Penjelasan Hadits Perpecahan Umat

[ Kajian Manhaj]
Penjelasan Hadits Perpecahan Umat
(Membantah Ust Afifuddin as-Sidawi yang ‘Gagal Faham’)
Oleh dr.  M Faiq Sulaifi
[]

 

 

 


 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

Pendahuluan. 2

Takhrij Hadits Iftiraqil Ummah. 4

Ibnu Taimiyah Menganggap Global 6

Ibnu Utsaimin Menganggap Global 7

Hadits-Hadits Global 9

Penentuan Kelompok Sempalan. 11

Kelompok Jamaah Kontemporer. 13

Masalah Lazimul Madzhab. 19

Melakukan Ta’yin terhadap Ahlul Kiblat. 22

Adakah Firqah Salafiyah?. 26

Al-Firqatun Najiyah. 31

Kata Ba’abduh, Muwazanah itu Sururi 33

Antara ar-Ruhaili dan as-Suyuthi 40

Penutup. 43

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

الحمد لله حمد الشاكرين والصلاه والسلام على خير خلق رب العالمين محمد صلى الله عليه وسلم وعلى اصحابه وال بيته ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين

‘Amma ba’du’

Beberapa minggu yang lalu Penulis mendapatkan kiriman rekaman tentang sebuah dauroh yang diadakan oleh Ma’had al-Faruq di Banyumas pada tanggal 1 Maret 2015 dengan tema ‘Mewaspadai Amalan Penghuni Neraka’. Di dalam rekaman tersebut seorang ustadz yang bernama Afifuddin as-Sidawi menerangkan hadits ‘Perpecahan Umat’ sesuai dangan selera dan hawa nafsunya. Dalam rekaman kajian itu ia menyatakan: “DALAM HADITS YANG MASYHUR YANG MA’RUF, HADITS ‘IFTIRAQIL UMMAH’, RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM BERSABDA:

وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ

“UMAT INI AKAN TERPECAH MENJADI 73 MILLAH; 73 AJARAN, SEKTE ATAU PEMAHAMAN. 72 DALAM NERAKA DAN  SATU YANG DIKECUALIKAN DI SURGA.”

“YANG SATU ITU ADALAH YANG SESUAI DENGAN SUNNAH AR-RASUL SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM DAN SESUAI DENGAN PEMAHAMAN ASH-SHAHABATUL KIRAM RADLIYALLAHU TA’ALA ANHUM AJMA’IN. BERARTI SEMUA BENTUK KESESATAN, SEMUA BENTUK PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN, SEMUA ORANG-ORANG YANG SESAT YANG MENYIMPANG, SEMUA PERGERAKAN-PERGERAKAN YANG MENYIMPANG, SEMUA JAMA’AH-JAMA’AH YANG MENYIMPANG, SEKTE-SEKTE YANG MENYIMPANG; NERAKA TEMPATNYA. ‘FINNAAR’ DIANCAM DENGAN NERAKA. BARAKALLAH FIIKUM. ANTUM BISA MENGHUKUMI SECARA UMUM DENGAN MENYEBUTKAN LANGSUNG SEKTE-SEKTENYA. ANTUM MENGATAKAN KHAWARIJ FINNAAR (DI NERAKA, PEN), RAFIDHAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), MU’TAZILAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAHMIYAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), ASY’ARIYAH FINNAAR (DI NERAKA, PEN). BISA, ITU SECARA UMUM, DIKATAKAN MEREKA TERMASUK FIRQAH-FIRQAH YANG SESAT. ANTUM BISA MENGATAKAN IKHWANUL MUSLIMIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HIZBUT TAHRIR FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAMAAH TABLIGH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), SURURIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HADDADIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HALABIYUN, RUHAILIYUN FINNAAR (DI NERAKA, PEN). BISA, SECARA UMUM, DIKARENAKAN MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SESAT, TERMASUK DI DALAM FIRQAH-FIRQAH, SEKTE-SEKTE YANG SESAT. MAKA WASPADAI MEREKA SEMUA. BARAKALLAH FIIKUM. WASPADAI MEREKA SEMUA, BARAKALLAH FIIKUM. BAHKAN DI ANTARA SEKTE-SEKTE TADI, BARAKALLAH FIIKUM. SEKTE YANG DINYATAKAN KAFIR OLEH PARA ULAMA, SEHINGGA BUKAN TERMASUK SEKTE ISLAM YANG DIANCAM NERAKA. TAPI SUDAH MASUK DALAM KATEGORI KAFIR. DIHUKUMI SAMA DENGAN ORANG-ORANG KAFIR, SEMACAM RAFIDHAH ISMAILIYAH, QARAMITHAH, RAFIDHAH NUSHAIRIYAH, DAN SEMISAL MEREKA, YANG DINYATAKAN KAFIR OLEH PARA ULAMA, ITU KUFFAR, TERMASUK ORANG-ORANG KAFIR. JELAS ANCAMANNYA. YANG DIMAUKAN DALAM RIWAYAT NABI ADALAH ORANG-ORANG YANG MASIH BERBAJU ISLAM, MENGAKU SEBAGAI MUSLIM, BAHKAN MENGAKU SEBAGAI SUNNI, BAHKAN MENGAKU SEBAGAI SALAFI, TERNYATA DIA TERMASUK AL-FIRAQUDH DHALLAH, FIRQAH YANG SESAT. MAKA SEMUA DIKATAKAN FINNAAR, TERMASUK PENGHUNI NERAKA. MAKA KITA HARUS MEWASPADAI SEMUA DAN SEGALA BENTUK ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG, SEGALA BENTUK PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN, SEGALA MACAM BENTUK PEMAHAMAN-PEMAHAMAN YANG SESAT. KALAU TIDAK, DIANCAM DENGAN ANCAMAN YANG SAMA, ANCAMAN NERAKA, BARAKALLAH FIIKUM. SEHINGGA AHLUNNAAR LEBIH BANYAK DARIPADA AHLUL… AHLUL JANNAH, DIKATAKAN FIRQAH-FIRQAH YANG SESAT LEBIH BANYAK DARIPADA..DST.” (Demikian kurang lebih isi sebagian ceramahnya)

Penulis berkata:

Lihatlah betapa ngerinya penjelasan ustadz ini!! Langsung melakukan ta’yin (vonis) terhadap jamaah atau orang-orang jaman sekarang sebagai penghuni neraka.. ngeri sekali dan membikin bulu kuduk berdiri.

Padahal tidak dijumpai ulama pendahulu kita yang melakukan ta’yin ketika menjelaskan hadits ‘Iftiraqul Ummah’. Tidak ada seorang pun sebelum kita ulama yang menyatakan kelompok Fulan di neraka, jamaah Allan di neraka dan seterusnya.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengingatkan kita agar tidak lancang membahas sesuatu. Beliau menyatakan:

إِيَّاكَ أَنْ تَتَكلّمَ فِي مَسْأَلَةٍ لَيْسَ لَكَ فِيْهَا إِمَامٌ

“Berhati-hatilah dari berbicara dalam suatu masalah yang mana tidak ada seorang imam pun yang mendahuluimu dalam masalah tersebut!” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/296 dan Manaqib al-Imam Ahmad: 245).

Dan tidak takutkah dia akan ancaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat, yang mana dengannya ia turun ke neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Muslim: 7672 dan al-Bukhari: 6477 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu).

Pada tulisan ini akan dijelaskan beberapa kaedah tentang pembid’ahan yang dianut oleh Ust Afifuddin dan kelompoknya yang merupakan hasil dari ‘gagal faham’ terhadap Manhaj Salaf. Semoga tulisan ini bisa memberikan tambahan ilmu dan pencerahan bagi Pembaca. Amien.

اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِي رُشْدِي وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي

Babat, 13 Rabi’ul Akhar 1438 H

Dr. M Faiq Sulaifi

Takhrij Hadits Iftiraqil Ummah

Terdapat beberapa ulama yang membuat risalah khusus tentang hadits ‘Perpecahan Umat’. Di antara mereka adalah al-Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani (penulis Subulus Salam, wafat tahun 1182 H) rahimahullah. Beliau berkata:

حَدِيث افْتِرَاق الْأمة  ورد من طرق عديدة سَاقهَا ابْن الْأَثِير  يرحمه الله فِي جَامع الْأُصُول  فَقَالَ

أخرج أَبُو دَاوُد عَن مُعَاوِيَة قَالَ قَامَ فِينَا رَسُول الله صلى اللله عَلَيْهِ وَسلم فَقَالَ أَلا إِن من قبلكُمْ من أهل الْكتاب افْتَرَقُوا على ثِنْتَيْنِ وَسبعين مِلَّة وَإِن هَذِه الْأمة سَتَفْتَرِقُ على ثَلَاث وَسبعين ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّار وَوَاحِدَة فِي الْجنَّة وَهِي الْجَمَاعَة

 وَأخرج أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيّ عَن أبي هُرَيْرَة أَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ تَفَرَّقت الْيَهُود على إِحْدَى وَسبعين فرقة أَو اثْنَتَيْنِ وَسبعين وَالنَّصَارَى مثل ذَلِك وَسَتَفْتَرِقُ أمتِي على ثَلَاث وَسبعين فرقة وَفِي رِوَايَة أبي دَاوُد وَتَفَرَّقَتْ النَّصَارَى على إِحْدَى وَسبعين أواثنين وَسبعين فرقة وَذكر الحَدِيث وَقَالَ حسن صَحِيح

 وَأخرج التِّرْمِذِيّ عَن ابْن عَمْرو بن الْعَاصِ قَالَ قَالَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم ليَأْتِيَن على أمتِي مَا أَتَى على بني إِسْرَائِيل حذوا النَّعْل بالنعل حَتَّى إِن كَانَ مِنْهُم من أَتَى أمة عَلَانيَة ليَكُون فِي أمتِي من يصنع ذَلِك وَإِن بني إِسْرَائِيل تَفَرَّقت على ثِنْتَيْنِ وَسبعين مِلَّة وَسَتَفْتَرِقُ أمتِي على ثَلَاث وَسبعين مِلَّة كلهَا فِي النَّار إِلَّا وَاحِدَة قَالُوا من هِيَ يَا رَسُول الله قَالَ من كَانَ على مَا أَنا عَلَيْهِ وأصحابي أخرجه التِّرْمِذِيّ وَقَالَ غَرِيب

وَأخرج ابْن ماجة مثل ذَلِك عَن عَوْف بن مَالك وَأنس  انْتهى مَا سَاقه ابْن الْأَثِير فِي الْجُزْء الثَّالِث فِي حرف الْفَاء

“Hadits tentang ‘Perpecahan Umat’ datang dari banyak jalan. Al-Imam Ibnul Atsir membawakan jalan-jalan tersebut dalam ‘Jami’ul Ushul fi Ahaditsir Rasul’. Maka beliau berkata:

Abu Dawud meriwayatkan dari Mu’awiyah radliyallahu anhu. Ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri di sisi kami dan bersabda: “Ingatlah, sesungguhnya Ahlul Kitab sebelum kalian telah terpecah menjadi 72 millah. Dan umatku kelak akan terpecah menjadi 73 millah. Yang 72 di neraka. Yang satu di surga, yaitu al-Jamaah.”

Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Yahudi telah terpecah menjadi 71 atau 72 firqah. Nasrani pun demikian. Umatku kelak akan terpecah menjadi 73 firqah…dst. (al-Hadits). At-Tirmidzi berkata hadits hasan shahih.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma, berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Umatku pasti akan melakukan perkara yang dilakukan oleh Bani Israil satu kaki demi satu kaki. Sampai jika ada di antara mereka yang men-zinahi ibunya secara terang-terangan, maka di antara umatku pun ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 millah. Dan umat kelak akan terpecah menjadi 73 millah. Semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya: “Siapa yang satu itu, wahai Rasulullash?” Beliau menjawab: “Orang berjalan di atas jalan yang aku tempuh dan juga ditempuh sahabatku.” At-Tirmidzi berkata hadits gharib.

Ibnu Majah meriwayatkan hadits seperti itu dari Auf bin Malik dan Anas radliyallahu anhuma. Selesai pemaparan Ibnul Atsir dalam kitabnya juz 3 bab ‘Huruf Fa’.” (Kitab Iftiraqul Ummah: 48-53).

Ibnu Taimiyah Menganggap Global

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H) rahimahullah tidak melakukan ta’yin terhadap kelompok atau sekte atau jamaah tertentu ketika menjelaskan hadits ‘perpecahan umat’. Beliau menyatakan:

وَأَمَّا تَعْيِينُ هَذِهِ الْفِرَقِ فَقَدْ صَنَّفَ النَّاسُ فِيهِمْ مُصَنَّفَاتٍ وَذَكَرُوهُمْ فِي كُتُبِ الْمَقَالَاتِ ؛ لَكِنَّ الْجَزْمَ بِأَنَّ هَذِهِ الْفِرْقَةَ الْمَوْصُوفَةَ هِيَ إحْدَى الثِّنْتَيْنِ وَالسَّبْعِينَ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ دَلِيلٍ فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ الْقَوْلَ بِلَا عِلْمٍ عُمُومًا ؛ وَحَرَّمَ الْقَوْلَ عَلَيْهِ بِلَا عِلْمٍ خُصُوصًا ؛ فَقَالَ تَعَالَى : { قُلْ إنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ } وَقَالَ تَعَالَى : { يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ } { إنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ } وَقَالَ تَعَالَى : { وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ } . وَأَيْضًا فَكَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ يُخْبِرُ عَنْ هَذِهِ الْفِرَقِ بِحُكْمِ الظَّنِّ وَالْهَوَى فَيَجْعَلُ طَائِفَتَهُ وَالْمُنْتَسِبَةَ إلَى مَتْبُوعِهِ الْمُوَالِيَةَ لَهُ هُمْ أَهْلَ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ؛ وَيَجْعَلُ مَنْ خَالَفَهَا أَهْلَ الْبِدَعِ وَهَذَا ضَلَالٌ مُبِينٌ .

“Adapun menentukan (baca: men-ta’yin, pen) sekte-sekte ini (yang termasuk 72 firqah, pen), maka sebagian orang menulis tentang sekte-sekte tersebut dan menyebutkan mereka dalam kitab-kitab ‘Maqalat’ (semisal al-Milal wan Nihal, al-Farqu bainal Firaq, dsb, pen).

Akan tetapi memastikan bahwa apakah firqah ini (seperti sekte yang dita’yin oleh Al-Akh Afifuddin semisal Halabiyun, Ruhailiyun ini, pen) termasuk ke dalam 72 firqah, maka diharuskan mempunyai dalil, karena Allah ta’ala mengharamkan berbicara tanpa ilmu secara umum, dan juga mengharamkan berbicara atas-Nya tanpa ilmu secara khusus. Allah berfirman: “Katakanlah, Rabbku hanyalah mengharamkan perbuatan keji yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan melampaui batas tanpa alasan yang benar, menyekutukan Allah dengan segala sesuatu tanpa ilmu dan (juga mengharamkan) berkata atas nama Allah tentang sesuatu yang mana kalian tidak mempunyai ilmunya.” (QS Al-A’raf: 33). Allah ta’ala berfirman: “Wahai manusia, makanlah kalian dari makanan yang halal lagi baik yang ada di bumi dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan karena setan adalah musuh yang nyata bagi kalian. Setan hanyalah memerintahkan kalian untuk berbuat jelek dan berbuat keji dan (memerintahkan kalian) untuk berkata atas nama Allah dengan sesuatu yang tiada ilmunya bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 168-169). Allah ta’ala juga berfirman: “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tiada ilmu atasnya bagimu.” (QS. Al-Isra’: 36). Dan lagi pula, banyak manusia menceritakan tentang sekte-sekte ini hanya berdasarkan persangkaan dan hawa nafsu belaka. Maka si penta’yin ini (semisal Saudara Afifuddin dan kelompoknya, pen) menjadikan kelompoknya dan orang-orang yang bernisbat kepada kelompoknya sebagai Ahlussunnah wal Jamaah dan orang-orang yang menyelisihinya sebagai ahlul Bid’ah. Maka ini (cara ta’yin seperti ini, pen) adalah kesesatan yang nyata.” (Majmu’ul Fatawa: 3/346).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Syaikhul Islam tidak menta’yin atau tidak menentukan kelompok atau sekte mana saja yang termasuk 72 firqah sesat, apalagi memberikan ta’yin (vonis) bahwa kelompok tersebut ‘finnaar’ (di neraka). Bandingkan dengan ucapan Al-Akh Afifuddin “ANTUM BISA MENGATAKAN IKHWANUL MUSLIMIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HIZBUT TAHRIR FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAMAAH TABLIGH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), SURURIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HADDADIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HALABIYUN, RUHAILIYUN FINNAAR (DI NERAKA, PEN).”

Ibnu Utsaimin Menganggap Global

Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah juga tidak melakukan penentuan dan tidak menganjurkan untuk penentuan terhadap 72 sekte yang sesat –sebagaimana ta’yin yang dilakukan oleh Al-Akh Afifuddin dan Luqmaniyun-. Beliau menyatakan:

أخبر النبي عليه الصلاة والسلام أن اليهود افترقوا على إحدى وسبعين فرقة، والنصارى افترقوا على اثنتين وسبعين فرقة، وأن هذه الأمة ستفترق على ثلاثة وسبعين فرقة، كلها في النار إلا واحدة، وعلى الرغم من محاولة العلماء تعداد هذه الفرق فإنهم لم يصلوا إلى النتيجة إلا بتكلف، والأولى أن نبهم ما أبهمه الرسول عليه الصلاة والسلام نقول: ثلاثة وسبعين فرقة، وأما كيفية هذا الافتراق؛ فإن ضبطه صعبٌ جداً جداً، وقوله: كلها في النار إلا واحدة يشمل ما إذا كانت الفرقة التي حصلت مخرجةً من الملة أم غير مخرجة؛ لأن من الأعمال من توعد إلى فاعله بالنار مع أنه لا يخرج من الإسلام، مثل قوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: «ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذابٌ أليم؛ المسرف، والمنان، والمنفق سلعته بالحلف الكاذب»…الخ

“Nabi shallallahu alaihi wasallam menceritakan bahwa Yahudi terpecah menjadi 71 sekte, Nasrani terpecah menjadi 72 sekte, dan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 sekte, semuanya di neraka kecuali satu. Yang patut disayangkan adalah upaya sebagian ulama untuk menghitung (membuat daftar sekte, pen) dan menentukan siapa saja yang termasuk sekte tersebut. Mereka tidak akan mencapai tujuan tersebut kecuali dengan memaksa dan memberat-beratkan. Maka yang lebih utama adalah menyamarkan terhadap perkara yang disamarkan oleh ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam. Maka kita berkata: “(Umat akan terpecah) menjadi 73 sekte (tidak usah menyebutkan satu per satu sekte yang sesat, pen). Titik selesai.” Adapun tatacara perpecahan ini, maka batasannya sangatlah sulit sekali. Sabda beliau “Semuanya di neraka kecuali satu” meliputi keadaan sekte yang kesesatannya menyebabkan keluar dari al-Islam atau yang belum keluar darinya. Ini karena terdapat sebagian perbuatan yang mana pelakunya mendapat ancaman neraka, padahal ia masih belum keluar dari al-Islam, seperti sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Ada 3 orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak dilihat oleh-Nya, tidak disucikan oleh-Nya dan ia akan mendapatkan siksa yang pedih: (pertama) orang yang israf (melampaui batas), (kedua) orang yang mengungkit-ungkit pemberian, dan (ketiga) orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.”…dst.” (Fatawa Nur alad Darb: 111/113).

Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan dalam kesempatan lain:

فالأولى أن نجمل ما أجمله النبي صلى الله عليه وسلم ونقول : إن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، ثم نقول : كل من خالف ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه فهو داخل في هذه الفرق، وقد يكون الرسول صلى الله عليه وسلم أشار إلى أصول لم نعلم منها الآن إلا ما يبلغ العشرة وقد يكون أشار إلى أصول تتضمن فروعاً كما ذهب إليه بعض الناس فالعلم عند الله عزَّ وجلّ .

“Maka yang lebih utama adalah menjadikan global terhadap perkara yang dijadikan global oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam (tentang siapa saja yang termasuk sekte sesat, pen). Kita berkata: “Sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 sekte, semuanya di neraka kecuali satu.” Kemudian kita berkata: “Setiap orang yang menyelisihi manhaj (jalan) Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau adalah termasuk dalam sekte-sekte ini. Kadang-kadang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan isyarat tentang pokok-pokok sekte sesat yang mana kita tidak mengetahuinya sampai sekarang kecuali hanya puluhan saja. Dan kadang-kadang beliau memberikan isyarat tentang pokok-pokok yang mengandung beberapa cabang, sebagaimana pendapat sebagian manusia. Maka ilmunya adalah di sisi Allah azza wajalla.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin: 1/16).

Maka bandingkan ucapan al-Faqih Ibnu Utsaimin “Maka yang lebih utama adalah menjadikan global terhadap perkara yang dijadikan global oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam (tentang siapa saja yang termasuk sekte sesat, pen)” dengan ucapan Al-Akh Afifuddin dan kelompoknya ANTUM BISA MENGATAKAN IKHWANUL MUSLIMIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HIZBUT TAHRIR FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAMAAH TABLIGH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), SURURIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HADDADIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HALABIYUN, RUHAILIYUN FINNAAR (DI NERAKA, PEN). BISA, SECARA UMUM, DIKARENAKAN MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SESAT, TERMASUK DI DALAM FIRQAH-FIRQAH, SEKTE-SEKTE YANG SESAT.”!!!  Wallahu a’lam.

Hadits-Hadits Global

Hadits tentang terpecahnya umat menjadi 73 sekte ini mirip dengan hadits tentang penentuan 99 Asmaul Husna, hadits tentang penentuan kapan Lailatul Qadar dan sebagainya.

Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

ولم يرد تبيينها عن النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث صحيح وقد حاول بعض الناس أن يصحح حديث سرد الأسماء التسعة و التسعين، ولم يصب، بل نقل شيخ الإسلام اتفاق أهل المعرفة في الحديث على أن عدها و سردها لا يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم ، وصدق رحمه الله بدليل الاختلاف الكبير فيها…الخ

“Dan belum ada penjelasan tentang perincian 99 nama dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits shahih. Sebagian manusia berusaha untuk men-shahih-kan hadits tentang perincian Asma’ul Husna yang berjumlah 99 itu. Dan mereka tidaklah tepat, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukilkan kesepakatan ahlul hadits bahwa hadits tentang perincian Asma’ul Husna tidaklah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan beliau (Ibnu Taimiyah) telah benar, dengan dalil adanya perselisihan yang besar tentang perincian 99 nama tersebut..dst.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin: 9/404).

Kemudian beliau melanjutkan perkataan beliau:

 كما ولم يبين النبي صلى الله عليه وسلم ساعة الإجابة يوم الجمعة، و العلماء اختلفوا في حديث أبي موسى الذي في مسلم؛ حيث قال فيه : ( إنها ما بين أن يخرج الإمام إلى أن تقضى الصلاة ) ؛ فإن بعضهم صححه وبعضهم ضعفه، لكن هو عندي صحيح؛ لأن علة التضعيف فيه واهية، والحال تؤيد صحته؛ لأن الناس مجتمعون أكبر اجتماع في البلد على صلاة مفروضة؛ فيكون هذا الوقت في هذه الحال حريا بإجابة الدعاء ، وكذلك ليلة القدر لم يبينها النبي صلى الله عليه وسلم مع أنها من أهم ما يكون.

“Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam juga tidak menjelaskan kapan waktu dikabulkannya doa pada hari Jumat. Para ulama berselisih tentang hadits Abu Musa yang berada dalam Shahih Muslim, yaitu ketika beliau bersabda: “(Waktu mustajabah di hari Jumat) adalah waktu antara keluarnya imam menuju masjid sampai selesainya shalat Jumat.” Ini karena sebagian ulama men-shahih-kannya dan sebagian lain men-dhaif-kannya. Akan tetapi hadits ini menurutku shahih karena alasan pen-dhaifannya lemah dan keadaan pun menguatkan keshahihannya. Ini karena manusia berkumpul dengan perkumpulan yang besar di negeri untuk menunaikan shalat fardhu. Maka waktu dalam keadaan ini sangat pantas untuk menjadi waktu dikabulkannya doa. Demikian pula Lailatul Qadar, Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menjelaskan di malam berapa turunnya, padahal ini termasuk perkara yang paling penting.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin: 9/405).

Sehingga penentuan tentang siapa saja yang termasuk 72 sekte, kapan waktu mustajabah di hari Jumat, penentuan 99 nama Asma’ul Husna dan penentuan kapan Lailatul Qadar termasuk perkara ijtihadiyah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan batasan perkara ijtihadiyah. Beliau menyatakan:

وَالصَّوَابُ الَّذِي عَلَيْهِ الْأَئِمَّةُ أَنَّ مَسَائِلَ الِاجْتِهَادِ لَمْ يَكُنْ فِيهَا دَلِيلٌ يَجِبُ الْعَمَلُ بِهِ وُجُوبًا ظَاهِرًا، مِثْلُ حَدِيثٍ صَحِيحٍ لَا مُعَارِضَ مِنْ جِنْسِهِ فَيَسُوغُ لَهُ – إذَا عَدِمَ ذَلِكَ فِيهَا – الِاجْتِهَادُ لِتَعَارُضِ الْأَدِلَّةِ الْمُتَقَارِبَةِ. أَوْ لِخَفَاءِ الْأَدِلَّةِ فِيهَا وَلَيْسَ فِي ذِكْرِ كَوْنِ الْمَسْأَلَةِ قَطْعِيَّةً طَعْنٌ عَلَى مَنْ خَالَفَهَا مِنْ الْمُجْتَهِدِينَ كَسَائِرِ الْمَسَائِلِ الَّتِي اخْتَلَفَ فِيهَا السَّلَفُ.

“Pendapat yang tepat yang dipegangi oleh para imam adalah bahwa Perkara Ijtihadiyah itu tidak mempunyai dalil yang wajib diamalkan dengan kewajiban yang nyata, seperti hadits shahih yang tidak mempunyai dalil sejenis yang menentangnya, sehingga diperbolehkan ber-ijtihad –ketika tidak ada dalil atasnya- karena pertentangan dalil yang berdekatan, atau karena samarnya dalil-dalil dalam perkara tersebut, dan tidak ada celaan -di dalam penyebutan masalah itu sebagai kepastian- terhadap ulama mujtahidin yang menyelisihinya, seperti beberapa perkara yang diperselisihkan oleh as-Salaf.” (Al-Fatawa al-Kubra: 6/96).

Dan kita tidak diperkenankan memaksa dan meng-ilzam orang lain agar mengikuti ijtihad kita. Sebagai contohnya adalah sikap terhadap asy-Syaikh Muhammad al-Imam. Apakah beliau itu tokoh yang sesat ataukah seorang ulama yang tergelincir. Rupanya Al-Akh Afifuddin dan kelompoknya memaksa dan meng-ilzam kaum muslimin agar mengikuti pendapat mereka untuk memvonis asy-Syaikh al-Imam termasuk 72 sekte sesat. Wallahul musta’an.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَلِهَذَا قَالَ الْعُلَمَاءُ الْمُصَنِّفُونَ فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَرِ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَغَيْرِهِ : إنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْمَسَائِلِ الِاجْتِهَادِيَّةِ لَا تُنْكَرُ بِالْيَدِ وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُلْزِمَ النَّاسَ بِاتِّبَاعِهِ فِيهَا ؛ وَلَكِنْ يَتَكَلَّمُ فِيهَا بِالْحُجَجِ الْعِلْمِيَّةِ فَمَنْ تَبَيَّنَ لَهُ صِحَّةُ أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ تَبِعَهُ وَمَنْ قَلَّدَ أَهْلَ الْقَوْلِ الْآخَرِ فَلَا إنْكَارَ عَلَيْهِ

“Oleh karena itu, para ulama yang menulis dalam masalah amar ma’ruf dan nahi munkar dari kalangan Syafi’iyah dan lainnya berkata: “Sesungguhnya permasalahan ijtihadiyah seperti ini tidak boleh diingkari dengan tangan (tetapi boleh dengan lesan melalui bantahan, pen). Dan tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk meng-ilzam (memaksa) manusia mengikutinya dalam masalah ijtihadiyah (seperti ta’yin terhadap ahlul bid’ah, ta’yin terhadap Asma’ul Husna, pen). Akan tetapi ia membahas masalah tersebut dengan argumentasi ilmiyah. Barangsiapa telah jelas baginya kebenaran salah satu dari kedua pendapat, maka ia mengikutinya. Dan barangsiapa ber-taklid pada pendapat selain itu, maka tidak boleh diingkari.” (Majmu’ al-Fatawa: 30/80).

Penentuan Kelompok Sempalan

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak memberikan perincian tentang siapa saja yang termasuk ke dalam 72 firqah sesat. Dari situlah kemudian para as-Salaf melakukan ijtihad. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah hanya menjelaskan tentang pokok-pokok kebid’ahan di dalam dasar munculnya 72 sekte sesat. Beliau berkata:

وَأَمَّا تَعْيِينُ الْفِرَقِ الْهَالِكَةِ فَأَقْدَمُ مَنْ بَلَغَنَا أَنَّهُ تَكَلَّمَ فِي تَضْلِيلِهِمْ يُوسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ ثُمَّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ وَهُمَا – إمَامَانِ جَلِيلَانِ مِنْ أَجِلَّاءِ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ قَالَا : أُصُولُ الْبِدَعِ أَرْبَعَةٌ : الرَّوَافِضُ وَالْخَوَارِجُ وَالْقَدَرِيَّةُ وَالْمُرْجِئَةُ . فَقِيلَ لِابْنِ الْمُبَارَكِ : وَالْجَهْمِيَّة ؟ فَأَجَابَ : بِأَنَّ أُولَئِكَ لَيْسُوا مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ . وَكَانَ يَقُولُ : إنَّا لَنَحْكِي كَلَامَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى وَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَحْكِيَ كَلَامَ الْجَهْمِيَّة . وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ اتَّبَعَهُ عَلَيْهِ طَائِفَةٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَصْحَابِ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا : إنَّ الْجَهْمِيَّة كُفَّارٌ فَلَا يَدْخُلُونَ فِي الِاثْنَتَيْنِ وَالسَّبْعِينَ فِرْقَةً كَمَا لَا يَدْخُلُ فِيهِمْ – الْمُنَافِقُونَ الَّذِينَ يُبْطِنُونَ الْكُفْرَ وَيُظْهِرُونَ الْإِسْلَامَ وَهُمْ الزَّنَادِقَةُ وَقَالَ آخَرُونَ مِنْ أَصْحَابِ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِمْ : بَلْ الْجَهْمِيَّة دَاخِلُونَ فِي الِاثْنَتَيْنِ وَالسَّبْعِينَ فِرْقَةً وَجَعَلُوا أُصُولَ الْبِدَعِ خَمْسَةً فَعَلَى قَوْلِ هَؤُلَاءِ : يَكُونُ كُلُّ طَائِفَةٍ مِنْ ” الْمُبْتَدِعَةِ الْخَمْسَةِ ” اثْنَا عَشَرَ فِرْقَةً وَعَلَى قَوْلِ الْأَوَّلِينَ : يَكُونُ كُلُّ طَائِفَةٍ مِنْ ” الْمُبْتَدِعَةِ الْأَرْبَعَةِ ” ثَمَانِيَةَ عَشَرَ فِرْقَةً

“Adapun penentuan firqah-firqah sesat, maka orang yang pertama kali –menurut ilmu yang sampai kepada kami- berbicara untuk menganggap sesat firqah tersebut adalah Yusuf bin Asbath dan Abdullah bin al-Mubarak. Keduanya merupakan imam besar dari imam kaum muslimin. Beliau berdua berkata: “Pokok-pokok kebid’ahan ada 4 (empat); Rafidhah, Khawarij, Qadariyah dan Murji’ah.” Ibnul Mubarak ditanya: “Bagaimana dengan Jahmiyah?” Beliau menjawab: “Mereka bukan umat Muhammad (yakni: keluar dari Islam, pen).” Beliau berkata: “Kami masih mampu menceritakan pendapat Yahudi dan Nashara, dan kami tidak mampu menceritakan pendapat Jahmiyah.” Pendapat beliau ini diikuti oleh sebagian ulama dari kalangan sahabat al-Imam Ahmad dan lainnya. Mereka menyatakan: “Sesungguhnya Jahmiyah itu orang-orang kafir, sehingga tidak termasuk 72 firqah dalam hadits, sebagaimana tidak masuknya kaum munafikin yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman. Mereka itu orang-orang zindiq.” Sedangkan yang lainnya berpendapat: “Justru Jahmiyah itu termasuk 72 firqah sesat.” Kemudian mereka menjadikan pokok kebid’ahan menjadi 5 (lima) (karena ditambah dengan Jahmiyah, pen). Maka menurut pendapat yang kedua, kelima sekte bid’ah ini masing-masingnya berkembang menjadi 12 firqah. Sedangkan menurut pendapat pertama, keempat sekte tersebut masing-masingnya berkembang menjadi 18 firqah.” (Majmu’ al-Fatawa: 3/350-1).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga tidak menentukan dan membuat perincian siapa saja yang termasuk sekte sesat. Apakah sekte A? sekte B? sekte C dan seterusnya. Padahal banyak kelompok sesat di masa beliau.

Demikian pula menurut al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi (wafat tahun 790 H) rahimahullah. Ketika membawakan penukilan ath-Thurthusi yang membuat daftar sekte-sekte sesat, beliau berkomentar:

وَهَذَا التَّعْدِيدُ بِحَسَبِ مَا أَعْطَتْهُ الْمِنَّةُ في تكلف الْمُطَابَقَةِ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ، لَا عَلَى الْقَطْعِ بِأَنَّهُ الْمُرَادُ، إِذْ لَيْسَ عَلَى ذَلِكَ دَلِيلٌ شَرْعِيٌّ، وَلَا دَلَّ الْعَقْلُ أَيْضًا عَلَى انْحِصَارِ مَا (ذكروه) فِي تِلْكَ الْعِدَّةِ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ وَلَا نُقْصَانٍ، كَمَا أَنَّهُ لَا دَلِيلَ عَلَى اخْتِصَاصِ تلك البدع بالعقائد

“Penghitungan sekte sesat (oleh ath-Thurthusi, pen) ini adalah menurut kemampuan beliau di dalam memberat-beratkan diri untuk mencocok-cocokkan (jumlah firqah, pen) dengan hadits shahih, bukan atas kepastian bahwa itulah yang dimaksud oleh hadits tersebut. Ini karena tidak ada dalil syar’i yang mendasari hitungan ath-Thurthusi dan juga tidak ada akal yang menunjukkan pembatasan dalam jumlah tersebut tanpa dilebihkan dan tanpa dikurangi, sebagaimana tidak ada dalil juga atas pengkhususan bid’ah mereka hanya pada akidah..dst.” (Kitabul I’tisham lisy Syathibi, tahqiq asy-Syuqair: 3/149).

Meskipun Ibnu Taimiyah tidak melakukan ta’yin, beliau tetap melakukan kritikan terhadap sekte-sekte sesat di masa beliau. Sebagai contohnya adalah kritikan beliau kepada Ibnu Sab’in (tokoh wihdatul wujud):

وَكَذَلِكَ ابْنُ سَبْعِينَ كَانَ مِنْ أَئِمَّةِ هَؤُلَاءِ وَكَانَ لَهُ مِنْ الْكُفْرِ وَالسِّحْرِ الَّذِي يُسَمَّى السِّيمِيَا وَالْمُوَافَقَةُ لِلنَّصَارَى وَالْقَرَامِطَةِ وَالرَّافِضَةِ : مَا يُنَاسِبُ أُصُولَهُ

“Demikian pula Ibnu Sab’in. Ia termasuk pemimpin dari mereka (sebuah sekte sufi, pen). Ia memiliki kekufuran, ilmu sihir yang disebut dengan kimia. Dan ia juga mencocoki pokok yang bersesuaian dengan kaum Nashara, Qaramithah dan Rafidhah.” (Majmu’ al-Fatawa: 2/367).

Begitu pula kritikan beliau kepada Ibnu Arabi (penulis Fushushul Hikam):

وَهَذَا الْقَوْلُ كُفْرٌ مَعْلُومٌ فَسَادُهُ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ لَمْ يَسْبِقْ ابْنَ عَرَبِيٍّ إلَيْهِ – فِيمَا أَعْلَمُ – أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ ؛ بَلْ وَلَا مِنْ الْيَهُودِ وَلَا مِنْ النَّصَارَى ؛ بَلْ جَمِيعُ أَهْلِ الْمِلَلِ مُطْبِقُونَ عَلَى كُفْرِ فِرْعَوْنَ

“Pendapat ini (bahwa Fir’aun itu mukmin dan tidak masuk neraka, pen) adalah kekafiran yang diketahui kerusakannya secara pasti dari agama al-Islam. Dan tidak ada seorang pun sebelum Ibnu Arabi yang berpendapat demikian –sepengetahuanku-, tidak pula dari kalangan ahlul kiblat (kaum muslimin, pen), bahkan tidak pula dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Dan bahkan semua pemeluk agama bersepakat atas kafirnya Fir’aun.” (Majmu’ al-Fatawa: 2/279).

Meskipun demikian, tidak pernah sekali pun Ibnu Taimiyah menyatakan: “Ibnu Sab’in dan sektenya finnaar (di neraka). Ibnu Arabi dan kelompoknya finnaar (di neraka). Bandingkan ucapan beliau dengan ucapan Al-Akh Afifuddin “ANTUM BISA MENGATAKAN IKHWANUL MUSLIMIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HIZBUT TAHRIR FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAMAAH TABLIGH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), SURURIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HADDADIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HALABIYUN, RUHAILIYUN FINNAAR (DI NERAKA, PEN).”!!

Kelompok Jamaah Kontemporer

Demikian pula ijtihad ulama kontemporer tentang kelompok-kelompok yang muncul di jaman ini. Para ulama sangat berhati-hati dalam menilainya.

Al-Lajnah ad-Daimah lil Ifta’ wal Buhuts al-Ilmiyah Saudi Arabiyah pernah ditanya:

الجماعات والفرق الموجودة الآن أقصد بها جماعة الإخوان المسلمين ، وجماعة التبليغ ، وجماعة أنصار السنة المحمدية ، والجمعية الشرعية ، والسلفيين ، ومن يسمونهم التكفير والهجرة ، وهذه كلها وغيرها قائمة بمصر أسأل ما موقف المسلم منها؟ وهل ينطبق عليها حديث حذيفة رضي الله عنه: « فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك » رواه الإمام مسلم في الصحيح؟

“Jamaah-jamaah, firqah-firqah yang muncul sekarang. Maksud saya; Jamaah Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Jamaah Ansharus Sunnah al-Muhammadiyah, Jum’iyah Syar’iyah, Jamaah Salafiyin, orang yang dinamai at-Takfir wal Hijrah. Semuanya ini berada di Mesir. Saya bertanya bagaimana sikap seorang muslim terhadap mereka? Apakah bagi mereka berlaku hadits Hudzaifah radliyallahu anhu: “Jauhilah firqah-firqah itu semuanya, walaupun kamu harus menggigit akar pohon hingga kamu mati dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)?”

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab:

كل من هذه الفرق فيها حق وباطل وخطأ وصواب، وبعضها أقرب إلى الحق والصواب وأكثر خيرًا وأعم نفعًا من بعض، فعليك أن تتعاون مع كل منها على ما معها من الحق وتنصح لها فيما تراه خطأ، ودع ما يريبك إلى ما لا يريبك.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو // عضو // نائب رئيس اللجنة // الرئيس //
عبد الله بن قعود // عبد الله بن غديان // عبد الرزاق عفيفي // عبد العزيز بن عبد الله بن باز //

Masing-masing firqah ini di dalamnya terdapat kebenaran dan kebatilan, kebenaran dan kesalahan. Sebagiannya lebih dekat kepada al-Haqq dan kebenaran dan mempunyai lebih banyak kebaikan dan manfaat yang lebih umum daripada yang lainnya. Maka wajib bagimu untuk bekerjasama dengan masing-masing mereka di dalam kebenaran yang ada pada mereka. Dan kamu harus menasehati mereka di dalam perkara yang menurutmu itu kesalahan mereka. Tinggalkan perkara yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu. Wabillahittaufiq. Washallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi washahbihi wasallam.

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyah wal Ifta’:

Abdul Aziz bin Baaz (ketua), Abdurrazaq Afifi (wakil ketua), Abdullah Ghudayyan (anggota), Abdullah Qu’ud (anggota). (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah al-Majmu’ah al-Ula, nomer: 6280 (2/238-9).

Demikian pula penjelasan al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah tentang jamaah kontemporer. Beliau menyatakan:

الجماعة التي يجب اتباعها والسير على منهاجها هم أهل الصراط المستقيم ، هم أتباع النبي وهم أتباع الكتاب والسنة الذين يدعون إلى كتاب الله وسنة رسوله قولا وعملا ، أما الجماعات الأخرى فلا تتبع منها أحدا إلا فيما وافقت فيه الحق . سواء كانت جماعة الإخوان المسلمين أو جماعة التبليغ أو أنصار السنة أو من يقولون إنهم السلفيون أو الجماعة الإسلامية أو من تسمي نفسها بجماعة أهل الحديث وأي فرقة تسمي نفسها بأي شيء فإنهم يطاعون ويتبعون في الحق والحق ما قام عليه الدليل وما خالف الدليل يرد عليهم ويقال لهم : قد أخطأتم في هذا ، فالواجب موافقتهم فيما يوافق الآية الكريمة أو الحديث الشريف أو إجماع سلف الأمة .

“Jamaah yang wajib diikuti dan berjalan di atas manhajnya adalah pengikut Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus, pen). Mereka adalah pengikut Nabi shallallahu alaihi wasallam, pengikut al-Kitab dan as-Sunnah, baik secara perbuatan maupun amalan. Adapun jamaah-jamaah selainnya, maka janganlah kamu ikuti satupun di antara mereka, kecuali di dalam perkara yang sesuai dengan al-Haqq. Baik itu Jamaah Ikhwanul Muslimin, atau Jamaah Tabligh, Ansharus Sunnah, ataupun mereka yang mengaku sebagai kelompok Salafiyin (seperti Forum Salafi Bandung, Forum Salafi Tuban, Forum Salafi Bontang, dsb, pen), Jamaah Islamiyah, atapun mereka yang mengaku sebagai Jamaah Ahlul Hadits dan firqah dengan nama apapun. Maka mereka semua ditaati dan diikuti dalam al-Haqq. Al-Haqq adalah perkara yang telah tegak dalilnya. Sedangkan perkara yang menyelisihi dalil harus dibantah dan ditolak, dan dikatakan kepada mereka: “Kalian telah berbuat salah dalam masalah ini.” Maka yang wajib adalah kesesuaian mereka dengan ayat al-Quran, hadits yang mulia atau ijma’ (konsensus) umat.” (Majmu’ Fatawa Ibni Baaz: 7/120).

Lihatlah bahwa al-Lajnah ad-Daimah dan al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menghukumi jamaah-jamaah kontemporer dengan kaidah-kaidah umum yang telah diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau berkata:

وَعَلَى هَذَا إذَا كَانَ الشَّخْصُ أَوْ الطَّائِفَةُ جَامِعَيْنِ بَيْنَ مَعْرُوفٍ وَمُنْكَرٍ بِحَيْثُ لَا يُفَرِّقُونَ بَيْنَهُمَا ؛ بَلْ إمَّا أَنْ يَفْعَلُوهُمَا جَمِيعًا ؛ أَوْ يَتْرُكُوهَا جَمِيعًا : لَمْ يَجُزْ أَنْ يُؤْمَرُوا بِمَعْرُوفِ وَلَا أَنْ يُنْهُوا مِنْ مُنْكَرٍ ؛ يَنْظُرُ : فَإِنْ كَانَ الْمَعْرُوفُ أَكْثَرَ أَمَرَ بِهِ ؛ وَإِنْ اسْتَلْزَمَ مَا هُوَ دُونَهُ مِنْ الْمُنْكَرِ . وَلَمْ يَنْهَ عَنْ مُنْكَرٍ يَسْتَلْزِمُ تَفْوِيتَ مَعْرُوفٍ أَعْظَمَ مِنْهُ ؛ بَلْ يَكُونُ النَّهْيُ حِينَئِذٍ مِنْ بَابِ الصَّدِّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالسَّعْيِ فِي زَوَالِ طَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ وَزَوَالِ فِعْلِ الْحَسَنَاتِ وَإِنْ كَانَ الْمُنْكَرُ أَغْلَبَ نَهَى عَنْهُ ؛ وَإِنْ اسْتَلْزَمَ فَوَاتَ مَا هُوَ دُونَهُ مِنْ الْمَعْرُوفِ .

“Oleh karena itu, jika seseorang atau suatu kelompok itu mengandung perkara yang baik dan juga perkara yang mungkar serta sulit untuk memisahkan antara keduanya, -dengan gambaran bahwa ia harus terjun ke dalam kelompok tersebut atau ia meninggalkan sama sekali-, maka tidak boleh untuk dilakukan amar makruf dan nahi mungkar terhadap kelompok tersebut. Maka harus dilihat dulu. Jika kebaikannya lebih banyak daripada penyimpangannya, maka silakan dianjurkan meskipun harus melakukan beberapa penyimpangan. Maka tidak boleh melarang suatu kemungkaran yang dapat menghilangkan kebaikan yang lebih besar daripadanya. Maka melarang dari perkara tersebut termasuk menghalangi dari jalan Allah dan termasuk usaha untuk menghilangkan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya serta menghilangkan banyak kebaikan. Dan jika penyimpangan itu lebih dominan dalam jamaah tersebut, maka silakan dilarang, meskipun harus kehilangan beberapa kebaikan.” (Majmu’ul Fatawa: 28/129-130).

Akan tetapi adanya kaedah umum di atas tidak menghalangi para ulama kita untuk mengkritik penyimpangan pada jamaah kontemporer.

Sebagai contohnya adalah kritikan al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah terhadap Jamaah Ikhwanul Muslimin. Beliau berkata:

حركة الإخوان المسلمين ينتقدها خواص أهل العلم ؛ لأنه ليس عندهم نشاط في الدعوة إلى توحيد الله وإنكار الشرك وإنكار البدع , لهم أساليب خاصة ينقصها عدم النشاط في الدعوة إلى الله , وعدم التوجيه إلى العقيدة الصحيحة التي عليها أهل السنة والجماعة . فينبغي للإخوان المسلمين أن تكون عندهم عناية بالدعوة السلفية , الدعوة إلى توحيد الله , وإنكار عبادة القبور والتعلق بالأموات والاستغاثة بأهل القبور كالحسين أو الحسن أو البدوي , أو ما أشبه ذلك , يجب أن يكون عندهم عناية بهذا الأصل الأصيل بمعنى لا إله إلا الله , التي هي أصل الدين , وأول ما دعا إليه النبي صلى الله عليه وسلم في مكة دعا إلى توحيد الله , إلى معنى لا إله إلا الله , فكثير من أهل العلم ينتقدون على الإخوان المسلمين هذا الأمر , أي : عدم النشاط في الدعوة إلى توحيد الله , والإخلاص له , وإنكار ما أحدثه الجهال من التعلق بالأموات والاستغاثة بهم , والنذر لهم والذبح لهم , الذي هو الشرك الأكبر , وكذلك ينتقدون عليهم عدم العناية بالسنة : تتبع السنة , والعناية بالحديث الشريف , وما كان عليه سلف الأمة في أحكامهم الشرعية , وهناك أشياء كثيرة أسمع الكثير من الإخوان ينتقدونهم فيها , ونسأل الله أن يوفقهم ويعينهم ويصلح أحوالهم

“Gerakan Ikhwanul Muslimin mendapatkan kritikan dari orang-orang khusus dari kalangan ulama. Ini karena mereka tidak mempunyai semangat untuk berdakwah menegakkan tauhid serta tidak mengingkari perbuatan syirik dan bid’ah. Mereka mempunyai cara khusus yang kurang, yaitu tidak bersemangat berdakwah kepada Allah, tidak mengarahkan kepada akidah yang benar yang dipegang oleh Ahlussunnah wal Jamaah. Maka wajib bagi Ikhwanul Muslimin untuk mempunyai perhatian terhadap dahwah Salafiyah, berdakwah kepada tauhidullah, mengingkari peribadatan kepada kuburan, bergantung dan ber-istightsah kepada orang-orang mati yang dikubur semisal al-Hasan, al-Husain atau al-Badawi, atau yang serupa dengan itu. Mereka wajib mempunyai perhatian kepada perkara pokok yang mendasar dengan makna ‘Laa Ilaaha illallaah’, yang merupakan pokok agama. Dan awal dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada penduduk Makkah adalah dakwah kepada tauhidullah, kepada makna ‘Laa Ilaaha illallaah’. Kebanyakan ulama mengkritik Ikhwanul Muslimin dalam perkara ini, yakni tidak adanya semangat dalam dakwah kepada tauhidullah, meng-ikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan tidak mengingkari apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang berupa bergantung dan beristightasah kepada orang-orang mati, bernadzar dan menyembelih untuk mereka, yang merupakan syrik akbar. Para ulama juga mengkritik Ikhwanul Muslimin dengan tidak adanya perhatian kepada as-Sunnah, meneliti as-Sunnah dan perhatian kepada hadits yang mulia dan pemahaman Salaful Ummah di dalam hukum-hukum syariah. Dan juga banyak perkara lain yang saya dengar tentang kritikan para ulama kepada mereka. Kami memohon kepada Allah agar memberikan petunjuk kepada mereka, menolong serta memperbaiki keadaan mereka.” (Majmu’ Fatawa al-Allamah Ibni Baaz: 8/41).

Al-Allamah Ibnu Baaz juga memasukkan Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh dengan kesesatan mereka ke dalam 72 firqah sesat, tetapi tidak memvonis mereka sebagai ‘Ahlun Naar’ (penduduk neraka), sebagaimana vonis yang dilakukan oleh Al-Akh Afifuddin kepada keduanya. Beliau pernah ditanya:

أحسن الله إليك حديث النبي صلى الله عليه وسلم في افتراق الأمم قوله: (ستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة) الحديث.فهل جماعة التبليغ على ما عندهم من شركيات وبدع، وجماعة الإخوان المسلمين على ما عندهم من تحزب وشق للعصا على ولاة الأمر هل هاتان الفرقتان تدخلان في الفِرق الهالكة؟

“Semoga Allah berbuat baik kepada Anda. Ada hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang Iftiraqul Ummah: “Umatku akan terpecah menjadi 73 firqah. Semuanya di neraka kecuali satu.” Apakah Jamaah Tabligh dengan kesyirikan dan kebid’ahan padanya, serta Ikhwanul Muslimin dengan sikap bergolong-golong dan memberontak kepada pemerintah yang ada padanya, apakah kedua firqah ini termasuk 72 firqah sesat?”

Beliau menjawab:

تدخل في الاثنتين والسبعين، ومن خالف عقيدة أهل السنة والجماعة دخل في الاثنتين والسبعين، المراد بقوله (أمتي) أي أمة الإجابة أي استجابوا لله وأظهروا اتباعهم له, ثلاث وسبعون فرقة, الناجية السليمة التي اتبعته واستقامت على دينه، واثنتان وسبعون فرقة فيهم الكافر وفيهم العاصي وفيهم المبتدع أقسام.

“(Jika demikian keadaannya, maka) termasuk dalam 72 firqah sesat. Dan siapa pun yang menyelisihi akidah Ahlussunnah wal Jamaah maka termasuk 72 firqah sesat. Yang dimaksud dengan sabda beliau ‘umatku’ adalah umat ijabah, yaitu umat yang menjawab seruan Allah dan menampakkan ketaatan kepada-Nya. Ada 73 firqah. Firqah yang selamat adalah firqah yang mengikuti-Nya dan konsisten di atas agama-Nya. Dan 72 sekte yang sesat itu ada yang kafir, ada yang berbuat maksiat dan ada yang berbuat bid’ah. Itu bermacam-macam.” (Kaset Durus Syarh al-Muntaqa di Thaif. Lihat Arsyif Multaqa Ahlil Hadits: 149752 (51/388).

Perhatikanlah bahwa Ibnu Baaz memberikan hukum umum, bukan vonis bahwa Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh finnaar (di neraka). Bandingkan pula dengan ucapan Al-Akh Afifuddin “ANTUM BISA MENGATAKAN IKHWANUL MUSLIMIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HIZBUT TAHRIR FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAMAAH TABLIGH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), SURURIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HADDADIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HALABIYUN, RUHAILIYUN FINNAAR (DI NERAKA, PEN).”!!

Masalah Lazimul Madzhab

Kebanyakan ahlul bid’ah dari kalangan Khawarij dan Haddadiyah memberikan vonis kepada seorang tokoh atau sebuah kelompok hanya berdasar dari ‘Lawazim’ (konsekuensi logis) dari ucapan dan pendapat mereka.

Sebagai contoh dari lawazim batil mereka adalah ungkapan “Al-Imam al-Baihaqi mempunyai pemahaman Asy’ariyah. Asy’ariyah melakukan takwil terhadap sebagian sifat Allah. Perbuatan takwil mengarah kepada penolakan keberadaan sifat-sifat Allah. Maka kesimpulan berdasarkan konsekuensi logisnya adalah al-Baihaqi melakukan penolakan terhadap keberadaan sifat-sifat Allah.” Subhanallah wallahul musta’an dari kesimpulan ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membantah lawazim mereka dalam pernyataan beliau:

وَلَازِمُ الْمَذْهَبِ لَا يَجِبُ أَنْ يَكُونَ مَذْهَبًا بَلْ أَكْثَرُ النَّاسِ يَقُولُونَ أَقْوَالًا وَلَا يَلْتَزِمُونَ لَوَازِمَهَا . فَلَا يَلْزَمُ إذَا قَالَ الْقَائِلُ مَا يَسْتَلْزِمُ التَّعْطِيلَ أَنْ يَكُونَ مُعْتَقِدًا لِلتَّعْطِيلِ . بَلْ يَكُونُ مُعْتَقِدًا لِلْإِثْبَاتِ وَلَكِنْ لَا يُعْرَفُ ذَلِكَ اللُّزُومُ .

Lawazim (konsekuensi logis atau rentetan cetusan, pen) dari suatu madzhab tidak mesti menjadi suatu madzhab, bahkan kebanyakan manusia berpendapat dengan suatu pendapat, sementara mereka tidak berpendapat dengan konsekuensi logis dari pendapat tersebut. Maka tidak bisa dikatakan jika seseorang (semisal al-Baihaqi, pen) yang berpendapat dengan pendapat yang membawa konsekuensi logis kepada sikap ta’thil (menolak keberadaan sifat-sifat Allah, pen) bahwa ia (al-Baihaqi) berkeyakinan ta’thil. Bahkan ia meyakini terhadap penetapan sifat-sifat Allah, hanya saja ia tidak mengetahui dari konsekuensi logis dari pendapatnya.” (Majmu’ al-Fatawa: 16/461).

Beliau juga berkata:

فَالصَّوَابُ : أَنَّ لَازِمَ مَذْهَبَ الْإِنْسَانِ لَيْسَ بِمَذْهَبِ لَهُ إذَا لَمْ يَلْتَزِمْهُ ؛ فَإِنَّهُ إذَا كَانَ قَدْ أَنْكَرَهُ وَنَفَاهُ كَانَتْ إضَافَتُهُ إلَيْهِ كَذِبًا عَلَيْهِ

“Yang benar adalah bahwa konsekuensi logis atau rentetan cetusan dari madzhab seseorang bukanlah suatu madzhab baginya selagi ia tidak meyakini dan menyetujuinya. Karena jika ia mengingkari dan menolak konsekuensinya, maka menisbatkan cetusan madzhab kepadanya termasuk kedustaan atas namanya.” (Majmu’ al-Fatawa: 20217).

Sebagai contoh dari lawazim batil Al-Akh Afifuddin dan kelompoknya adalah ungkapan mereka “Asy-Syaikh Dzulqarnain menjadi Pembina Sekolah al-Madinah Solo. Sekolah al-Madinah mengajarkan PPKN atau Pancasila. Di dalam PPKN diajarkan ‘Wihdatul Adyan atau Persamaan Semua Agama atau MLM’ (seandainya benar).” Sehingga menurut lawazim batil dari Al-Akh Afifuddin dan kelompoknya, asy-Syaikh Dzulqarnain mempunyai pemahaman Wihdatul Adyan atau MLM.

Maka menurut kaidah yang diterangkan oleh Ibnu Taimiyah di atas, penisbatan Wihdatul Adyan atau MLM kepada asy-Syaikh Dzulqarnain adalah kedustaan yang nyata, karena beliau dikenal dengan kegigihan dalam berdakwah kepada tauhidullah, sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memerangi Wihdatul Adyan dan Islam liberal.

Sehingga ‘kekafiran’ atau ‘kebid’ahan’ yang akan dimutlakkan (baca: dituduhkan) kepada pelakunya haruslah perkara yang sharih (jelas), bukan perkara istilzami (hasil konsekuensi logis atau rentetan cetusan).

Al-Allamah Mulla Ali al-Qari al-Hanafi (wafat tahun 1014 H) rahimahullah menukilkan ucapan al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat tahun 974 H) rahimahullah:

الصواب عند الأكثرين من علماء السلف والخلف أنا لا نكفر أهل البدع والأهواء إلا أن أتوا بمكفر صريح لا استلزامي لأن الأصح أن لازم المذهب ليس بلازم

“Yang benar menurut kebanyakan ulama Salaf dan Khalaf adalah bahwa kami tidak mengkafirkan Ahlul Bid’ah atau Pengikut hawa nafsu, kecuali jika mereka melakukan perkara yang dapat menyebabkan kafir, secara sharih (jelas) bukan istilzami (hasil dari konsekuensi logis, pen), karena menurut pendapat yang benar bahwa ‘Konsekuensi logis dari suatu madzhab bukanlah madzhab.” (Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 1/406).

Kemudian di antara ucapan Al-Akh Afifuddin yang perlu kami komentari adalah ucapannya “ANTUM BISA MENGATAKAN IKHWANUL MUSLIMIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HIZBUT TAHRIR FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAMAAH TABLIGH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), SURURIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HADDADIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HALABIYUN, RUHAILIYUN FINNAAR (DI NERAKA, PEN). BISA, SECARA UMUM, DIKARENAKAN MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SESAT, TERMASUK DI DALAM FIRQAH-FIRQAH, SEKTE-SEKTE YANG SESAT.”

Penulis bisa menarik kesimpulan dari ucapan Al-Akh Afifuddin di atas bahwa jika seseorang atau suatu kelompok telah dinyatakan sesat atau termasuk sekte sesat oleh para ulama, maka kita boleh menyatakan bahwa orang tersebut atau kelompok tersebut finnaar (di neraka). Ini juga termasuk lawazim (konsekuensi) batil dari Al-Akh Afifuddin dan kelompoknya yang juga dipegang oleh sekte Khawarij dan Haddadiyah.

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (wafat tahun 751 H) rahimahullah berkata:

هنا أصل آخر وهو أنه لا يلزم من قيام شعبة من شعب الإيمان بالعبد أن يسمى مؤمنا وإن كان ما قام به إيمانا ولا من قيام شعبة من شعب الكفر به أن يسمى كافرا وإن كان ما قام به كفرا كما أنه لا يلزم من قيام جزء من اجزاء العلم به أن يسمى عالما ولا من معرفة بعض مسائل الفقه والطب أن يسمى فقهيا ولا طبيبا ولا يمنع ذلك أن تسمى شعبة الايمان إيمانا وشعبة النفاق نفاقا وشعبة الكفر كفرا وقد يطلق عليه الفعل كقوله (فمن تركها فقد كفر)  (ومن حلف بغير الله فقد كفر)  وقوله (من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر) (ومن حلف بغير الله فقد كفر) رواه الحاكم في صحيحه بهذا اللفظ

 فمن صدر منه خلة من خلال الكفر فلا يستحق اسم كافر على الإطلاق وكذا يقال لمن ارتكب محرما إنه فعل فسوقا وإنه فسق بذلك المحرم ولا يلزمه اسم فاسق إلا بغلبة ذلك عليه وهكذا الزاني والسارق والشارب والمنتهب لا يسمى مؤمنا وإن كان معه إيمان كما أنه لا يسمى كافرا وإن كان ما أتى به من خصال الكفر وشعبه إذ المعاصي كلها من شعب الكفر كما ان الطاعات كلها من شعب الإيمان

“Di sini terdapat kaidah lain, yaitu: Tidak selalu memberikan konsekuensi bagi seseorang yang mengerjakan salah satu cabang dari cabang-cabang keimanan disebut sebagai mukmin, meskipun yang ia kerjakan adalah satu perbuatan keimanan. Begitu pula tidaklah selalu memberikan konsekuensi bagi seseorang yang mengerjakan salah satu cabang dari cabang-cabang kekafiran disebut sebagai kafir, meskipun yang ia kerjakan adalah satu perbuatan kekafiran. Sebagaimana halnya tidak memberikan konsekuensi bagi seseorang yang mengerjakan sebagian dari bagian-bagian ilmu disebut sebagai seorang ‘alim (ulama), serta orang yang mengetahui sebagian permasalahan fiqh dan pengobatan disebut sebagai faqih dan dokter. Akan tetapi, itu semua tidaklah menghalangi kita untuk menyebut cabang keimanan sebagai iman, cabang kemunafikan sebagai kemunafikan, dan cabang kekafiran sebagai kekafiran. Dimutlakkan (penyebutan/penamaan) atas perbuatannya, seperti sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa yang meninggalkannya (yaitu shalat), maka ia kafir’; ‘Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka ia kafir’. Dan juga sabda beliau : ‘Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia kafir. Dan barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka ia kafir’. Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Shahih-nya dengan lafadh ini.

Barangsiapa pada dirinya terdapat satu perangai dari perangai-perangai kekafiran, maka tidak dibenarkan untuk memutlakkan nama kafir padanya. Begitu pula dikatakan bagi orang yang mengerjakan satu keharaman, maka telah mengerjakan satu kefasikan dan ia fasik dengan keharaman (yang ia kerjakan), namun tidak boleh menamakannya fasik (secara mutlak) kecuali dengan kefasikan tersebut tampak mendominasi pada dirinya. Begitu pula dengan orang yang berzina, pencuri, peminum khamr, dan perampok tidak boleh disebut mukmin (secara mutlak) meskipun ada keimanan padanya, sebagaimana pula ia tidak dinamakan kafir (secara mutlak) meskipun yang ia kerjakan termasuk tabiat dan cabang kekafiran. Karena setiap kemaksiatan termasuk cabang kekafiran, sebagaimana setiap ketaatan termasuk cabang keimanan.” (Ash-Shalat wa Hukmu Tarikiha: 80).

Sebagai contoh penerapan kaidah Ibnul Qayyim di atas adalah ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Abu Dzar al-Ghifari radliyallahu anhu ketika ia mencela seseorang:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu adalah seseorang yang masih mempunyai perangai Jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari: 30, Muslim: 4403 dan Abu Dawud: 5159).

Konsekuensi logis (lawazim) dari hadits di atas adalah bahwa Abu Dzar finnaar (di neraka) karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ فَهُوَ مِنْ جُثَا جَهَنَّمَ

“Barangsiapa menyeru kepada sunnah Jahiliyah, maka ia termasuk kumpulan orang di neraka Jahanam.” (HR. Ahmad: 17800 dan at-Tirmidzi: 2863 dari al-Harits al-Asy’ari radliyallahu anhu. Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 1724).

Akan tetapi tidak ada seorang Ahlussunnah pun yang memberlakukan lawazim ini kepada Abu Dzar radliyallahu anhu, bahkan al-Imam Syihabuddin al-Qasthalani (wafat tahun 923 H) rahimahullah berkata:

وإنما وبخه -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- بذلك مع عظم درجته تحذيرًا له أن يفعل مثل ذلك مرة أخرى

 “Nabi shallallahu alaihi wasallam mencela Abu Dzar padahal kedudukan Abu Dzar sangat tinggi, dalam rangka memperingatkannya agar tidak berbuat seperti itu lagi.” (Irsyadus Sari li Syarh Shahihil Bukhari: 9/39).

Melakukan Ta’yin terhadap Ahlul Kiblat

Di antara bentuk penyimpangan Al-Akh Afifuddin terhadap Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah adalah vonis atau ta’yin yang ia lakukan terhadap kelompok yang dianggap sesat sebagai penghuni neraka. Ia menyatakan “ANTUM BISA MENGATAKAN IKHWANUL MUSLIMIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HIZBUT TAHRIR FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAMAAH TABLIGH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), SURURIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HADDADIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HALABIYUN, RUHAILIYUN FINNAAR (DI NERAKA, PEN). BISA, SECARA UMUM, DIKARENAKAN MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SESAT, TERMASUK DI DALAM FIRQAH-FIRQAH, SEKTE-SEKTE YANG SESAT.”

Ini adalah salah satu bentuk penyimpangan terhadap Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Kata ‘Halabiyun finnaar’ maknanya adalah para pengikut al-Halabi di neraka. Makna ‘Sururiyun finnar’ adalah pengikut Surur di neraka. Ruhailiyun finnar artinya pengikut Ibrahim ar-Ruhaili di neraka..dst. Taruhlah Halabiyun dan Ruhailiyun itu sesat menurut anggapan Al-Akh Afifuddin (padahal yang benar mereka masih Ahlussunnah sebagaimana penjelasan di belakang), maka ucapan Al-Akh Afifuddin ini merupakan salah satu bentuk ta’yin terhadap sekelompok Ahlul Kiblat.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal (wafat tahun 241 H) rahimahullah berkata:

ولا ننزل أحدا من أهل القبلة جنة ولا نارا إلا من شهد له رسول الله – صلى الله عليه وسلم –  بالجنة أبو بكر وعمر وعثمان وعلي وطلحة والزبير وعبد الرحمن بن عوف وسعد بن أبي وقاص وسعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل

“Kami (Ahlussunnah wal-Jamaah, pen) tidak memastikan salah seorang pun dari Ahlul Kiblat dengan surga dan neraka kecuali orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan surga, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Said bin Zaid bin Amr bin Nufail.” (Thabaqat al-Hanabilah: 1/311).

Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (wafat tahun 321 H) rahimahullah berkata:

ونرى الصلاة خلف كل بر وفاجر من أهل القبلة وعلى من مات منهم ولا ننزل أحدا منهم جنة ولا نارا

“Kami melakukan shalat di belakang imam yang baik dan imam yang jelek dari Ahlul Kiblat, dan juga men-shalatkan orang mati dari kalangan Ahlul Kiblat. Kami juga tidak memastikan salah seorang pun dari mereka dengan surga dan neraka.” (al-Aqidah ath-Thahawiyah pada Dzail Kitab al-Wara’ lil Imam Ahmad: 202).

Al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi (wafat tahun 682 H) rahimahullah berkata:

ولا نجزم لأحد من أهل القبلة بجنة ولا نار إلا من جزم له الرسول صلى الله عليه وسلم، لكنا نرجو للمحسن ونخاف على المسيء

“Dan kita tidak memastikan seorang pun dari Ahlul Kiblat pun dengan surga dan neraka, kecuali orang-orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atas mereka. akan tetapi kami berharap bagi orang yang berbuat baik (dengan janji surga) dan kami takut atas orang yang berbuat jelek (dengan ancaman) neraka.” (Lum’atul I’tiqad: 38).

Pengertian ‘Ahlul Kiblat’ adalah kaum muslimin yang melakukan shalat 5 waktu dengan menghadap kiblat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ المُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَلاَ تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ

“Barangsiapa melakukan shalat dengan shalat kami, menghadap ke kiblat kami dan mau memakan sembelihan kami, maka ia adalah muslim yang mendapatkan tanggungan Allah dan rasul-Nya. Maka janganlah mengkhianati Allah di dalam menyia-siakan tanggungan-Nya.” (HR. Al-Bukhari: 391 dari Anas bin Malik radliyallahu anhu).

Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata:

وَنُسَمِّي أَهْلَ قِبْلَتِنَا مُسْلِمِينَ مُؤْمِنِينَ، مَا دَامُوا بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَرِفِينَ، وَلَهُ بِكُلِّ مَا قَالَهُ وَأَخْبَرَ مُصَدِّقِينَ

“Kami menamakan ‘Ahli Kiblat kami’ dengan kaum muslimin dan mukminin, selagi mereka mengakui syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan membenarkan segala perkara yang disabdakan dan diberitakan oleh beliau.” (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, tahqiq Ahmad Syakir: 292).

Al-Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi (wafat tahun 792 H) rahimahullah menjelaskan ucapan ath-Thahawi di atas:

وَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ: “أَهْلَ قِبْلَتِنَا”، مَنْ يَدَّعِي الْإِسْلَامَ وَيَسْتَقْبِلُ الْكَعْبَةَ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ، أَوْ مِنْ أَهْلِ الْمَعَاصِي، مَا لَمْ يُكَذِّبْ بِشَيْءٍ مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Yang dimaksud dengan ucapan beliau ‘Ahli Kiblat kami’ adalah orang yang menyatakan Islam dan menghadap Ka’bah (ketika shalat dan menyembelih, pen), meskipun termasuk Ahlul Bid’ah atau pelaku kemaksiatan, selagi tidak mendustakan perkara yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, tahqiq Ahmad Syakir: 292).

Dan sudah diketahui secara pasti bahwa Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Sururiyun, Haddadiyun, Hajuriyun, Halabiyun, Turatsiyun, MLMiyun semuanya adalah ‘Ahlul Kiblat’ karena mereka semua masih termasuk kaum muslimin yang melakukan shalat menuju kiblat yang sama.

Asy-Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata:

و(أهل القبلة) إذاً يشمل كل أهل الأهواء، كل الفِرَقْ الثلاث والسبعين التي أخبر بها وعنها النبي صلى الله عليه وسلم في قوله «وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة، كلها في النار إلا واحدة»  فهذه الفرق الثلاث وسبعين كلها تدخل عند أهل العلم تحت هذا الاسم (أهل القبلة)

“Ahlul Kiblat, kalau begitu, meliputi semua Ahlul Bid’ah. Semua firqah yang berjumlah 73, yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau: “Umatku akan terpecah menjadi 73 firqah. Semuanya di neraka, kecuali satu.” (Al-Hadits). Maka firqah yang berjumlah 73 ini –menurut para ulama- termasuk dalam nama ‘Ahlul Kiblat’.”

Sehingga Ahlussunnah tidak menyatakan: “Sururiyun di neraka, Haddadiyun di neraka, Turatsiyun di neraka dan sebagainya”, karena mereka semua itu masih Ahlul Kiblat. Ini berbeda dengan manhaj yang dianut oleh Al-Akh Afifuddin dan kelompoknya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan alasan tentang larangan men-ta’yin atas sekte-sekte dari kalangan Ahlul Kiblat dengan surga dan neraka. Beliau berkata:

فَإِنَّ الصَّوَابَ الَّذِي عَلَيْهِ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّهُ قَدْ يَجْتَمِعُ فِي الشَّخْصِ الْوَاحِدِ وَالطَّائِفَةِ الْوَاحِدَةِ مَا يُحْمَدُ بِهِ مِنْ الْحَسَنَاتِ وَمَا يُذَمُّ بِهِ مِنْ السَّيِّئَاتِ، وَمَا لَا يُحْمَدُ بِهِ وَلَا يُذَمُّ مِنْ الْمَبَاحِثِ وَالْعَفْوِ عَنْهُ مِنْ الْخَطَإِ وَالنِّسْيَانِ بِحَيْثُ يَسْتَحِقُّ الثَّوَابَ عَلَى حَسَنَاتِهِ وَيَسْتَحِقُّ الْعِقَابَ عَلَى سَيِّئَاتِهِ بِحَيْثُ لَا يَكُونُ مَحْمُودًا وَلَا مَذْمُومًا عَلَى الْمُبَاحَاتِ وَالْمَعْفُوَّاتِ، وَهَذَا مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي فُسَّاقِ أَهْلِ الْقِبْلَةِ وَنَحْوِهِمْ.

“Oleh karena yang benar menurut Ahlussunnah wal Jamaah adalah bahwa terkadang berkumpul pada seseorang individu atau suatu kelompok beberapa kebaikan yang dipuji dan beberapa kejelekan yang dicela. Dan berkumpul juga pembahasan-pembahasan yang tidak dipuji dan juga tidak dicela. Dan berkumpul juga ampunan untuk mereka atas perbuatan keliru dan lupa dari mereka. Sehingga mereka berhak terhadap pahala atas kebaikan mereka dan berhak mendapatkan siksa atas kesalahan mereka, sehingga mereka bukan orang yang terpuji dan bukan juga orang yang tercela atas beberapa perbuatan mubah dan ampunan. Ini adalah madzhab Ahlussunnah di dalam menyikapi orang-orang fasik dari kalangan Ahlul Kiblat dan semisal mereka.” (Al-Fatawa al-Kubra: 6/662).

Maka bandingkan ucapan para ulama di atas dengan ucapan Al-Akh Afifuddin ANTUM BISA MENGATAKAN IKHWANUL MUSLIMIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HIZBUT TAHRIR FINNAAR (DI NERAKA, PEN), JAMAAH TABLIGH FINNAAR (DI NERAKA, PEN), SURURIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HADDADIYIN FINNAAR (DI NERAKA, PEN), HALABIYUN, RUHAILIYUN FINNAAR (DI NERAKA, PEN).Wallahul musta’an.

Adakah Firqah Salafiyah?

Mereka (Al-Akh Afifuddin dan kelompoknya) merasa diri mereka sebagai al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat) dan menuduh kelompok yang di luar kelompok mereka sebagai firqah yang sesat. Kemudian mereka membentuk jamaah-jamaah di tiap kota seperti Forum Salafy Tuban, Forum Salafy Bandung, Forum Salafy Surabaya, Forum Salafy Balikpapan dan masih banyak lagi link di tiap-tiap kota. Secara eksplisit dan implisit, mereka menyatakan bahwa Forum Salafy yang ada di tiap kota ini adalah al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat) yang dikoordinasi oleh dewan pembina. Kemudian mereka menuduh sesat kepada orang-orang yang mengaku salafy tetapi berada di luar kelompok mereka. Ada yang diberi gelar oleh mereka dengan Rojaa’iyun. Ada MLMiyun, Halabiyun dan sebagainya.

Benarkah demikian?

Yang benar adalah bahwa kelompok atau Forum Salafy yang mereka dirikan juga bukan termasuk ‘kelompok yang selamat’ karena indikasi hizbiyah dan fanatisme golongan juga ada pada kelompok mereka.

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi (wafat tahun 790 H) rahimahullah menyatakan:

وَإِنَّمَا يُرَادُ افْتِرَاقٌ مُقَيَّدٌ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْحَدِيثِ نَصٌّ عَلَيْهِ، فَفِي الْآيَاتِ مِمَّا يَدُلُّ عَلَيْهِ، قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ} [الروم: 31] وَقَوْلُهُ تَعَالَى: {إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ} [الأنعام: 159] وَمَا أَشْبَهَ تِلْكَ الْآيَاتِ الدَّالَّةَ عَلَى التَّفَرُّقِ الَّذِي صَارُوا بِهِ شِيَعًا، وَمَعْنَى صَارُوا شِيَعًا أَيْ جَمَاعَاتٍ بَعْضُهُمْ قَدْ فَارَقَ الْبَعْضَ، لَيْسُوا عَلَى تَآلُفٍ وَلَا تَعَاضُدٍ وَلَا تَنَاصُرٍ، بَلْ عَلَى ضِدِّ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْإِسْلَامَ وَاحِدٌ وَأَمْرُهُ وَاحِدٌ، فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ حُكْمُهُ عَلَى الِائْتِلَافِ التَّامِّ لَا عَلَى الِاخْتِلَافِ.

“Yang dimaksud perpecahan dalam hadits ‘Iftiraqul Ummah’ adalah perpecahan yang ‘muqayyad’ (tertentu dan tidak mutlak meliputi segala bentuk perpecahan, pen). Jika tidak ada teks dalam hadits tersebut yang menjelaskannya, maka terdapat ayat yang menjelaskannya, yaitu firman Allah ta’ala: “Dan janganlah kalian termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dalam keadaan bersekte-sekte. Setiap sekte merasa bangga dengan pemikiran mereka.” (QS. Ar-Rum: 31), juga firman-Nya: “Sesungguhnya orang yang memecah belah agama mereka, sedangkan mereka dalam keadaan berfirqah-firqah. Kamu (Muhammad) tidak termasuk sedikit pun dari mereka.” (QS. Al-An’am: 159) dan ayat yang semisalnya yang menunjukkan perpecahan yang menjadi berfirqah-firqah. Makna ‘menjadi berfirqah-firqah’ adalah menjadi kelompok-kelompok. Sebagian kelompok menyelisihi kelompok yang lainnya. Antar kelompok tidak saling bersatu, tidak saling memperkuat dan tidak saling menolong, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya (yakni saling menganggap sesat, saling melecehkan, pen). Maka sesungguhnya al-Islam adalah satu dan perkaranya juga satu. Maka ini memberikan konsekuensi persatuan yang sempurna bukan perselisihan.” (Kitab al-I’tisham lisy Syathibi, tahqiq al-Hilali: 2/701).

Al-Allamah al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah mengingatkan tentang adanya sekte yang bernama ‘Salafiyah’. Beliau berkata:

فـ”السلفية” بمعنى أن تكون حزباً خاصاً له مميزاته ويضلل أفراده من سواهم فهؤلاء ليسوا من السلفية في شيء.وأما السلفية اتباع منهج السلف عقيدة وقولاً وعملاً وائتلافاً واختلافاً واتفاقاً وتراحماً وتواداً، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ( مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر ) فهذه هي السلفية الحقة.

’Salafiyah’ dengan makna hizib atau kelompok tertentu yang mempunyai ciri khas tersendiri (seperti mengharuskan berjubah dan tidak bersekolah formal, pen) dan menganggap sesat orang-orang yang berada di luar mereka, maka mereka tidaklah termasuk ‘Salafiyah’ (yakni tidak termasuk al-Firqatun Najiyah atau kelompok yang selamat, pen) sedikit pun. Maka ‘salafiyah’ adalah mengikuti jalan as-Salaf, baik dalam akidah, ucapan, perbuatan, bersatu, berselisih ataupun dalam kasih sayang, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus terjaga tidak bisa tidur dan merasa panas.” Maka inilah ‘Salafiyah Sejati’.” (Liqa’ul Babil Maftuh: 57/15).

Beliau juga mengingatkan:

أنه إذا كثرت الأحزاب في الأمة فلا تنتم إلى حزب، فقد ظهرت طوائف من قديم الزمان مثل الخوارج والمعتزلة والجهمية والرافضة، ثم ظهرت أخيراً إخوانيون وسلفيون وتبليغيون وما أشبه ذلك، فكل هذه الفرق اجعلها على اليسار وعليك بالأمام وهو ما أرشد إليه النبي صلى الله عليه وسلم في قوله: “عَلَيكُم بِسُنَّتي وَسُنََّة الخُلَفَاء الرَاشِدين”

ولا شك أن الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السلف لا الانتماء إلى حزب معين يسمى السلفيين، والواجب أن تكون الأمة الاسلامية مذهبها مذهب السلف الصالح لا التحزب إلى من يسمى (السلفيون) فهناك طريق السلف وهناك حزب يسمى (السلفيون) والمطلوب اتباع السلف، إلا أن الإخوة السلفيين هم أقرب الفرق إلى الصواب ولكن مشكلتهم كغيرهم أن بعض هذه الفرق يضلل بعضاً ويبدعه ويفسقه، ونحن لا ننكر هذا إذا كانوا مستحقين، لكننا ننكر معالجة هذه البدع بهذه الطريقة، والواجب أن يجتمع رؤساء هذه الفرق، ويقولون: بيننا كتاب الله عزّ وجل وسنة رسوله فلنتحاكم إليهما لا إلى الأهواء والآراء، ولا إلى فلان أو فلان، فكلٌّ يخطئ ويصيب مهما بلغ من العلم والعبادة ولكن العصمة في دين الإسلام

“(Faedah ke-16 dari hadits Arbain nomer 28) adalah jika muncul banyak firqah (hizib atau sekte atau kelompok) di dalam umat, maka janganlah bergabung kepada salah satu kelompok pun! Di jaman dahulu muncul kelompok semisal Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyah dan Rafidhah. Kemudian di jaman ini muncul kelompok Ikhwaniyun, Tablighiyun dan Salafiyun (seperti forum Salafy Tuban, forum Salafy Balikpapan dan sebagainya, pen) dan kelompok lainnya. Semua kelompok ini hendaknya kamu jadikan di sebelah kirimu dan terus majulah ke depan, yaitu bimbingan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits beliau: “Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin setelahku.”

Tidak diragukan lagi bahwa yang wajib atas semua kaum muslimin adalah agar madzhab mereka adalah madzhab as-Salaf, bukan berloyal dan bergabung kepada kelompok tertentu yang bernama ‘Salafiyin’ (seperti forum Salafy Cirebon, forum Salafy Bandung dan sebagainya, pen). Yang wajib adalah agar madzhab kaum muslimin adalah madzhab as-Salaf ash-Shalih, bukan bergabung atau membuat grup atau kelompok yang bernama ‘Salafiyun’. Maka di sana ada jalan as-Salaf dan di sana juga ada grup yang bernama ‘Salafiyin’. Yang dituntut adalah mengikuti as-Salaf. Hanya saja kelompok ‘Salafiyun’ ini lebih mendekati kebenaran (bukan di atas kebenaran, pen). Akan tetapi problematika mereka (yang membuat grup atau forum salafy, pen) adalah seperti problematika kelompok yang lainnya, sebagian kelompok menganggap sesat kelompok yang lainnya, menganggap bid’ah bahkan menganggap fasiq kelompok lainnya. Kami tidak mengingkari penisbatan as-Salaf pada mereka jika memang mereka berhak mendapatkannya. Tetapi kami mengingkari tindakan mengatasi bid’ah perpecahan ini dengan cara seperti ini (yakni dengan membentuk hizib atau kelompok serupa, pen). Maka yang wajib adalah agar pemimpin masing-masing kelompok itu berkumpul dan berikrar: “Di antara kita terdapat Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya. Maka mari kita berhukum dengan keduanya, bukan kepada hawa nafsu dan pemikiran masing-masing, juga bukan kepada Fulan dan Fulan. Maka masing-masing kelompok dan tokohnya bisa benar dan bisa keliru seberapa pun tinggi ilmu dan ibadah mereka. Sifat maksum hanya pada al-Islam.” (Syarh al-Arbain an-Nawawiyah hadits: 28 hal: 282).

Maka jika Al-Akh Afifuddin dan kelompoknya bertanya: “Mengapa kalian mengkritisi kelompok Salafiyah kami? Bukankah penisbatan kepada as-Salaf itu merupakan sesuatu yang mulia?”

Maka Penulis menjawab: kami tidak menyalahkan penisbatan kepada as-Salaf, karena penisbatan kepada as-Salaf termasuk sesuatu yang mulia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

لَا عَيْبَ عَلَى مَنْ أَظْهَرَ مَذْهَبَ السَّلَفِ وَانْتَسَبَ إلَيْهِ وَاعْتَزَى إلَيْهِ بَلْ يَجِبُ قَبُولُ ذَلِكَ مِنْهُ بِالِاتِّفَاقِ . فَإِنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ لَا يَكُونُ إلَّا حَقًّا . فَإِنْ كَانَ مُوَافِقًا لَهُ بَاطِنًا وَظَاهِرًا : فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُؤْمِنِ الَّذِي هُوَ عَلَى الْحَقِّ بَاطِنًا وَظَاهِرًا . وَإِنْ كَانَ مُوَافِقًا لَهُ فِي الظَّاهِرِ فَقَطْ دُونَ الْبَاطِنِ : فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُنَافِقِ . فَتُقْبَلُ مِنْهُ عَلَانِيَتُهُ وَتُوكَلُ سَرِيرَتُهُ إلَى اللَّهِ . فَإِنَّا لَمْ نُؤْمَرْ أَنْ نُنَقِّبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلَا نَشُقَّ بُطُونَهُمْ .

“Tidak ada aib (cacat) atas orang yang menampakkan madzhab as-Salaf dan bernisbat kepadanya, bahkan wajib untuk menerima pengakuan itu sesuai kesepakatan (ulama, pen), karena madzhab as-Salaf tidak ada lain kecuali kebenaran. Jika ia (orang yang menisbatkan dirinya kepada as-Salaf, pen) mencocoki as-Salaf secara lahir dan batin, maka ia menduduki seorang mukmin yang berada di atas al-Haqq secara lahir dan batin. Jika ia hanya mencocoki secara lahiriyah saja bukan secara batin, maka ia menduduki orang munafik. Maka hukum lahiriyahnya diterima dan hukum batinnya diserahkan kepada Allah, karena kita tidak diperintahkan membedah hati dan perut manusia.” (Majmu’ al-Fatawa: 4/149).

Yang kami permasalahkan adalah menjadikan penisbatan yang syar’i sebagai alat untuk membentuk fanatisme dan hizbiyah. Bukankah penamaan ‘Muhajirin dan Anshar’ itu penamaan yang syar’i? Tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam murka ketika penamaan ‘Muhajirin dan Anshar’ digunakan untuk fanatisme dan kesukuan.

Jabir bin Abdillah radliyallahu anhuma berkata:

اقْتَتَلَ غُلاَمَانِ غُلاَمٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَغُلاَمٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَنَادَى الْمُهَاجِرُ أَوِ الْمُهَاجِرُونَ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ. وَنَادَى الأَنْصَارِىُّ يَا لَلأَنْصَارِ. فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « مَا هَذَا دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ »

“Dua orang pemuda saling bertikai. Ada seorang pemuda dari Muhajirin dan seorang pemuda dari Anshar. Maka pemuda Muhajirin berkata: “Wahai orang-orang Muhajirin, tolonglah aku!” Dan pemuda Anshar berkata: “Wahai orang-orang Anshar, tolonglah aku!” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar dan berkata: “Apa-apaan ini? Ini adalah seruan Jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari: 4905, Muslim: 6747 dan at-Tirmidzi: 3315).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فهاذان الإسمان المهاجرون والأنصار اسمان شرعيان جاء بهما الكتاب والسنة وسماهما الله بهما كما سمانا المسلمين من قبل وفي هذا وانتساب الرجل إلى المهاجرين والأنصار انتساب حسن محمود عند الله وعند رسوله ليس من المباح الذي يقصد به التعريف فقط كالانتساب إلى القبائل والأمصار ولا من المكروه أو المحرم كالانتساب إلى ما يفضي إلى بدعة أو معصية أخرى ثم مع هذا لما دعا كل واحد منهما طائفة منتصرا بها أنكر النبي صلى الله عليه و سلم ذلك وسماها دعوى الجاهلية

“Kedua penamaan ‘Muhajirin’ dan ‘Anshar’ adalah penamaan yang syar’i, tertera dalam al-Kitab dan as-Sunnah dan Allah pun menamakan keduanya sebagaimana Allah menamakan kita sebagai ‘Muslimin’ dalam kitab-kitab terdahulu dan di dalam ini (yakni al-Quran, pen). Penisbatan seseorang kepada Muhajirin dan Anshar adalah penisbatan yang bagus dan terpuji di sisi Allah dan rasul-Nya, bukan sekedar penisbatan yang mubah yang digunakan sebagai pembeda seperti penisbatan kepada kabilah dan negeri, juga bukan penisbatan yang makruh (dibenci) atau haram seperti penisbatan kepada perkara yang mengarah kepada kebid’ahan dan kemaksiatan lain. Kemudian ketika masing-masing pemuda saling memanggil kelompoknya untuk membantu melawan kelompok lainnya, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingkarinya dan menyebutnya sebagai ‘seruan Jahiliyah’.” (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim Mukhalafati Ash-habil Jahim: 71).

Sehingga meskipun penamaan Salaf dan Salafy itu merupakan penamaan yang syar’i, tetapi jika digunakan untuk membentuk grup atau forum Salafy kemudian menganggap sesat mereka yang di luar grup atau forumnya, maka itupun disebut dengan ‘seruan Jahiliyah’. Bukankah penamaan ‘Ikhwanul Muslimin’ dan ‘Jamaah Islamiyah’ juga merupakan penamaan yang syar’i menurut pengikutnya??

Al-Firqatun Najiyah

Jika semua kelompok yang mengaku paling benar tidak bisa lepas dari ancaman hadits ‘Iftiraqil Ummah’, maka siapa lagi kelompok yang selamat itu?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan:

فَأَهْلُ الْحَقِّ هُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَأَهْلُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ عَلَى الْإِطْلَاقِ هُمْ الْمُؤْمِنُونَ، فَلَيْسَ الْحَقُّ لَازِمًا لِشَخْصٍ بِعَيْنِهِ دَائِرًا مَعَهُ حَيْثُمَا دَارَ، لَا يُفَارِقُهُ قَطُّ إلَّا الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذْ لَا مَعْصُومَ مِنْ الْإِقْرَارِ عَلَى الْبَاطِلِ غَيْرُهُ، وَهُوَ حُجَّةُ اللَّهِ الَّتِي أَقَامَهَا عَلَى عِبَادِهِ وَأَوْجَبَ اتِّبَاعَهُ وَطَاعَتَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ. وَلَيْسَ الْحَقُّ أَيْضًا لَازِمًا لِطَائِفَةٍ دُونَ غَيْرِهَا إلَّا لِلْمُؤْمِنِينَ، فَإِنَّ الْحَقَّ يَلْزَمُهُمْ إذْ لَا يَجْتَمِعُونَ عَلَى ضَلَالَةٍ، وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَقَدْ يَكُونُ الْحَقُّ فِيهِ مَعَ الشَّخْصِ أَوْ الطَّائِفَةِ فِي أَمْرٍ دُونَ الْأَمْرِ، وَقَدْ يَكُونُ الْمُخْتَلِفَانِ كِلَاهُمَا عَلَى بَاطِلٍ، وَقَدْ يَكُونُ الْحَقُّ مَعَ كُلٍّ مِنْهُمَا مِنْ وَجْهٍ دُونَ وَجْهٍ…الخ

“Ahlul Haqq adalah Ahlul Kitab dan as-Sunnah. Ahlul Kitab dan as-Sunnah secara mutlak adalah kaum mukminin. Maka al-Haqq tidaklah melekat kepada seorang pun dan dimana pun ia berada, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena tidak ada keterjagaan dari membiarkan kebatilan selain beliau. Beliau menjadi hujjah Allah yang Allah tegakkan atas hamba-hamba-Nya dan Allah mewajibkan mereka untuk menaati beliau dalam segala hal. Al-Haqq juga tidak melekat pada kelompok tertentu (baik kelompok yang mengaku salafi atau bukan, pen) bukan lainnya, kecuali kaum mukminin. Ini karena al-Haqq itu melekat pada mereka (kaum mukminin) sehingga mereka tidak akan bersepakat di atas kesesatan. Adapun selain itu, maka al-Haqq terkadang melekat pada seseorang atau suatu kelompok dalam satu sisi bukan sisi lainnya. Terkadang kedua kelompok berselisih, tetapi keduanya di atas kebatilan. Terkadang al-Haqq bersama salah satunya dalam satu sisi bukan sisi lainnya…dst.” (Majmu’ al-Fatawa: 6/609).

Begitu pula arahan al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah untuk kita yang hidup di jaman ini. Beliau berkata:

والمعنى: أن الفرقة الناجية هي الجماعة المستقيمة على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم، من توحيد الله، وطاعة أوامره، وترك نواهيه، والاستقامة على ذلك قولاً وعملاً وعقيدة، هم أهل الحق، وهم دعاة الهدى ولو تفرقوا في البلاد، يكون منهم في الجزيرة العربية، ويكون منهم في الشام، ويكون منهم في أمريكا، ويكون منهم في مصر، ويكون منهم في دول أفريقيا، ويكون منهم في آسيا، فهم جماعات كثيرة يعرفون بعقيدتهم وأعمالهم، فإذا كانوا على طريقة التوحيد والإيمان بالله ورسوله، والاستقامة على دين الله الذي جاء به الكتاب وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم فهم أهل السنة والجماعة، وإن كانوا في جهات كثيرة، ولكن في آخر الزمان يقلون جداً. فالحاصل: أن الضابط هو استقامتهم على الحق، فإذا وجد إنسان أو جماعة تدعو إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، وتدعو إلى توحيد الله واتباع شريعته فهؤلاء هم الجماعة، وهم من الفرقة الناجية، وأما من دعا إلى غير كتاب الله، أو إلى غير سنة الرسول صلى الله عليه وسلم فهذا ليس من الجماعة، بل من الفرق الضالة الهالكة، وإنما الفرقة الناجية: دعاة الكتاب والسنة، وإن كانت منهم جماعة هنا وجماعة هناك ما دام الهدف والعقيدة واحدة..الخ

“Makna hadits di atas adalah bahwa kelompok yang selamat adalah kelompok yang ber-istiqamah di atas ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya radliyallahu anhum, yang berupa mentauhidkan Allah, menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan ber-istiqamah di atasnya baik secara perbuatan, ucapan ataupun keyakinan. Mereka itulah Ahlul Haqq. Mereka itu para penyeru kebenaran meskipun terpisah-pisah di berbagai negara. Di antara mereka ada yang di Jazirah Arah, ada yang di Syam, ada yang di Amerika, ada yang di Mesir, ada yang di beberapa negeri di Afrika dan ada pula yang di Asia. Mereka meliputi banyak jamaah dan kelompok dan dapat dikenal dari akidah dan amalan mereka. Jika mereka berada di atas jalan tauhid, mengimani Allah dan rasul-Nya dan ber-istiqamah di atas agama Allah yang berdasarkan al-kitab dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka mereka adalah Ahlussunnah wal Jamaah, meskipun mereka di banyak arah. Akan tetapi di akhir jaman jumlah mereka sangat sedikit. Intinya adalah bahwa batasannya adalah keteguhan mereka di atas al-Haqq. Maka apabila ditemukan seorang manusia atau suatu kelompok yang berdakwah kepada kitabullah dan sunnah rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, berdakwah kepada tauhidullah dan mengikuti syariat-Nya, maka mereka adalah al-Jama’ah, yaitu al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat ,pen). Adapun orang yang berdakwah kepada selain kitabullah dan selain sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka ini bukanlah al-Jama’ah, tetapi termasuk sekte-sekte yang sesat. Kelompok yang selamat hanyalah para da’i al-Kitab dan as-Sunnah, meskipun di antara mereka berupa jamaah di sini dan jamaah di sana, selagi tujuan dan akidahnya adalah satu..dst.”

Kata Ba’abduh, Muwazanah itu Sururi

Pengertian ‘Muwazanah’ adalah menimbang antara kebaikan dan keburukan seseorang. Mereka yang gagal faham menganggap bahwa ‘Muwazanah’ secara mutlak adalah Manhaj Sururi. Ini bisa dibuktikan dari ucapan pimpinan kelompok ini, yaitu Al-Akh Luqman Ba’abduh yang dalam ceramahnya membantah al-Allamah Washiyullah Abbas hafizhahullah: “SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN BIMBINGAN KEPADA SYAIKH WASHIYYULLAH ABBAS YG KETIKA DITANYAKAN KEPADANYA TENTANG ZAKIR NAIK, IA MENGATAKAN BAHWA, DIA (ZAKIR NAIK) ADALAH SEORANG DOKTER YANG BELAJAR ISLAM, IA MENYERUH KEPADA AL QUR`AN DAN SUNNAH DAN DIA PUNYA KEBAIKAN YANG BANYAK, KALAU ADA KESALAHAN MAKA KEBAIKAN YANG BANYAK ITU MENUTUPI..” Kemudian Saudara Luqman melanjutkan: “INI MANHAJ SURURIYYIN.” (Rekaman ceramah ‘Mengenal Akidah dan Manhaj Zakir Naik).

Dengan manhaj ini Al-Akh Afifuddin dan kelompoknya mudah sekali memasukkan seorang Ahlussunnah yang tergelincir, dimasukkan ke dalam 72 firqah sesat, kemudian mereka menjulukinya dengan MLM, Roja’iyun, Turatsiyun dan sebagainya.

Padahal yang benar tidaklah demikian. Maka di sini perlu dibedakan antara ‘Muwazanah dalam Bab Tahdzir dan Nasehat’ dan ‘Muwazanah di dalam menilai kedudukan seorang tokoh atau kelompok’.

Adapun ‘Muwazanah dalam Bab Tahdzir dan Nasehat’, maka itu termasuk Manhaj Sururi. Ketika kita memperingatkan kaum muslimin terhadap kesalahan seseorang, maka tidak harus disebutkan kebaikannya.

Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkata:

الواجب على أهل العلم إنكار البدع والمعاصي الظاهرة بالأدلة الشرعية , وبالترغيب والترهيب والأسلوب الحسن , ولا يلزم عند ذلك ذكر حسنات المبتدع ..الخ

“Yang wajib atas para ulama untuk mengingkari Ahlul Bid’ah dan Ahlul maksiat yang menampakkan kesesatannya dengan dalil-dalil syar’i, juga dengan cara memotivasi dan menakut-takuti, juga dengan cara yang baik. Dan ketika mengingkari atau mentahdzir tidak harus disebutkan kebaikan-kebaikan Ahlul Bid’ah tersebut…dst.” (Majmu’ Fatawa al-Allamah Ibni Baaz: 9/352).

Di antara dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

«مَا أَظُنُّ فُلاَنًا وَفُلاَنًا يَعْرِفَانِ مِنْ دِينِنَا شَيْئًا» قَالَ اللَّيْثُ: «كَانَا رَجُلَيْنِ مِنَ المُنَافِقِينَ».

“Saya kira bahwa Fulan dan Fulan tidak mengerti agama kita sama sekali.” Al-Laits berkata: “Mereka adalah kedua orang munafik.” (HR. Al-Bukhari: 6067 dari Aisyah radliyallahu anha).

Yang menjadi catatan kita adalah ketika mentahdzir atau meng-ghibah Ahlul Bid’ah, maka kita tidak boleh melampaui batas, yaitu dengan mengungkap aib dan cacat yang lainnya –yang tidak memiliki hubungan dengan kesalahan yang ditahdzir- di depan khalayak. Dan ini yang menjadi kesalahan kelompok Al-Akh Afifuddin ketika mentahdzir kesalahan Ust Fulan, mereka juga menelanjangi ustadz tersebut dengan aib-aib yang lainnya sehingga kehormatannya jatuh.

Al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat tahun 974 H) rahimahullah berkata:

قَالَ الْأَذْرَعِيُّ : وَفِي أَذْكَارِ النَّوَوِيِّ مِمَّا يُبَاحُ مِنْ الْغِيبَةِ أَنْ يَكُونَ مُجَاهِرًا بِفِسْقِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ كَالْمُجَاهَرَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَمُصَادَرَةِ النَّاسِ وَأَخْذِ الْمَكْسِ وَجِبَايَةِ الْأَمْوَالِ ظُلْمًا ، فَيَجُوزُ ذِكْرُهُ بِمَا تَجَاهَرَ بِهِ وَيَحْرُمُ ذِكْرُهُ بِغَيْرِهِ مِنْ الْعُيُوبِ .

“Al-Adzra’i berkata: “Di dalam kitab ‘al-Adzkar’ karya an-Nawawi terdapat keterangan bahwa di antara perkara yang boleh di-ghibahi adalah jika seseorang itu menampakkan secara terang-terangan kefasikan dan kebid’ahannya, seperti meminum khamer di muka umum, berbuat zalim kepada manusia, memungut pajak dan merampas harta secara zalim. Maka diperbolehkan menyebutkan kesalahan yang ditampakkan dan haram menyebutkan aib-aib yang lainnya (yang tidak berhubungan dengan perkara yang ditahdzir, pen).” (Az-Zawajir an Iqtirafil Kabair: 2/249).

Adapun di dalam menilai kedudukan seorang tokoh, apakah ia layak dipuji ataukah dicela, maka kita perlu melakukan ‘Muwazanah’.

Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menegaskan:

هذا فيه تفصيل: أما من أراد أن يقوم الرجل ويذكُر حياته، فالواجب أن يذكر حسناته وسيئاته. وأما من أراد النصح والتحذير من بدعته وخطره فلا يذكر الحسنات؛ لأنه إذا ذكر الحسنات فهذا يرغِّب الناس بالاتصال به.

“Muwazanah itu perlu perincian. Adapun orang yang ingin mendudukkan seorang tokoh dan menceritakan kehidupannya, maka ia wajib menyebutkan kebaikan dan kesalahannya. Adapun orang yang ingin menasehati dan men-tahdzir dari kebid’ahan dan bahayanya, maka tidak perlu menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Karena jika ia menyebutkan kebaikannya, maka ini bisa mendorong orang untuk bergabung dengannya.” (Liqa’ul Babil Maftuh: 121/42).

Melakukan ‘Muwazanah’ di dalam menilai tokoh merupakan ‘Manhaj Salaf’, bukan ‘Manhaj Sururi’ sebagaimana persangkaan Al-Akh Ba’abduh dan kelompoknya.

Barangsiapa yang lebih banyak kebaikannya, maka ia layak dipuji dan dibela. Seorang tokoh yang mempunyai andil besar di dalam mendakwahkan al-Kitab dan as-Sunnah tidaklah bisa digugurkan keutamaannya dengan beberapa kesalahan yang ia lakukan.

Al-Imam Sa’id bin al-Musayyib (wafat tahun 93 H) rahimahullah berkata:

ليس من عالم ولا شريف ولا ذي فضل إلا وفيه عيب، ولكن من كان فضله أكثر من نقصه ذهب نقصه لفضله، كما أنه من غلب عليه نقصانه ذهب فضله.

“Tidaklah seorang ulama pun atau seorang berpangkat pun atau orang-orang yang besar kecuali mempunyai cacat. Barangsiapa yang keutamaannya lebih banyak daripada kekurangannya, maka hilanglah kekurangannya karena keutamaannya. Sebagaimana orang yang banyak kekurangannya akan hilanglah keutamaannya.” (Atsar riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 809 (2/105)).

Al-Imam Abdullah bin al-Mubarak (wafat tahun 181 H) rahimahullah berkata:

إذا غلبت محاسن الرجل على مساوئه لم تذكر المساوئ، وإذا غلبت المساوئ على المحاسن لم تذكر المحاسن

“Jika kebaikan seseorang lebih banyak daripada kesalahannya, maka kesalahannya tidak boleh disebut. Jika kesalahannya lebih banyak daripada kebaikannya, maka kebaikan-kebaikannya tidak disebut.” (Siyar A’lamin Nubala’: 8/398).

Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

لا نعلم أحدا أُعطي طاعة الله حتى لم يخلطها بمعصية إلا يحيى بن زكريا ، ولا عصى الله فلم يَخلط بطاعة ، فإذا كان الأغلب الطاعة فهو المعدّل ، وإذا كان الأغلب المعصية فهو المجرّح

“Kami tidak mengetahui ada seseorang yang diberi rejeki ‘ketaatan kepada Allah’ kemudian ketaatan tersebut tidak dicampuri oleh kemaksiatan, kecuali Nabi Yahya bin Zakariya alaihimassalam. Maka beliau tidak pernah berbuat maksiat kepada Allah sehingga tercampur dengan ketaatan. Maka jika perkara yang lebih dominan pada orang tersebut adalah ketaatannya, maka ia berhak di-ta’dil (dipuji dan dihormati, pen). dan jika yang lebih dominan adalah kemaksiatannya, maka ia berhak di-jarh (dicela, pen).” (Atsar riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq: 64/197, juga lihat Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra: 3/327).

Ucapan Ibnul Musayyib, Ibnul Mubarak dan asy-Syafi’i rahimahumullah di atas jika dilihat dengan kacamata Al-Akh Ba’abduh dan kelompoknya, maka itu merupakan ‘Manhaj Sururi’. Wallahul musta’an.

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah juga berkata:

ومن له علم بالشرع والواقع يعلم قطعاً أن الرجل الجليل الذي له في الإسلام قدم صالح وآثار حسنة، وهو من الإسلام وأهله بمكان قد تكون منه الهفوة والزلة هو فيها معذور، بل ومأجور لاجتهاده، فلا يجوز أن يتبع فيها، ولا يجوز أن تُهدر مكانته وإمامته ومنزلته من قلوب المسلمين

“Barangsiapa yang mempunyai ilmu tentang syariat dan kenyataan, maka ia akan mengetahui secara pasti bahwa seseorang (ulama) yang mempunyai andil besar dalam al-Islam dan rekam jejak yang baik, maka ia di dalam Islam dan ahlinya menduduki suatu kedudukan yang mana terkadang terjadi kesalahan dan ketergelinciran padanya dengan kesalahan yang diampuni, bahkan diberi pahala atas ijtihadnya. Maka ketergelincirannya tidak boleh diikuti namun kedudukannya dan ke-imam-annya juga tidak boleh dijatuhkan dari hati kaum muslimin.” (I’lamul Muwaqqi’in: 3/283).

Beliau juga berkata:

ولكن من قواعد الشرع والحكمة أيضا أن من كثرت حسناته وعظمت وكان له في الاسلام تأثير ظاهر فإنه يحتمل له ما لا يحتمل لغيره ويعفي عنه ما لا يعفي عن غيره

“Akan tetapi termasuk kaidah syariat dan juga termasuk hikmah bahwa seseorang yang mempunyai banyak kebaikan dan memiliki andil yang besar dalam al-Islam, maka ia layak diberikan udzur dengan udzur yang tidak diberikan kepada selainnya. Ia juga berhak dimaafkan kesalahannya dengan ampunan yang tidak diberikan kepada selainnya.” (Miftah Daris Sa’adah: 1/176).

Maka ucapan Ibnul Qayyim di atas jika dilihat dengan kacamata Al-Akh Ba’abduh dan kelompoknya, maka itu merupakan ‘Manhaj Sururi’. Wallahul musta’an.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menyatakan:

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنْ الْمُؤْمِنِينَ – الْمُتَّقِينَ أَوْلِيَاءُ اللَّهِ – قَدْ لَا يَحْصُلُ لَهُمْ مِنْ كَمَالِ الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ مَا حَصَلَ لِلصَّحَابَةِ فَيَتَّقِي اللَّهَ مَا اسْتَطَاعَ وَيُطِيعُهُ بِحَسَبِ اجْتِهَادِهِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَصْدُرَ مِنْهُ خَطَأٌ إمَّا فِي عُلُومِهِ وَأَقْوَالِهِ وَإِمَّا فِي أَعْمَالِهِ وَأَحْوَالِهِ وَيُثَابُونَ عَلَى طَاعَتِهِمْ وَيَغْفِرُ لَهُمْ خَطَايَاهُمْ

“Sesungguhnya banyak dari kalangan kaum mukminin –orang-orang yang bertakwa, para wali Allah- terkadang tidak sampai kepada derajat kesempurnaan ilmu dan iman sebagaimana yang terjadi pada para sahabat radliyallahu anhum. Sehingga ia (wali atau ulama tersebut, pen) bertakwa kepada Allah semampunya dan menaati-Nya sebatas ijtihadnya. Dan pastilah muncul kekeliruan darinya, bisa dari ilmu-ilmunya, bisa dari pendapat-pendapatnya, dan bisa pula dari amalan dan keadaannya. Maka mereka tetap mendapatkan pahala atas ketaatan mereka dan kesalahan-kesalahan mereka akan diampuni.” (Majmu’ al-Fatawa: 11/15).

Syaikhul Islam juga berkata:

بَلْ فِيهِمْ الْمُذْنِبُ وَالْمُسِيءُ وَفِيهِمْ الْمُقَصِّرُ فِي الِاجْتِهَادِ لِنَوْعِ مِنْ الْهَوَى لَكِنْ إذَا كَانَتْ السَّيِّئَةُ فِي حَسَنَاتٍ كَثِيرَةٍ كَانَتْ مَرْجُوحَةً مَغْفُورَةً ” وَأَهْلُ السُّنَّةِ ” تُحْسِنُ الْقَوْلَ فِيهِمْ وَتَتَرَحَّمُ عَلَيْهِمْ وَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ لَكِنْ لَا يَعْتَقِدُونَ الْعِصْمَةَ مِنْ الْإِقْرَارِ عَلَى الذُّنُوبِ وَعَلَى الْخَطَأِ فِي الِاجْتِهَادِ إلَّا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahkan di kalangan ulama ada yang berbuat dosa dan berbuat jelek (di dalam ber-ijtihad), di antara mereka ada yang bertindak ceroboh dalam ber-ijtihad karena semacam hawa nafsu (seperti membela fanatisme madzhab dsb, pen), akan tetapi jika kesalahan tersebut dibandingkan dengan kebaikan mereka yang banyak (seperti perjuangan mereka menyebarkan al-Kitab dan as-Sunnah, pen), maka kesalahan tersebut bisa jadi dikalahkan dan diampuni. Dan ‘Ahlussunnah’ berkata baik terhadap mereka, membacakan ‘rahimahullah’ dan memintakan ampunan untuk mereka. Akan tetapi Ahlussunnah tidak meyakini ke-maksum-an mereka dari dosa dan kesalahan ijtihad kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (Majmu’ al-Fatawa: 4/434).

Maka ucapan Syaikhul Islam di atas jika dilihat dengan kacamata Al-Akh Ba’abduh dan kelompoknya, maka itu merupakan ‘Manhaj Sururi’. Wallahul musta’an.

Kemudian Manhaj di atas juga diikuti oleh al-Allamah asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah. Beliau berkata:

الواجب على من نسب إلى شخص خطأ في قول أو اعتقاد أن يُبَيِّن المصدر الذي فيه هذا الخطأ من كتب الشخص نفسه، فإذا بيَّنَ ذلك فقد برئ من العهدة وانتفت عنه التهمة .

وأما أن هذا الخطأ إذا صح صدوره من الشخص يضيع وسط خيره الكثير؛ فهذا فيه تفصيل : إن كان هذا الخطأ في الاعتقاد بأن يكون شركًا أكبر؛ فهذا يضيع معه كل خير ولا يبقى معه عمل صالح، وإن كان الخطأ دون ذلك من مسائل الاعتقاد ولا يصل إلى حد الكفر والشرك؛ فهذا نرجو أن يغفره الله لصاحبه وأن يرجح به حسناته، وإن كان الخطأ في مسائل الاجتهاد -؛ والشخص من أهل الاجتهاد -؛ فهذا خطأ مغفور ولصاحبه الأجر على اجتهاده .

“Yang wajib bagi orang yang menisbatkan kepada seorang tokoh tentang suatu kesalahan, baik berupa kesalahan pendapat atau kesalahan akidah dari tokoh tersebut adalah agar menjelaskan sumber dari buku atau tulisan tokoh yang bersangkutan yang di dalamnya terdapat kesalahan yang dituduhkan. Jika ia telah menjelaskan kesalahan tersebut, maka ia telah terbebas dari kewajiban dan hilanglah tuduhan darinya.

Adapun jika benar bahwa kesalahan ini muncul dari tokoh tersebut dan bisa menyia-siakan kebaikannya yang banyak, maka ini perlu perincian. Jika kesalahan tersebut merupakan kesalahan akidah seperti syirik akbar, maka kesalahan ini menghilangkan semua kebaikan tokoh tersebut dan tidak tersisa dari satu kebaikan pun. Jika kesalahannya lebih kecil dari itu dari permasalahan akidah dan tidak sampai kepada derajat kufur dan syirik, maka kami berharap agar Allah mengampuni kesalahan tersebut untuk pelakunya dan juga berharap agar kebaikan-kebaikannya lebih berat daripada kesalahannya. Jika kesalahannya dalam permasalahan ijtihad –sedangkan ia termasuk ahlul ijtihad-, maka kesalahan ini diampuni dan pemiliknya mendapatkan pahala atas ijtihadnya.” (Al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan: 26/8).

Maka dari penjelasan al-Fauzan di atas, kesalahan-kesalahan ulama dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga):

Pertama: kesalahan dalam akidah yang bisa menyebabkan pelakunya syirik akbar atau kafir, maka ini menghilangkan segala kebaikan dari ulama tersebut. Sebagai contohnya adalah kesalahan para ulama kuburiyun dan tokoh wihdatul wujud. Maka mereka berhak dicela dan dijarh.

Kedua: kesalahan dalam permasalahan akidah yang tidak menyebabkan syirik atau kafir, maka semoga Allah menghapus kesalahan tersebut dengan kebaikan-kebaikannya yang banyak. Sebagai contohnya adalah kesalahan Qatadah, Ibnu Khuzaimah, al-Qaffal, Ibnu Hazm dan as-Suyuthi. Maka kita tidak boleh menjatuhkan kehormatan mereka.

Ketiga: kesalahan dalam bidang ijtihadiyah sebagaimana yang terjadi pada ulama madzhab empat. Maka kita tidak boleh mencela ulama yang tergelincir tersebut.

Maka menurut kacamata Al-Akh Ba’abduh dan pengikutnya, asy-Syaikh al-Allamah Shalih Fauzan hafizhahullah adalah Sururi. Wallahul musta’an.

Antara ar-Ruhaili dan as-Suyuthi

Di antara akhlak dan manhaj Al-Akh Afifuddin dan kelompoknya adalah memvonis sebagai ‘Ahlul Bid’ah’ dan ‘Hizbi’- serta memasukkannya ke dalam 72 sekte sesat- terhadap Ahlussunnah yang tergelincir.

Di antara contohnya adalah kasus yang menimpa asy-Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah dengan beberapa kesalahan beliau. Di antaranya adalah ucapan beliau:

خذ العلم من كل من عنده علم ولو لم يبدع الجهم بن صفوان

“Ambillah ilmu dari setiap orang yang mempunyai ilmu, walaupun ia tidak mem-bid’ah-kan Jahm bin Shafwan.”

Terhadap kesalahan ulama kita tidak boleh diam, tetapi harus memperingatkannya. Al-Allamah Shalih Fauzan hafizhahullah pernah ditanya tentang ucapan ar-Ruhaili ini. Beliau menjawab:

هذا غير صحيح ….هذا يُروّج لأهل البدع ؟!

“Ini tidaklah benar… Ini akan melariskan Ahlul Bid’ah!!” (Ditanyakan dalam Pertemuan Terbuka di sela-sela Daurah Ilmiyah Ibnu Baaz di Masjid al-Kabir di Thaif tahun 1431. Lihat: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=112696 ) .

Pertanyaannya: Apakah dengan beberapa kesalahannya, Ibrahim ar-Ruhaili ini menjadi Ahlul Bid’ah yang sesat dan termasuk firqh Ruhailiyah yang menurut Al-Akh Afifuddin termasuk 72 sekte sesat??

Jawabannya: Beliau masih seorang ulama as-Sunnah, seorang Salafy. Al-Allamah al-Muhaddits Abdul Muhsin al-Abbad pernah ditanya:

شيخنا انتشر على النت وعلى مجموعات الواتس آب التي فيها اخوة سلفيون سوريون تحذير وتبديع بعض المشايخ وبعض أهل العلم أمثال (عبد العزيز الريس – عبد الله العبيلان – مشهور بن حسن آل سلمان – علي الحلبي – ابراهيم الرحيلي – عبد العظيم البدوي – سالم الطويل – عبد المالك الرمضاني…) ونتج عن هذا تصنيف الشباب بعضهم لبعض ومقاطعة من بعضهم رغم أن السلفيين فى السوريا قليلون وخصومنا كثيرون من الصوفية والتكفيرية والحزبية يكيدون لنا والواضح لا يخفى عليكم

فما قولكم شيخنا؟؟

Syaikhana, telah di menyebar di internet dan di grup-grup whatsap dan di dalamnya terdapat saudara-saudara kita salafîyûn dari Suriah, yang berisi tahdzir dan tabdi’ (vonis bid’ah) kepada sejumlah masyaikh dan ulama seperti :

  1. ‘Abdul ‘Aziz ar-Rayyis
  2. ‘Abdullah al-‘Ubailan
  3. Masyhur bin Hasan Alu Salman
  4. ‘Ali al-Halabi
  5. Ibrahim ar-Ruhaili
  6. ‘Abdul ‘Azhim Badawi
  7. Salim ath-Thawil
  8. ‘Abdul Malik ar-Ramadhani, dll

Dan dampak dari hal ini adalah tashnif (pengkotak-kotakan) di antara pemuda satu dengan lainnya, dan saling mengisolir diantara mereka, padahal salafîyin di Suriah sedikit dan musuh-musuh kita amatlah banyak baik dari kalangan shufiyah, takfiriyah dan hizbiyah yang selalu berbuat makar kepada kami  dan keadaan ini tentulah tidak tersamar atas Anda.

Apakah nasehat Anda, wahai Syaikh kami?

Beliau hafizhahullah menjawab:

لا تتفاجئ بانتشار هذه الامور في سوريا فقد انتشرت في روبا التي عدد المسلمين فيها قليل جدا , لا تلتفتوا لهذه الامور أبدا ولا تشتغلوا بها واحذروها وانشغلوا بطلب العلم وتعليم الناس واذا حذرنا من هؤلاء من يبقى؟؟

“Kalian tidak perlu heran dengan menyebarnya hal ini di Suriah, karena hal ini pun juga turut menyebar di Eropa yang kaum muslimin di dalamnya sangat minoritas. Jadi, kalian jangan sedikit pun dipalingkan oleh hal ini dan disibukkan dengannya. Berhati-hatilah dan sibukkan diri kalian dengan menuntut ilmu dan mengajar manusia. Apabila kita mentadzir para ulama tersebut di atas, siapa lagi yang akan tersisa??”

(Tanya Jawab al-Akh Umaid Zarzur kepada asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad ketika berziarah kepada beliau pada hari Ahad tanggal 17 Dzulhijjah 1435 H ba’da Ashar. Lihat: http://d.pr/f/xbhh)

Apa yang diucapkan oleh al-Allamah al-Abbad di atas mirip dengan apa yang diucapkan oleh al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah 700 tahun yang lalu. Beliau berkata:

ولو أنا كلما أخطأ إمامٌ في اجتهاده في آحاد المسائل خطأً مغفوراً له قمنا عليه وبدعناه وهجرناه، لما سلم معنا لا ابن نصر ولا ابن منده ولا من هو أكبر منهما، والله هو هادي الخلق إلى الحق، وهو أرحم الراحمين، فنعوذ بالله من الهوى والفظاظة

“Dan seandainya setiap kali seorang imam (ulama) yang terjatuh dalam kesalahan di dalam suatu masalah dengan kekeliruan yang bisa diampuni, kemudian kita menegakkan hukuman atasnya, kita mem-bid’ah-kannya dan kita meng-hajr-nya, niscaya tidak akan selamat seorang ulama pun bersama kita, tidak pula Muhammad bin Nashr, tidak pula Ibnu Mandah, dan tidak pula ulama yang lebih besar dari keduanya. Allah-lah yang menunjukkan para makhluk kepada al-haq. Dia adalah yang paling penyayang. Maka kami berlindung dari hawa nafsu dan sifat kasar.” (Siyar A’lamin Nubala’: 14/39-40).

Kemudian jika kita melihat kepada mereka yang dituduh sesat semisal ar-Ruhaili, ar-Rais, cs dan melihat kepada al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i (wafat tahun 911 H) rahimahullah, maka as-Suyuthi lebih berhak dinyatakan sebagai Ahlul Bid’ah sesat daripada ar-Ruhaili. Ini karena kesalahan as-Suyuthi lebih besar daripada kesalahan ar-Ruhaili cs.

Al-Allamah Zaid bin Hadi al-Madkhali rahimahullah berkata:

ومِمَّا أخذ العلماء عليه ما يأتي:

 أ- كونه صاحب نزعة صوفية.

ب- دفاعه عن ابن الفارض الملحد وتعصبه له الذي تجلى في رده على البقاعي حينما تكلم في ابن الفارض.

ج- لعنه لمن يرى أن أبوي النَّبِي ج من أهل النار

“Di antara perkara yang dikritik oleh para ulama atas as-Suyuthi sebagai berikut:

Pertama: beliau mempunyai pemikiran sufi (terutama pembelaan beliau terhadap Tarekat Syadziliyah di Mesir, pen).

Kedua: pembelaan beliau terhadap al-Mulhid Ibnu Faridl (tokoh Wihdatul Wujud, pen)

Ketiga: beliau melaknat orang yang menyatakan bahwa kedua orang tua Nabi shallallahu alaihi wasallam termasuk penduduk neraka (padahal inilah pendapat mayoritas ulama’, pen).” (Ad-Diwanul Malih: 14).

Dalam keadaan demikian pun, para ulama masih mengakui bahwa as-Suyuthi tetaplah sebagai ulama as-Sunnah.

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ Saudi Arabiyah yang diketuai oleh al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz menjawab:

والعلماء الكبار- مثل السيوطي وغيره- ينبه على أخطائهم، ويستفاد من علمهم، ولهم فضائل تغطي على ما عندهم من أخطاء، لكن الخطأ لا يقبل منهم ولا من غيرهم

“Para ulama besar semisal as-Suyuthi dan lainnya tetap harus diperingatkan tentang kesalahan-kesalahan mereka. Mereka juga tetaplah diambil faedah atas keilmuan mereka. Mereka memiliki banyak keutamaan yang bisa menutupi kesalahan mereka, akan tetapi kesalahan mereka dan juga kesalahan selain mereka tetap tidak bisa diterima (dan diikuti, pen).” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah al-Majmu’ah al-Ula nomer: 17811, pertanyaan ketiga (12/98)).

Dan setelah mengkritik as-Suyuthi, al-Allamah Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali tetap memasukkan beliau ke dalam jajaran ulama pembaharu dari kalangan Ahlul Hadits. Beliau berkata dalam syair:

أما السيوطي فسل عنه جوامعه ———- تنبيك حقًّا عن التأليف والدأب

“Adapun as-Suyuthi, maka tanyailah beliau tentang kitab Jawami’ beliau (yakni al-Jami’ul Kabir dan al-Jami’ush Shaghir, pen), maka kitab-kitab tersebut akan memberitahukan kepadamu tentang kemampuan beliau dalam karya tulis dan keilmuan beliau.” (Ad-Diwanul Malih: 14).

Mungkin, menurut Al-Akh Ba’abduh dan kelompoknya, al-Lajnah ad-Daimah dan asyikh Zaid al-Madkhali mengikuti ‘Manhaj Sururi’ karena melakukan ‘Muwazanah’. Wallahul musta’an.

Penutup

Munculnya orang-orang seperti kelompoknya ini adalah akibat dari ‘Gagal Faham’ atau ‘Waham’ terhadap dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka tidak bisa mendudukkan dalil pada tempatnya. Mana dalil yang harus kita cari perinciannya dan mana dalil yang tetap kita biarkan dalam keadaan global. Mareka juga ‘gagal faham’ terhadap pemutlakan hukuman dan vonis neraka. Mereka juga tidak bisa membedakan antara ‘Madzhab’ dan ‘Lazimul Madzhab’. Mereka juga ‘gagal faham’ terhadap ‘Muwazanah’ ala as-Salaf dan ‘Muwazanah’ ala Sururi. Mereka juga tidak sadar bahwa mereka telah membuat ‘Firqah’ tersendiri, meskipun mereka menolak tuduhan itu.

Sifat ‘gagal faham’ itu ternyata mereka warisi dari Khawarij dan sekte-sekte turunannya, semisal Takfiriyah dan Haddadiyah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ…الخ

“Akan muncul di akhir zaman suatu kaum yang muda usia mereka tetapi dungu pemikiran mereka. Mereka berkata dengan ucapan sebaik-baik manusia (yakni hadits Nabi, pen)..dst.” (HR. Al-Bukhari: 3345, Muslim: 1771, Abu Dawud: 4138 dan an-Nasai: 4033 dari Ali radliyallahu anhu).

Al-Imam Badruddin al-Aini al-Hanafi (wafat tahun 855 H) rahimahullah berkata:

قوله (سفهاء الأحلام) يعني عقولهم رديئة والأحلام جمع حلم بكسر الحاء وكأنه من الحلم بمعنى الأناءة والتثبت في الأمور وذلك من شعار العقلاء

“Sabda beliau ‘dungu pemikiran mereka” maksudnya adalah bahwa (kualitas) akal mereka adalah jelek. Kata ‘ahlam’ merupakan bentuk jamak dari ‘hilm’ dengan arti sikap santun (tidak tergesa-gesa) dan sikap tasabbut (memutuskan dengan kokoh dan bisa dipertanggungjawabkan) di dalam berbagai urusan. Ini adalah syiar (tanda) orang-orang yang berakal.” (Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari: 34/420).

Akhirnya Penulis berdoa:

اللهم يا مفهم سليمان فهمنا، ويا معلم داود علمنا، اللهم أرنا الحق حقاً، وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلاً، وارزقنا اجتنابه

“Ya Allah, Wahai Yang Memahamkan Sulaiman! Berilah kami pemahaman! Wahai Yang Mengajari Dawud! Ajarilah kami! Ya Allah, tampakkanlah kepada kami perkara yang benar sebagai perkara yang benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepada kami perkara yang batil sebagai perkara yang batil berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

اللهم أخرجنا من ظلمات الوهم وأكرمنا بنور الفهم وافتح علينا بمعرفة العلم وحسن أخلاقنا بالحلم و سهل لنا أبواب فضلك وانشر علينا من خزائن رحمتك يا أرحم الراحمين

“Ya Allah, keluarkanlah kami dari kegelapan waham (gagal faham). Muliakanlah kami dengan cahaya pemahaman. Bukakanlah atas kami pengetahuan ilmu (ad-dien, pen) dan kebaikan akhlak kami dengan sifat al-hilm (sikap santun). Mudahkanlah untuk kami segala pintu keutamaan-Mu. Sebarkanlah untuk kami dari gudang perbendaharaan rahmat-Mu. Ya Arhamar Rohimin.”

وصلى الله على خير البرية، وآله من أزواجه والذرية، وصحبه المشهود لهم بالخيرية

Iklan

Ditandai:, , , , , , , , , , , ,

One thought on “Penjelasan Hadits Perpecahan Umat

  1. Purnama Hadipraja 30 Mei 2017 pukul 15.03 Reply

    assalamu ‘alaikum ustadz.. mereka dari asy ariyyah kadang menghujat ibnu taimiyah kadang menggunakan pendapat beliau, dari kitab beliau yang “masih asli”..atau belum dirubah oleh syaikh bin baz.. klaim mereka bahwa kitab ibnu taimiyyah, dan beberapa ulama salaf lain, telah dirubah oleh gerakan wahabi untuk kepentingan golongan. mohon tanggapannya mengenai hal ini. jazakumullah khairan katsira

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: