruhin’, beliau berkata dalam Mukaddimahnya:

وإنى ذاكر ضعفاء المحدثين وأضداد العدول ” من الماضين ” ممن أطلق أئمتنا عليهم القدح، وصح عندنا فيهم الجرح، وأذكر السبب الذى من أجله جرح، والعلة التى بها قدح، ليرفض سلوك الاعوجاج بالقول بأخبارهم عند الاحتجاج، وأقصد في ذلك ترك الامعان والتطويل، وألزم الاشارة إلى نفس التحصيل..الخ

“Dan sesungguhnya aku menyebutkan orang-orang dhaif di kalangan ahlul hadits dan kebalikan dari orang-orang adil dari orang-orang terdahulu, yang telah disebutkan dengan al-Jarh (celaan) oleh imam-imam kita, dan yang telah sah celaan baginya menurut kami. Aku (Ibnu Hibban, pen) juga menyebutkan penyebab ia dicela dan ilat celaan baginya, agar bisa meninggalkan jalan yang bengkok ketika berhujah dengan hadits mereka. Dan aku tidak berpanjang lebar menyebutkan (dari al-Jarh wat Ta’dil, pen) dan hanya mengisyaratkan kesimpulan…dst.” (Al-Majruhin li Ibni Hibban: 1/4).

Bahkan al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah menulis kitab khusus ‘al-Jarh’ (celaan) bagi para perawi hadits, yang berisi kesimpulan akhir tentang status seorang perawi dengan kata yang ringkas dalam rangka memudahkan para penuntut ilmu.

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullah berkata:

وللذهبي في هذا النوع المغنى كتاب صغير الحجم نافع جدا من جهة أنه يحكم على كل رجل بالأصح فيه بكلمة واحدة على إعواز فيه..الخ

“Adz-Dzahabi –dalam bab Mencela Perawi- mempunyai kitab ‘al-Mughni fidh Dh’uafa’, sebuah kitab yang kecil dan ringkas, serta sangat bermanfaat karena beliau menghukumi setiap perawi dengan kesimpulan yang paling shahih tentangnya, cukup dengan satu kata yang dibutuhkan..dst.” (Tadribur Rawi Syarh Taqrib an-Nawawi: 2/368).

Demikian pula upaya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyusun kitab ‘Taqribut Tahdzib’ dengan kesimpulan terhadap kedudukan masing-masing perawi secara ringkas dalam rangka memudahkan penuntut ilmu. Beliau berkata dalam Muqaddimah ‘at-Taqrib’:

فالتمس مني بعض الاخوان أن أجرد له الاسماء خاصة، فلم أوثر ذلك لقلة جدواه على طالبي هذه الفن، ثم رأيت أن أجيبه إلى مسألته، وأسعفه بطلبته، على وجه يحصل مقصوده بالافادة، ويتضمن الحسنى التي أشار إليها وزيادة، وهي: أنني أحكم على كل شخص منهم بحكم يشمل أصح ما قيل فيه، وأعدل ما وصف به: بألخص عبارة، وأخلص إشارة، بحيث لا تزيد كل ترجمته على سطر واحد غالبا..الخ

”Sebagian teman sejawat memintaku untuk meringkas nama-nama perawi saja, maka aku belum memenuhinya karena sedikitnya kesempatan untuk para penuntut cabang ini. Kemudian aku memenuhi permintaannya dengan menulis tulisan yang memberikan faedah dan mengandung kebaikan yang ia isyaratkan dan tambahan, yaitu bahwa aku menghukumi setiap orang dari para perawi dengan hukum yang menyeluruh yang merupakan kesimpulan yang paling shahih dan paling adil (baca: ‘inshaf’, pen), dengan ungkapan dan isyarat yang paling ringkas dengan gambaran bahwa biografi masing-masing perawi secara umum hanya cukup satu baris kalimat saja..dst.” (Taqribut Tahdzib: 1/23).

Ketiga: Kebanyakan kitab al-Jarh wat Ta’dil berisi ucapan ‘Fulan dhaif’, Fulan ‘matrukul hadits’ dan sebagainya tanpa menyebutkan alasan al-Jarh. Ini bukanlah anti-Muwazanah dan anti-inshaf –sebagaimana anggapan asy-Syaikh Rabi’ dalam kitab ‘Manhaj Ahlussunnah fi Naqdir Rijal hal. 45 s/d 46- tetapi merupakan kesimpulan akhir dari penelitian ulama al-Jarh wat Ta’dil dengan metode ‘Muwazanah’ atau ‘al-Inshaf’, yaitu menimbang antara kebaikan dan keburukan perawi hadits.

Maka teori ‘anti-inshaf’ (baca: anti-muwazanah, pen) dari asy-Syaikh Rabi’ waffaqahullah dibantah oleh pakar al-Jarh wat Ta’dil di jamannya, yaitu al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Menurut Ibnu Katsir, para ulama al-Jarh wat Ta’dil ketika menyatakan Fulan dhaif, Fulan matruk, dsb sudah didahului dengan penelitian di atas sikap ‘al-Inshaf’. Beliau berkata:

قال الشيخ أبو عمرو: وأكثر ما يوجد في كتب الجرح والتعديل: ” فلان ضعيف ” ، أو: ” متروك ” ، ونحو ذلك، فإن لم نكتف به انسد باب كبير في ذلك..الخ

” قلت ” : أما كلام هؤلاء الأئمة المنتصبين لهذا الشأن، فينبغي أن يؤخذ مسلماً من غير ذكر أسباب، وذلك للعلم بمعرفته، واطلاعهم واضطلاعهم في هذا الشأن، واتصافهم بالانصاف والديانة والخبرة والنصح، لا سيما إذا أطبقوا على تضعيف الرجل، أو كونه متروكاً، أو كذاباً أو نحو ذلك.

“Asy-Syaikh Abu Amr (Ibnush Shalah, pen) berkata: “Kebanyakan keterangan yang ditemukan dalam buku-buku ‘al-Jarh wat Ta’dil’: “Fulan dhaif’, atau ‘matruk’ dan sebagainya. Jika kita tidak menganggap cukup keterangan tersebut, maka akan terbuntu banyak bab dalam perkara tersebut…dst.”

Aku (Ibnu Katsir) berkata: “Adapun ucapan para imam yang sangat pakar dalam bidang ini (seperti Ibnu Ma’in, Ibnul Madini, Syu’bah dan sebagainya, pen), maka hendaknya diterima apa adanya tanpa menyebutkan sebabnya (yakni: sebab al-Jarh atau sebab at-Ta’dil, pen). Yang demikian karena mereka mempunyai ilmunya, sangat mumpuni dan mendalam pengetahuannya dalam bab ini (yakni: al-Jarh wat Ta’dil, pen). Dan mereka juga mempunyai sifat ‘inshaf’, menjunjung nilai agama, pengetahuan luas dan pemberi nasehat. Apalagi jika mereka bersepakat bahwa ‘Fulan dhaif’, ‘matruk’, atau pendusta dan sebagainya.” (Al-Ba’itsul Hatsits fi Ikhtishar Ulumil Hadits: 11).

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah juga menjelaskan sifat ‘al-Inshaf’ yang dipegang oleh para ulama semisal Ibnu Ma’in, Syu’bah, Ahmad bin Hanbal, Ibnul Madini dan sebagainya dalam bidang ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Beliau berkata:

ونحن لا ندعي العصمة في أئمة الجرح والتعديل لكن هم أكثر الناس صوابا وأندرهم خطأ وأشدهم إنصافا وأبعدهم عن التحامل وإذا اتفقوا على تعديل أو جرح فتمسك به واعضض عليه بناجذيك ولا تتجاوزه فتندم ومن شذ منهم فلا عبرة به

“Dan kami tidak menyatakan kemaksuman (terjaga dari kesalahan, pen) para imam ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Akan tetapi mereka itu lebih banyak benarnya, lebih jarang keliru, lebih bersifat inshaf dan lebih jauh dari sifat memaksa. Jika mereka bersepakat untuk men-Ta’dil atau men-Jarh, maka pegangilah ia, gigitlah dengan kedua gerahammu dan janganlah melampauinya, maka kamu akan menyesal. Barangsiapa yang syadz (yakni: menyendiri, pen) dari mereka, maka tidak dianggap..dst.” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/82).

Oleh karena itu jika ulama belakangan melakukan al-Jarh terhadap perawi yang di-Tadil oleh mereka, atau melakukan at-Ta’dil terhadap perawi yang di-Jarh oleh mereka, maka ulama tersebut harus menerangkan sebab-sebabnya.

Ucapan Ibnu Katsir dan adz-Dzahabi rahimahumallah di atas menunjukkan bahwa para pakar ‘al-Jarh wat Ta’dil’ menggunakan metode ‘al-Inshaf’ atau ‘Muwazanah’ di dalam menilai para perawi hadits. Dan ini menghantam punggung ‘Manhaj asy-Syaikh Rabi’ dan pengikutnya. Wallahul musta’an.

Keempat: Selain melakukan metode ‘al-Inshaf’ dalam ‘al-Jarh’ (mencela perawi), para ulama semisal Ibnu Ma’in, Ibnul Qaththan, Ahmad bin Hanbal dan sebagainya juga melakukan ‘al-Inshaf’ dalam melakukan ‘at-Ta’dil’.

Al-Allamah Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani (penulis Subulus Salam wafat tahun 1182 H) rahimahullah berkata:

قلت قد عرفنا من تتبع أحوالهم الإنصاف فيما يقولونه ألا تراهم يقولون ثقة إلا أنه كان يتشيع كان حجة إلا أنه كان يرى القدر كان ثقة إلا أنه كان مرجئا كان مائلا عن الحق ولم يكذب في الحديث كان يرى القدر وهو مستقيم الحديث فهذا دليل أن القوم كانوا يذكرون في الشخص ما هو عليه واتصف به من خير وشر ولا يتقولون عليه

“Aku (ash-Shan’ani) katakan: Telah kita ketahui bahwa barangsiapa yang meneliti keadaan mereka (ulama al-Jarh wat Ta’dil, pen), maka akan mendapatkan sifat ‘al-Inshaf’ pada diri mereka di dalam penilaian mereka. Tidakkah kalian melihat bahwa mereka menyatakan: “Ia tsiqat hanya saja tasyayyu’ (cenderung kepada Syi’ah, pen), “Ia seorang hujjah hanya saja berpendapat Qadariyah, “Ia tsiqat hanya saja Murji’ah, “Ia tersesat dari kebenaran, hanya saja tidak berdusta dalam hadits, “Ia berpendapat Qadariyah, tetapi lurus haditsnya… Ini adalah dalil bahwa mereka (ulama al-Jarh wat Ta’dil, pen) menyebutkan sifat yang menempel pada perawi yang meliputi sifat baik dan buruk dan mereka tidaklah mengada-ada atas perawi tersebut..dst.” (Tsamaratun Nazhar fi Ilmil Atsar: 149-150).

Kelima: Praktek ‘Muwazanah’ (menimbang antara kebaikan dan keburukan) banyak dilakukan oleh ulama ‘al-Jarh wat Ta’dil’ ketika menilai seorang perawi.

Contoh pertama adalah komentar al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah terhadap Abdullah bin Muhammad bin Aqil al-Hasyimi. Beliau berkata:

وكان عبد الله من سادات المسلمين من فقهاء أهل البيت وقرائهم إلا أنه كان ردئ الحفظ، كان يحدث على التوهم، فيجئ بالخبر على غير سننه، فلما كثر ذلك في أخباره وجب مجانبتها والاحتجاج بضدها

“Adalah Abdullah termasuk pembesar kaum muslimin, termasuk fuqaha’ dan penghafal al-Quran di kalangan ahlul bait, hanya saja beliau itu buruk hafalan haditsnya, membacakan hadits dengan kesalahan. Sehingga beliau membawa hadits bukan sebagaimana mestinya. Ketika kesalahan ini banyak terjadi pada haditsnya, maka hadits-haditsnya wajib dijauhi dan berhujah dengan selainnya.” (Kitab al-Majruhin li Ibni Hibban: 2/3).

Contoh kedua adalah komentar al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah terhadap Aban bin Yazid al-Kufi. Beliau berkata:

أبان بن تغلب [م، عو] الكوفي شيعي جلد، لكنه صدوق، فلنا صدقه وعليه بدعته

“Aban bin Taghlib al-Kufi, seorang yang berpemahaman Syi’ah tulen, tetapi ia jujur. Maka kita memakai kejujurannya dan ditanggung sendiri olehnya kebid’ahannya.” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal: 1/5).

Contoh ketiga adalah komentar al- Imam adz-Dzahabi rahimahullah terhadap Abdullah bin Ahmad bin Ma’ruf. Beliau berkata:

عبد الله بن أحمد بن معروف قاضي القضاة أملى مجالس وروى عنه القاضي أبو يعلى ووثقه الخطيب لكنه معتزلي

“Abdullah bin Ahmad bin Ma’ruf, hakim dari para hakim, meng-imla’ (mendiktekan, pen) hadits di beberapa majelis. Al-Qadhi Abu Ya’la meriwayatkan hadits darinya. Ia di-tsiqat-kan oleh al-Khathib al-Baghdadi. Hanya saja ia seorang Mu’tazilah.” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal: 3/3).

Contoh keempat adalah komentar al-Imam Shalih bin Muhammad al-Hafizh terhadap Muhammad bin A’idz ad-Dimasyqi. Beliau berkata:

محمد بن عائذ دمشقي ثقة إلا أنه قدري

“Muhammad bin A’idz, seorang Damaskus, tsiqat tetapi berpemahaman Qadariyah.” (Tarikh Damsyiq: 53/293 dan Tahdzibut Tahdzib: 9/215).

Contoh kelima adalah komentar al-Imam Abu Hatim ar-Razi (wafat tahun 322 H) rahimahullah terhadap Ibrahim bin Thuhman. Beliau berkata:

شيخان مرجئان من خراسان ثقتان: أبو حمزة السكري، وابن طهمان

“Ada dua orang syaikh yang berpemahaman Murji’ah yang berasal dari Khurasan, dan keduanya adalah orang tsiqat, yaitu: Abu Hamzah as-Sakri dan Ibrahim bin Thuhman.” (Ikmal Tahdzibil Kamal lil Mughlathai: 1/228).

Contoh keenam adalah komentar al-Imam ad-Daraquthni (wafat tahun 385 H) rahimahullah terhadap Ma’bad al-Juhani, pencetus ajaran Qadariyah. Beliau berkata:

حديثه صالح ومذهبه ردئ

“Haditsnya bagus (yakni: bisa diterima, pen) tetapi madzhabnya jelek.” (Tahdzibut Tahdzib: 10/203).

Dan masih banyak contoh lainnya. Ini menunjukkan bahwa ‘Manhaj’ para ulama Ahlul Hadits berlawanan dengan manhaj asy-Syaikh Rabi’ yang ‘anti-Muwazanah’.

Antara ‘Adil’ dan ‘Fasiq’

Para ulama ‘al-Jarh wat Ta’dil’ juga melakukan metode muwazanah dan ‘inshaf’ di dalam menentukan apakah seorang perawi itu adil ataukah fasiq. Jika seorang perawi lebih banyak ketaatannya, maka ia berhak di-ta’dil.

Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah menjelaskan tentang pengertian ‘Adil’. Beliau berkata:

والعدالة في الإنسان هو أن يكون أكثر أحواله طاعة الله لأنا متى ما لم نجعل العدل إلا من لم يوجد منه معصية بحال أدانا ذلك إلى أن ليس في الدنيا عدل إذ الناس لا تخلو أحوالهم من ورود خلل الشيطان فيها بل العدل من كان ظاهر أحواله طاعة الله والذي يخالف العدل من كان أكثر أحواله معصية الله

“Sifat ‘adil’ pada manusia adalah jika mayoritas keadaannya berupa ketaatan kepada Allah. Ini karena jika kita tidak menganggap ‘adil’ kecuali orang yang belum pernah ditemukan kemaksiatan padanya sedikit pun, maka ini akan membawa kepada konsekuensi tidak akan ditemukan orang adil di dunia ini. Karena keadaan manusia tidaklah sunyi dari datangnya celah syetan. Akan tetapi seorang yang adil adalah orang yang keadaan dhahirnya berupa ketaatan kepada Allah. Sedangkan orang menyelisihi orang adil (yakni: orang fasiq, pen) adalah orang mayoritas keadaannya berbuat maksiat kepada Allah.” (Shahih Ibnu Hibban: 1/151).

Beliau juga berkata:

لأن العدل إذا ظهر عليه أكثر أمارات الجرح استحق الترك ، كما أن من ظهر عليه أكثر علامات التعديل استحق العدالة

“Karena seorang adil jika tampak padanya kebanyakan tanda-tanda di-Jarh, maka ia berhak ditinggalkan (haditsnya, pen), sebagaimana orang yang tampak padanya kebanyakan tanda ‘at-Ta’dil’ maka berhak mendapatkan sifat ‘adil’. (Al-Majruhin li Ibni Hibban: 1/76-7).

Al-Imam Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi (wafat tahun 463 H) rahimahullah menukilkan ucapan al-Qadhi Abu Bakar bin Thayyib (wafat tahun 403) rahimahullah:

والعدالة المطلوبة في صفة الشاهد والمخبر، هى العدالة الراجعة إلى استقامة دينه وسلامة مذهبه، وسلامته من الفسق وما يجرى مجراه مما اتفق على أنه مبطل العدالة من أفعال الجوارح والقلوب المنهى عنها، والواجب أن يقال في جميع صفات العدالة إنها اتباع أوامر الله تعالى والانتهاء عن ارتكاب ما نهى عنه مما يسقط العدالة، وقد علم مع ذلك أنه لا يكاد يسلم المكلف من البشر من كل ذنب..الخ

“Sifat ‘adil’ yang dicari di dalam saksi dan perawi adalah sifat ‘adil’ yang dominan, menuju konsisten dalam agamanya, selamat madzhabnya dan selamatnya ia dari kefasikan dan perkara yang menduduki kefasikan, yang telah disepakati bahwa perkara tersebut bisa membatalkan sifat ‘adil’, yang berupa perbuatan anggota tubuh dan hati yang dilarang. Yang wajib dikatakan tentang sifat ‘adil’ adalah bahwa sifat adil adalah mengikuti perintah-perintah Allah dan berhenti dari melakukan perbuatan yang dilarang yang bisa menggugurkan sifat ‘adil’. Dan telah diketahui bahwa seorang manusia mukallaf hampir tidak selamat dari setiap dosa..dst.” (Al-Kifayah fi Ilmir Riwayah: 80).

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah juga menguatkan metode ‘Muwazanah’ di dalam menentukan perawi tsiqat. Beliau menjelaskan:

ما كل أحد فيه بدعة أو هفوة أو ذنوب يقدح فيه بما يوهن حديثه ، ولا من شرط الثقة أن يكون معصوماً

“Tidaklah setiap orang yang mempunyai kebid’ahan, atau kesalahan, atau dosa-dosa itu dicela dengan celaan yang bisa melemahkan haditsnya. Dan tidak juga syarat seorang tsiqat harus maksum (terbebas dari kesalahan, pen).” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal: 3/141).

Demikian pula batasan sifat ‘adil’ dalam diri perawi menurut al-Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani rahimahullah. Beliau menjelaskan:

ومن طالع تراجم الرواة علم ذلك وأنه ليس العدل إلا من قارب وسدد وغلب خيره شره

“Barangsiapa melihat biografi para perawi, maka ia akan mengetahui bahwa tidak ada definisi sifat ‘adil’ kecuali orang yang mendekati kebenaran, berusaha untuk menempuh kebenaran dan kebaikannya lebih dominan daripada kejelekannya.” (Tsamaratun Nazhar fi Ilmil Atsar: 58).

Demikian pula dengan sifat ‘fasiq’, seorang perawi bisa dinilai sebagai fasiq jika ia melakukan dosa besar sekali atau melakukan dosa kecil secara terus-menerus. Al-Allamah Abdurrahman al-Mu’allimi al-Yamani rahimahullah menjelaskan:

اشتهر بين أهل العلم أن الإصرار على الصغيرة يصيرها كبيرة ، وقال جماعة كالكبيرة في رد الشهادة و الرواية ، وقيده جماعة بالإصرار على كثير من الصغائر ، بحيث تصير معاصي الرجل أغلب من طاعاته ، فنص جماعة من الأئمة كالشافعي وغيره على أن من غلبت طاعاته معاصيه فهو عدل..الخ

“Terkenal di kalangan ulama bahwa membiasakan dosa kecil bisa menjadikannya dosa besar. Sebagian ulama menyatakan bahwa terus-menerus melakukan dosa kecil itu seperti dosa besar di dalam tertolaknya persaksian dan periwayatan. Sebagian ulama membatasinya dengan membiasakan untuk melakukan kebanyakan dosa kecil sehingga kemaksiatan seseorang bisa mengalahkan ketaatannya. Segolongan ulama –seperti asy-Syafi’i dan lainnya- menyebutkan bahwa seseorang yang ketaatannya mengalahkan kemaksiatannya, maka ia adalah seorang yang adil…dst.” (Al-Istibshar fi Naqdil Akhbar lil Mu’alimi: 22).

Maka penjelasan ulama di atas menghantam punggung ‘Manhaj anti Inshaf dan anti Muwazanah’.

Indahnya Ucapan asy-Syafi’i

Ucapan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah yang di-isyaratkan oleh al-Mu’allimi di atas adalah ucapan yang dinukilkan oleh al-Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani  rahimahullah. Beliau berkata:

وقد قال الشافعي في العدالة قولا استحسنه كثير من العقلاء من بعده قال لو كان العدل من لم يذنب لم نجد عدلا ولو كان كل ذنب لا يمنع من العدالة لم نجد مجروحا ولكن من ترك الكبائر وكانت محاسنه أكثر من مساوئه فهو عدل انتهى

“Al-Imam asy-Syafi’i berkata tentang sifat ‘adil’ dengan ucapan yang dianggap baik oleh kebanyakan orang yang berakal setelah beliau. Beliau berkata: “Seandainya orang adil itu adalah orang yang tidak pernah berbuat dosa, maka kita tidak akan menemukan orang adil. Seandainya setiap dosa tidak bisa menggugurkan sifat ‘adil’, maka kita tidak akan menemukan orang yang di-Jarh (dicela, pen). Akan tetapi barangsiapa yang meninggalkan dosa-dosa besar, serta kebaikannya lebih banyak daripada kejelekannya, maka ia adalah orang yang ‘adil’.” Selesai ucapan asy-Syafi’i.” (Tsamaratun Nazhar fi Ilmil Atsar: 72-73).

Ucapan asy-Syafi’i di atas dapat ditemui dalam kitab ‘ar-Risalah’. Beliau berkata:

وليس للعدل علامة تفرق بينه وبين غير العدل في بدنه ولا لفظه وإنما علامة صدقه بما يختبر من حاله في نفسه فإذا كان الاغلب من أمره ظاهر الخير قبل وإن كان فيه تقصير عن بعض أمره لانه لا يعرى أحد رأينا من الذنوب وإذا خلط الذنوب والعمل الصالح فليس فيه إلا الاجتهاد على الاغلب من أمره بالتمييز بين حسنه وقبيحه وإذا كان هذا هكذا فلا بد من أن يختلف المجتهدون فيه..الخ

“Seorang yang ‘adil’ tidak mempunyai tanda yang membedakannya dengan orang yang ‘tidak adil’ di tubuh dan ucapannya. Tanda sifat ‘adil’nya dapat diuji dengan keadaannya dalam dirinya. Jika perkara yang paling dominan dari perkaranya adalah tampak kebaikannya, maka diterima (persaksian dan periwayatannya, pen). Jika di dalam perilaku dan sifatnya terdapat kekurangan atau kecerobohan, karena memang tidak seorang pun –yang kami ketahui- terbebas dari dosa. Dan jika bercampur antara dosa-dosa dan amal kebaikan, maka tidak ada jalan kecuali ber-ijtihad untuk menentukan perkara yang paling dominan dari perkaranya di antara kebaikan dan keburukannya. Dan jika keadaannya demikian, maka pastilah terjadi perbedaan penilaian di kalangan para mujtahid..dst.” (Ar-Risalah: 493).

Kemudian selain ditemui dalam kitab al-Umm (7/56), penukilan dan pendapat asy-Syafi’i di atas banyak disebutkan dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyah. Di antaranya adalah penukilan dalam kitab ‘an-Najmul Wahhaj’ Syarh dari ‘al-Minhaj’nya an-Nawawi.

Al-Imam Abul Baqa’ ad-Damiri asy-Syafi’i (wafat tahun 808 H) berkata:

قال: (وشرط العدالة: اجتناب الكبائر) أي: جميعها، فيفسق بواحدة منها..الخ. قال: (والإصرار على صغيرة) فلا يشترط أن لا يقع منه، بل المضر الإصرار عليها..الخ. واعتبر الشافعي الأغلب، فإن كان الغالب الطاعة وندرت المعصية في بعض الأوقات فهو عدل، وإن كان الغالب الصغائر فهو فاسق وترد شهادته؛ لقوله تعالى: {فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُم}، فاعتبر الكثرة والغلبة؛ لأن في النفس دواعي الطاعات ودواعي المعاصي فاعتبر الأغلب

“An-Nawawi berkata: “Syarat dari sifat ‘adil’ adalah menjauhi dosa-dosa besar.” Maksudnya adalah semua dosa besar. Maka seseorang dianggap ‘fasiq’ dengan hanya melakukan satu dosa besar…dst.” An-Nawawi berkata: “Dan juga (dipersyaratkan) tidak membiasakan dosa kecil.” Maka tidak dipersyaratkan untuk tidak melakukan dosa kecil, tetapi yang berbahaya adalah membiasakan dosa kecil..dst. Asy-Syafi’i mempersyaratkan adanya ‘perkara yang paling dominan’. Jika perkara yang paling dominan adalah ketaatan dan kemaksiatannya jarang dilakukan, maka ia adalah seorang yang adil. Dan jika yang paling dominan adalah dosa-dosa kecil, maka ia adalah orang yang fasiq dan persaksiannya ditolak, karena firman Allah ta’ala: “Barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka adalah orang yang merugi atas diri mereka, kekal di neraka Jahannam.” (QS. Al-Mukminun: 102-103). Maka beliau (asy-Syafi’i, pen) menganggap ‘perkara yang dominan’ dan ‘perkara yang paling banyak’, karena di dalam jiwa ini terdapat pendorong-pendorong ketaatan dan pendorong-pendorong kemaksiatan, maka beliau menganggap ‘perkara yang paling dominan’.” (An-Najmul Wahhaj fi Syarhil Minhaj: 10/287-8).

Muwazanah adalah Ijma’ Ulama

Bahkan wajibnya ‘Muwazanah’ dan sikap ‘al-Inshaf’ di dalam menentukan sifat ‘adil’ bagi perawi hadits dan saksi merupakan ijma’ (konsensus) para ulama, kecuali asy-Syaikh Rabi’- waffaqahullah.

Al-Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani rahimahullah berkata:

التحقيق أنه قد وقع الإجماع على أنه يشترط في الرواة الصدق والضبط لروايته وفي ديانته يشترط أن يغلب خيره على شره هذا أمر مجمع عليه..الخ

“Pendapat yang terpilih: Telah terjadi ijma’ (kesepakatan) bahwa dipersyaratkan bagi perawi hadits adanya sifat jujur dan dhabith dalam periwayatan. Dan di dalam masalah ad-Dien, kebaikan perawi lebih banyak daripada kejelekannya. Ini adalah perkara yang disepakati…dst.” (Taudhihul Afkar li Ma’ani Tanqihil Anzhar: 1/313).

Demikian pula penukilan ‘Ijma’ dari ulama Hanabilah. Al-Imam Ibnu Muflih al-Hanbali rahimahullah juga berkata:

وَظَاهِرُ الْكَافِي : الْعَدْلُ مَنْ رَجَحَ خَيْرُهُ وَلَمْ يَأْتِ كَبِيرَةً ، لِأَنَّ الصَّغَائِرَ تَقَعُ مُكَفِّرَةً أَوَّلًا فَأَوَّلًا فَلَا تَجْتَمِعُ .قَالَ ابْنُ عَقِيلٍ : لَوْلَا الْإِجْمَاعُ لَقُلْنَا بِهِ

“Dan zhahir dari kitab ‘al-Kafi’ menjelaskan bahwa orang yang adil adalah orang yang kebaikannya lebih dominan (dari kejelekannya, pen) dan belum pernah melakukan satu dosa besar. Ini karena dosa-dosa kecil terdapat amal kebaikan yang menghapuskannya satu persatu, sehingga tidak berkumpul. Ibnu Aqil berkata: “Seandainya tidak ada ijma’ (kesepakatan) dalam masalah ini, maka aku akan berpendapat dengannya.” (Al-Furu’: 12/444 dan al-Inshaf fi Ma’rifatir Rajih minal Khilaf: 17/325).

Pendapat ini juga merupakan pendapat yang terpilih di kalangan ulama Hanafiyah. Al-Allamah Fakhruddin az-Zaila’i al-Hanafi (wafat tahun 743 H) rahimahullah berkata:

وَأَحْسَنُ مَا قِيلَ فِيهِ مَا نُقِلَ عَنْ أَبِي يُوسُفَ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّ الْعَدْلَ فِي الشَّهَادَةِ أَنْ يَكُونُ مُجْتَنَبًا عَنْ الْكَبَائِرِ وَلَايَكُونُ مُصِرًّا عَلَى الصَّغَائِرِ وَيَكُونُ صَلَاحُهُ أَكْثَرَ مِنْ فَسَادِهِ وَصَوَابُهُ أَكْثَرَ مِنْ خَطَئِهِ

“Definisi yang terbaik dari sifat ‘adil’ adalah definisi yang dinukilkan dari al-Imam Abu Yusuf rahimahullah, bahwa seorang yang adil di dalam persaksian adalah orang menjauhi dosa besar, tidak membiasakan dosa kecil, kebaikannya lebih banyak daripada kerusakannya, dan ketepatannya lebih banyak daripada kekeliruannya.” (Tabyinul Haqa’iq Syarh Kanzid Daqa’iq: 12/288).

Demikian pula menurut sebagian ulama Malikiyah. Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Syas al-Judzami as-Sa’di al-Maliki (wafat tahun 616 H) rahimahullah berkata:

قال بعض علمائنا: وليست العدالة أن يمحض الرجل الطاعة حتى لا تشوبها معصية، وذلك متعذر لا يقدر عليه إلا الأولياء والصديقون، ولكن من كانت الطاعة أكثر حاله وأغلبها عليه، وهو مجتنب للكبائر، محافظ على ترك الصغائر، فهو العدل.

“Sebagian ulama kami (yakni: Malikiyah, pen) berkata: “Sifat ‘adil’ itu bukanlah orang yang memurnikan ketaatan, sehingga tidak tercampur dengan kemaksiatan sedikit pun. Yang demikian karena sangat sulit, tidak mampu melakukannya kecuali para wali dan orang-orang yang shiddiq. Akan tetapi barangsiapa yang ketaatannya merupakan keadaannya yang paling banyak dan paling dominan daripada kemaksiatannya, sedangkan ia menjauhi dosa besar, berusaha menjaga untuk meninggalkan dosa kecil, maka ia adalah orang adil.” (Aqdul Jawahir ast-Tsaminah fi Madzhabi Alimil Madinah: 3/1032 dan at-Taudhih fi Syarh Mukhtashar Ibni Hajib: 7/464).

Perkara Bid’ah pada Perawi

Perkara bid’ah juga menjadi salah satu sebab seorang perawi di-Jarh (dicela, pen) dan ditolak periwayatannya. Di sini terdapat atsar as-Salaf yang terkenal.

Rafi’ bin al-Asyras rahimahullah berkata:

كان يقال ان من عقوبة الكذاب أن لا يقبل صدقه قال وأنا أقول ومن عقوبة الفاسق المبتدع أن لا تذكر محاسنه

“Dikatakan bahwa termasuk hukuman bagi pendusta adalah tidak diterimanya kejujurannya. Aku berkata: “Dan termasuk hukuman bagi orang fasiq yang ahlul bid’ah adalah tidak disebutkan kebaikan-kebaikannya.” (Atsar riwayat al-Kahthib dalam al-Kifayah fi Ilmir Riwayah: 117 dan Ibnu Abid Dunya dalam Kitab ash-Shumt: 549 (260)).

Kemudian para ulama mempunyai perincian dan metode tersendiri di dalam menentukan perkara bid’ah yang mana, jenisnya, beratnya dan sebagainya untuk menolak periwayatan pelakunya.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

المبتدع إن كفر ببدعته، فلا إشكال في رد روايته. وإذا لم يكفر، فإن استحل الكذب رُدت أيضاً، وإن لم يستحل الكذب، فهل يقبل أو لا؟ أو يفرق بين كونه داعية أو غير داعية؟ في ذلك نزاع قديم وحديث. والذي عليه الأكثرون التفصيل بين الداعية وغيره

“Ahlul Bid’ah, jika dikafirkan dengan bid’ahnya, maka tidak ada keraguan di dalam menolak riwayatnya. Jika ia tidak dikafirkan dengan bid’ahnya, maka apabila ia menghalalkan kedustaan, maka juga ditolak riwayatnya. Jika ia tidak menghalalkan berdusta, maka apakah diterima atau ditolak? Apakah juga harus dibedakan antara yang mengajak (kepada bid’ahnya, pen) ataukah tidak? Di sini ada perselisihan di kalangan ulama terdahulu dan sekarang. Yang dipegang oleh kebanyakan ulama adalah memerinci apakah ia mengajak ataukah tidak.” (Al-Ba’itsul Hatsits fi Ikhtishar Ulumil Hadits: 12).

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah juga menjelaskan peringkat kebid’ahan. Beliau menerangkan:

فإن كان كلامُهم فيه من جهةِ معتَقَدِه ، فهو على مراتب : فمنهم : من بِدْعَتُه غليظة. ومنهم : من بِدْعَتُه دون ذلك . ومنهم : الداعي إلى بدعتِه . ومنهم : الكافُّ ، وما بينَ ذلك . فمتى جَمَع الغِلَظَ والدعوةَ تُجُنِّبَ الأخذُ عنه . ومتى جِمِع الخِفَّةَ والكفَّ أَخذوا عنه وقَبِلُوه .فالغِلَظُ كغُلاةِ الخوارج ، والجهميةِ ، والرافضةِ .والخِفَّةُ كالتشيُّع والإِرجاء .

“Jika pembicaraan para ulama terhadap para perawi dari arah akidahnya, maka terdapat beberapa urutan. Di antara mereka terdapat perawi yang bid’ahnya berat. Di antara mereka terdapat perawi yang bid’ahnya lebih ringan. Di antara mereka terdapat perawi yang mengajak kepada bid’ahnya. Di antara mereka terdapat perawi yang tidak mengajak. Di antara mereka terdapat perawi tengah-tengah. Maka jika seorang perawi mengumpulkan bid’ah berat dan ‘mengajak’, maka riwayatnya tidak bisa diterima. Jika seorang perawi mengumpulkan bid’ah ringan dan tidak mengajak, maka riwayatnya boleh diambil dan diterima. Bid’ah berat itu seperti Khawarij ekstrem, Jahmiyah dan Rafidhah. Sedangkan bid’ah ringan itu seperti bid’ah Tasyayu’ (Syi’ah, pen) dan Irja’ (Murji’ah, pen).” (Al-Muqizhah fi Ilmi Mushthalahil Hadits: 20).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah juga menambahkan perincian. Beliau berkata:

ثمَّ البِدْعَةُ: إمَّا بمُكَفِّرٍ، أو بِمُفَسِّقٍ. فالأوَّلُ: لا يَقْبَلُ صَاحِبَها الجمهُورُ. والثَّاني: يُقْبَلُ مَنْ لَم يكُنْ دَاعِيةً، في الأصَحّ، إلاَّ إِنْ رَوَى مَا يُقَوِّي بدْعَتُهُ فَيُرَدُّ، عَلَى الْمُخْتَارِ، وَبِهِ صَرَّحَ الجوزجانيُّ شَيْخُ النَّسَائِي.

“Kemudian perkara bid’ah itu, adakalanya bid’ah yang mengkafirkan pelakunya, atau bid’ah yang menjadikan fasiq pelakunya. Yang pertama (yakni: bid’ah yang dikafirkan, pen): mayoritas ulama menolak riwayatnya. Yang kedua (yakni: bid’ah yang difasik-kan, pen): diterima riwayatnya Ahlul Bid’ah yang tidak mengajak kepada bid’ahnya, menurut pendapat yang paling shahih, kecuali jika ia meriwayatkan perkara yang menguatkan bid’ahnya, maka riwayatnya ditolak, menurut pendapat yang terpilih. Ini juga ditegaskan oleh al-Jauzajani, guru an-Nasai.” (Nuz-hatun Nazhar fi Taudhih Nukhbatil Fikr fi Mushthalah Ahlil Atsar: 277).

Dari penjelasan ketiga ulama di atas, perawi yang Ahlul Bid’ah itu perlu diperinci dengan perincian: bid’ahnya dikafirkan atau tidak, berat ringannya bid’ah, menghalalkan berdusta atau tidak, mengajak kepada bid’ahnya atau tidak, dan hadits yang diriwayatkan itu menguatkan bid’ahnya atau tidak.

Akan tetapi kaedah-kaedah di atas terkadang tidak dijalankan oleh para ulama ‘al-Jarh wat Ta’dil’, karena mempertimbangkan faktor lain, yaitu ‘Muwazanah’ (menimbang antara kebaikan dan keburukan perawi Ahlul Bid’ah).

Sebagai contoh adalah hadits dalam Shahih Muslim:

عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ عَدِىِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ زِرٍّ قَالَ قَالَ عَلِىٌّ وَالَّذِى فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَىَّ أَنْ لاَ يُحِبَّنِى إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضَنِى إِلاَّ مُنَافِقٌ.

Dari A’masy, dari Adi bin Tsabit, dari Zirr ia berkata: “Ali berkata: “Demi Dzat yang menumbuhkan biji-bijian dan meniupkan ruh, sesesungguhnya janji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadaku: “Tidaklah mencintaiku (Ali, pen) kecuali seorang mukmin dan tidaklah membenciku kecuali seorang munafik.” (HR. Muslim: 249, an-Nasai: 5022 dan Ibnu Majah: 114).

Di dalam hadits di atas terdapat Adi bin Tsabit al-Anshari al-Kufi. Ia adalah perawi Kutubus Sittah. Al-Imam ad-Daraquthni berkata:

رافضي غال، وهو ثقة.

“Ia seorang penganut Rafidhah ekstrem, tetapi tsiqat.” (Mizanul I’tidal: 3/62).

Pertanyaannya: Mengapa Adi bin Tsabit dinilai ‘Tsiqat’ padahal ia seorang penganut Rafidhah ekstrim? Dan hadits yang diriwayatkan olehnya juga menguatkan bid’ah Syi’ahnya. Mengapa haditsnya dimasukkan dalam Shahih Muslim?

Jawabannya: para ulama menggunakan metode ‘Muwazanah’ di dalam menilai ini. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

فلقائل أن يقول: كيف ساغ توثيق مبتدع وحد الثقة العدالة والإتقان؟ فكيف يكون عدلا من هو صاحب بدعة؟ وجوابه أن البدعة على ضربين: فبدعة صغرى كغلو التشيع، أو كالتشيع بلا غلو ولا تحرف، فهذا كثير في التابعين وتابعيهم مع الدين والورع والصدق. فلو رد حديث هؤلاء لذهب جملة من الآثار النبوية، وهذه مفسدة بينة.

ثم بدعة كبرى، كالرفض الكامل والغلو فيه، والحط على أبي بكر وعمر رضي الله عنهما، والدعاء إلى ذلك، فهذا النوع لا يحتج بهم ولا كرامة…الخ

فالشيعي الغالي في زمان السلف وعرفهم هو من تكلم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا رضي الله عنه، وتعرض لسبهم.

والغالي في زماننا وعرفنا هو الذي يكفر هؤلاء السادة، ويتبرأ من الشيخين أيضاً، فهذا ضال معثر

“Mungkin seseorang bertanya: “Bagaimana bisa men-Ta’dil atau menganggap tsiqat seorang ahlul bid’ah sementara batasan tsiqat adalah sifat ‘Adil’ dan ‘Dhabith’? Bagaimana bisa seorang ahlul bid’ah dinilai ‘adil’? Maka jawabannya: Bid’ah itu ada 2 macam;

(Pertama): Bid’ah kecil seperti bid’ah tasyayu’ (Syi’ah) yang ekstrim atau tasyayu’ tanpa sikap ekstrim dan tanpa penyimpangan. Maka bid’ah semacam ini banyak terjadi di kalangan tabi’in dan pengikut mereka dengan disertai sikap keteguhan dalam agama, sikap wara’ dan kejujuran (sebagai bahan Muwazanah, pen). Seandainya hadits mereka ditolak, maka akan hilang sebagian besar hadits nabawi. Dan ini adalah kerusakan yang besar.

(Kedua): bid’ah besar, seperti bid’ah Rafidhah yang sempurna dan bersikap ekstrim padanya, menjatuhkan kehormatan Abu Bakar dan Umar radliyallahu anhuma dan mengajak kepada bid’ah tersebut. Maka orang semacam ini haditsnya tidak bisa dijadikan hujah dan tidak mempunyai kehormatan..dst.

Maka seorang penganut Syi’ah yang ekstrim di masa as-Salaf didefinisikan sebagai orang yang membicarakan Utsman, az-Zubair, Thalhah, Mu’awiyah dan orang-orang yang memerangi Ali radliyallahu anhu dan mencela mereka.

Dan Rafidhah yang ekstrim (ghuluw) di masa ini (masa adz-Dzahabi, pen) didefinisikan sebagai orang yang mengkafirkan para pembesar sahabat, dan berlepas diri dari (yakni: tidak mengakui, pen) Abu Bakar dan Umar juga. Maka ini adalah orang sesat..dst.” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal: 1/6).

Maka ucapan adz-Dzahabi “bid’ah semacam ini banyak terjadi di kalangan tabi’in dan pengikut mereka dengan disertai sikap keteguhan dalam agama, sikap wara’ dan kejujuran” merupakan contoh bentuk ‘Muwazanah’ pada ahlul bid’ah di kalangan Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

Dan ucapan adz-Dzahabi di atas ternyata dibenarkan oleh al-Allamah al-Muhaddits Ahmad Syakir rahimahullah. Beliau berkata:

والعبرة في الرواية بصدق الراوي وأمانته والثقة بدينه وخلقه والمتتبع لأحوال الرواة يرى كثيرا من أهل البدع موضعا للثقة والاطئنان وإن رووا ما يوافق رأيهم ويرى كثيرا منهم لايوثق بأي شيء يرويه فلو رد حديث هؤلاء لذهبت جملة الآثار النبوية وهذه مفسدة بينة

“Yang dianggap dalam periwayatan adalah kejujuran perawi, sifat amanah serta terpercaya agama dan akhlaknya. Maka orang yang meneliti keadaan para perawi hadits, akan melihat banyaknya Ahlul Bid’ah yang dianggap tsiqat dan dipercaya periwayatannya, meskipun mereka meriwayatkan perkara yang mencocoki pendapatnya. Dan banyak juga Ahlul Bid’ah yang tidak dipercaya apa pun yang diriwayatkan olehnya. Seandainya hadits mereka (semisal Adi bin Tsabit, pen) itu ditolak, niscaya akan hilang banyak hadits nabi dan ini adalah kerusakan yang besar.” (Syarh Alfiyah as-Suyuthi fil Mushthalah li Ahmad Syakir: 54).

Ucapan Ahmad Syakir di atas menunjukkan adanya ‘Muwazanah’ antara perkara bid’ah yang merupakan kejelekan dari perawi dengan kebaikan lainnya semisal kejujuran, sifat amanah, berpegang kepada agama dan akhlaknya.

Muwazanah untuk Sifat Dhabith

Selain sifat ‘adil’, para ulama juga mempertimbangkan sifat ‘dhabith’, yaitu penguasaan terhadap hadits baik berupa hafalan ataupun berupa catatan hadits yang dimiliki oleh perawi.

Penentuan sifat ‘dhabith’ untuk perawi juga dilakukan melalui ‘Muwazanah’ antara sedikit atau banyaknya kekeliruan, sering atau jarang lupa dan sebagainya.

Al-Hafizh Zainuddin al-Iraqi rahimahullah berkata:

المراد بالضبط أن لا يكون مغفلا كثير الغلط وذلك بأن يعتبر حديثه بحديث أهل الضبط والإتقان فان وافقهم غالبا فهو ضابط كما ذكره المصنف فى المسألة الثانية من النوع الثالث والعشرين وإذا كان كذلك فلا مانع من وجود هذه الصفات فى رواة صحيح الأحاديث والله أعلم

“Yang dimaksud dengan sifat ‘Dhabith’ adalah bahwa perawi tersebut bukanlah pelupa dan tidak banyak melakukan kesalahan periwayatan. Ini dapat dilakukan dengan cara membandingkan hadits perawi tersebut dengan hadits para imam yang penghafal dan yang mahir. Jika secara dominan haditsnya banyak mencocoki hadits mereka, maka perawi tersebut adalah ‘dhabith  sebagaimana yang telah disebutkan oleh pengarang (yakni: Ibnush Shalah, pen) dalam ‘Masalah ke-2, Macam ke-23. Dan jika seperti itu, maka tidak ada halangan terhadap adanya sifat lupa dan keliru pada perawi-perawi hadits shahih. Wallahu a’lam.” (At-Taqyid wal Idhah Syarh Muqaddimah Ibnish Shalah: 48).

Maka seorang perawi yang ‘dhabith’ bukan berarti tidak pernah melakukan ‘waham’ (kekeliruan) di dalam periwayatannya. Ia pernah melakukan kekeliruan di dalam periwayatannya, hanya saja tidak banyak. Maka kekeliruan atau wahamnya itu tidak menggugurkan sifat ‘dhabith’nya, tetapi riwayat yang mengandung waham atau kekeliruan itu ditolak karena merupakan riwayat yang ‘syadz’ (menyendiri).

Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata:

والغالب على من يحفظ ويحدث من حفظه أن يهم وليس من الإنصاف ترك حديث شيخ ثبت صحت عنه السنة بأوهام يهم فيها، والأولى فيه قبول ما يروى بتثبت، و ترك ما صح أنه وهم فيه ما لم يفحش، فمن غلب خطؤه على صوابه استحق الترك

“Kebanyakan perkara yang terjadi pada orang yang menghafalkan dan meriwayatkan hadits dari hafalannya adalah pernah melakukan waham (kekeliruan, pen). Dan bukan termasuk sikap ‘al-Inshaf’ meninggalkan hadits seorang syaikh yang tsiqat yang telah valid as-Sunnah darinya karena beberapa waham (kekeliruan, pen) di dalamnya. Maka yang paling utama adalah menerima periwayatannya dengan ketelitian, dan meninggalkan hadits yang telah nyata bahwa ia telah melakukan waham di dalamnya, selagi tidak berat. Maka barangsiapa yang kekeliruannya lebih dominan daripada ketepatannya, maka haditsnya layak ditinggalkan.” (Tahdzibut Tahdzib: 6/353).

Demikian pula perawi yang dilemahkan dan diingkari haditsnya, dapat ditentukan melalui metode ‘Muwazanah’ dengan perawi lain yang lebih tsiqat.

Al-Imam Muslim bin al-Hajjaj rahimahullah berkata:

وَعَلاَمَةُ الْمُنْكَرِ فِى حَدِيثِ الْمُحَدِّثِ إِذَا مَا عُرِضَتْ رِوَايَتُهُ لِلْحَدِيثِ عَلَى رِوَايَةِ غَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْحِفْظِ وَالرِّضَا خَالَفَتْ رِوَايَتُهُ رِوَايَتَهُمْ أَوْ لَمْ تَكَدْ تُوَافِقُهَا فَإِذَا كَانَ الأَغْلَبُ مِنْ حَدِيثِهِ كَذَلِكَ كَانَ مَهْجُورَ الْحَدِيثِ غَيْرَ مَقْبُولِهِ وَلاَ مُسْتَعْمَلِهِ. فَمِنْ هَذَا الضَّرْبِ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَرَّرٍ وَيَحْيَى بْنُ أَبِى أُنَيْسَةَ وَالْجَرَّاحُ بْنُ الْمِنْهَالِ أَبُو الْعَطُوفِ وَعَبَّادُ بْنُ كَثِيرٍ..الخ

“Tanda ‘mungkar’ di dalam hadits seorang perawi adalah jika periwayatannya dibandingkan dan diuji dengan periwayatan para ulama lainnya yang penghafal dan yang diridhai, ternyata periwayatannya menyelisihi periwayatan mereka, atau hampir tidak mencocokinya, maka jika yang paling dominan dari haditsnya seperti itu, maka ia ditinggalkan haditsnya. Haditsnya tidak diterima dan tidak dipakai. Perawi yang seperti ini adalah Abdullah bin Muharrar, Yahya bin Abi Unaisah, al-Jarrah bin al-Minhal Abul Athuf, Abbad bin Katsir..dst.” (Muqaddimah Shahih Muslim: 1/2).

Antara Persaksian dan Periwayatan

Terdapat persamaan dalam persaksian di pengadilan dan periwayatan hadits. Keduanya mempersyaratkan adanya sifat ‘adil’. Hanya saja di antaranya terdapat beberapa perbedaan.

Di antara perbedaannya adalah bahwa budak tidak dianggap adil dalam persaksian, tetapi bisa diterima periwayatannya jika ia seorang ‘tsiqat’. Al-Hafizh Zainuddin al-Iraqi (wafat tahun 806 H) rahimahullah berkata:

وإنما تفترق العدالة فى الشهادة والعدالة فى الرواية فى اشتراط الحرية فإنها ليست شرطا فى عدالة الرواية بلا خلاف بين أهل العلم كما حكاه الخطيب فى الكفاية

“Sifat ‘adil’ dalam persaksian dan sifat ‘adil’ dalam periwayatan hanya berbeda pada persyaratan merdeka (yakni: bukan budak, pen). Maka sifat ‘merdeka’ bukanlah syarat untuk menentukan sifat ‘adil’ dalam periwayatan, tanpa perbedaan pendapat di kalangan ulama, sebagaimana yang dihikayatkan oleh al-Khathib dalam al-Kifayah.” (At-Taqyid wal Idhah Syarh Muqaddimah Ibnish Shalah: 137).

Di antara perbedaannya adalah bahwa saksi di pengadilan tidak perlu bersifat ‘dhabith’. Adapun dalam periwayatan hadits, maka selain sifat ‘adil’ juga dibutuhkan sifat ‘dhabith’.

Al-Imam Ibnu Daqiqil Ied (wafat tahun 702 H) rahimahullah berkata:

ولا خفاء بشروط العدالة التي يجب معها قبول الرواية والشهادة ولزيادة الضبط بالنسبة إلى الحديث مَزِيد بالنسبة إلى الشهادة

“Tidak samar lagi bahwa persyaratan sifat ‘adil’ itu diwajibkan untuk menerima periwayatan dan persaksian. Hanya saja untuk periwayatan hadits terdapat tambahan persyaratan, yaitu sifat ‘dhabith’.” (Al-Iqtirah fi Fannil Mushthalah: 29).

‘Tsiqat’ melalui Mayoritas

Telah berlalu penjelasan tentang perawi yang ‘tsiqat’, yaitu perawi yang memenuhi sifat ‘adil’ dan sifat ‘dhabith’. Sifat ‘adil’ bisa ditetapkan melalui metode ‘Muwazanah’ dan ‘al-Inshaf’, yaitu dengan menimbang antara kebaikan dan keburukan perawi, serta antara ketaatan dan kemaksiatannya. Demikian pula sifat ‘dhabith’ dapat ditentukan dengan ‘Muwazanah’, yaitu menimbang antara banyak dan sedikitnya kesesuaian periwayatannya dengan periwayatan para ulama penghafal.

Lalu bagaimana cara kita -yang hidup di jaman yang jauh dari masa periwayatan hadits- dapat mengetahui bahwa si Fulan itu ‘adil’ karena ketaatannya lebih banyak daripada kebaikannya, dan juga ‘dhabith’ karena kebanyakan periwayatannya mempunyai kecocokan dengan periwayatan ulama penghafal?

Jawaban: kita bisa menggunakan metode ‘Muwazanah’, yaitu menimbang, lebih banyak mana ulama yang menilainya ‘tsiqat’ dan ulama yang menilainya ‘dhaif’.

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

الثقة : من وثَّقَه كثيرٌ ولم يُضعَّف . ودُونَه : من لم يُوثق ولا ضُعِّف

“Perawi ‘tsiqat’ adalah perawi yang dinilai ‘tsiqat’ oleh kebanyakan ulama ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan tidak dinilai ‘dhaif’. Sedangkan derajat di bawahnya adalah perawi yang tidak dinilai ‘tsiqat’ dan juga tidak dinilai ‘dhaif’.” (Al-Muqizhah fi Ilmi Mushthalahil Hadits: 17).

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa al-Jarh (celaan) kepada seorang perawi dari seorang ulama akan ditolak jika menyelisihi mayoritas ulama yang menilainya ‘tsiqat’. Sekalipun yang men-Jarh itu ulama sekelas al-Imam Ibnu Ma’in rahimahullah.

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah menjelaskan:

فإنا نقبل قوله-دائماً-في الجرح والتعديل ونقدمه على كثير من الحفاظ ما لم يخالف الجمهور في اجتهاده، فإذا انفرد بتوثيق من لينه الجمهور، أو: بتضعيف من وثقه الجمهور وقبلوه، فالحكم لعموم أقوال الأئمة، لا لمن شذ..الخ

“Maka kami menerima pendapat Ibnu Ma’in -selama-lamanya- dalam al-Jarh wat Ta’dil. Dan kami mendahulukan pendapatnya daripada kebanyakan para ulama lainnya selama tidak menyelisihi pendapat jumhur (mayoritas) ulama dalam pendapatnya. Maka jika ia menyendiri di dalam menilai tsiqat terhadap perawi yang dinilai dhaif oleh mayoritas ulama atau melemahkan perawi yang di-tsiqat-kan oleh mereka, maka hukum yang dipakai adalah keumuman pendapat para ulama, bukan pendapat yang menyendiri..dst.” (Ar-Ruwat ats-Tsiqat al-Mutakallam fihim bi Ma La Yajibu Radduhum: 29-30).

Antara Pengkritik yang Adil dan Pengkritik yang Mutasyaddid

Dengan manhaj ‘Muwazanah’ atau ‘al-Inshaf’ pula kita bisa menentukan siapa para ulama yang adil dalam melakukan ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan siapa pula yang mutasyaddid (terlalu ketat).

Al-Hafizh Syamsuddin as-Sakhawi rahimahullah menukilkan ucapan adz-Dzahabi tentang ulama pengkritik yang ‘Mutasyaddid’:

قسم منهم متعنت في التوثيق متثبت في التعديل يغمز الراوي بالغلطتين والثلاث فهذا إذا وثق شخصا فعض على قوله بنواجذك وتمسك بتوثيقه وإذا ضعف رجال فانظر هل وافقه غيره

“Di antara ulama ‘al-Jarh wat Ta’dil’ terdapat ulama sangat berat untuk menilai ‘tsiqat’ dan terlalu ketat di dalam ‘at-Ta’dil’. Ia melakukan al-Jarh (mencela) seorang perawi hanya dengan dua atau tiga kesalahannya saja. Maka jika ulama ini menilai ‘tsiqat’ seorang perawi maka pegangilah ucapannya dengan gigi gerahammu. Tetapi jika ia menilai dhaif atau melakukan al-Jarh (celaan) terhadap seorang perawi, maka tunggu dulu apakah celaannya mencocoki ulama lainnya..dst.” (Fathul Mughits Syarh Alfiyatil Hadits: 3/358).

Adapun ulama yang adil atau mutawastith atau pertengahan, maka mereka adalah ulama yang menimbang perawi hadits dengan sikap ‘al-Inshaf’ dan ‘Muwazanah’. Di antara mereka adalah al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

Al-Imam Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i (wafat tahun 794 H) rahimahullah berkata:

ومن طبقته أحمد بن حنبل سأله جماعة من تلامذته عن الرجال وكلامه فيهم باعتدال وإنصاف وأدب وورع

“Termasuk thabaqat Ibnu Ma’in adalah Ahmad bin Hanbal. Beliau ditanya oleh sekelompok muridnya tentang para perawi hadits. Penilaian beliau terhadap perawi hadits itu didasari prinsip ‘adil’, ‘inshaf’, dengan adab dan sikap wara’.” (An-Nukat ala Muqaddimah Ibnish Shalah: 3/442).

Muwazanah ala Murjiah

Di antara ucapan asy-Syaikh Rabi’ yang terkenal untuk membantah ‘Manhaj Muwazanah’ adalah:

القرآن الكريم يمدح المؤمنين دون ذكر أخطائهم ويذم الكفار والمنافقين دون ذكر محاسنهم

“Al-Quran al-Karim memuji kaum mukminin tanpa menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka dan mencela orang-orang kafir dan munafikin tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka.” (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif: 24).

Tanggapan:

Ucapan di atas dapat disederhanakan menjadi:

لا تذكر سيئات المؤمنين لأنها لا تضرهم ولا تذكر حسنات الكافرين لأنها لا تنفعهم

Tidak perlu disebutkan kesalahan kaum mukminin karena kesalahan tersebut tidak berbahaya bagi mereka dan tidak perlu disebutkan kebaikan orang-orang kafir karena kebaikan tersebut tidak bermanfaat bagi mereka.”

Atau disederhanakan menjadi:

لا تقام الموازنة على المؤمنين لأن سيئاتهم لا تضرهم ولا تقام الموازنة على الكافرين لأن حسناتهم لا تنفعهم

 “Tidak perlu melakukan ‘muwazanah’ untuk kaum mukminin karena kesalahan mereka tidak membahayakan mereka, dan tidak perlu melakukan ‘muwazanah’ untuk kaum kafir karena kebaikan mereka tidak bermanfaat bagi mereka.”

Di sini ada beberapa bantahan:

Pertama: ucapan asy-Syaikh Rabi’ di atas mempunyai kemiripan dengan perkataan Sekte Murji’ah. Wallahul musta’an.

Al-Imam Ibnul Atsir rahimahullah berkata:

ذِكر [ المُرْجئة ] وهم فِرْقَة من فِرَق الإسلام يَعْتقدون أنه لا يَضُر مع الإيمان معصيةٌ كما أنه لا يَنفع مع الكُفر طاعةٌ . سُمُّوا مُرْجِئَة لاعتقادِهم أنّ اللّه أرْجَأ تعذيبهم على المعاصي : أي أخَّره عنهم .

“Sebutan (Murji’ah), mereka adalah suatu firqah dari firqah-firqah al-Islam yang meyakini bahwa tidak akan berbahaya suatu kemaksiatan apa pun bersama keimanan, sebagaimana tidak bermanfaatnya ketaatan bersama kekafiran. Mereka dinamakan ‘Murji’ah’ karena keyakinan mereka bahwa Allah menunda adzab bagi orang-orang beriman atas kemaksiatan mereka.” (An-Nihayah fi Gharibil Atsar: 2/497).

Maka orang-orang yang membaca pernyataan asy-Syaikh Rabi’ akan menyangka bahwa kemaksiatan tidak membahayakan orang-orang yang beriman dengan alasan tidak disebutkannya kesalahan mereka ketika Allah memuji mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membantah ucapan semisal ini dari kalangan orang-orang yang berhujjah dengan tidak disebutkannya kesalahan kaum mukminin. Beliau berkata:

وَالْمَقْصُودُ هُنَا أَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ الْمَدْحُ إلَّا عَلَى إيمَانٍ مَعَهُ الْعَمَلُ لَا عَلَى إيمَانٍ خَالٍ عَنْ عَمَلٍ فَإِذَا عُرِفَ أَنَّ الذَّمَّ وَالْعِقَابَ وَاقِعٌ فِي تَرْكِ الْعَمَلِ كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ نِزَاعُهُمْ لَا فَائِدَةَ فِيهِ بَلْ يَكُونُ نِزَاعًا لَفْظِيًّا مَعَ أَنَّهُمْ مُخْطِئُونَ فِي اللَّفْظِ مُخَالِفُونَ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِنْ قَالُوا : إنَّهُ لَا يَضُرُّهُ تَرْكُ الْعَمَلِ فَهَذَا كُفْرٌ صَرِيحٌ ؛ وَبَعْضُ النَّاسِ يُحْكَى هَذَا عَنْهُمْ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ : إنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَى الْعِبَادِ فَرَائِضَ وَلَمْ يُرِدْ مِنْهُمْ أَنْ يَعْمَلُوهَا وَلَا يَضُرُّهُمْ تَرْكُهَا وَهَذَا قَدْ يَكُونُ قَوْلَ الْغَالِيَةِ الَّذِينَ يَقُولُونَ : لَا يَدْخُلُ النَّارَ مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ أَحَدٌ لَكِنْ مَا عَلِمْت مُعَيَّنًا أَحْكِي عَنْهُ هَذَا الْقَوْلَ وَإِنَّمَا النَّاسُ يَحْكُونَهُ فِي الْكُتُبِ وَلَا يُعَيِّنُونَ قَائِلَهُ وَقَدْ يَكُونُ قَوْلُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ ؛ فَإِنَّ كَثِيرًا مِنْ الْفُسَّاقِ وَالْمُنَافِقِينَ يَقُولُونَ : لَا يَضُرُّ مَعَ الْإِيمَانِ ذَنْبٌ أَوْ مَعَ التَّوْحِيدِ وَبَعْضُ كَلَامِ الرَّادِّينَ عَلَى الْمُرْجِئَةِ وَصَفَهُمْ بِهَذَا . وَيَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ قَوْله تَعَالَى فِي آخِرِ الْآيَةِ { أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ } . فَقَوْلُهُ صَدَقُوا أَيْ فِي قَوْلِهِمْ : آمَنُوا..الخ

“Yang dimaksud di sini adalah bahwa tidak pernah ada suatu pujian kecuali atas keimanan yang disertai amal perbuatan, bukan atas keimanan yang sunyi dari amal perbuatan. Maka jika diketahui bahwa celaan dan siksa itu terjadi di dalam meninggalkan amal perbuatan, maka perselisihan dengan mereka tidak ada faedahnya setelah ini, bahkan perselisihannya bersifat lafzhiyah, dengan kenyataan bahwa mereka itu telah keliru dalam pelafalan dan menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah. Jika mereka mengatakan bahwa tidak berbahaya baginya meninggalkan amal shalih, maka ini adalah kekafiran yang jelas. Sebagian orang dihikayatkan telah berpendapat demikian dan mereka juga menyatakan bahwa sesungguhnya Allah menjadikan fardhu sebagian amal perbuatan atas para hamba dan tidak bermaksud agar mereka mengamalkannya dan tidak berbahaya bagi mereka jika mereka meninggalkannya. Dan ucapan ini terkadang diucapkan oleh orang-orang yang ghuluw (ekstrim dari kalangan Murji’ah, pen) yang menyatakan bahwa tidak akan masuk neraka seorang pun dari kalangan orang yang bertauhid. Akan tetapi aku (Ibnu Taimiyah, pen) tidak mengetahui seseorang tertentu (dari kalangan pemimpin sekte sesat, pen) yang pertama kali berucap demikian. Hanya saja manusia menyebutkan ucapan ini dalam kitab-kitab dan tidak menyebutkan siapa yang mengucapkannya (pertama kali, pen). Bisa jadi ini merupakan ucapan orang yang tidak mempunyai bagian kebaikan, karena kebanyakan orang-orang fasik dan kaum munafikin berkata: “Tidak berbahaya suatu dosa pun bersama keimanan atau tauhid.” Sebagian orang yang membantah sekte Murjiah juga menyifati mereka demikian. Ini juga ditunjukkan oleh firman Allah ta’ala dalam ayat lain: “Mereka adalah orang-orang yang jujur dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177). Maksud firman-Nya “orang-orang yang jujur” adalah jujur dalam ucapan mereka “kami beriman,”..dst.” (Majmu’ al-Fatawa: 7/181).

Al-Imam Abul Aliyah (ulama tabi’in, wafat tahun 90 H) rahimahullah berkata:

كانَ أصحابُ رسولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يرونَ أنه لا يضرّ مع الإخلاص ذنبٌ، كما لا ينفعُ مع الشركِ عملٌ صالحٌ، فأنزلَ الله عزَّ وجلَّ: (يَا أَيهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعوا اللَّهَ وَأَطِيعوا الرَّسولَ وَلا تبْطِلُوا أَعْمَالَكمْ) . فخافُوا الكبائرَ بعدُ أن تحبطَ الأعمالَ.

“Adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beranggapan bahwa tidak berbahaya dosa apapun bersama keikhlasan sebagaimana tidak bermanfaat amal shalih apapun bersama kesyirikan. Kemudian Allah ta’ala menurunkan ayat: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah ar-Rasul dan janganlah kalian membatalkan (menghapuskan, pen) amal shalih kalian.” (QS. Muhammad: 33). Maka mereka setelah itu sangat takut terhadap dosa besar yang dapat menghapus amal kebaikan.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim: 12/229, Tafsir al-Baghawi: 7/290 dan Tafsir Ibnu Katsir: 7/322).

Itulah sisi kemiripan ucapan asy-Syaikh Rabi’ dengan ucapan sekte Murji’ah. Seandainya Penulis menerapkan kaedah ‘Lazimul Madzhab’ (konsekuensi logis dari suatu ucapan, pen) kepada beliau, tentulah Penulis menyatakan bahwa asy-Syaikh Rabi’ waffaqahullah mempunyai pemahaman Murjiah. Tetapi Penulis tidak melakukan tuduhan tabdi’ kepada beliau secara serampangan sebagaimana juga tidak boleh melakukan tabdi’ secara serampangan kepada asy-Syaikh Ibnu Jibrin, Bakr Abu Zaid rahimahumallah, al-Ma’ribi, Muhammad al-Imam dan sebagainya hanya berdasar ‘Lazimul Madzhab’ dari kesalahan ucapan mereka.

Akan tetapi Penulis meminjam ucapan al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah –melalui penukilan al-Imam Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi (wafat tahun 842 H) rahimahullah-:

ونعوذ بِاللَّه من الْهوى والمراء فِي الدّين وَأَن نكفر مُسلما موحدا بِلَازِم قَوْله وَهُوَ يفر من ذَلِك اللَّازِم

“Kami berlindung kepada Allah dari hawa nafsu, memperdebatkan ad-Dien dan juga berlindung dari mengkafirkan seorang muslim yang bertauhid dengan sebab ‘Lazimul Madzhab’ (konsekuensi logis, pen) dari ucapannya, padahal ia lari dari konsekuensi logis tersebut.” (Ar-Raddul Wafir ala Man Za’ama Anna Man Samma Ibna Taimiyah Syaikhul Islam Kafir: 20).

Kedua: pada orang-orang kafir dan munafik tidak perlu dilakukan muwazanah, karena kekafiran mereka menghapus perbuatan baik mereka, sebanyak apapun kebaikan mereka. Maka Allah ta’ala tidak menceritakan kebaikan Abu Lahab, Fir’aun dan orang kafir lainnya karena kekafiran menghapus amal baik pelakunya.

Allah ta’ala berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

“Mereka adalah orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan hari bertemu dengan-Nya, maka segala amal baik mereka terhapus. Sehingga Kami tidak menegakkan untuk mereka satu ‘Muwazanah’ pun.” (QS. Al-Kahfi: 105).

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

أي: لا نثقل موازينهم؛ لأنها خالية عن الخير

“Maksudnya adalah bahwa Kami tidak akan memperberat timbangan mereka, karena sunyi dari kebaikan.” (Tafsir Ibni Katsir: 5/202).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barangsiapa murtad dari agamanya di antara kalian, kemudian mati dalam keadaan kafir, maka mereka terhapus amal baik mereka di dunia dan di akhirat. Mereka adalah penduduk neraka dan kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217).

Al-Allamah asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

وأما أن هذا الخطأ إذا صح صدوره من الشخص يضيع وسط خيره الكثير؛ فهذا فيه تفصيل : إن كان هذا الخطأ في الاعتقاد بأن يكون شركًا أكبر؛ فهذا يضيع معه كل خير ولا يبقى معه عمل صالح، وإن كان الخطأ دون ذلك من مسائل الاعتقاد ولا يصل إلى حد الكفر والشرك؛ فهذا نرجو أن يغفره الله لصاحبه وأن يرجح به حسناته، وإن كان الخطأ في مسائل الاجتهاد -؛ والشخص من أهل الاجتهاد -؛ فهذا خطأ مغفور ولصاحبه الأجر على اجتهاده .

“Adapun jika benar bahwa kesalahan ini muncul dari tokoh tersebut dan bisa menyia-siakan kebaikannya yang banyak, maka ini perlu perincian. Jika kesalahan tersebut merupakan kesalahan akidah seperti syirik akbar, maka kesalahan ini menghilangkan semua kebaikan tokoh tersebut dan tidak tersisa dari satu kebaikan pun. Jika kesalahannya lebih kecil dari itu dari permasalahan akidah dan tidak sampai kepada derajat kufur dan syirik, maka kami berharap agar Allah mengampuni kesalahan tersebut untuk pelakunya dan juga berharap agar kebaikan-kebaikannya lebih berat daripada kesalahannya. Jika kesalahannya dalam permasalahan ijtihad –sedangkan ia termasuk ahlul ijtihad-, maka kesalahan ini diampuni dan pemiliknya mendapatkan pahala atas ijtihadnya.” (Al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan: 26/8).

Ketiga: Dalam beberapa ayat Allah ta’ala menyebutkan orang-orang beriman dengan dosa dan kesalahan mereka karena kesalahan itu akan membahayakan keimanan jika pelakunya tidak bertaubat. Ini berbeda dengan persangkaan asy-Syaikh Rabi’ dalam kitabnya.

Contoh pertama adalah firman Allah ta’ala tentang kaum ‘Muhsinin’ (orang-orang yang berbuat ihsan):

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كبائر الْأِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“(Orang-orang yang berbuat ihsan) adalah orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Rabbmu luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32).

Al-Allamah Ibnul Wazir al-Yamani (wafat tahun 840 H) rahimahullah berkata:

فجعل أهل الصغائر واللَّمَم مُحسنين في النجم، وجعلهم في هذه الآية من أهل المُدْخَلِ الكريم، فدلَّ على أنهم طائفةٌ من أهل الجنة، وأهل الجنة طوائف متفاوتة، ولهم دَرَجٌ كثيرةٌ كما قال تعالى: {هم درجاتٌ عند الله} [آل عمران: 163]..الخ

“Maka Allah menjadikan pelaku dosa kecil sebagai ‘Muhsinin’ dalam surat an-Najm, menjadikan mereka sebagai ‘Penghuni Tempat yang Mulia’ dalam ayat ini (QS. An-Nisa’: 31). Ini menunjukkan bahwa mereka termasuk segolongan penghuni surga. Dan penghuni surga itu terdiri dari beberapa kelompok yang berbeda-beda derajatnya. Mereka mempunyai banyak tingkatan sebagaimana firman Allah ta’ala: “Mereka (ahli surga) itu bertingkat-tingkat.” (QS. Ali Imran: 163)..dst.” (Al Awashim wal Qawashim fidz Dzabbi an Sunani Abil Qasim: 9/101).

Contoh kedua adalah firman Allah ta’ala tentang kaum ‘Muttaqin’ (orang-orang yang bertakwa) yang sekali waktu terjatuh ke dalam kesalahan tetapi tidak membiasakannya. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga orang-orang yang bertakwa adalah) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allâh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allâh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 135).

Contoh ketiga adalah firman Allah ta’ala tentang kaum ‘Mukminin’ yang dosa-dosanya dihapus karena amal shalihnya. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka kesalahan-kesalahan mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 7).

Al-Imam Abu Hayyan al-Andalusi (wafat tahun 745 H) rahimahullah berkata:

قوله { لنكفرنّ عنهم سيئاتهم } : يشمل من كان كافراً فآمن وعمل صالحاً ، فأسقط عنه عقاب ما كان قبل الإيمان من كفر ومعصية ، ومن نشأ مؤمناً عاملاً للصالحات وأساء في بعض أعماله ، فكفر عنه ذلك ، وكانت سيئاته مغمورة بحسناته.

“Firman-Nya ‘benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka kesalahan-kesalahan mereka’, meliputi orang yang kafir kemudian beriman dan beramal shalih, maka Allah menggugurkan siksa dosa kufur dan maksiat semasa ia belum beriman, juga meliputi orang yang beriman sejak awal dan beramal shalih kemudian ia berbuat salah di dalam sebagian perbuatannya, maka Allah menghapus kesalahan itu. Dan kesalahannya tertutup oleh kebaikannya.” (Tafsir al-Bahrul Muhith: 9/45).

Contoh keempat adalah firman Allah ta’ala tentang pelaku dosa besar:

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 102).

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (wafat tahun 751) rahimahullah berkata:

الطبقة الحادية عشرة طبقة أقوام خلطوا عملا صالحا وآخر سيئا فعملوا حسنات وكبائر ولقوا الله مصرين عليها غير تائبين منها لكن حسناتهم أغلب من سيئاتهم فإذا وزنت بها ورجحت كفة الحسنات فهؤلاء أيضا ناجون فائزون

“Thabaqat ke-11: kaum yang mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Maka mereka melakukan kebaikan-kebaikan dan dosa-dosa besar dan bertemu dengan Allah dalam keadaan meneruskan perbuatan dosa tersebut dan belum bertaubat darinya. Akan tetapi kebaikan mereka lebih dominan daripada kejelekan mereka. Sehingga jika ditimbang, maka beratlah kebaikan mereka. Maka mereka ini juga termasuk orang yang selamat dan berbahagia..dst.” (At-Tafsirul Qayyim li Ibnil Qayyim: 1/280).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Allah ta’ala melakukan ‘muwazanah’ terhadap orang-orang yang beriman.

Antara Khabar Tsiqat dan Masalah Ijtihadiyah

Di antara bentuk ghuluw dari ‘Jamaah Tahdzir’ ini adalah memaksa dan meng-ilzam kaum muslimin untuk mengikuti fatwa dari ulama yang mereka anggap mu’tabar semisal asy-Syaikh Rabi’ bahwa al-Halabi mubtadi’, al-Huwaini mubtadi’ dengan alasan menerima khabar tsiqat. Di antara contohnya adalah ucapan Ustadz Askari dari kalangan Jamaah Tahdzir: “Wajib bagi kita ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, husnudzon kepada aimatu al jarh wa ta’dil, ini agama kita. Bukan taqlid, ini seringkali seseorang tidak memahami perbedaan antara taqlid dengan ittiba’ atau qabul khabar tsiqah, menerima kabar tsiqah..dst.” (Lihat: https://www.thalabilmusyari.web.id/2016/08/syaikh-abdurrazzaq-dan-penjelasan.html).

Jawaban:

Pertama: Di jaman ini tidak berlaku lagi penerapan ‘al-Jarh wat Ta’dil’ kepada tokoh-tokoh Ahlussunnah karena masa pembukuan hadits sudah selesai. Yang masih berlaku adalah ‘ar-Radd alal Mukhalif’ (Membantah Tokoh yang Menyimpang) dengan kaidah yang berbeda dengan kaidah ‘al-Jarh wat Ta’dil’ sebagaimana telah lewat.

Kedua: Taruhlah ‘al-Jarh wat Ta’dil’ diberlakukan di jaman ini. Maka pendapat yang rajih (paling kuat) adalah bahwa ‘al-Jarh wat Ta’dil’ termasuk urusan ‘ijtihadiyah’.

Al-Imam Abul Walid Sulaiman bin Khalaf al-Baji al-Maliki (wafat tahun 474 H) rahimahullah berkata:

أحوال المحدثين في الجرح والتعديل مما يدرك بالاجتهاد ويعلم بضرب من النظر..الخ

“Keadaan para ahlul hadits di dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ termasuk perkara yang didapatkan dengan ‘ijtihad’ dan dapat diketahui dengan semacam penelitian..dst.” (At-Ta’dil wat Tajrih: 1/251).

Al-Hafizh Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri (wafat tahun 656 H) rahimahullah berkata:

وإختلاف هؤلاء كاختلاف الفقهاء كل ذلك يقتضيه الاجتهاد فإن الحاكم إذا شهد عنده بجرح شخص احتهد في أن ذلك القدر مؤثر أم لا وكذلك المحدث إذا أراد الاحتجاج بحديث شخص ونقل إليه فيه جرح اجتهد فيه هل هو مؤثر أم لا..الخ

“Perselisihan ahlul hadits itu seperti perselisihan ahlul fikih. Masing-masing menjalankan hasil ijtihadnya. Karena seorang hakim jika ada seorang saksi yang menyaksikan atas tercelanya seseorang, maka ia ber-ijtihad apakah sifat tercela tersebut mempengaruhi keputusan pengadilan atau tidak. Begitu pula seorang ahlul hadits jika ingin ber-hujah dengan hadits seorang perawi, dan dinukilkan kepadanya bahwa perawi tersebut di-Jarh, maka ia ber-ijtihad menentukan apakah al-Jarh tersebut berpengaruh atau tidak…dst.” (Risalah fil Jarh wat Ta’dil: 47).

Al-Mundziri –melalui penukilan kitab Aunul Ma’bud- juga menjelaskan:

وللحفاظ في الرجال مذاهب، فعلى كل واحد منهم ما أدى إليه اجتهاده من القبول والرد..الخ

“Para ulama ahlul hadits mempunyai beberapa madzhab (metode, pen) di dalam menilai perawi hadits. Maka masing-masing dari mereka menjalankan metode tersebut untuk menerima atau menolak perawi tersebut sesuai dengan ijtihadnya..dst.” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud: 6/331 dan Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi: 3/364).

Al-Allamah Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وولاية الجرح والتعديل بعد من ذكرنا ليحيى بن معين وقد سأله عن الرجال غير واحد من الحفاظ ومن ثم اختلفت آراؤه وعباراته في بعض الرجال كما أختلفت اجتهادات الفقهاء وصارت لهم الأقوال والوجوه فاجتهدوا في المسائل كما اجتهد ابن معين في الرجال

“Urusan al-Jarh wat Ta’dil setelah masa orang yang telah kami sebutkan (yakni: Abdur Razzaq ash-Shan’ani dan ath-Thayalisi, pen) diserahkan kepada Yahya bin Ma’in. Beliau ditanya oleh banyak ahlul hadits tentang para perawi hadits. Dari sana muncul perbedaan pendapat dan ungkapan beliau tentang sebagian perawi, sebagaimana munculnya perbedaan ijtihad para ahli fikih. Dan muncullah berbagai macam pendapat dan wajah bagi para ahlul hadits. Mereka pun ber-ijtihad di dalam permasalahan al-Jarh wat Ta’dil sebagaimana Ibnu Ma’in ber-ijtihad dalam para perawi.” (An-Nukat ala Muqaddimah Ibnish Shalah: 3/442).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata:

وَالْمَقْصُودُ هُنَا : التَّمْثِيلُ بِالْحَدِيثِ الَّذِي يُرْوَى فِي الصَّحِيحِ وَيُنَازِعُ فِيهِ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ الرَّاجِحُ تَارَةً وَتَارَةً الْمَرْجُوحُ وَمِثْلُ هَذَا مِنْ مَوَارِدِ الِاجْتِهَادِ فِي تَصْحِيحِ الْحَدِيثِ كَمَوَارِدِ الِاجْتِهَادِ فِي فِي الْأَحْكَامِ وَأَمَّا مَا اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى صِحَّتِهِ فَهُوَ مِثْلُ مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ فِي الْأَحْكَامِ

“Yang dimaksud di sini adalah memberikan contoh dengan hadits yang diriwayatkan di dalam ash-Shahih dan ke-shahih-annya dibantah oleh sebagian ulama. Dan terkadang pendapatnya itu rajih (kuat) dan terkadang marjuh (lemah). Dan seperti ini di dalam ber-ijtihad untuk pen-shahih-an hadits itu seperti ber-ijtihad untuk menentukan hukum. Adapun perkara yang disepakati oleh ulama atas ke-shahih-annya, maka itu seperti perkara yang disepakati oleh ulama di dalam masalah hukum.” (Majmu’ al-Fatawa: 18/22).

Keterangan para ulama di atas menunjukkan bahwa ‘al-Jarh wat Ta’dil’ adalah urusan ijtihadiyah.

Ketiga: Adapun mengikuti ijtihad ulama lain di dalam bidang ‘al-Jarh wat Ta’dil’, maka sebagian ulama menyebutnya dengan ‘al-Itba’, ulama lain menyebutnya dengan ‘taqlid’ dan ulama lain menyebutnya dengan ‘menerima khabar tsiqat’.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutnya dengan ‘al-Itba’. Beliau menyatakan:

فمتى وجدنا حديثا قد حكم إمام من الأئمة المرجوع إليهم بتعليله، فالأولى اتباعه في ذلك كما نتبعه في تصحيح الحديث إذا صححه، وهذا الشافعي مع إمامته يحيل القول على أئمة الحديث في كتبه فيقول : وفيه حديث لا يثبته أهل العلم بالحديث

“Maka ketika kita menemukan sebuah hadits telah dihukumi oleh seorang imam -dari para imam yang dijadikan rujukan- dengan kelemahannya, maka yang lebih utama adalah ‘al-Itba’ (mengikuti, pen) kepadanya sebagaimana kita mengikutinya di dalam pen-shahih-an hadits, jika ia men-shahih-kannya. Inilah asy-Syafi’i dengan derajat keimaman beliau, merujuk kepada pendapat para imam hadits di dalam kitab-kitab beliau. Maka beliau menyatakan: “Di dalam perkara ini terdapat hadits yang dinilai lemah oleh ahlul hadits.” (An-Nukat ala Kitab Ibnish Shalah: 2/711).

Adapun al-Imam Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i rahimahullah, maka beliau menyebutnya dengan ‘taqlid’. Beliau berkata:

واعلم أنه يجوز تقليد الأئمة في التعديل لا سيما في مثل هذه الأعصار..الخ

“Ketahuilah bahwa diperbolehkan ber-taklid kepada para imam di dalam (al-Jarh wat) Ta’dil, apalagi di jaman ini..dst.” (An-Nukat ala Muqaddimah Ibnish Shalah: 3/329).

Begitu pula al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah, beliau juga menamakannya dengan ‘taqlid’. Beliau pernah ditanya tentang seorang penuntut ilmu yang tidak punya keahlian men-shahih-kan dan men-dhaif-kan hadits, apakah boleh bertaqlid kepada ulama?

Beliau menjawab:

أنا أقول لك بصراحة كل علم الحديث تقليد , مثلا إذا قيل فلان ثقة وقد مات قبل القائل بألف سنة ! فما يدريه أنه ثقة هل عاصره هل ماشاه هل رافقه ؟؟ من أين قال أنه ثقة ؟؟ من قول غيره,في الحقيقة نحن نقلد…ما فيه إجتهاد في علم التاريخ, علم التاريخ خبر محض ما فيه اجتهاد ما فيه إلا تقليد .

“Aku berkata kepadamu dengan jelas bahwa semua ilmu hadits itu taqlid, seperti jika dikatakan ‘Fulan tsiqat’, padahal dia telah mati 1000 tahun sebelum orang yang berkata. Apakah ia tahu bahwa Fulan itu tsiqat? Apakah ia hidup bersamanya? Apakah ia berjalan bersamanya? Apakah ia menjadi temannya? Lalu darimana ia berkata bahwa Fulan itu tsiqat? Ya, dari ucapan orang lain. Maka secara hakikat kita ini ber-taqlid. Di dalam ilmu tarikh tidak ada ijtihad. Ilmu tarikh itu murni berita. Tidak ada ijtihad di dalamnya. Yang ada hanyalah taqlid.”  (Rekaman Kaset Syarh Nukhbatul Fikr, menit 4,25. Lihat Arsyif Multaqa Ahlil Hadits: 98416 (16/ 253)).

Adapun al-Allamah Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani rahimahullah, maka beliau menyebutnya dengan ‘Menerima Berita Orang Tsiqat’, bukan ‘Taqlid’. Beliau berkata:

وَلَيْسَ ذَلِك بتقليد بل هُوَ عمل بِمَا أوجبه الله تَعَالَى من قبُول خبر الثِّقَات

“Itu (mengikuti ulama al-Jarh wat Ta’dil, pen) bukanlah taqlid, tetapi mengamalkan perintah Allah ta’ala untuk menerima ‘Berita Orang Tsiqat’.” (Irsyadun Nuqqad fi Taisiril Ijtihad: 74).

Bagi Penulis, ucapan Ibnu Hajar, az-Zarkasyi, Ibnu Utsaimin dan ash-Shan’ani itu semua sama benarnya dan tidak tercela karena termasuk dalam ‘Bab Bertanya kepada Ulama al-Jarh wat Ta’dil’.

Allat ta’ala berfirman:

 فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kalian kepada ulama jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).

Keempat: Taruhlah bahwa mengikuti perkataan ulama ‘al-Jarh wat Ta’dil’ itu termasuk ‘Menerima Khabar Tsiqat’. Maka apakah setiap perkataan ulama -bahwa Fulan itu mencela sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, atau Allan mempunyai pemikiran Wihdatul Adyan- kita terima apa adanya tanpa tabayyun dan tatsabbut?

Al-Allamah al-Muhaddits Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah pernah ditanya:

هل يقبل خبر الثقة مطلقاً دون تثبت، كأن يقول أحد المشايخ: إن فلاناً سب وطعن في الصحابة، فهل يجب علي أن آخذ بهذا القول وأحكم عليه، أم لا بد من التثبت؟

الجواب

لا بد من التثبت, ولو كان القائل من أهل العلم، إلا إذا عزاه إلى كتاب له، والكتاب موجود وبإمكان الناس أن يرجعوا إليه، أما مجرد كلام من غير أن يذكر له أساساً، لا سيما إذا كان الشخص من الموجودين، أما إذا كان من المتقدمين، وهو معروف بالبدعة، أو من أئمة أهل البدع وكل الناس يعرفه، مثل: الجهم بن صفوان فلو قال: إنه مبتدع فإن كلامه صحيح، أما من يحصل منهم خطأ وزلة، وعندهم جهود عظمية في خدمة الدين، فتجد بعض الناس يقضي عليهم بمجرد هذه الزلة وهذا الخطأ، فهذا غير صحيح.

“Apakah ‘berita seorang tsiqat’ diterima secara mutlak tanpa tasabbut (kroscek, pen)? Seperti jika salah seorang syaikh menyatakan: “Fulan mencela sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam,” apakah saya wajib mengambil ucapannya dan menghukuminya, ataukah harus kroscek dulu?”

Beliau menjawab: “Harus melakukan kroscek dulu, walaupun yang menyatakannya itu seorang ulama, kecuali jika ia menyandarkan ucapannya pada kitab milik orang tersebut. Kitab tersebut ada dan manusia masih mungkin merujuk kepada kitab itu. Adapun sekedar ucapan orang tersebut tanpa menyebutkan dasarnya, apalagi orang tersebut masih hidup. Adapun jika orangnya termasuk generasi terdahulu dan dia dikenal dengan bid’ahnya, atau ia termasuk pemimpin kebid’ahan dan setiap orang mengetahuinya, seperti Jahm bin Shafwan. Maka jika seseorang berkata bahwa ia (Jahm) adalah ahlul bid’ah, maka ucapannya benar. Adapun seseorang yang tergelincir dan melakukan kesalahan, sedangkan ia mempunyai andil di dalam melayani agama ini, kamu mendapatkan sebagian manusia menghukumi sesat atasnya, maka ini tidak benar.” (Syarh Sunan Abi Dawud lil Abbad: 512/16).

Di antara contohnya adalah penolakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah terhadap ‘berita tsiqat’nya al-Imam Abu Bakar Ibnul Arabi al-Maliki (wafat tahun 468 H) rahimahullah tentang tuduhan ‘Mujassimah’ kepada al-Qadhi Abu Ya’la al-Hanbali (wafat tahun 458 H) rahimahullah. Syaikhul Islam berkata:

وقد صنف القاضي أبو يعلى كتابه في إبطال التأويل ردا لكتاب ابن فورك وهو وإن كان أسند الأحاديث التي ذكرها وذكر من رواها ففيها عدة أحاديث موضوعة كحديث الرؤية عيانا ليلة المعراج ونحوه وفيها أشياء عن بعض السلف رواها بعض الناس مرفوعة كحديث قعود الرسول صلى الله عليه و سلم على العرش رواه بعض الناس من طرق كثيرة مرفوعة وهي كلها موضوعة ..الخ

ولهذا وغيره تكلم رزق الله التميمي وغيره من أصحاب أحمد في تصنيف القاضي أبي يعلى لهذا الكتاب بكلام غليظ وشنع عليه أعداؤه بأشياء هو منها بريء كما ذكر هو ذلك في آخر الكتاب

 وما نقله عنه أبو بكر بن العربي في العواصم كذب عليه عن مجهول لم يذكره أبو بكر وهو من الكذب عليه مع أن هؤلاء – وإن كانوا نقلوا عنه ما هو كذب عليه ففي كلامه ما هو مردود نقلا وتوجيها..الخ

“Al-Qadhi Abu Ya’ala menulis kitab tentang ‘Membatalkan Ta’wil’ dalam rangka membantah kitab karya Ibnu Faurak (tokoh Asy’ariyah, pen). Meskipun beliau menyandarkan beberapa hadits yang beliau sebutkan dan para perawinya, maka di dalam kitab tersebut terdapat beberapa hadits maudhu’ (palsu, pen) seperti hadits tentang melihat Allah dengan mata kepala ketika malam Isra’ Mi’raj dan sebagainya. Di dalamnya juga terdapat atsar as-Salaf yang diriwayatkan oleh sebagian manusia sebagai hadits marfu’ seperti hadits duduknya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atas Arsy. Hadits ini diriwayatkan oleh sebagian manusia dari banyak jalan secara marfu’, tetapi semuanya maudhu’ (palsu)…dst.

Oleh karena perkara ini dan lainnya, Rizqullah at-Tamimi dan lainnya dari kalangan ulama Hanabilah membicarakan kitab karya al-Qadhi Abu Ya’la ini dengan ucapan yang keras. Musuh-musuh Abu Ya’la pun mencemooh beliau dengan banyak perkara yang mana beliau berlepas diri darinya sebagaimana beliau menyebutkan sendiri di akhir kitabnya.

Dan apa yang dinukil oleh Abu Bakar Ibnul Arabi dari beliau dalam kitab ‘al-Awashim’ adalah kedustaan atas nama beliau (Abu Ya’la, pen) dari seorang majhul yang tidak disebutkan (baca: disembunyikan, pen) oleh Ibnul Arabi. Itu adalah kedustaan atas nama Abu Ya’la, padahal mereka walaupun menukilkan dari beliau suatu kedustaan atas nama beliau, maka di dalam ucapan Ibnul Arabi terdapat sesuatu yang tertolak baik secara penukilan maupan pendalilan..dst.” (Dar’ut Ta’arudh al-Aql wan Naql: 3/19).

Contoh lainnya adalah penolakan al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah terhadap ‘berita tsiqat’nya asy-Syaikh Rabi’ tentang Adnan Ar’ur. Tetapi beliau menerima ‘berita tsiqat’nya asy-Syaikh Shalih Fauzan, asy-Syaikh Shalih al-Luhaidan dan asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahumullah tentangnya. Disebutkan:

السائل : يا شيخ ما قولك في الشّيخ عدنان عرعور؟

العلاّمة العثيمين: تكّلم فيه الناس وأنا يعني لا أعلمُ عنه …لكن تكلَّم فيه بعضُ النّاس

السائل : نعم تكلم فيه الشيخ الفوزان، والشيخ الغُديّان ….ومحسن العبّاد وغيرُهم، هل يا شيخ تنصح به أم لا؟

العلاّمة العثيمين: هؤلاء العُلماء الثلاثة عندنا ثقات

السائل [مقاطعاً]: وحتى الشيخ ربيع تكلم فيه..

العلاّمة العثيمين: أقول هؤلاء الثلاثة عندنا ثقات..

السائل : هل لا نسمعُ له يا شيخ؟

العلاّمة العثيمين: نعم؟

السائل : هل لا نسمعُ له ؟..نصحونا بعدم السماع لأشرطته….[هذا الموضع غير واضح] .

العلاّمة العثيمين: لو نَصَحنِي هؤلاء….. لأخذتُ بنصيحتِهم.

السائل : جزاك خيراً يا شيخ.

العلاّمة العثيمين: لأنهم علماءُ ثقات.

السائل : بارك الله فيك يا شيخ.

العلاّمة العثيمين: وفيكم

السائل : السلام عليكم.

Penanya: “Wahai asy-Syaikh (ibnu Utsaimin), apa pendapatmu tentang asy-Syaikh Adnan Ar’ur?’

Al-Allamah Ibnu Utsaimin: “Manusia memperbincangkannya, tetapi aku sendiri tidak mengenalnya, tetapi manusia memperbincangkannya.”

Penanya: “Benar. Asy-Syaikh al-Fauzan, asy-Syaikh al-Luhaidan…. dan Abdul Muhsin al-Abbad dan lainnya memperbincangkannya. Apakah Engkau menasehatkan untuk mengambil darinya atau tidak, wahai Syaikh?”

Al-Allamah Ibnu Utsaimin: “Ketiga ulama tersebut di sisi kami adalah orang-orang tsiqat.”

Penanya (terputus): “Bahkan asy-Syaikh Rabi’ juga telah memperbincangkannya.”

Al-Allamah Ibnu Utsaimin: “Aku katakan bahwa ketiga ulama tersebut (yakni: al-Fauzan, al-Luhaidan dan al-Abbad, pen) di sisi kami adalah orang-orang tsiqat.”

Penanya: “Apakah kami boleh mendengarkan ceramahnya, wahai Syaikh?”

Al-Allamah Ibnu Utsaimin: “Iya?’

Penanya: “Mereka menasehatkan kami untuk tidak mendengarkan kaset-kasetnya..(suara tidak jelas)..

Al-Allamah Ibnu Utsaimin: “Jika ketiga ulama ini (yakni: al-Fauzan, al-Luhaidan dan al-Abbad, pen) menasehatkan diriku, maka aku akan mengambil nasehat mereka.”

Penanya: “Jazakallah khairan, wahai Syaikh.”

Al-Allamah Ibnu Utsaimin: “Karena mereka adalah para ulama yang tsiqat.”

Penanya: “Baarakallahu fiik, wahai Syaikh.”

Al-Allamah Ibnu Utsaimin: “Wa fiikum.”

Penanya: ‘Wassalamu alaikum.”

(Lihat: https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=160350).

Dan jangankan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Utsaimin yang melakukan kroscek terhadap berita ‘tsiqat’, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun melakukan kroscek. Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- انْصَرَفَ مِنِ اثْنَتَيْنِ فَقَالَ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ: أَقَصُرَتِ الصَّلاَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْ نَسِيتَ؟ فَقَالَ: «أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ»؟ فَقَالَ النَّاسُ: نَعَمْ. فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ كَبَّرَ، ثُمَّ سَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ، فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ ثُمَّ رَفَعَ

“Bahwa Rasulullah shallallahu telah selesai melakukan shalat dua rakaat. Maka Dzulyadain bertanya kepada beliau: “Apakah shalatnya diringkas ataukah engkau telah lupa, wahai Rasulullah?” Beliau bertanya: “Apakah Dzulyadain benar?” Orang-orang menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri dan menambah dua rakaat lagi, kemudian beliau membaca salam, kemudian bertakbir, lalu beliau melakukan sujud seperti sujud beliau biasanya atau lebih panjang, kemudian beliau bangun lalu melakukan sujud seperti semula, kemudian beliau bangun.” (HR. Al-Bukhari: 7250, Muslim: 1318, an-Nasai: 1225, at-Tirmidzi: 399 dan Abu Dawud: 1010).

Al-Allamah Syihabuddin al-Qasthalani asy-Syafi’i (wafat tahun 923 H) rahimahullah berkata:

وإنما قال: أصدق ذو اليدين لاستثبات خبره لكونه انفرد دون من صلّى معه لاحتمال خطئه في ذلك ولا يلزم منه ردّ خبره مطلقًا

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanyalah bertanya: “Apakah Dzulyadain benar?”, dalam rangka melakukan kroscek (tabayyun, pen) atas beritanya, karena ia bersendirian padahal banyak sahabat yang melakukan shalat bersama beliau. Ini karena adanya kemungkinan keliru di dalam berita tersebut dan adanya kroscek tidak mengharuskan ditolaknya ‘berita tsiqat’ secara mutlak.” (Irsyadus Sari li Syarh Shahihil Bukhari: 10/288).

Oleh karena itu al-Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm al-Andalusi (wafat tahun 456 H) rahimahullah memberikan perincian kapan ‘Berita Tsiqat’ bisa ditolak. Beliau berkata:

ولا يصح الخطأ في خبر الثقة إلا بأحد ثلاثة أوجه إما تثبت الراوي واعترافه بأنه أخطأ فيه وإما شهادة عدل على أنه سمع الخبر مع راويه فوهم فيه فلان وإما بأن توجب المشاهدة بأنه أخطأ

“Dan tidaklah boleh ada kekeliruan di dalam ‘Berita Orang Tsiqat’ kecuali dengan sebab salah satu dari tiga sisi; (pertama) adakalanya dengan klarifikasi dari si perawi bahwa ia telah keliru, (kedua) adalah dengan persaksian seorang yang adil yang mendengarkan berita tersebut bersama si perawi bahwa Fulan telah melakukan ‘waham’ (baca: salah paham, pen), dan (ketiga) adalah kenyataan umum yang bisa disaksikan menunjukkan bahwa ia telah keliru.” (Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam: 1/128).

Kaidah ‘al-Jarh al-Mufassar’

Di antara ucapan mereka adalah: ‘Ibnu Jibrin, Muhammad al-Imam, al-Ma’ribi, Dzulqarnain dan lainnya telah di-Jarh oleh asy-Syaikh Rabi’, meskipun dipuji oleh ulama lainnya. Yang berlaku adalah al-Jarh dari asy-Syaikh Rabi’ karena disertai hujjah dan penjelasan. Di sini berlaku kaidah ‘al-Jarh al-Mufassr muqaddam alat Ta’dil’, yaitu ‘celaan yang terperinci lebih didahulukan dari pada pujian’.

Tanggapan:

Taruhlah ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’ berlaku di jaman ini. Kaidah ‘al-Jarh’ (Celaan terperinci) terhadap perawi didahulukan daripada ‘at-Ta’dil’ ini tidak berlaku mutlak.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah

والجرح مقدم على التعديل، وأطلق ذلك جماعةٌ، ولكن محلّهُ إن صدر مبيَّناً من عارفٍ بأسبابه، لأنه إن كان غير مفسَّر لم يقدح فيمن ثبتت عدالته، وإن صدر من غير عارف بالأسباب لم يُعتبر به أيضاً

“Al-jarh (celaan, pen) itu didahulukan atas at-ta’dil (pujian, pen). Sebagian ulama menganggapnya berlaku mutlak. Akan tetapi tempat berlakunya kaedah ini adalah jika celaan tersebut disertai penjelasan dari seorang yang mengerti sebab-sebab celaannya. Karena jika tidak dijelaskan alasan celaannya, maka celaan tersebut tidak bisa menggugurkan seorang perawi yang telah tegak sifat ‘adilnya. Jika celaan tersebut berasal dari orang yang tidak mengerti sebabnya, maka celaan tersebut juga tidak mu’tabar (tidak dianggap, pen).” (Nuz-hatun Nazhar fi Taudhih Nukhbatil Fikr fi Mushthalah Ahlil Atsar: 179).

Yang demikian karena terkadang alasan seorang ulama untuk melakukan ‘al-Jarh’ (celaan), tidak bisa dianggap sebagai celaan yang menggugurkan sifat ‘adil’ dari perawi tersebut.

Al-Hafizh Zainuddin al-Iraqi rahimahullah berkata:

ولأنَّ الناسَ مختلفونَ في أسبابِ الجرحِ . فيطلقُ أحدُهم الجرحَ بناءً على ما اعتقدَهُ جرحاً ، وليس بجرحٍ في نفسِ الأمرِ ، فلا بدَّ من بيانِ سببِهِ ، ليَظْهرَ أهو قادحٌ أم لا ؟

“Ini karena manusia berselisih tentang sebab-sebab di-Jarh (dicelanya perawi, pen). Maka sebagian mereka melakukan al-Jarh (celaan) dengan dasar bahwa perkara tersebut diyakini oleh si pencela sebagai suatu celaan, padahal perkara tersebut sebenarnya bukanlah celaan. Oleh karena itu harus dijelaskan sebab-sebab celaan, agar menjadi jelas apakah sebab tersebut bisa menggugurkan sifat ‘adil’ ataukah tidak.” (Syarh at-Tabshirah wat Tadzkirah: 108).

Kemudian al-Iraqi menyebutkan contoh-contoh sebab celaan (al-jarh) yang tidak bisa diterima dan tidak bisa menggugurkan sifat ‘adil’. Beliau berkata:

وقد روى الخطيبُ بإسنادِهِ إلى وَهْبِ بنِ جريرٍ ، قالَ : قالَ شعبةُ : أتيتُ منزلَ المِنْهالِ بنِ عَمْرٍو فسمعتُ منه صوتَ الطُّنْبُورِ ، فرجعتُ . فقيلَ له : فهلاَّ سألتَ عنه أنْ لا يَعْلَمَ هو . وروينا عن شعبةَ قال : قلتُ للحكمِ بنِ عُتَيْبةَ : لِمَ لَمْ تروِ عن زَاذانَ ؟ قال : كانَ كثيرَ الكلامِ . وقال محمدُ بنُ حُميدٍ الرازيُّ : حدّثنا جريرٌ قال : رأيتُ سِمَاكَ بنَ حَرْبٍ يبولُ قائماً ، فلم أكتبْ عنه

“Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya dari Wahab bin Jarir, ia berkata: “Syu’bah berkata: “Aku mendatangi rumah al-Minhal bin Amr, kemudian aku mendengarkan suara tambur (sejenis alat music, pen) dari rumahnya, lalu aku pulang (yakni: tidak meriwayatkan haditsnya, pen).” Maka Syu’bah ditanya: “Mengapa kamu tidak mencari klarifikasi darinya? Mungkin ia tidak tahu.” Dan kami meriwayatkan dari Syu’bah, ia berkata: “Aku bertanya kepada al-Hakam bin Utaibah: “Mengapa kamu tidak meriwayatkan hadits dari Zadzan?” Ia menjawab: “Ia banyak bicara.” Muhammad bin Humaid ar-Razi berkata: “Telah bercerita kepada kami Jarir, ia berkata: “Aku melihat Simak bin Harb sedang kencing sambil berdiri, maka aku tidak menulis hadits darinya..dst.” (Syarh at-Tabshirah wat Tadzkirah: 108).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa tidak setiap ‘al-Jarh’ (celaan) yang ‘mufassar’ (diperinci) itu diterima dan dianggap. Apalagi jika seorang yang dicela itu terkenal sifat ‘adil’nya apalagi ke-ulama’annya.

Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah menerangkan:

ومن صَحَّتْ عدالته لم يستحق القدح ولا الجرح إلا بعد زوال العدالة عنه بأحد أسباب الجرح، وهكذا حُكْمُ كلِّ مُحَدِّثٍ ثقةِ صَحَّت عدالته وتَبَيَّنَ خطؤه..الخ

“Barangsiapa yang telah valid sifat ‘adil’ padanya, maka ia tidak berhak dicela dan di-Jarh kecuali setelah hilang sifat ‘adil’ darinya dengan salah satu sebab celaan. Demikianlah menghukumi setiap ahlul hadits yang tsiqat, yang telah valid keadilannya dan jelas kesalahannya..dst.” (Ats-Tsiqat li Ibni Hibban: 7/670).

Sehingga sebab celaan pada ‘al-Jarh al-Mufassar’ harus diperinci dan ditafsirkan lebih jauh. Jika sebab al-Jarh merupakan perkara dosa, maka harus dijelaskan apakah dosa kecil, atau dosa besar, ataukah meninggalkan ‘muru’ah’. Jika sebab al-Jarh merupakan dosa kecil atau meninggalkan muru’ah, maka harus diperinci apakah terjadi sekali saja, atau beberapa kali tetapi jarang, ataukah sering.

Al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali (wafat tahun 620 H) rahimahullah menerangkan perincian dosa dan kesalahan yang dapat menggugurkan sifat ‘adil’ dan menjadikan ‘fasiq’. Beliau berkata:

ويعتبر في العدالة شيئان :

 أحدهما : اجتناب الكبائر والإدمان على الصغائر والكبائر كل ما فيه حد أو وعيد فمن فعل كبيرة أو أكثر من الصغائر فلا تقبل شهادته لأنه لا يؤمن من مثله شهادة الزور ولأن الله تعالى نص على القاذف فقسنا عليه مرتكب الكبائر واعتبرنا في مرتكب الصغائر الأغلب لأن الحكم للأغلب بدليل قوله تعالى : { فمن ثقلت موازينه فأولئك هم المفلحون } والآية التي بعدها ولا يقدح فيه في عمل صغيرة نادرا لأن أحدا لا يسلم منها..الخ

والثاني : المروءة فلا تقبل شهادة غير ذي المروءة كالمغني والرقاص والطفيلي والمتمسخر ومن يحدث بمباضعة أهله ومن يكشف عورته في الحمام أو غيره أو يكشف رأسه في موضع لا عادة بكشفه فيه ويمد رجليه في مجمع الناس وأشباه ذلك مما يجتنبه أهل المروءات لأنه لا يأنف من الكذب بدليل ما روى أبو مسعود البدري أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : [ إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى إذا لم تستح فاصنع ما شئت ]..الخ

Sifat ‘adil’ ditentukan oleh 2 hal:

Pertama: menjauhi dosa besar dan tidak merutinkan untuk melakukan dosa kecil. Dosa besar adalah suatu dosa yang terdapat hukuman hadd padanya, atau terdapat ancaman bagi para pelakunya. Maka barangsiapa melakukan dosa besar atau memperbanyak dosa kecil, maka persaksiannya tidak diterima karena ia tidak dianggap aman untuk melakukan persaksian palsu, dan karena Allah ta’ala menjelaskan tentang hukuman seorang yang menuduh orang lain berbuat zina (dengan ditolak persaksiannya dan dianggap fasiq, pen). Maka kami meng-qiyaskan (baca: menganalogikan, pen) semua dosa besar dengan perbuatan menuduh berzina. Dan kami menganggap pada pelaku dosa kecil dengan keadaan yang paling dominan padanya. Ini karena menghukumi seseorang itu berdasarkan keadaan yang paling dominan dengan dalil firman Allah ta’ala: “Barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka adalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. Al-Mukminun: 102)  dan ayat sesudahnya. Maka seseorang tidak boleh di-Jarh (dicela, pen) dengan sebab dosa kecil yang dilakukan sesekali waktu karena setiap orang tidak selamat darinya..dst.”

Kedua: perkara muru’ah. Maka tidak diterima persaksian seseorang yang tidak mempunyai sifat ‘muru’ah’, seperti penyanyi (biduan), penari, thufaili (orang yang suka mendatangi acara walimah tanpa diundang, pen), pelawak atau badut, orang yang suka menceritakan hubungan seks dengan istrinya kepada orang lain, orang yang membuka auratnya di pemandian umum, orang yang membuka tutup kepala di tempat yang kebiasaan orangnya menggunakan tutup kepala, orang yang membentangkan kakinya dalam perkumpulan manusia dan lain sebagainya dari sifat yang dijauhi oleh ‘ahlul muru’ah’ karena ia tidak akan merasa malu untuk berdusta dengan dalil hadits Abu Mas’ud al-Badri radliyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk perkara yang didapati oleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari: 5769) ..dst.” (Al-Kafi fi Fiqhil Imam al-Mubajjal Ahmad bin Hanbal: 4/271).

Setelah itu kita perlu melakukan ‘Muwazanah’ dan ‘al-Inshaf’ terhadap perawi yang di-Jarh (dicela) dengan ‘al-Jarh al-Mufassar’. Apakah dosa dan kesalahannya itu mengalahkan kebaikan dan ketaatannya ataukah tidak. Jika kesalahannya itu mengalahkan ketaatannya, maka gugurlah sifat ‘adil’ padanya. Jika ketaatannya lebih dominan dari kesalahan yang dituduhkan, maka ia tetap dinilai sebagai orang ‘adil’, bukan fasiq.

Al-Imam Abul Mahasin ar-Rauyani asy-Syafi’i (wafat tahun 502 H) rahimahullah juga berkata:

وَإِذَا لَمْ يَسْلَمْ أَحَدٌ مِنَ الطَّاعَةِ وَالْمَعْصِيَةِ ، لَمْ يَجُزْ أَنْ تَكُونَ الْعَدَالَةُ مَقْصُورَةً عَلَى خُلُوصِ الطَّاعَاتِ .  وَلَا الْفِسْقُ مَقْصُورًا عَلَى خُلُوصِ الْمَعَاصِي . لِامْتِنَاعِ خُلُوصِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا . وَلَا اعْتِبَارَ بِالْمُمْتَنِعِ فَوَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ الْأَغْلَبُ مِنْ أَحْوَالِ الْإِنْسَانِ . فَإِنْ كَانَ الْأَغْلَبُ عَلَيْهِ الطَّاعَةَ وَالْمُرُوءَةَ . حُكِمَ بِعَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ، وَإِنْ عَصَى بِبَعْضِ الصَّغَائِرِ، وَإِنْ كَانَ الْأَغْلَبُ عَلَيْهِ الْمَعْصِيَةَ وَتَرْكَ الْمُرُوءَةِ ، حُكِمَ بِفِسْقِهِ وَرَدِّ شَهَادَتِهِ وَإِنْ أَطَاعَ فِي بَعْضِ أَحْوَالِهِ . قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ [ الْمُؤْمِنُونَ : ، ] .

“Jika seseorang tidaklah selamat dari ketaatan dan kemaksiatan. Maka sifat ‘adil’ tidak boleh dibatasi pada ketaatan yang murni. Demikian pula sifat ‘fasiq’ tidak boleh dibatasi oleh kemaksiatan yang murni. Karena mustahil ada seseorang dengan ketaatan yang murni dan seseorang dengan kemaksiatan yang murni. Dan tidak ada hukum kepada sesuatu yang mustahil, maka yang wajib menjadi penilaian pada seseorang adalah keadaan yang paling dominan darinya. Sehingga jika perkara yang paling dominan pada seseorang itu adalah ketaatan dan menjaga muru’ah, maka orang itu dihukumi dengan sifat ‘adil’ dan diterima persaksiannya, meskipun ia berbuat maksiat dengan melakukan beberapa dosa kecil. Jika perkara yang dominan padanya adalah kemaksiatan dan meninggalkan muru’ah, maka ia dihukumi sebagai orang fasiq, dan ditolak persaksiannya, walaupun ia berbuat ketaatan di beberapa waktu. Allah ta’ala berfirman: “Barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka adalah orang yang merugi atas diri mereka, kekal di neraka Jahannam.” (QS. Al-Mukminun: 102-103).” (Bahrul Madzhab fi Furu’ Madzhab asy-Syafi’i: 14/279).

Lalu bagaimana jika alasan al-Jarh itu berupa perkara bid’ah yang dianggap menggugurkan sifat ‘adil’ dari perawi atau saksi? Maka di sini juga perlu perincian.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

وقال أبو حامد من أصحاب الشافعي : المختلفون على ثلاثة أضرب : ( ضرب ) اختلفوا في الفروع فهؤلاء لا يفسقون بذلك ولا ترد شهادتهم وقد اختلف الصحابة في الفروع ومن بعدهم من التابعين

 الثاني : من نفسقه ولا نكفره وهو من سب القرابة كالخوارج أو سب الصحابة كالروافض فلا تقبل لهم شهادة لذلك

 الثالث : من نكفره وهو من قال بخلق القرآن ونفي الرؤية وأضاف المشيئة إلى نفسه فلا تقبل له شهادة

“Abu Hamid al-Isfaraini dari kalangan Syafi’iyah berkata: “Orang yang berselisih (yakni: pelaku bid’ah, pen) ada tiga macam;

Pertama: orang yang melakukan bid’ah dalam masalah furu’ (cabang) fikih. Mereka ini tidak dianggap fasiq dan persaksiannya tidak ditolak. Para sahabat, tabi’in dan setelah mereka pun berselisih dalam masalah furu’.

Kedua: ahlul bid’ah yang kami anggap fasiq tetapi tidak kami anggap kafir. Yaitu orang yang mencela kerabat Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti Khawarij, atau orang yang mencela sahabat Nabi shallallahu seperti Rafidhah, maka persaksian mereka ditolak.

Ketiga: ahlul bid’ah yang kami anggap kafir. Yaitu orang yang menyatakan bahwa al-Quran itu makhluk, atau menolak bisa melihat Allah pada hari kiamat, atau orang yang menyandarkan kehendak pada dirinya (yakni: Qadariyah, pen), maka persaksian mereka ditolak.” (Al-Mughni fi Fiqhil Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani: 12/28).

Penukilan Ibnu Qudamah di atas menunjukkan bahwa tidak setiap perkara bid’ah bisa menggugurkan sifat ‘adil’ dari perawi dan saksi. Al-Allamah Abdurrahman al-Mu’allimi al-Yamani rahimahullah berkata:

البدعة التي جرت عادتهم بالبحث عن صاحبها عند الكلام في العدالة هي البدعة في الاعتقاديات وما بني عليها أو ألحق بها

“Perkara bid’ah yang menjadi kebiasaan dalam pembahasan para ulama ketika membicarakan sifat ‘adil’ (dari perawi atau saksi, pen) adalah perkara bid’ah dalam bidang akidah serta perkara yang dibangun atasnya dan perkara yang diikutkan dengannya.” (Al-Istibshar fi Naqdil Akhbar: 27).

Keterangan di atas memberikan faedah bahwa kita tidak boleh sembarangan melakukan al-Jarh (celaan) kepada orang-orang yang sudah dikenal keistiqamahannya di dalam agama ini dan juga dikenal sifat ‘adil’nya dengan alasan mengikuti kaidah ‘al-Jarh al-Mufassar’ (celaan yang diperinci).

Al-Allamah Tajuddin as-Subki asy-Syafi’i (wafat tahun 771 H) rahimahullah berkata:

الصواب عندنا: أن من ثبتت إمامته وعدالته، وكثر مادحوه ومزكوه، وندر جارحوه، وكانت هناك قرينة دالة على سبب جرحه، من تعصب مذهبي أو غيره، فإنا لا نلتفت إلى الجرح فيه، ونعمل فيه بالعدالة، وإلا فلو فتحنا هذا الباب، وأخذنا تقديم الجرح على إطلاقه؛ لما سلم لنا أحد من الأئمة، إذ ما من إمام إلا وقد طعن فيه طاعنون، وهلك فيه هالكون

“Yang benar menurut kami adalah bahwa orang yang telah valid keimamannya dan sifat ‘adil’nya, banyak orang yang memuji dan merekomendasikannya, serta sedikit yang mencelanya, dan di sana terdapat qarinah (petunjuk) bahwa sebab al-Jarh (celaan, pen) berupa fanatisme madzhab atau lainnya (seperti permusuhan atau persaingan rival, pen), maka kami tidak menganggap kepada al-Jarh (celaan) tersebut dan kami tetap menganggap sifat ‘adil’nya. Maka jika tidak demikian, seandainya kita buka bab ini dan kita ambil kaidah ‘mendahulukan celaan yang terperinci’ secara mutlak, maka tidak akan selamat seorang ulama pun dari celaan. Ini karena tidaklah seorang imam pun kecuali dicela oleh orang yang mencela dan binasalah orang yang binasa karenanya..dst.” (Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra: 2/3). Wallahul musta’an.

Ulama Seusia dan Semasa

Para ulama membahas bagaimana menyikapi kritikan ulama satu terhadap ulama lain yang seusia (aqran) atau semasa (mu’ashir).

Al-Imam Abdullah bin Abbas radliyallahu anhuma berkata:

استمعوا علم العلماء ولا تصدقوا بعضهم على بعض فوالذي نفسي بيده لهم أشد تغايرا من التيوس في زروبها

“Dengarkanlah ilmu para ulama. Janganlah kalian benarkan penilaian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Demi Allah yang mana jiwaku ada di tangan-Nya. Sungguh, mereka lebih cemburu daripada domba-domba jantan di kandangnya.” (Atsar riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 11164 (3/404)).

Maka di dalam perkara ini terdapat dua pembahasan:

Pertama: jika pembicaraan antar ulama yang seusia atau semasa berkaitan dengan Radd atau bantahan ilmiyah, maka ini diterima dan diambil faedahnya karena termasuk amar ma’ruf dan nahi mungkar dan tambahan ilmu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَقَوْلُهُمْ مَسَائِلُ الْخِلَافِ لَا إنْكَارَ فِيهَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ فَإِنَّ الْإِنْكَارَ، إمَّا أَنْ يَتَوَجَّهَ إلَى الْقَوْلِ بِالْحُكْمِ أَوْ الْعَمَلِ أَمَّا الْأَوَّلُ فَإِذَا كَانَ الْقَوْلُ يُخَالِفُ سُنَّةً، أَوْ إجْمَاعًا قَدِيمًا وَجَبَ إنْكَارُهُ وِفَاقًا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ فَإِنَّهُ يُنْكَرُ بِمَعْنَى بَيَانِ ضَعْفِهِ عِنْدَ مَنْ يَقُولُ الْمُصِيبُ وَاحِدٌ وَهُمْ عَامَّةُ السَّلَفِ وَالْفُقَهَاءِ، وَأَمَّا الْعَمَلُ فَإِذَا كَانَ عَلَى خِلَافِ سُنَّةٍ، أَوْ إجْمَاعٍ وَجَبَ إنْكَارُهُ أَيْضًا بِحَسَبِ دَرَجَاتِ الْإِنْكَارِ كَمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ حَدِيثِ شَارِبِ النَّبِيذِ الْمُخْتَلَفِ فِيهِ، وَكَمَا يُنْقَضُ حُكْمُ الْحَاكِمِ إذَا خَالَفَ سُنَّةً، وَإِنْ كَانَ قَدْ اتَّبَعَ بَعْضَ الْعُلَمَاءِ. وَأَمَّا إذَا لَمْ يَكُنْ فِي الْمَسْأَلَةِ سُنَّةٌ وَلَا إجْمَاعٌ وَلِلِاجْتِهَادِ فِيهَا مَسَاغٌ فلا  يُنْكَرُ عَلَى مَنْ عَمِلَ بِهَا مُجْتَهِدًا، أَوْ مُقَلِّدًا..الخ

“Pendapat mereka bahwa “Permasalahan Khilaf (yang diperselisihkan, pen) tidak boleh diingkari’, maka ini tidak benar. Ini karena masalah ‘mengingkari’ bisa ditujukan kepada suatu pendapat tentang hukum, atau ditujukan kepada suatu perbuatan. Adapun yang pertama (suatu pendapat, pen), maka jika pendapat tersebut menyelisihi as-Sunah atau al-Ijma’ terdahulu, maka wajib diingkari menurut kesepakatan. Jika tidak demikian (yakni: tidak menyelisihi as-Sunnah dan ijma’, pen), maka tetap diingkari dengan arti dijelaskan lemahnya pendapat tersebut menurut pendapat yang menyatakan bahwa yang benar adalah satu, yaitu pendapat keumuman as-Salaf dan Fuqaha. Adapun suatu perbuatan, maka jika menyelisihi as-Sunnah atau al-Ijma’, maka wajib diingkari juga, menurut tingkatan mengingkari kemungkaran, sebagaimana kami telah menyebutkan dalam hadits peminum air perasan anggur yang diperselisihkan, dan juga sebagaimana dibatalkannya keputusan hakim jika menyelisihi as-Sunnah, meskipun ia telah mengikuti sebagian ulama. Adapun jika di dalam permasalahan tersebut tidak terdapat as-Sunnah atau al-Ijma’ yang menerangkannya, dan terdapat jalan bagi ijtihad, maka tidak boleh mengingkari orang yang mengamalkannya baik sebagai mujtahid ataupun orang yang bertaklid…dst.” (Al-Fatawa al-Kubra: 6/96).

Kedua: penilaian dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’, terutama celaan. Maka di sini terdapat dua pendapat:

Pendapat pertama: celaan ulama yang semasa tidak dianggap, kecuali terdapat bukti kuat bahwa celaan tersebut benar adanya. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah. Beliau berkata:

كَلاَمُ الأَقْرَانِ يُطْوَى وَلاَ يُرْوَى، فَإِنْ ذُكِرَ، تَأَمَّلَهُ المُحَدِّثُ، فَإِنْ وَجَدَ لَهُ مُتَابعاً، وَإِلاَّ أَعرَضَ عَنْهُ

“Ucapan (celaan, pen) ulama terhadap ulama lain yang sejawat, disimpan dan tidak usah diriwayatkan (yakni: disebarkan, pen). Jika diceritakan, hendaknya ahlul hadits memperhatikannya dengan seksama. Jika ia menemukan al-Jarh dari ulama lain yang serupa, maka silakan dianggap. Jika tidak, maka al-Jarh tersebut tidak usah dihiraukan.” (Siyar A’lamin Nubala’: 5/275-6).

Pendapat kedua: celaan (al-Jarh) dari ulama yang sejawat lebih kuat daripada yang lainnya, karena mereka lebih tahu tentang ulama di masanya, kecuali terdapat bukti kuat adanya permusuhan dan rival. Ini adalah pendapat al-Allamah Muqbil al-Wadi’i rahimahullah. Beliau berkata:

جرح الأقران أثبت من غيرهم، لأنّهم أعرف بقرنائهم، فهي مقبولة إلا إذا علم أن بينهما تنافسًا وعداوةً سواء لأجل دنيا، أو مناصب، أو خطأ في فهم، ويريد أن يلزم الآخر بخطأ فهمه

“Al-Jarh (celaan) ulama yang sejawat itu lebih kuat daripada yang lainnya, karena mereka lebih mengetahui tentang teman sejawat mereka. celaan tersebut diterima, kecuali jika diketahui adanya permusuhan dan persaingan di antara keduanya, baik karena urusan dunia, jabatan atau karena kesalahan pemahaman yang di-ilzam-kan (dipaksakan, pen) agar diikuti sejawatnya.” (Al-Muqtarah fi Ilmil Musthalah: 60).

Mana yang benar?

Pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat yang dipilih oleh adz-Dzahabi, karena beliau –selain pakar al-Jarh wat-Ta’dil- juga pakar sejarah.

Seringkali para ulama menyatakan:

وقال الذهبي وهو من أهل الاستقراء التام في نقد الرجال …الخ

“Adz-Dzahabi berkata sedangkan beliau adalah pakar yang telah meneliti dengan sempurna dalam bidang kritikan kepada para tokoh..dst.” (Fathul Mughits: 3/359 dan Tadribur Rawi: 1/308).

Menurut pengamatan dan penelitian al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah, kebanyakan perkara yang terjadi di antara ulama yang seusia dan semasa adalah adanya permusuhan dan persaingan di antara mereka. Beliau berkata:

كلام الأقران بعضهم في بعض لا يعبأ به ولا سيما إذا لاح لك أنه لعداوة أو لمذهب أو لحسد لا ينجو منه إلا من عصم الله وما علمت أن عصرا من الأعصار سلم أهل من ذلك سوى النبيين والصديقين فلو شئت سردت من ذلك كراريس

“Celaan ulama yang seusia dan sejaman di antara mereka tidak boleh dianggap, apalagi jika tercium olehmu bahwa celaan tersebut berbau permusuhan, atau karena madzhab, atau karena iri hati, tidak bisa selamat darinya kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Allah. Dan aku tidak mengetahui suatu masa pun, yang mana para ulamanya selamat dari hal ini kecuali para nabi dan shiddiqin. Seandainya aku mau, maka aku akan menyebutkan kisah-kisah ini dengan menghabiskan berlembar-lembar kertas..dst.” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal: 1/111).

Jangankan antar ulama yang semasa, para sabahat radliyallahu anhum pun tidak selamat dari saling mencela di antara mereka. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

كَلاَمُ الأَقْرَانِ إِذَا تَبَرْهَنَ لَنَا أَنَّهُ بِهَوَىً وَعَصَبِيَّةٍ، لاَ يُلْتَفَتُ إِلَيْهِ، بَلْ يُطْوَى، وَلاَ يُرْوَى، كَمَا تَقَرَّرَ عَنِ الكَفِّ عَنْ كَثِيْرٍ مِمَّا شَجَرَ بَيْنَ الصَّحَابَةِ، وَقِتَالِهِم  رَضِيَ اللهُ عَنْهُم أَجْمَعِيْنَ

“Celaan di antara ulama yang seusia jika tampak jelas bagi kita bahwa celaan tersebut di atas hawa nafsu dan sikap fanatik, maka tidak perlu ditoleh, tetapi hendaknya dikubur dan tidak disampaikan, sebagaimana Manhaj yang telah tegak tentang wajibnya menahan diri untuk berkomentar di dalam kebanyakan perkara yang berupa saling mencela dan saling berperang di antara para sahabat radliyallahu anhum ajma’in..dst.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/92).

Maka untuk menyikapi celaan antara ulama yang seusia dan semasa, kita harus mengembalikan kepada prinsip ‘Muwazanah’ dan ‘Inshaf’. Kita harus menimbang kebaikan dan keburukan para ulama yang saling mencela tersebut.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr al-Andalusi al-Maliki rahimahullah mengingatkan:

فمن أراد أن يقبل قول العلماء الثقات الأئمة الأثبات في بعض فليقبل قول من ذكرنا قوله من الصحابة رضوان الله عليهم بعضهم في بعض، فإن فعل ذلك ضل ضلالا بعيدا وخسر خسرانا وكذلك إن قَبِل في سعيد بن المسيب قول عكرمة، وفي الشعبي وأهل الحجاز وأهل مكة وأهل الكوفة وأهل الشام على الجملة، وفي مالك والشافعي وسائر من ذكرناه في هذا الباب ما ذكرنا عن بعضهم في بعض، فإن لم يفعل ولن يفعل إن هداه الله وألهمه رشده فليقف عند ما شرطنا في أن لا يقبل فيمن صحت عدالته، وعُلمت بالعلم عنايته، وسلم من الكبائر ولزم المروءة والتصاون، وكان خيره غالبا وشره أقل عمله، فهذا لا يقبل فيه قول قائل لا برهان له به، وهذا هو الحق الذي لا يصح غيره إن شاء الله

“Barangsiapa yang ingin menerima al-Jarh (celaan) antara ulama tsiqat yang seusia, maka hendaknya ia menerima celaan antara sesama sahabat radliyallahu anhum yang satu dengan lainnya. Dan jika ia berani menerima celaan-celaan tersebut, maka ia akan tersesat dengan kesesatan yang jauh dan merugi dengan kerugian yang nyata. Demikian pula jika ia ingin menerima celaan Ikrimah terhadap Sa’id bin al-Musayyib, dan juga celaan terhadap asy-Sya’bi, ulama Hijaz, ulama Makkah, ulama Kufah dan ulama Syam secara global, dan juga celaan terhadap Malik, asy-Syafi’i dan semua ulama yang telah kami sebutkan dalam bab ini, yakni saling mencela antara ulama yang seusia. Maka jika ia tidak mampu menerima segala al-Jarh tersebut dan tidak akan mampu jika Allah memberinya hidayah dan petunjuk, maka hendaknya ia berhenti pada perkara yang kami persyaratkan (yakni: prinsip inshaf dan muwazanah, pen) bahwa tidak diterima al-Jarh (celaan) kepada orang yang telah valid sifat ‘adil’nya, terkenal dengan keilmuannya, selamat dari dosa-dosa besar, berpegang dengan sifat muru’ah dan menjaga diri, dan kebaikannya lebih banyak, sedangkan keburukannya lebih sedikit. Maka terhadap orang yang keadaannya seperti ini tidak boleh diterima celaan dari siapapun tanpa bukti dan hujjah. Pendapat ini adalah kebenaran yang tidak sah pendapat selain ini. Insya Allah.” (Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 3/415).

Selain itu, untuk menerima atau menolak terhadap al-Jarh antara ulama yang seusia dan semasa, kita juga bisa menggunakan ‘Muwazanah’, lebih banyak mana antara ulama yang memuji dengan ulama yang mencela. Jika ternyata banyak ulama yang memuji ulama tersebut, maka celaan dari sejawatnya tidak diterima. Dan jika banyak ulama yang mencelanya, maka al-Jarh dari sejawat bisa diterima.

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

لَسْنَا نَدَّعِي فِي أَئِمَّةِ الجَرْحِ وَالتَّعْدِيْلِ العِصْمَةَ مِنَ الغَلَطِ النَّادِرِ، وَلاَ مِنَ الكَلاَمِ بنَفَسٍ حَادٍّ فِيْمَنْ بَيْنَهُم وَبَيْنَهُ شَحنَاءُ وَإِحْنَةٌ، وَقَدْ عُلِمَ أَنَّ كَثِيْراً مِنْ كَلاَمِ الأَقْرَانِ بَعْضِهِم فِي بَعْضٍ مُهدَرٌ، لاَ عِبْرَةَ بِهِ، وَلاَ سِيَّمَا إِذَا وَثَّقَ الرَّجُلَ جَمَاعَةٌ يَلُوحُ عَلَى قَوْلِهُمُ الإِنصَافُ

“Kami tidak menyatakan bahwa para imam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ itu terbebas dari kesalahan yang jarang terjadi, juga terbebas dari bau permusuhan dan kebencian di antara mereka. Dan sudah diketahui bahwa celaan dari ulama yang seusia dan sejawat tidak bisa diterima, apalagi ulama yang dicela tersebut dinilai tsiqat oleh banyak ulama yang mana ucapan mereka dilandasi sikap ‘Inshaf’.” (Siyar A’lamin Nubala’: 7/40-41).

Di antara contohnya adalah al-Jarh antara al-Imam Ibnu Mandah dan al-Imam Abu Nu’aim al-Ashabahani rahimahumallah. Al-Imam adz-Dzahabi berkata:

وكلام ابن مندة في أبى نعيم فظيع، لا أحب حكايته، ولا أقبل قول كل منهما في الآخر، بل هما عندي مقبولان، لا أعلم لهما ذنباً أكثر من روايتهما الموضوعات ساكتين عنها

‘Celaan Ibnu Mandah terhadap Abu Nu’aim sangatlah kasar. Aku tidak suka menceritakannya. Aku juga tidak menerima celaan dari antara keduanya kepada yang lainnya, bahkan keduanya menurutku adalah diterima. Aku tidak mengetahui dosa bagi keduanya yang lebih banyak daripada meriwayatkan hadits-hadits palsu dengan mendiamkannya (tanpa penjelasan, pen).” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal: 1/111).

Di antara contohnya adalah al-Jarh antara al-Imam Yahya bin Sha’id dan al-Imam Ibnu Abi Dawud rahimahumallah. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

وَقَدْ ذَكَرنَا مُخَاصَمَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَ ابْنِ أَبِي دَاوُدَ، وَحَطَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى الآخَرِ فِي تَرْجَمَةِ ابْنِ أَبِي دَاوُدَ، وَنَحْنُ لاَ نَقْبَلُ كَلاَمَ الأَقرَانِ بَعْضِهِم فِي بَعْضِ، وَهُمَا – بِحَمْدِ اللهِ – ثِقَتَانِ

“Kami telah menyebutkan permusuhan antaranya (yakni: Ibnu Sha’id, pen) dan Ibnu Abi Dawud. Masing-masing menjatuhkan yang lainnya, dalam biografi Ibnu Abi Dawud. Kami tidak menerima al-Jarh (celaan) antara ulama yang seusia. Keduanya –dengan memuji Allah- adalah tsiqat.” (Siyar A’lamin Nubala’: 14/505).

Dan masih lagi contoh seperti di atas. Intinya adalah apabila kita menemukan kritikan terhadap ulama yang semasa, maka kritikan tersebut dibagi dua:

Pertama: sisi Radd atau Bantahan Ilmiyah, maka kita dapat mengambil faedah dari bantahan tersebut karena merupakan ilmu.

Kedua: sisi al-Jarh atau celaan, maka kita kembalikan kepada prinsip ‘Muwazanah’ dan ‘Inshaf’ dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’. Wallahu a’alam.

Antara ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan Vonis Tabdi’ dan Tafsiq

Ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan ‘Bantahan atas Penyimpangan’ harus dibedakan dari ‘Bab Tabdi’, Tafsiq dan Takfir’. Ini karena kebanyakan ‘Jamaah Tahdzir’ tidak bisa membedakan antara keduanya. Ketika mereka mendengar bahwa seorang ulama diperingatkan kesalahannya oleh ulama lain, maka mereka langsung memboikot ulama tersebut dan tulisannya serta memperlakukannya layaknya orang yang keluar dari al-Islam.

Ilmu ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dan ‘Bantahan atas Penyimpangan’ termasuk jenis nasehat. Dan yang namanya ‘nasehat’ tidak perlu menunggu terpenuhinya persyaratan dan hilangnya penghalang seperti tegaknya hujah dan ‘Udzur bil Jahl’ (alasan kebodohan, pen).

Adapun Memvonis seorang muslim sebagai ‘Kafir’, atau ‘Fasiq’ atau ‘Ahlul Bid’ah’, maka itu termasuk dalam ‘al-Asma’ wal Ahkam’ yang merupakan bagian dari hukum syariat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan:

فَاعْلَمْ أَنَّ ” مَسَائِلَ التَّكْفِيرِ وَالتَّفْسِيقِ ” هِيَ مِنْ مَسَائِلِ ” الْأَسْمَاءِ وَالْأَحْكَامِ ” الَّتِي يَتَعَلَّقُ بِهَا الْوَعْدُ وَالْوَعِيدُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ وَتَتَعَلَّقُ بِهَا الْمُوَالَاةُ وَالْمُعَادَاةُ وَالْقَتْلُ وَالْعِصْمَةُ وَغَيْرُ ذَلِكَ فِي الدَّارِ الدُّنْيَا..الخ

“Ketahuilah bahwa ‘Masalah Takfir dan Tafsiq’ termasuk permasalahan ‘al-Asma’ wal-Ahkam’ yang berhubungan dengan ‘Janji surga’ dan ‘Ancaman neraka’ di akhirat, dan juga berhubungan dengan ‘al-Wala’ wal Bara’, hukuman dengan dibunuh, ‘al-Ishmah’ (terjaganya darah, harta dan kehormatan, pen) dan perkara lainnya di dunia..dst.” (Majmu’ al-Fatawa: 12/468).

Al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

ونعلم أن التكفير والتفسيق والتبديع والتضليل والقول بالإسلام أو الإيمان كله ليس راجع إلينا وإنما هو راجع إلى الله الذي له الحكم وبيده ملكوت كل شيء هو الله فإذا حكم على شخص ما أنه كافر فهو كافر ونقول أنه كافر ولا نبالي وإذا حكم على شخص أنه مسلم فإنه مسلم فنقول أنه مسلم ولا نبالي..الخ

“Kami mengetahui bahwa masalah vonis ‘Kafir’, vonis ‘Fasiq’, vonis ‘Ahlul Bid’ah’, vonis ‘Sesat’, menyatakan ‘Islam’ atau ‘Iman’, semuanya itu tidaklah kembali kepada kita, tetapi kembali kepada Allah yang mana milik-Nyalah segala hukum dan ditangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Dialah Allah. Jika Allah menghukumi seseorang bahwa ia kafir, maka kami pun berkata bahwa ia kafir, dan kami tidak peduli. Jika Allah menghukumi seseorang bahwa ia muslim, karena ia memang muslim, maka kami pun menyatakan bahwa ia muslim, dan kami tidak peduli…dst.” (Fatawa Nur alad Darb: 124/66).

Asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah berkata:

أن التكفير والتبديع والتضليل والتفسيق، كلها أحكام شرعية، يطلقها أهل العلم على من استحقها بالحجة والدليل

“Sesungguhnya vonis ‘Takfir’, ‘Tabdi’, ‘Tadhlil’ (vonis sesat, pen) dan ‘Tafsiq’ adalah hukum-hukum syar’i. Maka para ulama tidaklah memvonis orang yang berhak dengan vonis tersebut kecuali dengan hujah dan dalil.” (Qam’ud Dajajilah ath Tha’inin ala Mu’taqad A’immatil Islam al-Hanabilah: 13).

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan peringatan:

لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالفُسُوقِ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan sifat ‘fasiq’ dan tidak pula menuduhnya dengan sifat ‘kafir’, kecuali akan kembali kepada dirinya jika yang tertuduh tidak mempunyai sifat demikian.” (HR. Al-Bukhari: 6045 dari Abu Dzar radliyallahu anhu).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan hadits di atas:

وهذا يقتضي أن من قال لآخر أنت فاسق أو قال له أنت كافر فإن كان ليس كما قال كان هو المستحق للوصف المذكور وأنه إذا كان كما قال لم يرجع عليه شيء لكونه صدق فيما قال ولكن لا يلزم من كونه لا يصير بذلك فاسقا ولا كافرا أن لا يكون آثما في صورة قوله له أنت فاسق بل في هذه الصورة تفصيل إن قصد نصحه أو نصح غيره ببيان حاله جاز وأن قصد تعييره وشهرته بذلك ومحض أذاه لم يجز لأنه مأمور بالستر عليه وتعليمه وعظته بالحسنى فمهما أمكنه ذلك بالرفق لا يجوز له أن يفعله بالعنف لأنه قد يكون سببا لإغرائه وإصراره على ذلك الفعل كما في طبع كثير من الناس..الخ

“Hadits ini memberikan konsekuensi bahwa orang yang berkata kepada orang lain: “Kamu orang fasiq,” atau ia berkata: “Kamu orang kafir,” maka jika yang tertuduh ternyata tidak mempunyai sifat demikian, maka si penuduhlah yang berhak mendapatkan sifat yang dituduhkan. Dan jika yang tertuduh ternyata seperti itu, maka tuduhan tersebut tidak akan kembali kepada si penuduh karena ia telah benar dalam tuduhannya. Akan tetapi meskipun si penuduh tidak menjadi fasiq atau kafir, bukan berarti ia tidak berdosa di dalam ucapannya “Kamu orang fasiq.” Bahkan di dalam ucapan “Kamu orang fasiq” terdapat perincian. Jika ia mengucapkan kalimat tersebut dengan niat menasehatinya atau menasehati orang lain dengan menjelaskan keadaannya, maka itu diperbolehkan. Jika ia bertujuan untuk mencemoohnya serta memasyhurkan ucapan tersebut dan murni menyakitinya, maka ini tidak diperbolehkan, karena ia diperintahkan menutupi aibnya, mengajarinya dan menasehatinya dengan cara baik. Maka jika masih mungkin untuk menasehatinya dengan cara lemah lembut, maka tidak boleh dilakukan dengan cara kasar, karena ini bisa menjadi sebab dia lari dan tetap bergelimang dalam perbuatan tersebut sebagaimana terjadi pada watak kebanyakan manusia..dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 10/466).

Sehingga sebelum terjadi vonis, diharuskan terpenuhinya persyaratan takfir dan tabdi’ serta hilangnya penghalang tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فَإِنَّ نُصُوصَ ” الْوَعِيدِ ” الَّتِي فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنُصُوصَ الْأَئِمَّةِ بِالتَّكْفِيرِ وَالتَّفْسِيقِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَا يُسْتَلْزَمُ ثُبُوتُ مُوجَبِهَا فِي حَقِّ الْمُعَيَّنِ إلَّا إذَا وُجِدَتْ الشُّرُوطُ وَانْتَفَتْ الْمَوَانِعُ لَا فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ

“Ini karena nas (teks) ancaman yang ada di dalam al-Kitab dan as-Sunnah serta ucapan para imam tentang ‘Takfir’, ‘Tafsiq’ dan sebagainya tidak memberikan konsekuensi munculnya hal tersebut (yakni takfir dan tafsiq, pen) pada individu tertentu, kecuali jika ditemukan syarat-syarat vonis dan hilangnya penghalang. Dan tidak ada bedanya antara perkara usul dan perkara furu’.” (Majmu’ al-Fatawa: 10/372).

Beliau juga berkata:

هَذَا مَعَ أَنِّي دَائِمًا وَمَنْ جَالَسَنِي يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنِّي : أَنِّي مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ نَهْيًا عَنْ أَنْ يُنْسَبَ مُعَيَّنٌ إلَى تَكْفِيرٍ وَتَفْسِيقٍ وَمَعْصِيَةٍ ، إلَّا إذَا عُلِمَ أَنَّهُ قَدْ قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ الرسالية الَّتِي مَنْ خَالَفَهَا كَانَ كَافِرًا تَارَةً وَفَاسِقًا أُخْرَى وَعَاصِيًا أُخْرَى وَإِنِّي أُقَرِّرُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ خَطَأَهَا : وَذَلِكَ يَعُمُّ الْخَطَأَ فِي الْمَسَائِلِ الْخَبَرِيَّةِ الْقَوْلِيَّةِ وَالْمَسَائِلِ الْعَمَلِيَّةِ .

“Ini padahal aku selama-lamanya dan orang-orang yang bermajelis denganku mengetahuinya dariku bahwa aku termasuk orang yang sangat melarang untuk menisbatkan individu tertentu kepada vonis kafir, fasiq atau ahli maksiat, kecuali jika diketahui bahwa hujjah risalah telah tegak atasnya bahwa orang yang menyelisihinya bisa menjadi kafir, bisa pula menjadi fasiq atau menjadi ahlul maksiat. Dan aku mengakui bahwa Allah telah mengampuni dari umat ini kesalahan-kesalahan mereka (seperti di akhir surat al-Baqarah, pen). Dan ini meliputi kesalahan dalam masalah keilmuan dan masalah amalan.” (Majmu’ al-Fatawa: 3/229).

Dan terkadang seseorang dinilai dari kacamata ‘al-Jarh wat Ta’dil’ dengan penilaian yang berbeda dengan kacamata masalah ‘al-Asma’ wal Ahkam’. Sebagai contohnya adalah al-Imam Ibnu Baththah al-Ukbari al-Hanbali (wafat tahun 387 H) rahimahullah penulis kitab ‘al-Ibanah’. Di dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ beliau dilemahkan haditsnya, tetapi dalam masalah ‘al-Ahkam wal Asma’, beliau adalah seorang imam as-Sunnah. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

ومع قلة إتقان ابن بطة في الرواية – فكان إماما في السنة، إماما في الفقه، صاحب أحوال وإجابة دعوة رضي الله عنه

“Meskipun Ibnu Baththah itu sedikit sifat Dhabithnya dalam periwayatan, beliau adalah seorang imam dalam as-Sunnah, imam dalam fikih, mempunyai keadaan dan doa yang terkabul. Semoga Allah meridhai beliau.” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal: 3/15).

Sering Mencela Sehingga Dijauhi

Mereka yang menyibukkan diri dengan membicarakan dan men-Jarh para ulama –tanpa didasari sikap ‘Inshaf’ dan ‘Muwazanah’- akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Mereka akan dijauhi dan karya tulisnya akan banyak dilupakan oleh manusia.

Al-Imam Ibnu Muflih al-Hanbali (wafat tahun 803 H) rahimahullah berkata:

وَقَالَ أَبُو الْحَارِثِ : سَمِعْت أَبَا عَبْدِ اللَّهِ غَيْرَ مَرَّةٍ يَقُولُ : مَا تَكَلَّمَ أَحَدٌ فِي النَّاسِ إلَّا سَقَطَ وَذَهَبَ حَدِيثُهُ قَدْ كَانَ بِالْبَصْرَةِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْأَفْطَسُ كَانَ يَرْوِي عَنْ الْأَعْمَشِ وَالنَّاسِ ، وَكَانَتْ لَهُ مَجَالِسُ وَكَانَ صَحِيحَ الْحَدِيثِ ، إلَّا أَنَّهُ كَانَ لَا يَسْلَمُ عَلَى لِسَانِهِ أَحَدٌ فَذَهَبَ حَدِيثُهُ وَذِكْرُهُ . وَقَالَ فِي رِوَايَةِ الْأَثْرَمِ وَذَكَرَ الْأَفْطَسَ وَاسْمُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ : إنَّمَا سَقَطَ بِلِسَانِهِ فَلَيْسَ نَسْمَعُ أَحَدًا يَذْكُرُهُ .

“Abul Harits berkata: “Aku mendengar Abu Abdillah (yakni: al-Imam Ahmad, pen) berkata lebih dari satu kali: “Tidaklah seseorang membicarakan aib manusia kecuali gugur dan hilanglah haditsnya. Dahulu pernah ada di Basrah seseorang bernama al-Afthas. Ia banyak meriwayatkan hadits dari al-A’masy dan manusia. Ia juga mempunyai banyak majelis hadits dan ia sendiri adalah shahih haditsnya. Hanya saja tidak ada seorang pun yang selamat dari lisannya, maka hilanglah hadits dan ceritanya.” Al-Imam Ahmad –dalam riwayat al-Atsram- menyatakan bahwa nama al-Afthas adalah Abdullah bin Salamah. Ahmad berkata: “Afthas jatuh kehormatannya karena sebab lisannya, maka kami tidak pernah mendengar seorang pun yang menyebutkannya.” (Al-Adabusy Syar’iyah li Ibni Muflih: 2/230).

Demikian pula kisah yang menimpa al-Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm azh-Zhahiri al-Andalusi (wafat 456 H) rahimahullah. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

وصنَّف في ذلك كتبًا كثيرة، وناظر عليه، وبسط لسانه وقلمه، ولم يتأدب مع الأئمة في الخطاب، بل فجَّج العبارة، وسبَّ وجدعَّ، فكان جزاؤه من جنس فعله، بحيث إنه أعرض عن تصانيفه جماعة من الأئمة، وهجروها، ونفَّروا منها، وأحرقت في وقت..الخ

“Beliau (Ibnu Hazm, pen) banyak menulis kitab yang membela madzhab Zhahiriyah dan sangat kuat membelanya. Beliau juga memperpanjang lisan dan penanya (untuk mencela ulama yang berseberangan, pen) dan juga tidak memiliki adab di dalam berbicara terhadap para ulama. Bahkan beliau sangat congkak dalam bahasanya, banyak mencela dan menelanjangi. Maka balasan yang diterima oleh Ibnu Hazm adalah sesuai dengan perbuatannya, yaitu tulisan-tulisannya dijauhi oleh para ulama. Para ulama memboikot dan mentahdzir dari tulisan-tulisannya. Dan kitab-kitabnya dibakar di dalam suatu waktu..dst.” (Siyar A’lamin Nubala’: 18/186-7).

Demikian pula kisah yang dialami oleh al-Imam al-Hafizh Abul Khaththab Ibnu Dihyah al-Kalbi al-Andalusi (wafat tahun 633 H) rahimahullah. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

قال الحافظ الضياء: لم يعجبنى حاله، كان كثير الوقيعة في الائمة، ثم قال: أخبرني إبراهيم السنهوري أن مشايخ المغرب  كتبوا له جرحه وتضعيفه..الخ

“Al-Hafizh Dhiya’uddin al-Maqdisi berkata: “Aku tidak kagum dengan keadaannya (yakni: Ibnu Dihyah, pen). Ia banyak mencela para ulama. Aku diberitahu oleh Ibrahim as-Sanhuri bahwa para ulama di negeri Maghrib menetapkan al-Jarh (celaan, pen) untuknya dan men-dhaif-kannya..dst.” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal: 3/186).

Demikian pula kisah yang dialami oleh al-Allamah Muhammad bin Ahmad al-Wanughi at-Tunisi al-Maliki (wafat tahun 819 H) rahimahullah. Beliau sangat cerdas dan menguasai berbagai cabang ilmu. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وكان كثير الوقيعة في أعيان المتقدمين وعلماء العصر وشيوخهم شديد الإعجاب بنفسه والازدراء بمعاصريه، فلهجوا بذمه وتتبعوا أغلاطه في فتاويه..الخ

“Ia (Al-Wanughi, pen) banyak mencela ulama mutaqaddimin, juga para ulama yang semasa dengannya, sangat mengagumi dirinya dan melecehkan ulama yang semasa dengannya. Maka para ulama menetapkan celaan (al-Jarh) kepadanya dan mereka akhirnya mencari-cari kesalahannya dalam berfatwa…dst” (Inba’ul Ghumar fi Abna’il Umur: 1/443).

Oleh karena itu, ketika seseorang berbicara dalam masalah ‘al-Jarh wat Ta’dil’, maka hendaknya memiliki sifat takwa, wara’ dan bersikap ‘inshaf’, yaitu menimbang antara kebaikan dan keburukan perawi. Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata:

فَمَنْ هَذِهِ حَالُهُ لَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ لَا سِيَّمَا بِغَيْرِ إنْصَافٍ فِيمَنْ عَظَّمَهُ الْأَئِمَّةُ وَأَثْنَوْا عَلَيْهِ وَاتَّفَقُوا عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang seperti ini keadaannya (yakni seperti al-Afthas, pen), maka tidak halal baginya untuk berbicara dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’, apalagi tidak mempunyai sifat ‘Inshaf’ (yakni: muwazanah, pen) terhadap orang-orang yang diagungkan oleh para ulama dan yang telah disepakati keutamaannya oleh mereka..dst.” (Al-Adabusy Syar’iyah li Ibni Muflih: 2/231).

Sehingga mereka –baik ulama ataupun penuntut ilmu- jika menolak ‘Manhaj Muwazanah’ dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’, maka diharamkan berbicara dalam al-Jarh wat Ta’dil.

Penutup

Penulis berkesimpulan bahwa ‘al-Jarh wat Ta’dil’ tidak diberlakukan di jaman ini. Yang masih berlaku adalah ‘Radd’ (Bantahan) kepada orang yang menyimpang’. Melakukan bantahan pun tidak boleh melampaui batas. Inilah yang disebut dengan sikap al-Inshaf dan sikap Adil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

الْعَدْلُ وَاجِبٌ لِكُلِّ أَحَدٍ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ وَالظُّلْمُ لَا يُبَاحُ شَيْءٌ مِنْهُ بِحَالِ حَتَّى إنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ أَوْجَبَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَعْدِلُوا عَلَى الْكُفَّارِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى}

“Sikap ‘adil’ itu wajib bagi setiap orang, terhadap setiap orang, di dalam segala keadaan. Perbuatan zalim juga tidak diperbolehkan sedikit pun, dalam keadaan apapun, sampai Allah ta’ala mewajibkan kepada kaum mukminin untuk berbuat ‘adil’ kepada orang-orang kafir dalam firman-Nya: “Jadilah kalian orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8)…dst.” (Majmu’ al-Fatawa: 30/339).

Janganlah kita menjatuhkan kehormatan saudara kita hanya karena ia telah melakukan satu atau dua kesalahan. Janganlah kita menghukumi sesatnya suatu kelompok atau kaum hanya kesalahan segelintir orang dari anggotanya, karena ini menyalahi prinsip keadilan dan sikap ‘al-Inshaf’.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

نَزَلَ نَبِيٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ تَحْتَ شَجَرَةٍ، فَلَدَغَتْهُ نَمْلَةٌ، فَأَمَرَ بِجَهَازِهِ فَأُخْرِجَ مِنْ تَحْتِهَا، ثُمَّ أَمَرَ بِبَيْتِهَا فَأُحْرِقَ بِالنَّارِ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: فَهَلَّا نَمْلَةً وَاحِدَةً

“Salah seorang nabi singgah di bawah sebuah pohon. Kemudian beliau disengat oleh seekor semut. Maka beliau memerintahkan agar barang bawaannya dijauhkan dari pohon tersebut, serta memerintahkan untuk membakar rumah semut tersebut. Maka Allah memberikan wahyu kepada beliau: “Mangapa kamu tidak membunuh seekor semut saja!” (HR. Al-Bukhari: 3319, Muslim: 5987 dan an-Nasai: 5265 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu).

Mereka yang melakukan penyalahgunaan ‘al-Jarh wat Ta’dil’, apalagi tanpa disertai sikap ‘Muwazanah’ dan ‘al-Inshaf’, pada hakekatnya telah membuat kaum muslimin semakin terpecah belah. Banyak ulama as-Sunnah yang seharusnya diambil ilmunya, di-Jarh oleh kelompok ini hanya karena beberapa kesalahan saja.

Seorang penyair berkata:

وَلمْ تَزَلْ قِلّةُ الإنصَافِ قاطِعَةً ☼ بَين الرّجالِ وَلَوْ كانوا ذوي رَحِمِ

“Sedikitnya sifat ‘inshaf’ selalu memecah belah…. Di antara para tokoh, walaupun mereka masih mempunyai hubungan kerabat.” (Syarh Diwanil Mutanabbi: 357).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

 

Iklan

Ditandai:, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: