Sunnah Tarkiyah dan Bid’ah Idhafiyah menurut Ulama Syafi’iyah

 

 

 

Sunnah Tarkiyah dan Bid’ah Idhafiyah menurut Ulama Syafi’iyah
Dialog di Kalangan Syafi’iyah tentang Bid’ah Idhafiyah dan Sunnah Tarkiyah
dr. M Faiq Sulaifi
 
 

 

 

Daftar Isi

Mukaddimah. 3

Pengertian Bid’ah. 9

Pengertian Sunnah Tarkiyah. 10

Sunnah Tarkiyah menurut Ulama Syafi’iyah. 14

Cara Menukilkan Sunnah Tarkiyah. 17

Antara ‘Tidak Ada Penukilan’ dan ‘Dinukilkan Tidak Ada’ 18

Memungut Zakat Sayuran dan Logam.. 21

I’tikaf di Selain Masjid. 22

Merutinkan Bacaan Ayat Fadhilah. 23

Melafalkan Niat. 23

Mendirikan Shalat Jumat bagi Kafilah. 24

Membantah Kebid’ahan dan Pelakunya. 25

Melanggar Sunnah Tarkiyah Berarti Melakukan Bid’ah. 25

Wudhu dengan Urutan Terbalik. 26

Hanya dalam Ranah Ta’abbudi 27

Qiyas dalam Ranah Ta’abbudi 29

Mengangkat Tangan ketika Berdoa. 31

Maslahat Mursalah. 33

Antara Maslahat Mursalah dan Bid’ah Hasanah. 35

Bid’ah Hasanah menurut al-Imam asy-Syafi’i 39

Makna Hadits tentang Bid’ah. 42

Perkara yang Dapat Dipahami Maksudnya. 44

Bid’ah Idhafiyah. 47

Shalat Dhuha Berjamaah. 48

Dzikir Berjamaah. 49

Pengkhususan Waktu Ibadah. 51

Pengkhususan Tempat Tertentu dengan Ibadah. 53

Mengkhususkan Ibadah di Kuburan Wali 54

Mengkhususkan Jabal Ramah sebagai Tempat Wukuf. 55

Pengkhususan Keadaan dan Tatacara Tertentu dengan Ibadah. 56

Mengubah Lafazh Dzikir. 59

Bacaan Ayat Kursi untuk Acara Tahlilan. 61

Berjabat Tangan setelah Shalat. 62

Anjuran Shalat Raghaib. 63

Pengkhususan Ziarah Kubur. 64

Antara Sunnah Taqririyah dan Mengadakan Bid’ah. 68

Tergelincir dalam Sikap Istihsan. 71

Dialog antara Syafi’i dan Hanafi 72

Luasnya Dzikir dalam Shalat. 76

Tingkatan Bid’ah. 80

Sikap terhadap Ahlul Bid’ah. 81

Boikot terhadap  Ahli Bid’ah. 82

Agama Sudah Sempurna. 85

Penutup. 86

 

 

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمد عبده ورسوله.

(Amma ba’du)

Sebagian kaum muslimin -yang menyukai kegiatan istighatsah secara berjamaah dan ziarah makam para wali- membolehkan kegiatan pengkhususan ibadah pada waktu-waktu tertentu dengan dalil-dalil keumuman ibadah. Menurut mereka terdapat dalil shahih yang membolehkan peng-khususan ibadah yang bersifat umum tersebut.

Di antara dalil tersebut –menurut mereka- adalah hadits Ibnu Umar radliyallahu anhuma. Beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُه

“Nabi SAW selalu mendatangi masjid Quba setiap hari sabtu baik dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai kendaraan, sedangkan Abdullah selalu melakukannya.” (HR. Al-Bukhari: 1118, Muslim: 2483).

Kemudian mereka membawakan komentar al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah:

وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم

“Di dalam hadits ini dengan sekian jalur yang berbeda terdapat dalil diperbolehkannya menjadikan hari-hari tertentu untuk sebuah ritual yang baik dan istiqamah. Hadits ini juga menerangkan bahwa larangan bepergian ke selain tiga masjid (Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsa, dan Masjid Nabawi) tidaklah haram (tetapi hanya makruh, pen).” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 3/69).

Dan masih banyak alasan-alasan mereka untuk membolehkan peng-khusus-an ibadah yang bersifat umum. Mereka juga menyatakan bahwa larangan tersebut hanyalah pendapat kaum Wahabi (Salafy) yang suka mengada-ada. Begitulah anggapan mereka. Ini bisa dilihat dalam situs mereka https://salafytobat.wordpress.com/category/dalil-shahih-bolehnya-mengkhususkan-amal-ibadah-pada-hari-hari-tertentu/.

Mereka juga menolak Manhaj Sunnah Tarkiyah dengan alasan bahwa penetapan ‘sunnah tarkiyah’ adalah monopoli kaum Wahabi saja. Banyak di antara mereka yang merujuk pada buku yang berjudul “Husnut Tafahhum wad Darki fi Mas’alatit Tarki” tulisan Abdullah bin Shiddiq al-Ghummari di dalam menolak sunnah tarkiyah. Sehingga mereka tetap saja melaksanakan amalan-amalan yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam –dan dikategorikan sebagai sunnah tarkiyah- seperti dzikir berjamaah, tahlilan,  istighatsahan dan sebagainya.

Pada tulisan ini akan dipaparkan pendapat-pendapat ulama Syafi’iyah di dalam larangan peng-khusus-an ibadah yang bersifat umum atau bid’ah idhafiyah dan pendapat-pendapat mereka tentang ‘Sunnah Tarkiyah’.

Mengapa hanya dikhususkan dengan pembahasan ulama ‘Syafi’iyah’ saja, bukan ‘Hanafiyah’ atau ‘Malikiyah’ atau ‘Hanabilah’ dan sebagainya?

Alasan pertama: karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mempelajari dan mengamalkan fikih ulama ‘Syafi’iyah’. Tetangga kita, teman sekantor dan orang-orang yang bermuamalah dengan kita di masjid, di pasar dan sebagainya kebanyakannya ‘mengaku’ mengikuti “Syafi’iyah”. Para tokoh dan kyai yang sedang kita bantah juga Syafi’iyah. Maka sebagai bentuk hikmah dalam dakwah dan ta’liful qulub (menjinakkan hati) hendaknya kita memperkenalkan Manhaj Salaf kepada mereka melalui ulama Syafi’iyah.

Dan demikianlah adab dalam berdakwah. Maka ketika kita berada di tengah-tengah kaum muslimin yang menggunakan fikih Hanabilah, maka kita pun mengajarkan Manhaj Salaf kepada mereka melalui ulama Hanabilah.

Al-Imam Malik bin Anas (wafat tahun 179 H) rahimahullah berpesan kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur al-Abbasi:

فان ذهبت تحولهم مما يعرفون إلى ما لا يعرفون رأوا ذلك كفرا ولكن أقر أهل كل بلدة على ما فيها من العلم وخذ هذا العلم لنفسك

“Jika Anda berusaha mengubah mereka (kaum muslimin, pen) dari ilmu yang mereka kenal menuju ilmu yang belum mereka kenal, maka mereka akan menilai pendapat Anda sebagai kekufuran. Akan tetapi biarkanlah masing-masing negeri memegang ilmu (madzhab) yang dipakai di negeri tersebut. Dan ambillah pendapat Anda untuk diri Anda sendiri!” (Al-Jarh wat Ta’dil li Ibni Abi Hatim: 1/29).

Demikian pula nasehat al-Imam al-Qadhi Abu Ya’la Ibnul Farra’ al-Hanbali (wafat tahun 458 H) rahimahullah kepada seseorang yang ingin berpindah dari Madzhab Syafi’i ke Madzhab Hanbali:

فإنك إذا كنت في بلدك على مذهب أحمد وباقي أهل البلد على مذهب الشافعي لم تجد أحدا يعبد معك ولا يدارسك، وكنت خليقا أن تثير خصومة وتوقع نزاعا، بل كونك على مذهب الشافعي حيث أهل بلدك على مذهبه أولى

“Jika kamu di negerimu bermadzhab Hanbali, sedangkan semua penduduknya bermadzhab Syafi’i, maka kamu tidak akan menemukan orang yang beribadah bersamamu dan orang yang menjadi teman diskusimu. Dan kamu akan menjadi orang yang memicu perselisihan dan perdebatan di antara mereka.” (Al-Muswaddah fi Ushulil Fiqh: 483).

Cara berdakwah seperti inilah yang sesuai dengan hikmah dakwah. Ketika Addas datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bertanya:

وَمِنْ أَهْلِ أَيّ الْبِلَادِ أَنْتَ يَا عَدّاسُ ، وَمَا دِينُك ؟ قَالَ نَصْرَانِيّ ، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ نِينَوَى . فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مِنْ قَرْيَةِ الرّجُلِ الصّالِحِ يُونُسَ بْنِ مَتّى ؟ فَقَالَ لَهُ عَدّاسٌ : وَمَا يُدْرِيك مَا يُونُسُ بْنُ مَتّى ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ذَاكَ أَخِي ، كَانَ نَبِيّا وَأَنَا نَبِيّ ، فَأَكَبّ عَدّاسٌ عَلَى رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُقَبّلُ رَأْسَهُ وَيَدَيْهِ وَقَدَمَيْهِ

“Wahai Addas! Kamu berasal dari penduduk negeri mana? Dan apa agamamu?” Addas menjawab: “Aku seorang nasrani. Aku berasal dari negeri Nineveh.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Dari desa seorang shalih yang bernama Yunus bin Matta?” Addas balik bertanya: “Apakah yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Beliau adalah saudaraku. Beliau itu seorang nabi dan aku pun seorang nabi.” Maka Addas tertunduk mencium kepala, kedua tangan dan kedua telapak kaki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah: 2/416 dan Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shahabah: 5615 (4/2262) secara mursal dari az-Zuhri, ath-Thabari dalam Tarikhnya: 1/554 secara mursal dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dan Ibnu Mandah dalam al-Mustakhraj: 1/73 dari Sulaiman at-Taimi secara mursal. Kisah ini di-dhaif-kan oleh al-Albani dalam Takhrij Kitab Fiqhus Sirah: 135. Adapun menurut Dr. Muhammad Thayyib an-Najjar ketiga riwayat ini saling menguatkan. Lihat al-Qaulul Mubin fi Sirah Sayyidil Mursalin: 151).

Bandingkan cara dakwah kaum Salaf di atas dengan cara dakwah orang-orang yang mengaku sebagai ‘Salafy Sejati’ ini. Mereka hanya mau mengajarkan kitab-kitab fikih Hanabilah di masjid-masjid kaum muslimin yang secara mayoritas mengikuti fikih Syafi’iyah, kemudian mencela sebagian amal ibadah dan pendapat kaum muslimin di sekitar mereka.

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi al-Maliki (wafat tahun 790 H) rahimahullah mengutip ucapan Abu Hamid al-Ghazali asy-Syafi’i (wafat tahun 505 H) rahimahullah:

أَكْثَرُ الْجَهَالَاتِ إِنَّمَا رَسَخَتْ فِي قُلُوبِ الْعَوَامِّ بِتَعَصُّبِ جَمَاعَةٍ مِنْ جُهَّالِ أَهْلِ الْحَقِّ، أَظْهَرُوا الْحَقَّ فِي مَعْرِضِ التَّحَدِّي وَالْإِدْلَالِ وَنَظَرُوا إِلَى ضُعَفَاءِ الْخُصُومِ بِعَيْنِ التَّحْقِيرِ وَالِازْدِرَاءِ، فَثَارَتْ مِنْ بَوَاطِنِهِمْ دَوَاعِي الْمُعَانَدَةِ وَالْمُخَالَفَةِ، وَرَسَخَتْ فِي قُلُوبِهِمُ الِاعْتِقَادَاتُ الْبَاطِلَةُ، وَتَعَذَّرَ عَلَى الْعُلَمَاءِ الْمُتَلَطِّفِينَ مَحْوُهَا مَعَ ظُهُورِ فَسَادِهَا

“Kebanyakan kebodohan yang tertancap dalam hati orang-orang awam hanyalah disebabkan oleh sikap ta’ashub (fanatik) dari orang-orang bodoh dari kalangan ahlussunnah (seperti kelompok yang mengaku salafi sejati ini, pen). Mereka menampakkan kebenaran dengan nada tantangan dan membanggakan diri. Mereka juga memandang kepada orang-orang awam yang mereka bantah dengan pandangan yang meremehkan dan melecehkan. Akhirnya muncul dari diri mereka (orang-orang awam, pen) sikap penolakan dan penyelisihan (terhadap dakwah Salaf, pen) dan tertancap dalam diri mereka keyakinan yang batil (terhadap dakwah, pen). Para ulama pun kesulitan untuk memadamkan kerusakan yang tampak ini..dst.” (Kitab al-I’tisham tahqiq al-Hilali: 2/732).

Kemudian asy-Syathibi membenarkan uacapan al-Ghazali:

هَذَا مَا قَالَ. وَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي تَشْهَدُ لَهُ الْعَوَائِدُ الْجَارِيَةُ..الخ

“Demikian ucapan al-Ghazali. Itulah yang benar yang disaksikan oleh kebiasaan yang berlaku..dst.” (Kitab al-I’tisham tahqiq al-Hilali: 2/732).

Di lain pihak Penulis juga mengapresiasi, memuji dan mendukung ikhwan salafiyin –yang banyak dizalimi dan diboikot oleh kelompok yang mengaku sebagai salafi sejati- yang berdakwah dengan cara mengambil hati kaum muslimin. Mereka mendirikan ma’had dan sekolah-sekolah salafi sesuai anjuran pemerintah kemudian mengajarkan kurikulum lokal di dalamnya. Sebagai contoh, dalam mata pelajaran fikih mereka mengajarkan kitab ‘Matan al-Ghayah wat Taqrib’ karya al-Qadhi Abu Syuja’ al-Ashfahani asy-Syafi’i (wafat tahun 593 H) rahimahullah, sebuah kitab ringkasan fikih madzhab Syafi’i yang banyak dipelajari oleh anak-anak kaum muslimin Indonesia. Dan Alhamdulillah telah banyak ulama dakwah salafiyah di masa kini yang memberikan syarah untuk kitab ini. Di antara mereka adalah asy-Syaikh Muhammad Hasan Abdul Ghaffar hafizhahullah. Syarh tersebut ada yang berupa rekaman audio dan juga versi e-book.

Alasan kedua: Di dalam setiap madzhab dari keempat madzhab yang diikuti, terdapat banyak ulama besar yang mendakwahkan tauhid dan as-Sunnah serta memerangi syirik dan bid’ah, tidak terkecuali ulama Syafi’iyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

كَلُّ أُمَّةٍ قَبْلَ مَبْعَثِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعُلَمَاؤُهَا شِرَارُهَا إلَّا الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ عُلَمَاءَهُمْ خِيَارُهُمْ ؛ فَإِنَّهُمْ خُلَفَاءُ الرَّسُولِ فِي أُمَّتِهِ والمحيون لِمَا مَاتَ مِنْ سُنَّتِهِ بِهِمْ قَامَ الْكِتَابُ وَبِهِ قَامُوا وَبِهِمْ نَطَقَ الْكِتَابُ وَبِهِ نَطَقُوا

“Setiap umat sebelum diutusnya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka ulama’nya menjadi orang yang paling jelek di kalangan umat itu, kecuali kaum muslimin karena ulama’ mereka adalah sebaik-baik umat. Mereka menjadi penerus ar-Rasul di kalangan umat beliau. Mereka juga menjadi orang yang menghidupkan sunnah beliau yang telah mati. Dengan perjuangan mereka, al-Kitab bisa tegak dan dengan al-Kitab mereka berdakwah. Atas jasa mereka al-Kitab bisa berbicara dan dengan dasar al-Kitab mereka berbicara.” (Majmu’ul Fatawa: 20/232).

Perhatikanlah ucapan Syaikhul Islam di atas! Beliau tidak membatasi ulama dari golongan manapun. Sehingga siapa pun orangnya jika sudah memenuhi ‘kriteria syar’i’ sebagai ulama, baik dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah ataupun Hanabilah, maka ia adalah orang terbaik di kalangan kaum muslimin.

Khusus untuk Madzhab Syafi’i, terdapat banyak kesesuaian antara usul (pokok pendalilan) ulama Syafi’iyah dengan manhaj Salaf di dalam permasalahan ‘sunnah tarkiyah’ dan ‘bid’ah idhafiyah’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

لِأَنَّ مَذْهَبَ الشَّافِعِيِّ مُؤَسَّسٌ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Yang demikian oleh karena Madzhab Syafi’i itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (Al-Fatawa al-Kubra: 6/616).

Yang demikian karena imam mereka yaitu al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah terkenal kegigihannya dalam membela as-Sunnah dan membantah kebid’ahan. Beliau pernah menyatakan:

إذا وجدتم لرسول الله صلى الله عليه و سلم سنة فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد

“Jika kalian menemukan sebuah sunnah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (dalam suatu permasalahan, pen), maka ikutilah sunnah itu dan janganlah menoleh kepada ucapan seorang pun.” (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’: 9/107 dan Tarikh Damsyiq: 51/386).

Beliau juga berkata:

الأَصْلُ قُرْآنٌ أَوْ سُنَّةٌ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ، فَقِيَاسٌ عَلَيْهِمَا، وَإِذَا صَحَّ الحَدِيْثُ فَهُوَ سُنَّةٌ، وَالإِجْمَاعُ أَكْبَرُ مِنَ الحَدِيْثِ المُنْفَرِدِ، وَالحَدِيْثُ عَلَى ظَاهِرِهِ، وَإِذَا احتَمَلَ الحَدِيْثُ مَعَانِي، فَمَا أَشْبَهَ ظَاهِرَهُ، وَلَيْسَ المُنْقَطِعُ بِشَيْءٍ، مَا عَدَا مُنْقَطِعِ ابْنِ المُسَيِّبِ، وَكُلاًّ رَأَيْتُهُ اسْتَعْمَلَ الحَدِيْثَ المُنْفَرِدَ

“Pokok pendalilan adalah al-Quran atau as-Sunnah. Jika tidak didapatkan keduanya, maka analogi (qiyas) atas keduanya. Jika hadits itu shahih, maka itu adalah suatu sunnah. Ijma’ (konsensus ulama’) itu lebih diutamakan daripada hadits sendirian. Jika sebuah hadits mempunyai banyak kemungkinan makna, maka dibawa kepada makna yang paling jelas. Hadits munqathi (tidak bersambung atau mursal) bukanlah dalil, kecuali mursalnya Sa’id bin al-Musayyib. Aku melihat semua ulama berhujah dengan hadits yang sendirian.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/21 dan al-Kamil li Ibni Adi: 1/116).

Dan ini diakui sendiri oleh al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani asy-Syafi’i (wafat tahun 489 H) rahimahullah. Beliau sendiri pada awalnya bermadzhab Hanafi, kemudian berpindah menjadi bermadzhab Syafi’i. Beliau menyatakan:

إذا نظر العالم إلى المسائل وأصولها وفروعها وجد أصول الشافعى رضى الله عنه موافقة للكتاب والسنة مؤيدة بهما مستمرة على الإخبار إذا وجدها استمرارا صحيحا مستقيما ويتبع الصحيح منها ويدع الرأى حين يجده فلا يأمر بعرض حديث على قياس ولكن يأمر بعرض القياس على الأحاديث…الخ

“Jika seorang alim melihat kepada berbagai permasalahan, baik usul (pokok) ataupun furu’ (cabang) dari permasalahan tersebut, maka ia akan mendapatkan usul-usul al-Imam asy-Syafi’i sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, dikuatkan dengan keduanya, berjalan di atas khabar yang shahih. Beliau juga memilih hadits yang shahih dan meninggalkan ra’yu (pemikiran tokoh, pen) ketika mendapatkan hadits tersebut. Maka beliau tidak menyuruh menentang sebuah hadits dengan qiyas (analogi), akan tetapi beliau justru memerintahkan untuk menimbang qiyas dengan hadits-hadits..dst.” (Qawathi’ul Adillah fil Ushul: 2/369).

Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat dalam menambah ilmu ad-Dien dan ditulis oleh Allah ta’ala sebagai amal shalih bagi Penulis.

اللهم ارزقنا الاخلاص وكمال المتابعة لرسولك محمد صلى الله عليه وسلم وألحقنا بمن معه ومن تبعهم باحسان… آمين

Ya Allah, berikanlah kepada kami keikhlasan dan kesempurnaan di dalam meneladani Rasul-Mu Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Gabungkanlah kami dengan orang-orang yang bersama Rasul-Mu dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik..  Amien.

Babat, 27 Muharram 1438 H

dr. M Faiq Sulaifi

Pengertian Bid’ah

Sebelum membahas pengkhususan ibadah dan sunnah tarkiyah, ada baiknya kita membahas batasan dan pengertian bid’ah secara syariat. Ini karena para ulama Syafi’iyah membagi perkara bid’ah menjadi bid’ah secara bahasa dan bid’ah secara syariat.

Al-Allamah Syihabuddin al-Qasthalani asy-Syafi’i (wafat tahun 923 H) rahimahullah menyatakan:

والبدعة كل شيء عمل على غير مثال سابق، وفي الشرع أحداث ما لم يكن في عهد رسول الله -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فإن كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة

“Bid’ah adalah segala sesuatu yang diamalkan tanpa ada contoh yang mendahului, sedangkan bid’ah secara syariat adalah mengadakan sesuatu yang belum ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika perbuatan tersebut mempunyai asal yang ditunjukkan oleh syariat, maka tidak disebut bid’ah.” (Irsyadus Sari li Syarh Shahihil Bukhari: 10/302).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i (wafat tahun 852 H) rahimahullah berkata:

والمحدثات بفتح الدال جمع محدثة والمراد بها ما أحدث وليس له أصل في الشرع ويسمى في عرف الشرع بدعة وما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة فالبدعة في عرف الشرع مذمومة بخلاف اللغة فان كل شيء أحدث على غير مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا أو مذموما

“Yang dimaksud dengan perkara baru (Muhdatsat) adalah perkara yang diada-adakan dan tidak memiliki landasan dalam syariat. Dalam terminologi syariat, ini disebut ‘bid’ah’. Sedangkan perkara yang mempunyai landasan syariat bukanlah bid’ah. Maka bid’ah dalam istilah syariat adalah tercela. Ini berbeda dengan bid’ah secara bahasa. Maka segala sesuatu yang diada-adakan tanpa contoh pendahulu adalah bid’ah (secara bahasa, pen), baik itu perkara terpuji ataupun perkara tercela.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 13/254).

Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menambahkan:

والمراد بقوله كل بدعة ضلالة ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام

“Maksud sabda beliau “setiap bid’ah itu sesat’ adalah segala perkara yang diada-adakan dan tidak memiliki dalil dari syari’at, baik melalui jalan umum maupun khusus.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 13/254).

Penjelasan:

Dari keterangan Ibnu Hajar di atas dapat diambil kesimpulan:

Pertama: semua bid’ah dalam istilah syariat adalah sesat. Adapun bid’ah secara bahasa ada yang terpuji dan ada yang tercela.

Kedua: agar terbebas dari bid’ah, suatu perkara harus mempunyai dalil umum dan dalil khusus. Jika tidak mempunyai dalil khusus, maka akan terjatuh pada bid’ah idhafiyah. Dan akan datang pembahasan bid’ah idhafiyah. Insya Allah.

Pengertian Sunnah Tarkiyah

Bid’ah syar’iyah dapat ditetapkan melalui kaedah ‘sunnah tarkiyah’. Pengertian sunnah tarkiyah adalah:

ما تركه النبي – صلى الله عليه وسلم – تشريعا لأمته

“Perkara yang ditinggalkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai bentuk syariat bagi umat beliau.(Manhajiyah Ittiba’ir Rasul: 9, Sunnatut Tarki wa Dilalatuha alal Ahkamisy Syar’iyyah: 13).

Adapun cara menentukan sunnah tarkiyah, maka Al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat tahun 974 H) rahimahullah menerangkan:

وكذا ما تركه مع قيام المقتضى فيكون تركه سنة وفعله بدعة مذمومة وخرج بقولنا مع قيام المقتضى في حياته تركه إخراج اليهود من جزيرة العرب وجمع المصحف وما تركه لوجود المانع كالاجتماع للتراويح فإن المقتضى التام يدخل فيه المانع..الخ

“Demikian pula perkara yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam padahal motivasi untuk melakukannya sudah ada ketika itu. Maka meninggalkannya adalah sunnah (tarkiyah, pen) dan melaksanakannya adalah bid’ah yang tercela. Dan dikecualikan dengan ucapan kami ‘Motivasi untuk melakukannya telah ada pada masa hidup beliau’, yaitu perbuatan beliau tidak mengusir kaum Yahudi dari Jazirah Arab dan tidak menghimpun mushaf. Dan juga (dikecualikan dari sunnah tarkiyah) perbuatan yang beliau tinggalkan karena ada penghalang seperti mengadakan jamaah shalat tarawih, maka adanya motivasi yang sempurna untuk mengadakan shalat jamaah tarawih mendapatkan penghalang (yaitu khawatir menjadi wajib, pen)..dst.” (Al-Fatawa al-Haditsiyah lil Haitami: 200).

Al-Allamah Ali Mahfuzh al-Mishri asy-Syafi’i (wafat tahun 1361 H) rahimahullah menyatakan:

وقد علمت من نصوص علماء المذاهب الأربعة أن ما تركه النبي صلى الله عليه وسلم مع قيام المقتضي على فعله فتركه هو السنة وفعله بدعة مذمومة

“Dan kamu mengetahui dari keterangan ulama Empat Madzhab bahwa perkara yang ditinggalkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan tegaknya motivasi untuk melakukannya ketika itu, maka meninggalkannya adalah sunnah (tarkiyah) Nabi shallallahu alaihi wasallam dan melakukannya adalah bid’ah yang tercela.” (Al-Ibda’ fi Madharril Ibtida’: 35).

Demikian pula menurut al-Imam Syamsuddin adz-Dzahabi asy-Syafi’i (wafat tahun 748 H) rahimahullah. Beliau menyatakan:

فما أمسك عن فعله، أو الأمر به والنَّدْب, مع قيام المقتضي دَلَّ على أنه ليس بَحَسَن ولا بِرٍّ.

“Maka segala perkara, yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menahan diri dari melakukannya, menahan diri dari memerintahkan atau menganjurkannya, padahal motivasi untuk melakukannya sudah tegak, maka ini menunjukkan bahwa perkara tersebut bukanlah kebaikan (tetapi kebid’ahan, pen).” (At-Tamassuk bis Sunan wat Tahdzir minal Bida’: 118).

Maka dari penjelasan para ulama Syafi’iyah di atas, kita bisa menarik kesimpulan:

Pertama: Sunnah tarkiyah merupakan bagian dari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Kedua: tidak melaksanakan sunnah tarkiyah berarti mengadakan perkara bid’ah

Ketiga: sunnah tarkiyah ditetapkan pada perbuatan yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan 2 syarat: ada motivasi atau pendorong untuk melaksanakannya, dan tidak ada penghalang untuk melakukannya.

Keempat: jika suatu perbuatan ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena 2 syarat di atas masih belum bisa dipenuhi, maka perbuatan tersebut tidak dinamakan sunnah tarkiyah dan mengadakannya tidak termasuk bid’ah syar’iyah, tetapi termasuk ‘maslahat mursalah’ seperti jamaah shalat tarawih, pembukuan al-Quran dan sebagainya. ‘Maslahat Mursalah’ akan dibahas pada bab-bab berikutnya, insya Allah.

Kemudian apa saja contoh-contoh dari ‘Sunnah Tarkiyah’?

Contoh pertama dari ‘sunnah tarkiyah’ adalah tidak mengusap dan mencium rukun iraqi dan rukun syami ketika melakukan ibadah thawaf. Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma:

أَنَّهُ طَافَ مَعَ مُعَاوِيَةَ بِالْبَيْتِ فَجَعَلَ مُعَاوِيَةُ يَسْتَلِمُ الْأَرْكَانَ كُلَّهَا فَقَالَ لَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ لِمَ تَسْتَلِمُ هَذَيْنِ الرُّكْنَيْنِ وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَلِمُهُمَا فَقَالَ مُعَاوِيَةُ لَيْسَ شَيْءٌ مِنْ الْبَيْتِ مَهْجُورًا فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ { لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ } فَقَالَ مُعَاوِيَةُ صَدَقْتَ

“Bahwa ia (Ibnu Abbas) melakukan thawaf bersama Mu’awiyah. Sedangkan Mu’awiyah mengusap semua rukun Ka’bah (yakni hajar aswad, rukun yamani, rukun syami dan rukun iraqi, pen). Maka Ibnu Abbas berkata kepada Mu’awiyah: “Mengapa kamu mengusap kedua rukun ini (yaitu rukun syami dan rukun iraqi, pen) padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengusap keduanya?”  Maka Mu’awiyah menjawab: “Tidak ada sesuatu pun dari Bait ini yang ditinggalkan.” Maka Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya telah ada bagi kalian teladan yang baik dalam diri Rasulullah.” Maka Mu’awiyah menyatakan: “Kamu benar (wahai Ibnu Abbas, pen).” (HR. Ahmad: 1781, at-Tirmidzi: 786 dan ia berkata hasan shahih, ath-Thabrani dalam al-Ausath: 2323 (3/17). Syuaib al-Arnauth menyatakan hadits hasan lighairih dalam Tahqiq al-Musnad).

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengusap rukun syami dan rukun iraqi dalam keadaan ada faktor pendorong -sebagaimana mengusap hajar aswad-, serta tidak adanya penghalang. Maka tidak mengusap dan juga tidak mencium kedua rukun tersebut adalah mengikuti ‘sunnah tarkiyah’.

Oleh karena itu al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i (wafat tahun 676 H) rahimahullah menyatakan:

فإذا عرفت هذا فالسنة في الحجر الاسود استلامه وتقبيله والسنة في الركن اليماني استلامه ولا يقبل والسنة أن لا يقبل الشاميان ولا يستلمان…الخ

“Jika kamu mengetahui ini, maka ajaran sunnah (fi’liyah Nabi shallallahu alaihi wasallam, pen) terhadap Hajar Aswad adalah mencium dan melakukan istilam (mengusap dengan tangan, pen) terhadapnya. Ajaran sunnah (fi’liyah, pen) terhadap rukun yamani adalah mengusapnya tanpa menciumnya. Dan menurut as-Sunnah (yakni sunnah tarkiyah, pen), bahwa kedua rukun iraqi dan rukun syami tidak usah dicium dan juga tidak usah diusap…dst.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab: 8/34).

Contoh kedua adalah tidak melakukan adzan dan iqamat untuk shalat kedua hari raya.

Jabir bin Samurah radliyallahu anhu berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ

“Aku melakukan shalat kedua hari raya bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lebih dari sekali, tanpa melakukan adzan dan iqamat.” (HR. Muslim: 1470, Abu Dawud: 969 dan at-Tirmidzi: 489).

Dari hadits di atas, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau tidak pernah melakukan adzan dan iqamat untuk shalat hari raya. Padahal tidak ada halangan untuk melakukannya, motivasi untuk melakukannya sudah terpenuhi ketika itu. Sehingga meninggalkan adzan dan iqamat untuk shalat hari raya merupakan ‘sunnah tarkiyah’.

Oleh karena itu al-Allamah Muhammad bin Yusuf al-Karmani asy-Syafi’i (wafat tahun 786 H) rahimahullah berkata:

وفيه أن السنة في العيدين أن لا يؤذن لها ولا يقام

“Dalam hadits di atas terdapat pelajaran bahwa yang sesuai dengan sunnah (tarkiyah) adalah tidak usah melakukan adzan dan iqamat untuk shalat ied.” (Al-Kawakib ad-Darari fi Syarh Shahihil Bukhari: 6/69).

Sunnah Tarkiyah menurut Ulama Syafi’iyah

Bagi mereka yang menolak adanya ‘Sunnah Tarkiyah’ terdapat beberapa jawaban:

Pertama: Sunnah tarkiyah bukanlah monopoli kaum wahabi. Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga menerapkan kaedah sunnah tarkiyah, meskipun istilah ‘sunnah tarkiyah’ belum dikenal ketika itu. Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata:

اتَّخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَاتَّخَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي اتَّخَذْتُ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَنَبَذَهُ وَقَالَ إِنِّي لَنْ أَلْبَسَهُ أَبَدًا فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ

“Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenakan cincin dari emas, maka orang-orang juga (ikut) mengenakan cincin dari emas. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku telah mengenakan cincin dari emas.” Kemudian beliau membuangnya dan berkata: “Sesungguhnya aku tidak akan memakainya lagi selama-lamanya.” Maka mereka ikut membuang cincin-cincin mereka.” (HR. Al-Bukhari: 6754, Muslim: 3898, an-Nasai: 5073).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i rahimahullah mengomentari hadits di atas:

قوله )فاتخذ الناس خواتيم من ذهب( وفيه )فنبذه وقال اني لم ألبسه أبدا فنبذ الناس خواتيمهم( اقتصر على هذا المثال لاشتماله على تأسيهم به في الفعل والترك

“Ucapan Ibnu Umar “Maka orang-orang juga (ikut) mengenakan cincin dari emas” di dalam hadits tersebut terdapat lafazh “Kemudian beliau membuangnya dan berkata: “Sesungguhnya aku tidak akan memakainya lagi selama-lamanya.” Maka mereka ikut membuang cincin-cincin mereka.” Al-Bukhari mencukupkan hadits di atas sebagai contoh (meneladani perbuatan Nabi shallallahu alaihi wasallam, pen) karena kandungan hadits itu yang meliputi perbuatan para sahabat di dalam meneladani beliau baik dalam sunnah fi’liyah maupun sunnah tarkiyah.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 13/275).

Kedua: Ulama yang pertama kali menyatakan adanya ‘sunnah tarkiyah’ secara eksplisit adalah al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i atau Imam Syafi’i (wafat tahun 204 H) rahimahullah. Beliau berkata –dalam mengomentari ucapan Mu’awiyah yang mengusap semua rukun Ka’bah, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanyalah mengusap Hajar Aswad dan rukun yamani saja-:

وكيف يهجره وهو يطوف به ولكنا نتبع السنة فعلا أو تركا..الخ

“Dan bagaimana bisa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (dianggap, pen) meninggalkan baitullah padahal beliau melakukan thawaf padanya? Akan tetapi kami mengikuti as-Sunnah baik secara fi’liyah ataupun tarkiyah.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 3/475).

Ucapan beliau kemudian diikuti oleh para ulama Syafi’iyah setelah beliau. Di antara mereka adalah al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani asy-Syafi’i (wafat tahun 489 H) rahimahullah. Bahkan beliau menjadikannya sebagai kaidah dalam ushul fikih. Beliau  berkata:

إذا ترك النبي صلى الله عليه وسلم شيئا من الأشياء وجب علينا متابعته فيه

“Jika Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggalkan suatu urusan (yakni: menjadikannya sebagai sunnah tarkiyah, pen) dari berbagai perkara, maka kita wajib mengikutinya dalam perkara tersebut.” (Qawathi’ul Adillah fil Ushul: 1/331).

Sebelum as-Sam’ani, al-Allamah Abul Husain al-Bashri al-Mu’tazili asy-Syafi’i (wafat tahun 436 H) juga menyatakan:

فأما اتباع النبي صلى الله عليه و سلم فقد يكون في القول وقد يكون في الفعل وقد يكون في الترك

“Adapun mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bisa pada ucapan (sunnah qauliyah, pen), juga bisa dalam perbuatan (sunnah fi’liyah, pen) dan bisa juga dalam perkara yang ditinggalkan (sunnah tarkiyah, pen).” (Al-Mu’tamad fi Ushulil Fiqh: 1/344).

Beliau juga menyatakan:

وإنما قلنا إن التأسي يكون في الترك لأن النبي صلى الله عليه و سلم لو ترك الصلاة عند طلوع الشمس فتركناها في هذا الوقت لأجل تركه كنا متأسين به

“Kami katakan bahwa ‘meneladani beliau’ juga berlaku di dalam perkara yang ditinggalkan (sunnah tarkiyah, pen), karena Nabi shallallahu alaihi wasallam jika seandainya meninggalkan shalat ketika terbitnya matahari, kemudian kita juga meninggalkannya di waktu tersebut karena beliau meninggalkannya, maka kita telah menjadikan beliau sebagai teladan.” (Al-Mu’tamad fi Ushulil Fiqh: 1/343).

Kemudian asy-Syafi’i juga diikuti oleh al-Allamah Abul Hasan Saifuddin al-Amidi asy-Syafi’i (wafat tahun 631 H) rahimahullah. Beliau berkata:

وأما المتابعة فقد تكون في القول وقد تكون في الفعل والترك

“Adapun mengikuti (sunnah beliau), maka dapat dilakukan dalam ucapan (sunnah qauliyah, pen) dan juga bisa dilakukan dalam perbuatan (sunnah fi’liyah) dan perkara yang ditinggalkan (sunnah tarkiyah, pen).” (Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam: 1/227).

Kemudian diikuti pula oleh al-Allamah Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i (wafat tahun 794 H) rahimahullah. Beliau berkata:

الثَّالِثُ أَنَّهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم لو تَرَكَ النِّيَّةَ وَالتَّرْتِيبَ لَوَجَبَ عَلَيْنَا تَرْكُهُ لِدَلِيلِ الِاقْتِدَاءِ بِهِ لِأَنَّ الْمُتَابَعَةَ كما تَكُونُ في الْأَفْعَالِ تَكُونُ في التُّرُوكِ

“Jalan yang ketiga (di dalam menentukan sunnah fi’liyah, pen): bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam seandainya meninggalkan niat dan tertib urutan (dalam wudlu’, pen), maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya karena adanya dalil untuk menjadikan beliau sebagai teladan, dan juga karena mengikuti beliau –sebagaimana berlaku untuk perbuatan-perbuatan yang beliau lakukan- juga berlaku untuk perkara-perkara yang beliau tinggalkan.” (Al-Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh: 3/260).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa istilah ‘sunnah tarkiyah’ sudah dikenal dan dijadikan kaedah fikih di kalangan ulama yang bermadzhab Syafi’i.

Cara Menukilkan Sunnah Tarkiyah

Para ulama Syafi’iyah mempunyai metode tersendiri di dalam menukilkan bahwa suatu perkara termasuk sunnah tarkiyah:

Cara pertama: adalah ucapan ulama Syafi’iyah bahwa ‘Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukan perkara itu dan tidak pula memerintahkannya dan ucapan semisalnya. Maka dapat dipastikan bahwa ‘perkara itu’ termasuk ‘sunnah tarkiyah’.

Di antara contohnya adalah penukilan al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah terhadap ‘sunnah tarkiyah’nya ber-isyarat ke kiblat dengan mulut ketika thawaf. Beliau berkata:

ولا يشير إلى القبلة بالفم لان النبي صلى الله عليه وسلم لم يفعل ذلك

“Dan tidak perlu ber-isyarat ke kiblat dengan mulut, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab: 8/30).

Maka perhatikanlah kalimat-kalimat kunci: ‘Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah berbuat demikian’ atau ‘Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat tidak pernah melakukan demikian’ dan sebagainya!! Ini semua menunjukkan ‘sunnah tarkiyah’.

Cara kedua: adalah ucapan mereka bahwa ‘perkara itu tidak pernah dinukilkan dari as-Salaf, padahal motivasi untuk menukilkan dan menyebarkannya telah sempurna ketika itu’. Maka dapat dipastikan bahwa ‘perkara itu’ termasuk ‘sunnah tarkiyah’.

Al-Imam Ibnu Daqiqil Ied asy-Syafi’i (wafat tahun 702 H) rahimahullah berkata:

أنَّ الفقهاءَ قد استعملوا مثلَ ذلك فيما لا يُحصَى؛ أعني: أنَّهم يقولون: لو كان لنُقِلَ

“Bahwa para ahli fikih telah menggunakan cara penukilan seperti itu dalam banyak hal yang tak terhitung. Maksudnya bahwa mereka berkata: “Seandainya perkara itu ada (seperti tahlilan, barzanjen dsb, pen), tentu akan dinukilkan (oleh ulama Salaf, pen).” (Syarhul Ilmam bi Ahaditsil Ahkam: 3/597).

Demikian pula menurut al-Allamah Abdur Rahim al-Isnawi asy-Syafi’i (wafat tahun 772 H) rahimahullah. Beliau berkata:

الثاني: ما لو صح لتوفرت الدواعي على نقله كما يعلم أن لا بلدة بين مكة والمدينة أكبر منهما, إذ لو كان لنقل..الخ

“Perkara kedua (dari perkara yang diketahui kedustaannya, pen): Sesuatu (seperti tahlilan, berzanjen dan sebagainya, pen) yang seandainya shahih keberadaannya, maka akan muncul banyak motivasi untuk menukilkannya sebagaimana telah diketahui bahwa tidak ada negeri di antara Makkah dan Madinah yang lebih besar daripada keduanya, karena jika seandainya ada, maka perkara tersebut akan dinukilkan..dst.” (Nihayatus Suul Syarh Minjahil Wushul: 2/37).

Maka perhatikanlah kalimat-kalimat kunci ini: “Seandainya perkara itu ada, tentu akan dinukilkan dari as-Salaf padahal banyak motivasi untuk menukilkannya’ atau ‘Belum pernah dinukilkan sekali pun dari beliau perbuatan demikian’ dan sebagainya! Ini juga menunjukkan ‘sunnah tarkiyah’.

Antara ‘Tidak Ada Penukilan’ dan ‘Dinukilkan Tidak Ada’

Kedua cara penukilan ‘sunnah tarkiyah’ di atas saling memberikan konsekuensi, yaitu:

Pertama: Ungkapan ‘dinukilkan tidak ada’ termasuk cara penukilan yang pertama. Maksudnya para sahabat radliyallahu anhum menukilkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukan perbuatan demikian atau Nabi shallallahu alaihi wasallam belum pernah melakukannya dalam keadaan tegaknya motivasi untuk melakukannya dan tidak ada penghalang.

Kedua: Ungkapan ‘tidak ada penukilan’ termasuk cara penukilan yang kedua. Maksudnya para sahabat radliyallahu anhum tidak pernah menukilkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukannya dalam keadaan banyaknya faktor pendorong untuk menukilkan dan meriwayatkannya.

Yang benar adalah bahwa ungkapan ‘tidak ada penukilan’ juga menunjukkan ungkapan ‘dinukilkan tidak ada’. Keduanya mempunyai arti bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya. Ini merupakan kaedah yang dipegang oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

Al-Imam Abul Mahasin ar-Rauyani asy-Syafi’i (wafat tahun502 H) rahimahullah berkata:

وهذا من الشافعي دليل على مسألة في الأصول، وهو أن السكوت وعدم النقل دليل على عدم الحكم

“Ini dari ucapan asy-Syafi’i merupakan suatu dalil dalam permasalahan ushul fikih, yaitu bahwa diamnya pemilik syariat dan ‘tidak adanya penukilan’ merupakan dalil atas tidak adanya hukum amal tersebut.” (Bahrul Madzhab fi Furu’ al-Madzhab asy-Syafi’i: 1/221).

Maka perkara yang tidak pernah dinukilkan dalam keadaan tegaknya motivasi dan tidak ada penghalang untuk melakukannya disebut juga dengan ‘diamnya pemilik syariat’.

Al-Allamah Badruddin az-Zarkasy asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

قُلْت : وَقَالَ الرُّويَانِيُّ فِي الْبَحْرِ ” ( فِي بَابِ التَّيَمُّمِ ) : ظَاهِرُ كَلَامِ الشَّافِعِيِّ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – أَنَّ السُّكُوتَ وَعَدَمَ النَّقْلِ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْحُكْمِ…الخ

قُلْت : بَلْ ظَاهِرُ كَلَامِ الشَّافِعِيِّ التَّفْصِيلُ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ مِمَّا تَتَوَفَّرُ الدَّوَاعِي عَلَى نَقْلِهِ أَمْ لَا…الخ

“Aku berkata: “Ar-Rauyani berkata dalam ‘al-Bahr’ dalam Bab Tayamum: “Zhahir dari ucapan asy-Syafi’i rahimahullah adalah bahwa diamnya pemilik syariat dan ‘tidak adanya penukilan’ menjadi dalil atas tidak adanya hukum amal tersebut…dst.

Aku berkata: “Tetapi secara zhahir dari ucapan asy-Syafi’i adalah memberikan perincian apakah perkara yang tidak dinukilkan itu termasuk perkara yang mana telah banyak motivasi untuk menukilkannya ataukah tidak..dst.” (Al-Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh: 7/293-4).

Ucapan al-Imam asy-Syafi’i di atas membantah kaedah ‘Ahlul Bid’ah’ yang menyatakan bahwa sesuatu yang tidak pernah dinukilkan dalam keadaan banyaknya motivasi untuk menukilkannya, belum tentu tidak pernah dilaksanakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dengan kaedah batil ini mereka menyatakan: “Tidak adanya penukilan tentang kegiatan tahlilan, istighatsahan, barzanjen dan lainnya di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menunjukkan tidak adanya kegiatan tersebut di masa beliau.” Demikian kaedah mereka.

Jawaban:

Ini adalah ucapan yang salah karena mustahil terjadi jika suatu perkara dianggap penting di dalam syariat, kemudian para sahabat radliyallahu anhum tidak menukilkan dan meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada umat, padahal banyak motivasi untuk menyebarkan perkara tersebut.

Al-Allamah Saifuddin al-Amidi asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وذلك لأن الله تعالى قد ركز في طباع الخلق من توفير الدواعي على نقل ما علموه والتحدث بما عرفوه حتى إن العادة لتحيل كتمان ما لا يؤبه له مما جرى من صغار الأمور على الجمع القليل فكيف على الجمع الكثير فيماهو من عظائم الأمور ومهماتها والنفوس مشرئبة إلى معرفته وفي نقله صلاح للخلق

“Yang demikian karena Allah ta’ala telah menanamkan dalam tabiat manusia tentang banyaknya motivasi untuk menukilkan perkara yang mereka ketahui dan membicarakan perkara yang mereka kenal, apalagi secara kebiasaan sangat mustahil untuk menyembunyikan perkara kecil yang mereka alami di depan kumpulan sedikit orang, apalagi di depan banyak orang (semisal para sahabat, pen) di dalam urusan yang besar dan penting, sedangkan jiwa ini terdorong untuk mengetahuinya dan di dalam penukilan beritanya terdapat kebaikan bagi makhluk (semisal tahlilan, istighatsahan, pen).” (Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam lil Amidi: 2/57-58).

Di antara contoh bahwa ‘tidak adanya penukilan menunjukkan tidak adanya perbuatan’ adalah tidak adanya sutrah (penghalang di depan orang yang shalat, pen) bagi makmum karena tidak adanya penukilan tentang hal tersebut.

Al-Imam Syamsuddin al-Karmani asy-Syafi’i (wafat tahun 786 H) rahimahullah berkata:

وأما الدلالة على أن سترته سترة للمأموم فلأنه لم ينقل وجود سترة لأحد من المأمومين ولو كان لنقل لتوفر الدواعي على نقل الأحكام الشرعية

“Adapun dalil bahwa ‘sutrahnya imam adalah sutrahnya makmum’, maka oleh karena belum pernah dinukilkan adanya sutrah bagi para makmum (di masa Nabi shallallahu alaihi wasallam, pen). Seandainya sutrah bagi makmum itu ada, maka akan dinukilkan (dari Salaf, pen) karena banyaknya motivasi untuk menukilkan hukum-hukum syariat.” (Al-Kawakibud Darari fi Syarh Shahihil Bukhari: 4/152).

Ini membuktikan bahwa ‘tidak adanya penukilan tentang adanya sutrah bagi makmum menunjukkan tidak  adanya sutrah bagi makmum’. Wallahu a’lam.

Memungut Zakat Sayuran dan Logam

Termasuk contoh penukilan ‘sunnah tarkiyah’ dengan cara pertama adalah penukilan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah terhadap ‘sunnah tarkiyah’nya memungut zakat hasil bumi sayuran dan buah-buahan. Beliau menyatakan:

ولم يزل للناس غراس غير النخل والعنب والزيتون كثير من الجوز واللوز والتين وغيره فلما لم يأخذ رسول الله منه شيئا ولم يأمر بالاخذ منه استدللنا على أن فرض الله الصدقة فيما كان من غراس في بعض الغراس دون بعض..الخ

“Dan manusia senantiasa mempunyai tanaman pertanian -selain kurma, anggur dan zaitun- banyak tanaman seperti kenari, kacang almond, buah tin dan sebagainya. Maka ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah memungut zakat dari tanaman tersebut dan tidak memerintahkan (kaum muslimin, pen) untuk memungutnya, maka kami berdalil bahwa kewajiban zakat dari Allah terhadap tanaman pertanian hanyalah berlaku pada sebagian jenis tanaman bukan jenis lainnya.. dst.” (Ar-Risalah: 189).

Sehingga memungut zakat tanaman sayuran dan buah-buahan –selain kurma dan anggur- termasuk sunnah tarkiyah karena motivasi untuk memungutnya di masa as-Salaf sudah ada.

Begitu pula memungut zakat dari tembaga batangan, besi batangan, timah batangan dengan alasan di-qiyas-kan (baca: dianalogikan) dengan emas dan perak batangan. Itu semua termasuk ‘sunnah tarkiyah’.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan:

وللناس تبر غيره من نحاس وحديد ورصاص فلما لم يأخذ منه رسول الله ولا أحد بعده زكاة تركناه اتباعا بتركه وأنه لا يجوز أن يقاس بالذهب والورق الذين هما الثمن عاما في البلدان..الخ

“Dan manusia mempunyai logam batangan selainnya (emas dan perak, pen) yang berupa tembaga, besi dan timah. Maka ketika Rasulullah dan para sahabat setelah beliau tidak pernah memungut zakat dari perkara-perkara tersebut, maka kami pun tidak memungutnya sebagai zakat dalam rangka mengikuti ‘sunnah tarkiyah’ beliau. Dan logam-logam batangan tersebut tidak boleh di-qiyas-kan dengan emas dan perak yang menjadi mata uang secara umum di berbagai negeri..dst.” (Ar-Risalah: 194).

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah juga menjelaskan:

وكان الياقوت والزبرجد أكثر ثمنا من الذهب والورق فلما لم يأخذ منهما رسول الله ولم يأمر بالاخذ ولا من بعده علمناه وكان مال الخاصة وما لا يقوم به على أحد في شئ استهلكه الناس لانه غير نقد لم يأخذ منهما

“Adalah harga permata yaqut dan zabarjad itu lebih mahal dari emas dan perak. Maka ketika Rasulullah tidak pernah memungut zakat dari keduanya dan tidak memerintahkan untuk memungutnya serta para sahabat setelah beliau juga tidak memungut zakatnya, maka kita mengetahuinya –permata tersebut merupakan harta orang tertentu dan tidak bisa menggantikan kedudukan emas dan perak untuk dibelanjakan karena ia bukanlah uang- bahwa tidak dipungut zakat darinya.” (Ar-Risalah: 194).

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa dipungutnya zakat emas dan perak itu karena berfungsi sebagai alat tukar atau uang, bukan semata-mata sebagai logam batangan.

I’tikaf di Selain Masjid

Termasuk contoh penukilan ‘sunnah tarkiyah’ dengan cara pertama adalah melakukan i’tikaf di selain masjid seperti di rumah, pasar, kuburan dan sebagainya.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

وفي هذه الأحاديث أن الاعتكاف لا يصح الا في المسجد لأن النبى صلى الله عليه و سلم وأزواجه وأصحابه انما اعتكفوا في المسجد مع المشقة في ملازمته فلو جاز في البيت لفعلوه ولو مرة لاسيما النساء لأن حاجتهن إليه في البيوت أكثر

“Di dalam hadits-hadits ini terdapat pelajaran bahwa I’tikaf itu tidak sah kecuali di masjid, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam, istri-istri beliau dan para sahabat beliau hanyalah melakukan I’tikaf di masjid padahal mereka melakukannya dengan susah payah. Seandainya boleh melakukan I’tikaf di rumah, maka mereka akan melakukannya meskipun hanya sekali waktu, apalagi kaum wanita, Karena kebutuhan mereka untuk melakukan I’tikaf di rumah sangatlah besar.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim: 8/68).

Merutinkan Bacaan Ayat Fadhilah

Termasuk contoh penukilan ‘sunnah tarkiyah’ dengan cara pertama adalah merutinkan diri membaca ayat-ayat yang lebih utama seperti surat al-Ikhlas, ayat Kursi, akhir al-Baqarah dan sebagainya. Meskipun ayat-ayat tersebut mempunyai keutamaan dibanding ayat yang lain –karena berisi tentang tauhid-, maka membacanya dengan rutin termasuk ‘sunnah tarkiyah’.

Al-Imam Muhammad al-Khathib asy-Syarbini asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

فَائِدَةٌ : قَالَ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ : الْقُرْآنُ يَنْقَسِمُ إلَى فَاضِلٍ وَمَفْضُولٍ كَآيَةِ الْكُرْسِيِّ وَتَبَّتْ ، فَالْأَوَّلُ كَلَامُ اللَّهِ فِي اللَّهِ وَالثَّانِي كَلَامُ اللَّهِ فِي غَيْرِهِ ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُدَاوِمَ عَلَى قِرَاءَةِ الْفَاضِلِ وَيَتْرُكَ الْمَفْضُولَ ” ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَفْعَلْهُ ” وَلِأَنَّهُ يُؤَدِّي إلَى هِجْرَانِ بَعْضِ الْقُرْآنِ وَنِسْيَانِهِ .

“(Faedah): Al-Izz bin Abdis Salam asy-Syafi’i berkata: “Al-Quran itu terbagi menjadi ayat fadhil (yang lebih utama) dan ayat mafdhul (kurang utama), seperti ayat Kursi (fadhil) dan surat al-Lahab (mafdhul). Yang pertama adalah firman Allah tentang Allah, sedangkan yang kedua adalah firman Allah untuk selain-Nya (yaitu tentang Abu Lahab, paman Nabi shallallahu alaihi wasallam yang masuk neraka, pen). Maka tidak dianjurkan untuk merutinkan membaca ayat fadhil dan meninggalkan ayat mafdhul, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam belum pernah melakukannya, dan juga bisa membawa kepada perbuatan menjauhi dan melupakan sebagian al-Quran.” (Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Alfazhil Minhaj: 2/336)

Perhatikan kata beliau “karena Nabi shallallahu alaihi wasallam belum pernah melakukannya”!! Ini menunjukkan penukilan ‘sunnah tarkiyah’ dengan cara pertama.

Melafalkan Niat

Sedangkan contoh penukilan tentang sunnah tarkiyah dengan cara kedua adalah melafalkan niat shalat. Pelafalan niat shalat termasuk ‘sunnah tarkiyah’.

Al-Allamah Syihabuddin al-Qasthalani asy-Syafi’i (wafat tahun 923 H) rahimahullah menyatakan:

ولقد صلى عليه الصلاة والسلام ثلاثين ألف صلاة فلم ينقل عنه أنه قال نويت أصلي صلاة كذا وكذا وتركه سنة كما أن فعله سنة فليس لنا أن نسوي بين ما فعله وتركه

Dan beliau shallallahu alaihi wasallam telah melakukan shalat sebanyak 30 ribu kali shalat dan tidak pernah dinukilkan dari beliau bahwa beliau menyatakan: “Nawaitu ushalli shalat kadza wa kadza (Aku berniat melakukan shalat demikian dan demikian, pen).” Dan perkara yang ditinggalkan oleh beliau adalah sunnah (tarkiyah, pen) sebagaimana perbuatan beliau juga merupakan sunnah (fi’liyah). Maka kita tidak boleh menyamakan antara perkara yang dilakukan oleh beliau dengan perkara yang beliau tinggalkan.” (Al-Mawahibul Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah: 4/73).

Beliau juga menyatakan:

وبالجملة فلم ينقل أحد أنه عليه الصلاة والسلام تلفظ بالنية ولا علم أحدا من أصحابه التلفظ بها ولا أقره على ذلك بل المنقول عنه في السنن أنه قال مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم..الخ

“Secara global, tidak ada seorang pun yang menukilkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melafalkan niat, atau mengajarkan kepada salah seorang sahabat beliau agar melafalkannya dan tidak pula membiarkannya. Tetapi yang dinukil dalam kitab-kitab Sunan adalah sabda beliau: “Kunci shalat adalah bersuci. Ihramnya adalah takbir dan tahallulnya adalah salam…dst.” (Al-Mawahibul Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyah: 4/72).

Ulama Syafi’iyah lainnya yang menukilkan sunnah tarkiyahnya pelafalan niat shalat adalah al-Allamah Sulaiman bin Umar al-Jamal asy-Syafi’i (wafat tahun 1204 H) rahimahullah. Beliau menyatakan:

وَكَانَ دَأْبُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إحْرَامِهِ لَفْظُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَمْ يُنْقَلْ عَنْهُ سِوَاهَا أَيْ كَالنِّيَّةِ

“Adalah perbuatan beliau shallallahu alaihi wasallam di dalam ihramnya adalah melafalkan Allahu Akbar. Dan tidak pernah dinukilkan dari beliau selain lafal takbir, maksudnya seperti pelafalan niat.” (Hasyiyah al-Jamal ala Minhajith Thullab: 3/85).

Mendirikan Shalat Jumat bagi Kafilah

Contoh lainnya dari penukilan ‘sunnah tarkiyah’ dengan cara kedua adalah penukilan ‘sunnah tarkiyah’nya mendirikan shalat Jumat bagi orang-orang yang sedang bermusafir. Artinya rombongan musafirin tidak usah mendirikan shalat Jumat sendiri sebagai bentuk ‘sunnah tarkiyah’, tetapi cukup bergabung jumatan dengan orang-orang kampung tempat singgah atau melakukan shalat dhuhur secara qashar.

Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari asy-Syafi’i (wafat tahun 926 H) rahimahullah menyatakan:

وَلَمْ يُنْقَلْ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّاهَا فِي سَفَرٍ قَطُّ وَلَوْ فَعَلَهَا لَاشْتُهِرَتْ

“Dan tidak pernah dinukilkan bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam mendirikan shalat Jumat ketika safar satu kali pun. Dan seandainya beliau melaksanakannya, tentu akan terkenal (di kalangan ahlul hadits, pen).” (Asnal Mathalib Syarh Raudhatut Thalib: 3/495).

Membantah Kebid’ahan dan Pelakunya

Di antara manfaat penting dari mempelajari ‘sunnah tarkiyah’ adalah bahwa dengan mengetahui kaedah ‘sunnah tarkiyah’, kita bisa membantah ahlul bid’ah dan menolak kebid’ahan. Para ulama kita terdahulu juga membantah tokoh ahlul bid’ah di jaman mereka dengan metode penetapan ‘sunnah tarkiyah’. Di antara mereka adalah al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Husain bin Ali al-Karabisi berkata:

شَهِدْتُ الشَّافِعِيَّ، وَدَخَلَ عَلَيْهِ بِشْرٌ المَرِيسِيُّ فَقَالَ لبِشْرٍ: أَخْبِرْنِي عَمَّا تَدعُو إِلَيْهِ: أَكتَابٌ نَاطِقٌ، وَفَرْضٌ مُفْتَرَضٌ، وَسُنَّةٌ قَائِمَةٌ، وَوَجَدْتَ عَنِ السَّلَفِ البَحْثَ فِيْهِ، وَالسُّؤَالَ؟ فَقَالَ بِشْرٌ: لاَ، إِلاَّ أَنَّهُ لاَ يَسَعُنَا خِلاَفُهُ.فَقَالَ الشَّافِعِيُّ: أَقْرَرْتَ بِنَفْسِكَ عَلَى الخَطَأِ، فَأَيْنَ أَنْتَ عَنِ الكَلاَمِ فِي الفِقْهِ وَالأَخْبَارِ..الخ

“Aku menyaksikan asy-Syafi’i, sedangkan Bisyr al-Marisi (tokoh Mu’tazilah saat itu, pen) menemui beliau. Beliau bertanya kepada Bisyr: “Beritahukan kepadaku tentang sesuatu (yakni bid’ah ilmu kalam, pen) yang kamu dakwahkan itu! Adakah ia berupa kitab yang berbicara? Ataukah kewajiban yang difardhukan? Ataukah sunnah yang tegak? Dan kamu mendapatkan as-Salaf pernah membahas dan bertanya tentangnya?” Bisyr menjawab: “Tidak ada, hanya saja kita tidak boleh menyelisihi ilmu kalam tersebut.” Asy-Syafi’i berkata: “Berarti kamu mengakui dirimu di atas kesalahan. Lantas di mana posisimu dari membahas fikih dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam..dst.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/27).

Maka Imam asy-Syafi’i menyatakan bid’ahnya ilmu kalam dengan metode penetapan ‘sunnah tarkiyah’.

Melanggar Sunnah Tarkiyah Berarti Melakukan Bid’ah

Kemudian metode ‘penetapan sunnah tarkiyah’ ini digunakan oleh ulama-ulama Syafi’iyah untuk menetapkan suatu perkara bid’ah. Ini merujuk pada penjelasan al-Haitami rahimahullah:

وكذا ما تركه مع قيام المقتضى فيكون تركه سنة وفعله بدعة مذمومة

“Demikian pula perkara yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam padahal motivasi untuk melakukannya sudah ada ketika itu. Maka meninggalkannya adalah sunnah (tarkiyah, pen) dan melaksanakannya adalah bid’ah yang tercela.” (Al-Fatawa al-Haditsiyah lil Haitami: 200).

Contohnya adalah perkataan al-Imam Najmuddin Ibnur Rif’ah asy-Syafi’i rahimahullah (wafat tahun 710 H) tentang bid’ahnya selamatan kematian. Beliau mem-bid’ahkan acara selamatan kematian setelah penukilan sunnah tarkiyah. Beliau berkata:

وإصلاح أهل [البيت الطعام] وجمع الناس لم ينقل فيه شيء، وهو بدعة غير مستحب. قاله ابن الصباغ، والله أعلم.

“Perbuatan keluarga mayit menjamu makanan dan mengumpulkan manusia, tidak pernah dinukilkan sedikit pun (dari Salaf, pen). Sehingga acara tersebut adalah bid’ah yang tidak dianjurkan. Demikianlah ucapan Ibnush Shabbagh. Wallahu a’lam.” (Kifayatun Nabih fi Syarhit Tanbih: 5/183).

Demikian pula ucapan Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari asy-Syafi’i (wafat tahun 926 H) rahimahullah tentang haramnya menghiasi masjid dengan emas. Beliau berkata:

لِأَنَّهَا لَيْسَتْ فِي مَعْنَى الْمُصْحَفِ وَلِأَنَّ ذَلِكَ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ السَّلَفِ فَهُوَ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ..الخ

“(Yang demikian) karena masjid itu bukan bermakna mushaf (yang boleh dihiasi dengan emas dan perak, pen) dan juga karena perbuatan tersebut tidak pernah dinukil dari as-Salaf. Sehingga perbuatan tersebut merupakan bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat..dst.” (Asnal Mathalib Syarh Raudhatith Thalib: 5/105).

Wudhu dengan Urutan Terbalik

Jika suatu perkara dapat dianggap sebagai perkara bid’ah karena memenuhi kriteria ‘sunnah tarkiyah’, maka berwudhu dengan urutan terbalik pun dapat dikategorikan sebagai perkara bid’ah. Para ulama Syafi’iyah menetapkan bahwa berwudhu dengan urutan terbalik termasuk ‘sunnah tarkiyah’.

Al-Imam Ibnu Sayyidin Nas al-Ya’mari asy-Syafi’i (wafat tahun 734 H) rahimahullah berkata:

ولم ينقل أن النبي – صلى الله عليه وسلم – توضأ وضوءًا منكسًا، ولو كان لنقل، ولو لبيان الجواز،

“Dan tidak pernah dinukilkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berwudhu dengan urutan terbalik. Seandainya pernah, maka tentu akan dinukilkan, meskipun (hanya sekali) untuk menerangkan bolehnya (berwudhu dengan urutan terbalik, pen).” (An-Nafhusy Syadzi Syarh Jami’ at-Tirmidzi: 1/434).

Hanya dalam Ranah Ta’abbudi

Tempat berlakunya ‘bid’ah secara syar’i’ adalah dalam perkara ta’abbudi sebagaimana tempat berlakunya ‘sunnah tarkiyah’ juga dalam perkara ta’abbud.

Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat tahun 974) rahimahullah membuat definisi amal ta’abbudi. Beliau menyatakan:

وَهُوَ اصْطِلَاحًا مَا لَا يُعْقَلُ مَعْنَاهُ عِبَادَةً كَانَ أَوْ غَيْرَهَا

Perkara ta’abbudi menurut istilah ahli fikih adalah sesuatu yang tidak dimengerti maksudnya, baik itu berupa ibadah (seperti bersuci, shalat dsb, pen) ataupun selainnya (seperti muamalat, adat dsb, pen).” (Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj: 34/458).

Al-Allamah Abu Bakar al-Bakri ad-Dimyathi asy-Syafi’i (wafat tahun 1302 H) rahimahullah menjelaskan maksud al-Haitami:

وقوله: ما لا يعقل معناه: أي أمر لا تدرك حكمته، بل الشارع تعبدنا به

“Maksud ucapan al-Haitami “sesuatu yang tidak dimengerti maksudnya” adalah perkara yang hikmah pensyariatannya tidak bisa dijangkau (oleh pemikiran manusia, pen), tetapi Pemilik syariat hanyalah memerintahkan kita untuk menjadikannya sebagai bentuk ibadah (ritual, pen).” (I’anatuth Thalibin: 4/38).

Jadi batasan ibadah yang bersifat ta’abbudi adalah amal ibadah yang tidak diketahui maksud, kemaslahatan dan madharatnya secara terperinci.

Kemudian al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat tahun 974) rahimahullah menyatakan:

الْأُمُورُ التَّعَبُّدِيَّةُ لَا تَثْبُتُ إلَّا بِالنُّصُوصِ الصَّرِيحَةِ

“Perkara-perkara ta’abbudi tidak boleh ditetapkan kecuali dengan nash-nash (teks al-Quran dan al-Hadits) yang jelas.” (Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj: 5/196).

Al-Allamah Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami asy-Syafi’i (wafat tahun 1221 H) rahimahullah mencontohkan:

وهذا العدد تعبدي لا يسأل عن حكمته بل يتلقى عن الشارع بالقبول

“Jumlah ini (yakni nishab zakat binatang ternak, pen) adalah urusan ta’abbudi, tidak boleh ditanyakan tentang hikmahnya, akan tetapi hendaknya menerima dari Pemilik syariat ini apa adanya.” (Tuhfatul Habib ala Syarhil Khathib: 3/20).

Beliau juga memberikan contoh lainnya:

وحكمة اختصاص الخمس بهذه الأوقات تعبدي لا يعقل معناه

“Hikmah pengkhususan lima (5) pada waktu-waktu ini (dalam shalat 5 waktu, pen) adalah urusan ta’abbudi, tidak bisa diketahui maksudnya.” (Tuhfatul Habib ala Syarhil Khathib: 2/6).

Di dalam muamalah perdagangan –yang kebanyakannya merupakan kebiasaan duniawi yang dapat diketahui alasannya- pun terdapat urusan ta’abbudi yang tidak boleh dilanggar.

Al-Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani asy-Syafi’i (wafat tahun 489 H) rahimahullah berkata:

وأما أصل عقود المعاملات معقولة المعنى إلا أن الشرع أثبت فيها أنواعا من التعبدات يلزم اتباعها ولا يجوز تجاوزها وتعديها

“Adapun pokok dari urusan muamalah, maka merupakan perkara yang bisa diketahui maksudnya (sehingga boleh diubah, ditambah atau dikurangi sesuai kemaslahatan, pen), hanya saja syariat ini menetapkan beberapa macam perkara ta’abbudi yang wajib diikuti dan tidak boleh melampaui dan melebihinya.” (Qawathi’ul Adillah fil Ushul: 2/115).

Sehingga ketika kita mengubah-ubah sebuah perkara ta’abbudi dengan cara mengurangi atau menambah atau mengubah sifatnya, maka kita akan terjatuh ke dalam perkara bid’ah.

Al-Imam Ala’uddin Ibnul Aththar asy-Syafi’i (murid al-Imam an-Nawawi, wafat tahun 724 H) rahimahullah mengingatkan:

ثم المحدَث في الدين قد يكونُ زيادةَ وصفٍ في العبادة المشروعة لم تثبت في السنة؛ كاجتماع في موضع الانفراد، ويزعم من يفعل ذلك أن يدخل تحت عموم السنة؛ كما يفعل في ليلة النصف، والتعريف بغير عرفة، وهذا لا يستقيم؛ فإن الغالب على العبادات التعبد، ومأخذُها التوقيف

“Kemudian perkara baru dalam agama (yakni: bid’ah, pen), terkadang berupa tambahan sifat dalam ibadah yang disyariatkan, yang mana tambahan tersebut tidak ada dalam as-Sunnah, seperti berkumpul dalam ibadah yang seharusnya dilakukan sendiri-sendiri, dan pelakunya menyangka bahwa perbuatannya masih berada dalam keumuman as-Sunnah, seperti berkumpul pada malam Nisfu Sya’ban, berkumpul pada hari Arafah di luar padang Arafah, maka pendalilan semacam ini bukanlah pendalilan yang lurus, karena pada umumnya perkara-perkara ibadah itu bersifat ta’abbudi (yang tidak bisa dinalar perinciannya, pen) dan dasar pelaksanaannya harus mengikuti teks (ayat atau hadits, pen).” (Al-Uddah fi Syarhil Umdah: 1/363).

Qiyas dalam Ranah Ta’abbudi

Kemudian kita juga harus mengetahui bahwa urusan ibadah yang bersifat ‘ta’abbudi’ tidak diperkenankan melakukan qiyas (analogi) di dalamnya. Ini karena kebanyakan orang yang melakukan perkara bid’ah terjatuh dalam perbuatan qiyas dalam urusan ta’abbudi.

Pengertian qiyas menurut al-Imam Abu Ishaq asy-Syairazi asy-Syafi’i (wafat tahun 476 H) rahimahullah adalah:

حمل فرع على أصل في بعض أحكامه بمعنى يجمع بينهما

“Membawa perkara cabang kepada perkara asal di dalam sebagian hukumnya karena alasan yang menyatukan di antara keduanya.” (Al-Luma’ fi Ushulil Fiqh: 52).

Al-Allamah Sulaiman al-Jamal asy-Syafi’i (wafat tahun 1204 H) rahimahullah menerangkan kaedah fikih bahwa urusan ta’abbudi tidak dapat di-qiyas-kan antara satu dengan lainnya. Beliau menyatakan:

وَالْأُمُورُ التَّعَبُّدِيَّةُ لَا يَدْخُلُهَا الْقِيَاسُ

“Perkara-perkara yang bersifat ‘ta’abbudi’ tidak boleh dimasuki oleh qiyas (analogi, pen).” (Hasyiyah al-Jamal ala Syarh Minhajith Thullab: 10/278).

Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i (wafat tahun 676 H) menyatakan bid’ahnya menerjemahkan al-Quran dalam shalat karena di-qiyas-kan dengan ceramah. Beliau menyatakan:

هذا كله مع أن الصلاة بناها علي التعبد والاتباع والنهى عن الاختراع وطريق القياس منسدة وإذا نظر الناظر في أصل الصلاة واعدادها واختصاصها بأوقاتها وما اشتملت عليه من عدد ركعاتها واعادة ركوعها في كل ركعة وتكرر سجودها الي غير ذلك من أفعالها ومدارها علي الاتباع ولم يفارقها جملة وتفصيلا فهذا يسد باب القياس..الخ

“Ini (tidak sahnya menerjemahkan al-Quran dalam shalat, pen) semuanya berdasarkan pada alasan bahwa shalat itu dibangun di atas urusan ‘ta’abbud, ittiba’ (mengikuti as-Sunnah, pen) dan larangan mengada-ada (berbuat bid’ah). Dan jalan qiyas tertutup atasnya. Jika seseorang melihat pada pokok shalat, persiapannya, kekhususannya, waktu-waktunya dan perkara yang dikandung olehnya yang berupa bilangan rakaat dan berulangnya ruku’ dan sujud dalam setiap rakaat dan lainnya, itu semuanya berkisar pada perbuatan ittiba’ dan tidak membedakan antara global dan perinciannya. Maka ini menutup pintu qiyas..dst.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab: 3/38).

Yang demikian karena urusan ta’abbudi itu tidak bisa dipahami hikmahnya secara terperinci. Al-Allamah Sa’duddin at-Taftazani asy-Syafi’i (wafat tahun 793 H) rahimahullah menyatakan:

لأن من شرط القياس أن يكون حكم الأصل معقول المعنى

“Ini karena termasuk dari persyaratan qiyas adalah bahwa hukum pokok (yang akan di-qiyaskan, pen) itu bisa dipahami maknanya (dimengerti alasannya, pen).” (Syarhut Talwih alat Taudhih li Matnit Tanqih fi Ushulil Fiqh: 2/207).

Sehingga jika seseorang melakukan qiyas dalam urusan yang bersifat ta’abbudi, maka ia akan terjatuh pada perbuatan bid’ah.

Oleh karena itu al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah menganggap bid’ahnya melantunkan adzan di liang lahat karena tidak boleh di-qiyaskan dengan adzan di telinga bayi baru lahir. Beliau pernah ditanya tentang mengumandangkan adzan ketika hendak menutup liang lahat. Beliau menjawab:

هو بِدْعَةٌ إذْ لم يَصِحَّ فيه شَيْءٌ وما نُقِلَ عن بَعْضِهِمْ فيه غَيْرُ مُعَوَّلٍ عليه..الخ

Itu (mengumandangkan adzan, pen) adalah bid’ah karena tidak ada satu riwayat pun yang shahih (dari Salaf, pen). Sedangkan yang dinukilkan dari sebagian ulama tentang pembolehannya tidak perlu ditoleh (dianggap, pen)….dst.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra: 2/17).

Setelah membawakan ucapan al-Ashbahi, beliau menyatakan:

وَبِهِ يُعْلَمُ أَنَّهُ مُوَافِقٌ لِمَا ذَكَرْته من أَنَّ ذلك بِدْعَةٌ وما أَشَارَ إلَيْهِ من ضَعْفِ الْقِيَاسِ الْمَذْكُورِ ظَاهِرٌ جَلِيٌّ يُعْلَمُ دَفْعُهُ بِأَدْنَى تَوَجُّهٍ وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

“Dengan demikian dapat diketahui bahwa keterangannya mencocoki keteranganku bahwa perbuatan tersebut (adzan di liang lahat, pen) adalah bid’ah. Dan apa yang diisyaratkan olehnya tentang lemahnya qiyas (yakni: mengqiyaskan adzan di liang lahat dengan adzan pada bayi baru lahir, pen) adalah sangat jelas, bisa diketahui bantahannya dari sisi yang paling mudah. Wallahu subhanahu wata’ala a’lam bish shawab.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra: 2/18).

Mengangkat Tangan ketika Berdoa

Mengangkat tangan ketika berdoa termasuk urusan ta’abbudi, yaitu perkara yang tidak bisa dinalar hikmahnya secara terperinci, karena bersifat tauqifiyah (mengikuti teks wahyu, pen). Maka ‘sunnah tarkiyah’ bisa memasuki perkara ini.

Al-Imam al-Izz bin Abdis Salam asy-Syafi’i (wafat tahun 660 H) rahimahullah berkata:

وكذلك لا ترفع اليدان في دعاء التشهد؛ ولا يستحب رفع اليدين في الدعاء إلا في المواطن التي رفع فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم يديه

“Demikian pula tidak usah mengangkat kedua tangan ketika doa tasyahud. Dan tidak dianjurkan mengangkat kedua tangan ketika berdoa kecuali di tempat-tempat yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau.” (Fatawa al-Izz bin Abdis Salam: 47).

Contoh doa dengan mengangkat kedua tangan adalah doa setelah berwudhu. Abu Musa al-Asy’ari radliyallahu anhu berkata:

دَعَا النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ». وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ»

“Nabi shallallahu alaihi wasallam meminta air. Kemudian beliau berwudhu, lalu mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa: “Ya Allah! Ampunilah Ubaid Abi Amir!” Dan aku melihat putihnya ketiak beliau. Beliau berdoa: “Ya Allah! Jadikanlah ia pada hari kiamat di atas kebanyakan manusia.” (HR. Al-Bukhari: 4323 dan Muslim: 6562).

Adapun contoh doa yang tidak perlu mengangkat kedua tangan adalah bagi seorang khathib ketika berdo’a di atas mimbar. Sebagian ulama Syafi’iyah menganggapnya sebagai ‘sunnah tarkiyah’.

Al-Allamah Syihabuddin al-Qalyubi asy-Syafi’i (wafat tahun 1069) rahimahullah berkata:

وَيُكْرَهُ لِلْخَطِيبِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ مُطْلَقًا

“Dan dibenci bagi khathib untuk mengangkat kedua tangan secara mutlak.” (Hasyiyata al-Qalyubi wa Umairah: 2/328).

Dasar keterangan Syafi’iyah di atas adalah atsar Umarah bin Ru’aibah radliyallahu anhu ketika melihat Bisyir bin Marwan mengangkat kedua tangannya di atas mimbar. Umarah berkata:

قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ

“Semoga Allah menjadikan buruk kedua tangan ini. Aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak lebih dari berisyarat dengan jari telunjuknya demikian.” (HR. Muslim: 1443, Abu Dawud: 930, Ahmad: 16591).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

فيه أن السنة أن لا يرفع اليد في الخطبة وهو قول مالك وأصحابنا وغيرهم

“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa termasuk Sunnah (tarkiyah) adalah tidak usah mengangkat tangan dalam khutbah. Ini adalah pendapat Malik, para sahabat kami (Syafi’iyah, pen) dan lainnya.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim: 6/162).

Maslahat Mursalah

Perkara-perkara yang dilakukan atau baru muncul setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti pembukuan mushaf al-Quran, mencetak mata uang, shalat tarawih berjamaah dan sebagainya. Maka apakah perkara tersebut tidak termasuk ‘Sunnah Tarkiyah’ yang mana jika dilanggar akan terjatuh pada perkara bid’ah?

Jawaban:

Perkara tersebut tidak termasuk bid’ah karena tidak memenuhi kaidah ‘Sunnah Tarkiyah’ seperti tidak adanya faktor pendorong atau masih ada faktor penghalang ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih hidup.

Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وخرج بقولنا مع قيام المقتضى في حياته تركه إخراج اليهود من جزيرة العرب وجمع المصحف وما تركه لوجود المانع كالاجتماع للتراويح فإن المقتضى التام يدخل فيه المانع

“Dan dikecualikan dengan ucapan kami ‘tegaknya faktor pendorong ketika beliau masih hidup’, yaitu perbuatan beliau tidak mengusir kaum Yahudi dari Jazirah Arab dan tidak menghimpun mushaf al-Quran, serta perkara yang ditinggalkan karena adanya faktor penghalang seperti menghimpun jamaah shalat tarawih, karena faktor pendorong yang telah sempurna tersebut dihadang oleh faktor penghalang (seperti takut diwajibkan atas umat, pen).” (Al-Fatawa al-Haditsiyah li Ibni Hajar al-Haitami: 1/200).

Perkara yang dicontohkan oleh al-Haitami di atas kemudian disebut oleh para ulama usul fikih dengan ‘Maslahat Mursalah’.

Al-Imam Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan definisi ‘Maslahat Mursalah’:

وَالْكَلَامُ فِيمَا جَهِلَ ، أَيْ سَكَتَ الشَّرْعُ عَنْ اعْتِبَارِهِ وَإِهْدَارِهِ ، وَهُوَ الْمُعَبَّرُ عَنْهُ ب ” الْمَصَالِحِ الْمُرْسَلَةِ “ . وَيُلَقَّبُ ب ” الِاسْتِدْلَالِ الْمُرْسَلِ ” . وَلِهَذَا سُمِّيَتْ ” مُرْسَلَةً ” أَيْ لَمْ تُعْتَبَرْ وَلَمْ تُلْغَ .

“Membicarakan perkara yang didiamkan oleh syariat, apakah ia dianggap ataukah dilupakan, itulah yang dinamakan ‘Maslahat Mursalah’, disebut juga dengan ‘Istidlal Mursal’. Disebut ‘Mursalah’ karena tidak ada dalil yang menganggapnya ataupun yang meniadakannya.” (Al-Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh: 7/350).

Beliau juga menjelaskan:

وَالْمَشْهُورُ اخْتِصَاصُ الْمَالِكِيَّةِ بِهَا وَلَيْسَ كَذَلِكَ ، فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الْمَذَاهِبِ يَكْتَفُونَ بِمُطْلَقِ الْمُنَاسَبَةِ ، وَلَا مَعْنَى لِلْمَصْلَحَةِ الْمُرْسَلَةِ إلَّا ذَلِكَ

“Yang masyhur adalah bahwa ‘Maslahat Mursalah’ itu kekhususan ulama Malikiyah. Dan yang benar tidaklah demikian, karena ulama di semua madzhab berpegang dengan ‘Munasabah’ secara mutlak. Dan tidaklah ada maksud dari ‘Munasabah’ kecuali ‘Maslahat Mursalah’.” (Al-Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh: 7/47).

Sedangkan sebagian ulama Syafi’iyah menamakannya dengan ‘Makna Mursalah’. Al-Allamah Abul Ma’ali al-Juwaini asy-Syafi’i al-Asy’ari (wafat tahun 478 H) rahimahullah menyatakan:

ومن تتبع كلام الشافعي لم يره متعلقا بأصل ولكنه ينوط الأحكام بالمعاني المرسلة فإن عدمها التفت إلى الأصول

“Barangsiapa yang meneliti ucapan asy-Syafi’i, maka ia tidak melihat beliau bergantung dengan suatu asal (yakni: dalil’ yaitu dalil al-Quran, as-Sunnah, ijma’ dan qiyas, pen), akan tetapi menghubungkan hukum-hukum dengan ‘Makna Mursalah’. Jika beliau tidak mendapatkannya, maka beliau kembali menoleh kepada usul.” (Al-Burhan fi Ushulil Fiqh: 2/724).

Adapun contoh-contoh “Maslahat Mursalah”, maka al-Imam Syihabuddin al-Qarafi al-Maliki (wafat tahun 684 H) berkata:

وَمِمَّا يُؤَكِّدُ الْعَمَلَ بِالْمَصَالِحِ الْمُرْسَلَةِ أَنَّ الصَّحَابَةَ عَمِلُوا أُمُورًا لِمُطْلَقِ الْمَصْلَحَةِ لَا لِتَقْدِيمِ شَاهِدٍ بِالِاعْتِبَارِ نَحْوَ كِتَابَةِ الْمُصْحَفِ وَلَمْ يَتَقَدَّمْ فِيهِ أَمْرٌ وَلَا نَظِيرٌ وَوِلَايَةِ الْعَهْدِ مِنْ أَبِي بَكْرٍ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَلَمْ يَتَقَدَّمْ فِيهَا أَمْرٌ وَلَا نَظِيرٌ وَكَذَلِكَ تَرْكُ الْخِلَافَةِ شُورَى وَتَدْوِينُ الدَّوَاوِينِ وَعَمَلُ السِّكَّةِ لِلْمُسْلِمِينَ وَاِتِّخَاذِ السِّجْنِ فَعَمِلَ ذَلِكَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهَذِهِ الْأَوْقَافُ الَّتِي بِإِزَاءِ مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّوْسِعَةُ بِهَا فِي الْمَسْجِدِ عِنْدَ ضِيقِهِ فَعَلَهُ عُثْمَانُ ….الخ.. وَذَكَرَ كَثِيرٌ حَدًّا لِمُطْلَقِ الْمَصْلَحَةِ

“Dan termasuk yang menguatkan pengamalan “Maslahat Mursalah” adalah bahwa para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam mengamalkan banyak perkara karena murninya maslahat secara mutlak, bukan karena didahului oleh dalil yang menganggapnya. Seperti: penulisan mushaf Al-Quran; yang tidak didahului oleh perintah (syariat) dan sejenisnya, walayatul ahdi (semacam calon pengganti, pen) dari Abu Bakar kepada Umar radliyallahu anhuma; yang tidak didahului perintah dan sejenisnya. Demikian pula ditinggalkannya khilafah sebagai Syura, membentuk “Diwan”, mencetak mata uang untuk kaum muslimin, membuat penjara yang dilakukan oleh Umar, mengadakan tanah wakaf di depan masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, memperluas masjid dengan tanah waqaf tersebut ketika masjid sempit; ini dikerjakan oleh Utsman,………dst. Dan contohnya sangat banyak karena mutlaknya maslahat.” (Syarh Tanqihul Fushul: 2/192).

Inti dari pembahasan ini adalah jika kita menemui suatu perkara yang tidak dijumpai di masa pen-syariatan karena memang tidak ada dalil yang melarangnya ataupun dalil yang menganggapnya, maka kita tetapkan aturan kaedah ‘sunnah tarkiyah’ pada perkara tersebut. Jika kriteria ‘sunnah tarkiyah’ tidak terpenuhi, seperti karena tidak adanya faktor pendorong, atau masih adanya penghalang ketika jaman pensyariatan, maka perkara tersebut termasuk ‘Maslahat Mursalah’. Perincian dan persyaratan ‘maslahat mursalah’ diulas secara panjang lebar dalam kitab-kitab usul fikih.

Antara Maslahat Mursalah dan Bid’ah Hasanah

Di kalangan ulama Syafi’iyah dan sebagian Malikiyah dikenal pembagian bid’ah menjadi 5 (lima) sesuai dengan pembagian hukum taklif. Al-Allamah al-Izz bin Abdis Salam al-Syafi’i (wafat tahun 660 H) rahimahullah menyatakan:

البدعة فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم. وهي منقسمة إلى: بدعة واجبة، وبدعة محرمة، وبدعة مندوبة..الخ

“Bid’ah adalah melakukan perkara yang belum pernah terjadi di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bid’ah terbagi menjadi: bid’ah wajibah, bid’ah muharramah, bid’ah mandubah…dst.” (Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam: 2/172-173).

Kemudian beliau menjelaskan:

وللبدع الواجبة أمثلة. أحدها: الاشتغال بعلم النحو الذي يفهم به كلام الله وكلام رسوله صلى الله عليه وسلم…الخ

“Bid’ah wajibah mempunyai beberapa contoh. Pertama: menyibukkan diri dengan ilmu nahwu yang mana dengannya firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam bisa dipahami…dst.” (Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam: 2/173).

Kemudian beliau meneruskan:

وللبدع المندوبة أمثلة. منها: إحداث الربط والمدارس وبناء القناطر…. ومنها: صلاة التراويح….الخ

“Dan bid’ah mandubah (yang dianjurkan) mempunyai beberapa contoh, seperti mengadakan pondok (ribath), madrasah, membangun jembatan…. Di antara contohnya juga adalah shalat tarawih (berjamaah, pen)…dst.” (Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam: 2/173).

Sedangkan Al-Allamah Ibnusy Syath al-Anshari al-Maliki (wafat tahun 723 H) rahimahullah menolak klasifikasi dari al-Izz bin Abdis Salam karena contoh-contoh tersebut ternyata memiliki asal dari syariat ini. Beliau menyatakan:

( الْجِهَةُ الْأُولَى ) أَنَّ أَمْثِلَةَ الْبِدَعِ الْوَاجِبَةِ وَالْمَنْدُوبَةِ وَالْمُبَاحَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْقَرَافِيُّ وَشَيْخُهُ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ لَا تَخْرُجُ عَنْ كَوْنِهَا مِمَّا لَهُ أَصْلٌ فِي الدِّينِ ، وَمِنْ الْمَصَالِحِ الْمُرْسَلَةِ ، وَعَنْ كَوْنِهَا مِنْ الْعَادِيَّاتِ ، وَمَا كَانَ مِمَّا لَهُ أَصْلٌ فِي الدِّينِ ، وَمِنْ الْمَصَالِحِ الْمُرْسَلَةِ لَا يُعَدُّ مِنْ الْبِدَعِ..الخ

(Arah pertama) bahwa contoh-contoh bid’ah wajibah, bid’ah mandubah dan bid’ah mubahah yang disebutkan oleh al-Qurafi al-Maliki dan gurunya yaitu Ibnu Abdis Salam asy-Syafi’i, tidaklah keluar dari keadaannya yang mempunyai asal di dalam agama ini, juga termasuk ‘maslahat mursalah’, dan (juga tidak keluar) dari urusan kebiasaan manusia. Dan perkara yang mempunyai asal di dalam agama dan juga mempunyai asal dari ‘maslahat mursalah’, tidak termasuk kategori bid’ah…dst.”( Idrarus Syuruq Syarh Anwa’il Furuq: 4/350).

Dan benarlah ucapan Ibnusy Syath bahwa contoh-contoh bid’ah wajibah dan bid’ah mandubah yang dipaparkan oleh al-Izz bin Abdis Salam di atas mirip dengan contoh-contoh ‘maslahat mursalah’ yang dipaparkan oleh al-Imam Syihabuddin al-Qarafi al-Maliki pada bab sebelum ini. Pendapat Ibnusy Syath ini diikuti oleh sebagian Malikiyah dan Hanabilah. Sedangkan ulama Syafi’iyah tetap ngotot dengan pendapat mereka karena –menurut mereka- bahwa perkara-perkara tersebut (seperti pembukuan al-Quran, membangun diwan, dsb) tetap disebut bid’ah karena belum pernah dijumpai di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hanya saja disebut bid’ah mandubah dan bid’ah wajibah.

Dalam menghadapi perbedaan terminologi (istilah) yang dipakai oleh para ulama yang berdebat, berlaku kaedah yang diterangkan oleh al-Allamah Abul Hasan al-Mardawi al-Hanbali (wafat tahun 885 H) rahimahullah:

المسألة راجعة  إلى الاصطلاح ، والاصطلاح لا مشاحة فيه

“Masalah yang diperdebatkan hendaknya dikembalikan kepada terminologi (istilah) yang dipakai oleh masing-masing ulama. Dan terminologi (yang dipakai oleh masing-masing) tidak boleh disalahkan (oleh kelompok lainnya).” (At-Tahbir Syarhut Tahrir: 4/1734).

Kata ‘bid’ah’ dalam terminologi al-Izz bin Abdis Salam dan kubunya adalah melakukan perkara yang belum pernah terjadi di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan tidak membedakan apakah perkara tersebut termasuk bid’ah secara bahasa ataukah bid’ah secara syar’iyah. Sedangkan mereka yang tidak setuju, menggunakan terminologi bid’ah secara syar’iyah. Oleh karena itu Ibnusy Syath menyatakan bahwa bid’ah wajibah dan bid’ah mandubah yang dicontohkan oleh kubu al-Izz bin Abdis Salam tidaklah keluar dari keadaannya yang mempunyai asal di dalam agama ini.

Maka di sini terdapat 2 (dua) jalan kompromi:

Pertama: kompromi dari al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau menyatakan:

ومن قسمها من العلماء إلى حسن وغير حسن فإنما قسم البدعة اللغوية ومن قال كل بدعة ضلالة فمعناه البدعة الشرعية

“Dan para ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah baik (hasanah) dan bid’ah yang tidak baik, mereka hanya membagi bid’ah secara bahasa. Dan ulama yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat, maka yang dimaksud adalah bid’ah secara syariat.” (Al-Fatawa al-Haditsiyah li Ibni Hajar al-Haitami: 200).

Ucapan al-Haitami di atas serupa dengan penjelasan al-Imam an-Nawawi rahimahullah. An-Nawawi -yang dikenal dengan pembelaan beliau terhadap pembagian bid’ah menurut al-Izz bin Abdis Salam- juga memaksudkannya dengan bid’ah secara bahasa. Beliau menyatakan:

قوله صلى الله عليه و سلم (وكل بدعة ضلالة) هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع قال أهل اللغة هي كل شيء عمل على غير مثال سابق قال العلماء البدعة خمسة أقسام..الخ

“Sabda beliau shallallahu alaihi wasallam ”Setiap bid’ah adalah sesat”, ini adalah lafazh umum yang dikhususkan. Yang dimaksud adalah keumuman bid’ah. Para ahli bahasa berkata: “Bid’ah adalah setiap amalan yang tidak memiliki contoh yang mendahuluinya.” Para ulama menyatakan: “Bid’ah itu dibagi menjadi 5 (lima) macam..dst.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim: 6/154).

Demikian pula menurut al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah. Beliau berkata:

وَأَمَّا ” الْبِدَع ” فَهُوَ جَمْع بِدْعَة وَهِيَ كُلّ شَيْء لَيْسَ لَهُ مِثَال تَقَدَّمَ فَيَشْمَل لُغَة مَا يُحْمَد وَيُذَمّ ، وَيَخْتَصّ فِي عُرْف أَهْل الشَّرْع بِمَا يُذَمّ وَإِنْ وَرَدَتْ فِي الْمَحْمُود فَعَلَى مَعْنَاهَا اللُّغَوِيّ

“Adapun lafazh ‘Bida’, maka bentuk tunggalnya adalah ‘bid’ah’, yaitu segala sesuatu yang tidak mempunyai contoh yang mendahuluinya. Maka ‘bid’ah’ secara bahasa, meliputi yang terpuji dan yang tercela. Dan ‘bid’ah’ dikhususkan dalam pengertian ahli Syariat dengan bid’ah yang tercela. Dan jika datang atsar tentang bid’ah yang terpuji, maka itu diartikan sebagai bid’ah secara bahasa.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 13/278).

Kedua: kompromi dari al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi al-Maliki rahimahullah. Beliau menyatakan:

وَإِذَا ثَبَتَ هَذَا، فَإِنْ كَانَ اعْتِبَارُ الْمَصَالِحِ الْمُرْسَلَةِ حَقًّا، فَاعْتِبَارُ الْبِدَعِ الْمُسْتَحْسَنَةِ حَقٌّ، لِأَنَّهُمَا يَجْرِيَانِ مِنْ وَادٍ وَاحِدٍ.وَإِنْ لَمْ يَكُنِ اعْتِبَارُ الْبِدَعِ حَقًّا، لَمْ يَصِحَّ اعْتِبَارُ الْمَصَالِحِ الْمُرْسَلَةِ.

 “Jika ini telah tetap, maka jika penilaian suatu perkara sebagai ‘maslahat mursalah’ itu benar, maka penilaian perkara tersebut sebagai ‘bid’ah mustahsanah (yang dianggap baik)’ itu juga benar. Ini karena kedua perkara tersebut berjalan dari satu lembah (yang sama). Dan jika suatu perkara itu tidak sah untuk disebut sebagai ‘bid’ah mustahsanah’, maka ia juga tidak sah untuk disebut sebagai ‘maslahat mursalah’.” (Kitabul I’tisham, tahqiq al-Hilali: 2/607-8).

Kompromi dari asy-Syathibi ini juga disetujui oleh Ibnusy Syath al-Anshari al-Maliki yang tidak setuju dengan pendapat al-Izz bin Abdis Salam dan al-Qurafi. Ibnusy Syath menyatakan:

وَإِذَا ثَبَتَ جُزْءٌ فِي الْمَصَالِحِ الْمُرْسَلَةِ ثَبَتَ مُطْلَقُ الْمَصَالِحِ الْمُرْسَلَةِ فَعَلَى هَذَا لَا يَنْبَغِي أَنْ يُسَمَّى عِلْمُ النَّحْوِ أَوْ غَيْرُهُ مِنْ عُلُومِ اللِّسَانِ أَوْ عِلْمُ الْأُصُولِ أَوْ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِنْ الْعُلُومِ الْخَادِمَةِ لِلشَّرِيعَةِ بِدْعَةً أَصْلًا وَمَنْ سَمَّاهُ بِدْعَةً فَإِمَّا عَلَى الْمَجَازِ كَمَا سَمَّى عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قِيَامَ النَّاسِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ بِدْعَةً ، وَإِمَّا جَهْلًا بِمَوَاقِعِ السُّنَّةِ وَالْبِدْعَةِ فَلَا يَكُونُ قَوْلُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ مُعْتَدًّا بِهِ ، وَلَا مُعْتَمَدًا عَلَيْهِ

“Jika satu bagian di dalam bab ‘Maslahat Mursalah’ telah tetap, maka kaedah ‘Maslahat Mursalah’ juga tegak secara mutlak. Dengan demikian, tidak boleh menamai ilmu nahwu atau ilmu-ilmu lainnya dari ilmu bahasa, atau ilmu ushul atau yang sepertinya dari ilmu-ilmu alat, dengan nama ‘Bid’ah’ secara asal. Barangsiapa yang menamainya sebagai “Bid’ah”, maka  adakalanya itu merupakan penamaan secara majaz seperti penyebutan Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu terhadap berhimpunnya manusia untuk shalat tarawih, adakalanya penamaan tersebut merupakan kebodohan terhadap penerapan as-Sunnah dan Bid’ah, sehingga pendapatnya tidak perlu dianggap dan tidak boleh dijadikan sandaran.” (Idrarus Syuruq Syarh Anwa’il Furuq: 4/351).

Dan benarlah ucapan asy-Syathibi bahwa perkara-perkara yang dianggap ‘bid’ah mandubah dan bid’ah wajibah’ oleh kubu Ibnu Abdis Salam (yang kemudian diikuti oleh ulama Syafi’iyah) adalah sama dengan perkara yang dianggap sebagai ‘maslahat mursalah’ oleh kubu  al-Qarafi  dan Ibnusy Syath (yang kemudian diikuti oleh ulama Malikiyah dan Hanabilah).

Sehingga jika mereka menyatakan bahwa perkara A adalah bid’ah hasanah, amalan B adalah bid’ah hasanah, maka kita perlu menguji dulu klaim mereka dengan kaedah penerapan ‘Sunnah Tarkiyah’ dan ‘Maslahat Mursalah’. Jika perkara tersebut merupakan ‘Maslahat Mursalah’, maka klaim mereka benar bahwa perkara tersebut adalah ‘bid’ah hasanah’. Akan tetapi jika perkara yang mereka bela itu termasuk ‘Sunnah Tarkiyah’, maka itu bukan ‘bid’ah hasanah’ tetapi ‘bid’ah yang tercela’. Dan klaim mereka adalah klaim abal-abal. Wallahul musta’an.

Bid’ah Hasanah menurut al-Imam asy-Syafi’i

Maka dari penjelasan kedua kubu ulama dan kompromi dari al-Imam asy-Syathibi dan al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami rahimahumallah di atas, kita dapat mendudukkan ucapan al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah:

البدعة بدعتان بدعة محمودة وبدعة مذمومة فما وافق السنة فهو محمود وما خالف السنة فهو مذموم

“Bid’ah itu ada 2 macam; bid’ah mahmudah (yang terpuji, pen) dan bid’ah madzmumah (yang tercela, pen). Maka bid’ah yang mencocoki as-Sunnah disebut dengan bid’ah yang terpuji sedangkan bid’ah yang menyelisihi as-sunnah disebut dengan bid’ah yang tercela.” (Atsar riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’: 9/113).

Dalam riwayat al-Baihaqi, asy-Syafi’i berkata:

المحدثات من الأمور ضربان : أحدهما : ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا ، فهذه لبدعة الضلالة . والثانية : ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا ، فهذه محدثة غير مذمومة وقد قال عمر رضي الله عنه في قيام شهر رمضان : « نعمت البدعة هذه » يعني أنها محدثة  لم تكن..ألخ

“Perkara baru yang diada-adakan ada 2 (dua) macam. Pertama: perkara baru yang yang menyelisihi al-Kitab atau sunnah (tarkiyah, pen) atau atsar atau ijma’ (konsensus umat, pen). Maka ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua: perkara baru yang berupa kebaikan yang tidak menyelisihi salah satu dari yang disebutkan tadi. Maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela. Dan Umar radliyallahu anhu berkata tentang jamaah shalat tarawih: “Ini adalah sebaik-baik bid’ah.” Maksudnya adalah ini adalah perkara baru yang belum pernah ada.” (Atsar riwayat al-Baihaqi dalam al-Madkhal ilas Sunanil Kubra: 190 (1/191)).

Pendapat ulama yang melemahkan atsar al-Imam asy-Syafi’i di atas -seperti Syaikh Ali Hasan al-Halabi dalam bukunya ‘Ilmu Ushulil Bida’ – adalah pendapat keliru. Pendapat yang benar adalah pendapat ulama yang men-shahih-kannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkomentar tentang atsar asy-Syafi’i di atas:

هَذَا الْكَلَامُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ البيهقي بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيحِ فِي الْمَدْخَلِ

“Ucapan ini atau semisalnya, diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan isnadnya yang shahih di dalam kitab al-Madkhal.” (Majmu’ al-Fatawa: 20/163 dan Dar’ut Tanaqudh al-Aql wan Naql: 1/140).

Al-Hafizh Ibnu Katsir asy-Syafi’i (wafat tahun 774 H) rahimahullah menjelaskan bahwa bid’ah hasanah atau bid’ah terpuji menurut asy-Syafi’i adalah bid’ah secara bahasa. Beliau menjelaskan:

والبدعة على قسمين: تارة تكون بدعة شرعية، كقوله: فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة. وتارة تكون بدعة لغوية، كقول أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضي الله عنه عن جمعه إياهم على صلاة التراويح واستمرارهم: نعْمَتْ البدعةُ هذه

“Bid’ah itu dibagi 2 (dua): terkadang berupa bid’ah syar’iyah seperti sabda beliau: “Sesungguhnya setiap setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” Dan terkadang berupa bid’ah lughawiyah (secara bahasa) seperti ucapan Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu ketika beliau mengumpulkan dan merutinkan manusia untuk melakukan shalat jamaah tarawih: “Ini adalah sebaik-baik bid’ah.” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/398).

Dan telah terdahulu ucapan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah:

فالبدعة في عرف الشرع مذمومة بخلاف اللغة فان كل شيء أحدث على غير مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا أو مذموما

“Maka bid’ah dalam istilah syariat adalah tercela. Ini berbeda dengan bid’ah secara bahasa. Maka segala sesuatu yang diada-adakan tanpa contoh pendahulu adalah bid’ah (secara bahasa, pen), baik itu perkara terpuji ataupun perkara tercela.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 13/254).

Maka shalat tarawih adalah bid’ah hasanah menurut terminologi ulama Syafi’iyah dan merupakan maslahat mursalah atau bid’ah lughawiyah (secara bahasa) menurut terminologi selain mereka. Dan suatu kesalahan yang besar jika mereka yang suka berbuat inovasi dalam ibadah kemudian berdalil dengan ucapan asy-Syafi’i di atas untuk menyatakan bahwa di dalam sebagian bid’ah syar’iyah terdapat bid’ah hasanah. Wallahu a’lam.

Kemudian al-Imam asy-Syafi’i juga mencontohkan bid’ah hasanah pada ucapan beliau di atas dengan adanya muballigh yaitu seorang yang bertugas mengeraskan suara imam atau pengeras suara. Beliau berkata:

ولا أعلم التسبيح (لعل الصواب: التسميع) في التكبير ، والسلام في الصلاة إلا محدثا ، ولا أراه قبيحا مهما أحدث إذا كبر الناس

“Dan aku tidak memandang ‘tasmi’ (memperdengarkan suara imam kepada makmum, pen) di dalam bertakbir dan salam ketika shalat (berjamaah) kecuali perkara muhdats (baru, pen). Dan menurutku itu bukan bid’ah yang jelek selagi diada-adakan agar manusia bisa melakukan takbir (seperti imam, pen).” (Atsar riwayat al-Baihaqi dalam Ma’rifatis Sunan wal Atsar: 1817 (5/195)).

Adapun al-Imam Ahmad rahimahullah, maka beliau tidak menganggap ‘pengeras suara’ sebagai bid’ah karena memiliki asal, tetapi beliau menganggapnya sebagai bentuk kemaslahatan (maslahat mursalah). Beliau menyatakan:

قد روينا في حديث مرض النبي صلى الله عليه وسلم وصلاتهم خلفه . قال : وأبو بكر يسمع الناس تكبيره ، فصار هذا أصلا لما أحدث في الجمعة

“Kami telah meriwayatkan dalam hadits tentang sakitnya Nabi shallallahu alaihi wasallam dan shalatnya manusia di belakang beliau. Abu Bakar ketika itu memperdengarkan takbir beliau kepada manusia. Maka jadilah ini merupakan asal dari perkara yang diada-adakan ketika shalat Jumat.” (Atsar riwayat al-Baihaqi dalam Ma’rifatis Sunan wal Atsar: 1817 (5/195)).

Maka petugas tasmi’ atau pengeras suara di dalam shalat yang dianggap bid’ah hasanah oleh al-Imam asy-Syafi’i merupakan maslahat mursalah atau bid’ah secara bahasa menurut terminologi ulama lainnya. Wallahu a’lam.

Makna Hadits tentang Bid’ah

Setelah pembahasan bid’ah hasanah dan maslahat mursalah, kita akan bisa memahami hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam berikut ini:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Amma ba’du: maka sesungguhnya sebaik-baik berita adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim: 1435, an-Nasai: 1560 dan Ibnu Majah: 44 dari Jabir bin Abdillah radliyallahu anhuma).

Ada dua (2) kubu ulama di dalam menjelaskan hadits di atas:

Pertama: kubu ulama yang mengkhususkan perkara yang diada-adakan hanya dalam urusan agama. Maka perkara bid’ah dipahami atas keumumannya bahwa setiap bid’ah adalah sesat. Ini dianut kebanyakan ulama selain Syafi’iyah.

Al-Allamah Abul Hasan as-Sindi al-Hanafi (wafat tahun 1187 H) rahimahullah menyatakan:

( مُحْدَثَاتهَا ) يُرِيد الْمُحْدَثَات الَّتِي لَيْسَ فِي الشَّرِيعَة أَصْلٌ يَشْهَد لَهَا بِالصِّحَّةِ وَهِيَ الْمُسَمَّاة بِالْبِدَعِ كَذَا ذَكَرَهُ الْقُرْطُبِيّ وَالْمُرَاد الْمُحْدَثَات فِي الدِّين وَعَلَى هَذَا فَقَوْله وَكُلّ بِدْعَة ضَلَالَة عَلَى عُمُومه

“Sabda beliau ‘perkara yang diada-adakan’, yang dimaksud dengannya adalah perkara baru yang tidak mempunyai asal dalam syariat yang menunjukkan keabsahannya. Inilah yang dinamakan bid’ah. Demikianlah yang disebutkan oleh al-Qurthubi. Sehingga yang dimaksud adalah perkara baru dalam agama. Maka dengan pemahaman seperti ini, sabda beliau ‘setiap bid’ah adalah sesat’ dipahami atas keumumannya.” (Hasyiyah as-Sindi ala Sunan an-Nasai: 3/47).

Kedua: kubu ulama yang memahami hadits di atas dengan perkara baru secara bahasa, yaitu kubu Syafi’iyah. Maka mereka menyatakan bahwa lafazh ‘setiap bid’ah adalah sesat’ adalah lafazh umum yang dikhususkan. Sehingga bid’ah secara bahasa ada yang sesat dan ada yang tidak sesat. Sedangkan bid’ah secara syariat semuanya adalah sesat.

Al-Allamah Syihabuddin al-Qasthalani asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan:

وحديث “كل بدعة ضلالة” من العام المخصوص، وقد رغب فيها عمر بقوله: نعم البدعة وهي كلمة تجمع المحاسن كلها كما أن بئس تجمع المساوئ كلها وقيام رمضان ليس بدعة لأنه -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قال: “اقتدوا بالذين من بعدي أبي بكر وعمر” وإذا أجمع الصحابة مع عمر على ذلك زال عنه اسم البدعة

“Hadits ‘setiap bid’ah adalah sesat’ adalah termasuk lafazh umum yang dikhususkan. Umar menganjurkan jamaah shalat tarawih dengan ucapannya ‘sebaik-baik bid’ah’. Kalimat “ni’ma” adalah kalimat yang mengumpulkan semua kebaikan sebagaimana kalimat “bi’sa” mengumpulkan segala kejelekan. Maka jamaah shalat tarawih bukanlah bid’ah, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menyatakan: “Ikutilah dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar!” Jika para sahabat bersepakat bersama Umar, maka hilanglah nama bid’ah.” (Irsyadus Sari li Syarh Shahihil Bukhari: 3/426).

Kemudian kedua kubu ulama di atas bersepakat bahwa perkara bid’ah dalam syariat semuanya adalah sesat tanpa kecuali.

Al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i (wafat tahun 1031 H) rahimahullah menyatakan:

قوله (وكل بدعة ضلالة) أي وكل فعلة أحدثت على خلاف الشرع ضلالة لأن الحق فيما جاء به الشارع فما لا يرجع إليه يكون ضلالة إذ ليس بعد الحق إلا الضلال

‘Sabda beliau “setiap bid’ah adalah sesat” maksudnya adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dengan menyelisihi syariat adalah sesat, karena kebenaran (al-Haq) itu terdapat di dalam perkara yang dibawa oleh syariat. Maka sesuatu yang tidak mempunyai rujukan dalam syariat adalah sesat. Ini karena tidak ada lagi setelah kebenaran kecuali kesesatan.” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’sih Shaghir: 2/217).

Dengan demikian pernyataan Sarkub dan Salafytobat dalam situs-situs mereka bahwa di dalam bid’ah syariat terdapat bid’ah hasanah, adalah ucapan yang nyeleneh atau menyimpang dari pendahulu-pendahulu mereka dari kalangan Syafi’iyah. Apalagi mereka menyatakan bahwa selamatan kematian adalah bid’ah hasanah, barzanjen bid’ah hasanah, istighatsah di makam wali songo bid’ah hasanah dan lain-lain!!

Pada risalah ini, Pembaca akan banyak mendapatkan penukilan-penukilan dari ulama Syafi’iyah yang mengingkari perbuatan-perbuatan -yang menurut Sarkub– sebagai bid’ah hasanah.

Perkara yang Dapat Dipahami Maksudnya

Mereka mendukung bolehnya mengkhususkan ibadah yang bersifat umum dengan cara memotong-potong ucapan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah ketika mengomentari hadits kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke Masjid Quba setiap hari Sabtu. Mereka menukilkan ucapan Ibnu Hajar:

وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم

“Di dalam hadits ini dengan sekian jalur yang berbeda terdapat dalil diperbolehkannya menjadikan hari-hari tertentu untuk sebuah ritual yang baik dan istiqamah. Hadits ini juga menerangkan bahwa larangan bepergian ke selain tiga masjid (Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsa, dan Masjid Nabawi) tidaklah haram (tetapi hanya makruh, pen).” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 3/69-70). Demikian penukilan mereka.

Jawaban:

Berikut ini keterangan Ibnu Hajar secara lengkap:

وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم لكون النبي صلى الله عليه و سلم كان يأتي مسجد قباء راكبا وتعقب بأن مجيئه صلى الله عليه و سلم إلى قباء إنما كان لمواصلة الأنصار وتفقد حالهم وحال من تأخر منهم عن حضور الجمعة معه وهذا هو السر في تخصيص ذلك بالسبت

“Di dalam hadits ini dengan perbedaan jalan sanadnya terdapat dalil atas bolehnya mengkhususkan sebagian hari dengan sebagian amal shaleh dan merutinkannya. Di dalam hadits ini juga terdapat keterangan bahwa larangan bepergian ke selain tiga masjid (Masjidil Haram, Masjid an-Nabawi dan Masjidil Aqsha) tidaklah haram (tetapi hanya makruh, pen), karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendatangi Masjid Quba’ dengan berkendara. Dan pendalilan ini dibantah dengan bantahan bahwa kedatangan beliau shallallahu alaihi wasallam ke Quba’ hanyalah dalam rangka menyambung hubungan dengan kaum Anshar dan menanyakan keadaan mereka, serta keadaan orang-orang yang berhalangan hadir dari kalangan mereka dalam menghadiri shalat Jumat bersama beliau (di Masjid Nabawi, pen). Inilah rahasia beliau mengkhususkan hari sabtu dengan kegiatan tersebut.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 3/69-70).

Perhatikanlah kata-kata Ibnu Hajar rahimahullah “Dan pendalilan ini dibantah dengan bantahan bahwa..dan seterusnya.”! Tambahan ini sengaja dipotong dan dibuang oleh mereka karena akan membantah pemikiran mereka.

Dan penjelasan beliau di atas juga sesuai dengan penjelasan al-Allamah Syihabuddin al-Qasthalani asy-Syafi’i rahimahullah. Al-Qasthalani menyatakan:

وخص السبت لأجل مواصلته لأهل قباء وتفقد حال من تأخر منهم عن حضور الجمعة معه في مسجده بالمدينة

“Beliau mengkhususkan hari Sabtu (untuk ke Quba’) dalam rangka menyambung hubungan dengan penduduk Quba’ dan menanyakan keadaan mereka yang berhalangan hadir dalam shalat Jumat bersama beliau di masjid beliau di Madinah.” (Irsyadus Sari li Syarh Shahihil Bukhari: 2/346).

Ini menunjukkan bahwa sebab pengkhususan beliau untuk datang ke Quba’ pada hari Sabtu adalah perkara yang dimengerti alasannya seperti adanya keperluan dan kesempatan, bukan pengkhususan yang bersifat ta’abbudi.

Yang demikian karena al-Imam Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

الشَّرْعُ يَنْقَسِمُ إلَى مَا يُعْقَلُ مَعْنَاهُ وَإِلَى تَعَبُّدٍ

“Syariat itu terbagi 2; yaitu (pertama) perkara yang dapat dimengerti alasan dan hikmahnya, dan (kedua) perkara ta’abbudi.” (Al-Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh: 6/211).

Demikian pula kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke Quba’ pada hari Senin itu juga bukan perkara ta’abbudi, tetapi hanya urusan keperluan biasa seperti memenuhi undangan para sahabat beliau dan sebagainya. Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu anhu berkata:

خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ إِلَى قُبَاءَ حَتَّى إِذَا كُنَّا فِي بَنِي سَالِمٍ وَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَابِ عِتْبَانَ..الخ

“Aku keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hari Senin ke Quba’. Maka ketika sampai di perkampungan Bani Salim, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berhenti di depan pintu Itban (bin Malik, pen)…dst.” (HR. Muslim: 518).

Demikian pula pengkhususan beliau pada hari tertentu untuk mengadakan majelis ta’lim, maka itu bukan perkara ta’abbudi, tetapi hanya memperhatikan kebutuhan dan kesempatan. Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu anhu berkata:

قَالَتْ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ..الخ

“Para wanita berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Kaum lelaki telah mengalahkan kami (dalam ilmu agama, pen). Maka tentukanlah untuk kami suatu hari dari hari-harimu (untuk mengajari kami urusan agama, pen)!” Maka beliau menjanjikan kepada mereka suatu hari tertentu untuk bertemu dengan mereka. Maka beliau pun menasehati dan memberikan perintah kepada mereka..dst.” (HR. Al-Bukhari: 99, Ahmad: 11261).

Al-Imam Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i (wafat tahun 804 H) rahimahullah berkomentar tentang hadits majelis ta’lim di atas:

وفيه سؤال الطلاب للعالم أن يجعل لهم يومًا يسمعون منه عليه العلم، وإجابة. العالم إلي ذلك، وجواز الإعلام بذلك المجلس للاجتماع فيه.

“Di dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya para penuntut ilmu untuk meminta seorang alim agar menentukan hari ta’lim bagi mereka agar mereka bisa mendengarkan ilmu darinya di hari tersebut. Dan dalil atas bolehnya seorang alim mengabulkan permintaan mereka dan juga dalil atas bolehnya mengumumkan majelis perkumpulan tersebut.” (At-Taudhih li Syarh al-Jami’ish Shahih: 33/80).

Sehingga penentuan hari tertentu untuk berkunjung, atau untuk mengadakan majelis ta’lim, tidak termasuk urusan ta’abbudi, tetapi hanya sekedar kebutuhan dan kesempatan. Maka ketika mereka yang suka berinovasi dalam ibadah bertanya: “Kalian (Salafi) membid’ahkan pengkhususan ibadah yang bersifat umum, akan tetapi kalian sendiri mengkhususkan hari-hari tertentu untuk majelis ta’lim. Apakah ini juga tidak bid’ah?” maka jawabannya: “Tidaklah bid’ah karena penentuan hari untuk majelis ta’lim bukanlah perkara ta’abbudi, karena alasannya masih bisa dinalar.” Wallahu a’lam.

Bid’ah Idhafiyah

Dalam perkara bid’ah ‘khusus-mengkhususkan perkara ibadah’, ulama Syafi’iyah telah meletakkan kaidah dasarnya. Suatu perkara ta’bbudi meskipun secara asal disyariatkan, jika dilakukan dengan kaifiyat atau tatacara tertentu yang berbeda, maka bisa dikategorikan sebagai perbuatan bid’ah.

Di antara mereka adalah al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata:

وَلَقَدْ اُسْتُفْتِيَ مَشَايِخُنَا وَغَيْرُهُمْ في الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عليه صلى اللَّهُ عليه وسلم بَعْدَ الْأَذَانِ على الْكَيْفِيَّةِ التي يَفْعَلُهَا الْمُؤَذِّنُونَ فَأَفْتَوْا بِأَنَّ الْأَصْلَ سُنَّةٌ وَالْكَيْفِيَّةُ بِدْعَةٌ

“Para syaikh kami (dari ulama Syafi’iyah, pen) dan selain mereka pernah dimintai fatwa tentang bacaan shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah adzan dengan kaifiyat (tata cara) yang dilakukan oleh para muadzin (di masa beliau). Maka mereka (para ulama tersebut, pen) berfatwa bahwa: “Hukum asalnya (yaitu membaca shalawat setelah adzan, pen) adalah sunnah, sedangkan kaifiyatnya (seperti yang dilakukan oleh muadzin di masa beliau, pen) adalah bid’ah.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra: 1/131).

Penjelasan al-Haitami di atas kemudian dikenal dengan istilah ‘bid’ah idlafiyah’, yaitu suatu amalan yang secara asal memiliki landasan syariat, akan tetapi dilakukan dengan kaifiyat (tatacara) yang tidak disyariatkan.

Ketika seseorang melakukan amal ibadah dengan tata cara tertentu –seperti jumlah, waktu, dan tempat tertentu- yang tidak pernah diajarkan oleh syariat, tidak boleh berdalil dengan dalil-dalil umum. Kalau tidak, maka ia terjatuh pada ‘bid’ah idhafiyah’.

Al-Imam Ibnu Daqiqil Ied asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan:

وقريب من ذلك: أن تكون العبادة من جهة الشرع مرتبة على وجه مخصوص فيريد بعض الناس: أن يحدث فيها أمرا آخر لم يرد به الشرع زاعما أنه يدرجه تحت عموم فهذا لا يستقيم لأن الغالب على العبادات التعبد ومأخذها التوقيف

“Dan yang dekat dengan kaedah ini (tentang bid’ah idhafiyah, pen) adalah jika suatu ibadah diajarkan oleh syariat dengan cara tertentu, kemudian sebagian orang ingin mengada-adakan dalam ibadah tersebut suatu tatacara lain yang tidak diajarkan oleh syariat, dengan persangkaan bahwa ibadah dengan tatacara baru tersebut masih berada di bawah dalil umum, maka alasan itu tidak diterima. Ini karena keumuman dari ibadah itu bersifat ta’abbudi (tidak bisa dinalar alasannya, pen) dan dasar pengambilannya adalah tauqifiyah (mengikuti teks wahyu, pen).” (Ihkamul Ahkam Syarh Umdatil Ahkam: 122).

Shalat Dhuha Berjamaah

Sebagai contohnya adalah membiasakan shalat Dhuha berjamaah di masjid. Meskipun secara asal shalat Dhuha dianjurkan, maka membiasakannya dengan cara berjamaah di masjid adalah bid’ah idhafiyah.

Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَأَمَّا ما في صَحِيحِ مُسْلِمٍ عن مُجَاهِدٍ قال دَخَلْت الْمَسْجِدَ أنا وَعُرْوَةُ بن الزُّبَيْرِ  فإذا عبد اللَّهِ بن عُمَرَ جَالِسٌ وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ الضُّحَى في الْمَسْجِدِ فَسَأَلْنَاهُ عن صَلَاتِهِمْ فقال بِدْعَةٌ

 فَأَجَابَ عنه النَّوَوِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ كَعِيَاضٍ بِأَنَّ مُرَادَهُ أَنَّ إظْهَارَهَا في الْمَسْجِدِ وَالِاجْتِمَاعَ لها هو الْبِدْعَةُ لَا أَنَّ أَصْلَ صَلَاتِهَا بِدْعَةٌ

“Adapun riwayat dalam shahih Muslim dari Mujahid, ia berkata: “Aku dan Urwah bin Zubair memasuki masjid. Ternyata Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma sedang duduk di situ. Orang-orang sedang melakukan shalat Dhuha di masjid. Maka aku bertanya kepada beliau tentang shalat mereka.” Maka beliau menjawab: “Bid’ah.”

Maka an-Nawawi juga Qadhi Iyadl menjawab tentang riwayat di atas bahwa yang dimaksud adalah menampakkan dan berjamaah shalat Dhuha di masjid. Itulah yang bid’ah, bukan asal shalat Dhuha yang bid’ah.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra: 1/197).

Dzikir Berjamaah

Contoh lainnya adalah ‘amalan berdzikir’. Meskipun secara asal disyariatkan, jika dilakukan dengan cara tertentu, bilangan tertentu dan dikomando bersama-sama, maka ‘amalan berdzikir’ tersebut menjadi bid’ah idhafiyah.

Al-Imam al-Qadli Taqiyuddin Ibnu Daqiqil Ied asy-Syafi’i (wafat tahun 702 H) rahimahullah berkata:

وكذلك ما جاء عن ابن مسعود رضي الله عنه فيما أخرجه الطبراني في معجمه بسنده عن قيس بن أبي حازم قال ذكر لابن مسعود قاص يجلس بالليل ويقول للناس: قولوا كذا وقولوا كذا فقال: إذا رأيتموه فأخبروني قال: فأخبروه فأتاه ابن مسعود متقنعا فقال: من عرفني فقد عرفني ومن لم يعرفني فأنا عبد الله بن مسعود تعلمون أنكم لأهدى من محمد صلى الله عليه وسلم وأصحابه يعني أو إنكم لمتعلقون بذنب ضلالة وفي رواية لقد جئتم ببدعة ظلماء أو لقد فضلتم أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم علما فهذا ابن مسعود أنكر هذا الفعل مع إمكان إدراجه تحت عموم فضل الذكر..الخ

“Demikian pula keterangan dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu di dalam riwayat ath-Thabrani dalam Mu’jamnya dengan sanadnya dari Qais bin Abi Hazim. Ia berkata bahwa diceritakan kepada Ibnu Mas’ud tentang seorang juru nasehat (pemimpin majelis dzikir, pen) yang berkata (dalam majelis khusus): “Ucapkan demikian dan demikian (yakni dzikir tertentu seperti tasbih 100 kali, tahmid 100 kali, takbir 100 kali, pen)!” Maka beliau berpesan: “Kalau kamu melihat majelis tersebut, maka segera kamu beritahukan kepadaku!” Kemudian mereka memberitahukan kepada beliau dan beliau mendatangi majelis tersebut dengan menggunakan penutup kepala sambil berkata: “Barangsiapa yang sudah mengenalku, maka ia akan mengetahuiku. Dan barangsiapa yang belum mengenalku, maka ketahuilah bahwa aku adalah Abdullah bin Mas’ud. Apakah kalian menganggap bahwa kalian itu lebih mendapatkan petunjuk daripada Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau?” Ibnu Mas’ud memaksudkan: “Sesungguhnya kalian berhubungan dengan dosa kesesatan.” Dalam riwayat lain beliau berkata: “Sesungguhnya kalian datang dengan suatu bid’ah yang gelap ataukah ilmu kalian telah melebihi para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam?” Maka inilah Ibnu Mas’ud. Beliau mengingkari perbuatan tersebut (yaitu dzikir berjamaah, pen) padahal masih mungkin untuk dimasukkan ke dalam keumuman dalil tentang keutamaan berdzikir..dst.” (Ihkamul Ahkam Syarh Umdatil Ahkam: 1/123).

Demikian pula menurut al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (wafat tahun 974 H) rahimahullah. Beliau menyatakan:

وروى الدارمي: أن ابن مسعود رضي اللَّه تعالى عنه أنكر على جماعةٍ اجتمعوا في المسجد يعدُّون الأذكار بالحصى، وأشار إليهم بأن يعدوا سيئاتهم، وأنهم مفتتحو باب ضلالة. وينبغي حمل إنكاره على هذه الهيئة المخصوصة، وإلَّا فالسُّبحة ورد لها أصلٌ أصيلٌ عن بعض أمهات المؤمنين، وأقرَّها النبي صلى اللَّه عليه وسلم على ذلك

“Ad-Darimi meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu mengingkari sekelompok orang yang berkumpul di masjid sedang menghitung dzikir dengan kerikil. Beliau memberikan isyarat kepada mereka agar menghitung kesalahan mereka dan bahwa mereka telah membuka pintu kesesatan.” (Al-Atsar). (Al-Haitami berkata:) Hendaknya pengingkaran Ibnu Mas’ud ini dipahami atas pengingkaran berdzikir dengan tata cara tertentu (yaitu berdzikir secara berjamaah dan dikomando, pen). Jika tidak, maka alat tasbih untuk menghitung dzikir mempunyai asal dari perbuatan Ummahatul Mukminin (yang menghitung dzikir dengan kerikil, pen) dan Nabi shallallahu alaihi wasallam membiarkannya.” (Al-Fathul Mubin bi Syarhil Arbain: 229).

Pengkhususan Waktu Ibadah

Seseorang tidak diperkenankan meng-khususkan waktu-waktu tertentu untuk melakukan amal ibadah yang bersifat umum. Jika ia mengkhususkannya, maka ia akan terjatuh pada kebid’ahan.

Al-Imam Alqamah bin Qais an-Nakha’i (ulama tabi’in wafat tahun 61 H) rahimahullah berkata:

قُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ كَيْفَ كَانَ عَمَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ كَانَ يَخُصُّ شَيْئًا مِنْ الْأَيَّامِ قَالَتْ لَا كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَطِيعُ

“Aku bertanya: “Wahai Ummul Mukminin! Bagaimanakah amal ibadah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu dengan ibadah?” Aisyah menjawab: “Tidak. Adalah amal beliau itu bersifat rutin. Dan siapakah di antara kalian yang mampu seperti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” (HR. Al-Bukhari: 1851, Muslim: 1304, Abu Dawud: 1163 dan Ahmad: 24386).

Al-Allamah Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

ونقل ابن التين عن بعض أهل العلم: أنه يكره أن يتحرى يومًا من الأسبوع بصيام؛ لهذا الحديث..الخ

“Ibnut Tin menukilkan dari sebagian ulama tentang dibencinya seseorang mengkhususkan suatu hari tertentu dalam seminggu dengan suatu puasa karena hadits ini..dst.” (At-Taudhih li Syarh al-Jami’ish Shahih: 13/500).

Al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah memberikan alasan larangan pengkhususan hari tertentu dengan puasa. Beliau menyatakan:

وَوَجْهُ الْكَرَاهَةِ أَنَّ تَخْصِيصَ يَوْمٍ أو شَهْرٍ بِالصَّوْمِ دَائِمًا تَشْبِيهٌ بِرَمَضَانَ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُشَبَّهُ بِهِ ما لم يشبهه

“Alasan dibencinya adalah bahwa pengkhususan hari tertentu, atau bulan tertentu dengan puasa secara rutin adalah bentuk penyerupaan dengan Ramadhan. Dan tidak diperbolehkan menyerupakan hari atau bulan tertentu dengan Ramadhan.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra: 2/67).

Maksud al-Haitami di atas adalah jika si Fulan mengkhususkan dirinya untuk berpuasa setiap tanggal 5 Dzulqa’dah, atau si Amr mengkhususkan diri untuk berpuasa setiap tanggal 10 Rajab, maka perbuatan tersebut termasuk kategori menyelisihi sunnah, kecuali jika tanggal-tanggal tersebut mempunyai keutamaan seperti hari Arafah, hari Asyura dan sebagainya.

Oleh karena itu al-Imam Abu Syamah al-Maqdisi asy-Syafi’i (wafat tahun 665 H) rahimahullah menyatakan kaedah umum:

ولا ينبغي تخصيص العبادات بأوقات لم يخصصها بها الشرع بل يكون جميع أفعال البر مرسلة في جميع الأزمان ليس لبعضها على بعض فضل إلا ما فضله الشرع وخصه بنوع من العبادة

“Dan tidak seharusnya seseorang mengkhususkan ibadah-ibadah dengan waktu-waktu yang tidak dikhususkan oleh syariat. Hendaknya semua perbuatan baik itu dijadikan umum seperti keumumannya di segala jaman, tidak ada kekhususan antara satu waktu dengan waktu yang lain kecuali waktu yang diutamakan dan dikhususkan oleh syariat dengan suatu macam ibadah.” (Al-Ba’its ala Inkaril Bida’ wal Hawadits: 5).

Demikian pula jika seseorang mengkhususkan shalat tahajud pada malam Kamis, orang lain mengkhususkan shalat tahajud pada malam Senin. Maka ini termasuk bid’ah idlafiyah.

Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan:

( قَوْلُهُ وَتَخْصِيصُ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ ) قَدْ يُفْهِمُ أَنَّهُ لَا يُكْرَهُ تَخْصِيصُ لَيْلَةِ غَيْرِهَا وَهُوَ كَذَلِكَ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَفِيهِ وَقْفَةٌ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُكْرَهَ ؛ لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ

“Ucapan an-Nawawi “Dan dibenci mengkhususkan malam Jumat dengan shalat malam (karena adanya hadits, pen)” terkadang memberikan pemahaman bahwa mengkhususkan shalat malam pada selain malam Jumat, tidaklah dibenci dan demikian keadaannya. Al-Adzra’i menyatakan bahwa ucapan itu perlu ditinjau. Dan perbuatan tersebut (yaitu: pengkhususan shalat malam pada selain malam Jumat, pen) memberikan kemungkinan untuk dibenci (dimakruhkan), karena juga termasuk bid’ah.” (Asnal Mathalib Syarh Raudhatith Thalib: 3/227).

Dan penukilan Zakariya al-Anshari di atas juga dinukilkan oleh al-Allamah Abul Abbas ar-Ramli asy-Syafi’i (wafat tahun 1004 H) rahimahullah. Beliau menyatakan:

وتخصيص ليلة الجمعة بقيام قد يفهم أنه لا يكره تخصيص ليلة غيرها وهو كذلك قال الأذرعي وفيه وقفة ويحتمل أن يكره لأنه بدعة

“Dan dibencinya mengkhususkan malam Jumat dengan shalat malam (karena adanya hadits, pen)” terkadang memberikan pemahaman bahwa mengkhususkan shalat malam pada selain malam Jumat, tidaklah dibenci dan demikian keadaannya. Al-Adzra’i menyatakan bahwa ucapan itu perlu ditinjau. Dan perbuatan tersebut (yaitu: pengkhususan shalat malam pada selain malam Jumat, pen) memberikan kemungkinan untuk dibenci (dimakruhkan), karena juga termasuk bid’ah.” (Hasyiyah ar-Ramli ala Syarh ar-Raudhah: 1/208).

Pengkhususan Tempat Tertentu dengan Ibadah

Termasuk kebid’ahan adalah mengkhususkan tempat tertentu dengan suatu ibadah tanpa dalil dari syariat. Alasan larangan pengkhususannya adalah karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap tempat yang tidak diagungkan oleh syariat.

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i (wafat tahun 911 H) rahimahullah berkata:

ورؤية النبي أو الرجل الصالح في المنام ببقعة لا يوجب لها فضيلة، تقصد لأجلها وتتخذ مصلى مكروه، وإنما يفعل ذلك وأمثاله أهل الكتاب وهذه الأمكنة كثيرة موجودة في أكثر البلاد، فهذه البقاع لا يعتقد لها خصيصة كائنة ما كانت، فإن تعظيم مكان لم يعظمه الله شر مكان،

“Bermimpi melihat Nabi atau orang shalih di suatu tempat tidaklah menyebabkan keutamaan pada tempat tersebut, sehingga layak diziarahi atau dijadikan tempat shalat secara khusus. Kebiasaan ini hanyalah dilakukan oleh orang-orang Ahlul Kitab. Tempat-tempat ini banyak ditemukan di berbagai negeri. Maka tempat tersebut tidak boleh diyakini adanya kekhususan apapun. Maka mengagungkan tempat yang tidak diagungkan oleh Allah adalah sejelek-jelek tempat.” (Al-Amru bil Ittiba’ wan Nahyu anil Ibtida’: 10).

Di antara contohnya adalah pengkhususan ibadah seperti shalat dan sebagainya, di tempat yang pernah disinggahi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti gua Tsur, gua Hira’, Tabuk, Hudaibiyah dan sebagainya, kecuali Masjid Quba’. Itu semua termasuk ‘sunnah tarkiyah’ dan bid’ah idhafiyah.

Al-Imam Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i (wafat tahun 804 H) rahimahullah berkata:

وروى أشهب عن مالك أنه سئل عن الصلاة في المواضع التي صلي فيها الشارع، فقال: ما يعجبني ذلك إلا في مسجد قباء أي: لأنه – صلى الله عليه وسلم – كان يأتيه راكبًا وماشيًا ، ولم يكن يفعل في تلك الأمكنة ذلك.

“Asyhab meriwayatkan dari al-Imam Malik (guru al-Imam asy-Syafi’i, pen) bahwa beliau ditanya tentang hukum shalat di beberapa tempat yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan shalat di tempat itu. Maka beliau menjawab: “Itu tidak membuatku aneh (yakni: tidak boleh dilakukan, pen) kecuali di Masjid Quba’.” Ibnul Mulaqqin menjelaskan: “Maksudnya adalah karena beliau shallallahu alaihi wasallam hanya mendatangi Masjid Quba’ baik dengan berjalan dan berkendara, dan beliau belum pernah melakukannya di tempat-tempat tersebut.” (At-Taudhih li Syarh al-Jami’ ash-Shahih: 6/24).

Mengkhususkan Ibadah di Kuburan Wali

Termasuk dalam bab ‘Pengkhusan Tempat Tertentu dengan Ibadah’ adalah pengkhususan shalat di kuburan para wali. Al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i (wafat tahun 1031 H) rahimahullah menegaskan:

فإن قصد إنسان التبرك بالصلاة في تلك البقعة فقد ابتدع في الدين ما لم يأذن به الله والمراد كراهة التنزيه قال النووي: كذا قال أصحابنا ولو قيل بتحريمه لظاهر الحديث لم يبعد..الخ

“Jika seseorang melakukan shalat di tempat-tempat tersebut dalam rangka tabarruk (ngalap berkah, pen), maka ia telah mengadakan perkara bid’ah di dalam agama ini dengan sesuatu yang tidak diijinkan oleh Allah. Yang dimaksud dengan larangan (dalam hadits di atas) adalah makruh tanzih. An-Nawawi berkata: “Demikianlah menurut sahabat kami (ulama Syafi’iyah, pen). Dan seandainya dikatakan makruh tahrim –karena zhahir teks hadits-, maka pernyataan tersebut tidak jauh (dari kebenaran)..dst.” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 6/528).

Termasuk dalam bab ini adalah melakukan ‘nadzar’ pada tempat-tempat tertentu yang tidak disyariatkan seperti petilasan dan kuburan para wali. Al-Allamah Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami asy-Syafi’i (wafat tahun 1221 H) membawakan ucapan al-Imam al-Adzra’i rahimahullah:

وَإِنْ قَصَدَ بِهِ وَهُوَ الْغَالِبُ مِنْ الْعَامَّةِ تَعْظِيمُ الْبُقْعَةِ وَالْقَبْرِ وَالتَّقَرُّبُ إلَى مَنْ دُفِنَ فِيهَا أَوْ نُسِبَ إلَيْهِ فَهَذَا نَذْرٌ بَاطِلٌ غَيْرُ مُنْعَقِدٍ فَإِنَّهُمْ يَعْتَقِدُونَ أَنَّ لِهَذِهِ الْأَمَاكِنِ خُصُوصِيَّاتٍ لِأَنْفُسِهِمْ وَيَرَوْنَ أَنَّ النَّذْرَ لَهَا مِمَّا يَنْدَفِعُ بِهِ الْبَلَاءُ

“Jika ia meniatkan perbuatan nadzarnya –dan ini terjadi pada kebanyakan orang awam- untuk mengagungkan tempat petilasan dan kuburan, dan juga untuk mendekatkan diri kepada orang yang dikubur di tempat itu atau yang dinisbatkan kepadanya, maka ini adalah nadzar yang batil, tidak sah. Karena mereka berkeyakinan bahwa tempat-tempat tersebut mempunyai kekhususan untuk diri mereka dan mereka beranggapan bahwa nadzar untuk petilasan tersebut termasuk dari perkara yang bisa menolak balak.” (Hasyiyah al-Bujairami alal Khathib: 13/382, Mughnil Muhtaj: 19/43 dan Asnal Mathalib: 7/365).

Mengkhususkan Jabal Ramah sebagai Tempat Wukuf

Termasuk dalam bab ‘Pengkhusan Tempat Tertentu dengan Ibadah’ adalah meng-khusus-kan Jabal Rahmah sebagai tempat wukuf di Arafah. Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

(وأما) ما اشتهر عند العوام من الاعتناء بالوقوف على جبل الرحمة الذى هو بوسط عرفات كما سبق بيانه وترجيحهم له على غيره من أرض عرفات حتى ربما توهم من جهلتهم أنه لا يصح الوقوف الا فيه فخطأ ظاهر ومخالف للسنة ولم يذكر أحد ممن يعتمد في صعود هذا الجبل فضيلة يختص بها

“Adapun perkara yang sudah terkenal di kalangan orang awam yaitu berusaha melakukan wukuf di Jabal Rahmah yang berada di tengah Arafah sebagamana penjelasan terdahulu, dan mengutamakan Jabal Rahmah daripada tempat lainnya di Arafah, bahkan sebagian mereka berkeyakinan bahwa tidak sah wukuf kecuali di Jabal Rahmah, maka itu adalah kekeliruan yang jelas dan menyelisihi as-Sunnah. Dan tidak ada seorang ulama yang muktabar pun yang menyebutkan keutamaan khusus untuk menaiki gunung ini.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab: 8/112).

Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَلْيَحْذَرْ مِنْ صُعُودِ جَبَلِ الرَّحْمَةِ بِوَسَطِ عَرَفَةَ ، فَإِنَّهُ بِدْعَةٌ خِلَافًا لِجَمْعٍ زَعَمُوا أَنَّهُ سُنَّةٌ وَأَنَّهُ مَوْقِفُ الْأَنْبِيَاءِ

“Dan hendaknya menghindari naik ke Jabal Rahmah di tengah Arafah, karena perbuatan tersebut bid’ah, dalam rangka menyelisihi mereka yang menganggapnya sunnah dan sebagai tempat para nabi.” (Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj: 15/210).

Pengkhususan Keadaan dan Tatacara Tertentu dengan Ibadah

Termasuk kebid’ahan adalah mengkhususkan ibadah yang bersifat umum dengan keadaan dan tatacara tertentu. Al-Imam al-Qadhi Ibnu Daqiqil Ied asy-Syafi’i (wafat tahun 702 H) rahimahullah berkata:

إن هذه الخصوصيات بالوقت أو بالحال والهيئة والفعل المخصوص: يحتاج إلى دليل خاص يقتضي استحبابه بخصوصه وهذا أقرب والله أعلم

“Sesungguhnya pengkhususan ibadah ini dengan waktu atau keadaan atau perbuatan tertentu, membutuhkan dalil khusus yang menunjukkan anjurannya secara khusus. Dan pendapat ini lebih mendekati kepada kebenaran. Wallahu a’lam.” (Ihkamul Ahkam Syarh Umdatil Ahkam: 122).

Contoh pertama dari penjelasan Ibnu Daqiqil Ied: menambahkan bacaan salam setelah bacaan hamdalah ketika bersin. Dari al-Imam Nafi’ rahimahullah:

أَنَّ رَجُلًا عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Bahwa seseorang bersin di dekat Ibnu Umar kemudian orang itu berkata: “Ahmadulillah wassalam ala Rasulillah.” Maka Ibnu Umar menjawab: “Apakah aku juga membaca ‘Alhamdulillah wassalam ala Rasulillah? Bukan begitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajari kita. Beliau mengajari kita agar membaca ‘Alhamdulillah ala kulli hal’ ketika bersin.” (HR. At-Tirmidzi: 2662, di-shahih-kan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya: 7691 (4/295) dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Isnadnya di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 3/245).

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

فلما كان الوارد في العطاس الحمد فقط كان ضم السلام إليه من الزيادة في الأذكار وذلك متفق على ذمه ، وقد نهى الفقهاء عن الصلاة عليه عند الذبح لأنه زيادة على ما ورد من التسمية

“Maka ketika dzikir yang disyariatkan untuk orang-orang yang bersin hanyalah bacaan hamdalah, maka menambahkan salam setelah hamdalah adalah termasuk membuat-buat tambahan dalam dzikir. Dan itu disepakati atas tercelanya perbuatan tersebut. Dan para ahli fikih melarang membaca shalawat ketika menyembelih sembelihan, karena bacaan tersebut merupakan tambahan atas dzikir yang diajarkan, yaitu basmalah.. dst.” (Al-Hawi lil Fatawa: 1/244).

Contoh kedua: menambah jumlah rakaat shalat sunnah. Dari al-Imam Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah:

أَنَّهُ رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ أَكْثَرَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ ، يُكْثِرُ فِيهَا الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ فَنَهَاهُ ، فَقَالَ : يَا أَبَا مُحَمَّدٍ يُعَذِّبُنِى اللَّهُ عَلَى الصَّلاَةِ ؟ قَالَ : لاَ وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ عَلَى خِلاَفِ السُّنَّةِ

“Bahwa beliau pernah melihat seseorang melakukan shalat setelah terbitnya fajar (yaitu shalat sunnah fajar, pen) lebih dari dua (2) rakaat. Ia memperbanyak ruku’ dan sujudnya. Maka beliau melarangnya. Maka orang itu bertanya: “Wahai Abu Muhammad! Apakah Allah akan memberikan siksa kepadaku atas perbuatan shalat?” Beliau menjawab: “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi as-Sunnah.” (Atsar riwayat al-Baihaqi dalam al-Kubra: 4621 (2/466), Abdur Razzaq dalam Mushannafnya: 4755 (3/52). Isnadnya di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 2/236).

Ucapan Sa’id bin al-Musayyib di atas merupakan bantahan telak bagi sebagian kaum muslimin yang suka menambah-tambahi amal ibadah dengan alasan untuk kebaikan.

Oleh karena itu Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari asy-Syafi’i (wafat tahun 926 H) rahimahullah menyatakan tidak sahnya shalat dhuha lebih dari 8 rakaat. Beliau menyatakan:

وَمَا قِيلَ مِنْ أَنَّ هَذَا لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ذَلِكَ أَكْثَرُهَا رُدَّ بِأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ ، وَلَمْ تَصِحَّ الزِّيَادَةُ عَلَى ذَلِكَ

“Dan pendapat yang menyatakan bahwa ini (yaitu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukan shalat dhuha 8 rakaat ketika Fathu Makkah, pen) tidak menunjukkan bahwa jumlah tersebut merupakan batas maksimal rakaat dhuha, dibantah dengan kaedah bahwa ‘Asal dalam ibadah adalah tauqif (mengikuti teks wahyu, pen). Dan tidak sah menambah rakaat lebih dari itu.” (Asnal Mathalib Syarh Raudhatith Thalib: 4/150).

Demikian pula membasuh anggota wudhu (seperti wajah, tangan dan kaki) melebihi 3 kali dalam keadaan yakin (tidak ragu), maka itu termasuk bid’ah.

Al-Imam Syamsuddin ar-Ramli asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

ومحل الكراهة إذا علم زيادتها فإن شك أخذ بالأقل لأنه اليقين ولا يقال ترك سنة أسهل من ارتكاب بدعة لأنا نقول إنما تكون بدعة إذا علم أنها رابعة

“Tempat dibencinya adalah jika diyakini bahwa basuhan itu lebih dari 3 kali. Jika ia ragu terhadap jumlah basuhan, maka ia mengambil jumlah yang lebih sedikit, karena itulah yang yakin. Dan tidak boleh dikatakan (dalam masalah keraguan, pen) bahwa meninggalkan sebuah sunnah itu lebih mudah daripada melakukan suatu bid’ah, karena kami berpendapat bahwa perkara tersebut suatu bid’ah jika ia dengan sengaja membasuh 4 kali.” (Ghayatul Bayan Syarh Zubad Ibni Ruslan: 49).

Dalam hal ini berlaku hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam:

فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ

“Barangsiapa yang menambahi lebih dari ini (3 kali pen), maka ia telah berbuat jelek, melampaui batas dan berbuat zalim.” (HR. Ahmad: 6397, an-Nasai: 140, Abu Dawud: 116 dan Ibnu Majah: 416. Di-shahih-kan oleh Ibnul Mulaqqin dalam al-Bardul Munir: 3/143).

Contoh ketiga: mengulang-ulangi suatu ibadah dalam satu keadaan. Sebagai contohnya adalah mengulang-ulang wudhu dalam satu keadaan tanpa diselingi dengan shalat. Maka itu juga termasuk bid’ah. Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan:

قَالَ الرُّويَانِيُّ إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً ثُمَّ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ تَوَضَّأَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا } قَالَ اعْلَمْ أَنَّ هَذَا كَانَ مِنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْعَالًا مُخْتَلِفَةً فِي أَحْوَالٍ شَتَّى هَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهُ كَانَ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ عَلَى طَرِيقِ التَّعْلِيمِ لِأَنَّ هَذَا بِدْعَةٌ إذَا لَمْ يَكُنْ عَلَى وَجْهِ التَّعْلِيمِ فَإِنَّ مَنْ تَوَضَّأَ يُكْرَهُ لَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ بِوُضُوئِهِ صَلَاةً

“Ar-Rauyani menyatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam ‘pernah berwudhu dengan sekali basuhan untuk tiap anggota wudhu, kemudian berwudhu dengan dua (2) kali basuhan untuk setiap anggota wudhu, kemudian berwudhu dengan tiga (3) kali basuhan untuk setiap anggota wudhu.’ Ia (pen-syarah) berkata: “Ketahuilah bahwa perbuatan ini dilakukan oleh beliau dalam berbagai keadaan yang berbeda. Inilah yang lebih dekat kepada kebenaran. Dan juga bisa dipahami bahwa wudhu beliau yang berulang-ulang tersebut dalam satu kesempatan dengan tujuan memberikan pengajaran (kepada para sahabat, pen), karena perkara ini (yaitu mengulang-ulang wudhu, pen) adalah bid’ah jika dilakukan tanpa ada tujuan memberikan pengajaran. Karena orang yang berwudhu dibenci (dimakruhkan) baginya untuk berwudhu lagi sebelum diselingi dengan shalat.” (Asnal Mathalib Syarh Raudhatih Thalib: 1/209).

Demikian pula menurut penukilan dari al-Allamah Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami asy-Syafi’i (wafat tahun 1221 H). Beliau menyatakan:

لِأَنَّ مِثْلَ هَذَا بِدْعَةٌ إنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى وَجْهِ التَّعْلِيمِ فَإِنَّ مَنْ تَوَضَّأَ يُكْرَهُ لَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ بِوُضُوئِهِ صَلَاةً

“Karena perkara ini (yaitu mengulang-ulang wudhu, pen) adalah bid’ah jika dilakukan tanpa ada tujuan memberikan pengajaran. Karena orang yang berwudhu dibenci (dimakruhkan) baginya untuk berwudhu lagi sebelum diselingi dengan shalat.” (Hasyiyah al-Bujairami alal Khathib: 2/66).

Mengubah Lafazh Dzikir

Termasuk bagian dari kebid’ahan adalah mengubah-ubah lafazh dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan ini banyak terjadi di kalangan orang-orang yang suka berbuat kreatif dalam beribadah. Di antara dalilnya adalah hadits al-Bara’ bin Azib radliyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan kepadanya:

إِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ وَاجْعَلْهُنَّ مِنْ آخِرِ كَلَامِكَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مُتَّ وَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ قَالَ فَرَدَّدْتُهُنَّ لِأَسْتَذْكِرَهُنَّ فَقُلْتُ آمَنْتُ بِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Jika kamu mau pergi tidur, maka berwudhu’lah seperti wudhu’mu untuk shalat! Kemudian tidurlah di atas sisi kananmu! Kemudian bacalah: “Allahumma innii aslamtu wajhii ilaika, wafawwadltu amrii ilaika, wa alja’tu zhahrii ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, laa malja’a walaa manjaa minka illaa ilaika. Aamantu bi kitabikalladzii anzalta, wabi nabiyyikalladzii arsalta” (Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan wajahku kepada-Mu, aku menyerahkan urusanku kepada-Mu, aku menyandarkan punggungku kepada-Mu, dalam rangka berharap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali hanya kepada-Mu, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan dengan Nabi yang Engkau utus). Dan jadikanlah do’a tersebut sebagai akhir ucapanmu! Karena jika kamu mati pada malam itu, maka kamu akan mati di atas fitrah.” Al-Bara’ berkata: “Maka aku mengulang-ulangnya agar bisa menghafalnya. Kemudian aku berkata: “Aamantu bi rasuulikalladzi arsalta.” Maka beliau bersabda: “Katakan: “Aamantu bi nabiyyikalladzi arsalta!” (HR. Muslim: 48884 dan at-Tirmidzi: 3498).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengomentari hadits di atas:

وأولى ما قيل في الحكمة في رده صلى الله عليه و سلم على من قال الرسول بدل النبي أن ألفاظ الأذكار توقيفية ولها خصائص وأسرار لا يدخلها القياس فتجب المحافظة على اللفظ الذي وردت به..الخ

“Pendapat yang paling utama tentang alasan pengingkaran beliau shallallahu alaihi wasallam atas orang yang mengucapkan kata ‘Rasul’ sebagai ganti kata ‘Nabi’ adalah bahwa lafazh-lafazh dzikir itu bersifat tauqifiyyah (mengikuti teks wahyu, pen). Dan lafazh-lafazh tersebut mempunyai kekhususan dan rahasia yang tidak dapat dimasuki melalui pintu qiyas (analogi). Maka wajib menjaga (tidak mengubah, pen) lafazh yang datang dari syariat..dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 11/112).

Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah juga bekomentar tentang lafazh do’a qunut yang diubah-ubah. Beliau berkata:

وتقع هذه الالفاظ في كتب الفقه مغيرة فاعتمد ما حققته فان ألفاظ الاذكار يحافظ فيها علي الثابت عن النبي صلي الله تعالى عليه وسلم

“Dan lafazh doa ini tertulis berubah-ubah dalam kitab-kitab fikih. Maka pegangilah lafazh yang telah aku teliti, karena lafazh-lafazh dzikir itu seharusnya dijaga berdasar atas riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.” (Al-Majmu’ Syarhul  Muhadzdzab: 3/495).

Bacaan Ayat Kursi untuk Acara Tahlilan

Seringkali mereka membela acara tahlilan dengan adanya hadits-hadits shahih tentang tahlilan. Di antaranya adalah tentang keutamaan ayat kursi. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ

“Barangsiapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu, maka ia tidak dihalangi untuk masuk surga kecuali oleh kematian.” (HR. An-Nasai dalam al-Kubra: 9928 (6/30), ath-Thabrani dalam al-Ausath: 8068 (8/92) dan Ibnus Sunni dalam Amal al-Yaum wal Lailah: 124 (1/237) dari Abu Umamah al-Bahili radliyallahu anhu. Isnadnya di-jayyid-kan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’: 10/128. Hadits ini dikuatkan karena banyak jalannya oleh ad-Dimyathi, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hajar. Lihat Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 6/256).

Hadits di atas menunjukkan bahwa tempat bacaan ayat Kursi adalah setelah selesai shalat fardhu. Maka mengkhususkan bacaan ayat Kursi dalam acara tahlilan termasuk bid’ah idhafiyah karena meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Al-Imam Zainuddin al-Iraqi asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan tentang sifat dzikir yang dibaca ketika safar (bepergian). Beliau berkata:

(أَحَدُهَا) الِاخْتِصَاصُ: وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا ذِكْرٌ مَخْصُوصٌ شُرِعَ بِأَثَرِ هَذِهِ الْعِبَادَاتِ الْمَخْصُوصَةِ فَلَا يَتَعَدَّى إلَى غَيْرِهَا كَالذِّكْرِ عَقِبَ الصَّلَاةِ مِنْ التَّسْبِيحِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ عَلَى الْهَيْئَةِ الْمَخْصُوصَةِ فَإِنَّهُ لَا يَتَعَدَّى إلَى غَيْرِهَا مِنْ الْعِبَادَاتِ كَالصِّيَامِ وَنَحْوِهِ وَالْأَذْكَارُ الْمَخْصُوصَةُ مُتَعَبَّدٌ بِهَا فِي لَفْظِهَا وَمَحَلِّهَا وَمَكَانِهَا وَزَمَانِهَا.

“(Sifat pertama). Dzikir ini mempunyai kekhususan. Yang demikian karena dzikir ini disyariatkan dengan ibadah khusus (yaitu safar, pen), maka tidak boleh dijadikan umum dengan dibaca untuk selain safar. Ini seperti dzikir setelah shalat fardhu yang berupa tasbih, tahmid dan takbir dengan keadaan tertentu, maka tidak boleh dijadikan umum dengan dibaca untuk selain shalat seperti puasa dan lainnya (seperti acara kematian, pen). Maka dzikir-dzikir khusus (seperti dzikir ketika safar, dzikir setelah shalat, dsb, pen) dijadikan sebagai amal ta’abbudi dalam lafazhnya, tempatnya, kedudukannya serta waktunya.” (Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib: 5/184-5).

Berjabat Tangan setelah Shalat

Termasuk contoh pengkhususan ibadah dengan cara tertentu atau ‘bid’ah idhafiyah’ adalah berjabat tangan setelah shalat berjamaah. Hukum asal berjabat tangan antara sesama muslim adalah disyariatkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

“Tidaklah dua (2) orang muslim yang saling bertemu, kemudian saling berjabat tangan, kecuali diampuni dosa keduanya sebelum berpisah.” (HR. At-Tirmidzi: 2651 dan ia berkata hasan gharib, Abu Dawud: 4536, Ibnu Majah: 3693 dan Ahmad: 17813 dari al-Bara’ bin Azib radliyallahu anhu. Hadits ini di-hasan-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 5777).

Al-Allamah Syihabuddin al-Qurafi al-Maliki (wafat tahun 684 H) rahimahullah menyatakan:

فَدَلَّ الْحَدِيثُ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الْمُصَافَحَةِ عِنْدَ اللِّقَاءِ ، وَهُوَ يَقْتَضِي أَنَّ مَا يَفْعَلُهُ أَهْلُ الزَّمَانِ مِنْ الْمُصَافَحَةِ عِنْدَ الْفَرَاغِ مِنْ الصَّلَاةِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَشْرُوعَةٍ ، وَكَانَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ يَنْهَى عَنْهُ وَيُنْكِرُهُ عَلَى فَاعِلِهِ وَيَقُولُ : إنَّمَا شُرِعَتْ الْمُصَافَحَةُ عِنْدَ اللِّقَاءِ

“Maka hadits di atas menunjukkan atas disyariatkannya berjabat tangan ketika bertemu. Ini memberikan konsekuensi bahwa berjabat tangan yang dilakukan oleh orang jaman ini setelah selesai dari shalat, adalah bid’ah yang tidak disyariatkan. Adalah Syaikh al-Izz bin Abdis Salam asy-Syafi’i (guru al-Qurafi, pen) melarang perbuatan ini dan mengingkarinya. Beliau berkata: “Berjabat tangan itu hanyalah disyariatkan ketika bertemu..dst.” (Al-Furuq ma’a Hawamisyihi: 4/431).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i rahimahullah membantah pendalilan al-Imam an-Nawawi tentang bolehnya berjabat tangan setelah shalat dengan dalil keumuman anjuran berjabat tangan. Beliau menyatakan:

وللنظر فيه مجال فإن أصل صلاة النافلة سنة مرغب فيها ومع ذلك فقد كره المحققون تخصيص وقت بها دون وقت

“Pendapat beliau (an-Nawawi) di atas perlu ditinjau lagi, karena hukum asal shalat sunnah adalah anjuran yang dicintai. Meskipun demikian, sebagian ulama peneliti membenci (memakruhkan) mengkhususkan shalat sunnah pada waktu-waktu tertentu.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 11/55).

Anjuran Shalat Raghaib

Yang dimaksud dengan Shalat Raghaib adalah shalat yang dikerjakan pada malam Jumat pertama bulan Rajab, sebanyak 12 rakaat di antara waktu maghrib dan isya’. (At-Tahdzir minal Bida’: 27).

Di antara ulama Syafi’iyah yang menyatakan bid’ahnya shalat raghaib adalah al-Izz bin Abdus Salam dan Taqiyuddin as-Subki rahimahumallah. Keduanya menetapkan ‘bid’ahnya shalat raghaib’ dengan metode yang berbeda. Satunya dengan penetapan sunnah tarkiyah, sedangkan yang lain melalui pengkhususan keumuman ibadah.

Al-Allamah al-Izz bin Abdis Salam asy-Syafi’i menetapkan bid’ahnya shalat raghaib melalui metode penukilan dan penerapan ‘sunnah tarkiyah’. Beliau menyatakan:

ومما يدل على ابتداع هذه الصلاة أن العلماء الذين هم أعلام الدين وأئمة المسلمين من الصحابة والتابعين وتابعي التابعين وغيرهم ممن دَوَّن الكُتُب في الشريعة مع شدة حرصهم على تعليم الناس الفرائض والسُّنَّن لم يُنقل عن أحد منهم أنه ذكر هذه الصلاة، ولا دونها في كتابه، ولا تَعَرَّضَ لها في مجالسه.والعادة تحيل أن تكون مثل هذه سُنَّة وتغيب عن هؤلاء الذين هم أعلام الدين وقدوة المؤمنين، وهم الذين إليهم الرجوع في جميع الأحكام من الفرائض والسُّنَن والحلال والحرام

“Dan termasuk perkara yang menunjukkan bid’ahnya shalat ini (yaitu shalat Raghaib, pen) adalah bahwa para ulama yang mana mereka adalah tokoh-tokoh agama dan panutan kaum muslimin dari kalangan para sahabat, tabi’in dan tab’ut tabi’in dan sebagainya dari kalangan orang-orang yang membukukan kitab-kitab tentang syariat –padahal mereka sangat antusias untuk mengajari manusia fardhu-fardhu dan sunah-sunnah- tidak pernah dinukilkan dari seorang pun dari mereka bahwa mereka menyebutkan shalat ini, tidak juga membukukan shalat ini dalam suatu kitab atau membahasnya dalam majelis-majelis mereka. Kebiasaan kita menganggap mustahil jika suatu perkara dianggap sunnah, sementara ia tidak dikenal oleh mereka yang menjadi tokoh-tokoh agama dan panutan kaum mukminin. Padahal mereka menjadi rujukan di dalam semua hukum baik perkara fardhu, sunnah ataupun halal dan haram.” (At-Tarhib an Shalatir Raghaib al-Maudlu’ah: 9).

Sedangkan al-Allamah Taqiyuddin as-Subki asy-Syafi’i menetapkan bid’ahnya shalat raghaib melalui metode penetapan bid’ah idhafiyah. Al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan:

وَاخْتَلَفَتْ فَتَاوَى ابن الصَّلَاحِ فِيهِمَا وقال في الْآخَرِ هُمَا وَإِنْ كَانَا بِدْعَتَيْنِ لَا يُمْنَعُ مِنْهُمَا لِدُخُولِهِمَا تَحْتَ الْأَمْرِ الْوَارِد بِمُطْلَقِ الصَّلَاةِ وَرَدَّهُ السُّبْكِيّ بِأَنَّ ما لم يَرِدْ فيه إلَّا مُطْلَقُ طَلَبِ الصَّلَاةِ وَأَنَّهَا خَيْرُ مَوْضُوعٍ فَلَا يُطْلَبُ منه شَيْءٌ بِخُصُوصِهِ فَمَتَى خَصَّ شيئا منه بِزَمَانٍ أو مَكَان أو نَحْوِ ذلك دخل في قِسْمِ الْبِدْعَةِ وَإِنَّمَا الْمَطْلُوبُ منه عُمُومُهُ فَيَفْعَلْ لِمَا فيه من الْعُمُومِ لَا لِكَوْنِهِ مَطْلُوبًا بِالْخُصُوصِ ا هـ

“Fatwa-fatwa Ibnus Shalah berbeda-beda tentang kedua shalat ini (shalat raghaib dan shalat nisfu Sya’ban, pen). Beliau berkata dalam fatwa terakhir: “Meskipun kedua shalat ini bid’ah, maka tidak dilarang melakukannya karena termasuk dalam keumuman anjuran tentang shalat secara mutlak.” Tetapi pendapatnya dibantah oleh as-Subki dengan bantahan bahwa perkara yang hanya dianjurkan oleh keumuman shalat secara mutlak dan bahwasanya shalat itu sebaik-baik perkara, tidak bisa dianjurkan dengan cara-cara khusus sedikit pun. Maka ketika seseorang mengkhususkan perkara tersebut dengan waktu tertentu atau tempat tertentu atau kaifiyat lainnya, maka perkara tersebut masuk ke dalam bagian ‘bid’ah’. Sehingga yang dituntut dari perkara tersebut hanyalah keumumannya, maka ia mengerjakan perkara tersebut karena keumumannya, bukan karena dituntut dengan cara-cara tertentu (seperti cara-cara shalat Raghaib dan shalat Nisfu Sya’ban, pen). Selesai bantahan as-Subki.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra: 2/80).

Pengkhususan Ziarah Kubur

Kemudian dengan penukilan yang dipotong-potong dari keterangan Ibnu Hajar -yang menurut mereka memperbolehkan pengkhususan ibadah yang bersifat umum- mereka memperbolehkan pengkhususan ziarah kubur setiap awal tahun.

Jawaban:

Pertama: lemahnya hadits yang dijadikan dalil. Lafazh hadits yang mereka bawakan berikut ini:

كان النبي (صلى الله عليه وآله وسلم) يأتي قبور الشهداء عند رأس الحول فيقول: السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار وكان أبو بكر و عمر وعثمان يفعلُون ذلك

“Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam mendatangi kuburan Syuhada’ setiap awal tahun. Kemudian beliau mengucapkan: “As-Salamu alaikum bimaa shabartum fani’ma uqbad daar.” Dan Abu Bakar, Umar dan Utsman juga melakukannya.” (HR. Abdur Razzaq dalam Mushannafnya: 6716 (3/573) dan ath-Thabari dalam Tafsirnya: 20345 (16/426-7)).

Setelah membawakan sanad Abdur Razzaq dan ath-Thabari, Al-Hafizh Jamaluddin az-Zaila’i al-Hanafi (wafat tahun 762 H) rahimahullah menyatakan:

وهذا معضل وذكره الواقدي في كتاب المغازي في غزوة أحد هكذا من غير سند

Hadits ini mu’dhal. Al-Waqidi juga menyebutkan hadits ini dalam kitab al-Maghazi dalam Perang Uhud seperti ini tanpa sanad.” (Takhrij al-Ahadits wal Atsar al-Waqi’ah fi Tafsir al-Kasysysaf liz Zamakhsyari: 2/189-190). Sehingga status hadits di atas adalah dhaif, tidak bisa dijadikan dalil pengkhususan ‘ziarah kubur’.

Demikian pula hadits:

من زار قبر أبويه أو أحدهما في كل جمعة غفر له وكتب برا

“Barangsiapa yang berziarah ke kubur kedua orang tuanya atau salah satunya setiap Jumat, maka dosanya akan diampuni dan ditulis sebagai perbuatan berbakti (kepada keduanya).” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath: 6114 (6/175-6) dan ash-Shaghir: 955 (2/160) dan al-Baihaqi dalam Syuabul Iman: 7901 (6/201) dengan sanad yang sama).

Al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i rahimahullah menerangkan keadaan sanad hadits di atas:

قال العراقي : رواه الطبراني وابن أبي الدنيا من رواية محمد بن النعمان يرفعه وهو معضل ومحمد بن النعمان مجهول وشيخه يحيى بن العلاء متروك

“Al-Iraqi berkata: “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan Ibnu Abid Dunya dari riwayat Muhammad bin an-Nu’man, ia me-rafa’-kannya. Hadits ini mu’dhal. Muhammad bin an-Nu’man adalah majhul (tidak diketahui, pen). Dan gurunya yaitu Yahya bin Ala’ adalah matruk (ditinggalkan haditsnya, pen).” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 6/183).

Hadits-hadits tentang pengkhususan di atas adalah lemah dengan kelemahan yang sangat, sehingga tidak bisa mengkhususkan keumuman anjuran ziarah kubur. Dan ini (keumuman ibadah tidak bisa dikhususkan dengan hadits dhaif, pen) adalah kaedah yang dipegang oleh para ulama Ahlul hadits.

Al-Allamah Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i rahimahullah mencontohkan:

مثاله ” الصلاة المذكورة في أول جمعة من رجب ” فإن الحديث فيها ضعيف فمن أراد فعلها وإدراجها تحت العمومات الدالة على فضل الصلاة والتسبيحات لم يستقم

“Contoh (dari kaedah ini) adalah shalat yang disebutkan di awal Jumat bulan Rajab (yaitu shalat raghaib, pen). Maka hadits tentang pensyariatannya adalah dhaif (lemah). Barangsiapa ingin mengamalkannya dan memasukkannya ke dalam keumuman dalil yang menunjukkan keutamaan shalat dan tasbih, maka belum tegak (hujahnya, pen).” (An-Nukat ala Muqaddimah Ibnish Shalah: 2/312-3).

Kemudian az-Zarkasyi memberikan alasan:

لأن الحكم باستحبابه على هيئته الخاصة يحتاج إلى دليل عليه ولا بد بخلاف ما إذا بني على أنه من جملة الخيرات التي لا تختص بذلك الوقت ولا بتلك الهيئة

“Ini karena hukum tentang anjuran perkara tersebut dengan tata cara tertentu membutuhkan kepada dalil atas pengkhususan tata cara tersebut. Dan ini harus ada. Ini berbeda dengan keadaan jika hadits dhaif  tersebut hanya menerangkan kebaikan-kebaikan tanpa pengkhususan waktu dan pengkhususan tata cara (terhadap hadits shahih, pen).” (An-Nukat ala Muqaddimah Ibnish Shalah: 2/313).

Kedua: bertentangan dengan hadits shahih. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا وَلَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا

“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ied (perayaan). Dan janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan.” (HR. Ahmad: 8449, Abu Dawud: 1746 dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 4162 (3/491) dari Abu Hurairah radliyallahu anhu. Sanadnya di-shahih-kan oleh an-Nawawi dalam al-Adzkar: 333 (115) dan di-hasan-kan oleh as-Sakhawi dalam al-Qaulul Badi’ fish Shalati ala an-Nabiyyisy Syafi’: 161).

Al-Allamah Syarafuddin ath-Thibi asy-Syafi’i (wafat tahun 743 H) rahimahullah menerangkan makna hadits di atas:

يحتمل أن يراد به واحد الأعياد، أي لا تجعلوا زيارة قبري عيداً، أو قبري مظهر عيد، والمعنى لا تجتمعوا للزيارة اجتماعكم للعيد، فإنه يوم لهو وسرور وزينة، وحال الزيارة مخالفة لتلك الحالة، وكان ذلك من دأب اليهود والنصارى، فأورثهم ذلك الغفلة، وقسوة القلب، ومن عادة عبدة الأصنام أنهم لم يزالوا يعظمون أمواتهم حتى اتخذوها أصناما

“Makna ‘Ied’ bisa dipahami sebagai bentuk tunggal dari kata “a’yaad” (perayaan, pen). Maksudnya: “Janganlah kalian menjadikan ziarah kuburku sebagai perayaan atau tempat menampakkan perayaan.” Maknanya: “Janganlah kalian berkumpul untuk ziarah kubur seperti berkumpulnya kalian untuk hari raya, karena hari raya adalah hari bersenda gurau, berbahagia dan perhiasan.” Dan perkara tersebut (berkumpul di kuburan nabi-nabi, pen) termasuk tradisi kaum yahudi dan nasrani sehingga menyebabkan mereka lalai dan berhati keras. Dan termasuk kebiasan para penyembah berhala adalah bahwa mereka selalu mengagungkan orang-orang mati mereka sampai pada menjadikan mereka sebagai berhala-berhala…dst.” (Al-Kasyif an Haqa’iqis Sunan an-Nabawiyah Syarh Misykatil Mashabih: 2/414).

Beliau juga menerangkan:

ويحتمل أن يكون العيد اسما من الاعتياد، يقال: عادة، واعتاده، وتعوده، أي صار عادة له، يعني لا تجعلوا قبري محل اعتياد تعتادونه؛ لما يؤدي ذلك إلي سوء الأدب، وارتفاع الحشمة.

“Makna ‘Ied’ juga bisa dipahami bentuk isim (kata benda) dari kata ‘membiasakan’. Dikatakan: “Sebagai adat (kebiasaan), ia membiasakannya. Maksudnya adalah menjadikan kebiasaan baginya. Maknanya: “Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat kebiasaan berziarah untuk kalian biasakan,” karena perbuatan tersebut bisa membawa kepada sikap tidak sopan dan hilangnya rasa malu.” (Al-Kasyif an Haqa’iqis Sunan an-Nabawiyah Syarh Misykatil Mashabih: 2/414).

Dan akhirnya al-Allamah Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i rahimahullah menarik suatu pelajaran penting. Beliau menyatakan:

يؤخذ منه أن اجتماع العامة في بعض أضرحة الأولياء في يوم أو شهر مخصوص من السنة ويقولون هذا يوم مولد الشيخ ويأكلون ويشربون وربما يرقصون منهي عنه شرعا وعلى ولي الشرع ردعهم على ذلك وإنكاره عليهم وإبطاله

“Faedah yang dapat dipetik dari hadits di atas adalah bahwa berkumpulnya orang awam di sebagian kuburan para wali di hari tertentu atau bulan tertentu dari setahun, kemudian mereka berkata: ”Ini adalah hari kelahiran Syaikh Fulan.’ Kemudian mereka makan dan minum dan terkadang menari, itu semua adalah dilarang secara syariat. Wajib bagi aparat urusan syariat (Depag, pen) untuk melarang mereka, mengingkari serta membubarkan mereka.” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 4/263).

Antara Sunnah Taqririyah dan Mengadakan Bid’ah

Mereka yang suka berbuat bid’ah berhujjah dengan perbuatan Bilal radliyallahu anhu yang membiasakan shalat sunnah setelah berwudhu. Dalam hal ini –menurut mereka- Bilal mengada-adakan hal baru dan tidak dilarang oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ini menunjukkan bahwa kita pun boleh mengada-adakan ibadah yang belum pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam –seperti Bilal- asalkan niatnya baik.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada Bilal radliyallahu anhu ketika shalat fajar:

يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

“Wahai Bilal! Ceritakan kepadaku tentang amal shalih yang paling dapat diandalkan yang kamu amalkan di dalam Islam! Karena aku telah mendengarkan suara gesekan kedua sandalmu di depanku di surga.” Bilal menjawab: “Aku tidak mengamalkan suatu amal shalih yang paling dapat diandalkan menurutku, hanya saja aku tidaklah bersuci baik di waktu malam atau siang, kecuali aku melakukan shalat dengan hasil bersuci tersebut dengan shalat yang ditentukan (oleh Allah) untukku.” (HR. Al-Bukhari: 1081, Muslim: 4497 dan Ahmad: 8052 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu).

Jawaban:

Pertama: Bilal radliyallahu anhu tidaklah mengada-adakan ibadah baru. Beliau hanyalah berusaha merutinkan dan merahasiakan shalat sunnah setelah wudhu yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يَسْهُو فِيهِمَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berwudhu, kemudian menyempurnakan wudhunya, kemudian melakukan shalat 2 (dua) rakaat, dengan keadaan tidak lalai dari kedua rakaat tersebut, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Ahmad: 16439 dan Abu Dawud: 770 dari Zaid bin Khalid al-Juhani radliyallahu anhu, di-shahih-kan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya: 452 (1/222) dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Al-Albani meng-hasan-kan hadits ini dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud: 905).

Bilal hanyalah berusaha merutinkan shalat sunnah setelah wudhu dan merahasiakannya dari manusia agar lebih bernilai di sisi Allah ta’ala. Al-Allamah Syihabuddin al-Qasthalani asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan:

قال ابن التين: إنما أعتقد بلال ذلك لأنه علم من النبي، -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، أن الصلاة أفضل الأعمال. وأن عمل السر أفضل من عمل الجهر

“Ibnut Tiin berkata: “Bilal hanyalah berkeyakinan demikian karena ia mengetahui dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa shalat itu amalan yang paling utama, dan bahwa amal secara rahasia itu lebih utama daripada amal secara terang-terangan.” (Irsyadus Sari li Syarhi Shahihil Bukhari: 2/326).

Kedua: Seandainya Bilal dianggap mengada-adakan amalan baru, maka itu bukanlah bid’ah (sebagaimana persangkaan mereka) karena perkara tersebut (yakni shalat sunnah setelah wudhu) dilakukan pada masa turunnya wahyu.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i rahimahullah menerangkan sebuah kaedah fikih:

أن الصحابي إذا أضافه إلى زمن النبي صلى الله عليه و سلم كان له حكم الرفع عند الأكثر لأن الظاهر أن النبي صلى الله عليه و سلم اطلع على ذلك وأقره لتوفر دواعيهم على سؤالهم إياه عن الأحكام..الخ

“Jika ada seorang sahabat yang menyandarkan perbuatannya pada jaman Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka perkara tersebut dihukumi marfu’ (yaitu: sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, pen) menurut kebanyakan ulama, karena yang jelas bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mengetahui perkara tersebut dan menyetujuinya karena banyaknya motivasi bagi mereka untuk bertanya kepada beliau tentang hukum-hukum syariat…dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 9/306).

Beliau juga menyatakan:

ولم ينصف من قال إنهم فعلوا ذلك باجتهادهم ولم يطلع النبي صلى الله عليه و سلم على ذلك لأنها شهادة نفى ولأن زمن الوحي لا يقع التقرير فيه على ما لا يجوز

“Dan tidaklah benar orang yang menyatakan bahwa mereka melakukan perbuatan tersebut hanya berdasar ijtihad mereka sendiri, sedangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak mengetahuinya, karena hal tersebut merupakan persaksian negasi, dan juga karena jaman wahyu tidaklah menyetujui atas perbuatan yang tidak boleh dikerjakan.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 8/23).

Al-Allamah Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata:

ترك النكير من الشارع حجة وسنة يلزم أمته العمل بها لا خلاف بين العلماء في ذلك ؛ لأنه – عليه السلام – لا يجوز أن يري أحدًا من أمته يقول قولًا أو يفعل فعلًا محظورًا، فيقره عليه

“Sikap pemilik syariat (yakni Allah dan rasul-Nya, pen) yang tidak mengingkari (sesuatu yang dilakukan oleh para sahabat) adalah hujjah dan sunnah yang mengikat umat untuk melaksanakannya. Dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama  di dalam perkara ini, karena tidak diperbolehkan bagi beliau shallallahu alaihi wasallam untuk menyaksikan salah seorang pun dari umat beliau mengucapkan suatu ucapan atau berbuat suatu perbuatan yang terlarang, kemudian beliau menyetujuinya..dst.” (At-Taudhih Syarh al-Jami’ ash-Shahih: 33/143).

Sehingga, ketika suatu perbuatan ta’abbudi dilaksanakan oleh salah seorang sahabat di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka itu termasuk Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam, meskipun beliau sendiri belum pernah melaksanakannya, sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dan Ibnul Mulaqqin di atas. Ini kemudian dikenal dengan ‘Sunnah Taqririyah’. Wallahu a’lam.

Ketiga: jika suatu amal ta’abbud diada-adakan setelah jaman turunnya wahyu, bahkan tidak dikenal oleh generasi Salaf, maka amal tersebut termasuk bid’ah yang tercela, bukan sunnah taqririyah.

Al-Imam Taqiyuddin as-Subki asy-Syafi’i (wafat tahun 756 H) rahimahullah berkomentar tentang perbuatan yang dilakukan di masa beliau:

الْحَمْدُ لِلَّهِ هَذِهِ بِدْعَةٌ لَا يَشُكُّ فِيهَا أَحَدٌ وَلَا يُرْتَابُ فِي ذَلِكَ ، وَيَكْفِي أَنَّهَا لَمْ تُعْرَفْ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي زَمَنِ أَصْحَابِهِ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ عُلَمَاءِ السَّلَفِ

“Alhamdulillah, ini adalah perbuatan bid’ah dan tidak ada seorang pun yang meragukannya. Cukuplah sebagai bukti bid’ahnya bahwa perbuatan ini tidak dikenal di jaman Nabi shallallahu alaihi wasallam dan juga jaman sahabat beliau dan juga salah seorang ulama Salaf pun.” (Fatawa as-Subki: 4/491).

Tergelincir dalam Sikap Istihsan

Mereka yang berbuat ‘bid’ah’ atau melanggar ‘sunnah tarkiyah’ berhujjah dengan sikap istihsan, yaitu menilai baik terhadap amalan bid’ah syar’iyah sesuai dengan pemikiran mereka sendiri. Sikap menganggap baik ini kemudian disebut dengan ‘istihsan’.

Perlu diketahui bahwa pengertian ‘Istihsan’ menurut ulama Syafi’iyah berbeda dengan pengertian ‘istihsan’ menurut ulama Malikiyah dan Hanafiyah. Adapun menurut al-Imam Abu Hanifah dan al-Imam Malik, maka ‘istihsan’ adalah mengamalkan dalil yang lebih kuat di antara dua dalil. (Lihat Ushulus Sarkhasi: 2/201 dan Anwarul Buruq fi Anwa’il Furuq: 7/381).

Sedangkan pengertian ‘Istihsan’ menurut ulama Syafi’iyah, al-Allamah Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i rahimahullah menerangkan:

وهو لُغَةً اعْتِمَادُ الشَّيْءِ حَسَنًا سَوَاءٌ كان عِلْمًا أو جَهْلًا وَلِهَذَا قال الشَّافِعِيُّ الْقَوْلُ بِالِاسْتِحْسَانِ بَاطِلٌ

Istihsan secara bahasa adalah menganggap sesuatu sebagai kebaikan, baik dalam keadaan mengetahui ataupun tidak tahu. Oleh karena itu asy-Syafi’i menyatakan bahwa berpendapat dengan ‘Istihsan’ adalah batil…dst.” (Al-Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh: 4/386).

Az-Zarkasyi juga menyatakan:

وقد أَنْكَرَهُ الْجُمْهُورُ حتى قال الشَّافِعِيُّ من اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ وَهِيَ من مَحَاسِنِ كَلَامِهِ قال الرُّويَانِيُّ وَمَعْنَاهُ أَنْ يَنْصِبَ من جِهَةِ نَفْسِهِ شَرْعًا غير شَرْعِ الْمُصْطَفَى..الخ

“Dan mayoritas ulama mengingkari Abu Hanifah bahkan asy-Syafi’i menyatakan: “Barangsiapa yang berbuat ‘Istihsan’ maka ia telah membuat syariat baru.” Ini adalah termasuk ucapan-ucapan yang baik dari beliau. Ar-Rauyani berkata: “Maksud dari ucapan asy-Syafi’i adalah ia menetapkan dari dirinya sebuah syariat selain syariat Nabi shallallahu alaihi wasallam..dst.” (Al-Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh: 4/386).

Al-Allamah Abu Hamid al-Ghazali asy-Syafi’i (wafat tahun 505 H) rahimahullah menjelaskan bahwa ‘Istihsan’ yang diingkari oleh al-Imam asy-Syafi’i adalah ‘menganggap baik dalam suatu urusan ta’abbudi dengan semata akal, perasaan atau prasangka tanpa dalil’. Beliau menyatakan:

وله ثلاثة معان الأول وهو الذي يسبق إلى الفهم ما يستحسنه المجتهد بعقله ولا شك في أنا نجوز ورود التعبد باتباعه عقلا بل لو ورد الشرع بأن ما سبق إلى أوهامكم أو استحسنتموه بعقولكم أو سبق إلى أوهام العوام مثلا فهو حكم الله عليكم لجوزناه ولكن وقوع التعبد لا يعرف من ضرورة العقل ونظره بل من السمع

“Istihsan’ mempunyai tiga (3) arti, pertama –yaitu arti yang pertama kali muncul dalam benak kita- adalah perkara yang dianggap baik oleh seorang mujtahid dengan akalnya. Dan tidak ada keraguan lagi -menurut kami-, bahwa datangnya perkara ta’abbudi haruslah diikuti secara akal. Bahkan seandainya syariat datang dengan penjelasan bahwa apa yang dibayangkan oleh anggapan kalian, atau apa yang dianggap baik oleh akal kalian, atau apa yang ada di benak orang awam –sebagai contoh- merupakan hukum Allah atas kalian, maka kami akan memperbolehkan ‘istihsan’. Akan tetapi datangnya ‘urusan ta’abbudi’ itu tidak bisa diketahui oleh akal dan pandangan seseorang, tetapi haruslah merujuk kepada wahyu…dst.” (Al-Mustashfa lil Ghazali: 171).

Sehingga jika seseorang menyatakan bahwa suatu perkara disebut ‘bid’ah hasanah’, padahal jika diteliti lagi ternyata perkara tersebut merupakan ‘sunnah tarkiyah’, bukan ‘maslahat mursalah’, penilaian tersebut bisa dikategorikan sebagai ‘istihsan’ atau membuat syariat baru. Wallahu a’lam.

Dialog antara Syafi’i dan Hanafi

Di antara salah satu contoh penerapan yang salah dari ‘bid’ah hasanah’ adalah adanya petugas muraqqi (semacam pembawa acara) sebelum khatib menaiki mimbar Jumat. Perkara ini sudah masyhur di kalangan Syafi’iyah Muta’akhirin (belakangan), yang mana adanya ‘muraqqi’ sendiri bertentangan dengan kaedah dan prinsip yang telah dianut dan ditetapkan oleh al-Imam asy-Syafi’i dan ulama Syafi’iyah sendiri. Perkara ini mendapatkan kritikan dari ulama Hanafiyah.

Al-Imam Ibnu Abidin al-Hanafi (wafat tahun 1252 H) rahimahullah berkata:

( قَوْلُهُ فَالتَّرْقِيَةُ الْمُتَعَارَفَةُ إلَخْ ) أَيْ مِنْ قِرَاءَةِ آيَةِ – { إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ } – وَالْحَدِيثِ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ { إذَا قُلْت لِصَاحِبِك يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْت } .

أَقُولُ : وَذَكَرَ الْعَلَّامَةُ ابْنُ حَجَرٍ فِي التُّحْفَةِ أَنَّ ذَلِكَ بِدْعَةٌ لِأَنَّهُ حَدَثَ بَعْدَ الصَّدْرِ الْأَوَّلِ قِيلَ لَكِنَّهَا حَسَنَةٌ لِحَثِّ الْآيَةِ عَلَى مَا يُنْدَبُ لِكُلِّ أَحَدٍ مِنْ إكْثَارِ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا سِيَّمَا فِي هَذَا الْيَوْمِ وَكَحَثِّ الْخَبَرِ عَلَى تَأَكُّدِ الْإِنْصَاتِ الْمُفَوِّتِ تَرْكُهُ لِفَضْلِ الْجُمُعَةِ بَلْ وَالْمُوقِعُ فِي الْإِثْمِ عِنْدَ الْأَكْثَرِينَ مِنْ الْعُلَمَاءِ .

وَأَقُولُ : يُسْتَدَلُّ لِذَلِكَ أَيْضًا { بِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ مَنْ يَسْتَنْصِتُ لَهُ النَّاسُ عِنْدَ إرَادَتِهِ خُطْبَةَ مِنًى فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ } فَقِيَاسُهُ أَنَّهُ يُنْدَبُ لِلْخَطِيبِ أَمْرُ غَيْرِهِ بِالِاسْتِنْصَاتِ وَهَذَا هُوَ شَأْنُ الْمُرَقِّي فَلَمْ يَدْخُلْ ذِكْرُهُ لِلْخَبَرِ فِي حَيِّزِ الْبِدْعَةِ أَصْلًا ا هـ وَذَكَرَ نَحْوَهُ الْخَيْرُ الرَّمْلِيُّ عَنْ الرَّمْلِيِّ الشَّافِعِيِّ وَأَقَرَّهُ عَلَيْهِ وَقَالَ : إنَّهُ لَا يَنْبَغِي الْقَوْلُ بِحُرْمَةِ قِرَاءَةِ الْحَدِيثِ عَلَى الْوَجْهِ الْمُتَعَارَفِ لِتَوَافُرِ الْأُمَّةِ وَتَظَاهُرِهِمْ عَلَيْهِ ا هـ وَنَقَلَ ح نَحْوَهُ عَنْ الْعَلَّامَةِ الشَّيْخِ مُحَمَّدِ البرهمتوشي الْحَنَفِيِّ .

أَقُولُ : كَوْنُ ذَلِكَ مُتَعَارَفًا لَا يَقْتَضِي جَوَازَهُ عِنْدَ الْإِمَامِ الْقَائِلِ بِحُرْمَةِ الْكَلَامِ وَلَوْ أَمْرًا بِمَعْرُوفٍ أَوْ رَدَّ سَلَامٍ اسْتِدْلَالًا بِمَا مَرَّ، وَلَا عِبْرَةَ بِالْعُرْفِ الْحَادِثِ إذَا خَالَفَ النَّصَّ لِأَنَّ التَّعَارُفَ إنَّمَا يَصْلُحُ دَلِيلًا عَلَى الْحِلِّ إذَا كَانَ عَامًّا مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ وَالْمُجْتَهِدِينَ كَمَا صَرَّحُوا بِهِ وَقِيَاسُ خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ عَلَى خُطْبَةِ مِنًى قِيَاسٌ مَعَ الْفَارِقِ فَإِنَّ النَّاسَ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ قَاعِدُونَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ خُرُوجَ الْخَطِيبِ مُتَهَيِّئُونَ لِسَمَاعِهِ بِخِلَافِ خُطْبَةِ مِنًى فَلْيُتَأَمَّلْ

“Ucapan matan “Acara Tarqiyah yang sudah dikenal dst” yaitu membacakan ayat (QS al-Ahzab: 56) dan hadits al-Bukhari dan Muslim, ”Jika kamu berkata kepada temanmu “Diamlah”, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka kamu berbuat sia-sia.”

Aku (Ibnu Abidin, pen) berkata: “Al-Allamah Ibnu Hajar (al-Haitami) menyebutkan dalam at-Tuhfah (yaitu: Tuhfatul Muhtaj Syarh al-Minhaj, pen) bahwa perkara tersebut adalah bid’ah karena terjadi setelah generasi Salaf, akan tetapi merupakan ‘bid’ah hasanah’ karena ayat yang dibacakan bisa mendorong untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam khususnya di hari-hari belakangan ini dan juga hadits yang dibacakan dapat mendorong untuk diam mendengarkan khutbah, yang mana jika tidak dilakukan, maka akan kehilangan fadhilah Jumat dan bahkan terjatuh ke dalam dosa menurut kebanyakan ulama.

Aku (al-Haitami) berkata: “Dan juga bisa berdalil dengan kisah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang memerintahkan seorang petugas yang menyuruh manusia agar diam ketika beliau hendak menyampaikan khutbah di Mina. Maka ini bisa diqiyaskan dengan adanya Muraqqi pada acara shalat Jumat. Maka perbuatan muraqqi membacakan hadits tidak termasuk dalam ranah bid’ah.” Selesai ucapan Ibnu Hajar. Dan ini juga disebutkan oleh Khairuddin ar-Ramli dari al-Imam ar-Ramli asy-Syafi’i dan juga diakui oleh beliau. Beliau berkata: “Dan tidak seharusnya menyatakan keharaman membacakan hadits dengan cara seperti ini karena sudah dibiasakan oleh masyarakat.” Selesai ucapan ar-Ramli. Dan dinukilkan pula dari as-Syaikh Muhammad al-Barhamtusyi al-Hanafi.

Aku (Ibnu Abidin, pen) berkata: “Keadaan acara ini yang sudah dikenal luas tidak menunjukkan bolehnya acara ini menurut Imam yang berpendapat haramnya berbicara walaupun dalam rangka memerintahkan perkara ma’ruf atau menjawab salam sesuai dalil yang terdahulu. Dan kebiasaan masyarakat sekarang tidak bisa dianggap sebagai dalil jika menyelisihi nash (teks ayat atau hadits, pen), karena kebiasaan hanyalah bisa dipakai sebagai dalil pembolehan sesuatu jika sudah menjadi keumuman para sahabat dan ulama mujtahidin sebagaimana mereka telah menjelaskan. Dan meng-qiyaskan khutbah Jumat dan khutbah Mina adalah men-qiyaskan (analogi) dua perkara yang berlainan (sehingga tidak tepat, pen), karena manusia pada hari Jumat sudah dalam keadaan duduk dan siap mendengarkan khutbah. Dan ini berbeda dengan khutbah Mina (yang mana manusia berlalu lalang, pen). Maka perhatikanlah!” (Raddul Mukhtar alad Durril Mukhtar: 6/117-8).

Pembahasan keterangan Ibnu Abidin:

Pertama: adanya ‘muraqqi’ adalah bid’ah madzmumah karena sesuai dengan kriteria ‘sunnah tarkiyah’. Ini karena perkara tersebut tidak dilakukan di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan tegaknya motivasi untuk melakukannya dan tidak adanya penghalang.

Di sini berlaku kaedah yang diterangkan oleh al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah:

وكذا ما تركه مع قيام المقتضى فيكون تركه سنة وفعله بدعة مذمومة

“Demikian pula perkara yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam padahal motivasi untuk melakukannya sudah ada ketika itu (seperti adanya muraqqi, pen). Maka meninggalkannya adalah sunnah (tarkiyah, pen) dan melaksanakannya adalah bid’ah yang tercela.” (Al-Fatawa al-Haditsiyah lil Haitami: 200).

Kedua: perkara yang sudah tetap sebagai bid’ah madzmumah tidak boleh dianggap sebagai bid’ah hasanah dengan alasan adanya faedah kebaikan dan sebagainya, karena ini akan membuka pintu kebid’ahan. Maka akan banyak orang yang menyatakan bahwa perkara A adalah bid’ah hasanah karena bisa meningkatkan semangat ibadah, amalan B juga bid’ah hasanah karena dapat mendorong kaum muslimin bertaubat, shalat C juga bid’ah hasanah karena bisa mengisi waktu untuk mengingat Allah dan sebagainya. Dan ini akan membuka pintu kebid’ahan.

Al-Allamah Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan:

وقال الشَّافِعِيُّ في الرِّسَالَةِ الِاسْتِحْسَانُ تَلَذُّذٌ وَلَوْ جَازَ لِأَحَدٍ الِاسْتِحْسَانُ في الدِّينِ جَازَ ذلك لِأَهْلِ الْعُقُولِ من غَيْرِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَلَجَازَ أَنْ يَشْرَعَ في الدِّينِ في كل بَابٍ وَأَنْ يُخْرِجَ كُلُّ وَاحِدِ لِنَفْسِهِ شَرْعً

“Asy-Syafi’i berkata dalam ar-Risalah: “Istihsan adalah hiburan. Seandainya seseorang diperbolehkan untuk melakukan ‘istihsan’ (menganggap baik dengan akalnya, pen) di dalam urusan agama, maka orang-orang cerdas yang bukan ulama akan diperbolehkan untuk membuat syariat baru di dalam segala bab, dan masing-masing orang akan membuat syariat baru..dst.” (Al-Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh: 4/387).

Ketiga: qiyas (analogi) di dalam perkara ta’abbud tidak diperbolehkan sebagaimana diterangkan dalam bab terdahulu. Termasuk juga dalam sifat dan tatacara ibadah Jumat karena bersifat ta’abbudi. Al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan:

أَنَّ الْغَالِبَ عَلَى أَحْوَالِ الْجُمُعَةِ التَّعَبُّدُ

“Bahwa keumuman dari keadaan shalat Jumat adalah bersifat ta’abbud.” (Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj: 9/199).

Jika ibadah yang bersifat ta’abbudi semisal khutbah Jumat saja tidak boleh di-qiyas-kan dengan ibadah lainnya, maka apalagi di-qiyas-kan dengan khutbah Mina yang mempuyai sifat yang berbeda. Maka itu adalah Qiyas ma’al Fariq (menganalogikan sesuatu yang berbeda).

Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah memberikan alasan:

لان السنة في هذه الخطبة التأخير عن الصلاة وشرط خطبة الجمعة تقدمها على الصلاة فلا تدخل إحداها في الاخرى والله أعلم

“Karena menurut as-Sunnah, khutbah Mina harus dilakukan setelah shalat, sedangkan syarat khutbah Jumat harus didahulukan daripada shalat. Maka masing-masing khutbah tidak bisa digabungkan. Wallahu a’lam.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab: 8/82).

Keempat: jika kebiasaan suatu masyarakat itu menyelisihi dalil, maka wajib meninggalkan kebiasaan tersebut dan melaksanakan dalil. Al-Allamah Badruddin az-Zarkasyi asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ على مُخَالَفَةِ الدَّلِيلِ مِثْلُ أَنْ يَكُونَ الشَّيْءُ مَحْظُورًا بِدَلِيلٍ شَرْعِيٍّ وفي عَادَاتِ الناس إبَاحَتُهُ وَيَكُونُ في الشَّرْعِ دَلِيلٌ يُغَلِّظُهُ وفي عَادَاتِ الناس التَّخْفِيفُ فَهَذَا عِنْدَنَا يَحْرُمُ الْقَوْلُ بِهِ وَيَجِبُ اتِّبَاعُ الدَّلِيلِ وَتَرْكُ الْعَادَةِ وَالرَّأْيِ وَسَوَاءٌ كان ذلك الدَّلِيلُ نَصًّا أو إجْمَاعًا أو قِيَاسًا

“Perkara kedua adalah jika anggapan baik (istihsan) itu menyelisihi dalil seperti jika perkara itu dilarang berdasarkan dalil sedangkan kebiasaan masyarakat membolehkannya, atau jika dalil menganggapnya berat sedangkan kebiasaan masyarakat menganggapnya ringan, maka menurut kami (Syafi’iyah, pen) haram berpendapat dengannya dan wajib mengikuti dalil dan wajib meninggalkan kebiasaan masyarakat dan pemikiran. Baik itu dalilnya berupa nash, atau ijma’ atau qiyas.” (Al-Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh: 4/389).

Luasnya Dzikir dalam Shalat

Mereka yang suka berbuat inovasi dalam ibadah menyatakan bahwa tidak semua bid’ah secara syariat itu dianggap sesat sebagaimana pendalilan Sarkub atas bolehnya menyusun dzikir dalam shalat dengan hadits Rifa’ah bin Rafi’ radliyallahu anhu. Ia berkata:

صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَطَسْتُ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ فَقَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّانِيَةَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّالِثَةَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ رِفَاعَةُ بْنُ رَافِعٍ ابْنُ عَفْرَاءَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كَيْفَ قُلْتَ قَالَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ ابْتَدَرَهَا بِضْعَةٌ وَثَلَاثُونَ مَلَكًا أَيُّهُمْ يَصْعَدُ بِهَا

“Aku melakukan shalat di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian aku bersin. Maka aku mengucapkan: “Alhamdulillah hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaraakan alaihi kamaa yuhibbu Rabbuna wayardhaa.” Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selesai shalat, maka beliau bertanya: “Siapakah yang berbicara dalam shalat tadi?” Maka tidak ada seorang pun yang menjawab. Kemudian beliau bertanya kedua kalinya dan masih belum ada yang menjawab. Kemudian setelah bertanya ketiga kalinya, Rifa’ah bin Rafi’ menjawab: “Saya (orangnya), wahai Rasulullah!” Beliau bertanya lagi: “Apa yang kamu ucapkan tadi?” Rifa’ah menjawab: “Aku membaca “Alhamdulillah hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaraakan alaihi kamaa yuhibbu Rabbuna wayardhaa.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang mana jiwaku berada di tangan-Nya, lebih dari 30 malaikat berlomba-lomba untuk mencatatnya. Siapakah di antara mereka yang naik lebih dahulu ke langit dengan membawa kalimat tersebut.” (HR. An-Nasai: 922 dan at-Tirmidzi: 369 dan di-hasan-kan olehnya. Isnadnya juga di-hasan-kan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’: 10/117).

Kemudian mereka membawakan komentar al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah:

واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير ماثور إذا كان غير مخالف للمأثور

“Dan hadits di atas dijadikan dalil atas bolehnya mengadakan dzikir yang tidak ma’tsur di dalam shalat, jika tidak menyelisihi perkara yang ma’tsur dalam shalat.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 2/287).

Dengan hujjah keterangan di atas, mereka membolehkan menyusun dzikir tersendiri dalam shalat dan di luar shalat.

Jawaban:

Maksud ucapan al-Hafizh dengan jika tidak menyelisihi perkara yang ma’tsur dalam shalat’ adalah tidak menyelisihi hadits Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami radliyallahu anhu. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah menegurnya karena mengucapkan ‘Yarhamukallah’ dalam shalat. Beliau bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya shalat ini tidaklah pantas diisi dengan sedikit pun dari ucapan manusia. Sesungguhnya shalat itu hanyalah berisi bacaan tasbih, takbir dan membaca al-Quran.” (HR. Muslim: 836, an-Nasai: 1203 dan Ahmad: 22644).

Yang dimaksud dengan ‘ucapan manusia’ yang dilarang di dalam shalat dalam hadits Muawiyah di atas adalah bukan semua ucapan manusia, tetapi yang dimaksud adalah ucapan dalam ‘mukhathabah’ atau percakapan antar manusia. Al-Allamah Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan:

قالوا: ولا يجوز أن يريد جنس الكلام؛ لأن جميع ما يوجد في الصلاة من الأذكار من نفس الكلام، فوجب أن يكون المراد ما يتخاطبون به في العادة.

“Para ulama menyatakan: “Larangan dalam hadits di atas tidak boleh dipahami dengan jenis ucapan manusia, karena semua dzikir yang ditemukan dalam shalat adalah ucapan manusia. Maka wajib dipahami bahwa yang dimaksud ucapan manusia yang dilarang adalah ucapan yang dijadikan percakapan dalam kebiasaan.” (At-Taudhih Syarh al-Jami’ ash-Shahih: 7/279).

Sehingga ucapan ‘yarhamukallah’ (semoga Allah merahmatimu), ‘ghafarallahu laka’ (semoga Allah mengampunimu), ‘barakallahu laka’ (semoga Allah memberkatimu) dan sebagainya meskipun termasuk do’a, tetap tidak boleh diucapkan dalam shalat karena mengandung unsur ‘mukhathabah’ (percakapan antar manusia).

Lafazh “Sesungguhnya shalat itu hanyalah berisi bacaan tasbih, takbir dan membaca al-Quran” meliputi segala bentuk dzikir yang berisi pujian dan pengagungan Allah ta’ala.

Al-Allamah Muhammad bin Allan asy-Syafi’i (wafat tahun 1057 H) rahimahullah mengomentari hadits Muawiyah di atas:

ومثلهما سائر الثناء عليه تعالى مما يدل على كماله

“Dan termasuk seperti keduanya (yakni takbir dan tasbih yang diperbolehkan dalam shalat, pen) semua pujian kepada Allah ta’ala yang menunjukkan kesempurnaan-Nya (seperti tahmid, tahlil, hauqalah, istighfar dan sebagainya, pen).” (Dalilul Falihin li Thuruq Riyadhish Shalihin: 5/194).

Al-Imam Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i rahimahullah juga berkomentar:

فأطلق أنواع الذكر في الصلاة، فلهذا قلنا إن المذكر إِذَا رفع صوته بـ: ربنا ولك الحمد، وسائر التكبير لا يضره، وقد خالف في ذَلِكَ بعض المتأخرين بلا دليل ولا برهان، وقد ترجم البخاري فيما سلف: من أسمع الناس تكبير الإمام.

“Maka beliau memperbolehkan berbagai macam dzikir untuk dibaca di dalam shalat. Oleh karena itu jika seseorang yang mengingatkan (imam) jika mengeraskan suaranya dengan ‘Rabbanaa walakal hamdu’ dan takbir lainnya, maka itu tidak membahayakannya. Sebagian ulama muta’akhirin menyelisihi pendapat ini dengan tanpa dalil dan tanpa bukti.  Padahal al-Bukhari membuat judul bab (dalam shahihnya, pen) sebagaimana terdahulu; (bab) orang yang memperdengarkan (meneruskan) takbirnya imam kepada manusia.” (At-Taudhih li Syarhil Jami’ish Shahih: 7/180).

Begitu pula berdoa dalam shalat dengan berbagai macam doa. Al-Imam Syihabuddin al-Qasthalani asy-Syafi’i (wafat tahun 923 H) rahimahullah berkata:

ثم إن قوله: ثم ليتخير من الدعاء أعجبه، شامل لكل دعاء مأثور وغيره مما يتعلق بالآخرة، كقوله: اللهم أدخلني الجنة. أو الدنيا، مما يشبه كرم الناس كقوله: اللهم ارزقني زوجة جميلة ودراهم جزيلة، وبذلك أخذ الشافعية والمالكية ما لم يكن إثمًا. وقصره الحنفية على ما يناسب المأثور فقط، مما لا يشبه كلام الناس، محتجين بقوله عليه الصلاة والسلام: “إن صلاتنا هذه لا يصلح فيها شيء من كلام الناس”. ولنا قوله، عليه الصلاة والسلام: “سلوا الله حوائجكم حتى الشسع لنعالكم، والملح لقدوركم”.

“Kemudian sabda beliau “Kemudian hendaknya ia memilih doa yang ia sukai” (HR. Muslim: 926, Abu Dawud: 969 dan an-Nasai: 1298) meliputi semua doa yang ma’tsur maupun doa yang tidak ma’tsur, dari perkara yang berhubungan dengan akhirat seperti doa: “Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam surga!” atau perkara yang berhubungan dengan dunia seperti doa: “Ya Allah, berikanlah aku istri yang cantik dan uang yang banyak!” Demikianlah pendapat Syafi’iyah dan Malikiyah selagi bukan meminta dosa. Hanafiyah hanya membatasi pada doa yang ma’tsur saja, yang bukan ucapan manusia dengan hujah sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya shalat kita ini tidaklah pantas diisi dengan sedikit pun dari ucapan manusia.” Sedangkan dalil kami (Syafi’iyah, pen) adalah sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Memintalah kepada Allah semua kebutuhanmu meskipun kebutuhan tali sandalmu dan garam di dapurmu!” (Irsyadus Sari li Syarh Shahihil Bukhari: 2/133).

Sehingga berdzikir dan berdoa dengan berbagai macam dzikir dan doa di dalam shalat bukanlah ‘bid’ah idhafiyah’ tetapi merupakan perkara yang diperbolehkan.

Hadits-hadits di atas tidak menunjukkan diperbolehkannya membuat-buat ritual dzikir tertentu di luar shalat. Dan tidak ada seorang ulama pun yang berdalil dengan hadits-hadits di atas untuk membuat-buat ritual dzikir di luar shalat.

Sebagai contohnya adalah dibencinya membaca takbiran pada malam Idul Fitri setiap selesai melakukan shalat fardhu. Al-Allamah Kamaluddin ad-Damiri asy-Syafi’i (wafat tahun 808 H) rahimahullah berkata:

قال: (ولا يسن ليلة الفطر عقب الصلوات في الأصح)؛ لأنه لم ينقل.

“Asy-Syafi’i berkata (dalam Qaul Jadid): “Tidak dianjurkan takbiran pada malam Idul Fitri setelah selesai shalat fardhu dalam pendapat yang lebih shahih, karena perbuatan tersebut belum pernah dinukil (dari as-Salaf, pen).” (An-Najmul Wahhaj fi Syarhil Minhaj: 2/551).

Lihatlah, al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menetapkan bid’ahnya takbiran Idul Fitri setelah shalat fardhu dengan metode penetapan sunnah tarkiyah, padahal terdapat dalil umum tentang bolehnya bertakbir ketika malam Idul Fitri dalam firman Allah ta’ala:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangan Ramadhan dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir, pen) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Wallahu a’lam.

Tingkatan Bid’ah

Perkara bid’ah itu juga bertingkat-tingkat berat ringannya. Al-Imam Ala’uddin Ibnul Aththar asy-Syafi’i (wafat tahun 724 H) rahimahullah menerangkan berat ringannya perkara bid’ah. Beliau berkata:

ثم المحدَثُ قد يكون محرَّمًا، وقد يكون مكروهًا، ويختلف ذلك باختلاف نفس الشرع فيه من التشديد بالنسبة إلى ذلك الجنس والتخفيف، فإنا إذا نظرنا إلى البدع المتعلقة بأصول العقائد، لم تكن مساويةً للبدع المتعلقة بأحكام الشريعة الفروعية، ولا شك أن الناس من العلماء الأصوليين والفروعيين قد تباينوا تباينًا كثيرًا في الكلام على البدع والتشديد فيها

“Kemudian perkara bid’ah itu terkadang berupa perkara haram, dan bisa juga perkara makruh. Perbedaan ini mengikuti perbedaan berat ringannya amal syariat yang diada-adakan. Jika kita melihat kepada bid’ah-bid’ah yang berhubungan dengan pokok-pokok akidah, maka ini tidak sama dengan bid’ah yang berhubungan dengan hukum-hukum syariat furu’ (cabang). Dan tidak diragukan lagi bahwa para ulama dari kalangan ahli usul dan ahli furu’, berbeda-beda dengan perbedaan yang banyak, di dalam menyikapi bid’ah dan bersikap keras padanya.” (Al-Uddah fi Syarhil Umdah: 1/364).

Sikap terhadap Ahlul Bid’ah

Beberapa ulama syafi’iyah memberikan perincian tentang larangan shalat di belakang ahlul bid’ah. Al-Imam Abul Mahasin ar-Rauyani asy-Syafi’i (wafat tahun 502 H) rahimahullah berkata:

ومن أصحابنا من قال: البدعة على ثلاثة أضرب ضرب لا يفسق به كالمخالف في الفروع من الفقهاء فلا تكره الصلاة خلف معتقده إلا أن يكون منهم من يذهب إلى ترك الأركان فتكره الصلاة خلفه لئلا يترك ركناً ويجوز لأن الظاهر منه أنه يأتي به إذ هو يستحب عنده ……..

وضرب يفسق به كمن سب الصحابة من الروافض والخوارج، فتصح الصلاة خلفه ولكنه يكره،

وضرب يكفر به كالقول بخلق القرآن والاعتقاد بأن علياً رضي الله عنه كان إلهاً أو كان نبياً كما قالت غلاة الرافضة فلا تجوز الصلاة خلفه

“Sebagian sahabat kami (ulama Syafi’iyah, pen) berkata: “Bid’ah itu dibagi 3:

Pertama: bid’ah yang mana pelakunya tidak dianggap fasiq dengannya seperti orang yang menyelisihi dalam masalah furu’ (cabang) dari kalangan ahli fikih. Maka tidak dibenci untuk bermakmum di belakangnya, kecuali jika ia berpendapat untuk meninggalkan suatu rukun shalat. Maka dibenci untuk bermakmum di belakangnya karena ia meninggalkan suatu rukun, tetapi tetap diperbolehkan karena ia telah melakukan sesuatu yang dianjurkan menurut pendapat yang dipegangnya.

Kedua: bid’ah yang pelakunya dianggap fasiq dengannya, seperti orang yang mencela sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dari kalangan Rafidhah dan Khawarij. Maka bermakmum di belakangnya tetap sah, tetapi dibenci.

Ketiga: bid’ah yang mana pelakunya dianggap kafir dengannya, seperti orang yang berpendapat bahwa al-Quran itu makhluk, atau berkeyakinan bahwa Ali radliyallahu anhu adalah tuhan atau nabi, sebagaimana pendapat kelompok Rafidhah yang ekstrim. Maka tidak diperbolehkan bermakmum di belakangnya.” (Bahrul Madzhab fi Furu’ Madzhab asy-Syafi’i: 2/263).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

وتكره أيضاً خلف المبتدع الذي لا يكفر ببدعته وأما الذي يكفر ببدعته فلا يجوز الاقتداء به وحكمه ما تقدم في غيره من الكفار ..الخ

“Dan dibenci juga bermakmum di belakang ahlul bid’ah dengan bid’ah yang tidak dikafirkan. Adapun ahlul bid’ah yang dikafirkan dengan bid’ahnya, maka kita tidak boleh bermakmum di belakangnya. Dan hukum yang berlaku baginya (ahlul bid’ah yang dikafirkan, pen) adalah seperti orang-orang kafir lainnya..dst.” (Raudhatuth Thalibin wa Umdatul Muftin: 1/129).

Kemudian apakah persaksian ahlul bid’ah itu ditolak ataukah diterima?, al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

ثم من كفر من أهل البدع لا تقبل شهادته وأما من لا يكفره من أهل البدع والأهواء فقد نص الشافعي رحمه الله في الأم والمختصر على قبول شهادتهم إلا الخطابية..الخ

“Kemudian ahlul bid’ah yang dikafirkan itu tidak diterima persaksiannya. Adapun ahlul bid’ah yang tidak dikafirkan, maka asy-Syafi’i rahimahullah dalam al-Umm dan Mukhtashar al-Muzani menyatakan diterimanya persaksiannya selain sekte Khaththabiyah..dst.” (Raudhatuth Thalibin wa Umdatul Muftin: 4/170).

Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya bermakmum di belakang ahlul bid’ah yang tidak dikafirkan dan bolehnya menerima persaksian mereka adalah perbuatan as-Salaf. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

ولم يزل السلف والخلف على الصلاة خلف المعتزلة وغيرهم ومناكحتهم وموارثتهم وإجراء أحكام المسلمين عليهم

“Ulama Salaf dan Khalaf senantiasa bermakmum di belakang sekte Mu’tazilah dan ahlul bid’ah selain mereka, melakukan hubungan pernikahan dan waris dengan mereka, serta menjalankan hukum-hukum kaum muslimin atas mereka.” (Raudhatuth Thalibin wa Umdatul Muftin: 1/130).

Boikot terhadap Ahli Bid’ah

Kita diperbolehkan memboikot ahlul bid’ah jika tindakan boikot atau hajr tersebut bisa menjadikannya kembali kepada kebenaran.

Al-Allamah Syihabuddin al-Qalyubi asy-Syafi’i (wafat tahun 1069 H) rahimahullah berkata:

الْهَجْرُ وَلَوْ دَائِمًا وَلَوْ لِغَيْرِ الزَّوْجَيْنِ جَائِزٌ لِغَرَضٍ شَرْعِيٍّ كَفِسْقٍ وَابْتِدَاعٍ وَإِيذَاءٍ وَزَجْرٍ وَإِصْلَاحٍ لِلْهَاجِرِ ، أَوْ الْمَهْجُورِ كَمَا وَقَعَ فِي قِصَّةِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ تَخَلَّفُوا عَنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ ، فَإِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَجَرَهُمْ وَنَهَى الصَّحَابَةَ عَنْ كَلَامِهِمْ

“Tindakan hajr atau memboikot, walaupun dalam waktu yang lama, walaupun untuk selain suami istri, adalah diperbolehkan, untuk tujuan syar’i seperti adanya sifat fasik, kebid’ahan, atau tujuan menghentikan dan memperbaiki orang yang memboikot atau orang yang diboikot, sebagaimana yang terjadi dalam kisah 3 orang yang tidak mengikuti perang Tabuk. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meng-hajr (memboikot) mereka dan melarang para sahabat untuk berbicara dengan mereka.” (Hasyiyata al-Qalyubi wa Umairah: 12/223).

Perbuatan bid’ah yang menyebabkan diboikot bukan perkara bid’ah karena syubhat atau penafsiran terhadap dalil atau ijtihad dalam fikih, tetapi memang telah disadari oleh pelakunya tentang penyimpangannya dari jalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Al-Imam Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i (wafat tahun 804 H) rahimahullah berkata:

فكذلك الحق في كل من أحدث ذنبًا خالف به أمر الله ورسوله فيما لا شبهة فيه ولا تأويل، أو ركب معصية على علم أنها معصية لله، أن يهجر غضبًا لله ولرسوله ولا يكلم حتَّى يتوب وتعلم توبته علمًا ظاهرًا، كما قال في قصة الثلاثة الذين خلفوا.

“Demikian pula hukuman yang benar bagi setiap orang yang mengada-adakan suatu dosa yang menyelisihi perintah Allah dan rasul-Nya di dalam perkara yang tidak ada syubhat dan takwil di dalamnya, atau bagi orang yang melakukan kemaksiatan dalam keadaan mengetahui bahwa perkara itu merupakan kemaksiatan, maka ia boleh diboikot dalam rangka marah karena Allah dan rasul-Nya, juga boleh untuk tidak diajak bicara sampai ia bertaubat dan taubatnya diketahui dengan pengetahuan yang jelas, sebagaimana yang terjadi dalam kisah 3 orang sahabat yang tidak mengikuti perang Tabuk.” (At-Taudhih li Syarh al-Jami’ish Shahih: 28/435).

Akan tetapi jika boikot atau hajr tersebut tidak membuahkan hasil sehingga orang yang diboikot bertambah menyimpang, maka hajr tidak diperbolehkan.

Al-Imam Syamsuddin ar-Ramli asy-Syafi’i (wafat tahun 1004 H) rahimahullah berkata:

نَعَمْ لَوْ عَلِمَ أَنَّ هَجْرَهُ يَحْمِلُهُ عَلَى زِيَادَةِ الْفِسْقِ فَيَنْبَغِي امْتِنَاعُهُ

“Benar, jika ia mengetahui bahwa tindakan hajr atau boikot itu justru menyebabkan bertambahnya kefasikan orang yang diboikot, maka hendaknya tidak usah diboikot.” (Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj: 21/432).

Maka ketika itu hendaknya kita bersikap ‘mudarah’, yaitu bersikap lemah lembut di dalam mendakwahi ahlul bid’ah dan orang-orang fasiq.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

والمداراة هي الرفق بالجاهل في التعليم وبالفاسق في النهي عن فعله وترك الإغلاظ عليه حيث لا يظهر ما هو فيه والإنكار عليه بلطف القول والفعل ولا سيما إذا احتيج إلى تألفه ونحو ذلك

“Mudarah adalah bersikap lemah lembut kepada orang yang bodoh ketika mengajari, lemah lembut kepada orang fasiq ketika melarang dari perbuatannya, tidak bersikap keras kepadanya sekira tidak tampak kekerasan padanya, dan mengingkari perbuatannya dengan ucapan dan perbuatan yang lembut, apalagi ketika dibutuhkan untuk menjinakkan hatinya, atau semacam itu.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari: 10/529).

Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Yusuf al-Karmani asy-Syafi’i (wafat tahun 786 H) rahimahullah berkata:

والمداراة من أخلاق المؤمنين وهي لين الكلمة وترك الإغلاظ لهم في القلوب وهي مندوبة والمداهنة محرمة والفرق بينهما أن المداهنة هي التي يلقي الفاسق المعلن بفسقه فيؤالفه ولا ينكر عليه ولو بقلبه والمداراة هي الرفق بالجاهل الذي يستتر بالمعاصي واللطف به حتى يرده عما هو عليه

Mudarah itu termasuk akhlak kaum mukminin, yaitu tutur kata yang lembut dan tidak bersikap keras kepada mereka di dalam hati. Mudarah itu disukai. Sedangkan mudahanah itu diharamkan. Perbedaan di antara keduanya adalah bahwa mudahanah adalah menemui orang fasiq yang menampakkan kefasikannya, kemudian bermanis muka menyetujuinya dan tidak mengingkarinya meskipun dengan hatinya. Sedangkan mudarah adalah bersikap lemah lembut terhadap orang bodoh yang menyembunyikan kemaksiatannya dan bersikap lunak dengannya sehingga ia bisa kembali dari kesesatannya.”  (Al-Kawakibud Darari fi Syarh Shahihil Bukhari: 22/6).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

“Sesungguhnya sejelek-jelek manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan manusia karena takut kejelekannya.” (HR. Al-Bukhari: 6032, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 4538 (10/401) dan Abu Ya’la dalam Musnadnya: 4832 (8/250) dari Aisyah radliyallahu anha).

Agama Sudah Sempurna

Dienul Islam itu sudah sempurna sehingga kita tidak perlu membuat tambahan dan penyempurnaan dengan berbuat bid’ah dan istihsan.

Al-Imam Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i (wafat tahun 1031 H) rahimahullah berkata:

فعلى المكلف الضرب عن ذلك صفحا واعتقاد أن المصطفى صلى الله عليه وسلم لم يمت حتى ترك الناس على شريعة بيضاء ليلها كنهارها لا تحتاج إلى تتمة ولا تفتقر إلى زيادة وحسبك في الرد عليهم * (اليوم أكملت لكم دينكم) *

“Maka wajib bagi orang yang telah mukallaf untuk membuang perkara itu (hadits-hadits palsu, pen) dan meyakini bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidaklah meninggal dunia kecuali beliau sudah meninggalkan umat manusia di atas syariat yang putih, malamnya seperti siangnya, tidak membutuhkan penyempurnaan dan tidak memerlukan tambahan. Cukuplah sebagai bantahan atas mereka firman-Nya: “Hari ini Aku menyempurnakan untuk kalian agama kalian..dst.” (QS. Al-Maidah: 3).” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir: 6/281).

Al-Imam Syamsuddin adz-Dzahabi asy-Syafi’i (wafat tahun 748 H) rahimahullah berkata:

وديننا بحمد الله تام كامل مرضيٌّ، قال تعالى: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ}, وقوله عليه السلام: “ما تركت من شيء يُقرِّبكم إلى الجنَّة ويبعدكم عن النار إلاّ وقد حدَّثْتُكُمْ به”. فأيُّ حاجة بنا بعد هذا إلى البدع في الأعمال والأقوال؟ قال ابن مسعود: “اتَّبِعُوا ولا تَبْتَدعوا فقد كفيتم”. واتِّبَاع الشرع والدين متعيِّن، واتّباع غير سبيل المؤمنين بالهوَى وبالظَّنِّ وبالعادات المردودة مَقْتٌ، وبِدْعة. اللهمَّ اصرف قلوبنا إلى طاعتك.

Agama kita ini –dengan memuji Allah- sudah sempurna, paripurna dan diridhai. Allah ta’ala berfirman: “Hari ini Aku menyempurnakan untuk kalian agama kalian..dst.” (QS. Al-Maidah: 3).” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku tidaklah meninggalkan sesuatu yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka, kecuali aku sudah menjelaskannya kepada kalian.” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah: 7/242. Al-Hafizh berkata bahwa isnadnya terputus. Lihat Ithaful Khiyarah al-Maharah: 2721 (3/270)). Maka adakah kebutuhan kita lagi setelah ini kepada bid’ah dalam amalan dan ucapan? Ibnu Mas’ud menyatakan: “Ikutilah sunnah dan jangan berbuat bid’ah karena kalian telah dicukupi!” (Atsar riwayat ath-Thabrani dalam al-Kabir: 8770 (9/154). Al-Haitsami berkata bahwa rijal ath-Thabrani adalah rijal ash-Shahih. Lihat al-Majma’: 1/434). Maka mengikuti syariat dan agama ini adalah keharusan. Mengikuti selain jalan kaum mukminin dengan hawa nafsu, persangkaan dan adat yang menyimpang adalah perkara yang dibenci dan suatu kebid’ahan. Ya Allah, palingkanlah hati kami menuju ketaatan kepada-Mu.” (At-Tamassuk bis Sunan wat Tahdzir minal Bida’: 109).

Penutup

Demikianlah para ulama Syafi’iyah telah membuat kaidah-kaidah fikih di dalam penetapan bid’ah. Mereka telah menerangkan ‘Sunnah Tarkiyah’ dengan gamblang. Mereka juga telah menjelaskan adanya ‘Bid’ah Idhafiyah’ dan juga ‘Istihsan’.

Jika mereka yang suka berbuat inovasi dan kreasi dalam ibadah bertanya: “Mengapa kalian (wahai Salafy) menukil ulama-ulama yang kami anut dari kalangan Syafi’iyah seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Haitami dan sebagainya?”

Maka kami menjawab bahwa Ahlussunnah Salafy menerima kebenaran dari siapa pun orangnya. Ini sesuai dengan nasehat Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu. Beliau berpesan:

وَتَلَقَّ الْحَقَّ إِذَا سَمِعْتَهُ فَإِنَّ عَلَى الْحَقِّ نُورًا

“Terimalah kebenaran ketika kamu mendengarnya, karena pada kebenaran terdapat cahaya.” (Atsar riwayat Abu Dawud: 3995. Isnadnya di-shahih-kan secara mauquf oleh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud: 4611).

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

فإن كل طائفة منها معها حق وباطل فالواجب موافقتهم فيما قالوه من الحق ورد ما قالوه من الباطل ومن فتح الله له بهذه الطريق فقد فتح له من العلم والدين كل باب ويسر عليه فيهما الأسباب

“Maka setiap kelompok (atau madzhab, pen) mempunyai pendapat yang benar dan juga pendapat yang batil. Maka yang wajib adalah mencocoki mereka di dalam pendapat mereka yang benar dan membantah pendapat mereka yang batil. Barangsiapa yang dibukakan oleh Allah untuk menempuh jalan ini, maka dibukakan baginya setiap pintu dari ilmu dan agama ini dan dimudahkan baginya untuk menempuh sebab-sebab menggapai ilmu dan agama ini.” (Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain: 570).

Jika terjadi kesalahan dari sebagian mereka (ulama Syafi’iyah) seperti anggapan bid’ah hasanah pada perkara-perkara yang sebenarnya itu merupakan bid’ah yang tercela, maka kita tidak boleh mengikutinya dan ber-taqlid kepadanya, tetapi kita kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah serta kaedah-kaedah yang dipegang oleh as-Salaf di dalam pembid’ahan.

Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu berkata:

وَأُحَذِّرُكُمْ زَيْغَةَ الْحَكِيمِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الضَّلَالَةِ عَلَى لِسَانِ الْحَكِيمِ

“Aku memperingatkan kalian dari kesalahan orang alim. Karena syaitan kadang-kadang mengucapkan kalimat kesesatan melalui lesan orang alim.” (Atsar riwayat Abu Dawud: 3995. Isnadnya di-shahih-kan secara mauquf oleh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud: 4611).

Oleh karena itu al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami menukilkan ucapan az-Zarkasyi:

وَزَلَّاتُ الْعُلَمَاءِ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ تَقْلِيدُهُمْ فيها

“Dan ketergelinciran ulama tidak boleh diikuti (baca: ditaqlidi) oleh seorang pun.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra: 4/141).

Sehingga termasuk suatu kekeliruan ketika menyatakan bahwa suatu perkara adalah bid’ah hasanah karena Ibnu Hajar al-Haitami atau Imam ar-Ramli juga menyatakan bid’ah hasanah, padahal sebenarnya perkara tersebut -menurut kaedah yang mereka terangkan sendiri- merupakan bid’ah yang tercela.

Dan meskipun kesalahan mereka tidak boleh diikuti, ‘Ahlus Sunnah Salafy’ tetap mempunyai sikap yang terpuji di dalam menyikapi para ulama yang tergelincir. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:

ومن له علم بالشرع والواقع يعلم قطعاً أن الرجل الجليل الذي له في الإسلام قدم صالح وآثار حسنة، وهو من الإسلام وأهله بمكان قد تكون منه الهفوة والزلة هو فيها معذور، بل ومأجور لاجتهاده، فلا يجوز أن يتبع فيها، ولا يجوز أن تُهدر مكانته وإمامته ومنزلته من قلوب المسلمين

“Barangsiapa yang mempunyai ilmu tentang syariat dan kenyataan, maka ia akan mengetahui secara pasti bahwa seseorang (ulama) yang mempunyai andil besar dalam al-Islam dan rekam jejak yang baik, maka ia di dalam Islam dan ahlinya menduduki suatu kedudukan yang mana terkadang terjadi kesalahan dan ketergelinciran padanya dengan kesalahan yang diampuni, bahkan diberi pahala atas ijtihadnya. Maka ketergelincirannya tidak boleh diikuti namun kedudukannya dan ke-imam-annya juga tidak boleh dijatuhkan dari hati kaum muslimin.” (I’lamul Muwaqqi’in: 3/283).

Itulah sikap Ahlussunnah Salafy dalam menyikapi ketergelinciran ulama. Al-Allamah Abdullah bin al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab (wafat tahun 1242 H) rahimahumullah berkata:

ونحن كذلك : لا نقول بكفر من صحت ديانته، وشهر صلاحه، وعلم ورعه وزهده، وحسنت سيرته، وبلغ من نصحه الأمة ، ببذل نفسه لتدريس العلوم النافعة والتأليف فيها، وإن كان مخطئاً في هذه المسألة أو غيرها، كابن حجر الهيتمي، فإنا نعرف كلامه في الدر المنظم، ولا ننكر سمة علمه، ولهذا نعتني بكتبه، كشرح الأربعين، والزواجر وغيرها ؛ ونعتمد على نقله إذا نقل لأنه من جملة علماء المسلمين

“Kami pun demikian, tidak menghukumi kafir terhadap orang-orang yang benar agamanya, yang terkenal keshalihannya, yang diketahui sikap wara’ dan zuhudnya, yang bagus prilakunya, yang telah menasehati umat dengan mencurahkan dirinya untuk mengajar ilmu-ilmu yang bermanfaat dan menulis dalam ilmu tersebut, walaupun ia telah keliru dalam masalah ini atau yang lainnya (seperti masalah tawasul dan tabaruk, pen), semisal Ibnu Hajar al-Haitami. Maka kami mengerti ucapan beliau dalam kitab ‘Ad-Durrul Munazhom’. Dan kami tidak mengingkari tingginya ilmu beliau. Oleh karena itu kami tetap memakai kitab-kitab beliau seperti Syarh Arba’in, az-Zawajir dan sebagainya. Dan kami juga berpegang dengan penukilan beliau jika beliau menukilkan, karena beliau termasuk ulama kaum muslimin.” (Ad-Durarus Sunniyyah fil Kutubin Najdiyyah: 1/223).

Demikian risalah ini semoga memberikan tambahan ilmu dan kita diberi kekuatan oleh Allah untuk mengamalkannya. Amien.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

 

Iklan

Ditandai:, , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: